Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2012

Kekkon Dekinai Otoko. Kalimat tersebut memiliki arti “lelaki yang tidak akan pernah bisa menikah”. Kalimat tersebut juga tampaknya adalah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Kuwano Shinsuke (Abe Hiroshi), seorang pria lajang yang sudah berusia 40 tahun. Kuwano sendiri sebenarnya memiliki penampilan yang lumayan dan punya pekerjaan yang bagus, yaitu arsitek dan punya kantor sendiri dengan dibantu asistennya Eiji (Tsukamoto Takashi) dan seorang humas bernama Sawazaki Maya (Takashima Reiko). Namun, ia punya kepribadian yang akan membuat para wanita memilih untuk tidak berurusan dengannya. Coba bicara dengan dia sepuluh menit saja, kamu pasti akan berakhir dengan sakit hati karena ia sering mengucapkan ucapan yang nyelekit meskipun tidak memiliki maksud buruk. Di luar sifat sarkastiknya, Kuwano juga seseorang yang sangat individualis. Dia sangat menyukai kesendirian. Dia lebih suka memakan steak sendirian di apartemennya daripada bersenang-senang di pesta. Hiburan baginya adalah mendengarkan musik orkestra sendirian di apartemennya sambil menirukan gaya konduktor. Salah satu bentuk keindividualitasannya yang lain adalah dia tidak akan pernah mengizinkan orang lain masuk ke dalam apartemennya. Dia juga seorang pemuja rutinitas dan punya beberapa kegiatan rutin seperti pergi ke konbini (convenience store) dan rental dvd setiap pulang kerja. Yang jelas, human relationship adalah sesuatu yang merepotkan di mata Kuwano, dan ia juga tidak pernah tertarik untuk menikah.

Suatu hari, kehidupannya yang begitu saja dan penuh pengulangan menjadi sedikit berwarna dengan hadirnya dua orang baru dalam hidupnya. Orang pertama adalah seorang perempuan muda bernama Tamura Michiru (Kuninaka Ryoko), tetangga di apartemennya yang suatu hari menolong Kuwano ketika pria itu collapse karena sakit perut. Orang kedua adalah Hayasaka Natsumi (Natsukawa Yui), seorang dokter yang menangani sakit yang diderita Kuwano pada saat itu. Natsumi sendiri juga merupakan perempuan lajang di usianya yang sudah lebih dari 30 tahun. Sejak hari itu, secara tidak sengaja Kuwano menjadi sering bertemu dengan kedua wanita yang kemudian saling bersahabat itu. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah status Kuwano sebagai lelaki yang tidak akan pernah bisa menikah akan tetap bertahan? Apakah suatu saat kedua wanita tersebut akan jatuh cinta padanya? Tonton aja deh.

Kekkon Dekinai Otoko adalah salah satu dorama yang dibintangi Abe Hiroshi yang menjadi favorit saya. Apalagi saya paling suka sama dorama bergenre slice of life, dan menurut saya ini adalah salah satu dorama bergenre slice of life paling bagus yang pernah saya tonton. Seperti dorama slice of life pada umumnya, dorama ini berkisar pada kehidupan sehari-hari Kuwano Shinsuke yang penuh dengan pengulangan. Hmm, kelihatannya membosankan ya? Tapi membosankan rasanya bukan kata yang tepat untuk menggambarkan dorama ini. Meskipun cuma tentang kehidupan sehari-hari dan tanpa konflik yang luar biasa, dorama ini berhasil dikemas sedemikian rupa yang membuat dorama ini menjadi sangat menghibur. Keunggulan utama dorama ini tentu saja ada pada karakteristik tokoh-tokohnya yang sangat kuat, terutama karakteristik Kuwano yang begitu unik. Ya, menurut saya ini adalah salah satu contoh dorama yang ceritanya disetir oleh karakternya. Tokoh utamanya, yaitu Kuwano Shinsuke yang diperankan oleh Abe Hiroshi, bukan merupakan tipikal karakter yang biasa menjadi protagonis di dorama-dorama. Karakternya bukanlah tipe karakter yang gampang disukai, tapi itulah yang membuat karakter ini menjadi begitu memorable. Dia orang yang keras kepala, individualis, dan siapapun pasti malas untuk berurusan dengannya. Tapi dia juga kadang bisa melakukan hal tak terduga yang menunjukkan bahwa dia sebenarnya orang yang sangat baik (tapi tidak bisa memperlihatkan kebaikannya secara normal). Interaksinya dengan tokoh-tokoh di sekitarnya pun sangat menarik untuk disimak, dan menjadi sumber kelucuan dorama ini. Mulai dari interaksinya dengan Michiru, Natsumi-sensei, Eiji, Sawazaki, sampai dengan keluarganya sendiri (terutama ibunya yang selalu menyuruhnya menikah).

Seperti yang saya bilang sebelumnya, dorama ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari Kuwano yang penuh pengulangan. Oleh karena itu, kita akan menemukan adegan yang repetitif di setiap episodenya. Mulai dari adegan ia menelusuri jalan yang sama ketika pulang, belanja di konbini, meminjam film di rental, makan sendirian di tempat yang sama, dan berbagai macam kegiatan rutin lainnya. Namun, hal tersebut bukanlah hal yang menjadi kekurangan atau sekadar tempelan saja. Adegan-adegan tersebut rupanya menyimpan makna tersendiri yang akan kita temukan di akhir-akhir. Termasuk dengan keberadaan tokoh Kaneda, seorang arsitek kaya tukang pamer yang situsnya sering dicek Kuwano dan Eiji dan tanpa sengaja sering bertemu dengan mereka di sebuah bar. Ya, hal-hal yang seolah-olah tidak penting tersebut rupanya menjadi salah satu hal yang memperkuat dorama ini.

Seperti dorama slice of life pada umumnya, permasalahan-permasalahan yang ditemui di dorama ini berkutat pada permasalahan pada kehidupan sehari-hari, sehingga dorama ini akan terasa dekat dengan penontonnya karena permasalahannya yang mungkin dialami siapa saja. Permasalahan sehari-hari di sini biasanya berkutat pada permasalahan seputar gaya hidup dan kehidupan sosial manusia. Misalnya ada episode yang menyinggung tentang sepasang kekasih yang berkencan di mangacafe dan kedua-duanya malah membaca manga dan bukannya berinteraksi satu sama lain (meskipun cuma disinggung sedikit, tapi isu tersebut lumayan menggelitik juga), atau tentang perbedaan antara perempuan muda 20-an dengan perempuan yang sudah di atas 30 tahun dalam berbelanja baju, dan juga masih banyak permasalahan sehari-hari lainnya yang terlihat remeh temeh tapi menarik untuk didiskusikan. Di luar hal itu, kehidupan Kuwano sebagai arsitek yang memfokuskan dapur sebagai pusat rumah yang dirancangnya juga sangat menarik dan tidak terlihat sebagai tempelan belaka.

Salah satu kekuatan dorama ini adalah karakternya, dan seorang tokoh tidak akan mempunyai karakteristik yang kuat jika tidak didukung akting yang bagus dari pemainnya. Salut untuk Abe Hiroshi karena dia sangat berhasil memerankan Kuwano yang sangat individualis. Caranya bergerak, berbicara, dan berekspresi sangat memperkuat karakteristik tokoh tersebut. Dan yang jelas karakter tersebut menurut saya adalah karakter paling memorable yang pernah dimainkan Abe Hiroshi. Natsukawa Yui juga sangat cocok memerankan si dokter lajang Natsumi-sensei, dan menurut saya dia sangat cocok dipasangkan dengan Abe Hiroshi. Kuninaka Ryoko juga turut berperan bagus sebagai Michiru yang ceria dan ceplas-ceplos. Pemeran-pemeran lainnya seperti Tsukamoto Takashi, Takashima Reika, dan lain-lainnya turut bermain baik di sini. Tapi ada satu lagi karakter yang perlu disorot di dorama ini karena menampilkan akting yang sangat bagus. Dia adalah Ken-chan, anjing yang dipelihara Michiru dan punya semacam keakraban dengan Kuwano. Ya, meskipun cuma seekor anjing, menurut saya Ken-chan adalah salah satu faktor yang membuat dorama ini menjadi semakin menarik. 😀

Overall, saya sukaaa banget sama dorama berjumlah 12 episode ini. Highly recommended, terutama buat penyuka dorama bergenre slice of life. Tambahan lagi, dorama ini  juga memborong banyak award pada 50th Television Drama Academy Award, yaitu pada kategori Best Drama, Best Director, Best Scriptwriter, Best Actor (Abe Hiroshi), Best Supporting Actress (Natsukawa Yui), dan Special Award (Ken the Dog). Well, 4,5 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Advertisements

Read Full Post »

Selain detektif, profesi dokter adalah salah satu profesi yang sering diangkat menjadi tema dorama Jepang. Sudah banyak dorama bertemakan kedokteran (dengan berbagai bidang) yang ditayangkan di TV Jepang. Salah satu yang paling baru adalah Cleopatra na Onnatachi, dorama bertemakan kedokteran yang mengangkat bidang “plastic surgery” alias operasi plastik sebagai fokus utamanya.

Adalah Kishi Minetaro (Sato Ryuta), seorang dokter bedah plastik yang baru memulai hari pertamanya dalam bekerja di sebuah klinik kecantikan. Mine-sensei (nama panggilannya di klinik tersebut) sendiri sebelumnya sudah punya pekerjaan di rumah sakit universitas, tapi ia kemudian memutuskan untuk pindah ke klinik tersebut karena gaji yang diberikan klinik tersebut lumayan besar. Sebagai orang yang terbiasa bekerja di rumah sakit universitas, tentu saja Mine-sensei menjadi sulit terbiasa dengan kondisi di klinik yang semua staffnya adalah perempuan itu. Di rumah sakit universitas, pasien yang datang adalah pasien-pasien yang memang “tidak sehat”, contohnya pasien yang terkena luka bakar atau sebagainya. Sementara di tempat kerja barunya, pasien yang datang kebanyakan adalah pasien yang berada dalam kondisi kesehatan yang baik dan tujuan mereka datang untuk operasi plastik adalah karena mereka ingin cantik. Tidak hanya itu, sebagian dari staff klinik tersebut pun pernah mengalami yang namanya operasi plastik. Meskipun tidak suka dengan keadaan itu, tapi Mine-sensei tetap mengikuti segala kemauan pasiennya karena dia butuh uang.

Mine-sensei sendiri adalah seorang laki-laki yang sangat membenci perempuan. Penyebab hal itu adalah karena ibunya pergi meninggalkannya untuk laki-laki lain ketika dia masih balita. Meskipun membenci perempuan, Mine-sensei sendiri bukanlah gay, meskipun ia tinggal dengan seorang teman laki-lakinya yang seorang gay (diperankan Ayano Go). Bekerja di klinik yang isinya penuh perempuan (yang menganggap operasi plastik sebagai hal biasa) itu membuatnya semakin membenci perempuan. Para perempuan yang bekerja di klinik itu sendiri beberapa di antaranya adalah Ichii Mutsumi (Inamori Izumi), dokter jenius yang sudah berkeluarga tapi tampaknya tidak bahagia dengan keluarganya; Yukawa Mari (Yo Kimiko), dokter kepala yang sampai saat ini masih belum menikah meskipun punya pacar; Kishitani Aoi (Kitano Kii), seorang perawat yang mengaku pernah mencoba bunuh diri sebelum akhirnya melakukan operasi plastik; Hoshida Miwa (Ashina Sei) dokter cantik yang sangat ingin menikah. Lalu, apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Mine-sensei akan betah bekerja di klinik tersebut? Apakah penyakit “pembenci perempuan”-nya suatu saat akan sembuh?

Cleopatra na Onnatachi adalah sebuah dorama yang berpotensi untuk menjadi sangat bagus. Hal pertama yang menjadikan dorama ini menjadi begitu menjanjikan adalah humor satir di dalamnya. Ya, dorama ini mengangkat topik “operasi plastik”, sebuah topik yang sampai sekarang masih mengundang banyak perdebatan. Dan saya senang karena dorama ini tidak jatuh menjadi dorama yang menggurui atau menghakimi operasi plastik itu sendiri. Ya, Mine-sensei memang tidak menyetujui konsep operasi plastik dengan tujuan kecantikan, tapi toh pada akhirnya ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap hal itu. Dorama ini malah mengambil jalan komedi satir dalam mengomentari hal itu. Kita akan diperlihatkan pada berbagai macam jenis pasien. Ada perempuan yang melakukan operasi plastik untuk suaminya (yang selalu menyebutnya jelek), tapi setelah operasi plastik si suami malah mau menceraikan si istri karena mengira istrinya akan selingkuh dengan pria lain. Ada seorang perempuan yang memiliki saudara kembar dan ingin wajahnya diubah menjadi berbeda dari kembarannya. Ada juga perempuan cantik yang ingin wajahnya diubah menjadi lebih “biasa” karena ia merasa kecantikannya membawa masalah. Semua itu digambarkan dengan gaya komedi satir yang berhasil membuat saya tertawa karena keironisannya. Melalui sindiran-sindiran komedik itu pun kita ditunjukkan pada karakteristik berbagai macam manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Dorama ini juga membuat penontonnya mempertanyakan hal-hal seperti: “cantik itu apa sih?” (berhubungan dengan hal ini di bagian akhir setiap episodenya kita diperlihatkan pada video di mana orang-orang dari berbagai kalangan diwawancara mengenai hal-hal seputar kecantikan).

Namun, sayangnya unsur komedi satir tersebut tidak bertahan sampai akhir sehingga saya cuma bisa bilang dorama ini berpotensi menjadi sangat bagus, tapi pada akhirnya gagal memanfaatkan potensi yang dimilikinya tersebut. Selain memperlihatkan berbagai macam karakter pasiennya, dorama ini juga turut menggali karakteristik para staff di tempat tersebut. Kita akan diperlihatkan pada masalah yang dialami Mine-sensei yang membenci perempuan dan sampai sekarang belum memaafkan ibunya. Kita juga akan diperlihatkan pada masalah yang dialami Ichii-sensei yang berkaitan dengan keluarganya. Selain itu, beberapa staff lainnya juga memiliki masalah masing-masing. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu karena permasalahan-permasalahan itu dapat digunakan untuk memperkuat karakteristik tokoh-tokohnya. Tapi hal yang membuat saya kecewa adalah ketika permasalahan itu malah menjadi mengambil alih topik utamanya (terutama di episode-episode terakhir). Belum lagi dengan kehadiran romance yang terasa maksa dan mendapat porsi yang sangat besar di dua episode terakhirnya. Malahan karena hal itu ketika menonton dua episode terakhirnya saya sampai lupa bahwa dorama ini bercerita tentang operasi plastik. Saya sendiri tidak keberatan jika unsur romance diselipkan di dorama ini (karena dari awal karakter Mine-sensei memang digambarkan sebagai pembenci perempuan sehingga keadaan tersebut pasti akan digambarkan berubah nantinya), tapi ya jangan sampai mengganggu tema utamanya. Namun, saya juga tidak bisa menyalahkan dorama ini karena berdasarkan kabar yang saya dengar, dorama ini terpaksa dipotong menjadi delapan episode saja karena rating/viewershipnya yang tidak memuaskan (meskipun penyebab tersebut masih rumor). Oleh karena itu, endingnya seperti dibuat menjadi terburu-buru dan unsur romance-nya yang mestinya diselipkan secara perlahan-lahan pun menjadi terasa tiba-tiba dan kelihatan agak maksa. Saya rasa jika dorama ini berakhir di episode 10/11 dorama ini tidak akan berakhir seperti itu. Tapi ya sudahlah…

Dari segi akting, semua pemerannya berakting dengan baik, seperti Sato Ryuta dan Inamori Izumi yang berperan sebagai tokoh utama misalnya. Namun, yang aktingnya mencuri perhatian di sini menurut saya malahan pemeran-pemeran pendukungnya, seperti Ayano Go yang berperan sebagai Kurosaki Yu, roommate Mine-sensei yang seorang gay, dan Kitano Kii yang berperan sebagai Kishitani Aoi, si perawat yang mengaku dulunya jelek dan sering dibully (selain mereka, Miura Shohei dan Ashina Sei juga turut mencuri perhatian). Sementara itu dari segi kedokterannya, adegan-adegan operasinya juga diperlihatkan dengan nyata (meskipun tidak terlalu banyak). Di sini kita bisa melihat berbagai macam operasi yang berkaitan dengan cosmetic surgery/plastic surgery, seperti nose job, breast implant, liposuction, dan lain sebagainya.

Overall, meskipun memiliki kekurangan di episode-episode akhirnya, menurut saya dorama ini tetap recommended kok. Cocok ditonton oleh penggemar dorama komedi bergaya satir atau mungkin yang tertarik ingin mengetahui tentang operasi plastik. 3,5 bintang deh.

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »

Saitou Kazumi dan Saitou Kazuo, nama keluarga serta nama kecil mereka memang mirip, tapi mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Mereka berdua berteman ketika mereka masih duduk di bangku TK, bahkan waktu kecil Kazuo (diperankan Morita Naoyuki) pernah berjanji untuk menikahi Kazumi (diperankan Renbutsu Misako) di saat dewasa nanti. Namun sayangnya pertemanan mereka hanya berjalan sangat singkat karena Kazuo kemudian pindah ke kota lain karena pekerjaan ayahnya.

Bertahun-tahun kemudian, di usianya yang kelima belas, Kazuo akhirnya pindah kembali ke kampung halamannya bersama dengan ibunya (kedua orang tuanya baru saja bercerai). Di sekolahnya yang baru, Kazuo ditempatkan di kelas yang sama dengan Kazumi. Kazumi pun langsung mengenali Kazuo begitu cowok itu diperkenalkan di depan kelas (bahkan tanpa malu-malu menceritakan cerita memalukan yang pernah dialami Kazuo waktu kecil ke seisi kelas). Di waktu pulang sekolah, Kazumi mengajak (atau lebih tepatnya memaksa) Kazuo untuk ke rumahnya yang merupakan restoran soba. Setelah kunjungan itu, Kazumi mengajak Kazuo ke Spring of Sabishira, yang merupakan sumber dari air yang digunakan keluarga Kazumi untuk membuat soba. Ketika mereka mau mengambil air dari kolam di  tempat itu, mereka berdua malah terjatuh ke dalam kolam tersebut. Setelah mereka berdua berhasil keluar dari kolam tersebut, Kazuo langsung pulang duluan ke rumahnya tanpa menyadari ada yang aneh pada dirinya. Dan begitu ia bercermin di rumahnya, ia akhirnya menyadari bahwa tubuh yang ia tempati adalah tubuh Kazumi. Kazuo pun langsung mencari Kazumi ke rumahnya, dan hal yang sama juga terjadi pada Kazumi yang sekarang menempati tubuhnya. Setelah berbagai macam keributan, mereka pun setuju untuk membiarkan dulu keadaan mereka saat ini untuk sementara. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Kazumi dan Kazuo akan berhasil kembali ke tubuh mereka masing-masing? Apalagi, pada suatu hari kejadian tak terduga menimpa Kazuo yang masih berada di tubuh Kazumi…

Switching – Goodbye Me (judul aslinya “Tenkousei: Sayonara Anata” yang punya arti harfiah “Murid Pindahan, Selamat Tinggal Kamu”) adalah sebuah film yang disutradarai oleh Obayashi Nobuhiko ( sutradara dari film horror menakjubkan Hausu dan Toki o Kakeru Shojo/The Girl who Leapt Through Time versi jadul). Film ini diangkat dari novel yang ditulis oleh Yamanaka Hisashi dan juga merupakan remake dari film rilisan tahun 1982 berjudul “I Are You, You Am Me” yang disutradarai oleh Obayashi Nobuhiko juga. Ya, baru kali ini saya mendengar ada sutradara yang meremake filmnya sendiri. Saya sendiri belum menonton versi originalnya yang memiliki rentang waktu 25 tahun dengan versi yang ini, tapi saya saaaaangat menyukai versi filmnya yang ini. Ide cerita film ini sendiri, yaitu tentang cewek dan cowok yang bertukar tubuh, memang tidak original dan rasanya sudah sering diangkat menjadi tema dari banyak film. Namun biarpun begitu, film dengan ide seperti itu menurut saya tetap menarik untuk ditonton karena biasanya selalu menawarkan adegan-adegan yang lucu dan menghibur. Begitu juga dengan film ini. Banyak kejadian lucu yang ditimbulkan setelah Kazumi dan Kazuo bertukar tubuh secara tidak sengaja, dan adegan-adegan tersebut lumayan bikin saya nyengar-nyengir sendiri. Film ini sendiri cukup ringan dan gampang dimengerti penontonnya. Namun, biar begitu film ini bukan sekadar film komedi yang fungsinya cuma bikin penontonnya ketawa. Film ini ternyata juga memiliki muatan yang cukup ‘dalem’ dan bikin penontonnya mikir, terutama tentang manusia, cinta, keluarga, pengorbanan, pendewasaan, kelahiran, sampai kematian.

Tidak seperti film Jepang kebanyakan yang biasanya bertempo lambat, film ini memiliki tempo yang cukup cepat sehingga durasinya yang hampir dua jam menjadi tidak terasa sama sekali. Di satu jam pertama, film ini tampak seperti film komedi yang ringan nan menyenangkan, tapi di satu jam terakhir filmnya berubah menjadi dramatis dan melankolis. Dan yang saya suka adalah perubahan tersebut diperlihatkan dengan sangat halus dan gak maksa. Well, saya gak mau spoiler tapi dari judulnya mungkin sudah ketebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas, film ini adalah tipe film yang akan membuat kamu tertawa-tawa di awal-awal dan kemudian berakhir dengan air mata di wajah ketika film ini selesai (ya, saya nangis di beberapa adegan terakhir). Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, film ini memiliki makna yang cukup dalem tentang manusia dan kehidupan, seperti bagaimana seseorang kadang-kadang harus menjadi orang lain dulu sebelum bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri, atau bagaimana seseorang baru bisa memerhatikan dirinya sendiri ketika berada di tubuh orang lain, dan juga tentang pengorbanan terhadap orang yang dicintai.

Selain hal-hal di atas, akting juga merupakan salah satu kekuatan film ini. Saya sangat menyukai akting Renbutsu Misako di sini, mulai dari ketika ia masih menjadi Kazumi sampai ketika ia menjadi Kazuo. Morita Naoyuki sebagai Kazuo juga berakting baik di sini, dan ia juga berhasil memerankan sosok perempuan yang terjebak di tubuh laki-laki dengan baik. Namun sayangnya kepribadian Kazumi yang sebelumnya digambarkan sebagai seseorang yang memiliki imajinasi liar menjadi tidak terlihat ketika ia berada di tubuh Kazuo. Pemeran-pemeran lainnya, seperti pemeran ibu Kazuo serta keluarga Kazumi juga berhasil memerankan peran mereka masing-masing dan turut menghidupkan film ini. Begitu juga dengan aktor dan aktris yang berperan sebagai Hiroshi dan Akemi yang merupakan pacar (dan mantan pacar) dari Kazumi dan Kazuo yang menampilkan penampilan yang bisa diterima meskipun tidak spesial. Selain akting, sinematografi juga menjadi salah satu kelebihan dari film ini. Sinematografinya indah dan juga sedikit unik karena gambar-gambar di film ini banyak diambil dari angle yang sedikit miring (tapi masih enak dilihat dan gak bikin pusing kok). Selain itu saya juga menangkap kesan agak jadul dari sinematografi (yang didominasi warna kekuningan) serta suasana-suasana di film ini (well gimana ya menjelaskannya, yang jelas nuansanya  mengingatkan saya pada nuansa jadul di film-film Obayashi sebelumnya yang saya sebutkan di atas). Film ini juga memiliki musik yang bagus dan turut memperkuat film ini,

Secara keseluruhan, menurut saya film ini recommended. Cocok ditonton oleh penyuka film-film yang manis sekaligus pahit (atau bittersweet gitu deh istilah enggresnya). Dan yang jelas ini adalah tipe film yang akan sering saya tonton berulang kali. 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Mayuzumi Machiko (Aragaki Yui) adalah seorang pengacara muda yang tampaknya masih baru. Seperti pengacara baru pada umumnya, dia adalah tipe pengacara yang naif dan sangat menjunjung tinggi kebenaran. Hal yang membuatnya bahagia adalah jika ia bisa berhasil membela orang-orang lemah dari jeratan hukum. Oleh karena itu, ia tidak bisa tinggal diam ketika kasus yang ditanganinya mengalami kesulitan. Bos di tempatnya bekerja, Miki-sensei (Namase Katsuhisa) meminta Mayuzumi untuk menyerah menangani kasus tersebut. Tapi tentu saja Mayuzumi tidak mau menyerah. Atas saran sekretaris Miki-sensei yang bernama Sawaji Kimie (Koike Eiko), Mayuzumi lalu mencoba untuk meminta bantuan seorang pengacara bernama Komikado Kensuke (Sakai Masato). Komikado-sensei sendiri dulunya (tepatnya tiga tahun yang lalu) pernah bekerja di Miki Law Office. Namun, ada suatu kejadian yang membuat Miki-sensei menjadi membenci pengacara tersebut sehingga Komikado-sensei pun keluar dari Miki Law Office dan menjadi pengacara independen. Ia membuka kantor di rumahnya dengan ditemani oleh Hattori-san (Satomi Kotaro), seorang butler berusia paruh baya yang tampaknya punya banyak keahlian.

Yang menjadi masalah adalah, Komikado-sensei adalah seorang pengacara yang merupakan kebalikan dari Mayuzumi. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dia adalah pengacara yang sangat jenius. Ia juga tidak pernah kalah satu kalipun dalam ruang sidang. Namun, ia bukanlah sosok pengacara ideal di mata Mayuzumi. Ya, Komikado-sensei bukanlah tipe pengacara yang sangat menjunjung tinggi kebenaran. Ia mau membela siapapun selama ia dibayar dengan bayaran tinggi. Dan jika sudah begitu, tanpa peduli orang yang dibelanya benar atau salah, ia akan menjamin bahwa ia akan memenangkan kasus yang diambilnya. Meskipun begitu, Mayuzumi tetap berusaha keras meminta bantuan Komikado-sensei. Oleh karena beberapa hal, Komikado-sensei akhirnya mau membantu Mayuzumi. Dan kemenangan pun berhasil ia dapatkan. Setelah kasus pertama itu selesai, Mayuzumi lalu memutuskan untuk mengundurkan diri dari Miki Law Office dan bekerja pada Komikado-sensei dengan alasan “aku ingin mengetahui apa yang harus aku percayai” (sekaligus untuk membayar hutangnya pada Komikado-sensei pada kasus yang pertama). Selain itu, Mayuzumi juga berharap suatu hari bisa mengalahkan Komikado-sensei. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Mayuzumi akan bertahan bekerja dengan pengacara eksentrik yang punya prinsip berlawanan dengannya itu? Apakah suatu saat ia akan berhasil mengalahkan Komikado-sensei? Dan kejadian apakah yang membuat Miki-sensei menjadi membenci dan berambisi mengalahkan Komikado-sensei? Tonton aja deh.

Legal High adalah satu-satunya dorama musim semi tahun ini yang berhasil saya tonton sampai tamat. Saya sendiri biasanya selalu malas untuk menonton dorama bertemakan pengacara, tapi adanya nama Sakai Masato sebagai pemeran utamanya membuat saya tidak bisa untuk tidak menonton dorama ini. Ya, baru-baru ini saya lagi naksir sama aktor satu itu. Dan untungnya saya tidak dikecewakan oleh dorama berjumlah 11 episode ini. Dan menurut saya dorama ini adalah salah satu dorama paling menyenangkan dan menghibur di tahun 2012 ini.

Yang saya suka pertama-tama dari dorama ini adalah dorama ini bukan dorama tentang pengacara yang klise. Yeah, ketika mendengar kalimat “dorama tentang pengacara” yang terpikir pastilah pengacara-pengacara idealis yang berusaha keras dalam memperjuangkan kebenaran. Tokoh utama dorama ini jaaaaauh sekali dari tipikal pengacara semacam itu. Pengacara di sini adalah pengacara yang mata duitan. Dia mau saja membela pihak yang mungkin bersalah di mata masyarakat selama ia dibayar untuk itu. Misalnya pada episode empat, ketika kasusnya berkisar tentang warga pada suatu kompleks yang berusaha menuntut sebuah perusahaan real estate atas pembangunan apartemen di daerah mereka. Pengacara ideal mungkin akan memilih untuk membela masyarakat kompleks tersebut yang jelas-jelas berada di pihak yang lemah atau ‘teraniaya’. Namun Komikado-sensei malah memilih membela perusahaan real estate tersebut (karena dibayar besar). Hal ini menunjukkan sisi pengacara yang lebih realistis, bahwa tugas pengacara adalah untuk membela pihak yang dibelanya. Dan pengacara bukanlah Tuhan yang bisa menentukan kebenaran. Dorama ini juga menunjukkan bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan dengan begitu mudahnya. Dan suatu hal yang kita anggap sebagai kebenaran belum tentu sesungguhnya benar. Terdengar kejam dan sinis ya? Tapi di sini juga kita diperlihatkan pada sosok Mayuzumi. Perempuan yang biasa dipanggil Komikado-sensei dengan sebutan Asadora Heroine itu adalah tipikal pengacara klise yang saya sebutkan sebelumnya. Dia pengacara yang idealis dan selalu ingin membela yang lemah, tapi sebenarnya sangat naïf dan kurang berpikir panjang. Keberadaan perempuan itu sendiri seperti menyiratkan bahwa masih ada kesempatan bagi pengacara berhati bersih seperti Mayuzumi. Di bagian opening di setiap episodenya kita akan melihat sosok Mayuzumi yang berusaha mengalahkan Komikado-sensei dengan setting ala Godzilla vs Ultraman. Hal itu seperti menyiratkan adanya pertarungan antara karakter pengacara idealis dengan pengacara realistis. Lalu, siapakah yang menang? Pengacara yang idealis atau yang realistis? Silakan tonton sendiri jika ingin tahu 😀

Hal kedua yang saya suka adalah unsur komedi di dalamnya. Well, paragraf sebelumnya mungkin terdengar serius tapi sebenarnya dorama ini jauh dari kesan serius karena dihiasi dengan bumbu komedi. Unsur komedi di sini masih memiliki kaitan yang kuat dengan karakteristiknya. Pengacara seperti Komikado-sensei mungkin adalah jenis pengacara yang sangat dihindari untuk ditemui di dunia nyata. Namun, dorama ini berhasil membuat tokoh tersebut menjadi sangat menarik dan memancing tawa. Gaya rambutnya yang klimis, cara bicaranya yang super cepat, sampai gerak-geriknya yang kadang seperti anak-anak membuat karakter ini menjadi sangat memorable di mata saya. Oleh karena itu, meskipun secara moral sifatnya sebagai pengacara itu tidak bisa dibilang terpuji, tapi dengan mudah penonton mungkin akan lebih memilih untuk mendukungnya daripada Mayuzumi. Sakai Masato menurut saya sangat berhasil memerankan perannya sebagai Komikado-sensei (dan bikin saya makin naksir, hehe), dan karakternya sangat menyumbang kontribusi yang besar terhadap tawa yang keluar ketika menonton dorama ini. Aragaki Yui sebagai partner (sekaligus lawan) Komikado-sensei juga ternyata berhasil menampilkan akting yang baik dan mampu mengimbangi akting aktor satu itu. Interaksinya dengan Sakai Masato juga lucu (cuma gak sampe bikin saya pengin nge-ship pasangan ini). Aktor dan aktris lainnya seperti Namase Katsuhisa, Koike Eiko, Satomi Kotaro, dan Taguchi Junnosuke juga berhasil memerankan perannya masing-masing denga baik dan membuat dorama ini menjadi lebih berwarna. Dorama ini juga turut dimeriahkan oleh para bintang tamu di setiap episodenya, mulai dari Nakamura Aoi, Fukuda Saki, Nagayama Kento, dan masih banyak lagi.

Dari segi tema hukumnya, menurut saya tema tersebut berhasil digarap dengan baik dan menarik. Kasus-kasus yang dihadirkan di sini pun variatif. Ada kasus pembunuhan, hak cipta, stalker, perceraian, warisan, dan berbagai macam kasus lainnya sehingga setiap episodenya terasa fresh dan gak monoton (dan menambah pengetahuan juga). Cara Komikado-sensei dalam usahanya untuk memenangkan kasus yang dipegangnya pun sangat menarik untuk disimak. Misalnya di episode satu ia berusaha untuk mencari kisah-kisah mengharukan tentang orang yang dibelanya demi memancing simpati masyarakat (mengingatkan saya pada reality show di tv). Ia juga bisa melakukan hal yang mungkin bisa dibilang ilegal demi memenangkan kasusnya, seperti menyewa mata-mata untuk menyelidiki lawannya. Yeah, berbagai cara bisa dilakukan Komikado-sensei demi memenangkan kasus yang ditanganinya.

Overall, saya suka banget sama dorama ini. Dorama ini cocok ditonton oleh penyuka dorama tentang pengacara yang gak klise dan juga penyuka dorama komedi. 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »