Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘odagiri joe’

top 7 actorsHalo, selamat tahun baru ya para pembaca blog ini! Yosh, di awal tahun 2013 ini saya akan menulis postingan yang sudah ingin saya buat dari dulu. Di postingan ini saya akan menulis list tentang tujuh orang aktor Jepang favorit saya. Ya, aktor atau aktris adalah salah satu faktor yang membuat saya memutuskan untuk menonton satu film tertentu. Begitu juga dengan film Jepang. Setelah bertahun-tahun menonton film dan dorama Jepang, banyak sekali perubahan pada list aktor Jepang favorit saya. Contohnya bertahun-tahun yang lalu saya terbiasa mengidolakan aktor-aktor dari Johnny’s macam Yamapi, Nishikido Ryo atau Matsumoto Jun. Sekarang, dengan semakin banyaknya film dan dorama Jepang yang saya tonton, semakin banyak pula aktor Jepang yang saya suka dan membuat list aktor Jepang favorit saya berubah terus. Apa kriteria dari aktor-aktor di list di bawah ini sehingga saya menyebutnya sebagai favorit? Akting tentu saja kriteria nomor satu. Tapi karena list di bawah ini sifatnya personal, ada juga hal-hal lain yang mendasari pemilihan itu, contohnya karena saya *ahem* naksir sama aktornya. Tapi biasanya saya naksir sama seorang aktor setelah terkagum-kagum sama aktingnya kok.

Oh ya, list ini sifatnya personal ya. Jadi jangan protes kalo nama-nama hebat seperti Asano Tadanobu, Watanabe Ken, Yakusho Koji, atau Abe Hiroshi gak masuk list ini. Saya sangat mengagumi mereka dan kayaknya kemampuan akting mereka udah banyak yang tahu, jadi ya gak perlu dimasukkan ke dalam list ini. Dan mengapa cuma tujuh orang? Well, pada awalnya saya berniat untuk memasukkan 10 orang ke daftar ini. Tapi ketika saya memikirkan tiga orang terakhir dari 10 orang itu, saya jadi sangat bingung.  Ada banyak aktor yang ingin saya masukkan, dan rasa suka saya sama mereka kurang lebih sejajar. Jadi daripada bingung mau milih yang mana, mending gak dimasukkan sama sekali (maaf ya, penulis blog ini emang pemalas). Jadi katakanlah daftar di bawah ini adalah daftar yang sudah pasti dan susah berubahnya.

Catatan: para aktor di bawah ini merupakan para aktor kelahiran antara tahun 70-an sampai 80-an awal. Mungkin suatu saat saya akan buat list baru tentang aktor favorit dengan usia yang lebih muda/lebih tua daripada yang ada list di bawah ini. Oke, mari dimulai saja listnya (btw bannernya menyusul ya).

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

Setiap orang pasti memiliki satu atau beberapa hobi. Ada yang punya hobi membaca buku, menonton film, mengoleksi perangko, dan berbagai macam hobi lainnya. Namun, ada satu orang yang sama sekali tidak memiliki hobi apa-apa. Dia adalah Kiriyama Shuichiro (Odagiri Joe), seorang polisi yang bekerja di divisi Limitation Task Force (divisi yang tugasnya mengurus arsip-arsip kasus yang sudah kadaluarsa, divisi paling membosankan di kepolisian tampaknya). Karena tidak punya hobi itu adalah sesuatu yang buruk, maka Kiriyama pun berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan hobi baginya. Setelah berpikir keras, akhirnya Kiriyama menemukan suatu hobi yang cocok baginya. Hobi tersebut adalah: menyelidiki kasus yang sudah kadaluarsa.

Di Jepang, suatu kasus memiliki batas waktu selama 15 tahun. Jika 15 tahun sudah berlalu dan kasusnya tetap tidak terpecahkan, maka kasus tersebut akan kadaluarsa. Dan meskipun pelaku kasus tersebut ketahuan setelah itu, si pelaku tetap tidak akan bisa dipenjara. Pada dorama ini, Kiriyama berusaha menyelidiki kasus-kasus yang sudah kadaluarsa sebagai hobinya. Dan karena hal itu ia lakukan sebagai hobinya, maka Kiriyama tidak pernah terobsesi untuk menangkap penjahatnya (karena sudah kadaluarsa pula). Ia hanya ingin mengetahui kebenaran atas kasus tersebut. Kiriyama sendiri tidak pernah sendirian dalam melaksanakan hobinya. Ia biasa ditemani oleh Mikazuki Shizuka (Aso Kumiko), polisi wanita dari divisi lalu lintas yang keliatannya naksir Kiriyama (karena sangat sering mampir ke divisi Limitation Task Force). Berdua, mereka berusaha mencari-cari petunjuk mengenai kasus-kasus yang telah kadaluarsa. Dan yang menarik, setelah pelaku dari kasus-kasus tersebut berhasil ketahuan, Kiriyama selalu memberikan kartu bertuliskan “I won’t tell anybody” kepada si pelaku, sebagai tanda bahwa identitas mereka sebagai pelaku akan dirahasiakan oleh Kiriyama. Lalu, kasus-kasus kadaluarsa macam apakah yang akan diselidiki Kiriyama? Apakah suatu saat ia akan bosan dengan hobinya tersebut? Tonton aja deh 😀

Menonton Jikou Keisatsu (judul bahasa Inggris: Time Limit Investigator) karena tertarik dengan premisnya: menyelidiki kasus yang sudah kadaluarsa sebagai hobi? Kurang kerjaan banget ya kelihatannya? Apalagi walaupun pelakunya ketahuan, Kiriyama tetap tidak bisa melakukan apa-apa untuk menangkap penjahatnya. Terlihat tidak berguna bukan? Tapi, namanya juga hobi. Kadang-kadang hobi sering kali tidak menghasilkan apa-apa, namun hal tersebut tetap akan menimbulkan kepuasan di hati ini. Begitu juga yang terjadi dengan Kiriyama. Dorama ini sendiri punya pola yang sama seperti dorama detektif pada umumnya, di mana ada satu kasus yang diselidiki dalam satu episode. Semua kasus yang diselidiki di sini adalah kasus yang sudah kadaluarsa, tapi ada juga satu episode yang berbeda dengan yang lainnya, yaitu di episode 6 ketika Kiriyama menyelidiki sebuah kasus yang beberapa hari lagi akan kadaluarsa.

Selain premisnya yang menarik dan orisinil, kelebihan lain pada dorama ini juga terletak pada unsur komedinya. Ya, berhubung dengan hal itu, tidak aneh unsur komedinya menonjol karena dorama ini ditulis dan disutradarai oleh Miki Satoshi. Mengenai sutradara ini sudah sering saya singgung di beberapa review sebelumnya (seperti Atami no Sousakan & Adrift in Tokyo). Sama seperti di film-filmnya yang lain, Miki Satoshi masih mengandalkan humor-humor random tidak penting di dorama ini. Hal itu bisa dilihat melalui tingkah Kiriyama dan rekan-rekannya di divisi Limitation Task Force, di mana mereka sering sekali meributkan hal-hal yang tidak penting. Misalnya di episode satu, ketika Matarai-san (Fuse Eri) tidak sengaja menemukan sertifikat pernikahan yang belum diisi di suatu tempat. Dan pada saat itu, mereka malah meributkan siapa yang akan mengisi sertifikat tersebut, yang berujung dengan jan ken pon (selain gak penting, hal itu juga menandakan bahwa divisi itu kebanyakan nganggurnya daripada kerja). Namun, tidak seperti Atami no Sousakan yang memiliki penulis dan sutradara tunggal, dorama ini tidak hanya disutradarai oleh Miki Satoshi seorang (meskipun yang paling banyak berperan di sini adalah Miki Satoshi). Masih ada beberapa sutradara lain yang turut menulis dan menyutradarai dorama berjumlah sembilan episode ini. Salah satunya adalah sutradara Jepang terkenal Sono Sion (Suicide Club, Love Exposure) yang ikut menulis dan menyutradarai salah dua episodenya (episode 4 & episode 6). Namun, meskipun ditulis dan disutradarai oleh beberapa sutradara, gaya humor di semua episodenya kurang lebih serupa dan Miki Satoshi banget.

Selain hal-hal di atas, akting dan karakterisasi adalah salah satu hal yang paling menarik dari dorama ini. Sulit sekali untuk tidak jatuh cinta pada Odagiri Joe di sini. Kiriyama’s character is sooooo cute and lovable. Odagiri Joe emang cocok buat peran cowok polos macam Kiriyama (teringat Satorare). Sifatnya yang polos dan rasa ingin tahunya yang besar bener-bener bikin saya gemes. Saya juga suka banget sama perkembangan karakter Kiriyama. Meskipun dia tampak bersenang hati melakukan hobi anehnya, tapi ada juga saat-saat di mana dia merasa muak dengan hobinya tersebut. Misalnya di episode 6, ketika dia mulai muak karena selalu memecahkan sebuah kasus pada waktu yang sudah terlambat. Apalagi, seperti hobi lainnya, hobi Kiriyama pun turut memakan biaya. Selain Odagiri Joe, Aso Kumiko juga berakting baik di sini. Dan saya rada kasihan sama karakter Mikazuki yang naksir banget sama Kiriyama, tapi cowok tersebut gak pernah nyadar (salah sendiri sih naksir cowok polos & bebal macam Kiriyama :D). Pemain-pemain lainnya yang kebanyakan adalah pemain langganan Miki Satoshi seperti Fuse Eri dan Iwamatsu Ryo (yang turut menyutradari salah satu episodenya) pun turut bermain dengan baik di sini, dan semakin menambah kelucuan dorama ini. Selain pemain utamanya, dorama ini juga turut menghadirkan beberapa bintang tamu di setiap episodenya, seperti Ikewaki Chizuru, Tetsushi Tanaka, Yoshitaka Yuriko, Tomosaka Rie, Nagasaku Hiromi, Ryo, dan beberapa artis lainnya.

Untuk bagian penyelidikannya, penyelidikan yang dilakukan Kiriyama sebenarnya gak hebat-hebat amat. Ia menyelidiki kasus-kasus yang ada di dorama ini dengan cara mewawancarai detektif yang pernah mengurus kasus tersebut serta orang-orang yang terlibat pada kasusnya. Kadang-kadang, obrolan tidak penting antara Kiriyama dan rekan-rekannya sering berguna dan menjadi petunjuk untuk memecahkan kasus yang diselidikinya. Kasus-kasus (yang kebanyakan kasus pembunuhan) yang terjadi di sini pun kebanyakan kasus yang terjadi secara tidak sengaja, tidak dengan trik yang direncanakan matang, tapi malah berakhir menjadi kasus yang tidak terpecahkan. Namun, Kiriyama selalu berhasil menemukan petunjuk yang sebelumnya tidak pernah ditemukan. Petunjuk yang tampak sepele, tapi sebenarnya sangat penting dan berkaitan dengan kasusnya. Pelaku dalam kasus-kasus di dorama ini sendiri sebenarnya sudah ketahuan dari awal episodenya sehingga ini bukan tipe dorama yang bikin kita kaget ketika pelakunya ketahuan, tapi yang menarik adalah cara Kiriyama mendapatkan bukti bahwa orang itulah pelaku tersebut yang disertai dengan beberapa kelucuan.

Well, segini aja review dari saya. Dorama ini recommended buat kamu yang suka dorama detektif atau penyuka film-filmnya Miki Satoshi. Sekadar info, dorama ini juga memilki sekuel yang berjudul Kaette Kita Jikou Keisatsu yang punya format yang hampir sama dengan season pertamanya. Ja, 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Takemura Fumiya (Odagiri Joe) adalah seorang mahasiswa fakultas hukum (di tahun kedelapan) yang hidupnya sedang berada di ujung tanduk. Ia adalah pria sebatang kara. Orang tuanya sudah lama menelantarkan dirinya, dan ia punya hutang sebesar 800 ribu yen yang tidak bisa ia bayar. Pada suatu hari, ketika ia sedang memandangi pasta gigi tiga warna yang baru dibelinya, seorang debt collector datang dan mengancam Fumiya agar membayar hutangnya. Setelah mengancam Fumiya (dengan menggunakan kaos kakinya), debt collector itu memberi Fumiya waktu tiga hari untuk membayar hutangnya.

Namun, mencari uang dalam waktu tiga hari adalah suatu kemustahilan bagi Fumiya. Di tengah kebingungannya karena belum mendapat uang juga, si debt collector yang kemarin mengancam Fumiya datang lagi menemui Fumiya. Kali ini ia tidak mengancam Fumiya untuk membayar hutangnya, tapi malah memberikan penawaran yaitu uang sebesar satu juta yen dengan satu syarat. Syaratnya adalah menemani si debt collector itu (yang bernama Fukuhara, diperankan Miura Tomokazu) berjalan-jalan di Tokyo tanpa tujuan yang jelas dan dengan waktu yang tidak ditentukan, bisa sampai tiga hari, satu bulan, atau lebih dari itu. Fumiya yang sudah tidak punya cara lain untuk membayar hutangnya pun menyetujui permintaan aneh tersebut. Perjalanan antara dua orang ini pun dimulai.

Pada saat berjalan-jalan tersebut, nantinya diketahui alasan mengapa Fukuhara meminta Fumiya untuk menemaninya jalan-jalan di Tokyo. Ternyata Fukuhara baru saja membunuh istrinya sendiri (meskipun secara tidak sengaja). Ia meminta Fumiya menemaninya jalan-jalan di sekitar Tokyo karena hal itu adalah hal yang sering ia lakukan dulu bersama istrinya, dan perjalanan mereka akan selesai ketika Fukuhara merasa sudah saatnya ia menyerahkan diri pada polisi. Di perjalanan itu, mereka berdua menemui berbagai macam hal aneh, mulai dari pertengkaran rumah tangga di sebuah tempat makan, musisi jalanan berisik, sampai acara cosplay. Melalui perjalanan itu juga, Fumiya merasa mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah dimilikinya dahulu pada diri Fukuhara, yaitu keluarga. Di luar hal itu, tiga orang teman kerja istrinya Fukuhara mulai menyadari bahwa sudah beberapa hari rekan kerja mereka bolos kerja tanpa pemberitahuan. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Fumiya akan mencoba menahan Fukuhara agar tidak menyerahkan dirinya pada polisi? Dan apakah mayat istri Fukuhara akan ditemukan sebelum Fukuhara menyerahkan dirinya ke polisi? Tonton aja deh kakak.

Adrift in Tokyo (judul asli: Tenten) adalah salah satu film yang disutradarai oleh Miki Satoshi (mengenai sutradara ini, pernah saya singgung sedikit di review Atami no Sousakan). Seperti kebanyakan film-film yang disutradarainya, film ini juga memiliki unsur komedi yang sangat khas. Ya, kekhasan Miki Satoshi memang terletak pada gaya humornya yang sangat random dan aneh. Namun, seperti pada filmnya yang berjudul Turtles Swim Faster Than Expected, keanehan-keanehan tersebut ditempatkan pada kehidupan yang normal. Misalnya seperti terlihat pada tiga orang teman kerja istrinya Fukuhara (yang diperankan oleh para pemain langganan Miki Satoshi yaitu Fuse Eri, Iwamatsu Ryo, Matsushige Yutaka) di mana ketika mereka bekerja mereka malah meributkan hal-hal tidak penting seperti bau rambut atau hal-hal remeh temeh lainnya. Begitu juga dengan tokoh Fumiya dan Fukuhara yang dalam perjalanannya menemukan hal-hal aneh yang terkesan tidak penting. Hal-hal random yang terjadi dalam film ini memang terkesan tidak penting dan tak punya pengaruh kuat pada ceritanya, namun bukankah dalam hidup yang sebenarnya kita juga sering menemui hal-hal random tak penting seperti ini? Dan yang pasti, hal-hal aneh yang ada dalam film ini merupakan salah satu faktor yang menjadikan filmnya menjadi sangat menghibur.

Selain drama dan komedi, film ini juga dapat dikategorikan sebagai road movie. Namun, perjalanan yang dilakukan dalam film ini bukanlah tipe perjalanan yang mengubah nasib seperti pada kebanyakan road movie. Saya sangat menikmati perjalanan kedua tokoh utama dalam film ini. Melalui perjalanan tersebut (di mana jalan-jalan di sini adalah jalan-jalan secara harfiah, pake kaki, bukan pake kendaraan), karakteristik dua tokoh utama tersebut dibangun sedikit demi sedikit dan tanpa butuh waktu yang lama kita mampu dibuat peduli kepada kedua tokoh tersebut. Apalagi ketika di seperempat akhir film, ada tambahan dua tokoh yang membuat film ini menjadi semakin menarik. Film ini juga merupakan salah satu tipe film yang mampu membuat kita menempatkan diri pada posisi karakternya. Saya merasa ikut bahagia dan terharu ketika Fumiya si sebatang kara mulai merasakan kenyamanan ketika bersama dengan Fukuhara dan dua karakter lainnya, dan ikut sedih ketika Fukuhara merasa sudah waktunya menghentikan perjalanan mereka. Perjalanan dalam film ini memang tidak punya pengaruh besar dan mampu mengubah nasib. Namun, melalui perjalanan ini, kedua tokoh ini mulai menemukan hal-hal kecil sederhana yang sebelumnya telah mereka lupakan.

Para pemain dalam film ini berhasil menampilkan penampilan yang baik dan memukau. Saya sangat menyukai akting kedua pemain utamanya, yaitu Odagiri Joe dan Miura Tomokazu, dan mereka berhasil membangun chemistry dengan baik. Di bagian awal, kita dapat melihat sosok Fukuhara sebagai penagih hutang yang kejam sekaligus dingin di mata Fumiya. Namun, semakin ke sini, kita dapat merasakan bahwa Fumiya mulai memandang adanya sosok seorang ayah pada diri Fukuhara, meskipun Fukuhara tidak pernah berlaku seperti ayah atau meninggalkan kepribadian aslinya. Koizumi Kyoko dan Yoshitaka Yuriko juga menampilkan akting yang sangat mencuri perhatian (terutama Yuriko, kehadiran karakter yang diperankannya berhasil membuat saya tertawa). Fuse Eri, Iwamatsu Ryo, dan Matsushige Yutaka (yang bisa dibilang adalah maskot dari film-filmnya Miki Satoshi) pun berhasil membuat film ini menjadi semakin segar dan menarik. Selain hal-hal di atas, saya juga menyukai penggambaran kota Tokyo dalam film ini. Biasanya dalam film-film, Tokyo selalu digambarkan sebagai tempat yang padat dan ramai. Meskipun di film ini masih ada penampakan kota Tokyo yang ramai dengan orang, tapi melalui film ini kita masih bisa menemukan sudut-sudut Tokyo yang sepi dan tenang. Dan yang pasti, setelah menonton film ini saya jadi pengen ikutan jalan-jalan di rute yang mereka lalui tersebut, hehe.

Kesimpulannya, Adrift in Tokyo adalah sebuah film sederhana  yang akan sangat sayang jika dilewatkan. Hal-hal sederhana yang dibalut dengan keanehan dalam film ini berhasil menjadikannya sebagai suatu tontonan yang tidak hanya menghibur, tapi juga berkesan. Dan ini adalah tipe film yang akan menimbulkan suatu senyuman dan perasaan hangat di hati penontonnya. Ja, 4 bintang deh untuk film ini. 🙂

Trivia: Dalam film ini ada cameo dari aktris cantik Aso Kumiko, atau tepatnya cameo dari karakter yang ia perankan dalam dorama Jikou Keisatsu, di mana Odagiri Joe juga bermain dalam dorama itu dan Miki Satoshi pulalah yang menyutradarainya 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Sebuah bus sekolah yang berisi satu orang supir dan empat orang siswi tengah melaju di jalanan sebuah kota kecil bernama Atami. Di tengah jalan, mereka melihat ada seorang kakek tua yang terbaring di jalanan. Sang supir pun turun dari bus untuk melihat keadaan kakek tua tersebut. Lalu, tiba-tiba bus yang berisi empat orang siswi tersebut melaju sendiri. Si supir yang tengah menolong kakek tua tersebut pun langsung berlari mengejar bus tersebut. Sayangnya, bus tersebut tidak berhasil dikejar dan menghilang bersamaan dengan munculnya kabut.

Tim polisi lokal (yang sepertinya sebelum ini kebanyakan nganggur) pun dikerahkan untuk mencari bus tersebut. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil. Meskipun begitu, salah seorang siswi yang naik bus tersebut, yaitu Shinonome Mai, berhasil ditemukan dalam keadaan tidak sadar. Tiga tahun berlalu setelah kejadian itu. Mai, satu-satunya siswi yang ditemukan tersebut, akhirnya bangun setelah mengalami koma selama tiga tahun. Namun, ia sudah tidak ingat apa-apa mengenai kejadian yang ia alami tiga tahun yang lalu. Dua orang penyelidik dari Wide Area Investigator pun datang ke Atami untuk menyelidiki kasus bus yang hilang tersebut. Dua orang penyelidik tersebut adalah Hoshizaki Kenzo (Odagiri Joe) dan Kitajima Sae (Kuriyama Chiaki). Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah bus tersebut berhasil ditemukan? Apa yang terjadi pada tiga orang siswi yang belum ditemukan? Dan, apakah ada yang menjadi dalang di balik hal tersebut?

Yak, satu lagi dorama detektif yang sudah saya tonton. Berbeda dengan dorama detektif lain yang biasanya berformat satu episode satu kasus, kasus yang diselidiki dalam Atami no Sousakan hanya berkutat pada kasus hilangnya bus tersebut. Jadi mungkin kamu akan sedikit merasa bosan karena kemajuan dalam penyelidikan kasus tersebut terasa agak lambat. Tapi untung saja dorama ini memiliki unsur komedi yang berhasil membuat saya tertawa dan bertahan menonton dorama ini. Memang, unsur komedinya bukan tipe komedi yang gampang disukai semua orang, termasuk oleh penggemar dorama Jepang sekalipun.  Namun, jika kamu menyukai unsur komedi seperti yang ada pada dorama Jikou Keisatsu (dibintangi Odagiri Joe juga) atau film-film Jepang seperti Turtles Swim Faster Than Expected, Adrift in Tokyo, dan Instant Numa, maka kamu pasti akan sangat menyukai dorama ini. Apa kesamaan judul-judul tersebut dengan Atami no Sousakan? Ya, ada pada sutradaranya yang sama, yaitu Miki Satoshi. Miki Satoshi adalah salah satu sutradara film Jepang yang memiliki gaya komedi yang sangat khas (seperti pada Turtles Swim Faster than Expected yang sudah pernah saya review di sini). Gaya komedinya cenderung aneh, garing, dan gak penting. Namun, jika kamu sudah terbiasa dengan gayanya, maka kamu pasti akan dibuat tertawa dengan komedi yang ditampilkan dalam dorama ini.

Yang patut diacungi jempol dari dorama ini adalah akting dari para pemainnya. Sebagian aktor/aktris dalam dorama ini sebelumnya sudah pernah bermain dalam film/dorama yang disutradarai Miki Satoshi, sehingga tampaknya mereka sudah nyaman dengan gaya penyutradaraan Miki Satoshi. Misalnya Odagiri Joe, sang pemeran utama, yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan Miki Satoshi (dua season Jikou Keisatsu, Adrift in Tokyo). Di sini ia berperan dengan sangat bagus sebagai Hoshizaki, detektif cerdas yang memiliki peralatan-peralatan aneh untuk membantu penyelidikannya. Fuse Eri, Iwamatsu Ryo, dan Matsushige Yutaka yang sudah sering bekerja sama dengan Miki Satoshi pun memerankan perannya masing-masing dengan sangat baik, terutama Fuse Eri yang sangat mencuri perhatian di sini dengan perannya sebagai polisi lokal yang hobi sekali mengerjai Hoshizaki. Adegan yang melibatkan dia selalu berhasil membuat saya tertawa. Kuriyama Chiaki (Kill Bill Volume 1, Battle Royale) yang belum pernah bekerja sama dengan Miki Satoshi sebelumnya pun berhasil memerankan perannya dengan baik dan tidak canggung. Selain karakter-karakter di atas, dorama ini juga dihiasi oleh wajah-wajah muda yang tampaknya akan memiliki masa depan cerah di perfilman Jepang. Contohnya Miyoshi Ayaka, Nikaido Fumi (yang wajahnya mirip Miyazaki Aoi), Yamazaki Kento, dan Sometani Shota, yang berperan sebagai siswa dan siswi Eternal Forest School, satu-satunya sekolah di kota Atami yang sebagian besar muridnya adalah perempuan (murid cowoknya cuma dua orang).

Untuk bagian penyelidikannya, mungkin penyelidikan dalam dorama ini tidak semenarik dorama detektif lainnya. Namun, setelah beberapa episode (btw dorama ini terdiri dari 8 episode), saya mulai menyadari bahwa ini bukanlah dorama tentang detektif. Fokus utama dorama ini adalah misteri yang ada di dalamnya, yang bukan hanya tentang misteri bus yang hilang saja, tapi misteri tentang kota Atami itu sendiri.  Detektif hanyalah alat yang digunakan untuk memecahkan misteri tersebut. Jadi jika kamu menonton dorama ini dengan harapan ingin melihat detektif yang keren dengan penyelidikan yang keren juga, siap-siap kecewa deh. Tapi jika yang ingin kamu lihat adalah misteri di dalamnya, maka kamu akan menyukai dorama ini. Ending dorama ini sendiri masih menyisakan banyak pertanyaan. Tampaknya, Miki Satoshi sengaja membiarkan penonton untuk menafsirkan sendiri endingnya. Awalnya saya bingung ketika melihat ending dari dorama ini. Namun, kalau kamu jeli, petunjuk-petunjuk tentang misteri yang sesungguhnya dari dorama ini sudah ada dari episode awal kok. Selain itu, dengerin deh theme song dari dorama ini, yaitu lagu berjudul Tengoku e Youkoso yang dibawakan oleh band Tokyo Jihen. Selain pas ditempatkan dalam dorama ini, lirik dalam lagu berbahasa Inggris ini juga sangat tepat dalam menggambarkan hal yang ingin disampaikan dorama ini.

Ja, 4 bintang deh untuk dorama ini. Recommended! Terutama untuk kamu penggemar film/dorama berbau misteri atau penggemar film-filmnya Miki Satoshi.

Trivia: Lampu Yes-No yang dimiliki oleh Hoshizaki serta karakter nenek-nenek yang sedang memakan Chupa Chups dalam dorama ini juga terlihat dalam film Miki Satoshi yang berjudul The Insects Unlisted in the Encyclopedia. Twist dalam Atami no Sousakan sendiri merupakan tema dari film tersebut (dan tampaknya Miki Satoshi terobsesi dengan hal tersebut, hehe). Selain itu, ada satu lokasi dalam film itu yang mirip dengan salah satu lokasi dalam Atami no Sousakan.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Film atau serial yang bercerita tentang orang yang bisa membaca isi pikiran orang lain mungkin sudah biasa. Lalu, bagaimana dengan orang yang isi pikirannya bisa didengar oleh semua orang? Mungkin baru Satorare (baik versi film maupun doramanya) yang mengangkat tema tersebut. Ya, jadi dalam dorama ini diceritakan, bahwa ada satu dari sepuluh juta orang di dunia ini yang merupakan seorang Satorare (arti dalam bahasa Indonesia = transparan). Apa itu Satorare? Mereka adalah orang-orang yang isi pikirannya bisa didengar oleh orang-orang di sekelilingnya sampai dengan jarak 12 meter (tapi bisa juga terdengar sampai lebih jauh dari jarak tersebut, tergantung suasana hati si satorare). Biasanya, Satorare adalah orang yang sangat jenius, karena itulah mereka sangat dilindungi oleh negara. Sampai-sampai, dibuat sebuah organisasi atau badan pengawas Satorare yang bertugas untuk mengawasi/melindungi para satorare dan mengatur agar orang-orang di sekeliling Satorare untuk berperilaku normal dan tidak merespon isi pikiran Satorare. Hal itu disebabkan jika seorang satorare mengetahui bahwa isi pikirannya bisa didengar oleh orang lain, bukan tidak mungkin ia akan menjadi depresi, dan akibat yang paling buruk adalah bunuh diri. Untuk itulah, badan pengawas satorare ini didirikan agar seorang Satorare bisa menjalani hidup normal layaknya orang biasa.

Satomi Kenichi (Odagiri Joe) adalah salah satu orang yang dapat disebut sebagai Satorare. Apapun yang ia pikirkan bisa didengar oleh orang lain. Kenichi sendiri adalah seorang dokter yang sangat jenius. Namun, kejeniusannya tersebut ternyata tidak berhasil membuat karirnya sebagai dokter berjalan lancar. Karena Kenichi adalah seorang Satorare, maka rumah sakit tidak pernah mengizinkan ia untuk melakukan operasi terhadap pasiennya. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari hal buruk yang akan terjadi jika sang pasien bisa mendengar isi hati Kenichi ketika operasi. Tentunya hal tersebut membuat Kenichi merasa rendah diri dan menganggap dirinya tidak pantas menjadi seorang dokter. Selain masalah karir, kehidupan percintaannya pun tidak berjalan mulus. Ya, karena isi pikirannya yang sangat transparan tersebut, maka perempuan yang ia sukai pasti akan mengetahui bagaimana perasaannya tanpa perlu ia mengatakannya. Dan siapa sih perempuan yang tidak terganggu dengan hal itu?

Lalu, masalah timbul ketika orang-orang di rumah sakit tempat Kenichi bekerja sudah tidak tahan karena terus menerus harus mendengar isi pikiran Kenichi. Mereka bermaksud ‘menyingkirkan’ Kenichi dengan cara memindahkannya ke National Research Lab, yang artinya jika hal tersebut terjadi maka karir Kenichi sebagai dokter akan berakhir dan berganti menjadi seorang peneliti. Di sisi lain, rumah sakit tersebut kedatangan seorang perempuan bernama Hoshino Noriko (Tsuruta Mayu), yang merupakan pathologist baru di rumah sakit tersebut. Mengetahui bahwa salah satu rekannya adalah seorang satorare membuat ia terkejut dan susah untuk terbiasa. Namun, lama kelamaan ia menjadi orang yang paling dekat dengan Kenichi. Lalu, apa yang akan selanjutnya terjadi pada Kenichi? Apakah orang-orang di rumah sakit tersebut akan berhasil menyingkirkannya dan memindahkannya ke National Research Lab? Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan hubungannya dengan Hoshino? Lalu, apakah suatu hari ia akan mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Satorare? Tonton aja deh kakak 😀

Saya suka sekali sama dorama ini. Satu hal yang paling saya suka dari dorama ini adalah ide ceritanya yang unik dan tidak biasa, yaitu tentang orang yang isi pikirannya bisa didengar orang lain (meskipun ini bukan ide original karena dorama ini merupakan adaptasi dari film layar lebar berjudul sama). Selain ide ceritanya, yang menarik lagi dari dorama ini adalah unsur komedinya yang sangat berhasil membuat saya tertawa. Tingkah laku orang-orang yang pura-pura gak denger isi hati Kenichi itu loh….bener-bener bikin ngakak! Hal itu membuat saya membayangkan bagaimana jika Satorare benar-benar ada di dunia ini dan saya hidup di lingkungan yang sama dengannya, pasti saya akan dibikin gregetan setiap hari, hihi.

Selain hal di atas, yang paling saya suka dari dorama ini adalah karakter Satomi Kenichi yang diperankan dengan sangat baik oleh Odagiri Joe. Saya suka banget sama karakternya yang begitu lugu dan polos. Meskipun pada awalnya orang-orang di sekeliling Satomi dibuat kesal setengah mati karena terus-terusan ‘diganggu’ oleh isi pikirannya yang transparan, tapi lama kelamaan mereka akhirnya luluh melihat Kenichi yang, baik dalam isi hati maupun perkataannya, tidak pernah memiliki niat yang buruk terhadap orang lain. Karakter-karakter lainnya pun turut mendukung kekuatan dorama ini. Seperti karakter Hoshino Noriko yang menjadi love interest si satorare ini. Biarpun karakternya diceritakan lebih tua dari Kenichi, tapi menurut saya mereka ini cocok sekali. Selain kedua karakter utamanya, yang menonjol di sini adalah karakter Todo-san dan Nakata. Kedua orang ini adalah anggota Satorare Measure Committee yang bertugas untuk mengawasi dan melindungi Kenichi. Biarpun mereka melakukan itu karena faktor pekerjaan, tapi lama kelamaan dapat dilihat bahwa mereka sangat memedulikan dan menyayangi Kenichi.

Meskipun ini dorama komedi, tapi dorama ini tidak berakhir menjadi sekadar dorama yang lucu saja. Seperti kebanyakan dorama Jepang lainnya, dorama ini banyak menyelipkan adegan-adegan yang lumayan menyentuh, khususnya mengenai perjuangan Kenichi untuk menjadi dokter. Siapa coba yang tidak tersentuh melihat usaha dan kegigihan hatinya? Meskipun berkali-kali ia patah semangat, namun ia selalu berhasil bangkit kembali.  Ja, 4 bintang deh untuk dorama ini 🙂

Memorable Quote:

Hoshino: “I thought about why God made satorare. Maybe we need to have satorare around. We live in a world of masked thoughts. That is why people with transparent thoughts are necessary for us.”

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Tiba-tiba saya pengen nge-review film ini. Karena nontonnya udah lama dan udah agak-agak lupa sama jalan ceritanya, makanya tadi siang saya nonton ulang film ini 😀

Azumi bercerita tentang sekelompok anak muda yang sejak kecil dididik untuk menjadi pembunuh oleh seorang samurai. Salah satu dari anak-anak muda tersebut adalah Azumi (Aya Ueto), yang juga merupakan satu-satunya perempuan di kelompok itu. Ibunya meninggal saat ia masih kecil karena dibunuh, sejak itu ia diasuh oleh si samurai itu. Bersama-sama dengan 9 kawannya, sejak kecil Azumi dididik bela diri serta ilmu pedang. Lalu pada suatu hari, sang guru (yang dipanggil Jiji) akhirnya memberikan suatu tugas pada mereka, yaitu membunuh 3 orang penguasa klan toyotomi yang pada saat itu bermaksud untuk mengadakan perang (detailnya saya gak begitu ngerti). Sebelum misi tersebut dijalankan, sang guru memberi tantangan pada mereka. Mereka disuruh berpasangan dengan teman yang paling mereka sukai, dan saling membunuh. Yang hidup, itulah yang akan melanjutkan misi mereka (ini juga salah satu cara agar mereka sanggup menjadi pembunuh berdarah dingin). Awalnya mereka hanya diam saja, tidak tahu harus berbuat apa. Lalu, Ukiha (Narimiya Hiroki) menuruti perintah gurunya dan menjadi yang pertama melakukan tugas itu, dengan membunuh pasangannya. Akhirnya pertarungan antara para sahabat itu dimulai. Azumi yang sebenarnya menaruh hati pada Nachi (Shun Oguri) yang merupakan pasangannya,  awalnya hanya mampu diam dan tak mampu berbuat apa-apa. Namun, akhirnya ia terpaksa membunuh Nachi karena Nachi memulai serangannya. Akhirnya, dari kesepuluh orang itu tersisa lima orang. Dengan perasaan pilu karena mereka terpaksa membunuh sahabatnya sendiri, misi pun dimulai. Bersama jiji, sang guru, mereka memulai tugas mereka untuk membunuh tiga orang penguasa ini: Nagamasa Asano, Kiyomasa Kato, dan Sanada Masayuki (btw mereka ini adalah tokoh-tokoh nyata yang ada dalam sejarah Jepang). Tentunya misi ini tidaklah mudah untuk dijalankan, apalagi para penguasa ini dilindungi oleh banyak prajurit serta pembunuh-pembunuh handal, seperti Saru, Bijomaru (Joe Odagiri), dan yang lainnya. Jadi, bagaimana selanjutnya? Apakah Azumi dan kawan-kawannya akan berhasil menjalankan misi tersebut? Siapakah yang akan tetap bertahan hidup? Tontonlah sahaja…..:p

My Opinion:

Film ini termasuk film action jepang yang keren banget. Pertempurannya keren, cantik, sekaligus bikin tegang juga ^^. Ceritanya juga menurut saya bagus, apalagi di sini juga kita diperlihatkan pada perasaan-perasaan yang berkecamuk di hati Azumi. Di satu sisi, dengan penurutnya ia menjalankan tugasnya sebagai pembunuh, namun di sisi lain masih ada rasa kemanusiaan dalam dirinya. “Guru, apa benar orang-orang yang kita bunuh adalah orang jahat?” itu adalah salah satu pertanyaan yang menurut saya lumayan nancep. Melihat banyaknya prajurit yang melindungi para penguasa itu  dibunuh oleh Azumi dkk, bikin saya bertanya-tanya hal sama juga. Emang bener ya mereka semua itu jahat? Bisa saja kan mereka bekerja pada penguasa itu karena terpaksa untuk menghidupi keluarganya?  Hal itulah yang dipikirkan Azumi. Saat bertemu dengan Yae, gadis manis yang merupakan seorang pemain sandiwara yang teman-temannya dibunuh oleh pembunuh yang mengincar Azumi dkk, ia mulai merasakan kebimbangan. Yae mengajaknya untuk hidup normal bersamanya dan berhenti menjadi pembunuh. Azumi pun mulai berpikir untuk hidup normal seperti orang-orang biasa. Namun, serangan orang-orang jahat yang menimpa mereka menyadarkan Azumi bahwa takdir memang kejam. Ia menyadari bahwa menjadi pembunuh adalah takdirnya, dan kemana pun ia pergi, takdir itu selalu memburunya dan ia tidak akan bisa kabur lagi.

Btw akting pemainnya juga bagus-bagus. Aya Ueto sukses memerankan Azumi, samurai cantik yang sangat mahir memainkan pedangnya. Ekspresinya waktu membunuh keren banget. Apalagi pas adegan akhir, ketika dia sendirian membunuh ratusan orang itu (yang agak gak masuk akal juga sih, tapi karena ini film, telen aja lah). Saya juga suka sama Hiroki Narimiya di sini sebagai Kiha yang paling total dalam menjalankan tugasnya dan sangat setia pada gurunya. Cakep deh dia di sini XD. Yang perlu dikasih empat jempol aktingnya di sini tentu saja Odagiri Joe, yang berperan sebagai Bijomaru, seorang pembunuh yang menjadi musuh Azumi dkk. Sumpah, aktingnya psycho banget di sini, udah gitu wajahnya cukup cantik lagi ^^

Film ini masih ada lanjutannya, yaitu Azumi 2: Death or Love. Di film ini Azumi melanjutkan misinya yang belum selesai di film pertama, mungkin film keduanya akan saya review juga kapan-kapan.

Oke, film ini recommended kok. Cocok untuk penyuka film-film samurai atau film action Jepang.

Nb: btw setelah menonton ulang film ini, saya baru sadar kalo ada Eita di sini. Hihi, sayangnya aktingnya di sini hanya bisa dinikmati bentar karena dia termasuk 5 orang yang tewas pada tantangan saling bunuh yang diberikan gurunya. 😦

My Rating: 4/5

Read Full Post »