Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘aso kumiko’

Well, di postingan kali ini saya akan memberikan review singkat (mudah-mudahan) dari dua film yang saya tonton belakangan ini. Kebetulan dua film ini memiliki beberapa kemiripan. Dua-duanya bergenre romance dengan dua orang tokoh utama yang hampir sepanjang film tidak pernah saling bertemu secara langsung. Tahun rilisnya pun sama. Film-film apakah itu? Mari kita lihat sinopsisnya terlebih dahulu 🙂

1. Oto-na-ri (Japan, 2009)

Dua tokoh utama film ini sebenarnya memiliki jarak yang sangat dekat, tapi mereka sama sekali tidak pernah saling bertatap muka. Apa hubungan mereka? Ya, tetangga. Satoshi (Okada Junichi) dan Nanao (Aso Kumiko) tinggal di apartemen yang bersebelahan, tapi mereka tidak pernah yang namanya saling bertemu atau berpapasan (apalagi jam kerja mereka pun berbeda). Meskipun begitu, mereka tetap menyadari keberadaan masing-masing. Ya, dinding tipis apartemen mereka membuat mereka bisa saling mendengarkan bunyi-bunyian yang mereka keluarkan. Bunyi gemerincing kunci Satoshi, nyanyian yang selalu disenandungkan Nanao, bunyi mesin pembuat kopi Satoshi, ucapan bahasa Prancis yang dipelajari Nanao melalui CD, dan bunyi-bunyian lainnya. Lalu, apakah suatu saat mereka akan saling bertemu?

2. Castaway on the Moon (South Korea, 2009)

Seorang pria (diperankan Jung Jae-Young) mencoba bunuh diri dengan menjatuhkan diri ke Han River. Hasilnya, ia bukannya mati dan malah terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang letaknya masih di dalam kota. Awalnya dia ingin keluar dari pulau tersebut, tapi sedikit demi sedikit ia mulai nyaman dengan kesendiriannya di pulau itu. Lalu ada seorang perempuan (diperankan Jung Ryeo-won) yang tidak pernah keluar dari kamarnya selama bertahun-tahun. Hidupnya dihabiskan di internet dengan mencuri identitas orang lain. Dua kali dalam setahun, ia akan membuka jendelanya dan melihat-lihat dunia luar melalui teropong berkameranya. Dan ketika itu, ia menangkap pemandangan pria yang terdampar tersebut melalui teropongnya. Si perempuan pun berusaha untuk berkomunikasi dengan lelaki di pulau tersebut dengan caranya sendiri. Lalu, apakah suatu saat mereka akan bertemu?

Seperti yang saya bilang di atas, kedua film ini memiliki beberapa kemiripan meskipun sebenarnya kedua film ini punya cerita dan gaya yang sangat berbeda. Selanjutnya, reviewnya dipoin-poin aja ya 😀

  • Keduanya adalah film romance yang tidak hanya bicara tentang cinta.

Untuk Castaway on the Moon, malah pada awalnya saya tidak tahu bahwa film itu adalah film romance (cuma tahu kalo itu ceritanya tentang orang yang terdampar di pulau). Ya, meskipun bergenre romance, kedua film ini bukan tipe film yang ngomongin cinta melulu. Kedua tokoh utama dari masing-masing film ini memiliki cerita dan masalah masing-masing. Untuk Oto-na-ri, masalah yang dimiliki kedua tokoh utamanya adalah tentang karir dan kegamangan akan masa depan. Satoshi adalah seorang fotografer yang bisa menjadi fotografer sukses berkat bantuan sahabatnya, Shingo, yang seorang model. Tapi memfoto model bukanlah hal yang disukainya. Ia lebih suka memfoto pemandangan daripada manusia. Namun sang sahabat sudah sangat bergantung pada dirinya dan malah menghilang ketika Satoshi menyatakan keinginan sebenarnya. Belum lagi dengan kemunculan pacar Shingo yang datang pada Satoshi untuk mencari Shingo. Sementara itu Nanao adalah seorang perempuan yang mengutamakan karirnya di atas segalanya. Ia bekerja di toko bunga dan sebentar lagi akan pindah ke Prancis demi karirnya. Karena sangat mengutamakan karirnya, ia pun sering tidak peduli pada kehidupan pribadinya. Sampai suatu hari datang seorang laki-laki pegawai mini market langganannya yang datang ke tokonya dan mengaku sebagai pengagumnya.

Masalah yang dialami kedua tetangga ini kurang lebih sama. Mereka sukses di karir masing-masing. Tapi mereka bingung. Mereka sama-sama tidak tahu apakah pilihan yang akan mereka ambil selanjutnya adalah pilihan yang terbaik untuk mereka. Mereka juga sama-sama merasa sendirian. Mereka hanya butuh orang lain untuk ada di sisi mereka, untuk mendengarkan, atau untuk bertanya “apakah kamu baik-baik saja?” Jika diibaratkan, hubungan mereka berdua sama seperti masalah mereka masing-masing. Mereka dekat tapi tidak pernah bertemu. Tapi bukan berarti mereka tidak akan pernah bisa bertemu. Semuanya tergantung dari pilihan. Jika mereka memilih untuk bertemu, mereka akan bertemu. Hal itu berlaku juga pada masalah yang dialami mereka berdua. Mereka berdua sama-sama punya pilihan. Yang paling penting, apakah mereka mau memilih atau tidak?

Untuk Castaway on the Moon, masalah yang dialami masih mirip dengan masalah yang ada di film Oto-na-ri, yaitu sama-sama masalah yang sangat mungkin dialami oleh masyarakat di zaman modern ini. Masalah di sini adalah kedua tokohnya merasa sangat nyaman dengan kesendirian. Si laki-laki merasa frustrasi, mencoba bunuh diri tapi malah terdampar di sebuah pulau yang menjadi surga baginya. Hidup di pulau dengan modal barang-barang bekas tentunya berbeda dengan hidup di kota. Ia seperti kembali ke zaman primitif. Namun, kadang kembali jadi primitif membuat seorang manusia merasa menjadi lebih nyaman daripada tinggal di kota yang penuh kemudahan. Ia mengenal kembali kata “perjuangan”, “keterbatasan”, dan “harapan”. Dan hal itu membuatnya lebih bahagia dan kembali memiliki harapan hidup. Sementara itu si perempuan terjebak dengan kemudahan zaman modern. Tanpa perlu keluar dari kamarnya, ia bisa menjadi siapa saja. Ia bisa berkomunikasi dengan siapa saja tanpa perlu capek-capek ke luar rumah. Namun, dengan melihat si laki-laki yang tengah berjuang di kejauhan, ia pun ingin ikut berjuang juga. Melalui si laki-laki, ia kembali mengenal kata “harapan” dan berusaha keluar dari zona nyamannya.

Yak, masih sama dengan dengan Oto-na-ri, kedua tokoh di film ini juga masing-masing punya pilihan untuk keluar dari masalahnya. Bedanya, jika dua tokoh di film Oto-na-ri ini punya pilihan untuk keluar dari kondisi yang tidak nyaman, kedua tokoh di Castaway on the Moon punya pilihan untuk keluar dari zona nyaman. Dan masalahnya mereka berdua pada awalnya tidak merasa butuh untuk mengambil pilihan itu. Mereka sama-sama menyukai kesendirian. Namun, sedikit demi sedikit, melalui usaha si perempuan untuk berkomunikasi dengannya, mereka berdua menyadari bahwa mereka tetap membutuhkan orang lain. Senyaman apapun dengan kesendirian, mereka akan lebih bahagia lagi ketika ada seseorang yang mau membalas pesan mereka.

  • Kedua tokoh utama dalam kedua film ini punya cara berkomunikasi yang sangat unik.

Kedua tokoh utama dari kedua film ini hampir sepanjang film tidak pernah saling bertatap muka secara langsung. Pasangan di Oto-na-ri dipisahkan oleh sebuah dinding tipis. Pasangan di Castaway on the Moon dipisahkan oleh sebuah sungai. Namun, mereka berdua punya cara sendiri untuk berkomunikasi. Di Oto-na-ri? Melalui bunyi-bunyian. Makanya pas nonton film ini kita harus pasang telinga baik-baik karena bunyi-bunyian di film ini menjadi kunci untuk memahami hubungan mereka. Ada satu adegan yang menjadi favorit saya (mungkin spoiler). Suatu kejadian membuat ketegaran pada diri Nanao akhirnya runtuh juga. Hal itu disadari oleh Satoshi, ketika ia menangkap ada getaran pada suara Nanao ketika ia sedang belajar bahasa Prancis melalui CD. Satoshi pun menyenandungkan lagu yang sering disenandungkan Nanao untuk menghibur tetangganya tersebut. Dan mereka pun bernyanyi bersama (sampai akhirnya terhenti oleh suara telepon yang mengganggu. Cih…). Menurut saya itu adegan yang sangat romantis dan manis.

Sementara itu, cara berkomunikasi di Castaway on the Moon adalah melalui pesan di botol dan tulisan di pasir. Yang ini agak-agak susah komunikasinya, karena pesan di botol tersebut bisa susah ditemukannya (pesan yang pertama sampai setelah berbulan-bulan). Tapi ini yang bikin hubungan mereka jadi lucu. Apalagi pesan-pesan tersebut memakai bahasa Inggris dan isinya singkat sekali, tapi tetap membuat mereka merasa bahagia ketika mendapat balasan.

  •  Endingnya….. 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Kedua film ini punya ending yang kurang lebih sama dan gampang ditebak, tapi tetap bikin saya terkesan karena ending keduanya sama-sama manis (terutama Oto-na-ri). Yang jelas ending dari kedua film ini akan meninggalkan senyuman di wajahmu 🙂

  • Kesimpulan:

Oto-na-ri: Secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini. Seperti kebanyakan film Jepang, film ini berjalan dengan tenang dan lambat, dan mungkin akan membuat ngantuk sebagian orang. Tapi saya merasa baik-baik saja dengan temponya yang lambat (udah sering nonton yang lebih lambat dari ini). Yang jelas film ini adalah tipe film yang masih bisa membuat saya senyam-senyum sendiri meskipun nontonnya udah berminggu-minggu yang lalu. Cocok ditonton penyuka film romance yang simpel tapi unik dan manis. 4/5

Castaway on the Moon: Saya pun sangat menyukai film ini. Jika dibandingkan dengan Oto-na-ri yang lebih sederhana, film ini memiliki ide yang lebih tidak biasa dan sulit dibayangkan untuk terjadi di dunia nyata. Dan jika Oto-na-ri lebih condong ke drama, film ini lebih condong ke komedi. Sangat cocok untuk ditonton pecinta film komedi romantis yang sedikit unik. 4/5

Advertisements

Read Full Post »

Yosh, memorable scene edisi kali ini adalah adegan yang paling saya suka dari film Jepang berjudul Instant Numa (2009) yang disutradarai oleh Miki Satoshi (Adrift in Tokyo, Turtles Swim Faster than Expected). Ini adalah adegan pembuka dari film ini, dan adegan ini langsung menarik perhatian saya karena adegannya berlangsung dengan cepat. Adegan ini menggambarkan keseharian dari tokoh utama film ini, yaitu Jinchoge Haname yang diperankan dengan sangat baik oleh Aso Kumiko, lengkap dengan narasi yang disuarakan oleh karakter yang sama. Selain unik, adegan ini juga menurut saya sangat tepat untuk menggambarkan karakteristik Haname, seorang perempuan yang tidak bisa memulai harinya tanpa secangkir Milo Sludge (yang bikin adegan ini sepintas keliatan kayak CM/iklan televisi :D). Well, ini dia adegannya:

Instant Numa (Japan, 2009)

Karena gak ada subtitle di videonya, jadi saya sertakan juga narasinya:

“I awake each morning thinking,”Today’s the day!” And go to bed disappointed. The day starts early in the city. But not for me, Haname Jinchoge. Mine begins with a cup of Milo sludge. The rooster used to crow at dawn. Now dawn comes when the rooster crows. Fools enter the workforce as fools. Where we’re manhandled and manipulated. With little rest. I wanna scream! I wanna scream! Should I lose control? Or seek order? Lose control? Or seek order? Either way. I’m off to work. I try to quit. But… I’m powerless. So I bury myself in the job. And…get ridiculed for it. Another monotone day…in a monochrome life. I need some color.Hey! Some drama. A touch of danger. Not really. I long to stray from the beaten path. But alas, my life’s dull and for the birds. That said, even they take exception. Just run! That’s the message in a lot of independent movies. But it doesn’t work in real life. Who cares? Just run! I’m tired of fighting over men. Love shouldn’t have to be such a crap shoot. That’s a ‘crap squat’. Nevertheless, that doesn’t mean I’m happy doing nothing. All I need is a spoonful of happiness and 10 spoonfuls of Milo. 5, 6, 7, 8, 9… Oops, 10. Mixed with 12cc’s of milk. Stir to get ‘Milo sludge’. There’s no other name for it! Let’s leave aside the question of “Why Milo sludge”? And simply say I’ve drunk it since I was 3. A day without Milo is a day without “Milo sludge”. Even so…it’s not the end of the world. Tomorrow is another day. Good morning. I can’t tell the world what to do. But I can start my day with Milo sludge.”

Read Full Post »

Setiap orang pasti memiliki satu atau beberapa hobi. Ada yang punya hobi membaca buku, menonton film, mengoleksi perangko, dan berbagai macam hobi lainnya. Namun, ada satu orang yang sama sekali tidak memiliki hobi apa-apa. Dia adalah Kiriyama Shuichiro (Odagiri Joe), seorang polisi yang bekerja di divisi Limitation Task Force (divisi yang tugasnya mengurus arsip-arsip kasus yang sudah kadaluarsa, divisi paling membosankan di kepolisian tampaknya). Karena tidak punya hobi itu adalah sesuatu yang buruk, maka Kiriyama pun berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan hobi baginya. Setelah berpikir keras, akhirnya Kiriyama menemukan suatu hobi yang cocok baginya. Hobi tersebut adalah: menyelidiki kasus yang sudah kadaluarsa.

Di Jepang, suatu kasus memiliki batas waktu selama 15 tahun. Jika 15 tahun sudah berlalu dan kasusnya tetap tidak terpecahkan, maka kasus tersebut akan kadaluarsa. Dan meskipun pelaku kasus tersebut ketahuan setelah itu, si pelaku tetap tidak akan bisa dipenjara. Pada dorama ini, Kiriyama berusaha menyelidiki kasus-kasus yang sudah kadaluarsa sebagai hobinya. Dan karena hal itu ia lakukan sebagai hobinya, maka Kiriyama tidak pernah terobsesi untuk menangkap penjahatnya (karena sudah kadaluarsa pula). Ia hanya ingin mengetahui kebenaran atas kasus tersebut. Kiriyama sendiri tidak pernah sendirian dalam melaksanakan hobinya. Ia biasa ditemani oleh Mikazuki Shizuka (Aso Kumiko), polisi wanita dari divisi lalu lintas yang keliatannya naksir Kiriyama (karena sangat sering mampir ke divisi Limitation Task Force). Berdua, mereka berusaha mencari-cari petunjuk mengenai kasus-kasus yang telah kadaluarsa. Dan yang menarik, setelah pelaku dari kasus-kasus tersebut berhasil ketahuan, Kiriyama selalu memberikan kartu bertuliskan “I won’t tell anybody” kepada si pelaku, sebagai tanda bahwa identitas mereka sebagai pelaku akan dirahasiakan oleh Kiriyama. Lalu, kasus-kasus kadaluarsa macam apakah yang akan diselidiki Kiriyama? Apakah suatu saat ia akan bosan dengan hobinya tersebut? Tonton aja deh 😀

Menonton Jikou Keisatsu (judul bahasa Inggris: Time Limit Investigator) karena tertarik dengan premisnya: menyelidiki kasus yang sudah kadaluarsa sebagai hobi? Kurang kerjaan banget ya kelihatannya? Apalagi walaupun pelakunya ketahuan, Kiriyama tetap tidak bisa melakukan apa-apa untuk menangkap penjahatnya. Terlihat tidak berguna bukan? Tapi, namanya juga hobi. Kadang-kadang hobi sering kali tidak menghasilkan apa-apa, namun hal tersebut tetap akan menimbulkan kepuasan di hati ini. Begitu juga yang terjadi dengan Kiriyama. Dorama ini sendiri punya pola yang sama seperti dorama detektif pada umumnya, di mana ada satu kasus yang diselidiki dalam satu episode. Semua kasus yang diselidiki di sini adalah kasus yang sudah kadaluarsa, tapi ada juga satu episode yang berbeda dengan yang lainnya, yaitu di episode 6 ketika Kiriyama menyelidiki sebuah kasus yang beberapa hari lagi akan kadaluarsa.

Selain premisnya yang menarik dan orisinil, kelebihan lain pada dorama ini juga terletak pada unsur komedinya. Ya, berhubung dengan hal itu, tidak aneh unsur komedinya menonjol karena dorama ini ditulis dan disutradarai oleh Miki Satoshi. Mengenai sutradara ini sudah sering saya singgung di beberapa review sebelumnya (seperti Atami no Sousakan & Adrift in Tokyo). Sama seperti di film-filmnya yang lain, Miki Satoshi masih mengandalkan humor-humor random tidak penting di dorama ini. Hal itu bisa dilihat melalui tingkah Kiriyama dan rekan-rekannya di divisi Limitation Task Force, di mana mereka sering sekali meributkan hal-hal yang tidak penting. Misalnya di episode satu, ketika Matarai-san (Fuse Eri) tidak sengaja menemukan sertifikat pernikahan yang belum diisi di suatu tempat. Dan pada saat itu, mereka malah meributkan siapa yang akan mengisi sertifikat tersebut, yang berujung dengan jan ken pon (selain gak penting, hal itu juga menandakan bahwa divisi itu kebanyakan nganggurnya daripada kerja). Namun, tidak seperti Atami no Sousakan yang memiliki penulis dan sutradara tunggal, dorama ini tidak hanya disutradarai oleh Miki Satoshi seorang (meskipun yang paling banyak berperan di sini adalah Miki Satoshi). Masih ada beberapa sutradara lain yang turut menulis dan menyutradarai dorama berjumlah sembilan episode ini. Salah satunya adalah sutradara Jepang terkenal Sono Sion (Suicide Club, Love Exposure) yang ikut menulis dan menyutradarai salah dua episodenya (episode 4 & episode 6). Namun, meskipun ditulis dan disutradarai oleh beberapa sutradara, gaya humor di semua episodenya kurang lebih serupa dan Miki Satoshi banget.

Selain hal-hal di atas, akting dan karakterisasi adalah salah satu hal yang paling menarik dari dorama ini. Sulit sekali untuk tidak jatuh cinta pada Odagiri Joe di sini. Kiriyama’s character is sooooo cute and lovable. Odagiri Joe emang cocok buat peran cowok polos macam Kiriyama (teringat Satorare). Sifatnya yang polos dan rasa ingin tahunya yang besar bener-bener bikin saya gemes. Saya juga suka banget sama perkembangan karakter Kiriyama. Meskipun dia tampak bersenang hati melakukan hobi anehnya, tapi ada juga saat-saat di mana dia merasa muak dengan hobinya tersebut. Misalnya di episode 6, ketika dia mulai muak karena selalu memecahkan sebuah kasus pada waktu yang sudah terlambat. Apalagi, seperti hobi lainnya, hobi Kiriyama pun turut memakan biaya. Selain Odagiri Joe, Aso Kumiko juga berakting baik di sini. Dan saya rada kasihan sama karakter Mikazuki yang naksir banget sama Kiriyama, tapi cowok tersebut gak pernah nyadar (salah sendiri sih naksir cowok polos & bebal macam Kiriyama :D). Pemain-pemain lainnya yang kebanyakan adalah pemain langganan Miki Satoshi seperti Fuse Eri dan Iwamatsu Ryo (yang turut menyutradari salah satu episodenya) pun turut bermain dengan baik di sini, dan semakin menambah kelucuan dorama ini. Selain pemain utamanya, dorama ini juga turut menghadirkan beberapa bintang tamu di setiap episodenya, seperti Ikewaki Chizuru, Tetsushi Tanaka, Yoshitaka Yuriko, Tomosaka Rie, Nagasaku Hiromi, Ryo, dan beberapa artis lainnya.

Untuk bagian penyelidikannya, penyelidikan yang dilakukan Kiriyama sebenarnya gak hebat-hebat amat. Ia menyelidiki kasus-kasus yang ada di dorama ini dengan cara mewawancarai detektif yang pernah mengurus kasus tersebut serta orang-orang yang terlibat pada kasusnya. Kadang-kadang, obrolan tidak penting antara Kiriyama dan rekan-rekannya sering berguna dan menjadi petunjuk untuk memecahkan kasus yang diselidikinya. Kasus-kasus (yang kebanyakan kasus pembunuhan) yang terjadi di sini pun kebanyakan kasus yang terjadi secara tidak sengaja, tidak dengan trik yang direncanakan matang, tapi malah berakhir menjadi kasus yang tidak terpecahkan. Namun, Kiriyama selalu berhasil menemukan petunjuk yang sebelumnya tidak pernah ditemukan. Petunjuk yang tampak sepele, tapi sebenarnya sangat penting dan berkaitan dengan kasusnya. Pelaku dalam kasus-kasus di dorama ini sendiri sebenarnya sudah ketahuan dari awal episodenya sehingga ini bukan tipe dorama yang bikin kita kaget ketika pelakunya ketahuan, tapi yang menarik adalah cara Kiriyama mendapatkan bukti bahwa orang itulah pelaku tersebut yang disertai dengan beberapa kelucuan.

Well, segini aja review dari saya. Dorama ini recommended buat kamu yang suka dorama detektif atau penyuka film-filmnya Miki Satoshi. Sekadar info, dorama ini juga memilki sekuel yang berjudul Kaette Kita Jikou Keisatsu yang punya format yang hampir sama dengan season pertamanya. Ja, 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jika kamu sedang stress dan butuh tontonan yang bisa membuatmu tertawa, mungkin ada baiknya kamu mencoba film komedi asal Jepang satu ini. Film yang berlatarkan tahun 1979 ini bercerita tentang sekelompok anak sekolah di sebuah desa yang sangat senang melakukan kejahilan. Mereka senang sekali mengerjai orang-orang, mulai dari guru di sekolahnya sampai tetangga mereka. Kejahilan-kejahilan yang dilakukan oleh sekelompok anak yang dipimpin oleh Mamachari / Granny Bike (Hayato Ichihara) ini sebenarnya tidak dilatarbelakangi hal apapun. Mereka melakukannya karena mereka memang senang melakukan kejahilan. Sampai suatu hari, salah seorang dari mereka yang bernama Saijo (Takuya Ishida) menyimpan ‘dendam’ pada seorang polisi di desa tersebut karena ditilang akibat mengendarai motornya terlalu cepat. Sekelompok anak tersebut pun berencana melakukan pembalasan dendam pada polisi tersebut (diperankan Kuranosuke Sasaki) dengan cara mencoba menjahilinya. Hasilnya, usaha yang mereka lakukan ternyata gagal total, dan mereka tertangkap oleh si polisi tersebut. Sejak itulah, ‘perang’ antara Mamachari dkk dengan polisi tersebut dimulai. Mamachari dan kawan-kawannya selalu berusaha menjahili polisi tersebut dengan berbagai cara yang bisa dibilang konyol. Dan si pak polisi tersebut tentunya tidak tinggal diam, dan selalu balas menjahili mereka dengan cara yang tidak kalah konyol. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka? Apakah ‘perang’ tersebut akan berakhir dan apakah perdamaian antara mereka akan tercipta? Tonton aja kakaaaa 😀

Menurut saya film ini luar biasa kocak dan konyol (in a positive way). Aksi jahil menjahili antara anak-anak dan si polisi tersebut berhasil membuat saya ketawa terus-terusan. Yang saya sukai pertama dari film ini adalah kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh sekelompok anak tersebut. Jangan berpikir bahwa kenakalan yang mereka lakukan ini kenakalan yang ‘serius’ macam di film All About Lily Chou-chou atau Blue Spring. Kenakalan yang mereka lakukan merupakan kenakalan yang konyol dan bisa membuat tertawa orang-orang yang melihatnya (misalnya menggunakan kostum beruang di hutan untuk menakuti orang yang datang dll). Dan usaha yang mereka lakukan untuk menjahili si polisi tersebut sangat kocak. Belum lagi balasan yang dilakukan si polisi tersebut. Padahal si polisi tersebut tampangnya lumayan serius, tapi ternyata dia bisa juga melakukan hal-hal yang konyol untuk membalas mereka 😀

Para pemeran dalam film ini berhasil menampilkan akting yang lumayan baik di sini. Hayato Ichihara, si remaja depresi korban bullying dalam film All About Lily Chou-chou ini berhasil memerankan perannya sebagai Mamachari / Granny Bike (julukannya karena dia suka mengendarai sepeda nenek-nenek) yang merupakan otak di balik rencana-rencana jahil mereka. Dan meskipun saya belum banyak menonton film yang dibintangi aktor tersebut, menurut saya dia cocok sekali berakting di film komedi. Kuranosuke Sasaki pun sangat cocok memerankan karakter polisi lokal yang tampangnya datar dan super serius, tapi sebenarnya punya sisi yang teramat konyol. Dan saya selalu suka sama akting bapak satu ini. Pemeran-pemeran lainnya pun berakting lumayan baik di sini. Dan jangan dilupakan kehadiran aktor kawakan Naota Takenaka, yang meskipun muncul hanya sebentar, namun merupakan salah satu pemancing tawa terbesar di film ini 😀

Selain hal-hal di atas, film ini juga menurut saya tidak berakhir sebagai film yang konyol saja. Banyak yang bisa kita ambil dari film ini, salah satunya tentang persahabatan. Kita harus mencontoh mereka yang selalu mau saling membantu satu sama lain (dan tidak hanya dalam kejahilan saja). Bagian-bagian akhirnya membuat saya merasa sedikit terharu karena melihat eratnya persahabatan mereka. Oke deh, segini aja review dari saya. Overall, saya sangat suka dengan film komedi satu ini. Meskipun ceritanya tergolong sederhana, tapi unsur komedinya yang sangat lucu membuat film ini sangat layak ditonton. Apalagi, latar pedesaan dan tahun 70an-nya membuat film ini menjadi semakin menarik untuk ditonton. Saya kasih 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »