Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘abe hiroshi’

gmhposterTerdapat dua buah kejutan kecil di tahun 2012 ini, setidaknya kejutan bagi para penggemar dorama sekaligus film Jepang. Ya, dua orang sutradara film Jepang yang namanya mungkin sudah tidak asing bagi para penggemar film di kalangan internasional tahun ini tiba-tiba melebarkan sayapnya ke dunia televisi dengan menyutradarai serial drama. Yang pertama adalah Kurosawa Kiyoshi (Pulse, Tokyo Sonata), yang pada awal tahun menyutradarai mini seri lima episode berjudul Shokuzai (Penance) yang ditayangkan di channel WOWOW. Sementara itu, di akhir tahun ini giliran sutradara Koreeda Hirokazu (Nobody Knows, After Life) yang memberi kita sebuah “hadiah manis” berupa dorama berjudul Going My Home yang akan saya review di postingan ini.

gmh1Going My Home bercerita tentang seorang pria yang bekerja sebagai CM (commercial movie) Producer bernama Tsuboi Ryota (Abe Hiroshi). Ryota sendiri adalah seorang pria yang sudah berkeluarga. Istrinya, Sae (Yamaguchi Tomoko), adalah seorang food stylist (semacam tukang masak masakan cantik untuk keperluan acara TV/majalah) terkenal. Sementara anak perempuan satu-satunya yang bernama Moe (Makita Aju), menimbulkan ‘masalah’ di sekolahnya karena mengaku bisa berkomunikasi dengan makhluk yang ‘tidak kelihatan’. Sebuah masalah terjadi ketika Ryota mendapat kabar bahwa ayahnya mendadak collapse yang berujung pada koma di sebuah kota bernama Nagano. Nagano sendiri adalah kampung halaman ayahnya ketika masih kecil, dan Ryota sendiri merasa heran mengapa ayahnya bisa berada di situ setelah sekian lama. Ryota sendiri kemudian mengunjungi ayahnya secara rutin ke rumah sakit kota tersebut bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Dan pada suatu hari ia melihat seorang perempuan muda cantik sedang mengunjungi ayahnya. Rasa penasaran akan hubungan ayahnya dengan perempuan misterius itu membawa Ryota ke sebuah daerah (masih di Nagano). Ia pun kemudian mengetahui bahwa perempuan yang ternyata bernama Shimojima Naho (Miyazaki Aoi) tersebut adalah putri dari teman lama ayahnya (diperankan Nishida Toshiyuki). Selain itu, ia juga mendapat kejutan lain mengenai alasan ayahnya mengunjungi Nagano beberapa bulan terakhir ini, yaitu berkaitan dengan pencarian sebuah makhluk kecil misterius yang diyakini bernama “Kuna”. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ryota? Apakah suatu hari ayahnya akan bangun dari komanya? Apa sebenarnya Kuna tersebut, dan apakah makhluk tersebut benar-benar ada? Dan untuk apa ayahnya mencari makhluk tersebut? Tonton aja deh.

gmh2-1Dorama bertema keluarga biasanya selalu berhasil meluluhkan hati saya, tidak terkecuali dengan dorama berjumlah 10 episode dengan judul Going My Home ini. Kata heartwarming rasanya merupakan salah satu kata yang tepat untuk mewakili kesan yang saya dapat dari menonton dorama ini. Dorama ini sendiri seperti filmnya Koreeda kebanyakan: lambat, tenang, sederhana, dan tanpa konflik yang berlebihan. Oleh karena itu, sebagian orang mungkin akan merasa dorama ini membosankan (apalagi jika kamu menyukai film/dorama bertempo cepat dengan konflik yang dramatis) dan tidak menarik. Tapi tidak dengan saya. Saya sangaaaat menikmati dorama ini dari awal sampai akhir. Yang paling saya suka dari dorama ini adalah gambaran suasana serta interaksi tokoh-tokohnya yang terlihat sangat natural dan realistis. Misalnya ketika kita melihat Ryota bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Mereka itu keluarga yang biasa-biasa saja dan bukan keluarga sempurna. Namun, ketika saya melihat mereka sedang berkumpul dan mengobrol bersama, saya seperti sedang melihat keluarga beneran. Interaksi antara Ryota dengan istri dan anak perempuannya pun terlihat sangat natural dan wajar. Mereka bukan tipe keluarga yang lengket atau apa, tapi mereka semua saling menunjukkan perhatiannya kepada satu sama lain dengan caranya masing-masing. Interaksi yang natural antara para anggota keluarga tersebut menurut saya sangat didukung oleh skenario dari dorama ini (yang ditulis Koreeda sendiri). Dialog-dialog yang ada di dorama menurut saya lucu dan gmh4menggelitik (meskipun bukan tipe lucu yang bikin tertawa terbahak-bahak, tapi lebih ke lucu yang bikin kita tersenyum kecil). Sepintas, dialog-dialog yang ada mungkin terdengar kurang penting karena banyak menyinggung hal remeh temeh. Namun, itulah yang menambah kerealistisan dorama ini, karena percakapan mereka rasanya seperti percakapan yang dilakukan oleh kebanyakan orang di kehidupan sehari-hari. Jadi para penyuka dorama bergenre slice of life, mungkin dorama ini akan menjadi pilihan yang sangat tepat untuk kamu tonton.

gmh3Dan selayaknya keluarga yang realistis, meskipun selalu bersama-sama setiap saat, bukan berarti kita sepenuhnya mengetahui segala hal tentang anggota keluarga kita yang lain. Dalam Going My Home, anggota keluarga yang menyimpan sebuah misteri adalah ayahnya Ryota. Meskipun sudah berpuluh tahun bersama, tapi ada juga hal-hal yang Ryota tidak ketahui mengenai ayahnya. Hal itu membawanya pada suatu hal bernama “Kuna”, sebuah makhluk kecil yang kabarnya dapat mempertemukan kita dengan orang yang sudah meninggal. Ryota yang tidak percaya pada segala hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat diam-diam mulai menunjukkan ketertarikannya pada “kuna”. “Kuna” ini sendiri tidak jelas apakah benar-benar ada atau tidak. Namun, ada atau tidak adanya “kuna” ini sendiri menurut saya bukanlah poin utama dorama ini. Peran “kuna” di sini adalah sebagai simbol harapan sekaligus penyesalan. Kita mungkin menyimpan banyak harapan terhadap orang-orang yang kita sayangi, misalnya anggota keluarga kita. Kadang-kadang, hal tersebut bisa saja berujung pada suatu penyesalan. Namun, adanya kedua hal itu menunjukkan bahwa rasa cinta pernah hidup di hati kita untuk orang-orang tersebut. Ya, hal-hal tersebut sama seperti “kuna”, sesuatu yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, tapi bukan berarti tidak ada. Hal itulah yang membuat dorama ini menjadi sangat ‘nancep’ ke hati ini.

gmh5Selain hal-hal yang saya sebut di atas, yang paling saya sukai dari dorama ini adalah jajaran castnya yang bagus. Abe Hiroshi sangat bagus aktingnya sebagai Ryota, pria canggung yang kadang berkelakuan awkward. Begitu juga dengan Yamaguchi Tomoko yang sangat pas berperan sebagai Sae, istri Ryota (btw dorama ini menandakan kembalinya Yamaguchi ke dunia akting setelah 16 tahun lamanya). Miyazaki Aoi pun tampil memikat sebagai seorang single parent bernama Naho. Para aktor-aktris lainnya seperti Nishida Toshiyuki, YOU, Yoshiyuki Kazuko, Arai Hirofumi, Abe Sadao, dan lain-lainnya pun memerankan perannya masing-masing dengan baik. Terakhir, jangan lupakan aktris cilik pendatang baru bernama Makita Aju yang tampil sangat memikat sebagai Moe, anak perempuan Ryota.

Secara keseluruhan, Going My Home merupakan salah satu dorama favorit saya di tahun 2012 ini (meskipun di negaranya dorama ini memiliki rating/viewership yang jeblok). Highly recommended, terutama untuk para penyuka dorama bergenre family & slice of life dan tidak keberatan dengan alur yang slow. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Kekkon Dekinai Otoko. Kalimat tersebut memiliki arti “lelaki yang tidak akan pernah bisa menikah”. Kalimat tersebut juga tampaknya adalah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Kuwano Shinsuke (Abe Hiroshi), seorang pria lajang yang sudah berusia 40 tahun. Kuwano sendiri sebenarnya memiliki penampilan yang lumayan dan punya pekerjaan yang bagus, yaitu arsitek dan punya kantor sendiri dengan dibantu asistennya Eiji (Tsukamoto Takashi) dan seorang humas bernama Sawazaki Maya (Takashima Reiko). Namun, ia punya kepribadian yang akan membuat para wanita memilih untuk tidak berurusan dengannya. Coba bicara dengan dia sepuluh menit saja, kamu pasti akan berakhir dengan sakit hati karena ia sering mengucapkan ucapan yang nyelekit meskipun tidak memiliki maksud buruk. Di luar sifat sarkastiknya, Kuwano juga seseorang yang sangat individualis. Dia sangat menyukai kesendirian. Dia lebih suka memakan steak sendirian di apartemennya daripada bersenang-senang di pesta. Hiburan baginya adalah mendengarkan musik orkestra sendirian di apartemennya sambil menirukan gaya konduktor. Salah satu bentuk keindividualitasannya yang lain adalah dia tidak akan pernah mengizinkan orang lain masuk ke dalam apartemennya. Dia juga seorang pemuja rutinitas dan punya beberapa kegiatan rutin seperti pergi ke konbini (convenience store) dan rental dvd setiap pulang kerja. Yang jelas, human relationship adalah sesuatu yang merepotkan di mata Kuwano, dan ia juga tidak pernah tertarik untuk menikah.

Suatu hari, kehidupannya yang begitu saja dan penuh pengulangan menjadi sedikit berwarna dengan hadirnya dua orang baru dalam hidupnya. Orang pertama adalah seorang perempuan muda bernama Tamura Michiru (Kuninaka Ryoko), tetangga di apartemennya yang suatu hari menolong Kuwano ketika pria itu collapse karena sakit perut. Orang kedua adalah Hayasaka Natsumi (Natsukawa Yui), seorang dokter yang menangani sakit yang diderita Kuwano pada saat itu. Natsumi sendiri juga merupakan perempuan lajang di usianya yang sudah lebih dari 30 tahun. Sejak hari itu, secara tidak sengaja Kuwano menjadi sering bertemu dengan kedua wanita yang kemudian saling bersahabat itu. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah status Kuwano sebagai lelaki yang tidak akan pernah bisa menikah akan tetap bertahan? Apakah suatu saat kedua wanita tersebut akan jatuh cinta padanya? Tonton aja deh.

Kekkon Dekinai Otoko adalah salah satu dorama yang dibintangi Abe Hiroshi yang menjadi favorit saya. Apalagi saya paling suka sama dorama bergenre slice of life, dan menurut saya ini adalah salah satu dorama bergenre slice of life paling bagus yang pernah saya tonton. Seperti dorama slice of life pada umumnya, dorama ini berkisar pada kehidupan sehari-hari Kuwano Shinsuke yang penuh dengan pengulangan. Hmm, kelihatannya membosankan ya? Tapi membosankan rasanya bukan kata yang tepat untuk menggambarkan dorama ini. Meskipun cuma tentang kehidupan sehari-hari dan tanpa konflik yang luar biasa, dorama ini berhasil dikemas sedemikian rupa yang membuat dorama ini menjadi sangat menghibur. Keunggulan utama dorama ini tentu saja ada pada karakteristik tokoh-tokohnya yang sangat kuat, terutama karakteristik Kuwano yang begitu unik. Ya, menurut saya ini adalah salah satu contoh dorama yang ceritanya disetir oleh karakternya. Tokoh utamanya, yaitu Kuwano Shinsuke yang diperankan oleh Abe Hiroshi, bukan merupakan tipikal karakter yang biasa menjadi protagonis di dorama-dorama. Karakternya bukanlah tipe karakter yang gampang disukai, tapi itulah yang membuat karakter ini menjadi begitu memorable. Dia orang yang keras kepala, individualis, dan siapapun pasti malas untuk berurusan dengannya. Tapi dia juga kadang bisa melakukan hal tak terduga yang menunjukkan bahwa dia sebenarnya orang yang sangat baik (tapi tidak bisa memperlihatkan kebaikannya secara normal). Interaksinya dengan tokoh-tokoh di sekitarnya pun sangat menarik untuk disimak, dan menjadi sumber kelucuan dorama ini. Mulai dari interaksinya dengan Michiru, Natsumi-sensei, Eiji, Sawazaki, sampai dengan keluarganya sendiri (terutama ibunya yang selalu menyuruhnya menikah).

Seperti yang saya bilang sebelumnya, dorama ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari Kuwano yang penuh pengulangan. Oleh karena itu, kita akan menemukan adegan yang repetitif di setiap episodenya. Mulai dari adegan ia menelusuri jalan yang sama ketika pulang, belanja di konbini, meminjam film di rental, makan sendirian di tempat yang sama, dan berbagai macam kegiatan rutin lainnya. Namun, hal tersebut bukanlah hal yang menjadi kekurangan atau sekadar tempelan saja. Adegan-adegan tersebut rupanya menyimpan makna tersendiri yang akan kita temukan di akhir-akhir. Termasuk dengan keberadaan tokoh Kaneda, seorang arsitek kaya tukang pamer yang situsnya sering dicek Kuwano dan Eiji dan tanpa sengaja sering bertemu dengan mereka di sebuah bar. Ya, hal-hal yang seolah-olah tidak penting tersebut rupanya menjadi salah satu hal yang memperkuat dorama ini.

Seperti dorama slice of life pada umumnya, permasalahan-permasalahan yang ditemui di dorama ini berkutat pada permasalahan pada kehidupan sehari-hari, sehingga dorama ini akan terasa dekat dengan penontonnya karena permasalahannya yang mungkin dialami siapa saja. Permasalahan sehari-hari di sini biasanya berkutat pada permasalahan seputar gaya hidup dan kehidupan sosial manusia. Misalnya ada episode yang menyinggung tentang sepasang kekasih yang berkencan di mangacafe dan kedua-duanya malah membaca manga dan bukannya berinteraksi satu sama lain (meskipun cuma disinggung sedikit, tapi isu tersebut lumayan menggelitik juga), atau tentang perbedaan antara perempuan muda 20-an dengan perempuan yang sudah di atas 30 tahun dalam berbelanja baju, dan juga masih banyak permasalahan sehari-hari lainnya yang terlihat remeh temeh tapi menarik untuk didiskusikan. Di luar hal itu, kehidupan Kuwano sebagai arsitek yang memfokuskan dapur sebagai pusat rumah yang dirancangnya juga sangat menarik dan tidak terlihat sebagai tempelan belaka.

Salah satu kekuatan dorama ini adalah karakternya, dan seorang tokoh tidak akan mempunyai karakteristik yang kuat jika tidak didukung akting yang bagus dari pemainnya. Salut untuk Abe Hiroshi karena dia sangat berhasil memerankan Kuwano yang sangat individualis. Caranya bergerak, berbicara, dan berekspresi sangat memperkuat karakteristik tokoh tersebut. Dan yang jelas karakter tersebut menurut saya adalah karakter paling memorable yang pernah dimainkan Abe Hiroshi. Natsukawa Yui juga sangat cocok memerankan si dokter lajang Natsumi-sensei, dan menurut saya dia sangat cocok dipasangkan dengan Abe Hiroshi. Kuninaka Ryoko juga turut berperan bagus sebagai Michiru yang ceria dan ceplas-ceplos. Pemeran-pemeran lainnya seperti Tsukamoto Takashi, Takashima Reika, dan lain-lainnya turut bermain baik di sini. Tapi ada satu lagi karakter yang perlu disorot di dorama ini karena menampilkan akting yang sangat bagus. Dia adalah Ken-chan, anjing yang dipelihara Michiru dan punya semacam keakraban dengan Kuwano. Ya, meskipun cuma seekor anjing, menurut saya Ken-chan adalah salah satu faktor yang membuat dorama ini menjadi semakin menarik. 😀

Overall, saya sukaaa banget sama dorama berjumlah 12 episode ini. Highly recommended, terutama buat penyuka dorama bergenre slice of life. Tambahan lagi, dorama ini  juga memborong banyak award pada 50th Television Drama Academy Award, yaitu pada kategori Best Drama, Best Director, Best Scriptwriter, Best Actor (Abe Hiroshi), Best Supporting Actress (Natsukawa Yui), dan Special Award (Ken the Dog). Well, 4,5 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Tahun 2011 lalu, sutradara Jepang Mitani Koki (The Magic Hour) merilis dua buah proyek dalam waktu yang berdekatan. Dua buah proyek tersebut adalah sebuah film bioskop berjudul Suteki na Kanashibari (bisa disingkat menjadi Sutekana) dan sebuah tanpatsu (dorama yang terdiri dari kurang lebih satu sampai dua episode saja, semacam FTV gitu deh) yang berjudul Suteki na Kakushidori (bisa disingkat menjadi Sutekaku). Yang akan saya review kali ini adalah tanpatsunya yang berjudul Sutekaku, yang tampaknya dibuat dalam rangka menyambut rilisnya Sutekana. Meskipun memiliki judul yang hampir mirip, Sutekaku sendiri tidak memiliki hubungan dengan Sutekana dari segi ceritanya. Namun, kedua proyek tersebut sama-sama memiliki cast yang sama (Fukatsu Eri, Nishida Toshiyuki, Takeuchi Yuko, dll).

