Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2012

Memorable scene kali ini merupakan salah satu adegan dari dorama Moteki (2010). Moteki bercerita tentang Fujimoto Yukiyo (Moriyama Mirai), seorang laki-laki  berusia 30 tahun yang tiba-tiba mengalami moteki alias masa di mana ia tiba-tiba menjadi populer di kalangan lawan jenisnya. Tiga orang perempuan cantik yang pernah dikenalnya tiba-tiba memasuki kehidupannya. Salah satunya adalah Itsuka, perempuan tomboy yang punya hobi yang sama dengan Yukio (membaca manga dan mendengarkan musik). Itsuka (yang diperankan oleh salah satu aktris Jepang favorit saya, Mitsushima Hikari) adalah karakter cewek yang paling saya suka di dorama ini. Dan dia selalu berhasil mencuri perhatian di setiap adegan yang ada dia-nya. Video di bawah ini menurut saya adalah adegan terbaik Mitsushima Hikari di dorama ini. Adegan ini diambil dari episode 6. Ceritanya Itsuka baru saja selesai  menangis dan curhat selama kurang lebih dua jam kepada Yukiyo. Ia menceritakan hal-hal yang terjadi pada dirinya selama dua tahun belakangan ini, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan Shimada (Arai Hirofumi) dan Sumida-san (Lily Franky). Setelah selesai curhat, Yukiyo menyeret Itsuka ke tempat karaoke, tempat di mana Shimada dan Sumida-san sedang berada saat itu. Yukio menyuruh Itsuka untuk bernyanyi satu lagu yang disukainya dan melampiaskan segala perasaan kesal dan marahnya dengan berkaraoke. Itsuka sendiri sebenarnya sangat membenci karaoke, karena ia tidak menyukai lagu-lagu yang biasa dibawakan teman-temannya ketika berkaraoke. Namun, atas paksaan Yukiyo, akhirnya ia mau juga berkaraoke (meskipun cuma satu lagu). Yosh, mari kita lihat adegannya 😀

Apa yang menarik dari adegan ini? Pertama-tama tentu saja akting Mitsushima Hikari yang benar-benar keren. Coba lihat perubahan ekspresinya dari awal sampai akhir. Pada awalnya ia terlihat malu-malu dan bernyanyi dengan suara yang sangat kecil dan bergetar, tapi lama-kelamaan akhirnya ia berani juga untuk melampiaskan segala perasaan yang berkecamuk di hatinya dengan sangat keren. Yang menarik kedua adalah lagu yang dinyanyikan Itsuka. Lagu tersebut berjudul “Rock ‘n’ Roll wa Nariyamanai“/”Rock ‘n’ Roll Won’t Stop Ringing” yang dibawakan oleh band bernama Shinsei Kamattechan (fyi, band ini sempat menjadi cameo di Moteki versi movie). Lagu tersebut menurut saya adalah lagu yang sangat keren dengan lirik yang tidak kalah menarik (terjemahan lirik bahasa Inggrisnya bisa dibaca di sini). Dan yang jelas, lagu tersebut sangat berhasil menjelaskan selera musik Itsuka yang memang sangat berbeda dengan orang-orang (terutama perempuan) kebanyakan.

Ja, sebagai bonus saya tampilkan video salah satu penampilan live Shinsei Kamattechan ketika membawakan lagu ini (credit: iketaneet@youtube). Enjoy 🙂

Advertisements

Read Full Post »

Well, di postingan kali ini saya akan memberikan review singkat (mudah-mudahan) dari dua film yang saya tonton belakangan ini. Kebetulan dua film ini memiliki beberapa kemiripan. Dua-duanya bergenre romance dengan dua orang tokoh utama yang hampir sepanjang film tidak pernah saling bertemu secara langsung. Tahun rilisnya pun sama. Film-film apakah itu? Mari kita lihat sinopsisnya terlebih dahulu 🙂

1. Oto-na-ri (Japan, 2009)

Dua tokoh utama film ini sebenarnya memiliki jarak yang sangat dekat, tapi mereka sama sekali tidak pernah saling bertatap muka. Apa hubungan mereka? Ya, tetangga. Satoshi (Okada Junichi) dan Nanao (Aso Kumiko) tinggal di apartemen yang bersebelahan, tapi mereka tidak pernah yang namanya saling bertemu atau berpapasan (apalagi jam kerja mereka pun berbeda). Meskipun begitu, mereka tetap menyadari keberadaan masing-masing. Ya, dinding tipis apartemen mereka membuat mereka bisa saling mendengarkan bunyi-bunyian yang mereka keluarkan. Bunyi gemerincing kunci Satoshi, nyanyian yang selalu disenandungkan Nanao, bunyi mesin pembuat kopi Satoshi, ucapan bahasa Prancis yang dipelajari Nanao melalui CD, dan bunyi-bunyian lainnya. Lalu, apakah suatu saat mereka akan saling bertemu?

2. Castaway on the Moon (South Korea, 2009)

Seorang pria (diperankan Jung Jae-Young) mencoba bunuh diri dengan menjatuhkan diri ke Han River. Hasilnya, ia bukannya mati dan malah terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang letaknya masih di dalam kota. Awalnya dia ingin keluar dari pulau tersebut, tapi sedikit demi sedikit ia mulai nyaman dengan kesendiriannya di pulau itu. Lalu ada seorang perempuan (diperankan Jung Ryeo-won) yang tidak pernah keluar dari kamarnya selama bertahun-tahun. Hidupnya dihabiskan di internet dengan mencuri identitas orang lain. Dua kali dalam setahun, ia akan membuka jendelanya dan melihat-lihat dunia luar melalui teropong berkameranya. Dan ketika itu, ia menangkap pemandangan pria yang terdampar tersebut melalui teropongnya. Si perempuan pun berusaha untuk berkomunikasi dengan lelaki di pulau tersebut dengan caranya sendiri. Lalu, apakah suatu saat mereka akan bertemu?

Seperti yang saya bilang di atas, kedua film ini memiliki beberapa kemiripan meskipun sebenarnya kedua film ini punya cerita dan gaya yang sangat berbeda. Selanjutnya, reviewnya dipoin-poin aja ya 😀

  • Keduanya adalah film romance yang tidak hanya bicara tentang cinta.

Untuk Castaway on the Moon, malah pada awalnya saya tidak tahu bahwa film itu adalah film romance (cuma tahu kalo itu ceritanya tentang orang yang terdampar di pulau). Ya, meskipun bergenre romance, kedua film ini bukan tipe film yang ngomongin cinta melulu. Kedua tokoh utama dari masing-masing film ini memiliki cerita dan masalah masing-masing. Untuk Oto-na-ri, masalah yang dimiliki kedua tokoh utamanya adalah tentang karir dan kegamangan akan masa depan. Satoshi adalah seorang fotografer yang bisa menjadi fotografer sukses berkat bantuan sahabatnya, Shingo, yang seorang model. Tapi memfoto model bukanlah hal yang disukainya. Ia lebih suka memfoto pemandangan daripada manusia. Namun sang sahabat sudah sangat bergantung pada dirinya dan malah menghilang ketika Satoshi menyatakan keinginan sebenarnya. Belum lagi dengan kemunculan pacar Shingo yang datang pada Satoshi untuk mencari Shingo. Sementara itu Nanao adalah seorang perempuan yang mengutamakan karirnya di atas segalanya. Ia bekerja di toko bunga dan sebentar lagi akan pindah ke Prancis demi karirnya. Karena sangat mengutamakan karirnya, ia pun sering tidak peduli pada kehidupan pribadinya. Sampai suatu hari datang seorang laki-laki pegawai mini market langganannya yang datang ke tokonya dan mengaku sebagai pengagumnya.

Masalah yang dialami kedua tetangga ini kurang lebih sama. Mereka sukses di karir masing-masing. Tapi mereka bingung. Mereka sama-sama tidak tahu apakah pilihan yang akan mereka ambil selanjutnya adalah pilihan yang terbaik untuk mereka. Mereka juga sama-sama merasa sendirian. Mereka hanya butuh orang lain untuk ada di sisi mereka, untuk mendengarkan, atau untuk bertanya “apakah kamu baik-baik saja?” Jika diibaratkan, hubungan mereka berdua sama seperti masalah mereka masing-masing. Mereka dekat tapi tidak pernah bertemu. Tapi bukan berarti mereka tidak akan pernah bisa bertemu. Semuanya tergantung dari pilihan. Jika mereka memilih untuk bertemu, mereka akan bertemu. Hal itu berlaku juga pada masalah yang dialami mereka berdua. Mereka berdua sama-sama punya pilihan. Yang paling penting, apakah mereka mau memilih atau tidak?

Untuk Castaway on the Moon, masalah yang dialami masih mirip dengan masalah yang ada di film Oto-na-ri, yaitu sama-sama masalah yang sangat mungkin dialami oleh masyarakat di zaman modern ini. Masalah di sini adalah kedua tokohnya merasa sangat nyaman dengan kesendirian. Si laki-laki merasa frustrasi, mencoba bunuh diri tapi malah terdampar di sebuah pulau yang menjadi surga baginya. Hidup di pulau dengan modal barang-barang bekas tentunya berbeda dengan hidup di kota. Ia seperti kembali ke zaman primitif. Namun, kadang kembali jadi primitif membuat seorang manusia merasa menjadi lebih nyaman daripada tinggal di kota yang penuh kemudahan. Ia mengenal kembali kata “perjuangan”, “keterbatasan”, dan “harapan”. Dan hal itu membuatnya lebih bahagia dan kembali memiliki harapan hidup. Sementara itu si perempuan terjebak dengan kemudahan zaman modern. Tanpa perlu keluar dari kamarnya, ia bisa menjadi siapa saja. Ia bisa berkomunikasi dengan siapa saja tanpa perlu capek-capek ke luar rumah. Namun, dengan melihat si laki-laki yang tengah berjuang di kejauhan, ia pun ingin ikut berjuang juga. Melalui si laki-laki, ia kembali mengenal kata “harapan” dan berusaha keluar dari zona nyamannya.

Yak, masih sama dengan dengan Oto-na-ri, kedua tokoh di film ini juga masing-masing punya pilihan untuk keluar dari masalahnya. Bedanya, jika dua tokoh di film Oto-na-ri ini punya pilihan untuk keluar dari kondisi yang tidak nyaman, kedua tokoh di Castaway on the Moon punya pilihan untuk keluar dari zona nyaman. Dan masalahnya mereka berdua pada awalnya tidak merasa butuh untuk mengambil pilihan itu. Mereka sama-sama menyukai kesendirian. Namun, sedikit demi sedikit, melalui usaha si perempuan untuk berkomunikasi dengannya, mereka berdua menyadari bahwa mereka tetap membutuhkan orang lain. Senyaman apapun dengan kesendirian, mereka akan lebih bahagia lagi ketika ada seseorang yang mau membalas pesan mereka.

  • Kedua tokoh utama dalam kedua film ini punya cara berkomunikasi yang sangat unik.

Kedua tokoh utama dari kedua film ini hampir sepanjang film tidak pernah saling bertatap muka secara langsung. Pasangan di Oto-na-ri dipisahkan oleh sebuah dinding tipis. Pasangan di Castaway on the Moon dipisahkan oleh sebuah sungai. Namun, mereka berdua punya cara sendiri untuk berkomunikasi. Di Oto-na-ri? Melalui bunyi-bunyian. Makanya pas nonton film ini kita harus pasang telinga baik-baik karena bunyi-bunyian di film ini menjadi kunci untuk memahami hubungan mereka. Ada satu adegan yang menjadi favorit saya (mungkin spoiler). Suatu kejadian membuat ketegaran pada diri Nanao akhirnya runtuh juga. Hal itu disadari oleh Satoshi, ketika ia menangkap ada getaran pada suara Nanao ketika ia sedang belajar bahasa Prancis melalui CD. Satoshi pun menyenandungkan lagu yang sering disenandungkan Nanao untuk menghibur tetangganya tersebut. Dan mereka pun bernyanyi bersama (sampai akhirnya terhenti oleh suara telepon yang mengganggu. Cih…). Menurut saya itu adegan yang sangat romantis dan manis.

Sementara itu, cara berkomunikasi di Castaway on the Moon adalah melalui pesan di botol dan tulisan di pasir. Yang ini agak-agak susah komunikasinya, karena pesan di botol tersebut bisa susah ditemukannya (pesan yang pertama sampai setelah berbulan-bulan). Tapi ini yang bikin hubungan mereka jadi lucu. Apalagi pesan-pesan tersebut memakai bahasa Inggris dan isinya singkat sekali, tapi tetap membuat mereka merasa bahagia ketika mendapat balasan.

  •  Endingnya….. 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Kedua film ini punya ending yang kurang lebih sama dan gampang ditebak, tapi tetap bikin saya terkesan karena ending keduanya sama-sama manis (terutama Oto-na-ri). Yang jelas ending dari kedua film ini akan meninggalkan senyuman di wajahmu 🙂

  • Kesimpulan:

Oto-na-ri: Secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini. Seperti kebanyakan film Jepang, film ini berjalan dengan tenang dan lambat, dan mungkin akan membuat ngantuk sebagian orang. Tapi saya merasa baik-baik saja dengan temponya yang lambat (udah sering nonton yang lebih lambat dari ini). Yang jelas film ini adalah tipe film yang masih bisa membuat saya senyam-senyum sendiri meskipun nontonnya udah berminggu-minggu yang lalu. Cocok ditonton penyuka film romance yang simpel tapi unik dan manis. 4/5

Castaway on the Moon: Saya pun sangat menyukai film ini. Jika dibandingkan dengan Oto-na-ri yang lebih sederhana, film ini memiliki ide yang lebih tidak biasa dan sulit dibayangkan untuk terjadi di dunia nyata. Dan jika Oto-na-ri lebih condong ke drama, film ini lebih condong ke komedi. Sangat cocok untuk ditonton pecinta film komedi romantis yang sedikit unik. 4/5

Read Full Post »

“Di dunia ini ada tiga jenis manusia, yaitu laki-laki, perempuan, dan ibu. Kita tidak akan pernah bisa mengerti jenis yang terakhir itu,” begitulah bunyi dari salah satu dialog yang saya temukan di salah satu episode dari dorama berjudul “Mother”. Pernyataan tersebut mungkin ada benarnya. Ibu memang sepertinya harus memiliki tempat tersendiri yang membedakannya dari sekadar perempuan biasa. Dan seperti kata dialog tadi, kita juga kadang tidak bisa memahami “ibu” ini. Kadang kita menemukan ibu yang sangat pengasih dan sangat menyayangi anaknya, tapi kadang kita juga menemukan karakter ibu yang suka meng-abuse anaknya sendiri. Meskipun begitu, ibu tetaplah bagian dari manusia. Selalu akan ada alasan di balik segala tindakan yang dilakukan mereka, baik itu alasan yang disadari atau tidak.

Michiki Rena (Ashida Mana) adalah seorang anak kecil berusia 7 tahun yang sering di-abuse oleh ibunya sendiri (diperankan Ono Machiko). Hal tersebut disadari oleh Suzuhara Nao (Matsuyuki Yasuko), seorang guru SD di sekolah Rena. Nao sendiri adalah seorang perempuan kaku yang sebenarnya tidak ingin menjadi guru SD dan tidak menyukai anak-anak. Namun, melihat keadaan Rena yang tersiksa sedemikian rupa akibat ulah ibunya membuat insting keibuan pada diri Nao muncul. Tanpa rencana yang matang, Nao mengajak Rena untuk kabur bersamanya meninggalkan Hokkaido (tempat tinggal mereka). Dan sejak itu pula Nao memutuskan untuk menjadi ibu dari Rena (yang kemudian diberi nama baru “Tsugumi”).

Setelah segala upaya dalam mencari tempat tinggal baru, akhirnya mereka sampai di kota Tokyo. Nao sendiri sebenarnya memiliki keluarga di Tokyo yang sudah bertahun-tahun tidak berhubungan dengannya. Sebenarnya keluarga Nao (terutama ibunya, diperankan Takahata Atsuko) sangat menyayangi Nao dan selalu berusaha menghubungi Nao, tapi Nao selalu merasa sungkan kepada mereka karena dia adalah anak adopsi. Di dorama ini kita juga akan diperkenalkan pada Mochizuki Hana (Tanaka Yuko), seorang perempuan tua yang sering mengajak main Rena/Tsugumi dan kemudian berusaha membantu Nao dalam usaha pelariannya. Dari awal dapat ditebak bahwa dia adalah ibu kandung Nao yang menelantarkan dirinya ketika Nao masih berusia 5 tahun. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Nao dan Rena akan selamanya terus ‘berlari’? Bagaimana dengan ibu kandung Rena? Tidak hanya itu, pelarian mereka juga rupanya telah tercium oleh seorang wartawan bernama Fujiyoshi Shunsuke (Yamamoto Koji).

Seperti judulnya, Mother mengajak kita untuk melihat berbagai macam karakter dari seorang ibu (nyaris tidak ada sosok ayah di sini). “Ibu” di sini tidak hanya perempuan yang melahirkan anak dari perutnya sendiri saja ya, tapi juga jenis “ibu” seperti Nao, seorang perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu dari seorang anak yang tadinya merupakan orang asing baginya. Dorama ini berusaha mengangkat berbagai macam permasalahan yang menyangkut sosok ibu dan anak, seperti child abuse, anak yang ditelantarkan, anak adopsi, anak dari single parent, dan lain sebagainya.  Dan berbagai macam isu tersebut berhasil ditampilkan secara seimbang dan tidak berlebihan. Dan seperti yang saya bilang tadi, ibu masih bagian dari manusia. Semua karakter ibu di sini memiliki cerita dan alasan masing-masing dari segala tindakan yang mereka lakukan. Misalnya karakter Michiki Hitomi yang merupakan ibu kandung Rena. Jangan bayangkan karakter ini seperti ibu jahat di sinetron-sinetron ya (yang mana seolah jahat karena takdir dari lahir). Kita akan diperlihatkan kepada latar belakangnya dan mengapa ia bisa melakukan berbagai macam hal buruk kepada Rena. Hal tersebut membuat dorama ini terlihat sangat realistis. Tidak ada yang sepenuhnya putih dan sepenuhnya hitam di sini. Semuanya punya alasan masing-masing, tapi hal tersebut tidak serta merta membuat kita memaklumi tindakan yang dilakukannya.

Selain ibu kandung Rena, kita juga diperlihatkan pada karakter para ibu yang lain. Ada ibu adopsi Nao, seorang single parent yang sangat menyayangi Nao (dan kedua adiknya) meskipun Nao bukanlah anak kandungnya. Melalui karakter ini kita juga dibuat menyadari bahwa ikatan antara ibu dan anak tidak hanya dihasilkan dari hubungan darah saja. Lalu ada karakter Mochizuki Hana, ibu kandung Nao yang menelantarkan Nao ketika usianya masih 5 tahun. Kita akan dibuat bertanya-tanya mengapa perempuan sebaik itu tega menelantarkan anaknya, tapi seperti yang saya bilang tadi, semua punya alasan masing-masing dari segala tindakannya. Dan seorang ibu dan anak pasti akan selalu memiliki ikatan batin, tak peduli seberapa pun lamanya mereka terpisah. Selain mereka, kita juga diperkenalkan pada karakter Suzuhara Mei (Sakai Wakana), adik Nao yang sedang hamil dan sebentar lagi akan menikah. Karakter ini mewakili karakter calon ibu yang punya banyak ketakutan bahwa dia tidak akan jadi ibu yang baik bagi calon anaknya.

Dan karakter ibu terakhir yang diperlihatkan dorama ini adalah Nao. Dia orang yang sangat kaku dan kurang percaya diri. Dia juga bukanlah jenis orang yang menyukai anak-anak. Namun, kejadian yang menimpa Rena membangunkan insting keibuannya. Dengan segala kekurangan yang dimilikinya, ia berusaha menjadi ibu untuk Rena. Ya, salah satu yang paling saya suka di sini adalah ketidaksempurnaan pada diri Nao. Tindakan yang dilakukannya (membawa kabur Rena) adalah tindakan yang impulsif dan tanpa rencana matang. Nao sendiri tidak pernah merasa bahwa yang ia lakukan adalah sesuatu yang benar. Ia juga tidak merasa hal yang ia lakukan telah menyelamatkan diri Rena. Yang ia tahu hanyalah ia ingin menjadi ibu dari Rena. Meskipun pada awalnya karakter ini terasa awkward sebagai seorang ibu, tapi sedikit demi sedikit kita bisa merasakan bahwa ia telah berubah menjadi ibu yang sebenarnya. Matsuyuki Yasuko sangat berhasil memerankan tokoh Nao dengan segala kekakuan dan ke-awkward-annya . Dan ia punya chemistry yang sangat baik dengan Ashida Mana si pemeran Rena/Tsugumi. Ya, satu lagi yang perlu disoroti di dorama ini adalah akting dari Ashida Mana. Menurut saya Rena ini adalah jenis karakter anak kecil yang…bagaimana ya. Dia adalah anak kecil yang sudah harus mengalami hal-hal yang sulit dalam hidupnya, punya pemikiran lebih dewasa dari anak-anak seumurnya (seperti di episode 1 ketika dia bertanya apa surga benar-benar ada), tapi tetap bisa terlihat seperti anak kecil normal dengan segala kepolosannya dan tidak pernah terlihat sok dewasa. Rasanya sulit sekali menemukan aktris cilik yang bisa memerankan karakter ini sebaik Ashida Mana. Yang saya kagumi lagi adalah Mana-chan aslinya masih berusia 5 tahun ketika memerankankan karakter Rena ini (usia Rena: 7 tahun). Aktingnya di dorama ini membuktikan bahwa Ashida Mana memanglah salah satu aktris cilik paling berbakat saat ini.

Overall, dorama ini menurut saya sangat bagus dan menyentuh. Banyak yang bilang dorama ini termasuk dorama yang bisa bikin nangis para penontonnya. Saya sendiri gak sampai nangis sih nontonnya, tapi tetap merasa tersentuh oleh ceritanya. Yang jelas, ini adalah jenis dorama yang setelah menontonnya akan membuat kamu (terutama penonton perempuan) terdiam dan membayangkan akan menjadi ibu seperti apakah kita nantinya? Well, 4 bintang deh. Dorama ini cocok untuk ditonton penggemar dorama yang mengangkat isu seputar kemanusiaan, dan oleh para “anak”, ibu, ataupun calon ibu 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Di dunia ini, ada berapa banyak sih orang-orang yang tidak memiliki keluarga? Tentunya tak terhitung ya. Perceraian, kematian, ditelantarkan, adalah beberapa dari sekian banyak alasan seseorang tidak memiliki keluarga (atau merasa tidak memiliki keluarga). Dan, tidak punya keluarga itu kadang-kadang merupakan suatu hal yang merepotkan.  Anak dari seorang single parent kadang-kadang lebih sulit diterima untuk bersekolah di sekolah unggulan dibanding dengan anak dari orang tua yang lengkap. Seseorang dengan latar belakang keluarga tidak jelas pun akan menemui beberapa kesulitan dalam hidupnya, misalnya ketika ia ingin menikah (ditentang oleh orang tua si calon). Selain itu, banyak juga orang-orang kesepian yang membutuhkan sosok keluarga untuk mengusir rasa kesepiannya. Berdasarkan hal-hal tersebut, didirikanlah sebuah perusahaan rahasia (?) bernama “Family Romance”, sebuah perusahaan yang menyediakan layanan jasa “penyewaan keluarga”.

Adalah Yamamuro Shuji (Tamaki Hiroshi), direktur sekaligus pendiri Family Romance. Sampai sekarang, bisnis yang dijalankannya telah berjalan dengan baik dan tanpa kesulitan yang berarti. Suatu hari, seorang perempuan bernama Kobashi Beniko (Tanaka Rena) datang ke perusahaan tersebut untuk melamar pekerjaan. Tanpa banyak basa-basi, Beniko langsung diterima untuk menjalani masa trial. Beniko sendiri sebenarnya tidak begitu mengetahui tentang perusahaan itu. Oleh karena itu, ia pun langsung terkaget-kaget ketika mengetahui bahwa bisnis yang dijalankan perusahaan yang dilamarnya itu berupa bisnis penyewaan keluarga. Namun, ia tetap mencoba untuk menjalankan pekerjaan barunya tersebut. Suatu hari, perusahaan tersebut kedatangan seorang klien bernama Tozaki Ryunosuke (Takenaka Naoto). Tozaki adalah seorang pria tua kaya penderita kanker yang divonis hanya punya sisa waktu sekitar enam bulan saja. Terinspirasi dari sebuah film dokumenter berjudul “Ending Note” yang merupakan dokumenter berisi hari-hari terakhir seorang ayah yang direkam oleh anak perempuannya, Tozaki pun meminta untuk menyewa seorang istri dan anak perempuan untuk melakukan hal yang sama. Tozaki sendiri sebenarnya memiliki istri dan anak perempuan yang masih hidup, tapi mereka sudah berpisah selama enam tahun dan si istri menolak untuk kembali kepadanya meskipun suaminya tersebut sedang sakit keras. Yamamuro lalu menugaskan Beniko untuk berperan sebagai peran anak perempuan yang bertugas untuk memfilmkan hari-hari terakhir Tozaki. Karena masih baru, tentu saja Beniko masih merasa canggung dan kebingungan ketika bertugas di hari pertama. Namun, lama-lama ia jadi terbiasa juga dan mulai merasa bersimpati kepada Tozaki. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Beniko akan mulai menyukai pekerjaan anehnya tersebut? Apakah keluarga “asli” Tozaki akhirnya mau menemui Tozaki sebelum kematian menghampirinya? Dan, apakah alasan sebenarnya Yamamuro dalam mendirikan Family Romance ini?

Family Complex (judul bahasa Jepang: Kazoku Kashimasu) adalah sebuah drama spesial satu episode (alias tanpatsu) yang ditayangkan di channel NTV. Ide tanpatsu ini sendiri menurut saya cukup menarik meskipun tidak original karena mengingatkan saya pada film Noriko’s Dinner Table-nya Sono Sion (apalagi Fukiishi Kazue si pemeran Noriko juga ikut bermain dalam drama ini). Jika “family rental” dalam Noriko’s Dinner Table digambarkan sebagai bisnis gelap yang menyedihkan sampai-sampai para pegawainya sudah seperti kehilangan identitas, “family rental” dalam Family Complex digambarkan lebih cerah dan lebih normal. Para pegawai di Family Romance masih merupakan orang-orang normal dan punya keluarga masing-masing (seperti Beniko misalnya). Dan jika di Noriko’s Dinner Table penonton diposisikan untuk menentang bisnis tersebut, di Family Complex penonton seperti diposisikan untuk mendukung bisnis yang diceritakan sudah membantu banyak orang tersebut. Di luar hal itu, bisnis family rental di dua film berbeda itu kurang lebih hampir-hampir mirip lah (misalnya ada batas waktu khusus dan tidak boleh ada perpanjangan waktu).

Meskipun kurang original, saya sendiri cukup menikmati drama spesial ini. Berhubung klien utama yang diceritakan pada drama ini adalah seseorang yang sebentar lagi akan meninggal, kita pun akan menemukan beberapa adegan yang cukup menyentuh dan mengharukan meskipun gak sampe bikin nangis. Dan meskipun bercerita tentang penyewaan keluarga yang punya jasa besar, drama ini juga tidak jadi serta merta menyudutkan keluarga yang sebenarnya. Meskipun si klien cukup puas dengan jasa Family Romance, tapi sudah pasti ada juga perasaan ingin bertemu dengan keluarga sebenarnya yang sudah lama berpisah. Hal itu turut berpengaruh kepada para pegawai Family Romance, terutama Yamamuro si direktur yang tampaknya punya masa lalu buruk yang berkaitan dengan keluarganya.

Para pemain di drama ini berhasil menunjukkan akting yang baik. Tamaki Hiroshi cukup berhasil memerankan Yamamuro si pemimpin yang cukup berwibawa dan sampai sekarang masih suka terjun langsung dalam melaksanakan pekerjaannya (menyamar jadi anggota keluarga klien). Tanaka Rena juga berhasil menghidupkan perannya sebagai perempuan yang agak kikuk dan canggung. Takenaka Naoto yang merupakan aktor senior sudah tidak perlu diragukan lagi aktingnya di sini sebagai Tozaki. Selain mereka, jangan dilupakan kehadiran Sometani Shota dan Ando Sakura yang memberikan akting yang bisa diterima meskipun tampil tidak terlalu banyak (btw agak pangling liat Ando Sakura di sini yang tampil cukup manis sebagai seorang perempuan hamil). Well, secara keseluruhan menurut saya drama ini punya casting yang bagus mulai dari pemeran utama sampai pemeran pendukung.

Overall, saya cukup menyukai drama spesial ini. Drama ini enjoyable dan cukup menghibur, dan menurut saya punya potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah dorama (berhubung saya pengen lihat jenis-jenis klien lainnya). 3,5 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »