Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

Kita mungkin masih sering bertanya-tanya, untuk apa sih hidup ini? Apa sih arti hidup? Seperti apa sih hidup yang bermakna itu? Dan seperti apa sih hidup yang tidak bermakna itu? Jawaban yang keluar mungkin bermacam-macam. Ada yang mengatakan hidup yang bermakna itu adalah hidup yang dipenuhi kesuksesan atau hidup yang  sesuai dengan keinginan. Ada yang mengatakan hidup yang tidak bermakna itu adalah ketika kita salah jalan, atau ketika kita tidak memiliki kegunaan bagi orang lain, terus mengalami kemalangan tanpa ada titik cerah, dan segala hal yang kita lakukan terasa sia-sia dan tidak ada artinya. Namun, apakah benar seperti itu?

Menonton Memories of Matsuko membuat saya kembali mempertanyakan hal-hal di atas. Sesuai judulnya, Memories of Matsuko bercerita tentang kehidupan seorang perempuan bernama Matsuko Kawajiri (Miki Nakatani). Dimulai dari narasi seorang pemuda bernama Sho Kawajiri (Eita), seseorang yang hidupnya terlihat tidak berguna sama sekali. Kabur dari rumah dua tahun yang lalu dengan tujuan untuk menjadi musisi, namun rencananya tidak berjalan sesuai keinginan. Keluar dari band-nya, diputuskan oleh pacarnya yang terang-terangan mengatakan bahwa “hidup bersamanya benar-benar membosankan”, membuat hidupnya terlihat benar-benar menyedihkan. Tidak ada hal yang dilakukannya selain menonton adult video di kamarnya yang sangat berantakan. Lalu tiba-tiba, setelah dua tahun tidak berhubungan dengan keluarganya, ia tiba-tiba kedatangan ayahnya (diperankan Kagawa Teruyuki), yang mengabari bahwa bibinya yang bernama Matsuko telah meninggal dunia karena dibunuh di sebuah taman entah oleh siapa. Sebelumnya Sho tidak pernah tahu bahwa dia memiliki seorang bibi bernama Matsuko. Ayahnya pun menjelaskan, bahwa Matsuko sudah puluhan tahun tidak berhubungan dengan keluarga mereka. “Her life was meaningless,” kata ayahnya. Ayahnya kemudian meminta Sho untuk membersihkan apartemen yang merupakan tempat tinggal Matsuko dulu. Dan datanglah Sho ke apartemen tersebut, apartemen yang dipenuhi sampah, dan menemukan beberapa hal yang membuatnya penasaran, seperti apakah bibinya tersebut? Seperti apakah kehidupannya yang menurut ayahnya “meaningless” tersebut?

Cerita pun berganti menyorot bagaimana kisah hidup dari karakter Matsuko ini, melalui narasi dari Matsuko sendiri. Matsuko ketika kecil adalah seorang anak manis yang kurang mendapat kasih sayang dari ayahnya. Ayahnya adalah orang yang baik dan sebenarnya menyayangi Matsuko, namun perhatiannya lebih ia tunjukan pada adik perempuan Matsuko yang sakit-sakitan. Ketika dewasa, Matsuko mendapat pekerjaan menjadi seorang guru SMP. Di sini Matsuko digambarkan sebagai guru ala Gokusen, guru yang mati-matian membela muridnya yang terkena masalah. Namun hal itu malah membawanya ke masalah baru yang membuatnya dipecat. Sejak itulah kehidupan Matsuko berubah total. Kecemburuannya pada adiknya membuat dia meninggalkan rumah itu, dan mengalami berbagai macam hal, seperti berpacaran dengan seorang pria yang sering melakukan kekerasan terhadapnya, menjadi simpanan seorang pria beristri, menjadi seorang “massage parlor girl”, membunuh seseorang, masuk penjara, berpacaran dengan yakuza, dan sebagainya. Hidupnya dipenuhi kemalangan, dan pada akhirnya hal tersebut membuat ia menutup diri dari kehidupan sosial, dan puncaknya ia terbunuh oleh entah siapa.  Selain oleh narasi Matsuko sendiri, kisah hidup Matsuko juga diceritakan dari sudut pandang orang-orang yang mengenal Matsuko di masa hidupnya kepada Sho. Hal tersebut membuat Sho semakin ingin bertemu dengan Matsuko, yang kata orang-orang yang mengenal Matsuko, sangat mirip dengannya.

Sebenarnya alasan saya menonton film ini hanyalah karena Eita bermain di dalamnya, dan saya tidak menyangka kalau filmnya ternyata bagus. Bukan bagus lagi, bagus banget malah. Menonton film ini membuat saya ikut terbawa ke dalam kisah hidup Matsuko yang sangat menyedihkan dan tidak pernah mendapat kebahagiaan untuk waktu yang lama. Oh ya sinopsisnya mungkin membuat kamu mengira kalau film ini adalah film sedih. Ya, ini memang film dengan cerita yang menyedihkan, namun semua itu digambarkan dengan penuh warna dan juga beberapa  unsur komedi. Memories of Matsuko adalah film komedi yang pahit, getir, dan menyedihkan. Dan kayaknya saya belum bilang ya kalo ini film musikal? Ini pertama kalinya saya nonton film musikal yang dibuat oleh Jepang, dan tanpa ragu saya mengatakan bahwa  film ini adalah salah satu film musikal terbaik yang pernah saya tonton. Selain itu visual film ini sangat bagus dan indah. Sinematografinya sangat oke, ditambah beberapa efek CGI yang tidak membuat visualnya jadi lemah, tapi malah membuat film ini menjadi semakin kaya.

Gaya penceritaan pada film ini mungkin akan mengingatkan kamu pada film Prancis berjudul Amelie (malah ada yang bilang kalo film ini lebih bagus dari Amelie). Namun, Matsuko sangat berbeda dengan Amelie. Amelie bisa dibilang merupakan karakter yang mesti dicontoh oleh banyak orang. Tapi Matsuko, dia bukan contoh karakter panutan. Sering kali ia salah jalan dan bersikap egois. Tapi, ada satu hal yang membuat karakter Amelie mirip dengan Matsuko. Mereka hanya ingin membawa kebahagiaan untuk orang lain. Matsuko hanya ingin membuat orang lain bahagia, namun sayangnya hal tersebut malah lebih sering berbuntut pada kemalangan. Ada satu quote bagus yang diucapkan oleh mantan pacar Sho: “A life isn’t valued by what one receives. But by what one gives.” Dan seperti itulah Matsuko, hidupnya mungkin terlihat meaningless karena ia lebih sering mendapat penderitaan dibanding kebahagiaan. Tapi di luar itu ia telah memberikan kebahagiaan kepada banyak orang di sekitarnya, meskipun mungkin tanpa disadari.

Kesimpulannya, Memories of Matsuko bukanlah film biasa. Ini adalah film yang sangat bagus. Cerita, visual, musik, serta akting yang gemilang dari para pemainnya, terutama Miki Nakatani sang pemeran Matsuko, yang lewat film ini meraih penghargaan pada kategori Best Actress di Asian Film Awards 2007, membuat film ini sangat layak ditonton. Film yang disutradarai oleh Tetsuya Nakashima ini juga dihiasi oleh beberapa cameo, seperti Kou Shibasaki, Kaela Kimura (yang sekarang menjadi istri dari Eita, gara-gara film ini), Anna Tsuchiya, Bonnie Pink, dan mungkin masih ada lagi tapi saya gak kenal :p Highly recommended!

P.S: lewat film ini, saya pertama kali melihat boyband bernama “Hikaru Genji”, salah satu boyband tertua dari agensi Johnny’s Entertainment yang sangat terkenal itu (di adegan mana? Lihat aja deh sendiri :D)

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Ever wanted to be someone else? Now you can.

Yang namanya manusia itu pasti pernah merasa gak puas dengan dirinya sendiri. Meskipun kamu berkoar-koar kalo kamu merasa puas dan cukup dengan dirimu sendiri, di dalam lubuk hati paling dalam pasti ada, meskipun cuma sedikit, rasa ketidakpuasan tersebut. Hal itu membuat kamu berkhayal, seandainya kamu menjadi orang lain, apakah kehidupanmu akan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya? Apalagi jika orang lain tersebut adalah seorang ‘selebriti’, yang menurut pandanganmu hidupnya terlihat penuh kesempurnaan.

Being John Malkovich bercerita tentang hal itu, ketidakpuasan akan diri sendiri dan keinginan menjadi orang lain. Dan hal tersebut dapat diwujudkan dalam film ini. Craig Schwartz (John Cusack) adalah seorang puppeteer (semacam yang mainin boneka puppet) yang sangat berbakat, namun bakatnya tersebut seakan tidak berarti karena pertunjukannya tidak pernah laku. Karena itulah, atas permintaan dari istrinya, Lotte (Cameron Diaz, yang penampilannya acak-acakan di sini), ia kemudian mencari pekerjaan baru. Beruntung tidak butuh waktu lama bagi Craig untuk menemukan pekerjaan baru. Ia mendapat pekerjaan di tempat bernama LesterCorp yang merupakan milik seorang pria tua bernama Dr. Lester, di sebuah lantai yang aneh karena langit-langitnya rendah. Di tempat kerjanya yang baru ia bertemu dengan Maxine (Catherine Keener), seorang wanita cantik dan seksi yang juga bekerja di sana. Meskipun sudah punya istri, Craig tertarik pada Maxine dan kemudian mencoba merayu wanita itu, namun sayangnya selalu mendapat penolakan. Pada suatu hari, di tempat kerjanya Craig menemukan sebuah pintu kecil berbentuk kotak yang ketika dibuka ternyata berisi sebuah lorong panjang. Craig pun memasuki lorong itu, dan terkejut karena mendapati bahwa lorong tersebut merupakan sebuah portal menuju pikiran seorang aktor bernama John Malkovich (yes, John Malkovich beneran). Selama 15 menit ia bisa merasakan dirinya berada dalam sudut pandang John Malkovich, meskipun tanpa bisa mengendalikan tubuhnya. Dan setelah 15 menit tersebut, Craig kemudian terlempar ke pinggir jalan di suatu tempat. Pengalamannya tersebut kemudian ia ceritakan pada Lotte istrinya. Mendengar cerita Craig, Lotte menjadi tertarik untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi John Malkovich. Craig pun membawa Lotte ke lorong tersebut. Dan ternyata setelah itu Lotte jadi ketagihan dan ingin mencobanya lagi. Keesokan harinya Lotte datang ke kantor Craig dan ia melihat Craig sedang bersama Maxine. Lotte meminta Craig agar ia bisa masuk ke lorong tersebut lagi, dan Maxine yang kemudian mengetahui hal tersebut mencoba membuktikan kebenaran portal tersebut dengan cara menemui John Malkovich sendiri. Maxine dan John Malkovich (yang dalam pikirannya terdapat Lotte) pun bertemu. Hal tersebut membuat Lotte menyadari bahwa dirinya adalah biseksual karena ia tertarik pada Maxine, dan Maxine pun tertarik pada Lotte, namun hanya jika ia berada dalam tubuh John Malkovich. Karena itulah dengan menggunakan tubuh John Malkovich, Lotte jadi sering menemui Maxine. Hal itu membuat Craig cemburu karena ia juga menyukai Maxine, sehingga dia dan istrinya saling berlomba-lomba merebut hati Maxine. Oh ya ngomong-ngomong lorong tersebut tidak hanya digunakan oleh Lotte dan Craig saja. Atas ide Maxine, hal tersebut dijadikan ladang bisnis. Dengan 200 dolar, siapapun bisa merasakan bagaimana rasanya berada dalam pikiran John Malkovich selama 15 menit. Dan karena orang-orang putus asa yang tidak puas dengan dirinya sendiri itu jumlahnya ada BANYAK, maka bisnis tersebut laku keras. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka? Seperti apakah asal usul lorong tersebut? Dan apakah nantinya John Malkovich akan mengetahui hal itu? Apalagi nantinya hal tersebut akan bertambah gawat, karena sedikit demi sedikit Craig mulai bisa mengendalikan tubuh John Malkovich.

Habis nonton film ini rasanya saya jadi pengen ikutan masuk ke lorong tersebut. Bukan, bukan karena pengen ikutan ngerasain jadi John Malkovich. Tapi pengen ngerasain jadi Charlie Kaufman, sang penulis skenario. Saya pengen tahu dia ini makannya apa sih sampe-sampe bisa kepikiran aja cerita sinting kayak gini. Kelebihan film ini memang ada pada ceritanya yang (pernah saya bilang di short review yang ini) sangat orisinil. Charlie Kaufman memang jenius. Tapi cerita yang bagus kalo tidak digarap dengan baik tentunya hanya akan menjadi karya yang basi. Untuk itu beruntunglah Charlie Kaufman mendapatkan Spike Jonze sebagai rekan kerjanya. Sang sutradara, Spike Jonze, berhasil mengangkat skenario ciptaan Kaufman menjadi sebuah film yang sangat sempurna di mata saya. Abis ini kayaknya saya harus cari film Adaptation yang merupakan karya kolaborasi mereka berdua juga (kasian yee belum nonton).

Film ini juga didukung oleh akting yang gemilang dari para pemainnya. John Cusack, Cameron Diaz, John Malkovich, Catherine Keener, dan lain-lainnya. Semuanya KEREN! Terutama Cameron Diaz, yang karakternya di sini agak beda dari karakternya di kebanyakan film. Oh ya di film ini juga kamu akan terkagum-kagum melihat bagaimana pertunjukan boneka puppet yang dimainkan oleh Craig. Keren dan gerakannya haluuuus banget. Syukaaa deeeh.

Ah, kayaknya saya gak mau ngomong banyak-banyak tentang film ini. Pokoknya tonton aja deh. Mungkin tidak semua orang bisa menikmati film dengan cerita aneh seperti ini. Tapi bagi saya filmnya menghibur kok, karena ada sentuhan humornya juga yang menjadikan film ini jadi kocak. Pokoknya, buat kalian yang suka film-film dengan cerita unik, aneh, gak standar, dan juga cerdas, pasti suka film ini. Oh ya meskipun jalan cerita film ini unik dan gak biasa, pesannya cukup simpel kok, dan mungkin tertera pada motto hidup di diary kalian (halah diary), yaitu….. be yourself. 5 bintang saya kasih deeeeh.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Saya adalah penggemar dorama. Bisa dibilang dari segala serial tv yang ada di dunia ini, mulai dari serial tv Amerika, serial Korea, Taiwan, telenovela, bahkan sinetron, saya paling seneng nonton dorama. Alasannya simpel sih. Dorama episode-nya gak banyak-banyak jika dibandingkan dengan serial tv-serial tv di atas (biasanya sekitar 11-12 episode), sehingga gak butuh waktu lama untuk menyelesaikan menontonnya. Selain itu ceritanya tergolong padat tiap episode, sering kali tiap satu episode ada satu tema cerita yang langsung selesai (namun tetap memiliki hubungan dengan episode berikutnya), sehingga ceritanya tidak begitu bertele-tele.

Kalau ditanya dorama apa yang bikin saya jatuh cinta pada dorama, jawabannya adalah dorama ini. Ya, News no Onna atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan judul Anchor Woman ini merupakan dorama pertama yang saya tonton. Waktu saya masih kelas 4 SD, dorama ini pernah ditayangkan di Indosiar setiap hari Sabtu sore, dan saya tidak pernah absen menontonnya. News no Onna mungkin bukanlah dorama terbaik yang pernah ada. Namun ini adalah dorama yang sangat berkesan dan memorable buat saya. Meskipun sudah beberapa tahun berlalu, saya masih ingat ceritanya. Dan beberapa minggu yang lalu, saya berhasil menemukan dorama ini di internet setelah sebelumnya sudah sering mencari dimana-mana dan gak pernah ketemu. Akhirnya saya mendownload dorama ini, dan meskipun kualitas gambarnya jelek dan pecah-pecah, tapi berhasil mengobati kerinduan saya pada dorama ini.

Dorama Jepang sering kali mengangkat tema profesi sebagai tema utamanya, salah satu contohnya adalah dorama ini. Dorama ini mengangkat profesi News Anchor sebagai tema utamanya. Namun, dorama ini tidak hanya bercerita tentang profesi saja. Drama keluarga juga bisa kita temukan di sini, meskipun keluarga di sini bukanlah keluarga yang benar-benar keluarga (dalam artian tidak ada hubungan darah).

Hidup Tamaki Aso (Honami Suzuki) bisa dibilang sangat sempurna dan bisa membuat iri siapa pun. Ia baru saja terpilih sebagai news anchor utama sebuah stasiun tv terkenal Channel 2. Tidak hanya itu, ia juga baru saja menikah dengan laki-laki yang dicintainya, yang merupakan seorang professor. Tapi, kesempurnaan dan kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Di hari pertamanya sebagai news anchor, ia harus menerima kenyataan bahwa suami yang baru dinikahinya selama satu hari, meninggal akibat kecelakaan mobil. Lebih parah lagi, hal itu pertama diketahuinya ketika ia sedang membacakan berita, dan salah satu berita yang dibacakannya adalah peristiwa yang menimpa suaminya tersebut. Tidak lama setelah kejadian itu, Tamaki tiba-tiba kedapatan ‘bencana’ berupa anak laki-laki dari almarhum suaminya. Jadi ceritanya Kudo almarhum suaminya ini adalah seorang duda beranak satu. Ryu (Hideaki Takizawa), putranya yang masih berusia 15 tahun diasuh oleh mantan istrinya. Tapi mantan istrinya tersebut kemudian meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan Kudo (ceritanya mereka baru habis dari reuni sma). Hal tersebut menyebabkan Ryu jadi sebatang kara, dan ia tidak memiliki saudara yang lain kecuali tantenya yang sedang berada di luar negeri. Kubota (Nagatsuka Kyozo), sahabat dari Kudo yang merupakan seorang pengacara, meminta Tamaki yang merupakan satu-satunya orang yang memiliki ikatan keluarga dengan Ryu untuk menampungnya untuk sementara waktu sampai tante Ryu pulang ke Jepang. Tamaki menolak permintaan itu habis-habisan, karena ia tidak menyukai Ryu sejak pertama kali bertemu dengannya di pesta pernikahan. Tapi setelah melalui beberapa hal, akhirnya ia mau menampung Ryu di rumahnya. Namun, perbedaan sifat antara mereka berdua membuat hubungan antara ibu dan anak tiri ini tidak berjalan dengan baik. Tapi seiring berjalannya waktu dan karena beberapa kejadian, hubungan antara mereka mulai membaik dan meski tanpa diungkapkan, mereka akhirnya sadar kalau mereka sama-sama saling membutuhkan. Di luar itu, dalam hal pekerjaan, Tamaki menemui berbagai macam masalah dalam pekerjaannya sebagai news anchor. Mulai dari kesulitan menaikkan rating acara, ‘skandal’nya dengan Ryu, dan beberapa hal lainnya. Puncaknya adalah ketika ia menyelidiki sebuah kasus yang mengancam posisinya sebagai news anchor di channel 2. Lalu, apa yang terjadi pada Tamaki selanjutnya? Apakah ia akan tetap bertahan sebagai news anchor?

Saya cinta banget sama dorama ini.Saya inget kalo dulu saya sering niru-niruin gaya Tamaki Aso dalam membawakan berita (“selamat malam, saya Tamaki Aso” *atau bahasa jepangnya “Konbanwa, Aso Tamaki desu”*). Menurut saya yang membuat dorama ini bagus dan berkesan, selain jalan ceritanya yang menarik serta unsur komedi yang gak bikin bosen, adalah karakternya yang kuat. Kudos for Honami Suzuki karena dia berhasil banget meranin karakter Tamaki Aso, seorang wanita independen yang perfeksionis dan disegani oleh banyak orang, tapi memiliki sifat ceroboh dan memiliki keegoisan tinggi. Btw Honami Suzuki ini adalah aktris yang juga berperan sebagai Rika Akana dalam dorama Tokyo Love Story, dan aktingnya di situ pun sangat saya suka. Meskipun sama-sama berperan sebagai karakter perempuan independen, karakter Tamaki Aso ini jauuuh berbeda dengan Rika Akana. Tapi akting Honami Suzuki yang bagus berhasil bikin dua karakter ini sangat memorable dan sama-sama tidak mudah dilupakan. Selain Honami Suzuki, jangan dilupakan Hideaki Takizawa yang berperan sebagai Ryu, anak tiri dari Tamaki. Meskipun karakternya ini gak terlalu banyak bicara, tapi tetep aja wajah manisnya bener-bener mempesona dan bikin saya betah banget nonton dorama ini *hehe*. Oh ya dorama ini juga lah yang mengangkat nama Hideaki Takizawa sehingga ia menjadi salah satu aktor terpopuler di Jepang (dan ngomong-ngomong dia ini orang Jepang pertama yang bikin saya jatuh cinta XD). Hubungan antara Tamaki dan Ryu digambarkan kocak sekali, dan saya suka banget tiap liat mereka berinteraksi. Tapi, buat kamu yang berharap akan ada sentuhan ‘cinta terlarang’ di antara mereka berdua, siap-siap kecewa deh. Oh ya, satu lagi pemain yang berakting gemilang di sini adalah Nagatsuka Kyozo yang berperan sebagai Kubota, sahabat Kudo yang merupakan seorang pengacara dan sering sekali mampir ke rumah Tamaki hanya untuk memasakan makanan untuk Tamaki dan Ryu. Karakter ini merupakan salah satu faktor yang mengundang tawa dalam dorama ini. Plus dia juga lah yang selalu berusaha mendekatkan Tamaki dengan Ryu, sehingga mereka bertiga kemudian menjadi dekat dan terlihat seperti keluarga *meskipun Tamaki sering galak pada Kubota*.

Melalui dorama ini juga kita akan mendapat pengetahuan mengenai pekerjaan news anchor serta bagaimana seluk beluk acara berita di televisi. Btw, kayaknya di stasiun tv di negara mana pun, semua sama aja ya, menganggap RATING itu sebagai dewa. Di sini rating sangat berpengaruh dan bisa saja mengancam posisi Tamaki sebagai news anchor, sehingga ada-ada saja hal yang dilakukan pihak televisi untuk menaikan rating acara, salah satunya membuat skandal bohongan tentang Tamaki dan Ryu. Para pemain yang berperan sebagai kru channel 2 pun semua berperan dengan baik. Salah satu yang menonjol adalah artis terkenal Norika Fujiwara, yang di sini berperan sebagai news anchor yang selalu iri pada Tamaki. Oh ya, Abe Hiroshi yang merupakan salah satu aktor berbakat di Jepang juga turut bermain dalam salah satu episode dorama ini. Dan terakhir jangan dilupakan kehadiran  aktris cantik Kyoko Fukada yang berperan sebagai teman sekelas Ryu. Di sini dia belum terkenal dan tampilnya pun hanya sedikit -sedikit 😀

Dalam dorama ini juga kita akan menemukan makna dari pekerjaan news anchor yang sebenarnya. Diceritakan ada masalah yang menimpa Tamaki, yang membuatnya *spoiler alert! highlight to read*  dipecat dari channel 2 dan kemudian pindah ke tv kabel kecil yang sama sekali tidak terkenal *spoiler ends*. Meskipun awalnya Tamaki tidak suka dengan keadaannya tersebut, namun akhirnya ia menemukan ‘sesuatu’ yang dulu sempat hilang, yang membuatnya menjadi mencintai dunia news anchor. Oke segini aja deh reviewnya. 4,5 bintang dari dari saya. Recommended 🙂

P.S: oh iya kelupaan, soundtracknya juga enak, lagu berjudul Sanpomichi dari salah satu band Jepang favorit saya, Judy and Mary 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Bersetting di Rumania pada tahun 1987, film berjudul asli 4 luni, 3 saptamâni si 2 zile ini bercerita tentang dua sahabat, Otilia (Anamaria Marinca) dan Gabita (Laura Vasiliu), yang merupakan teman sekamar di asrama sekolah mereka. Diceritakan bahwa karakter Gabita ini hamil di luar nikah, dan berniat aborsi, tapi kondisi di Rumania pada saat itu menjadikannya sulit melakukan hal tersebut. Untuk itulah dia meminta Otilia untuk membantunya. Otilia lalu melakukan banyak hal untuk membantunya,  termasuk mencarikan hotel untuk tempat praktek aborsi sampai menjemput dokter yang disewa Gabita. Tidak hanya itu, suatu masalah menjadikan tujuan mereka menemui kendala, sehingga Otilia melakukan satu hal yang lebih jauh lagi untuk membantu Gabita. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah misi mereka berdua akan berhasil?

Ini adalah film Rumania pertama yang saya tonton. Film ini bisa dibilang banjir penghargaan (hal yang membuat saya tertarik nonton film ini), salah satunya adalah memenangkan penghargaan Golden Palm pada Cannes Film Festival 2007. Menonton film ini bagi saya tidak seperti menonton film, tapi seperti menonton kejadian nyata. Sinematografi yang minimalis serta teknik kamera hand-held memang membuat film ini terasa seperti film dokumenter. Selain itu, suasana yang kelam dan gelap membuat film ini jadi terasa agak menegangkan, meskipun film ini bukan film thriller.

Akting yang natural dari para pemainnya lah yang membuat film ini patut diacungi jempol. Apalagi akting dari Anamaria Marcincalawrah Marinca yang sangat memikat. Oh ya meskipun yang punya masalah adalah Gabita, tapi karakter utama film ini adalah Otilia. Btw Tagline film ini berbunyi “How far would you go for a friend?“, dan yang dilakukan Otilia untuk Gabita dalam film ini sangat jauuuuuuuuh sekali. Otilia mau melakukan apa saja untuk Gabita, sampai-sampai ia mau *spoiler alert! highlight to read!* melakukan hubungan seks dengan sang dokter untuk mengganti sisa bayaran aborsi *spoiler ends*. Kalo saya yang ada di posisi Otilia sih, saya gak akan mau berbuat sampai sejauh itu, terserah mau dibilang gak setia kawan, tapi saya masih sayang diri saya sendiri. Saya sendiri gak tau apa motif Otilia sampai mau berbuat sejauh itu. Apakah atas dasar ketulusan semata? mungkin. Tapi entah kenapa menurut saya karakter Gabita ini gak berhasil nimbulin simpati yang bisa bikin orang mau berbuat apa saja untuk membantunya. Bukannya menarik simpati, karakter ini malah terasa menyebalkan karena kesannya dia ini tidak ada gunanya dan selalu mengandalkan orang lain. Belum lagi ia melakukan banyak kebohongan kepada sang dokter, terkait dengan usia kandungannya serta hubungannya dengan Otilia.

Buat saya kekurangan film ini adalah temponya yang super lambat sehingga dibutuhkan kesabaran yang tinggi dalam menonton film ini. Saya pun agak terkantuk-kantuk ketika menonton film ini, dan baru bisa bener-bener melek ketika karakter Mr. bau badan eh Mr. Bebe yang merupakan dokter yang membantu Gabita aborsi muncul. Setelah karakter ini muncul, filmnya jadi terasa lebih menarik. Dan adegan aborsinya, ewwwwwwww…. sakses bikin saya mual meskipun diperlihatkan cuma sebentar. Belum lagi ketika janinnya diperlihatkan, tambah bikin saya mual.

Seorang sutradara terkenal Indonesia pernah mengatakan bahwa film tidak selalu harus memiliki pesan moral. Dan seperti itulah film ini. Film ini bukanlah film anti-aborsi, karena nyatanya karakter di film ini melakukan aborsi (tapi bisa juga jadi film anti-aborsi jika anda merasa jijik melihat adegan aborsinya dan karena itu jadi bersumpah untuk tidak melakukan tindakan aborsi seumur hidup). Endingnya dibuat menggantung, sehingga penonton bebas mau menafsirkan seperti apa. Daripada soal aborsi, film ini lebih menekankan kondisi Rumania pada saat itu di mana kebebasan untuk melakukan berbagai macam hal dikekang sehingga penduduknya selalu dihantui oleh ketakutan untuk melakukan apa-apa. Yap, segini aja reviewnya, kesimpulannya film  ini adalah film yang bagus, tapi rasanya saya gak sanggup kalo disuruh nonton ulang. Cocok tuh buat ditonton sama penyuka film-film realis atau film-film beralur lambat, atau yang bosen sama film hollywood. 4 bintang deh.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Selain sinetron, acara televisi di Indonesia yang paling tidak saya sukai adalah reality show. Yeah, memang sih tidak semua reality show itu buruk dan ada yang bagus juga. Saya malah masih suka nonton reality show yang berupa kontes-kontesan, dan itu pun tujuannya untuk melihat bakat-bakat para peserta-nya, bukan untuk ‘bumbu’ yang menghiasinya. Tiap liat reality show macam termehek-mehek atau sejenisnya, entah kenapa bawaannya jadi pengen ngelempar remote ke TV. Kenapa bisa gitu? Pertama, saya agak risih melihat ada orang yang mau mempertontonkan aibnya pada orang banyak. Kedua, meskipun judulnya reality show, kebanyakan reality show yang ada sekarang sama sekali gak ‘real’, alias scripted dan sudah dirancang dengan para pemain bohongan. Selain itu cerita yang lebay ala sinetron sering banget bikin saya pengen muntah. Kalau begitu apa bedanya reality show sama sinetron? Oh, mungkin beda biaya produksinya. Seenggaknya para reality show maker ini gak perlu bayar artis-artisnya semahal bayaran artis sinetron.

Menonton film The Truman Show membuat saya semakin membenci reality show. The Truman Show adalah sebuah contoh reality show terparah yang pernah ada (dan untungnya cuma ada di film). Coba bayangkan jika hidup kita selama 24 jam setiap harinya sejak kita lahir sampai detik ini bisa ditonton oleh banyak orang. Itulah yang terjadi pada Truman Burbank (Jim Carrey), yang sejak ia lahir, kehidupannya dikonsumsi sebagai suatu tontonan yang menghibur bagi banyak orang. Sejak masih dalam kandungan, Truman sudah dirancang untuk menjadi seorang bintang dari acara reality show yang memakai namanya tersebut tanpa ia sendiri ketahui. Truman tinggal di sebuah kota bernama Seahaven, yang sebenarnya bukanlah kota beneran, melainkan sebuah studio raksasa tempat diproduksinya acara tersebut. Orang-orang di sekelilingnya, mulai dari istri, sahabat, sampai orang-orang yang tidak dikenalnya di kota tersebut adalah aktor dan aktris yang turut bermain dalam reality show tersebut. Kehidupannya pun sudah dirancang oleh para pembuat acara tersebut. Sehingga kejadian-kejadian yang dialami Truman, mulai dari ketika ia kehilangan ayahnya, bertemu dan menikah dengan Meryl istrinya, dan lan-lainnya sama sekali tidak ada yang kebetulan, melainkan sudah ada di skenario. Tapi Truman sama sekali tidak tahu. Kehidupannya tetap berjalan normal sampai suatu ketika ia mulai mengalami berbagai kejadian aneh seperti melihat ada kamera jatuh dari langit, hujan yang turun secara aneh, dan hal-hal lainnya, yang membuatnya menyadari bahwa hidupnya tidak senormal yang ia kira. Puncaknya adalah ketika Truman berniat untuk pergi dari Seahaven. Dan niatnya tersebut tidak berjalan mulus karena ada saja hal-hal yang menghalangi usahanya untuk keluar dari Seahaven. Lalu apa yang akan terjadi pada Truman selanjutnya? Apakah nantinya dia akan mengetahui bahwa selama hidupnya dia ditonton oleh banyak mata? Apakah dia akan berhasil meninggalkan Seahaven? Ayo kaaaaak, ditonton.

Sehabis nonton ini, saya jadi celingak-celinguk liat sekeliling, siapa tahu ada kamera tersembunyi yang merekam aktivitas saya selama 24 jam penuh *berlebihan deh reaksinya*. Selama nonton saya ngerasa kasiaaaaan banget sama si Truman ini, dan juga ngebayangin gimana kalo saya ada di posisi Truman. Penonton (dalam hal ini penonton reality show) mungkin akan merasa biasa saja, malah menjadikan menonton aktivitas Truman ini sebagai sebuah hiburan yang menyenangkan.Tapi coba bayangkan jika hidup kalian yang dijadikan reality show tanpa kalian sendiri sadari. Beda kan sama reality show yang sebenarnya, si pemain emang ‘kepengen’ buat nampang di depan kamera. Atau kalau yang pake kamera tersembunyi, durasinya paling sebentar, gak sampe SEUMUR HIDUP kayak gini. Gimana perasaannya coba? Kalo saya sih, bakal marah *gak ada yang nanya*.

Saya juga menemukan suatu ironi ketika menonton film ini. Di bagian awal, si pembuat reality show di film ini mengatakan bahwa dia muak melihat segala kepalsuan yang ada di industri televisi atau di industry hiburan, karena itulah dia membuat acara The Truman Show. “There’s nothing fake about Truman himself.” Menurutnya The Truman Show adalah kehidupan yang sesungguhnya. Saya merasakan itu sebagai ironi, karena meskipun Truman sama sekali tidak berakting sepanjang hidupnya, namun bukankah orang-orang di sekelilingnya berakting? Kehidupan Truman bukanlah kehidupan yang sebenarnya, bukanlah kehidupan yang alami, karena hidupnya dikontrol secara tidak langsung oleh sang sutradara reality show tersebut. Kehidupannya tersebut seratus persen palsu.

Oke, mari kita beralih ke aspek lain. Menurut saya ada beberapa hal yang kurang masuk akal dari film ini, tapi tidak mengganggu kok dan tidak usah dipikirin karena ketidakmasukakalan ini lah yang mendukung jalan cerita film ini. Jadi tidak usah bertanya-tanya kenapa teknologinya bisa sebegitu canggihnya sampai-sampai ratusan (atau ribuan?lupa) kamera tersembunyi bisa terpasang di seluruh kota tanpa disadari, atau tidak usah bertanya-tanya mengenai hebatnya pengatur cuaca dalam kota tersebut, atau tidak usah bertanya-tanya apakah ketika Truman sedang mandi atau sedang melakukan ‘sesuatu’ dengan istrinya, apakah hal tersebut dipertontonkan juga? *yang terakhir pertanyaan gak penting :p*. Yah, namanya juga pilem yah. Mengenai akting, semua pemain berakting sangat bagus. Meskipun film ini termasuk ke dalam drama tanpa embel-embel komedi, kita masih bisa menemukan akting komikal dari Jim Carrey. Pemain lainnya seperti Laura Linney yang berperan sebagai Meryl, istri dari Truman, pun berakting sangat bagus. Oh ya, meskipun film drama, ada beberapa adegan yang agak lucu dan menggelikan di film ini, contohnya adegan “iklan terselubung” ketika karakter Meryl ini tiba-tiba promosi berbagai macam produk di hadapan Truman (ini kan acara 24 jam, jadi iklannya ada di dalam acara, bukan di luar acara :p).

Yak, segini aja reviewnya. Film ini bagus dan recommended kok, dan merupakan salah satu film dari Jim Carrey yang wajib banget buat ditonton. Habis nonton film ini, ketidaksukaan saya pada reality show semakin bertambah, dan saya berharap semoga reality show semacam The Truman Show ini sampai kapan pun hanya ada di film saja, gak ada di kehidupan nyata.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Belakangan ini lagi rajin-rajinnya nyari dan nonton film-film arahan Shunji Iwai (sutradara All About Lily Chou-chou & Hana and Alice). Dan di antara beberapa filmnya yang saya tonton belakangan ini, film ini menjadi salah satu film arahan Shunji Iwai yang lumayan meninggalkan kesan yang dalam dan menjadi favorit saya (tapi masih di bawah Lily Chou-chou & Hana and Alice sih). Jika kamu menyukai film-film dengan cerita yang manis, mungkin kamu akan menyukai film ini. Film ini ceritanya MANIIIIIS banget (hihi, saya emang paling demen nonton tipe film ‘manis’ kayak gini). Film ini bercerita tentang Watanabe Hiroko (Nakayama Miho), seorang perempuan yang harus kehilangan kekasihnya dua tahun lalu akibat kecelakaan pada saat pendakian gunung. Meskipun sudah dua tahun berlalu, Hiroko masih belum bisa melupakan kekasihnya yang bernama Fujii Itsuki tersebut. Setelah upacara peringatan kematian Fujii, ia mampir ke rumah orang tua dari mendiang kekasihnya tersebut dan melihat album kenangan Fujii semasa SMP. Hiroko lalu mencari alamat rumah Fujii yang dulu di album kenangan tersebut, dan mengirim sebuah surat berisikan kalimat “dear Fujii Itsuki, apa kabar? Aku baik-baik saja” ke alamat tersebut. Untuk apa Hiroko mengirim surat pada Fujii? Bukankah Fujii sudah meninggal? Hiroko yang masih belum bisa melupakan Fujii mengatakan bahwa surat yang dikirimnya adalah surat yang dialamatkan ke surga, tempat yang ia yakini sebagai ‘rumah’ dari Fujii yang sekarang. Dan betapa kagetnya Hiroko karena surat yang dikirimnya tersebut ternyata mendapat balasan dari seseorang yang bernama Fujii Itsuki. Tapi tenaaaaang, ini bukan film horror kok ^^ Setelah diusut, akhirnya Hiroko mengetahui bahwa alamat yang ditujunya itu bukanlah alamat rumah dari mendiang kekasihnya, tapi alamat rumah dari seorang perempuan bernama Fujii Itsuki (sama dengan nama kekasihnya, diperankan oleh Nakayama Miho juga), yang merupakan teman sekelas kekasihnya waktu SMP.

Hiroko dan Itsuki kemudian menjadi sahabat pena. Tanpa memberitahu bahwa Fujii (cowok) sudah meninggal, melalui surat Hiroko menanyakan Itsuki mengenai apa saja yang ia ketahui tentang Fujii semasa SMP (seperti bagaimana sifatnya dulu, siapa cinta pertamanya, dll). Itsuki pun kembali mengingat-ingat dan menceritakan kehidupan di masa SMP-nya pada Hiroko. Masa SMP-nya tersebut bisa dibilang tidak begitu meninggalkan kesan yang baik bagi Itsuki, karena akibat namanya yang sama dengan Fujii, selama tiga tahun di SMP ia dan Fujii (Takashi Kashiwabara) selalu menjadi bahan olok-olok teman-teman sekelasnya. Itsuki sendiri tidak begitu akrab dengan Fujii, tapi secara terpaksa mereka berdua pernah ditugaskan menjadi petugas perpustakaan bersama-sama. Jika Itsuki selalu tekun mengerjakan tugasnya, Fujii bisa dibilang tidak pernah melakukan apa-apa dalam tugasnya sebagai petugas perpustakan. Namun ia memiliki hobi yang unik. Ia selalu meminjam buku-buku perpustakaan yang tergolong berat dan tidak pernah dipinjam orang, tapi bukan untuk dibaca, melainkan karena ia senang menulisi kartu-kartu perpustakaan buku-buku tersebut dengan namanya sendiri (dan senang karena tidak akan ada nama-nama lain di kartu-kartu tersebut). Surat menyurat antara Hiroko dan Itsuki pun terus berjalan. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Hiroko akan berhasil merelakan kepergian Fujii? Seperti apakah hubungan antara Fujii Itsuki (cowok) dan Fujii Itsuki (cewek) yang sebenarnya ketika mereka masih SMP?

Seperti yang saya bilang di atas, film ini adalah film yang manis dan lumayan meninggalkan kesan yang dalam. Film ini sebenernya simpel, tapi berhasil ‘kena’ banget di hati. Yang paling saya suka sih masa SMP kedua Fujii Itsuki ini. Mereka tidak akrab sama sekali namun nama yang sama membuat hubungan antara mereka terasa lucu dan manis. Apalagi yang jadi Fujii Itsuki cowok adalah salah satu aktor Jepang favorit saya, yaitu Takashi Kashiwabara alias Kassy (Itazura na Kiss, Honey & Clover). Syeneeeeng deh liat Kassy yang masih abg di sini (sekarang sih udah om-om). Perannya sih gak jauh beda sama yang di Itazura na Kiss tapi saya tetep aja melting liat aktingnya di sini. Kassy di sini gak terlalu banyak ngomong karena tokoh Fujii Itsuki cowok ini digambarkan sebagai cowok yang dingin. Tapi sekalinya natap, wuiiiih tatapannya ‘bicara’ banyak cyiiiin. Selain itu, Nakayama Miho juga berhasil memerankan perannya di sini. Apalagi di sini dia memerankan dua karakter dengan kepribadian yang berbeda (Hiroko yang melankolis dan Itsuki yang tomboy dan ceria). Awalnya saya bingung kenapa dua karakter ini harus diperankan oleh pemeran yang sama. Namun, setelah menonton film ini sampai selesai, melihat kenapa akhirnya Fujii memilih Hiroko ketika ia dewasa, akhirnya saya ngerti juga kenapa dua karakter ini diperankan oleh aktris yang sama *no spoiler ah*.  Tapi ya, harusnya sih dua karakter ini jangan terlalu dibikin sama, setidaknya secara fisik seperti dari gaya rambut, harusnya gaya rambutnya dibedain, jangan sama-sama banget biar kemiripan di antara mereka tidak terlalu ‘kebetulan’.

Seperti film-film Shunji Iwai yang lainnya, sinematografi yang cantik juga bisa kita temukan di sini. Selain itu, saya salut sama Shunji Iwai yang berhasil bikin setiap adegan dalam film ini menjadi sangat berkesan sehingga saya selalu pengen lihat adegan-adegan tersebut lagi, lagi, dan lagi. Daaaaan, adegan terbaik dan paling berkesan dari film ini menurut saya adalah endingnya. Endingnya sebenarnya sangat simpel, sekilas mungkin akan menimbulkan komentar ‘eh, gitu doang?’, tapi meskipun simpel menurut saya endingnya terasa daleeeem banget dan juga menyajikan sebuah kejutan yang sangat manis dan bikin saya jadi pengen nangis tapi juga bahagia. Pokoknya tonton aja deh kalo mau tau!

Film ini sendiri memberi kita pesan agar tidak larut dalam kesedihan akibat ditinggal orang yang dicintai. Yang sudah meninggal tidak akan kembali. Tidak ada gunanya jika kita terus tenggelam dalam kesedihan dan tidak mau merelakan kepergian dari orang yang kita cintai tersebut, sementara mungkin ada orang yang masih hidup yang mau mencintai kita dengan tulus. Seperti yang terjadi pada Hiroko, yang dengan terus-terusan mengirim surat pada Itsuki membuat ia semakin tenggelam akan cintanya pada Fujii. Namun berkat seorang  teman yang selalu ada di sisinya dan mencintainya dengan sepenuh hati, akhirnya Hiroko mau bangkit dan tidak terus-terusan terpaku akan kenangannya bersama Fujii. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »