Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘human drama’

“Di dunia ini ada tiga jenis manusia, yaitu laki-laki, perempuan, dan ibu. Kita tidak akan pernah bisa mengerti jenis yang terakhir itu,” begitulah bunyi dari salah satu dialog yang saya temukan di salah satu episode dari dorama berjudul “Mother”. Pernyataan tersebut mungkin ada benarnya. Ibu memang sepertinya harus memiliki tempat tersendiri yang membedakannya dari sekadar perempuan biasa. Dan seperti kata dialog tadi, kita juga kadang tidak bisa memahami “ibu” ini. Kadang kita menemukan ibu yang sangat pengasih dan sangat menyayangi anaknya, tapi kadang kita juga menemukan karakter ibu yang suka meng-abuse anaknya sendiri. Meskipun begitu, ibu tetaplah bagian dari manusia. Selalu akan ada alasan di balik segala tindakan yang dilakukan mereka, baik itu alasan yang disadari atau tidak.

Michiki Rena (Ashida Mana) adalah seorang anak kecil berusia 7 tahun yang sering di-abuse oleh ibunya sendiri (diperankan Ono Machiko). Hal tersebut disadari oleh Suzuhara Nao (Matsuyuki Yasuko), seorang guru SD di sekolah Rena. Nao sendiri adalah seorang perempuan kaku yang sebenarnya tidak ingin menjadi guru SD dan tidak menyukai anak-anak. Namun, melihat keadaan Rena yang tersiksa sedemikian rupa akibat ulah ibunya membuat insting keibuan pada diri Nao muncul. Tanpa rencana yang matang, Nao mengajak Rena untuk kabur bersamanya meninggalkan Hokkaido (tempat tinggal mereka). Dan sejak itu pula Nao memutuskan untuk menjadi ibu dari Rena (yang kemudian diberi nama baru “Tsugumi”).

Setelah segala upaya dalam mencari tempat tinggal baru, akhirnya mereka sampai di kota Tokyo. Nao sendiri sebenarnya memiliki keluarga di Tokyo yang sudah bertahun-tahun tidak berhubungan dengannya. Sebenarnya keluarga Nao (terutama ibunya, diperankan Takahata Atsuko) sangat menyayangi Nao dan selalu berusaha menghubungi Nao, tapi Nao selalu merasa sungkan kepada mereka karena dia adalah anak adopsi. Di dorama ini kita juga akan diperkenalkan pada Mochizuki Hana (Tanaka Yuko), seorang perempuan tua yang sering mengajak main Rena/Tsugumi dan kemudian berusaha membantu Nao dalam usaha pelariannya. Dari awal dapat ditebak bahwa dia adalah ibu kandung Nao yang menelantarkan dirinya ketika Nao masih berusia 5 tahun. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Nao dan Rena akan selamanya terus ‘berlari’? Bagaimana dengan ibu kandung Rena? Tidak hanya itu, pelarian mereka juga rupanya telah tercium oleh seorang wartawan bernama Fujiyoshi Shunsuke (Yamamoto Koji).

Seperti judulnya, Mother mengajak kita untuk melihat berbagai macam karakter dari seorang ibu (nyaris tidak ada sosok ayah di sini). “Ibu” di sini tidak hanya perempuan yang melahirkan anak dari perutnya sendiri saja ya, tapi juga jenis “ibu” seperti Nao, seorang perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu dari seorang anak yang tadinya merupakan orang asing baginya. Dorama ini berusaha mengangkat berbagai macam permasalahan yang menyangkut sosok ibu dan anak, seperti child abuse, anak yang ditelantarkan, anak adopsi, anak dari single parent, dan lain sebagainya.  Dan berbagai macam isu tersebut berhasil ditampilkan secara seimbang dan tidak berlebihan. Dan seperti yang saya bilang tadi, ibu masih bagian dari manusia. Semua karakter ibu di sini memiliki cerita dan alasan masing-masing dari segala tindakan yang mereka lakukan. Misalnya karakter Michiki Hitomi yang merupakan ibu kandung Rena. Jangan bayangkan karakter ini seperti ibu jahat di sinetron-sinetron ya (yang mana seolah jahat karena takdir dari lahir). Kita akan diperlihatkan kepada latar belakangnya dan mengapa ia bisa melakukan berbagai macam hal buruk kepada Rena. Hal tersebut membuat dorama ini terlihat sangat realistis. Tidak ada yang sepenuhnya putih dan sepenuhnya hitam di sini. Semuanya punya alasan masing-masing, tapi hal tersebut tidak serta merta membuat kita memaklumi tindakan yang dilakukannya.

Selain ibu kandung Rena, kita juga diperlihatkan pada karakter para ibu yang lain. Ada ibu adopsi Nao, seorang single parent yang sangat menyayangi Nao (dan kedua adiknya) meskipun Nao bukanlah anak kandungnya. Melalui karakter ini kita juga dibuat menyadari bahwa ikatan antara ibu dan anak tidak hanya dihasilkan dari hubungan darah saja. Lalu ada karakter Mochizuki Hana, ibu kandung Nao yang menelantarkan Nao ketika usianya masih 5 tahun. Kita akan dibuat bertanya-tanya mengapa perempuan sebaik itu tega menelantarkan anaknya, tapi seperti yang saya bilang tadi, semua punya alasan masing-masing dari segala tindakannya. Dan seorang ibu dan anak pasti akan selalu memiliki ikatan batin, tak peduli seberapa pun lamanya mereka terpisah. Selain mereka, kita juga diperkenalkan pada karakter Suzuhara Mei (Sakai Wakana), adik Nao yang sedang hamil dan sebentar lagi akan menikah. Karakter ini mewakili karakter calon ibu yang punya banyak ketakutan bahwa dia tidak akan jadi ibu yang baik bagi calon anaknya.

Dan karakter ibu terakhir yang diperlihatkan dorama ini adalah Nao. Dia orang yang sangat kaku dan kurang percaya diri. Dia juga bukanlah jenis orang yang menyukai anak-anak. Namun, kejadian yang menimpa Rena membangunkan insting keibuannya. Dengan segala kekurangan yang dimilikinya, ia berusaha menjadi ibu untuk Rena. Ya, salah satu yang paling saya suka di sini adalah ketidaksempurnaan pada diri Nao. Tindakan yang dilakukannya (membawa kabur Rena) adalah tindakan yang impulsif dan tanpa rencana matang. Nao sendiri tidak pernah merasa bahwa yang ia lakukan adalah sesuatu yang benar. Ia juga tidak merasa hal yang ia lakukan telah menyelamatkan diri Rena. Yang ia tahu hanyalah ia ingin menjadi ibu dari Rena. Meskipun pada awalnya karakter ini terasa awkward sebagai seorang ibu, tapi sedikit demi sedikit kita bisa merasakan bahwa ia telah berubah menjadi ibu yang sebenarnya. Matsuyuki Yasuko sangat berhasil memerankan tokoh Nao dengan segala kekakuan dan ke-awkward-annya . Dan ia punya chemistry yang sangat baik dengan Ashida Mana si pemeran Rena/Tsugumi. Ya, satu lagi yang perlu disoroti di dorama ini adalah akting dari Ashida Mana. Menurut saya Rena ini adalah jenis karakter anak kecil yang…bagaimana ya. Dia adalah anak kecil yang sudah harus mengalami hal-hal yang sulit dalam hidupnya, punya pemikiran lebih dewasa dari anak-anak seumurnya (seperti di episode 1 ketika dia bertanya apa surga benar-benar ada), tapi tetap bisa terlihat seperti anak kecil normal dengan segala kepolosannya dan tidak pernah terlihat sok dewasa. Rasanya sulit sekali menemukan aktris cilik yang bisa memerankan karakter ini sebaik Ashida Mana. Yang saya kagumi lagi adalah Mana-chan aslinya masih berusia 5 tahun ketika memerankankan karakter Rena ini (usia Rena: 7 tahun). Aktingnya di dorama ini membuktikan bahwa Ashida Mana memanglah salah satu aktris cilik paling berbakat saat ini.

Overall, dorama ini menurut saya sangat bagus dan menyentuh. Banyak yang bilang dorama ini termasuk dorama yang bisa bikin nangis para penontonnya. Saya sendiri gak sampai nangis sih nontonnya, tapi tetap merasa tersentuh oleh ceritanya. Yang jelas, ini adalah jenis dorama yang setelah menontonnya akan membuat kamu (terutama penonton perempuan) terdiam dan membayangkan akan menjadi ibu seperti apakah kita nantinya? Well, 4 bintang deh. Dorama ini cocok untuk ditonton penggemar dorama yang mengangkat isu seputar kemanusiaan, dan oleh para “anak”, ibu, ataupun calon ibu 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Kita Yoshio (Kohinata Fumiyo) selalu merasa bahwa dirinya adalah orang paling sial sedunia. Baginya, hanya ada dua kebahagiaan yang pernah dia alami dalam hidupnya, yaitu pernikahannya dengan Mizuho (Konishi Manami) 11 tahun yang lalu yang sayangnya hanya bertahan selama enam bulan, dan pertemanannya dengan Minami Takao (Imai Masayuki), yang telah meninggal dalam kecelakaan pesawat 11 tahun silam. Selain dua hal itu, baginya tidak ada hal baik lagi yang terjadi pada dirinya. Untuk itulah, Kita Yoshio memutuskan akan mengakhiri hidupnya 11 hari lagi, tepatnya pada hari peringatan 11 tahun kematian Minami.

Di hari pertama dalam 11 hari itu, suatu kejadian mempertemukannya dengan seorang pengelola cabaret club bernama Yashiro Heita (Matsuda Ryuhei). Mengetahui bahwa orang yang baru dikenalnya itu akan mengakhiri hidupnya sebelas hari lagi, Heita lalu berusaha untuk membantu Kita Yoshio mewujudkan hal yang ingin dilakukannya sebelum mati, seperti mencarikan dan mempertemukannya dengan Mizuho (mantan istrinya) dan mempertemukannya dengan seorang artis idola bernama Yoimachi Shinobu (Yoshitaka Yuriko). Dan tanpa disangka-sangka, 11 hari tersebut menjadi 11 hari paling ‘menarik’ dalam hidup seorang Kita Yoshio. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Kita Yoshio akan benar-benar mengakhiri hidupnya sebelas hari lagi? Tonton aja deh kakak.

Tertarik menonton dorama ini karena premisnya yang menarik, plus jajaran castnya yang bagus semua. Premis dalam Ashita no Kita Yoshio (Kita Yoshio’s Tomorrow) memang cukup sederhana, tentang 11 hari terakhir seseorang yang akan bunuh diri. Namun, ternyata ceritanya tidak sesederhana itu. Ceritanya ternyata cukup kompleks dan bukan cuma tentang 11 hari terakhir orang yang akan bunuh diri saja, tapi juga tentang misteri dalam hidup Kita Yoshio sendiri yang berkaitan dengan hubungannya dengan Mizuho sebelas tahun yang lalu. Penonton akan dibuat penasaran dengan misteri mengapa Mizuho mau menikahi Kita Yoshio sebelas tahun yang lalu. Apalagi karakter Mizuho di masa kini pun memiliki beberapa permasalahan yang membuat seorang insurance investigator bernama Sugimoto (Namase Katsuhisa) menyelidikinya (dan menyelidiki Kita Yoshio pula). Nantinya, kita akan dibawa pada berbagai macam kejutan yang tak disangka-sangka yang membuat dorama ini menjadi semakin menarik. Seperti apa kejutannya? Tonton sendiri deh 😀

Selain itu, kita juga akan menemukan studi karakter yang sangat menarik di dorama ini. Kita bisa melihat bahwa dalam dorama ini Kita Yoshio dipertemukan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah ia kenal tapi memberi pengaruh yang kuat pada 11 hari terakhirnya. Dan yang paling saya suka adalah karakter-karakter ini tidak ada yang sepenuhnya putih atau sepenuhnya hitam. Misalnya karakter Heita yang diperankan dengan sangat baik oleh Matsuda Ryuhei. Awalnya kita pasti akan dibuat bingung mengapa orang ini mau susah-susah membantu Kita Yoshio yang baru saja ditemuinya. Tapi nantinya kita akan mengetahui bahwa Heita ternyata memiliki tujuan sendiri sehubungan dengan hal itu. Namun, seperti yang saya bilang, tidak ada karakter yang benar-benar jahat atau benar-benar baik di sini. Semuanya adalah manusia yang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Dan tidak hanya Heita saja, ada juga karakter Rika (Kuriyama Chiaki), pacar Heita yang tengah putus asa karena suatu hal. Melalui dua karakter ini kita bisa melihat bahwa keputusasaan bisa membuat orang memiliki niat buruk terhadap orang lain. Namun, pertanyaannya adalah, apakah mereka sanggup melaksanakan niat buruk tersebut?  Selain dua karakter itu, ada berbagai macam karakter lain yang turut memberi warna pada dorama ini. Seperti karakter Yoimachi Shinobu, seorang idol yang turut membuat 11 hari terakhir Kita Yoshio menjadi semakin menarik sekaligus menegangkan (dan akting Yoshitaka Yuriko sebagai Shinobu sangat mencuri perhatian di sini, saya heran kenapa di poster doramanya karakter ini gak ada); karakter Mizuho yang penuh misteri; karakter Moriwaki (Kaname Jun) yang jalan pikirannya tidak pernah bisa ditebak; dan karakter Sugimoto yang menjadi bumbu komedik dalam dorama ini. Dan semua aktor dan aktris dalam dorama ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik.

Selain karakter-karakter di atas, jangan dilupakan karakter utamanya, yaitu Kita Yoshio yang diperankan dengan sangat baik oleh Kohinata Fumiyo. Para penggemar dorama Jepang pasti tidak asing dengan wajahnya karena ia selalu ada di hampir semua dorama yang pernah saya tonton (mungkin ini lebay, tapi dia emang hampir selalu ada di dorama apapun, sama halnya dengan Nukumizu Youichi yang juga muncul di dorama ini sebagai bintang tamu). Namun, berapa kah yang mengingat namanya? Ya, meskipun penggemar dorama akan mengingat wajahnya tapi mungkin hanya ada sedikit sekali yang mengingat namanya karena ia memang lebih sering memerankan karakter-karakter pembantu (atau sekadar pelengkap) di banyak dorama.  Di Ashita no Kita Yoshio, ia mendapat kesempatan untuk menunjukkan aktingnya sebagai pemeran utama. Karakternya sendiri  di sini sebenarnya adalah karakter yang umum ia perankan di dorama lain, yaitu karakter pria setengah baya yang saking baiknya jadi gampang dimanfaatkan orang lain (dan Kohinata Fumiyo itu emang punya muka orang baik yang bisa bikin orang kasian).  Namun, bukan berarti Kohinata Fumiyo hanya mampu memerankan karakter semacam itu saja. Di dorama ini, kita juga akan dipertemukan pada karakter Negative Yoshio, yaitu kepribadian lain dari Kita Yoshio yang merupakan sisi negatifnya. Kohinata Fumiyo sangat berhasil memerankan sosok itu, dan hal itu juga membuktikan bahwa aktor satu ini tidak cuma berbakat dalam memerankan satu jenis karakter saja.

Well, secara keseluruhan saya sangat menyukai dorama ini. Beberapa orang bilang kalau dorama ini alurnya agak lambat dan membosankan, tapi saya merasa baik-baik saja dengan alurnya tersebut dan hal itu menurut saya malah memperkuat perkembangan yang ada dalam ceritanya. Dan saya juga tidak pernah merasa kebosanan ketika menontonnya karena kejutan-kejutannya selalu membuat saya merasa penasaran mengenai kelanjutan hidup Kita Yoshio selanjutnya. Tambahan, dorama ini juga memiliki soundtrack yang sangat bagus dan sangat pas ditempatkan di dorama ini (dan saya suka sekali lagu Mayonaka no Boon Boon yang jadi theme song-nya). Jadi, 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Kehilangan orang yang kita sayangi tentunya adalah hal yang sangat menyakitkan. Apalagi jika orang tersebut meninggalkan kita dengan cara yang tidak wajar, misalnya dengan cara dibunuh. Namun, luka yang timbul akibat kejadian tersebut tidak hanya akan membekas pada orang terdekat/keluarga korban saja, tapi juga keluarga dari si pembunuh itu sendiri. Setelah kejadian tersebut, segalanya tidak akan bisa berjalan normal bagi mereka, baik bagi keluarga korban maupun keluarga si pembunuh.

Yak, kira-kira itulah premis dari dorama berjudul Soredemo, Ikite Yuku (Still, Life Goes On). Dalam dorama ini, sisi keluarga korban diwakili oleh karakter Fukami Hiroki (Eita). Lima belas tahun yang lalu (ketika Hiroki masih SMP), adik perempuannya yang masih berusia 7 tahun ditemukan tewas tenggelam di sebuah danau. Setelah itu, ditemukan bukti bahwa Aki (nama adik perempuan tersebut) dibunuh oleh Fumiya yang merupakan teman sekolah Hiroki. Setelah lima belas tahun berlalu, Hiroki rupanya masih tidak bisa melupakan hal tersebut. Kematian adiknya tersebut membuat kehidupannya beserta keluarganya berubah total. Kedua orang tuanya bercerai dan ia jadi tidak pernah peduli pada sekitarnya. Sampai suatu saat ketika ayahnya meninggal karena kanker, Hiroki memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya untuk membalas dendam pada Fumiya si pelaku, yang kabarnya sudah bebas dan tidak terlihat menyesali perbuatannya.

Sementara itu, sisi keluarga pelaku diwakili oleh karakter Toyama Futaba (Mitsushima Hikari). Futaba adalah adik perempuan dari si pelaku. Sama seperti keluarga Hiroki, keluarga Futaba juga mengalami banyak perubahan sejak kejadian yang dilakukan salah satu anggota keluarga mereka. Mereka hidup berpindah-pindah karena sering diteror melalui telepon oleh orang tak dikenal. Sang ayah juga sulit mendapatkan pekerjaan karena reputasinya sebagai ayah dari seorang pembunuh. Di luar hal itu, keluarga ini sebenarnya sudah lama tidak berhubungan dengan Fumiya (si pelaku) sejak ia pertama ditahan.

Keduanya bertemu secara tidak sengaja di tempat pemancingan yang dikelola oleh Hiroki. Setelah beberapa kejadian, Futaba akhirnya mengetahui bahwa pria yang tidak sengaja ia temui tersebut adalah kakak dari korban pembunuhan yang dilakukan kakaknya (RALAT: setelah saya tonton lagi, ternyata Hikari datang ke tempat itu bukan secara tidak sengaja. Ia sengaja datang menemui Hiroki karena mengira Hiroki lah orang yang meneror keluarganya). Selain itu, ia juga mengetahui rencana balas dendam Hiroki pada kakaknya tersebut. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Hiroki akan berhasil membalaskan dendamnya? Selain itu, bagaimanakah perasaan Futaba yang sebenarnya pada kakaknya? Di luar hal itu, hubungan Hiroki dengan Futaba selanjutnya menjadi semakin dekat, yang secara norma sosial terasa tidak lazim karena mereka berasal dari dua kubu yang berbeda.

Menurut saya, Soredemo Ikite Yuku adalah salah satu dorama terbaik tahun 2011 lalu (well pendapat ini mungkin kurang bisa dipercaya karena dorama tahun 2011 yang saya tonton itu dikit banget, tapi serius deh dorama ini emang bagus banget). Dorama ini daleeeem banget. Buat saya yang memang pecinta film/dorama bergenre drama, dorama ini memiliki segala aspek yang dimiliki oleh drama yang bagus. Meskipun dari sinopsisnya terlihat bahwa konflik yang ada di dorama ini rada-rada nyinetron, tapi percaya deh ini bukan dorama macam itu. Dramanya sama sekali gak kacangan dan diperlihatkan dengan wajar dan sangat manusiawi. Dorama ini juga sangat berhasil mengaduk-aduk emosi penontonnya tanpa harus terlihat berlebihan.

Yang paling saya suka dari dorama ini adalah bagaimana kita tidak hanya diperlihatkan pada sudut pandang keluarga korban saja, tapi juga sudut pandang keluarga si pelaku (yang biasanya tidak dipedulikan). Sebagai penyuka tontonan yang berbau psikologis *tsaah*, saya sangat menyukai bagaimana kedua hal tersebut digambarkan. Meskipun dua-duanya terlihat sebagai kubu yang berbeda, pada hakikatnya kedua keluarga tersebut adalah sama-sama korban. Ya, bukan hanya keluarga korban saja yang mengalami tekanan akan kejadian tersebut, keluarga si pelaku juga sama-sama tertekan karena dianggap tidak membesarkan anaknya dengan baik. Saya juga suka melihat bagaimana cara pandang masing-masing keluarga (yang diwakili oleh Hiroki dan Futaba) terhadap si pembunuh. Hiroki dan keluarganya membenci habis-habisan Fumiya, dan meskipun samar mereka juga menyimpan suatu perasaan benci tersendiri terhadap keluarga si pembunuh, yang menurut saya manusiawi banget. Misalnya di episode dua ketika Hiroki akhirnya mengetahui bahwa Futaba adalah adik dari Fumiya. Tanggapan yang diperlihatkan terasa sangat wajar, namun yang terpenting adalah bagaimana ia bisa berkompromi dengan perasaan benci tersebut. Sementara itu dari pihak keluarga pelaku, meskipun diperlihatkan sudah putus hubungan dengan Fumiya, kita bisa tahu bahwa mereka (terutama sang ayah dan Futaba) tidak akan bisa membenci Fumiya. Seperti pernyataan Futaba pada Hiroki yang kira-kira begini: “Meskipun seorang kakak sering berlaku jahat pada adiknya, tapi tetap saja, si adik pasti akan selalu ingin mengajaknya bermain.” Yak, sebagai seseorang yang juga berada di posisi adik, saya sangat bisa mengerti perasaan Futaba *kalo kakak saya baca ini kayaknya saya bisa ditabok*. Seburuk-buruknya anggota keluarga kita, kita pasti tidak akan bisa membenci orang tersebut. Bahkan meskipun sudah lama tidak berhubungan dengan si pelaku pun, mereka akan tetap merasa bertanggung jawab dan merasa perlu untuk meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan si pelaku, baik itu perbuatan di masa lalu maupun di masa yang akan datang.

Selain itu, yang paling saya suka di sini adalah bagaimana hubungan antara Hiroki dan Futaba digambarkan. Selain karena adanya chemistry yang kuat, hal ini juga sangat dipengaruhi oleh skenario dorama ini yang memang bagus. Saya sangat menyukai dialog-dialog yang ada di antara mereka berdua. Dialog antara mereka sering kali terasa awkward dan aneh, dan dua karakter ini emang sama-sama digambarkan socially awkward sih (hal yang bikin saya makin suka mereka berdua). Namun, karena itu mereka jadi terlihat sangat cocok dan seperti tercipta untuk satu sama lain *tsaaah*. Kesamaan nasib antara mereka berdua membuat mereka seolah-olah menjadi terikat satu sama lain. Dan meskipun berasal dari pihak yang berbeda, kita dapat melihat bahwa hanya Futaba yang bisa memahami Hiroki, dan begitu juga sebaliknya. Namun, meskipun begitu, inti dari dorama ini bukanlah hubungan cinta antara mereka berdua, melainkan tentang bagaimana mereka berdua (beserta keluarga masing-masing) sanggup memaafkan. Memaafkan di sini bukan hanya saling memaafkan antara dua keluarga saja ya, tapi lebih seperti memaafkan diri mereka masing-masing. Seperti pada judulnya, meskipun segala dendam dan luka tertanam di hati mereka, mereka tetap akan hidup dan hari yang baru akan selalu datang.

Selain hal-hal di atas, kelebihan dorama ini juga terletak pada akting dari semua pemainnya. Eita dan Mitsushima Hikari menampilkan akting yang sangat memukau. Namun, tidak hanya mereka saja, pemeran-pemeran pendukung dalam dorama ini juga menampilkan akting yang sangat maksimal, terutama Otake Shinobu yang memerankan karakter ibunya Hiroki serta Kazama Shunsuke yang memerankan karakter Fumiya, si sumber di balik segala hal yang ada di dorama ini. Wajah dingin tanpa ekspresinya itu bener-bener juara. Dan saya senang karena dalam dorama ini ditampilkan juga cerita tentang kehidupan si pelaku, sehingga kita dapat mengerti mengapa karakter ini bisa membunuh Aki. Tambahan, dorama ini juga mendapatkan 6 penghargaan dari 70th Television Drama Academy Award, yaitu pada kategori Best Drama, Best Actor (Eita), Best Supporting Actor (Kazama Shunsuke), Best Supporting Actress (Otake Shinobu), Best Screenwriter, dan Best Director. Kalau saja Mitsushima Hikari tidak kalah dari Inoue Mao (yang mendapat penghargaan Best Actress dari Ohisama), maka lengkap sudahlah kehebatan dorama ini 🙂  (RALAT: ternyata Mitsushima Hikari tidak menang best actress karena ia dimasukkan ke kategori supporting actress. Sistem award di sana menganut satu dorama satu pemain utama, sehingga pemeran utama dorama ini dihitungnya hanya Eita sehingga Hikari kalah dari Otake Shinobu yang memang lebih senior).

Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan, dorama ini tidak hanya bagus, tapi juga sangat berkesan dan meninggalkan suatu perasaan tersendiri setelah menontonnya. Jadi, 5 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

*Review ini pertama kali ditulis 7 Oktober 2009 di http://purisuka.multiply.com

Salah satu dorama yang sebenernya udah lama ditonton tapi baru sekarang direview. Dorama ini bercerita tentang dunia kedokteran forensik, sebuah jurusan yang kurang populer di dunia kedokteran dan kebanyakan diisi oleh orang-orang yang beridealisme tinggi.

Ada 5 mahasiswa yang ikut seminar kedokteran forensik saat itu. Kaji Daiki (EITA), mahasiswa yang kepalanya selalu penuh rasa ingin tahu, yang sebenarnya tujuan awalnya adalah studi di bidang jantung, namun dosennya malah menempatkannya ke bidang forensik; Ishimatsu Ryosuke (Ikuta Toma), anak pemilik rumah sakit yang sebenarnya tidak disetujui ayahnya untuk masuk forensik; Kuboaki Kanako (Ishihara Satomi), perempuan satu-satunya dari lima mahasiswa itu yang masuk forensik karena rasa penasaran yang menghantui dirinya sejak kecil, di mana ibunya meninggal tanpa diketahui penyebabnya; Kirihata Teppei (Endo Yuya) si penggemar serial CSI dan masuk forensik karena terinspirasi oleh itu; lalu Hanei Akira (Sato Tomohito), mahasiswa bertampang preman yang masuk Forensik karena ilmu forensik lah yang menyelamatkan dirinya dari tuduhan pembunuhan.

Jadi bersama-sama mereka menyelidiki penyebab kematian orang-orang melalui ilmu forensik, di mana dalam ilmu tersebut mereka berusaha menyampaikan voice atau ‘suara’ dengarkanlah aku dari mayat-mayat tersebut kepada anggota keluarga mereka yang masih hidup. Setiap episode mereka menyelidiki kasus-kasus kematian yang tidak diketahui penyebabnya. Selain itu ceritanya juga berkembang mengenai bagaimana forensik mengubah hidup mereka.

My Opinion:
Aaaaaah….Kenapa siiiiih saya paling lemah kalo nonton dorama kedokteran kayak gini? Pokoknya dorama ini bikin saya mewek terus. Subjektif sih, saya emang paling gak tahan liat film yang ada adegan orang matinya. Apalagi ini, diceritakan penyebab-penyebab kematian korban-korban tersebut, yang kebanyakan ceritanya cukup mengharukan. Ihik ihik ihik.

Di sini saya sukaaaaa banget karakternya Eita, yang setiap episode selalu bertanya “DOUSHITEEEEEE????” aduh cerewet amat ya ni orang, tapi imuut (apa sih). Karakter kedua yang saya suka adalah karakter Aki. Gemeeeees banget liat interaksi dia dengan Daiki. Dan kenapa sih, dorama Jepang itu, kalo bukan temanya percintaan, pasti pelit banget nyelipin cerita romance-nya. Gemes sama pasangan Daiki-Aki, sampe akhir dorama kenapa coba mereka gak ‘dijadiin’ (apa sih bahasa-nya) aja? Ah dasar Daiki bebaaaaal!!

Udah, cukup bahasan gak penting nan subjektif dari saya. Untuk ceritanya sendiri, saya suka banget karena biasanya dorama kedokteran yang ada bercerita tentang dokter-dokter yang menangani pasien yang masih hidup, kalo ini yang udah meninggal. Kekurangannya sih kadang-kadang ceritanya berjalan lambat dan membosankan, sehingga kadang-kadang bikin ngantuk. Tapi di luar itu, dorama ini sangat worth to watch kok. 4 bintang deh dari saya :)))

My Rating: 4 / 5

Read Full Post »