Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2010

Kasih ibu itu tak terhingga sepanjang masa, kata sebuah lagu. Atas dasar kasih sayang, seorang ibu sering kali mau melakukan apa saja untuk melindungi anaknya, termasuk ketika sang anak dituduh melakukan pembunuhan. Premis dasar itulah yang menjadi ide cerita film asal Korea Selatan berjudul Mother (judul asli: Madeo) ini. Film yang disutradarai oleh Joon Ho-Bong (Tokyo!, The Host) ini bercerita tentang seorang ibu (diperankan Hye-ja Kim) yang merawat anaknya seorang diri. Meskipun sang anak sudah memasuki usia dewasa, sang ibu tetap memanjakannya, bahkan cenderung protektif sehingga membuat sang anak sering kali merasa terganggu. Sikap protektif tersebut sebenarnya wajar, karena Do Joon (nama sang anak, diperankan Won Bin) adalah anak laki-laki yang berbeda dari kebanyakan anak lainnya. Meskipun tidak dijelaskan dalam film ini, melalui tingkah lakunya kita bisa mengetahui bahwa Do Joon adalah seseorang dengan mental yang agak terbelakang. Ia juga memiliki kekurangan lain di mana ia susah mengingat kejadian-kejadian yang baru dialaminya. Karena itulah, meskipun hidup serba kekurangan, sang ibu tetap berjuang keras untuk merawat anaknya dengan sepenuh hati.

Lalu, suatu hari ada suatu kejadian yang menghebohkan daerah di mana ibu dan anak itu tinggal. Sesosok mayat siswi SMU ditemukan di atap sebuah rumah tak berpenghuni, sehingga semua orang di daerah itu dengan mudah bisa melihatnya. Siswi SMU bernama Moon Ah-jung itu diduga kuat merupakan korban pembunuhan, dan malangnya Do Joon kemudian ditetapkan sebagai tersangka utama kasus tersebut. Hal itu terjadi karena di dekat mayat tersebut ditemukan bola golf kepunyaan Do Joon, dan di malam sebelumnya Do Joon memang terlihat sedang membuntuti Ah-jung. Do Joon sendiri tidak ingat sama sekali apa yang ia lakukan semalam, dan dengan paksaan polisi, ia akhirnya terpaksa menandatangani surat pernyataan bahwa ialah pelaku pembunuhan tersebut. Sang ibu tentunya tidak percaya bahwa anaknya tersebut mampu membunuh orang, apalagi Do Joon sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa dengan korban. Berbagai cara ia lakukan untuk membuktikan bahwa anaknya tak bersalah, termasuk dengan meminta Do Joon untuk mengingat-ingat kembali kejadian waktu itu dan mencoba menyewa pengacara termahal di kota tersebut. Namun, hal tersebut tidak menghasilkan apa-apa dan sang ibu kemudian berusaha memecahkan kasus tersebut seorang diri (dibantu sama Jin Tae juga sih, yang merupakan sahabat Do Joon). Untuk menemukan pembunuh sebenarnya, sang ibu kemudian menyelidiki latar belakang Moon Ah-jung, siswi SMU yang dibunuh tersebut. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Do Joon benar-benar tidak bersalah? Apakah sang ibu berhasil menemukan pelaku yang sebenarnya? Tonton aja deh 😀

Tertarik nonton film ini karena sutradaranya adalah Joon Ho-bong, sutradara Korea yang namanya paling saya inget karena salah dua film yang pernah disutradarainya adalah film-film favorit saya (Tokyo! dan The Host). Selain itu, nama si tampan Won Bin yang sudah lama tak terdengar di kancah pertelevisian / perfilman juga lah yang membuat saya tertarik nonton film ini. Dan satu lagi, film ini banjir awards. Salah satunya, film ini memenangkan kategori Best Film pada ajang Asian Film Awards 2010. Jadi, boleh dong ditonton 😀

Hasilnya, saya sama sekali gak nyesel nonton film ini. Filmnya bagus yaaaa 😀 Memang sih, durasinya menurut saya agak kelamaan (dua jam 8 menit) dan di beberapa bagian bisa bikin bosen. But overall, film ini highly recommended. Buat penyuka film Asia, terutama yang menyukai film dengan tema misteri atau thriller, pasti suka film ini. Yang saya suka dari film ini adalah bagaimana cara sang ibu berjuang untuk menemukan pelaku kasus pembunuhan yang sebenarnya. Melalui penyelidikan yang ia lakukan sendiri (dibantu Jin Tae sih), sedikit demi sedikit ia kemudian menemukan ‘pencerahan’ untuk menemukan pelaku sebenarnya. Dan ketika  kita dibawa ke bagian ending, kita akan dibuat menganga saat dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya. Kayak gimana tuuuh endingnya? Kalo saya sebut jadinya spoiler dong :p. Yang jelas endingnya (gak bener-bener ending sih karena di bagian itu filmnya belum benar-benar berakhir) adalah bagian terbaik dari film ini karena sama sekali gak ketebak dan agak-agak bikin shock. Two thumbs up deh buat endingnya 😀

Selain hal di atas, yang menjadi kelebihan film ini adalah akting para pemainnya, terutama Hye-ja Kim yang berperan sebagai sang ‘mother’ dalam film ini. Gak heran, berkat aktingnya yang hebat di film ini, ia kemudian memenangkan penghargaan sebagai Best Actress dalam Asian Film Awards 2010. Won Bin pun berperan lumayan baik sebagai Do Joon, sang anak yang terbelakang mental (dan dasar orang cakep, meskipun perannya terbelakang mental juga, tetep aja keliatan kiyut :p). Selain mereka berdua, pemeran pendukungnya juga jangan dilupakan. Yang paling menonjol sih Ku Jin yang berperan sebagai Jin Tae, teman Do Joon yang cool dan agak sangar dan sempat dituduh sebagai pelaku sebenarnya oleh sang ibu. Aktingnya lumayan bagus di sini (and he’s kinda hot, you know ;p).

Yak, segini aja deh reviewnya. Melalui film ini kita bisa melihat bahwa kasih sayang yang besar dari seorang ibu pada anaknya dapat membuat seorang ibu mau melakukan apa saja untuk anaknya, meskipun hal yang ia lakukan tersebut bisa dibilang salah. 4 bintang deh buat film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Buat saya, faktor utama yang bisa bikin saya menyebut sebuah film sebagai film yang bagus adalah cerita. Tapi, kadang cerita bagus saja tidak cukup untuk menjadikan sebuah film dapat dikatakan sempurna. Buat saya film yang baik adalah film yang tidak hanya dapat memanjakan otak dan hati saja, tapi juga harus bisa memanjakan mata.

The Fall adalah salah satu film yang benar-benar berhasil memanjakan mata saya. Memanjakan mata di sini bukan hanya karena Lee Pace-nya aja loh (tapi ini salah satu faktor sih :D), tapi karena gambar-gambar di film ini benar-benar indah dan berhasil bikin saya terkagum-kagum. Hebatnya lagi, pemandangan-pemandangan di film ini semuanya ASLI, sama sekali bukan hasil efek komputer semacam efek CGI dan sebagainya. Yang bikin saya takjub lagi, proses syutingnya dilakukan di belasan negara, termasuk Indonesia (meskipun di bagian credit disebutkannya Bali, bukan Indonesia), dan memakan waktu lumayan lama yaitu sampai 4 tahun.

The Fall bercerita tentang seorang anak kecil berumur 5 tahun asal Rumania bernama Alexandria (Catinca Untaru), yang dirawat di rumah sakit di Los Angeles akibat patah tangan karena jatuh ketika ia sedang memetik buah jeruk. Alexandria yang senang sekali jalan-jalan berkeliling di dalam rumah sakit tersebut suatu hari bertemu dengan Roy (Lee Pace), pasien lainnya yang berprofesi sebagai seorang stuntman dan dirawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan akibat pekerjaannya tersebut. Roy menceritakan sebuah dongeng padanya, dongeng yang ia sebut sebagai “kisah epik tentang cinta dan balas dendam”, yang bersambung setiap harinya. Dongeng tersebut bercerita tentang lima orang yang memiliki dendam pada seorang gubernur bernama gubernur Odious karena alasan berbeda-beda. Lima orang tersebut antara lain: 1) Otto Benga, seorang mantan budak yang dendam pada Odious karena saudaranya yang sama-sama budak meninggal karena kelelahan akibat terus-terusan disuruh kerja paksa; 2) Si India / The Indian, yang istrinya bunuh diri akibat diculik oleh Odious; 3) Luigi, seorang ahli bahan peledak, yang diasingkan oleh Odious sehingga tak seorang pun berani berbicara padanya; 4) Charles Darwin, peneliti alam dari Inggris yang sedang mencari kupu-kupu bernama ‘Americana Exotica’ dan suatu hari dikirimi kupu-kupu tersebut oleh Odious, namun dalam keadaan sudah mati dan diawetkan; dan terakhir yang merupakan pemimpin mereka, 5)Black Bandit, yang memiliki dendam karena saudaranya, the blue bandit, dibunuh oleh Odious. Selain mereka berlima, muncul satu orang lagi bernama Mystic yang akan banyak membantu mereka dalam usaha balas dendam pada Odious.

Dongeng tersebut divisualisasikan melalui imajinasi dari Alexandria, sehingga tokoh-tokoh dalam dongeng tersebut diperankan oleh orang-orang di sekitar rumah sakit tersebut (salah satunya Black Bandit diperankan oleh Lee Pace sendiri). Karena dongeng tersebut, timbul kedekatan antara Roy dan Alexandria, sehingga Alexandria pun turut masuk ke dalam cerita yang nantinya akan mengarah jadi semakin depresif tersebut, sesuai dengan kondisi sang pencerita (Roy), yang dalam keadaan depresi dan putus asa karena pacarnya berselingkuh dengan pemeran utama film yang ia mainkan. Roy sendiri sebenarnya memiliki tujuan sendiri, dan melalui dongeng tersebut ia berusaha memanfaatkan Alexandria untuk membantunya melaksanakan tujuan tersebut. Apakah tujuan itu? Tonton aja kakaaak 😀

Ini adalah salah satu film dengan sinematografi terindah yang pernah saya tonton. Buat kalian yang suka gambar-gambar bagus, kayaknya film ini sayang banget kalau dilewatkan. Semuanya adegan digambarkan dengan sangat indah dan cantik, termasuk adegan kecelakaan Roy di awal film, yang disajikan dengan gambar hitam putih serta slow motion ala film bisu. Dan seperti yang saya bilang, Bali merupakan salah satu latar tempat dalam film ini. Dan di film ini kita bisa menyaksikan scene tari kecak yang betul-betul kuwereeeen dan menjadi salah satu adegan favorit saya. Scene favorit saya yang lain selain adegan tari kecak: adegan (kalo ga salah namanya) tari sufi di pernikahan salah satu tokoh dalam dongeng tersebut. Adegan tersebut benar-benar indah. Selain sinematografi yang benar-benar memanjakan mata, kostum-kostum yang dipakai para pemainnya pun turut mendukung keindahan film ini.

Untuk masalah akting, saya suka banget sama akting para pemainnya. Catinca Untaru berakting sempurna sebagai Alexandria, anak berumur 5 tahun yang polos dan menggemaskan. Aktingnya benar-benar alami dan sangat natural, sampai-sampai dia gak kelihatan seperti sedang berakting. Dan Lee Pace, awww dia ini eye candy untuk para perempuan dalam film ini, dan juga turut menambah keindahan film ini (emaap ya lebay ;p). Saya suka banget tampang manisnya (bishounen bule nih), selain itu saya memang senang melihat tampang lelaki yang sedang depresi (tapi hanya untuk yang ganteng loh :p). Aktingnya pun sangat bagus di sini. Dan chemistry-nya dengan Alexandria pun terasa pas sekali. Aw aw Lee Pace aku padamuuu ❤

Ehm, sudahi fangirling-nya. Dari segi cerita, ceritanya pun saya suka banget. Saya rasa salah besar kalau ada orang bilang film ini bagus cuma karena sinematografinya. Bagi saya, ceritanya pun turut mendukung kekuatan film ini. Meskipun terbilang sederhana, tapi ceritanya berhasil membuat saya terhanyut ke dalam filmnya. Di sini saya dapat melihat bagaimana perbedaan antara orang dewasa dan anak-anak dalam memandang kehidupan, di mana anak-anak memandang hidup dengan penuh keceriaan dan rasa optimis. Sedangkan orang dewasa yang mulai realistis malah lebih bersifat pesimis. Hal itu bisa dilihat dari adegan-adegan awal, yaitu melalui cerita tentang Alexander the Great yang diceritakan Roy pada Alexandria sebelum cerita ‘epik’ tersebut dimulai. Melalui cerita ini, kita sudah bisa melihat bagaimana perbedaan pandangan hidup antara orang dewasa dan anak-anak.

Oke, segini aja reviewnya. Film ini sangat saya rekomendasikan kepada semua pecinta film, terutama yang menyukai film drama dengan balutan fantasi dan adventure. Mungkin bagi sebagian orang, film yang disutradarai oleh sutradara asal India benama Tarsem Singh ini akan terlihat kurang menarik. Tapi, tonton deh film ini baik-baik, kamu akan mengalami pengalaman sinematik yang benar-benar mengesankan. Sayangnya, saya tidak begitu total menikmati film ini karena gambarnya kurang jernih, padahal yang saya tonton adalah VCD original dan bukan bajakan (keluaran jive collection kalo gak salah). Yak, 4,5 bintang untuk film ini. Highly recommended! 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »