Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘k-movie’ Category

Well, di postingan kali ini saya akan memberikan review singkat (mudah-mudahan) dari dua film yang saya tonton belakangan ini. Kebetulan dua film ini memiliki beberapa kemiripan. Dua-duanya bergenre romance dengan dua orang tokoh utama yang hampir sepanjang film tidak pernah saling bertemu secara langsung. Tahun rilisnya pun sama. Film-film apakah itu? Mari kita lihat sinopsisnya terlebih dahulu 🙂

1. Oto-na-ri (Japan, 2009)

Dua tokoh utama film ini sebenarnya memiliki jarak yang sangat dekat, tapi mereka sama sekali tidak pernah saling bertatap muka. Apa hubungan mereka? Ya, tetangga. Satoshi (Okada Junichi) dan Nanao (Aso Kumiko) tinggal di apartemen yang bersebelahan, tapi mereka tidak pernah yang namanya saling bertemu atau berpapasan (apalagi jam kerja mereka pun berbeda). Meskipun begitu, mereka tetap menyadari keberadaan masing-masing. Ya, dinding tipis apartemen mereka membuat mereka bisa saling mendengarkan bunyi-bunyian yang mereka keluarkan. Bunyi gemerincing kunci Satoshi, nyanyian yang selalu disenandungkan Nanao, bunyi mesin pembuat kopi Satoshi, ucapan bahasa Prancis yang dipelajari Nanao melalui CD, dan bunyi-bunyian lainnya. Lalu, apakah suatu saat mereka akan saling bertemu?

2. Castaway on the Moon (South Korea, 2009)

Seorang pria (diperankan Jung Jae-Young) mencoba bunuh diri dengan menjatuhkan diri ke Han River. Hasilnya, ia bukannya mati dan malah terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang letaknya masih di dalam kota. Awalnya dia ingin keluar dari pulau tersebut, tapi sedikit demi sedikit ia mulai nyaman dengan kesendiriannya di pulau itu. Lalu ada seorang perempuan (diperankan Jung Ryeo-won) yang tidak pernah keluar dari kamarnya selama bertahun-tahun. Hidupnya dihabiskan di internet dengan mencuri identitas orang lain. Dua kali dalam setahun, ia akan membuka jendelanya dan melihat-lihat dunia luar melalui teropong berkameranya. Dan ketika itu, ia menangkap pemandangan pria yang terdampar tersebut melalui teropongnya. Si perempuan pun berusaha untuk berkomunikasi dengan lelaki di pulau tersebut dengan caranya sendiri. Lalu, apakah suatu saat mereka akan bertemu?

Seperti yang saya bilang di atas, kedua film ini memiliki beberapa kemiripan meskipun sebenarnya kedua film ini punya cerita dan gaya yang sangat berbeda. Selanjutnya, reviewnya dipoin-poin aja ya 😀

  • Keduanya adalah film romance yang tidak hanya bicara tentang cinta.

Untuk Castaway on the Moon, malah pada awalnya saya tidak tahu bahwa film itu adalah film romance (cuma tahu kalo itu ceritanya tentang orang yang terdampar di pulau). Ya, meskipun bergenre romance, kedua film ini bukan tipe film yang ngomongin cinta melulu. Kedua tokoh utama dari masing-masing film ini memiliki cerita dan masalah masing-masing. Untuk Oto-na-ri, masalah yang dimiliki kedua tokoh utamanya adalah tentang karir dan kegamangan akan masa depan. Satoshi adalah seorang fotografer yang bisa menjadi fotografer sukses berkat bantuan sahabatnya, Shingo, yang seorang model. Tapi memfoto model bukanlah hal yang disukainya. Ia lebih suka memfoto pemandangan daripada manusia. Namun sang sahabat sudah sangat bergantung pada dirinya dan malah menghilang ketika Satoshi menyatakan keinginan sebenarnya. Belum lagi dengan kemunculan pacar Shingo yang datang pada Satoshi untuk mencari Shingo. Sementara itu Nanao adalah seorang perempuan yang mengutamakan karirnya di atas segalanya. Ia bekerja di toko bunga dan sebentar lagi akan pindah ke Prancis demi karirnya. Karena sangat mengutamakan karirnya, ia pun sering tidak peduli pada kehidupan pribadinya. Sampai suatu hari datang seorang laki-laki pegawai mini market langganannya yang datang ke tokonya dan mengaku sebagai pengagumnya.

Masalah yang dialami kedua tetangga ini kurang lebih sama. Mereka sukses di karir masing-masing. Tapi mereka bingung. Mereka sama-sama tidak tahu apakah pilihan yang akan mereka ambil selanjutnya adalah pilihan yang terbaik untuk mereka. Mereka juga sama-sama merasa sendirian. Mereka hanya butuh orang lain untuk ada di sisi mereka, untuk mendengarkan, atau untuk bertanya “apakah kamu baik-baik saja?” Jika diibaratkan, hubungan mereka berdua sama seperti masalah mereka masing-masing. Mereka dekat tapi tidak pernah bertemu. Tapi bukan berarti mereka tidak akan pernah bisa bertemu. Semuanya tergantung dari pilihan. Jika mereka memilih untuk bertemu, mereka akan bertemu. Hal itu berlaku juga pada masalah yang dialami mereka berdua. Mereka berdua sama-sama punya pilihan. Yang paling penting, apakah mereka mau memilih atau tidak?

Untuk Castaway on the Moon, masalah yang dialami masih mirip dengan masalah yang ada di film Oto-na-ri, yaitu sama-sama masalah yang sangat mungkin dialami oleh masyarakat di zaman modern ini. Masalah di sini adalah kedua tokohnya merasa sangat nyaman dengan kesendirian. Si laki-laki merasa frustrasi, mencoba bunuh diri tapi malah terdampar di sebuah pulau yang menjadi surga baginya. Hidup di pulau dengan modal barang-barang bekas tentunya berbeda dengan hidup di kota. Ia seperti kembali ke zaman primitif. Namun, kadang kembali jadi primitif membuat seorang manusia merasa menjadi lebih nyaman daripada tinggal di kota yang penuh kemudahan. Ia mengenal kembali kata “perjuangan”, “keterbatasan”, dan “harapan”. Dan hal itu membuatnya lebih bahagia dan kembali memiliki harapan hidup. Sementara itu si perempuan terjebak dengan kemudahan zaman modern. Tanpa perlu keluar dari kamarnya, ia bisa menjadi siapa saja. Ia bisa berkomunikasi dengan siapa saja tanpa perlu capek-capek ke luar rumah. Namun, dengan melihat si laki-laki yang tengah berjuang di kejauhan, ia pun ingin ikut berjuang juga. Melalui si laki-laki, ia kembali mengenal kata “harapan” dan berusaha keluar dari zona nyamannya.

Yak, masih sama dengan dengan Oto-na-ri, kedua tokoh di film ini juga masing-masing punya pilihan untuk keluar dari masalahnya. Bedanya, jika dua tokoh di film Oto-na-ri ini punya pilihan untuk keluar dari kondisi yang tidak nyaman, kedua tokoh di Castaway on the Moon punya pilihan untuk keluar dari zona nyaman. Dan masalahnya mereka berdua pada awalnya tidak merasa butuh untuk mengambil pilihan itu. Mereka sama-sama menyukai kesendirian. Namun, sedikit demi sedikit, melalui usaha si perempuan untuk berkomunikasi dengannya, mereka berdua menyadari bahwa mereka tetap membutuhkan orang lain. Senyaman apapun dengan kesendirian, mereka akan lebih bahagia lagi ketika ada seseorang yang mau membalas pesan mereka.

  • Kedua tokoh utama dalam kedua film ini punya cara berkomunikasi yang sangat unik.

Kedua tokoh utama dari kedua film ini hampir sepanjang film tidak pernah saling bertatap muka secara langsung. Pasangan di Oto-na-ri dipisahkan oleh sebuah dinding tipis. Pasangan di Castaway on the Moon dipisahkan oleh sebuah sungai. Namun, mereka berdua punya cara sendiri untuk berkomunikasi. Di Oto-na-ri? Melalui bunyi-bunyian. Makanya pas nonton film ini kita harus pasang telinga baik-baik karena bunyi-bunyian di film ini menjadi kunci untuk memahami hubungan mereka. Ada satu adegan yang menjadi favorit saya (mungkin spoiler). Suatu kejadian membuat ketegaran pada diri Nanao akhirnya runtuh juga. Hal itu disadari oleh Satoshi, ketika ia menangkap ada getaran pada suara Nanao ketika ia sedang belajar bahasa Prancis melalui CD. Satoshi pun menyenandungkan lagu yang sering disenandungkan Nanao untuk menghibur tetangganya tersebut. Dan mereka pun bernyanyi bersama (sampai akhirnya terhenti oleh suara telepon yang mengganggu. Cih…). Menurut saya itu adegan yang sangat romantis dan manis.

Sementara itu, cara berkomunikasi di Castaway on the Moon adalah melalui pesan di botol dan tulisan di pasir. Yang ini agak-agak susah komunikasinya, karena pesan di botol tersebut bisa susah ditemukannya (pesan yang pertama sampai setelah berbulan-bulan). Tapi ini yang bikin hubungan mereka jadi lucu. Apalagi pesan-pesan tersebut memakai bahasa Inggris dan isinya singkat sekali, tapi tetap membuat mereka merasa bahagia ketika mendapat balasan.

  •  Endingnya….. 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Kedua film ini punya ending yang kurang lebih sama dan gampang ditebak, tapi tetap bikin saya terkesan karena ending keduanya sama-sama manis (terutama Oto-na-ri). Yang jelas ending dari kedua film ini akan meninggalkan senyuman di wajahmu 🙂

  • Kesimpulan:

Oto-na-ri: Secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini. Seperti kebanyakan film Jepang, film ini berjalan dengan tenang dan lambat, dan mungkin akan membuat ngantuk sebagian orang. Tapi saya merasa baik-baik saja dengan temponya yang lambat (udah sering nonton yang lebih lambat dari ini). Yang jelas film ini adalah tipe film yang masih bisa membuat saya senyam-senyum sendiri meskipun nontonnya udah berminggu-minggu yang lalu. Cocok ditonton penyuka film romance yang simpel tapi unik dan manis. 4/5

Castaway on the Moon: Saya pun sangat menyukai film ini. Jika dibandingkan dengan Oto-na-ri yang lebih sederhana, film ini memiliki ide yang lebih tidak biasa dan sulit dibayangkan untuk terjadi di dunia nyata. Dan jika Oto-na-ri lebih condong ke drama, film ini lebih condong ke komedi. Sangat cocok untuk ditonton pecinta film komedi romantis yang sedikit unik. 4/5

Advertisements

Read Full Post »

Saya adalah penggemar kata-kata. Saya sering kali terkagum-kagum ketika melihat bahwa satu buah kata saja bisa dikembangkan menjadi banyak hal, termasuk menjadi tema film. Sutradara asal Korea Selatan bernama Park Chan-wook mungkin adalah salah satu orang yang berhasil mengembangkan satu buah kata ke dalam media film. Dan tidak tanggung-tanggung, tidak hanya satu film saja yang ia buat, tapi tiga film! Dan tiga film dengan cerita berbeda tersebut semuanya sama-sama bersumber dari satu kata saja, yaitu kata vengeance (sengaja pake istilah Inggrisnya, karena kalo dibahasa Indonesia-kan maka artinya jadi pembalasan dendam, dan jadinya dua kata dong, hehehe). Tiga film yang kemudian terkenal dengan sebutan Vengeance Trilogy tersebut masing-masing memiliki judul “Sympathy for Mr. Vengeance”, “Oldboy”, dan terakhir “Lady Vengeance”. Namun, yang akan saya bahas kali ini adalah film pertamanya yang berjudul “Sympathy for Mr. Vengeance”, sekaligus film terakhir yang saya tonton dari trilogi ini (urutan nonton: Oldboy -> Lady Vengeance -> Sympathy for Mr. Vengeance).

Alkisah dalam film ini ada seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya. Adik tersebut bernama Ryu (Shin Ha-kyun), yang merupakan seorang penderita bisu-tuli. Kakak yang disayanginya ini terserang penyakit gagal ginjal. Karena sayang banget sama kakaknya, tentunya Ryu pun bertekad untuk menyumbangkan ginjalnya dong. Namun, sayangnya, golongan darah yang berbeda membuat Ryu tidak boleh mendonorkan ginjalnya tersebut. Dan sialnya, pada saat itu belum ditemukan pendonor baru untuk kakaknya. Padahal Ryu punya uang sebesar 10 juta Won yang bisa ia gunakan untuk membayar si pendonor. Di tengah keresahan hati Ryu akibat tidak adanya pendonor, ia melihat sebuah stiker yang memuat iklan tentang pasar gelap yang menjual organ tubuh manusia. Karena ingin kakaknya cepat-cepat sembuh, maka tanpa berpikir panjang Ryu pun menghubungi pasar gelap tersebut. 10 Juta Won yang ia miliki ternyata tidak cukup untuk membeli ginjal dari pasar gelap tersebut. Si penjual pun berkata bahwa Ryu bisa mendapatkan ginjal yang ia mau jika ia mau membayar uang tersebut beserta ginjal yang ia miliki. Demi kakaknya, ia pun mau menyumbangkan ginjal miliknya kepada pasar gelap tersebut. Setelah ginjalnya diambil, bangun-bangun ia mendapati dirinya dalam keadaan telanjang bulat dan para penjual organ tubuh tersebut menghilang beserta uang dan ginjal miliknya tersebut. Yeah, ia ditipu sodara-sodara. Dan yang paling naas adalah, setelah kejadian itu, dokter sang kakak memberitahu Ryu bahwa akhirnya ada pendonor yang mau menyumbangkan ginjalnya untuk sang kakak. Ryu hanya bisa terpaku mendengar hal itu. Ia sudah tidak punya uang lagi untuk membayar pendonor tersebut. Dan tentunya mendapatkan uang sebesar 10 juta won itu bukanlah hal yang mudah. Uang 10 juta won yang ia miliki sebelumnya pun ia dapatkan karena perusahaan tempat ia bekerja memecatnya (alias uang pesangon).

Ketika memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang yang baru, Yeong-mi (Bae Doo-na) yg merupakan kekasih Ryu memberi Ryu ide untuk menculik anak perempuan dari Park Dong-jin (Song Kang-ho), mantan bos yang telah memecatnya tersebut. Awalnya Ryu menolak hal tersebut. Namun, Yeong-mi meyakinkan bahwa hal tersebut tidak akan menimbulkan kerugian apa-apa. Tinggal culik -> minta tebusan pada sang ayah-> diberi uang tebusan -> kembalikan si anak pada ayahnya. Terdengar mudah bukan? Toh si ayah adalah orang kaya. Kehilangan uang sebesar 10 juta won tidak akan membuatnya menjadi miskin. Akhirnya Ryu menyetujui ide tersebut. Penculikan pun dimulai. Namun, sebuah rencana tidak akan menjadi semudah kelihatannya ketika dilakukan bukan? Ya, penculikan yang ia lakukan kemudian berjalan tidak sesuai rencana. Sesuatu terjadi pada si anak, dan pembalasan dendam pun dimulai…

Menurut saya, film ini sangat berhasil dalam menggambarkan dendam dan akibatnya jika dendam tersebut dibalaskan. Pada awalnya, pas pertama nonton saya sempet dibikin ngantuk sama film ini. Dan baru 15 menit nonton saya langsung matikan filmnya. Mungkin karena waktu itu saya nonton pas mood-saya lagi gak tepat buat nonton tipe film sepi kayak gini ya, hehe. Ketika akhirnya saya mencoba menonton kembali film ini (yang adalah beberapa bulan setelah yang pertama itu :D), saya dibuat terhipnotis oleh cara penyampaian film ini. Film ini adalah sebuah film yang setelah menontonnya saya merasakan perasaan seperti…err..patah hati? Rasanya sedih banget di dada ini. Sedih di sini tidak sama seperti perasaan sedih ketika menonton film sedih yang mendayu-dayu ya. Namun sedih di sini lebih mirip kayak waktu abis nonton film All About Lily Chou-Chou. NYESEK! Nah, itu dia kayaknya kata yang lebih pas untuk menggambarkan perasaan saya setelah nonton film ini 😀

Melalui film ini, saya jadi mengerti kenapa orang-orang bijak selalu memberi nasihat agar kita jangan mudah mendendam. Kenapa? Karena dendam adalah suatu hal yang tidak akan pernah berujung. Ketika kita melakukan hal yang buruk pada seseorang, akan ada orang lain yang akan membalaskan perbuatan buruk kita tersebut. Dan setelah itu, akan ada orang lain juga yang akan membalaskan perbuatan orang yang membalaskan perbuatan buruk kita tersebut. Ribet ya? Hehe. Tapi itulah dendam. Seperti lingkaran setan yang tidak berujung. Ketika sebuah dendam dibalaskan, bukan berarti semua hal jadi selesai begitu saja. Yang ada, masalah-masalah baru yang akan muncul. Ya, setidaknya itulah yang saya tangkep dari film ini :D.

Dan faktor utama yang membuat film ini jadi sungguh menyesakkan jiwa adalah, karena pelaku-pelaku pembalas dendam dalam film ini pada dasarnya adalah orang-orang yang baik. Ryu dan Dong-jin itu adalah orang baik. Dan pembalasan dendam tersebut dilakukan semata-mata karena satu hal, yaitu kasih sayang mereka pada masing-masing orang yang mereka cintai. Saking sayangnya sama kakaknya, Ryu rela menyumbangkan ginjalnya pada orang tak dikenal. Saking sayangnya pada anaknya, Dong-jin rela untuk tidak melapor polisi dan menuruti perintah penculik demi keselamatan anaknya. Ketika segala hal tersebut tidak berjalan sesuai rencana dan menimbulkan hal yang buruk pada masing-masing orang yang mereka sayangi, perasaan dendam pun tumbuh di hati mereka.  Dari situlah mungkin judul film itu tercipta. Kita tidak bisa memihak mana yang salah dan mana yang benar di sini. Namun, kita sama-sama merasakan perasaan simpati kepada kedua tokoh yang berlawanan ini.

Dari segi thriller-nya, mungkin film ini tidak se-thrilling dan se-shocking Oldboy ya. Film ini menurut saya tergolong thriller yang sepi. Adegan-adegan berdarahnya tetap ada sih, dan ada beberapa adegan yang membuat emosi saya serasa diaduk-aduk, biarpun adukannya tidak sekencang Oldboy :D. Tapi menurut saya bukan itu poin dari film ini. Film ini seperti lebih ingin menunjukkan konsekuensi dari pembalasan dendam, dan bukan proses pembalasan dendam seperti pada Oldboy. Film ini juga lebih menunjukkan bagaimana kondisi psikologis para pelaku pembalas dendam, bahwa orang-orang baik seperti mereka saja bisa berubah dan mampu melakukan apa saja, termasuk hal-hal yang melampaui batas moral, ketika dendam tumbuh di hati mereka.

Overall, saya sangat menyukai film ini. Film ini cocok untuk ditonton oleh para penyuka film thriller, terutama thriller yang gak asal menegangkan saja, tapi juga bikin mikir. Ja, 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

1. Hello Ghost (South Korea, 2010)

Well, saya nonton ini karena katanya ini film komedi dan kebetulan otak saya lagi mumet dan saya lagi butuh sesuatu yang bisa bikin saya ketawa. Apalagi nama Cha Tae-Hyun (My Sassy Girl) sebagai pemeran utamanya semakin membuat saya yakin bahwa film ini akan menjadi sangat menghibur. Hello Ghost sendiri bercerita tentang seorang pria sebatang kara bernama Sang-man yang baru saja gagal bunuh diri. Setelah kegagalannya tersebut ia jadi bisa melihat makhluk halus. Ada empat hantu yang bisa dilihatnya, dan keempat hantu ini selalu mengikutinya ke sana ke mari. Karena hantu-hantu tersebut selalu membuatnya kerepotan (karena selain mengikuti, mereka juga selalu meminjam tubuh Sang-man), Sang-man lalu berjanji untuk memenuhi keinginan mereka yg belum terpenuhi asalkan mereka mau pergi setelah Sang-man memenuhi janjinya tersebut. Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah Sang-man berhasil memenuhi janjinya? Apakah hantu-hantu tersebut akan pergi dari kehidupan Sang-man? Well, pas menit-menit pertama nonton saya rada kecewa sama film ini, karena tadinya saya membayangkan film ini akan berhasil mengocok perut saya. Kenyataannya? Tidak ada satupun tawa keluar dari mulut saya. Jadi filmnya jelek pris? Nggak kok. Bagian komedi-nya menurut saya memang gagal (tapi selera humor setiap orang pasti berbeda-beda kan?) dan menurut saya film ini rada membosankan di satu jam pertama. Tapi tunggu dulu, bersabarlah menunggu akhirnya. Awalnya saya udah mau ngasih penilaian rendah ke film ini, tapi begitu sampai ke bagian akhir, saya benar-benar dikejutkan oleh endingnya yang tidak terduga dan sangat mengharukan. Dan ekspresi datar saya selama menonton film ini tiba-tiba berubah aja dong menjadi ekspresi mewek karena endingnya tersebut. Kekuatan film ini memang ada pada endingnya, yang menjadikan film ini menjadi membekas di hati dan tidak hanya sekadar numpang lewat saja. Oh ya, kabarnya Chris Colombus (Harry Potter 1 & 2) tertarik untuk membuat adaptasi dari film ini loh 😀 3,75/5

2. Lars and The Real Girl (2007)

Lars (Ryan Gosling), adalah seorang pria antisosial yang senang sekali menyendiri. Saking antisosialnya, diajak makan sama kakak iparnya sendiri, harus dipaksa dengan berbagai macam cara terlebih dahulu. Lalu bagaimana jika seorang antisosial seperti Lars tiba-tiba punya pacar? Semua orang tentunya akan senang karena itu artinya Lars mulai membuka diri pada orang lain. Namun ternyata, ‘pacar’ di sini bukanlah manusia normal seperti yang kita kira. ‘Pacar’ baru Lars ini memang cantik (mirip Angelina Jolie kalo kata saya), tapi dia hanyalah berupa boneka plastik (sex doll gitu namanya) yang tentunya sama sekali bukan makhluk bernyawa. Tapi Lars menganggap Bianca (nama boneka tersebut) benar-benar hidup, dan sifat antisosialnya mulai sedikit berkurang sejak ada Bianca. Lalu, apa yang selanjutnya akan terjadi? Apakah Lars akan sadar bahwa Bianca hanyalah sebuah boneka? Apakah ia akan menemukan perempuan nyata yang sebenarnya? Menurut saya, ide cerita film ini sangat menarik. Saya juga suka akting Ryan Gosling di sini, yang rada beda sama aktingnya di film-filmnya yang lain (The Notebook, Blue Valentine). Menurut saya, yang menarik dari film ini adalah bagaimana perlakuan orang-orang di sekitar Lars di mana mereka sama sekali tidak mencemooh keanehan yang ada pada diri Lars, melainkan malah ikut berakting menganggap Bianca benar-benar ada demi ‘kesembuhan’ Lars.  Tapi biarpun ide ceritanya sangat menarik, sayangnya film ini disajikan dengan sangat datar sehingga filmnya jadi rada membosankan dan bikin saya hampir ketiduran berkali-kali. Konflik yang ada terasa kurang nendang dan datar. Padahal dengan ide cerita yang unik tadi, menurut saya film ini masih bisa dibuat jadi lebih menarik lagi. 3/5

 3. Triangle (2009)

Doyan film yang mengandung banyak twist tak terduga? Silakan tonton film ini, karena twist yang ada di sini tidak hanya muncul sekali atau dua kali, melainkan banyak. Menonton film ini rasanya seperti sedang menelusuri sebuah lingkaran setan yang tidak pernah berujung (yeah, biar judulnya “segitiga”, tapi kan sama-sama gak berujung juga yes?). Bercerita tentang seorang perempuan bernama Jess (Melissa George), yang suatu hari pergi berlayar bersama teman-temannya. Lalu, di tengah laut tiba-tiba badai menyerang dan menyebabkan kapal yang mereka naiki tidak bisa digunakan lagi. Di tengah kebingungan mereka, tiba-tiba ada kapal pesiar besar mendekati mereka. Apakah itu menandakan mereka beruntung? Tidak juga, karena segala keanehan mulai terjadi begitu mereka menaiki kapal yang tidak terlihat di mana penghuninya tersebut. Sosok misterius muncul dan menyerang mereka semua. Jess menjadi satu-satunya yang bertahan. Lalu, apakah penderitaan Jess di kapal tersebut akan berakhir? Yap, saya sudahi ceritanya di sini karena takutnya bakalan spoiler. Biarpun ratingnya di IMDb hanya 6,8,  menurut saya ini adalah salah satu thriller terbaik yang pernah saya tonton. Film ini memang bukan tipe film yang memperlihatkan banyak darah. Unsur ketegangan yang dihadirkan pun tidak tergolong dahsyat (tapi saya lumayan tegang nontonnya). Lalu, apa kelebihan dari film ini? Ya itu tadi, twist-twist tidak terduga dan teka-teki yang terkandung dalam film ini. Yang nonton pasti akan dibuat bingung dan pasti akan ngedumel dalam hati: “kok bisa gitu? Kok bisa gini?” Tapi tunggu dulu, perhatikan film ini dengan baik-baik. Banyak detail kecil yang mungkin terlihat tidak penting, tapi rupanya merupakan kunci untuk menjawab misteri yang ada dalam film ini. Film ini juga mengandung banyak penyimbolan (dari judulnya aja udah kerasa penyimbolannya) yang menjadikan film ini tidak berakhir sebagai sekadar thriller biasa. Yeah overall film ini menurut saya bukan film yang cuma bisa sekadar asal ditonton, tapi juga harus dipecahkan (teka-tekinya), karena film ini sama sekali tidak menyediakan jawaban langsung seperti film-film bertwist kebanyakan. Film ini hanya menyediakan petunjuk-petunjuk. Dan ketika kita berhasil menemukan jawabannya, kamu akan merasakan sebuah sensasi kepuasan yang akan membuat kamu terkagum-kagum pada film ini. 4/5

Read Full Post »

Short Reviews #3

1. Sad Movie (South Korea, 2005)

Untuk urusan film sedih, terutama genre drama percintaan, Korea emang jagonya. Dan kalo kita lihat dari judul film satu ini, dengan mudah kita bisa menebak kalo ini adalah another sad movie from Korea. Dan pas ditonton, emang sedih sih filmnya. Tapiiii, meskipun judulnya film sedih, tapi film ini bukan tipe film yang sedihnya konstan dari awal sampai akhir kok. Part sedihnya itu cuma ada di bagian-bagian akhir (dan sedihnya lumayan nampol dan berhasil bikin saya menitikan sedikit air mata), dan di bagian awalnya banyak diisi adegan-adegan lucu dan menyenangkan yang berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri (ditambah warna-warna cerah yang membuat film ini semakin menyenangkan di bagian awalnya *btw sinematografinya cantiiiik*). Film ini sendiri merupakan film dengan tema multiplot dengan empat cerita di dalamnya, yang semuanya berjalan saling beriringan dan masing-masing cerita memiliki hubungan satu sama lain (tapi tidak saling mempengaruhi). Empat cerita di dalamnya masing-masing punya tema yang hampir mirip, yaitu tentang hubungan antara dua orang manusia. Tapi hubungan antara dua orang yang saya maksud di sini bukan berarti hubungan pacaran aja loh. Ada hubungan antara sepasang kekasih, ada hubungan antara ibu dan anak, hubungan seorang pria dengan mantan kekasihnya, dan hubungan antara seorang perempuan dengan gebetannya. Semua ceritanya saya suka, terutama cerita tentang hubungan antara seorang perempuan dengan gebetannya (maap, lupa nama karakternya) yang digambarkan dengan sangat unik. Jadi ceritanya si perempuan ini seorang tuna rungu yang sehari-harinya bekerja sebagai badut di sebuah taman hiburan, dan diam-diam dia jatuh cinta pada seorang pelukis muda  yang sering datang ke taman hiburan tersebut untuk melukis. Tanpa pernah membuka kostum badutnya, si cewek ini kemudian mendekati si pelukis tersebut dan bikin si pelukis tersebut penasaran mampus dengan identitas asli badut tersebut. Menurut saya cerita yang ini adalah cerita yang paling manis di antara semuanya, dan yang paling berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri. Tapi kalo cerita yang paling sedih itu cerita yang tentang ibu dan anak. Bagian itulah yang bikin saya menitikan air mata *kalo yang lainnya paling berkaca-kaca doang*. Dua cerita yang lainnya pun sama-sama bagus dan menyedihkan. Ja, film ini recommended kok dan cocok untuk ditonton penyuka drama-drama percintaan yang berakhir sedih. Tidak direkomendasikan untuk orang yang lebih suka film-film dengan happy ending. 4/5

2. Densha Otoko / Train Man (Japan, 2005)

Agak telat emang saya nonton film ini, sementara versi doramanya udah saya tonton dari jaman kapan. Dan karena saya udah nonton versi doramanya, makanya pas nonton ini saya nggak ngerasain adanya kejutan karena udah tau jalan ceritanya, dan mau gak mau bikin saya jadi ngebandingin sama versi doramanya. Dan versi doramanya jauuuh lebih bagus dari filmnya, tapi filmnya tetep menghibur kok kalo kata saya. Yak, film ini diangkat dari kisah nyata, tepatnya dari percakapan yang ada di sebuah forum (bbs) terkenal di Jepang. Film ini berkisah tentang kisah cinta antara seorang otaku (baca review doramanya kalo pengen tau pengertiannya) dengan seorang perempuan cantik. Si otaku yang nantinya disebut Densha otoko atau Train Man ini (diperankan Takayuki Yamada) suatu hari menyelamatkan seorang perempuan cantik (diperankan Miki Nakatani) dari gangguan seorang pria mabuk di kereta api. Dia lalu menceritakan pengalamannya tersebut pada sebuah thread di sebuah forum internet. Kemudian banyak user lain yang menanggapi dan mengatakan bahwa si perempuan tersebut pasti akan mengiriminya hadiah sebagai ucapan terima kasih. Dan hal tersebut terbukti, karena keesokan harinya Densha mendapat kiriman berupa seperangkat cangkir mahal dengan merk Hermes (yang nantinya akan menjadi julukan bagi si cewek) dari perempuan tersebut. Teman-temannya di forum kemudian menyemangati Densha untuk mendekati perempuan tersebut. Dan akhirnya, ketebak lah ya. Tapi seperti pada doramanya, yang menjadi inti dari film ini bukan hanya hubungan antara Densha Otoko dan Hermes saja, tapi juga persahabatan antara user-user forum-forum tersebut, di mana hal yang dilakukan Densha Otoko membuat mereka berubah menjadi lebih berani. Tapi sayangnya tidak seperti pada doramanya, hal tersebut gak terlalu keliatan di filmnya dan persahabatan antara mereka terasa kurang ‘dalem’. Mungkin karena durasi filmnya ya yang hanya dua jam saja, sementara versi doramanya  terdiri dari beberapa episode yang membuat perkembangan lebih terlihat. Soal cast, Takayuki Yamada (Crows Zero) dan Miki Nakatani (Memories of Matsuko) berakting lumayan baik di sini sebagai Densha Otoko dan Hermes. Tapi menurut saya Takayuki Yamada ini kurang otaku. Apalagi dia ini kan aslinya udah ganteng, pas abis make over ya langsung ganteng, beda sama Ito Atsushi (pemeran Densha Otoko versi dorama) yang abis make over nambah gantengnya cuma sedikit *hehe*. Dan Miki Nakatani, menurut saya dia ketuaan buat jadi pasangan Takayuki Yamada. Aktingnya cukup bagus sih, tapi saya tetep prefer Ito Misaki sebagai pemeran Hermes yang paling pas. Secara keseluruhan sih filmnya cukup menghibur, tapi saya lebih menyarankan kalian buat nonton versi doramanya (yang merupakan salah satu dorama terbaik yang pernah saya tonton). Oh iya satu lagi, di film ini ada Eita loooh, berperan sebagai salah satu user forum dan juga merupakan seorang hikikkomori. Jadi lumayan lah saya jadi semakin terhibur, hehe. Ja, kalo doramanya saya kasih 5 bintang, untuk film ini saya kasih cukup 3 bintang sahaja. 3/5

3. Tony Takitani (Japan, 2004)

Apakah kamu mengenal Haruki Murakami, novelis Jepang yang bisa dibilang paling terkenal saat ini dan namanya sudah mendunia? Film ini diangkat dari cerpen berjudul sama yang ditulis oleh beliau, dan disutradarai oleh Jun Ichikawa. Film dengan durasi yang tidak begitu panjang ini (76 menit) bercerita tentang seorang pria bernama Tony Takitani (Issei Ogata) yang merupakan orang Jepang asli, tapi namanya yang  kebarat-baratan membuat orang-orang selalu memandangnya dengan pandangan aneh. Hal itu membuat Tony lebih senang menyendiri daripada bergaul dengan orang-orang. Hal tersebut berlanjut sampai dewasa. Tony selalu sendiri dan sebenarnya ia merasa sangat kesepian, sampai suatu saat ia bertemu dengan Eiko (Rie Miyazawa), perempuan yang usianya jauh lebih muda darinya, dan jatuh cinta kepadanya. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah kesendirian Tony Takitani akan berakhir? Menurut saya, film ini sangat pas menggambarkan bagaimana rasanya kesepian, dan usaha orang-orang untuk mengusir rasa tersebut. Dan selayaknya cerpen, film ini lebih banyak menggunakan narasi dalam filmnya. Dan yang unik lagi, karakter-karakter dalam film ini juga ikut masuk ke dalam narasi tersebut, meskipun hanya sedikit-sedikit. Selain itu, yang menjadi kelebihan film ini adalah sinematografinya yang sangat cantik. Ja, film ini cocok untuk ditonton oleh orang-orang galau yang ingin kegalauannya mencapai taraf maksimal *halah*. Dan untuk penggemar Haruki Murakami, rasanya sayang kalau melewatkan film ini. 4/5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya sedang malas menulis review dan malas menulis tulisan yang panjang-panjang, tapi tampaknya udah jadi semacam kebutuhan untuk tidak membiarkan blog ini ditelantarkan begitu lama. Jadi seperti pada postingan yang ini, kali ini saya akan menulis review pendek dari beberapa film (tepatnya 3 film) yang saya tonton belakangan ini. CATATAN: film-film di bawah ini tidak akan saya buatkan review versi panjangnya.

1.  A Tale Of Two Sisters (South Korea, 2003)

Film horror yang berasal dari Asia, tapi bukan dari Jepang ataupun Thailand yang sudah terkenal sebagai penghasil film horror berkualitas, melainkan dari Korea Selatan. Dan ini adalah film horror Korea pertama yang saya tonton. Bercerita tentang sepasang kakak beradik perempuan, Soo-mi (Su-jeong Lim) dan Soo-yeon (Geun-young Moon) yang baru saja kembali ke rumah mereka yang terletak di pedesaan. Di rumah tersebut mereka disambut oleh ibu tiri mereka (Jung Ah-yum), yang tampaknya tidak menyukai kedua kakak beradik itu, dan begitu juga sebaliknya. Setelah kedatangan mereka, mulai muncul kejadian-kejadian aneh di rumah tersebut, seperti penampakan seorang perempuan yang dilihat Soo-mi, serta bibi mereka yang tiba-tiba ‘kesurupan’ saat makan malam bersama mereka. Soo-mi juga menemukan bahwa ibu tirinya tersebut suka menyiksa adiknya, Soo-yeong. Yak, meskipun judulnya film horror, film ini sebenarnya lebih menekankan pada thriller psikologis dibandingkan hal-hal berbau supranatural. Ya, memang ada penampakan hantu dan semacamnya, tapi hanya sedikit dan bukan faktor utama yang menjadikan film ini menjadi horror. Dan daripada menakut-nakuti seperti film-film horror pada umumnya, film ini lebih bertujuan untuk bermain-main dengan pikiran penontonnya. Misteri yang disajikan cukup membuat penasaran, dan endingnya menurut saya tak terduga meskipun awalnya sempat membuat saya bingung. Akting pemainnya pun oke, terutama acting Su-jeong Lim yang pernah saya lihat di film I’m a Cyborg but that’s Ok dan Jung Ah-yum yang berperan sebagai si ibu tiri. Kesimpulannya, buat para penyuka film horror berkualitas, sila tengok film ini : ) 4/5

2. My Brother (South Korea, 2004)

Film Korea lagi. Menonton ini dengan tidak sengaja karena ada di tumpukan dvd pinjeman kakak saya. Dan yeah, nama Won Bin pada covernya lah yang akhirnya bikin saya tertarik nonton film ini ;D Ceritanya tentang sepasang kakak beradik juga kayak film di atas, tapi yang ini laki-laki dan bukan film horror :D. Kalau kakak beradik di A Tale of Two Sisters sangat dekat dan akrab, di sini sebaliknya. Jong-hyun (Won Bin) dan Sung-hyun (Ha-kyun Shin) adalah kakak beradik dengan sifat yang sangat bertolak belakang. Jong-hyun lebih suka berkelahi, sementara Sung-hyun lebih suka  belajar. Dari kecil mereka dibesarkan seorang diri oleh ibu mereka, dan dari kecil Jong-hyun menyimpan kecemburuan pada adiknya yang lebih diperhatikan oleh sang ibu karena Sung-hyun adalah seorang harelip (istilah untuk orang dengan bibir sumbing). Sebenernya film ini biasa aja sih, tapi lumayan mengaduk emosi, terutama di bagian-bagian akhir. Endingnya menyedihkan dan sebenernya udah ketebak sejak lihat adegan pertama dan juga judulnya. But overall, film ini lumayan lah 😀 3/5

3. Crows Zero (Japan, 2007)

Yang ini film Jepang, disutradarai Takashi Miike, dan diperankan oleh Shun Oguri, Takayuki Yamada, dan beberapa aktor lainnya. Bercerita tentang sebuah sekolah bernama Suzuran, sebuah sekolah khusus cowok yang isinya berandalan-berandalan yang tampaknya tak punya hobi lain selain berkelahi. Suzuran ini diisi oleh berbagai macam ‘geng’ yang tidak pernah akur. Lalu muncul Genji (Shun Oguri), murid baru yang datang untuk menaklukan serta menyatukan  semua murid Suzuran. Caranya? Dengan mengalahkan pemimpin-pemimpin geng-geng di sekolah tersebut, terutama mengalahkan Serizawa (Takayuki Yamada) yang disebut-sebut sebagai murid terkuat di Suzuran. Overall film ini cukup menghibur sih. Buat para penyuka film action pasti suka film ini, karena film ini dipenuhi adegan-adegan perkelahian yang keren. Film ini juga memiliki sedikit sentuhan humor, dan saya suka banget karakter yang dimainkan Takayuki Yamada (di mana di sini dia jadi orang terkuat tapi ekspresinya rada-rada bego :D). Tapiiiiiii, meskipun menghibur, tapi saya tidak tahu apa tujuan film ini, menyatukan sekolah dengan cara berkelahi? Sebut saya kuno, tapi menurut saya gak sepantasnya anak-anak SMA ini kerjaannya berkelahi terus, meskipun dengan jalan ini mereka bisa bersatu. Tapi meskipun begitu saya tetep tertarik buat nonton sekuelnya kok. 2,75/5

Read Full Post »

Kasih ibu itu tak terhingga sepanjang masa, kata sebuah lagu. Atas dasar kasih sayang, seorang ibu sering kali mau melakukan apa saja untuk melindungi anaknya, termasuk ketika sang anak dituduh melakukan pembunuhan. Premis dasar itulah yang menjadi ide cerita film asal Korea Selatan berjudul Mother (judul asli: Madeo) ini. Film yang disutradarai oleh Joon Ho-Bong (Tokyo!, The Host) ini bercerita tentang seorang ibu (diperankan Hye-ja Kim) yang merawat anaknya seorang diri. Meskipun sang anak sudah memasuki usia dewasa, sang ibu tetap memanjakannya, bahkan cenderung protektif sehingga membuat sang anak sering kali merasa terganggu. Sikap protektif tersebut sebenarnya wajar, karena Do Joon (nama sang anak, diperankan Won Bin) adalah anak laki-laki yang berbeda dari kebanyakan anak lainnya. Meskipun tidak dijelaskan dalam film ini, melalui tingkah lakunya kita bisa mengetahui bahwa Do Joon adalah seseorang dengan mental yang agak terbelakang. Ia juga memiliki kekurangan lain di mana ia susah mengingat kejadian-kejadian yang baru dialaminya. Karena itulah, meskipun hidup serba kekurangan, sang ibu tetap berjuang keras untuk merawat anaknya dengan sepenuh hati.

Lalu, suatu hari ada suatu kejadian yang menghebohkan daerah di mana ibu dan anak itu tinggal. Sesosok mayat siswi SMU ditemukan di atap sebuah rumah tak berpenghuni, sehingga semua orang di daerah itu dengan mudah bisa melihatnya. Siswi SMU bernama Moon Ah-jung itu diduga kuat merupakan korban pembunuhan, dan malangnya Do Joon kemudian ditetapkan sebagai tersangka utama kasus tersebut. Hal itu terjadi karena di dekat mayat tersebut ditemukan bola golf kepunyaan Do Joon, dan di malam sebelumnya Do Joon memang terlihat sedang membuntuti Ah-jung. Do Joon sendiri tidak ingat sama sekali apa yang ia lakukan semalam, dan dengan paksaan polisi, ia akhirnya terpaksa menandatangani surat pernyataan bahwa ialah pelaku pembunuhan tersebut. Sang ibu tentunya tidak percaya bahwa anaknya tersebut mampu membunuh orang, apalagi Do Joon sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa dengan korban. Berbagai cara ia lakukan untuk membuktikan bahwa anaknya tak bersalah, termasuk dengan meminta Do Joon untuk mengingat-ingat kembali kejadian waktu itu dan mencoba menyewa pengacara termahal di kota tersebut. Namun, hal tersebut tidak menghasilkan apa-apa dan sang ibu kemudian berusaha memecahkan kasus tersebut seorang diri (dibantu sama Jin Tae juga sih, yang merupakan sahabat Do Joon). Untuk menemukan pembunuh sebenarnya, sang ibu kemudian menyelidiki latar belakang Moon Ah-jung, siswi SMU yang dibunuh tersebut. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Do Joon benar-benar tidak bersalah? Apakah sang ibu berhasil menemukan pelaku yang sebenarnya? Tonton aja deh 😀

Tertarik nonton film ini karena sutradaranya adalah Joon Ho-bong, sutradara Korea yang namanya paling saya inget karena salah dua film yang pernah disutradarainya adalah film-film favorit saya (Tokyo! dan The Host). Selain itu, nama si tampan Won Bin yang sudah lama tak terdengar di kancah pertelevisian / perfilman juga lah yang membuat saya tertarik nonton film ini. Dan satu lagi, film ini banjir awards. Salah satunya, film ini memenangkan kategori Best Film pada ajang Asian Film Awards 2010. Jadi, boleh dong ditonton 😀

Hasilnya, saya sama sekali gak nyesel nonton film ini. Filmnya bagus yaaaa 😀 Memang sih, durasinya menurut saya agak kelamaan (dua jam 8 menit) dan di beberapa bagian bisa bikin bosen. But overall, film ini highly recommended. Buat penyuka film Asia, terutama yang menyukai film dengan tema misteri atau thriller, pasti suka film ini. Yang saya suka dari film ini adalah bagaimana cara sang ibu berjuang untuk menemukan pelaku kasus pembunuhan yang sebenarnya. Melalui penyelidikan yang ia lakukan sendiri (dibantu Jin Tae sih), sedikit demi sedikit ia kemudian menemukan ‘pencerahan’ untuk menemukan pelaku sebenarnya. Dan ketika  kita dibawa ke bagian ending, kita akan dibuat menganga saat dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya. Kayak gimana tuuuh endingnya? Kalo saya sebut jadinya spoiler dong :p. Yang jelas endingnya (gak bener-bener ending sih karena di bagian itu filmnya belum benar-benar berakhir) adalah bagian terbaik dari film ini karena sama sekali gak ketebak dan agak-agak bikin shock. Two thumbs up deh buat endingnya 😀

Selain hal di atas, yang menjadi kelebihan film ini adalah akting para pemainnya, terutama Hye-ja Kim yang berperan sebagai sang ‘mother’ dalam film ini. Gak heran, berkat aktingnya yang hebat di film ini, ia kemudian memenangkan penghargaan sebagai Best Actress dalam Asian Film Awards 2010. Won Bin pun berperan lumayan baik sebagai Do Joon, sang anak yang terbelakang mental (dan dasar orang cakep, meskipun perannya terbelakang mental juga, tetep aja keliatan kiyut :p). Selain mereka berdua, pemeran pendukungnya juga jangan dilupakan. Yang paling menonjol sih Ku Jin yang berperan sebagai Jin Tae, teman Do Joon yang cool dan agak sangar dan sempat dituduh sebagai pelaku sebenarnya oleh sang ibu. Aktingnya lumayan bagus di sini (and he’s kinda hot, you know ;p).

Yak, segini aja deh reviewnya. Melalui film ini kita bisa melihat bahwa kasih sayang yang besar dari seorang ibu pada anaknya dapat membuat seorang ibu mau melakukan apa saja untuk anaknya, meskipun hal yang ia lakukan tersebut bisa dibilang salah. 4 bintang deh buat film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Gak sengaja nonton film ini karena melihat dvd-nya tergeletak di dalam laci meja saya (gak tau punya siapa, kayaknya ini pinjeman dari temen kakak saya, hehe). Pas liat nama sutradaranya, WAAAAAH INI KAN SUTRADARA FILM TOKYO! YANG BARU-BARU INI SAYA TONTON! Yak, yang menyutradarai film ini adalah Joon-ho Bong yang menyutradarai salah satu segmen di film Tokyo! yang berjudul Shaking Tokyo, yang kebetulan merupakan segmen favorit saya. Dan melihat salah satu nama pemainnya, ada Bae Doona juga yang baru-baru ini saya lihat di film Jepang berjudul Linda Linda Linda dan aktingnya di situ menurut saya bagus banget. Jadi tanpa pikir panjang, saya langsung nonton film ini 😀

The Host adalah sebuah film monster. Tapi menurut saya film ini lebih dari sekedar film monster biasa. The Host adalah sebuah film yang dapat membuat penontonnya merasakan berbagai macam emosi, seperti tertawa, terharu, sekaligus tegang. Diceritakan di bagian awal film ini, di markas militer Amerika yang bertempat di Korea, ada seorang professor yang membuang isi dari sebotol zat kimia yang kemudian mengalir ke sebuah sungai bernama sungai Han. Beberapa tahun kemudian, timbul kehebohan di sekitar sungai tersebut. Sesosok monster tiba-tiba muncul dari dalam sungai dan menyerang banyak orang yang berada di sekitar sungai tersebut. Park Gang-du (Kang-ho Song) harus kehilangan anak perempuan semata wayangnya, Hyun-seo (Ah-sung Ko), yang dimakan oleh monster tersebut. Setelah kejadian tersebut, bersama dengan ayah dan kedua adiknya, Nam-joo (Bae Donna) dan Nam-il (Hael-il Park), Gang-du kemudian dipindahkan ke tempat yang aman. Dan, karena Gang-du terkena darah si monster, dengan terpaksa ia harus dipindahkan ke rumah sakit karena disinyalir monster tersebut memiliki virus yang dapat menyebar. Saat tengah malam, Gang-du dikejutkan dengan suara ponselnya dan yang menghubunginya tersebut adalah Hyun-seo, putrinya yang dikiranya sudah meninggal tersebut. Dari obrolan singkat tersebut, Gang-du kemudian mengetahui bahwa putrinya selamat dan berada di dalam  sebuah terowongan dan tidak bisa keluar. Gang-du pun menceritakan hal tersebut pada pihak rumah sakit, namun pihak rumah sakit tidak percaya dan menuduh Gang-du hanya berilusi. Namun, ayah dan kedua adiknya mempercayai Gang-du dan karena tidak ada siapa pun yang mau membantu, mereka berempat kemudian kabur dari rumah sakit dan berniat mencari dan menyelamatkan Hyun-seo. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan berhasil menyelamatkan Hyun-seo? Apakah monster tersebut akan berhasil dimusnahkan? Dan apakah virus tersebut benar-benar ada? Ayo deh tonton aja 😀

Seperti yang saya bilang di atas, film ini merupakan paket komplit karena berhasil menimbulkan berbagai macam emosi bagi yang menontonnya. Komedinya ada, dramanya ada, dan serem-seremnya juga ada, dan semua unsur di dalamnya terasa sangat pas sekali, gak kurang dan gak lebih. Komedinya ditampilkan melalui karakteristik dan dialog-dialog para anggota keluarga ini, yang semuanya berhasil memancing tawa. Apalagi karakter Gang-du ini benar-benar lucu dan dialah faktor pemancing tawa terbesar di film ini. Gang-du diceritakan sebagai seseorang yang agak bodoh dan polos (dan kerjaannya tidur terus), tapi meskipun begitu dia adalah ayah yang sangat mencintai anaknya. Makanya saya terharu banget liat perjuangannya untuk menyelamatkan anaknya tersebut. Selain itu, yang membuat film ini bagus adalah drama keluarganya. Keluarga Park ini bisa dibilang tidak sempurna, kadang saling bertentangan, tapi mereka semua bersatu padu untuk menyelamatkan Hyun-seo. Setelah mereka terpisah-pisah pun, perjuangan mereka tetap tidak berhenti dan mereka tetap berusaha menyelamatkan Hyun-seo.

Semua pemeran bermain dengan sangat baik di film ini. Hie-bong Byeon yang berperan sebagai ayah Gang-du dan Hae-il Park yang berperan sebagai Nam-il sangat pas memerankan perannya masing-masing. Begitu juga dengan Bae Donna, yang meskipun tidak terlalu banyak bicara di sini, tapi perannya termasuk cool sekali sebagai seorang atlet pemanah (dan pas memanah keren banget :D). Ah-sung Ko yang berperan sebagai si kecil Hyun-seo pun menunjukkan akting yang sangat baik. Tapi yang paling cemerlang di sini tentunya adalah Kang-ho Song yang berperan sebagai Gang-du. Saya suka banget sama akting sekaligus karakternya 🙂

Monsternya sendiri, wow jelek banget dan bener-bener menjijikan. Special effectnya menurut saya lumayan bagus, meskipun di bagian awal-awal ada beberapa adegan yang keliatan banget boongannya, tapi overall makin ke sana makin keliatan real. Dan beberapa adegan yang menampilkan monster ini berhasil menimbulkan ketegangan yang lumayan. Selain hal-hal tersebut, terdapat muatan politis juga dalam film ini, dari awal sudah jelas film ini menyindir Amerika yang sering ‘seenaknya’ terhadap negara lain (terbukti dari yang membuang zat kimia yang menghasilkan monster tersebut adalah orang Amerika).

Yak, segini aja review saya. Menurut saya film ini sangat menghibur dan bisa dinikmati siapa saja. Film ini juga memiliki pesan yang sangat bagus mengenai pentingnya suatu keluarga, dan juga mengajarkan keberanian. Satu lagi kelebihan film ini, karakternya bukan tipe karakter ‘jagoan’ seperti di film-film action. Mereka hanya orang biasa, namun keberanian (serta kasih sayang keluarga) lah yang mengantarkan mereka sampai situ. Oh iya, ternyata film ini juga termasuk film yang sangat laris di Korea sana. Dan tidak hanya laris saja, film ini juga terbukti kualitasnya karena berhasil memenangkan berbagai macam awards, salah satunya adalah pada kategori Best Film di Asian Film Awards 2007. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Older Posts »