Sutekaku bercerita tentang seorang concierge hotel bernama Saijo Mie (Fukatsu Eri). Seperti pekerjaan concierge hotel pada umumnya, ia ditugaskan untuk memenuhi permintaan-permintaan dari para pelanggan hotelnya. Permintaan itu bisa apa saja, mulai dari yang normal sampai yang absurd sekalipun. Mulai dari permintaan macam memesankan reservasi di restoran sampai permintaan untuk menjadi model foto untuk salah satu pelanggan hotel yang seorang fotografer. Seorang concierge tidak boleh mengatakan “tidak” pada pelanggannya. Ia diwajibkan untuk memenuhi segala permintaan pelanggannya, meskipun permintaan tersebut adalah permintaan yang sifatnya tidak mungkin dikabulkan.

Saijo adalah seorang concierge yang baru bekerja selama satu bulan. Ia sendiri merasa dirinya tidak cocok dengan pekerjaan tersebut. Tanpatsu ini bercerita tentang usaha Saijo dalam memenuhi permintaan dari berbagai macam pelanggan hotelnya (yang kebanyakan orang-orang kaya yang memesan suite room) secara bergantian. Para pelanggan tersebut memiliki latar belakang dan permintaan yang berbeda-beda. Ada pelanggan yang berprofesi sebagai seniman (diperankan Asano Tadanobu) yang meminta Saijo untuk memberi inspirasi untuk karya barunya, ada sutradara (diperankan Mitani Koki yang merupakan sutradara film ini) yang baru merilis film barunya dan meminta Saijo untuk memuji-muji filmnya, ada seorang guru masak (diperankan Takeuchi Yuko) yang sebenarnya tidak bisa memasak sama sekali dan meminta Saijo untuk membantunya berlatih memasak, dan masih banyak lagi pelanggan lainnya. Lalu, apakah Saijo akan berhasil memenuhi permintaan-permintaan aneh para pelanggannya tersebut? Apakah dia memang tidak cocok dengan pekerjaannya sebagai concierge?

Menonton Sutekaku bagi saya rasanya tidak seperti menonton film cerita pada umumnya, tapi seperti menonton acara komedi di televisi. Hal itu dikuatkan dengan gaya kameranya yang dibikin ala-ala candid camera, sehingga adegan-adegan dalam tanpatsu ini memiliki kesan yang real meskipun memiliki cerita yang aneh. Ya, tanpatsu ini memang terasa seperti sebuah eksperimen komedi, di mana kelucuannya dihasilkan dari interaksi Fukatsu Eri dengan pelanggan hotel yang berbeda-beda. Meskipun scripted, tapi banyak adegan yang terkesan sebagai improvisasi dan tampaknya tidak ada di skenarionya (seperti adegan Takeuchi Yuko kepeleset, itu saya yakin banget jatuhnya gak sengaja dan gak ada di skenario). Hal itu membuat tanpatsu ini menjadi sangat fun dan asik ditonton.

Seperti yang saya saya bilang sebelumnya, kelucuan di sini dihasilkan dari interaksi antara tokoh yang diperankan Fukatsu Eri dengan para pelanggan hotelnya. Dan yang paling saya suka, pelanggannya kayaknya gak ada yang normal sama sekali 😀 Salut untuk para aktor dan aktris yang berperan sebagai pelanggan di sini, mulai dari Asano Tadanobu, Nishida Toshiyuki, Kusanagi Tsuyoshi, Takeuchi Yuko, dan masih banyak lagi (termasuk beberapa cameo seperti Nakai Kiichi dan Abe Hiroshi). Mereka semua berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik (dan membuat saya membayangkan mereka pasti mengalami proses syuting yang menyenangkan, mengingat sutradaranya sendiri keliatannya emang kocak). Tapi tentu saja yang paling membuat tanpatsu ini menjadi begitu hidup adalah Fukatsu Eri. Saya sukaaa banget sama akting dan karakternya di sini. Fukatsu Eri sangat sukses memerankan Saijo yang ekspresif dan kadang kepedean. Dan interaksinya dengan pemain-pemain lainnya sangat kocak dan menarik untuk disimak. Dan gara-gara tanpatsu ini, saya jadi pengen tahu seperti apakah pekerjaan concierge yang sebenarnya 😀

Tanpatsu satu episode yang memiliki durasi kurang lebih 107 menit ini sendiri tampaknya memang dibuat sebagai sekadar hiburan dan lucu-lucuan saja (dan untuk promosi Sutekana). Jadi, jika kamu menonton ini dengan tujuan untuk mencari makna yang mendalam atau semacamnya, siap-siap kecewa deh. Tapi sebaliknya, jika kamu memang mencari hiburan ringan yang bisa bikin ketawa, maka ini adalah tontonan untuk anda (meskipun saya tidak menjamin kamu akan menyukai tanpatsu ini. Film/drama Jepang itu punya gaya komedi yang lain daripada yang lain. Jadi sebagian mungkin gak bakal nangkep apa lucunya dan menganggap ini aneh. Tapi jika sudah terbiasa menonton film/drama komedi buatan Jepang seperti saya, maka kamu mungkin akan menyukai tanpatsu ini). Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan sih saya sangat menyukai tanpatsu ini (yang membuat saya semakin ingin menonton Sutekana, yang trailernya ditampilkan sesudah tanpatsu ini). Jadi, 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi libur kuliah (tapi ikut sp satu mata kuliah sih) dan selama libur ini kerjaan saya nonton film terus. Saking banyaknya film yang ditonton, saya sampai bingung mau nge-review yang mana dulu. Karena itu kali ini saya akan nulis review singkat dari beberapa film (gak semua ya, kebanyakan soalnya :p) yang saya tonton belakangan ini. Mungkin kalau tidak malas, beberapa film dalam review ini akan saya buatkan review versi panjangnya.

1. Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Salah satu film remaja Jepang yang cukup bagus dan menarik. Idenya sederhana, tentang sebuah band yang beranggotakan siswi-siswi SMU yang akan tampil dalam festival sekolah, namun menemui masalah yang menyebabkan dua personil band itu keluar (termasuk sang vokalis). Beberapa hari sebelum tampil, mereka pun mencari vokalis baru secara ‘asal’. Adalah  Son, siswi pindahan dari Korea Selatan, yang menjadi vokalis baru mereka. Lalu timbul berbagai kejadian sebelum mereka tampil, dan meskipun baru beberapa hari, karakter Son ini akhirnya menemukan kegembiraan dan semangat baru sejak bergabung dengan band tersebut. Film ini menarik dan cukup menghibur. Yang saya suka adalah ide cerita film ini sama sekali tidak muluk-muluk, namun tidak mengurangi daya tarik film ini. Akting Bae Doona sebagai orang Korea yang sekolah di Jepang sangat memikat. Begitu juga dengan Kashii Yuu. Terakhir, habis nonton film ini saya jadi terus terngiang-ngiang sama lagu Linda Linda dari The Blue Hearts yang mereka bawakan pada festival tersebut :D. 3,5 / 5

2. Kick-Ass (2010)

Sebenarnya saya tidak pernah tertarik  pada film-film bertema superhero. Bukan karena jelek, tapi memang bukan selera saya saja. Tapi begitu mendengar bahwa superhero-superhero dalam Kick-Ass bukanlah superhero beneran (maksudnya mereka tidak mempunyai kekuatan super), saya pun jadi pengen nonton film ini, dan ternyata saya menyukai filmnya. Film ini lucu dan segar. Humornya yang tergolong ke dalam humor-humor masa kini lumayan menghibur. Dan yang membuat film ini semakin menarik adalah karakter Hit Girl yang diperankan Chloe Moretz. Meskipun memancing banyak perdebatan, tapi saya cinta karakter ini. 4/5

3. Rainbow Song (Japan, 2006)

Nama Shunji Iwai yang berperan sebagai produser dan co-writer film ini lah yang membuat saya menonton film ini. Belum lagi ada Hayato Ichihara, Ueno Juri, dan Yu Aoi. Dan saya gak nyesel nontonnya! Ceritanya termasuk klise, tentang persahabatan yang menjadi cinta *ceileh*. Cewek dan cowok bersahabat, lalu si cewek mulai jatuh cinta pada si cowok. Tapi sebelum si cowok menyadari perasaannya pada si cewek, si cewek keburu meninggal (tenang ini bukan spoiler karena dari awal kita sudah diberitahu kalo ceweknya meninggal). Cerita seklise apapun kalau dikemas dengan baik, pasti akan jadi film yang bagus. Begitu juga dengan film ini. Saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Ueno Juri berakting sangat bagus di film ini sebagai karakter cewek yang meninggal itu. Dan Hayato Ichihara, ini kali kedua saya melihat dia setelah melihatnya di Lily Chou-chou, dan penampilan fisiknya udah jauh berubah dari pas di Lily Chou-chou. Yu Aoi, meskipun kemunculannya tidak begitu banyak  tapi tetap menampilkan akting yang memikat. Sebenarnya film ini memiliki beberapa kekurangan, tapi tidak begitu mengganggu. Yang jelas, ini tipe film yang akan saya tonton berkali-kali. 3,75/5.

4. The Girl Who Leapt Through Time (Japan, 2006)

Akhir-akhir ini lagi ketagihan nonton anime yang berbentuk movie. Dan film ini adalah salah satu anime movie yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton! Tentang seorang siswi SMU yang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk meloncati waktu. Dan kemampuannya ini digunakannya untuk mengubah hal-hal yang bisa dibilang sederhana, namun nantinya akan menimbulkan masalah. Film ini lucu dan menghibur, animasinya juga bagus. Selain itu film ini menampilkan kejutan yang tidak saya duga. Review panjangnya menyusul ya. 4/5.


5. The Notebook (2004)

Karena saya ini termasuk orang yang menyukai film-film cinta yang mengharu biru, awalnya saya kira film ini akan berhasil membuat saya termehek-mehek. Tapi nyatanya, dari awal sampai akhir, ekspresi saya tetap datar. Ya ya ya, mungkin ada yang salah pada diri saya karena sebagian besar orang yang menonton film ini mengatakan film ini mengharukan dan sebagainya. Tapi entahlah, saya tidak bisa merasakan kedalaman hubungan antara Noah dan Allie. Karakter Noah yang begitu hidup di bagian awal, setelah berpacaran dengan Allie kok rasanya jadi melempem dan tidak terasa semangatnya. Tapi di luar itu saya suka aktingnya Rachel McAdams. 2,75/5

6. Perfect Blue (Japan, 1998)

Anime movie juga, disutradarai oleh Satoshi Kon. Ceritanya tergolong berat dan sama sekali bukan konsumsi anak-anak karena menampilkan sedikit nudity dan kekerasan. Tentang seorang pop idol yang memutuskan ganti haluan menjadi seorang aktris. Dan hal ini menimbulkan masalah karena ada fans yang tidak setuju dan sebagai aktris ia dituntut untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia inginkan. Belum lagi setelah itu muncul persona/kepribadian lain yang terus menghantuinya. Sebuah thriller psychology yang lumayan mencekam. Endingnya juga mengejutkan dan gak ketebak. Sebenernya saya ngerasa kalo film ini dibikin jadi live action, pasti filmnya akan semakin bagus. Tapi okelah anime juga, meskipun saya agak kurang suka desain karakternya. 4,5/5

7. Being John Malkovich (1999)

Edan film ini bagus banget! Jenius! Ceritanya termasuk orisinil dan menampilkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Skenarionya ditulis oleh orang yang menulis skenario Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang sama-sama sangat orisinil, yaitu Charlie Kaufman. Dan, menurut saya film ini lebih mudah dimengerti daripada Eternal Sunshine. Setidaknya saya tidak perlu mengulang-ngulang beberapa adegannya agar bisa mengerti sepenuhnya seperti pada saat saya nonton Eternal Sunshine. Selain ceritanya yang jenius, film ini juga menurut saya termasuk menghibur dan sudah pasti film ini masuk ke daftar my all time favorite movies. Review panjangnya tunggu saja ya 😀 5/5

8. Aoi Tori / The Blue Bird (Japan, 2008)

Nonton film ini karena faktor Kanata Hongo, dan agak nyesel nontonnya. Mengangkat tema school bullying, sebenarnya film ini berpotensi jadi bagus. Tapi saya malah kebosanan mengikutinya. Karakter guru gagap yang dimainkan Abe Hiroshi sebenarnya unik, tapi entah kenapa saya tidak bisa bersimpati padanya, dan tanggapan saya padanya sama seperti tanggapan murid-murid di sini. Latar belakang anak yang pindah sekolah karena dibully itu pun kurang kuat, mungkin kalo ditampilkan potongan adegan-adegan yang menampilkan karakter ini ketika bersekolah di sekolah itu, film ini akan jadi lebih menarik. Dan Kanata Hongo, kerjanya cemberut aja sik, tapi tetep cakep *alah*. 2,5/5

9. Despicable Me (2010)

Filmnya lucu dan mengharukan, dan tentunya sangat menghibur. Lelucon-leluconnya sebenarnya banyak yang slapstick, tapi tidak begitu mengganggu kok. Dan sejak karakter Gru ini mengadopsi tiga anak yatim piatu tersebut, ceritanya jadi mudah ketebak, tapi meskipun begitu film ini tetap menghibur. Dan yang menonton film ini pasti jatuh cinta pada karakter minion-minion yang menggemaskan itu. Ihik. Pengen cari merchandise-nya. 3,75/5

Read Full Post »

Hana (Suzuki Anne) dan Alice (Aoi Yu) adalah dua orang anak remaja yang sudah bersahabat sejak kecil. Persahabatan mereka sangat erat, seolah-olah tidak dapat dipisahkan. Selain itu, mereka juga sama-sama mengikuti kursus balet di tempat yang sama. Suatu hari, ketika mereka sama-sama bolos sekolah dan berpetualang dengan menggunakan kereta api, dari jarak agak jauh mereka melihat dua orang cowok SMA yang tampangnya lumayan tampan di kereta tersebut. Alice langsung tertarik pada salah satu cowok yang lebih tinggi dan wajahnya mirip bule, dan ia mengatakan pada Hana kalau ia boleh mengambil cowok yang satunya lagi. Dengan tampang ogah-ogahan Hana langsung menolak hal tersebut. Namun siapa yang menyangka, Hana sebenarnya tertarik pada cowok tersebut (yang lebih pendek). Jika Alice kemudian melupakan kejadian tersebut, Hana tidak demikian. Ia kemudian jadi sering memata-matai cowok yang nantinya diketahui bernama Miyamoto Masashi (Tomohiro Kaku) tersebut. Hana dan Alice pun kemudian lulus SMP dan mereka sama-sama masuk ke SMA yang sama. Ternyata cowok yang dimata-matai Hana juga bersekolah di SMA yang sama dengan mereka berdua. Berusaha mendekati Miyamoto, Hana masuk ke ekstrakurikuler “Storytelling” yang hanya beranggotakan dua orang termasuk Miyamoto. Namun, mendekati Miyamoto bukanlah hal yang mudah, karena cowok tersebut bisa dibilang cowok yang anti sosial dan perhatiannya selalu ia habiskan kepada buku. Di kereta dan di mana pun ia berada, ia selalu membaca buku, termasuk ketika ia berjalan pulang ke rumahnya. Karena terlalu fokus membaca buku, ia jadi tidak memperhatikan sekitar dan akhirnya menabrak pintu garasi sebuah rumah. Hal tersebut membuat Miyamoto terjatuh dan hampir tak sadarkan diri. Hana yang sedari tadi mengikuti Miyamoto, langsung menghampiri Miyamoto untuk memastikan keadaannya. Miyamoto malah bertanya “siapa kamu?” pada Hana, karena Miyamoto memang baru berkenalan dengan Hana hari itu sehingga dia tidak begitu mengingat Hana. Hal tersebut kemudian dimanfaatkan Hana yang mengatakan bahwa dia adalah pacar Miyamoto. Jadi begitulah seterusnya, Miyamoto dibuat percaya bahwa dia menderita amnesia akibat kejadian tersebut, sehingga Hana mendapat kesempatan untuk selalu dekat dengan Miyamoto yang disukainya. Namun, satu buah kebohongan sering kali menghasilkan kebohongan-kebohongan yang lain. Karena suatu kejadian, Alice kemudian dengan terpaksa terlibat dalam kebohongan Hana dan disuruh Hana untuk berpura-pura menjadi mantan pacar Miyamoto. Karena Miyamoto juga tidak ingat sama sekali pada Alice *yaiyalah*, ia mencoba mendapatkan ingatannya kembali dengan cara menemui Alice beberapa kali. Hal tersebut malah menjadi bumerang bagi Hana, karena Miyamoto kemudian malah jatuh cinta pada Alice, begitu juga sebaliknya. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka bertiga, terutama apa yang akan terjadi pada persahabatan Hana dan Alice di saat mereka menyukai laki-laki yang sama? Mana yang akan mereka pilih, cinta atau persahabatan?

Jika kamu anti film remaja dan selalu menganggap film remaja sebagai film murahan, berarti kamu belum menonton film ini. Hana and Alice (judul aslinya Hana to Arisu) adalah satu film remaja yang menurut saya layak banget buat ditonton semua penikmat film. Saya sukaaaaaaa sekali sama film ini. Ceritanya sederhana, menarik, dan gampang untuk diikuti. Tapi meskipun tergolong ke dalam film dengan tema yang ringan, film ini bukanlah tipe film yang gampang dilupakan. Yang paling berkesan dari film ini adalah akting dua pemain utamanya, yaitu Suzuki Anne dan Aoi Yu. Akting mereka berdua (terutama Aoi Yu) turut membuat film ini jadi hidup. Mereka berdua juga menampilkan chemistry yang sangat pas sebagai dua orang sahabat karib. Begitu pula dengan Tomohiro Kaku yang berperan sebagai Miyamoto Masashi (yg dari namanya aja langsung bikin saya ngakak), cowok yang disukai oleh kedua sahabat ini. Saya suka banget sama karakter Miyamoto ini, karena bisa dibilang karakternya ini bukanlah tipe karakter yang mudah dipuja kaum perempuan. Tapi keanehan dan keabnormalan karakternya ini lah yang membuat karakter ini menjadi sangat menarik (plus tampang datar tanpa ekspresi-nya itu menurut saya lucu banget :D).

Salah satu kelebihan film ini adalah sinematografinya yang cantik. Misalnya ketika Hana dan Alice sedang berjalan bersama-sama di adegan awal. Selain itu, saya juga suka banget sama rumahnya Hana yang kelihatan indah banget dan dipenuhi banyak bunga (sesuai dengan nama Hana yang merupakan bahasa Jepang-nya bunga). Sebaliknya, rumah Alice digambarkan sangat berantakan. Hal itu turut didukung latar belakang keluarganya di mana Alice tinggal hanya dengan ibunya saja yang tampaknya tidak begitu peduli pada Alice dan malah berpura-pura bahwa Alice adalah tetangganya ketika ia dan pacarnya bertemu Alice di suatu tempat. Oh iya, adegan favorit saya (dari segi gambar): ketika festival sekolah, Hana dan Miyamoto berbicara di suatu kelas, dan ada balon besar dengan bentuk Astro Boy ‘mengintip’ mereka dari balik jendela. Itu bagus banget XD

Banyak hal yang ingin disampaikan film ini, misalnya mengenai kebohongan. Satu buah kebohongan akan membuka kesempatan bagi kita untuk berbohong lagi dan lagi demi menutupi kebohongan yang pertama tersebut, dan kebohongan macam apa pun adalah tidak baik, dan cepat atau lambat pasti kebohongan-kebohongan tersebut akan terbongkar juga, seperti yang terjadi di film ini. Film ini juga menunjukkan makna persahabatan yang sebenarnya, bahwa persahabatan memiliki nilai yang berbeda dan bahkan lebih penting daripada cinta. Persahabatan juga dapat membuat orang berubah menjadi lebih baik, seperti yang terjadi pada Hana dan Alice, di mana kejadian-kejadian yang menguji persahabatan mereka turut menjadi proses pendewasaan bagi mereka berdua. Well, kesimpulannya, jika kamu ingin menonton film remaja yang menghibur sekaligus berisi, maka tontonlah film ini 🙂

Nb: Abe Hiroshi (Aoi Tori, Dragon Zakura) dan Ryoko Hirosue (Okuribito, Beach Boys) turut bermain dalam film ini sebagai cameo.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Orang bodoh saja bisa masuk Todai (Universitas Tokyo). Itulah yang ingin disampaikan oleh dorama berjumlah sebelas episode ini. Ryuzan adalah sebuah sekolah (SMA) yang terkenal sebagai sebuah “sekolah bodoh” karena berisi murid-murid dengan nilai rata-rata 30-an. Sekolah ini pun sudah berada di ambang kebangkrutan. Sakuragi Kenji (Abe Hiroshi), adalah seorang pengacara yang disewa untuk mengurus penutupan sekolah tersebut. Namun, ketika ia datang ke Ryuzan, ia tiba-tiba memiliki rencana lain. Ia berniat untuk membuat sebuah kelas khusus persiapan masuk Todai alias Tokyo Daigaku alias Universitas Tokyo. Todai adalah salah satu universitas terbaik di Jepang, dan amat sangatlah susah untuk masuk ke sana. Banyak orang , baik murid-murid maupun para guru, yang meragukan serta meremehkan niat Sakuragi tersebut karena, HEY~ itu Todai gitu looooh. Mana mungkin anak-anak dari sekolah yang terkenal sebagai sekolah bodoh bisa masuk ke universitas terkemuka seperti Todai. Namun (seperti yang saya sebut di atas), tidak ada hal yang tidak mungkin bukan? Sakuragi berusaha untuk mengumpulkan murid-murid untuk masuk ke kelas khususnya (btw Sakuragi menjanjikan  5 orang murid pasti akan berhasil masuk Todai pada sekolah). Murid-murid tersebut adalah, Yajima Yusuke (Yamashita Tomohisa), seorang anak miskin yang ‘terpaksa’ ikut kelas khusus karena dipinjami uang oleh Sakuragi untuk membayar hutang keluarganya; Mizuno Naomi (Nagasawa Masami), anak perempuan yang ingin membuktikan pada ibunya bahwa ia bukanlah orang yang bodoh; Ogata Hideki (Koike Teppei), cowok childish anak orang kaya yang sering diremehkan oleh ayahnya sendiri; Kosaka Yoshino (Aragaki Yui), pacar Yajima yang ikut hanya karena ikut-ikutan Yajima, namun akhirnya termotivasi sendiri setelah mengikuti kelas tersebut; Kobayashi Maki (Saeko), cewek manis yang ikut kelas khusus karena sebal pada temannya yang hobi pamer; dan belakangan kelas khusus tersebut bertambah dengan kehadiran Okuno Ichiro (Nakao Akiyoshi), cowok aneh yang memiliki kembaran yang sekolah di Shuumekan (sekolah kebalikan Ryuzan karena terkenal dengan murid-muridnya yang pintar) dan sebenarnya sudah sejak awal sering memerhatikan kelas khusus tersebut.

Banyak hal yang terjadi di kelas khusus tersebut. Apalagi cara belajar mereka sangat jauh dari cara belajar konvensional. Mereka belajar matematika dengan cara main tenis dan main kartu, belajar sejarah dengan cara membaca komik, belajar bahasa inggris dengan cara menyanyi dan menari, serta cara belajar lainnya yang dibilang ‘aneh’ tapi sebenarnya sangat efektif karena tidak membuat murid-murid bosan. Sakuragi tentunya tidak sendirian dalam mengurus kelas khusus ini. Ia juga dibantu oleh Ino-sensei (Hasegawa Kyoko), guru ceroboh yang awalnya ikut menentang adanya kelas khusus ini, tapi kemudian malah ikut membantu Sakuragi. Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Apakah misi Sakuragi dalam memasukan 5 muridnya ke Todai berhasil? Sila tonton saja deh.

Sebuah kisah yang sangat bagus dan menginspirasi. Sangat perlu ditonton oleh anak-anak sekolah di mana pun. Apalagi sebentar lagi ada SNMPTN kan?? Ayo tontonlah ini. Mungkin kamu akan termotivasi untuk terus belajar seperti murid-murid kelas khusus ini yang awalnya malas sekali belajar namun akhirnya termotivasi untuk mengejar impian mereka untuk masuk Todai. Dorama ini juga mengajarkan kita agar tidak menganggap diri sendiri bodoh. Semua orang pasti bisa menggapai impiannya, asal dia mau berusaha 🙂

Meskipun menghadirkan tema yang sudah umum  yaitu tema “meraih mimpi”, Dragon Zakura sama sekali tidak menghadirkan sesuatu yang klise. Endingnya realistis sekali (kayak gimana? Tonton aja deh sendiri :p). Dorama ini juga menunjukkan sebuah realitas bahwa hidup itu kejam. Banyak hal yang dibutuhkan untuk dapat masuk ke ‘masyarakat’, jangan mau jadi orang bodoh karena orang bodoh akan selalu tertipu. Karena itu, seperti apa yang dibilang oleh Sakuragi “If you want to change your life, get into Todai”. Meskipun saya tahu bahwa Todai bukan satu-satunya jalan untuk membuktikan diri pada masyarakat, tapi melalui hal ini mereka belajar banyak hal, bukan hanya belajar tentang pelajaran sekolah saja, tapi juga belajar tentang kehidupan.

Selain ceritanya yang bagus, dorama ini juga menghadirkan banyak aktor aktris terkenal. Dari kalangan senior ada Abe Hiroshi dan Hasegawa Kyoko yang mantep banget aktingnya di sini. Abe Hiroshi sangat berhasil memerankan seorang pengacara nyentrik mantan anggota geng motor yang suka seenaknya sendiri. Begitu juga dengan Hasegawa Kyoko yang tampil sebagai guru cantik tapi ceroboh, yang cara mengajarnya diakui oleh murid-muridnya sangat membosankan. Sebagai murid-murid sekolah khusus, aktor/aktris (yang di dorama ini masih) abg di dorama ini pun tampil dengan baik. Memang tidak ada yang istimewa dari akting Yamapi alias Yamashita Tomohisa di sini, tapi dia cukup berhasil memerankan Yajima yang cool *btw rambutnya anak kampung sekali :p*. Masami Nagasawa, Aragaki Yui, Koike Teppei, Saeko, dan Nakao Akayoshi pun menampilkan akting yang sama baiknya. Di luar mereka, pemain pendukung film ini seperti staf guru sekolah, guru-guru sekolah khusus, dan karakter-karakter lainnya pun turut bermain bagus dalam film ini. Oh ya, film ini juga menyajikan humor yang meskipun bukan tipe humor yang bisa bikin penonton tertawa terbahak-bahak, namun cukup menghibur sehingga membuat penonton tidak bosan.

Sekian saja review dari saya. Dorama ini amat saya rekomendasikan pada anak-anak sekolah ataupun orang yang mempercayai  bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Oh iya, kalau tidak salah baru-baru ini dorama yang diangkat dari manga berjudul sama ini telah diadaptasi oleh Korea dengan judul God of Study. Saya belum nonton tapi saya harap serial korea-nya akan sebagus ini juga. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »