Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2012

gmhposterTerdapat dua buah kejutan kecil di tahun 2012 ini, setidaknya kejutan bagi para penggemar dorama sekaligus film Jepang. Ya, dua orang sutradara film Jepang yang namanya mungkin sudah tidak asing bagi para penggemar film di kalangan internasional tahun ini tiba-tiba melebarkan sayapnya ke dunia televisi dengan menyutradarai serial drama. Yang pertama adalah Kurosawa Kiyoshi (Pulse, Tokyo Sonata), yang pada awal tahun menyutradarai mini seri lima episode berjudul Shokuzai (Penance) yang ditayangkan di channel WOWOW. Sementara itu, di akhir tahun ini giliran sutradara Koreeda Hirokazu (Nobody Knows, After Life) yang memberi kita sebuah “hadiah manis” berupa dorama berjudul Going My Home yang akan saya review di postingan ini.

gmh1Going My Home bercerita tentang seorang pria yang bekerja sebagai CM (commercial movie) Producer bernama Tsuboi Ryota (Abe Hiroshi). Ryota sendiri adalah seorang pria yang sudah berkeluarga. Istrinya, Sae (Yamaguchi Tomoko), adalah seorang food stylist (semacam tukang masak masakan cantik untuk keperluan acara TV/majalah) terkenal. Sementara anak perempuan satu-satunya yang bernama Moe (Makita Aju), menimbulkan ‘masalah’ di sekolahnya karena mengaku bisa berkomunikasi dengan makhluk yang ‘tidak kelihatan’. Sebuah masalah terjadi ketika Ryota mendapat kabar bahwa ayahnya mendadak collapse yang berujung pada koma di sebuah kota bernama Nagano. Nagano sendiri adalah kampung halaman ayahnya ketika masih kecil, dan Ryota sendiri merasa heran mengapa ayahnya bisa berada di situ setelah sekian lama. Ryota sendiri kemudian mengunjungi ayahnya secara rutin ke rumah sakit kota tersebut bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Dan pada suatu hari ia melihat seorang perempuan muda cantik sedang mengunjungi ayahnya. Rasa penasaran akan hubungan ayahnya dengan perempuan misterius itu membawa Ryota ke sebuah daerah (masih di Nagano). Ia pun kemudian mengetahui bahwa perempuan yang ternyata bernama Shimojima Naho (Miyazaki Aoi) tersebut adalah putri dari teman lama ayahnya (diperankan Nishida Toshiyuki). Selain itu, ia juga mendapat kejutan lain mengenai alasan ayahnya mengunjungi Nagano beberapa bulan terakhir ini, yaitu berkaitan dengan pencarian sebuah makhluk kecil misterius yang diyakini bernama “Kuna”. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ryota? Apakah suatu hari ayahnya akan bangun dari komanya? Apa sebenarnya Kuna tersebut, dan apakah makhluk tersebut benar-benar ada? Dan untuk apa ayahnya mencari makhluk tersebut? Tonton aja deh.

gmh2-1Dorama bertema keluarga biasanya selalu berhasil meluluhkan hati saya, tidak terkecuali dengan dorama berjumlah 10 episode dengan judul Going My Home ini. Kata heartwarming rasanya merupakan salah satu kata yang tepat untuk mewakili kesan yang saya dapat dari menonton dorama ini. Dorama ini sendiri seperti filmnya Koreeda kebanyakan: lambat, tenang, sederhana, dan tanpa konflik yang berlebihan. Oleh karena itu, sebagian orang mungkin akan merasa dorama ini membosankan (apalagi jika kamu menyukai film/dorama bertempo cepat dengan konflik yang dramatis) dan tidak menarik. Tapi tidak dengan saya. Saya sangaaaat menikmati dorama ini dari awal sampai akhir. Yang paling saya suka dari dorama ini adalah gambaran suasana serta interaksi tokoh-tokohnya yang terlihat sangat natural dan realistis. Misalnya ketika kita melihat Ryota bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Mereka itu keluarga yang biasa-biasa saja dan bukan keluarga sempurna. Namun, ketika saya melihat mereka sedang berkumpul dan mengobrol bersama, saya seperti sedang melihat keluarga beneran. Interaksi antara Ryota dengan istri dan anak perempuannya pun terlihat sangat natural dan wajar. Mereka bukan tipe keluarga yang lengket atau apa, tapi mereka semua saling menunjukkan perhatiannya kepada satu sama lain dengan caranya masing-masing. Interaksi yang natural antara para anggota keluarga tersebut menurut saya sangat didukung oleh skenario dari dorama ini (yang ditulis Koreeda sendiri). Dialog-dialog yang ada di dorama menurut saya lucu dan gmh4menggelitik (meskipun bukan tipe lucu yang bikin tertawa terbahak-bahak, tapi lebih ke lucu yang bikin kita tersenyum kecil). Sepintas, dialog-dialog yang ada mungkin terdengar kurang penting karena banyak menyinggung hal remeh temeh. Namun, itulah yang menambah kerealistisan dorama ini, karena percakapan mereka rasanya seperti percakapan yang dilakukan oleh kebanyakan orang di kehidupan sehari-hari. Jadi para penyuka dorama bergenre slice of life, mungkin dorama ini akan menjadi pilihan yang sangat tepat untuk kamu tonton.

gmh3Dan selayaknya keluarga yang realistis, meskipun selalu bersama-sama setiap saat, bukan berarti kita sepenuhnya mengetahui segala hal tentang anggota keluarga kita yang lain. Dalam Going My Home, anggota keluarga yang menyimpan sebuah misteri adalah ayahnya Ryota. Meskipun sudah berpuluh tahun bersama, tapi ada juga hal-hal yang Ryota tidak ketahui mengenai ayahnya. Hal itu membawanya pada suatu hal bernama “Kuna”, sebuah makhluk kecil yang kabarnya dapat mempertemukan kita dengan orang yang sudah meninggal. Ryota yang tidak percaya pada segala hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat diam-diam mulai menunjukkan ketertarikannya pada “kuna”. “Kuna” ini sendiri tidak jelas apakah benar-benar ada atau tidak. Namun, ada atau tidak adanya “kuna” ini sendiri menurut saya bukanlah poin utama dorama ini. Peran “kuna” di sini adalah sebagai simbol harapan sekaligus penyesalan. Kita mungkin menyimpan banyak harapan terhadap orang-orang yang kita sayangi, misalnya anggota keluarga kita. Kadang-kadang, hal tersebut bisa saja berujung pada suatu penyesalan. Namun, adanya kedua hal itu menunjukkan bahwa rasa cinta pernah hidup di hati kita untuk orang-orang tersebut. Ya, hal-hal tersebut sama seperti “kuna”, sesuatu yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, tapi bukan berarti tidak ada. Hal itulah yang membuat dorama ini menjadi sangat ‘nancep’ ke hati ini.

gmh5Selain hal-hal yang saya sebut di atas, yang paling saya sukai dari dorama ini adalah jajaran castnya yang bagus. Abe Hiroshi sangat bagus aktingnya sebagai Ryota, pria canggung yang kadang berkelakuan awkward. Begitu juga dengan Yamaguchi Tomoko yang sangat pas berperan sebagai Sae, istri Ryota (btw dorama ini menandakan kembalinya Yamaguchi ke dunia akting setelah 16 tahun lamanya). Miyazaki Aoi pun tampil memikat sebagai seorang single parent bernama Naho. Para aktor-aktris lainnya seperti Nishida Toshiyuki, YOU, Yoshiyuki Kazuko, Arai Hirofumi, Abe Sadao, dan lain-lainnya pun memerankan perannya masing-masing dengan baik. Terakhir, jangan lupakan aktris cilik pendatang baru bernama Makita Aju yang tampil sangat memikat sebagai Moe, anak perempuan Ryota.

Secara keseluruhan, Going My Home merupakan salah satu dorama favorit saya di tahun 2012 ini (meskipun di negaranya dorama ini memiliki rating/viewership yang jeblok). Highly recommended, terutama untuk para penyuka dorama bergenre family & slice of life dan tidak keberatan dengan alur yang slow. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

saigoposterYoshino Chiaki (Koizumi Kyoko) adalah seorang perempuan berusia 45 tahun yang sampai saat ini masih sendiri dan sudah lama tidak merasakan hubungan percintaan. Perempuan yang bekerja sebagai produser drama tv ini pun memutuskan untuk pindah rumah ke sebuah kota kecil bernama Kamakura untuk menikmati kesendiriannya dengan tenang. Di rumah barunya itu, ia bertetangga dengan sebuah keluarga yang dikepalai oleh seorang duda satu anak berusia 50 tahun yang bernama Nagakura Wahei (Nakai Kiichi). Pertemuan pertama pria yang bekerja di City Hall itu dengan Chiaki sedikit meninggalkan kesan yang buruk, sehingga setiap kali mereka bertemu obrolan mereka selalu diisi dengan berbagai macam perdebatan. Lalu ada Noriko (Ijima Naoko), adik perempuan Wahei yang berusia sama dengan Chiaki. Noriko sendiri sudah berumah tangga dan tidak tinggal di Kamakura. Namun, permasalahannya dengan keluarganya membuat ia sering datang dan menginap di rumah Wahei. Sementara itu, dua adik terakhir Wahei adalah sepasang anak kembar bernama Shinpei (Sakaguchi Kenji) dan Mariko (Uchida Yuki). Shinpei adalah seorang pria baik hati yang menganggap dirinya sebagai ‘volunteer’ bagi para perempuan kesepian seperti Chiaki. Sementara saudara kembarnya, Mariko, adalah perempuan introvert yang senang melakukan eksperimen terhadap sebuah dating site. Apa yang akan terjadi selanjutnya pada kehidupan baru Chiaki di kota tersebut? Apakah kisah cinta akan kembali menghampirnya? Tonton aja deh.

saigokara1Ada satu dialog di dorama ini yang kira-kira berbunyi begini: “orang-orang berusia 20 tahunan tidak akan tertarik menonton kisah cinta orang-orang yang sudah berusia 40-50 tahunan”. Dan dengan berat hati saya harus menyatakan ketidaksetujuan terhadap pernyataan tersebut, karena buktinya saya sangat menikmati dorama yang berjudul Saigo Kara Nibanme no Koi ini. Yeah, Saigo Kara Nibanme no Koi (judul bahasa Inggris: Second to Last Love) adalah sebuah dorama bertema komedi romantis yang melibatkan orang-orang yang sudah berusia sekitar 40 sampai 50 tahunan. Sepintas memang terasa kurang menarik bagi para penonton berusia muda, tapi meskipun begitu saya sendiri sangat menikmati dorama ini dari awal sampai akhir. Ceritanya sih sebenarnya tidak ada yang istimewa dan sudah banyak diangkat ke banyak dorama (misal: Around 40), yaitu tentang perempuan single di usia yang sudah tidak muda lagi yang tiba-tiba mengalami kehidupan percintaan lagi. Kehidupan percintaan di sini pun sebenarnya adalah kehidupan percintaan yang dapat dibilang lambat dan mungkin terasa tipikal: perempuan dan pria bertemu dan berdebat setiap saat namun sebenarnya saling menyimpan perasaan cinta yang tidak disadari. Sungguh klise dan terasa kekanakan karena tokoh utamanya saigokara2berusia lebih dari kepala empat, bukan? Namun, ceritanya yang klise dan tidak dapat dibilang original itu berhasil ditutupi dengan skenarionya yang benar-benar lucu dan cerdas. Pertengkaran dan perdebatan antara Chiaki dan Wahei bukanlah perdebatan yang bikin sebel, tapi malah menghibur karena perdebatan tersebut diisi dengan dialog yang lucu, menggelitik, dan turut membuat penonton turut berpikir (dan sedikit mengingatkan saya pada perdebatan-perdebatan antara Abe Hiroshi dan Natsukawa Yui di Kekkon Dekinai Otoko). Selain dialognya dengan Wahei, dialog Chiaki dengan tokoh-tokoh lainnya, seperti dua sahabatnya yang sesame single, para pekerja di kantornya, dan adik-adik Wahei juga tidak kalah lucu dan turut menghidupkan dorama ini. Oleh karena itu, bukan sebuah kejutan lagi ketika Okada Yoshikazu (penulis skenario drama ini) mendapatkan penghargaan Best Screenwriter berkat skenario dorama ini.

saigokara4Permasalahan-permasalahan yang meliputi kehidupan Chiaki dan Nagakura Family pun menurut saya lucu dan menghibur. Chiaki sendirinya awalnya tertarik pada Shinpei, pria dengan julukan “angel” yang selalu berusaha membuat orang lain bahagia dan menerima permintaan apapun dari Chiaki selama ia tidak diharuskan berkomitmen. Shinpei sendiri menyimpan sebuah rahasia yang menjadi alasannya untuk tidak terikat dengan seorang perempuan. Hubungan Chiaki dengan Shinpei merupakan salah satu langkah awal dari Chiaki untuk mencari cinta yang sebenarnya. Selain Wahei dan Shinpei, ia juga dihadapkan pada permasalahan-permasalahan lain yang melibatkan anggota keluarga Nagakura lainnya, seperti Noriko yang sering merasa sebal pada Chiaki karena kehidupannya yang lebih baik darinya (dan suaminya yang sempat ‘tertarik’ pada Chiaki), dan Mariko yang tiba-tiba merasakan suatu ‘perasaan khusus’ terhadap Chiaki. Permasalahan dalam dorama ini juga tidak hanya seputar Chiaki saja. Wahei pun turut tertimpa sebuah masalah (atau keberuntungan?) ketika ia ditawari omiai (semacam perjodohan) dengan dua orang perempuan yang merupakan ibu dan anak. Bagian omiai ini menurut saya merupakan salah satu bagian paling lucu dan saya suka ekspresi Nakai Kiichi dalam usahanya menolak  ibu dan anak tersebut 😀

saigokara3Selain didukung skenario yang bagus, dorama ini juga didukung dengan jajaran castnya yang sempurna. Koizumi Kyoko (one of my favorite obasan joyuu) sudah tidak perlu diragukan lagi lah ya aktingnya, begitu juga dengan Nakai Kiichi yang berperan sebagai ‘lawan debat’-nya Chiaki. Ijima Naoko dan Sakaguchi Kenji juga turut bermain bagus di sini, tapi yang menjadi kejutan bagi saya adalah Uchida Yuki yang berperan sebagai Mariko, si bungsu berpenampilan aneh dan berkelakuan awkward. Karakter yang diperankannya merupakan karakter yang paling saya suka di dorama ini. Dan perkembangan yang terjadi pada karakter ini pun menurut saya adalah perkembangan yang paling tidak terduga.

Overall, saya sangat menyukai dorama ini. Dialog, interaksi, dan suasana-suasana yang ada di dorama ini (btw saya juga jadi pengen tinggal di Kamakura :D) sangat mendukung cerita yang sebenarnya sudah basi tersebut menjadi sebuah tontonan yang sangat menghibur. Well, ada juga sih hal yang menurut saya menjadi kelemahan dorama ini, seperti bagaimana dorama ini sepertinya ingin sekali menunjukkan bahwa pasangan yang benar-benar serasi adalah pasangan yang selalu berdebat setiap kali bertemu (dan ini bukan hanya ditunjukkan melalui karakter Wahei+Chiaki saja). Tapi secara keseluruhan, dorama ini menurut saya tetep recommended banget, terutama untuk pecinta romantic comedy dengan skenario yang berkualitas. Jadi, 4 bintang deh untuk dorama ini.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

dfposterInfernal Affairs adalah salah satu film Hong Kong yang menjadi favorit saya. Film ini adalah sebuah film yang tidak hanya bagus secara kualitas, tapi juga dari segi pendapatan (di negaranya film ini disebut-sebut sebagai box office miracle). Hollywood pun sudah pernah me-remake film ini dengan judul The Departed (sayangnya belum nonton). Kali ini, film ini kembali dilirik sineas dari negara lain, yaitu Jepang, untuk dibuat adaptasinya. Namun, adaptasi kali ini tidak berbentuk film layar lebar, melainkan drama spesial dua episode yang ditayangkan di dua stasiun tv yang berbeda.

df1Adaptasi baru Infernal Affairs ini memiliki judul Double Face. Ceritanya sendiri, sama seperti pada Infernal Affairs, yaitu tentang dua orang pria yang menjalani dua peran. Nishijima Hidetoshi memerankan tokoh Moriya Jun (karakternya Tony Leung di IA), seorang polisi yang menyusup ke dalam suatu kelompok yakuza dan menjalankan perannya sebagai yakuza selama bertahun-tahun. Sementara itu, Kagawa Teruyuki memerankan tokoh Takayama Ryosuke (karakternya Andy Lau di IA), seorang yakuza yang menyusup ke kepolisian dan menjalankan perannya sebagai polisi selama bertahun-tahun juga. Episode pertama drama spesial ini (yang punya judul Sennyuu Sousa Hen) ditayangkan di channel TBS. Bagian ini berfokus pada kehidupan Moriya Jun sebagai seorang polisi yang sudah lelah menjalani perannya sebagai yakuza. Sementara itu, episode kedua (yang punya judul Giso Keisatsu Hen) yang ditayangkan di channel WOWOW berfokus pada kehidupan Takayama, polisi mata-mata yakuza yang tampaknya punya sebuah rencana sendiri. Lalu, apa yang akan terjadi pada dua orang ini? Dan yang terpenting, apakah drama spesial ini merupakan adaptasi yang berhasil?

df2Double Face adalah salah satu contoh remake yang patuh terhadap sumber aslinya. Jalan cerita, adegan, dialog, dan karakter-karakter drama ini, hampir semuanya mirip dengan film aslinya. Well, ada beberapa perubahan dan tambahan-tambahan juga sih (dan kabarnya ada sedikit cipratan dari Infernal Affairs 2, tapi saya belum nonton film yang itu jadi gak tahu), tapi tidak sampai merusak esensi dari film aslinya dan malah membuat drama ini menjadi lebih matang dari film aslinya. Yeah, karena terbagi menjadi dua bagian (masing-masing episodenya berdurasi 90 menitan, berarti total dua kali lebih lama dari film aslinya), latar belakang kedua tokoh utamanya menjadi lebih kuat dan lebih dikembangkan. Dan meskipun saya sudah menonton film aslinya dan tahu apa saja yang akan terjadi selanjutnya, saya tetap berhasil dibuat deg-degan dan harap-harap cemas menanti adegan selanjutnya. Intinya, menurut saya drama spesial ini merupakan remake yang berhasil.

df3Dua aktor utama drama spesial ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan sangat baik. Nishijima Hidetoshi menurut saya tidak kalah bagus aktingnya dengan Tony Leung. Ia bisa menyampaikan rasa lelah dan frustrasinya sebagai undercover police cukup dengan ekspresi wajah saja. Kagawa Teruyuki pun menghidupkan peran Takayama Ryosuke dengan tidak kalah baiknya meskipun pada awalnya saya protes karena Kagawa Teruyuki tidak ganteng seperti Andy Lau. Namun, jika menurut saya karakter Moriya punya karakteristik yang kurang lebih sama dengan karakter aslinya, image Takayama menurut saya agak berbeda dengan image karakter yang diperankan Andy Lau. Karakter Takayama di sini adalah karakter yang sangat serius. Berdasarkan hal ini, ditambahkan juga beberapa perbedaan dengan film aslinya. Seperti kemunculan tokoh Mari (Aoi Yu) yang punya karakteristik sama dengan Mary di Infernal Affairs tapi punya posisi yang berbeda dengan yang di Infernal Affairs. Peran Aoi Yu di sini menurut saya sangat mendukung perbedaan karakter Takayama yang tampaknya punya usia beberapa tahun lebih tua dari karakter di film aslinya. Selain mereka, aktor aktris lain seperti Kadono Takuzo, Wakui Emi, Ito Atsushi, dan Kohinata Fumiyo juga turut berakting baik sebagai para pemeran pendukung, terutama Kohinata Fumiyo yang berperan sebagai seorang bos yakuza yang memiliki kharisma yang jauh lebih besar dari karakter di film aslinya. Secara teknis, drama spesial ini menurut saya memiliki teknis yang juara banget. Sebagai tayangan televisi, film ini memiliki gambar dan sinematografi yang sudah menyerupai film bioskop. Musik yang digunakan pun bagus, dan turut mendukung suasana-suasana yang ditampilkan di drama ini.

df4Hubungan antara Moriya dan Takayama di sini sendiri agak berbeda dengan film aslinya. Mereka memang sama-sama digambarkan saling mencari, tapi mereka tidak memiliki ‘keakraban’ seperti yang ada di film aslinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa adaptasi yang ini lebih menyorot kehidupan mereka berdua secara individual. Dan seperti judulnya, inti utama Double Face adalah ‘dua wajah’ yang dikenakan oleh dua orang tokoh utama ini. Saking lamanya memerankan dua wajah tersebut, mereka sampai tidak tahu lagi mana wajah mereka yang sebenarnya. Dan seperti pada adegan pertama, mereka bagaikan anjing kecil yang ditelantarkan. Tidak tahu apakah mereka akan kembali lagi kepada pemilik yang sebenarnya. Well, 4 bintang deh. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Catatan: Info yang tidak begitu penting, mulai postingan ini, kategori tanpatsu saya ganti namanya jadi dorama sp ya.

Read Full Post »