Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2010

Ada pepatah yang mengatakan bahwa yang telah pergi tidak akan mungkin kembali. Ya, ‘pergi’ di sini maksudnya meninggal dunia. Orang yang telah meninggal tidak akan mungkin kembali merasakan kehidupan di dunia sebagaimana ketika ia hidup. Tapi tidak dengan film ini. Apa yang akan kamu lakukan jika orang yang kamu sayangi, yang telah meninggal setahun yang lalu, tiba-tiba muncul kembali di hadapanmu?  Itulah yang menjadi premis dasar dari film Jepang dengan judul Ima, Ai ni Yukimasu atau lebih terkenal dengan judul Be With You ini. Dan ngomong-ngomong, ini bukan film horror 😀

Film ini bercerita tentang seorang pria bernama Aio Takumi (Shidou Nakamura) yang hanya tinggal berdua dengan anak laki-lakinya, Yuji (Akashi Takei), yang masih berusia 6 tahun. Ia kehilangan istrinya, Mio (Yuko Takeuchi), yang telah meninggal setahun yang lalu karena sakit. Meskipun sudah satu tahun berlalu, Takumi dan Yuji masih merasakan kehilangan yang teramat besar dan tidak bernah berhenti merindukan sosok Mio. Apalagi, Yuji memiliki keyakinan bahwa ibunya pasti akan kembali, karena sebelum meninggal Mio pernah berjanji bahwa ia akan kembali pada musim hujan satu tahun kemudian, sesuai dengan cerita pada buku cerita bergambar yang dibuatnya sendiri.

Musim hujan pun tiba. Di hari pertama di musim hujan, Takumi menemani Yuji ke hutan dekat rumah mereka untuk mencari time capsule yang pernah Yuji sembunyikan bersama ibunya. Dan, di hutan tersebut, mereka menemukan seorang perempuan dengan penampilan fisik yang sama persis dengan Mio. Namun, perempuan tersebut sama sekali tidak mengenali Takumi, Yuji, bahkan dirinya sendiri, serta tidak mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Takumi pun menjelaskan pada perempuan tersebut bahwa namanya adalah Mio, dan dia adalah istrinya sekaligus ibu dari Yuji. Takumi pun membawa Mio ke rumahnya. Dan, meskipun tidak ingat apa-apa (termasuk tidak mengetahui bahwa dirinya sebenarnya sudah meninggal setahun yang lalu), Mio tetap berusaha menjalankan perannya sebagai ibu di rumah tersebut. Ia pun berusaha mengingat-ingat kembali dengan cara menanyakan pada Takumi tentang masa lalu mereka, seperti bagaimana mereka bisa bertemu, berpacaran sampai akhirnya menikah. Dan, meskipun ia tetap tidak bisa mengingat, sedikit demi sedikit Mio mulai merasakan kenyamanan di rumah tersebut dan mulai mencintai Takumi lagi. Hal tersebut tentunya menimbulkan kebahagiaan dan semangat baru bagi diri Takumi dan Yuji. Namun, apakah kebahagiaan tersebut akan berlangsung lama? Mengingat berdasarkan cerita bergambar yang dibuat Mio, Mio akan menghilang bersamaan dengan selesainya musim hujan. Jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Mio akan tetap bersama mereka atau kembali ‘pergi’ seperti pada cerita bergambar tersebut? Tonton aja deh 😀

Touching. Itu adalah salah satu kata yang tepat untuk menggambarkan film ini. Film ini sangat menyentuh dan meninggalkan kesan yang dalam di hati saya. Menonton film ini membuat saya menangis, tapi menurut saya film ini bukanlah tipe film cengeng. Film ini mengalir dengan begitu sederhana dan tanpa perlu adegan yang berlebihan. Seperti ketika Takumi dan Yuji menemukan Mio, reaksi mereka memang terkejut, tapi sama sekali tidak berlebihan. Selain itu, yang membuat saya menyukai film ini adalah bumbu fantasi yang menghiasi film ini, yang membuat film ini terasa beda dari film-film romantis kebanyakan.

Yang paling saya suka dari film ini adalah kisah cinta antara Takumi dan Mio sebelum mereka menikah. Kisah cinta mereka sangat sederhana dan bisa dibilang sangat lambat, dan perjalanan mereka sampai akhirnya bisa menikah menurut saya manis sekali. Selain itu, kisah cinta mereka disajikan melalui dua sudut pandang, yaitu sudut pandang Takumi dan Mio (bikin saya jadi inget sama komik serial cantik berjudul Album Kenangan :D), yang bikin film ini semakin manis karena kita bisa tahu apa yang ada di benak mereka berdua. Pemeran Takumi dan Mio waktu masih SMA juga sangat mirip dengan mereka berdua ketika dewasa, terutama yang memerankan Takumi muda.

Kelebihan lainnya dari film ini adalah film ini tidak hanya bercerita tentang kisah cinta antara pria dan wanita saja, tapi juga cinta dalam keluarga. Yang perlu kita sorot di sini adalah tokoh Yuji, anak Takumi dan Mio yang masih berusia 6 tahun. Tokoh ini adalah salah satu tokoh penting yang membuat film ini jadi hidup. Saya suka melihat interaksinya dengan Takumi dan juga dengan Mio. Di sini keliatan banget kalo Yuji sangat menyayangi kedua orang tuanya. Misalnya ketika Mio sudah meninggal dan Yuji jadi dirawat sendiri saja oleh Takumi. Meskipun masih kecil, Yuji mampu menerima kekurangan-kekurangan ayahnya dan tidak bersikap egois. Mau deh punya anak kayak gini, hihi. Akashi Takei dengan usianya yang masih sangat kecil sangat sukses memerankan karakter Yuji dengan sangat sempurna. Lalu, bagaimana dengan Shidou Nakamura dan Yuko Takeuchi? Mereka pun sukses memerankan karakter masing-masing. Shidou Nakamura berhasil memerankan Takumi, seorang pria dengan fisik yang agak lemah dan sering kali merasa rendah diri, tapi memiliki hati yang sangat baik sehingga saya gak heran karakter Mio bisa jatuh cinta padanya. Yuko Takeuchi pun sukses memerankan Mio, seorang wanita yang sangat lembut dan keibuan. Chemistry antara keduanya pun sangat pas. Kabarnya, gara-gara film ini, mereka jadi menjalin hubungan cinta ‘beneran’ dan menikah pada tahun 2005, tapi sayangnya pernikahan tersebut hanya bertahan setahun karena akhirnya mereka bercerai *eh jadi ngegosip*.

Selain hal-hal di atas, bagian endingnya juga menjadi salah satu bagian terbaik dari film ini dan akan memberi pencerahan bagi para penonton yang bertanya-tanya mengapa karakter Mio bisa muncul kembali setelah setahun kematiannya. Seperti apakah endingnya? Tonton aja sendiri kalo mau tahu 😀 Yang jelas, saya sangat merekomendasikan film ini untuk para penyuka film, terutama penyuka tipe-tipe film romantis dan manis yang bercerita mengenai kekuatan cinta sejati *tsaaah*. Film ini juga menurut saya adalah salah satu film Jepang paling romantis yang pernah saya tonton, selain Love Letter-nya Shunji Iwai yang juga sama romantisnya (ngomong-ngomong yang suka Love Letter pasti suka juga film ini). Highly recommended! 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya sedang malas menulis review dan malas menulis tulisan yang panjang-panjang, tapi tampaknya udah jadi semacam kebutuhan untuk tidak membiarkan blog ini ditelantarkan begitu lama. Jadi seperti pada postingan yang ini, kali ini saya akan menulis review pendek dari beberapa film (tepatnya 3 film) yang saya tonton belakangan ini. CATATAN: film-film di bawah ini tidak akan saya buatkan review versi panjangnya.

1.  A Tale Of Two Sisters (South Korea, 2003)

Film horror yang berasal dari Asia, tapi bukan dari Jepang ataupun Thailand yang sudah terkenal sebagai penghasil film horror berkualitas, melainkan dari Korea Selatan. Dan ini adalah film horror Korea pertama yang saya tonton. Bercerita tentang sepasang kakak beradik perempuan, Soo-mi (Su-jeong Lim) dan Soo-yeon (Geun-young Moon) yang baru saja kembali ke rumah mereka yang terletak di pedesaan. Di rumah tersebut mereka disambut oleh ibu tiri mereka (Jung Ah-yum), yang tampaknya tidak menyukai kedua kakak beradik itu, dan begitu juga sebaliknya. Setelah kedatangan mereka, mulai muncul kejadian-kejadian aneh di rumah tersebut, seperti penampakan seorang perempuan yang dilihat Soo-mi, serta bibi mereka yang tiba-tiba ‘kesurupan’ saat makan malam bersama mereka. Soo-mi juga menemukan bahwa ibu tirinya tersebut suka menyiksa adiknya, Soo-yeong. Yak, meskipun judulnya film horror, film ini sebenarnya lebih menekankan pada thriller psikologis dibandingkan hal-hal berbau supranatural. Ya, memang ada penampakan hantu dan semacamnya, tapi hanya sedikit dan bukan faktor utama yang menjadikan film ini menjadi horror. Dan daripada menakut-nakuti seperti film-film horror pada umumnya, film ini lebih bertujuan untuk bermain-main dengan pikiran penontonnya. Misteri yang disajikan cukup membuat penasaran, dan endingnya menurut saya tak terduga meskipun awalnya sempat membuat saya bingung. Akting pemainnya pun oke, terutama acting Su-jeong Lim yang pernah saya lihat di film I’m a Cyborg but that’s Ok dan Jung Ah-yum yang berperan sebagai si ibu tiri. Kesimpulannya, buat para penyuka film horror berkualitas, sila tengok film ini : ) 4/5

2. My Brother (South Korea, 2004)

Film Korea lagi. Menonton ini dengan tidak sengaja karena ada di tumpukan dvd pinjeman kakak saya. Dan yeah, nama Won Bin pada covernya lah yang akhirnya bikin saya tertarik nonton film ini ;D Ceritanya tentang sepasang kakak beradik juga kayak film di atas, tapi yang ini laki-laki dan bukan film horror :D. Kalau kakak beradik di A Tale of Two Sisters sangat dekat dan akrab, di sini sebaliknya. Jong-hyun (Won Bin) dan Sung-hyun (Ha-kyun Shin) adalah kakak beradik dengan sifat yang sangat bertolak belakang. Jong-hyun lebih suka berkelahi, sementara Sung-hyun lebih suka  belajar. Dari kecil mereka dibesarkan seorang diri oleh ibu mereka, dan dari kecil Jong-hyun menyimpan kecemburuan pada adiknya yang lebih diperhatikan oleh sang ibu karena Sung-hyun adalah seorang harelip (istilah untuk orang dengan bibir sumbing). Sebenernya film ini biasa aja sih, tapi lumayan mengaduk emosi, terutama di bagian-bagian akhir. Endingnya menyedihkan dan sebenernya udah ketebak sejak lihat adegan pertama dan juga judulnya. But overall, film ini lumayan lah 😀 3/5

3. Crows Zero (Japan, 2007)

Yang ini film Jepang, disutradarai Takashi Miike, dan diperankan oleh Shun Oguri, Takayuki Yamada, dan beberapa aktor lainnya. Bercerita tentang sebuah sekolah bernama Suzuran, sebuah sekolah khusus cowok yang isinya berandalan-berandalan yang tampaknya tak punya hobi lain selain berkelahi. Suzuran ini diisi oleh berbagai macam ‘geng’ yang tidak pernah akur. Lalu muncul Genji (Shun Oguri), murid baru yang datang untuk menaklukan serta menyatukan  semua murid Suzuran. Caranya? Dengan mengalahkan pemimpin-pemimpin geng-geng di sekolah tersebut, terutama mengalahkan Serizawa (Takayuki Yamada) yang disebut-sebut sebagai murid terkuat di Suzuran. Overall film ini cukup menghibur sih. Buat para penyuka film action pasti suka film ini, karena film ini dipenuhi adegan-adegan perkelahian yang keren. Film ini juga memiliki sedikit sentuhan humor, dan saya suka banget karakter yang dimainkan Takayuki Yamada (di mana di sini dia jadi orang terkuat tapi ekspresinya rada-rada bego :D). Tapiiiiiii, meskipun menghibur, tapi saya tidak tahu apa tujuan film ini, menyatukan sekolah dengan cara berkelahi? Sebut saya kuno, tapi menurut saya gak sepantasnya anak-anak SMA ini kerjaannya berkelahi terus, meskipun dengan jalan ini mereka bisa bersatu. Tapi meskipun begitu saya tetep tertarik buat nonton sekuelnya kok. 2,75/5

Read Full Post »

Setiap pertunjukan sulap memiliki tiga babak di dalamnya. Yang pertama adalah babak “The Pledge”, babak ini seperti babak basi-basi atau babak pengenalan. Si pesulap memperkenalkan objek sulapnya dan memastikan kepada penonton bahwa objek tersebut adalah benda biasa. Lalu, yang kedua adalah babak “The Turn”. Babak ini adalah babak di mana si pesulap memperagakan keahliannya, misalnya dalam sulap macam menghilangkan objek yang kemudian dimunculkan kembali. Bagian ‘menghilangkannya’ ini lah yang disebut babak “The Turn”. Namun, babak menghilangkan atau babak “The Turn” ini tidak akan menimbulkan tepuk tangan penonton. Bagian ‘memunculkannya’ kembali lah yang mengundang jerit kekaguman dari para penonton. Babak terakhir itu dinamai dengan “The Prestige”, yang merupakan klimaks dari setiap pertunjukan sulap, dan juga yang menjadi judul film arahan sutradara Christopher Nolan ini.

Sayangnya, setiap trik sulap ternyata tidak selalu terjamin keberhasilannya, seperti pertunjukan sulap yang ditampilkan Robert “The Great Danton” Angier (Hugh Jackman) di awal film ini. Pertunjukan sulap tersebut hanya sanggup mencapai babak “The Turn” dan tidak mencapai babak “The Prestige”. Itu karena ketika Angier mulai ‘menghilangkan’ diri, ia malah terjatuh ke dalam tangki besar berisi air yang terletak di bawah panggung yang kemudian menewaskan dirinya. Kejadian tersebut rupanya tidak dinilai sebagai kecelakaan biasa oleh pengadilan. Adalah Alfred “The Professor” Borden (Christian Bale), yang dituduh sebagai pelaku pembunuhan tersebut karena pada saat Angier melakukan sulap, ia sedang berada di bawah panggung tanpa izin dari siapa-siapa. Apalagi, Borden yang juga pesulap adalah saingan abadi dari Angier, dan “aksi sabotase antar pesulap” sudah sering mereka lakukan sebelumnya.

Film pun berganti menyorot bagaimana masa lalu mereka. Angier dan Borden dulunya ternyata adalah sahabat dekat. Mereka berdua sama-sama mencintai sulap, dan seringkali bekerja sama dalam berbagai macam pertunjukkan sulap. Suatu kejadian kemudian mengubah hubungan persahabatan mereka menjadi sebuah permusuhan sekaligus persaingan abadi. Suatu hari, istri Angier yang juga pesulap tewas dalam salah satu trik sulap, dan Angier menyalahkan Borden sebagai penyebab kematian istrinya. Mereka lalu berpisah dan kemudian membangun karir pesulap mereka sendiri-sendiri. Karena dendamnya, suatu hari Angier menyamar menjadi penonton dan menyabotase pertunjukkan sulap Borden. Borden tentunya tidak tinggal diam dan ia balik menyabotase pertunjukkan sulap Angier. Jadi begitulah, aksi saling sabotase tersebut terus berlangsung. Selain berambisi menjatuhkan karir Borden, Angier juga memiliki obsesi lain di mana ia sangat ingin mengetahui rahasia di balik salah satu trik sulap Borden yang bernama “the transformed man”.

Ini adalah film pertama serta satu-satunya film arahan sutradara Christopher Nolan yang pernah saya tonton (pengakuan: sampai sekarang saya belum pernah nonton Inception dan gak pernah tertarik buat nonton Batman :p), dan komentar saya buat film ini: KWEREN BWANGET (iya, pake W biar lebih meyakinkan :D). Pertama, film ini bercerita tentang pesulap. Saya bukan penggemar sulap tapi saya selalu penasaran sama misteri yang ada di balik trik trik sulap, dan saya suka banget sama sulap-sulap yang dibawakan di film ini. Kedua, adegan-adegan di film ini selalu mengundang pertanyaan dari benak saya dan juga bikin saya penasaran terus, dan saya seneng sama film yang bisa bikin saya banyak mikir (asal gak sampe botak). Ketiga, film ini hadir dengan banyak kejutan-kejutan yang tak terduga, termasuk di bagian endingnya, dan kalo suka baca blog ini pasti tahu dong kalau saya suka film-film dengan ending yang tak terduga, hihi.

Selain hal-hal di atas, yang bikin menarik dari film ini adalah aksi dari dua aktor utamanya. Saya suka banget melihat usaha mereka dalam menjatuhkan satu sama lain. Selain itu, gak ada hitam dan putih atau protagonis antagonis dalam film ini. Dua-duanya punya kebaikan dan keburukan masing-masing. Di sini saya juga melihat bahwa sebenarnya dendam bukanlah hal utama yang melatarbelakangi permusuhan mereka. Awalnya, dendam memang yang membuat hubungan mereka merenggang. Tapi seiring berjalannya waktu, kita bisa melihat bahwa yang dilakukan Angier pada Borden bukanlah demi istrinya yang telah meninggal, melainkan demi dirinya sendiri dan demi mencapai kejayaannya sebagai pesulap terhebat di dunia. Di sini saya belajar bahwa obsesi yang terlalu berlebihan itu sama sekali tidak ada manfaatnya, dan suatu saat, obsesi yang terlalu berlebihan bisa saja menghancurkan diri kita sendiri.

Hugh Jackman dan Christian Bale berhasil memerankan peran mereka dengan sangat gemilang. Mereka berdua adalah nyawa dari film ini. Saya suka dua-duanya sehingga di film ini saya sekali tidak bisa memihak salah satu dari dua karakter utama itu. Michael Caine yang berperan sebagai Cutter pun menampilkan akting yang sama baiknya. Begitu juga dengan Scarlett Johansson yang berperan sebagai Olivia, asisten sulap Angier. Awalnya saya meragukan aktingnya dan di awal-awal saya merasa perannya ini hanya sekadar sebagai pemanis saja, tapi ternyata keberadaannya di film ini cukup penting juga. Oh ya, melalui film ini kita bisa melihat bahwa science juga bisa membantu dalam pertunjukkan sulap. Film ini dengan berani menggabungkan fiksi dengan kenyataan, dengan menggunakan salah satu tokoh yang terkenal di dunia ilmu pengetahuan pada zamannya (btw film ini bersetting pada abad 19), yaitu Nicola Tesla, yang diperankan dengan baik oleh David Bowie.

Segini aja deh reviewnya. Film ini highly recommended, cocok buat ditonton penyuka film dengan banyak twist. Memang, sebagian penonton mungkin akan kebingungan ketika menonton film ini. Alurnya yang maju mundur dengan tidak teratur (dan dari review2 yg saya baca, kayaknya film-filmnya Nolan yang lain pun begini semua ya) mungkin akan sulit diterima penonton. Dan katanya nih, film ini adalah tipe film yang harus ditonton dua kali dan gak boleh meleng sedetik pun saat menontonnya. Tapi buat saya film ini gak seruwet itu kok! Awal-awalnya aja sih yang bikin bingung, tapi semakin ke sana saya semakin terbiasa dan bisa menikmati alur film ini. 4,5 bintang deh 🙂
Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »