Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2010

Ahey, akhirnya ada lagi film Ghibli yang saya tonton. Abis rasanya susah banget nemuin film Ghibli itu dan beberapa minggu lalu saya bahagia sekali karena gak sengaja menemukan dvd film ini di lapak dvd bajakan deket kampus *hehe*. Yak, Ponyo adalah film Ghibli kedua yang saya tonton setelah Spirited Away yang memukau itu. Dan film ini pun juga sangat memukau meskipun menurut saya masih lebih bagus Spirited Away.

Oke jadi film ini bercerita tentang Ponyo (yang awalnya memiliki nama Brunhilde), semacam ikan jejadian (mirip ikan mas tapi punya wajah mirip manusia) yang merupakan peranakan manusia dengan dewi laut. Ponyo ini berusia lima tahun, dan seperti halnya anak-anak yang sedang tumbuh, ia memiliki rasa ingin tahu yang besar dan sangat ingin mengetahui bagaimana dunia di atas sana (daratan maksudnya). Ia lalu kabur dan tanpa sengaja terperangkap di sebuah toples kaca. Sousuke, seorang anak laki-laki berusia  5 tahun yang rumahnya berada di atas tebing melihatnya dan menyelamatkan Ponyo dengan cara memecahkan toples tersebut. Tangan Sousuke jadi berdarah dan Ponyo langsung menjilat darahnya sehingga luka di tangan Sousuke tersebut sembuh seketika, membuktikan bahwa ikan kecil tersebut memiliki kekuatan magis. Sousuke yang langsung menyukai ikan kecil tersebut berniat merawatnya dan kemudian memberi nama ikan tersebut dengan nama “Ponyo”. Lalu, meskipun kurang dari sehari mereka bersama, mulai timbul rasa suka dalam hati Ponyo kepada Sousuke. Sayangnya, Ponyo berhasil ditemukan ayahnya, Fujimoto, dan dibawa kembali ke dalam laut. Namun, tekad yang kuat membuat Ponyo (yang sangat ingin berubah menjadi manusia) berhasil kabur kembali. Bukan hanya itu, berkat darah Sousuke, Ponyo berhasil mewujudkan keinginannya menjadi manusia. Wujudnya berubah menjadi seorang anak perempuan kecil. Namun, perubahan dirinya menjadi manusia ini ternyata menimbulkan sebuah bencana yang sangat berbahaya bagi desa tersebut. Jadi, apa yang akan terjadi pada Ponyo selanjutnya? Tonton aja deh.

Meskipun baru dua kali nonton film studio Ghibli, tapi saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa Hayao Miyazaki adalah salah satu sutradara / animator hebat dunia. Senang rasanya melihat masih ada yang mempertahankan model animasi 2D di tengah maraknya animasi-animasi 3D dengan efek CGI yang begitu canggih saat ini. Dan, meskipun ini film animasi 2D, animasinya sendiri sangat bagus dan indah. Dunia bawah laut, beserta makhluk-makhluk di dalamnya digambarkan sangat indah dan animasinya sangat memanjakan mata. Namun, Miyazaki tidak hanya memberi kita gambar-gambar indah saja. Dia juga menunjukan sebuah realita di mana ketika Ponyo berenang ke darat, diperlihatkan banyak sampah di lautan yang sedang diangkut oleh sebuah kapal. Tidak mengherankan jika Fujimoto (ayah Ponyo) membenci manusia, karena banyak manusia yang sering mengotori lautan yang dicintainya (tapi gak semua manusia begitu loh :p)

Cerita film ini sendiri, yaitu tentang seekor ikan yang ingin menjadi manusia, mungkin akan mengingatkan kita pada kisah The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen. Tapi meskipun keduanya memiliki kesamaan tema, kedua kisah ini jauh berbeda kok. Saya suka persahabatan antara Sousuke dan Ponyo, meskipun persahabatan mereka bisa dibilang baru sebentar, tapi bisa kelihatan kalau Sousuke sangat menyayangi Ponyo, begitu juga sebaliknya. Karakter Sousuke begitu baik dan polos, seperti anak-anak pada umumnya. Ponyo juga begitu menggemaskan, tapi saya lebih suka wujud dia pas jadi ikan dibanding jadi manusia, hehe. Karakter-karakter lainnya pun sangat mendukung cerita film ini, seperti Lisa, ibu Sousuke yang tegas tapi punya jiwa penolong yang sangat tinggi. Begitu juga dengan karakter nenek-nenek di panti Jompo (tempat kerja Lisa) yang turut menghidupkan semangat film ini. Karakter Fujimoto, ayah Ponyo, juga tidak bisa dibilang sebagai karakter antagonis atau jahat karena kebenciannya terhadap manusia sangat beralasan, sehingga tidak ada hitam atau putih dalam film ini.

Yang bagus lagi dari film ini adalah pesan moral yang disampaikan Miyazaki sama sekali tidak terlihat menggurui atau menghakimi. Keindahan lautan yang ditampilkan oleh Miyazaki membuat kita menyadari bahwa itu adalah salah satu harta terbesar dunia yang tidak boleh dikotori oleh tangan kita sendiri. Ayo, bagaimana kalo suatu saat lautan marah karena tindakan kita? Bukan gak mungkin nanti terjadi bencana seperti yang terjadi pada film ini (meskipun bencana di film ini gara-gara si Ponyo sih ^^). Namun, film ini tidak langsung menyalahkan manusia begitu saja, karena ditunjukan juga sisi baik dari manusia melalui karakter Lisa yang jiwa sosialnya sangat tinggi. Ja, sekian aja. 4 bintang saya kasih untuk film ini. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

My name is Salmon, like the fish. First name, Susie. I was fourteen years old when I was murdered on December 6th, 1973. I wasn’t gone. I was alive in my own perfect world. But in my heart, I knew it wasn’t perfect. My murderer still haunted me. My father had the pieces but he couldn’t make them fit. I waited for justice but justice did not come.

Nama Peter Jackson mungkin sudah tidak asing bagi para pecinta film. Ia adalah sutradara trilogi The Lord of the Rings yang luar biasa itu dan juga pernah menyutradarai remake dari film King Kong. Kali ini, ia menyutradarai film yang memiliki tema yang agak berbeda dari film-film yang pernah ia sutradarai sebelumnya, yaitu drama. The Lovely Bones adalah film yang diangkat dari novel best seller karangan Alice Sebold yang berjudul sama. Film ini bercerita tentang Susie Salmon (Saoirse Ronan), seorang anak perempuan berusia 14 tahun yang pada suatu hari dibunuh oleh tetangganya sendiri, Mr. Harvey (Stanley Tucci). Pembunuhan tersebut dilakukan secara ‘rapi’ dan mayat serta beberapa bukti disembunyikan oleh Mr. Harvey sehingga pihak keluarga dan kepolisian tidak bisa menemukan Susie. Susie yang masih belum rela akan kematiannya terjebak di sebuah dunia di antara kehidupan dan surga, sehingga ia masih bisa mengamati bagaimana hidup keluarganya setelah ditinggal dirinya. Dan setelah kematiannya, hidup keluarganya memang tidak sama lagi. Sang ayah, Jack Salmon (Mark Wahlberg), merasa depresi dan terobsesi untuk menangkap pembunuh putrinya dan menjadi paranoid. Sang ibu, Abigail (Rachel Weisz), berusaha menghindari hal-hal yang berhubungan dengan putrinya (misalnya ia tidak mau masuk ke kamar Susie). Selain mereka, Susie juga mengamati orang-orang lain dalam kehidupannya, seperti Lindsey dan Buckley yang merupakan adik-adiknya; Grandma Lynn (Susan Sarandon), neneknya; Ray, cowok yang ditaksirnya; Ruth, anak perempuan aneh yang sanggup merasakan kehadirannya; sampai pembunuhnya sendiri, Mr. Harvey. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Susie pada akhirnya akan memilih untuk pergi ke surga dan berhenti mengamati orang-orang di dunia nyata? Apakah pelaku pembunuhannya, Mr. Harvey, pada akhirnya akan tertangkap? Tonton aja deh.

Sebelum saya nonton film ini, sebelumnya saya udah baca novelnya (yang lumayan tebal ituh) dan jujur, saya kurang bisa menikmati novelnya. Mungkin karena terjemahannya kurang enak ya, saya jadi lama banget baca novel tersebut (beberapa bulan mungkin?) dan selalu ngantuk tiap bacanya. Padahal dari segi cerita, saya suka banget sama ide cerita novel ini. Dan versi filmnya ini menurut saya gak begitu membuat saya bosan sebagaimana versi novelnya. Hmm, ada sih beberapa scene yang membosankan dari film ini, tapi overall gak begitu banyak dan menurut saya film ini lumayan bagus.

Yang patut diacungi jempol dari film ini adalah visualisasi dunia antara-dunia-nyata-dan-surga yang menurut saya keren banget. Pas saya baca novelnya, imajinasi saya kayaknya gak nyampe situ. Indah. Indah banget. Perubahan-perubahan suasana yang ada di dunia tersebut, yang bikin filmnya sedikit bernuansa surealis, juga bikin saya terkagum-kagum melihatnya. Peter Jackson gitu, kayaknya ada yang salah kalo dia gak nyempilin efek-efek canggih :p Oh iya, visualisasi dunia yang ada di film ini juga sedikit mengingatkan saya pada visualisasi dunia-dalam-cermin yang ada di film The Imaginarium of Doctor Parnassus. Tapi masih lebih canggih The Imaginarium meskipun kedua-duanya sama-sama indah.

Dari segi cerita, cerita filmnya tampak lebih sederhana dari versi novelnya, yang menurut saya oke-oke aja *malah kalo terlalu detail kayak di novelnya, mungkin film ini akan tambah membosankan*. Dan menurut saya sah-sah aja menggabungkan beberapa genre dalam sebuah film. Meskipun tema utamanya adalah drama, tapi sang sutradara juga menyisipkan unsur thriller (yang lumayan bikin tegang) dan fantasi (melalui dunia Susie) ke dalam film ini, yang menurut saya oke-oke aja dan sama sekali gak mengganggu cerita secara keseluruhan atau membuat film ini jadi tidak jelas genre-nya. Toh, dalam kehidupan sesungguhnya, tidak mungkin hidup ini hanya berisi satu tema bukan? *ting ting*

Akting-akting pemainnya pun lumayan oke. Yang paling hebat sih, Stanley Tucci sebagai Mr. Harvey. Awalnya sih, sosok Mr. Harvey di film ini gak sesuai sama bayangan saya. Yang di film terlalu ramah abisnya. Tapi begitu ekspresinya berubah jadi kepribadiannya yang sebenarnya *bukan topeng*, saya gak bisa ngomong apa-apa lagi. Salut *lah, ini bisa ngomong?*. Saoirse Ronan juga sangat pas memerankan karakter Susie. She’ll be the next rising star 🙂 Mark Wahlberg dan Rachel Weisz juga sama-sama menampilkan aktingnya yang prima. Oh iya, satu lagi yang paling saya suka aktingnya adalah Susan Sarandon yang berperan sebagai Grandma Lynn. Gokil banget akting nenek satu ini :D. Btw, saya kurang sreg sama pemeran karakter Ray dan Ruth. Kalo soal Ray, ini subjektif sih, kurang suka tampangnya dan gak sesuai sama bayangan saya. Kalo Ruth, menurut saya, tampangnya terlalu tua untuk anak 14 tahun. Selain itu, aktingnya menurut saya agak kaku. Padahal Ruth ini di novelnya adalah salah satu karakter yang paling menarik karena memiliki kepribadian yang unik. Tapi sayangnya di film ini karakternya tidak begitu dikembangkan dan tampak seperti tempelan saja.

Well, segini aja review saya. Secara keseluruhan film ini lumayan bagus, meskipun memiliki beberapa kekurangan. Saya kasih 3,5 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »

Udah penasaran sama film ini dari dulu, karena EITA dan Ueno Juri (aktor – aktris Jepang favorit saya) bermain bersama di film ini. Dan kebetulan akhir-akhir ini saya lagi ngikutin dorama Sunao ni Narenakute yang juga memasang mereka berdua sebagai pemain utama. Well, karena gemas melihat mereka berdua di dorama itu, saya jadi pengen liat dorama / film mereka yang lain (mereka juga pernah bermain bersama di Nodame Cantabile dan Last Friends, yg dua-duanya udah pernah saya tonton), dan pilihan saya jatuh kepada Summer Time Machine Blues, beruntung saya nyari-nyari film ini di internet akhirnya dapet juga link download-nya 😀

Jangan pedulikan posternya yang terkesan nge-dangdut karena ternyata film ini bagus sekali. Well, menurut saya, sebuah film bisa dikatakan berhasil kalau bisa membuat penonton merasa terhibur dan menikmatinya sepanjang film itu berlangsung (walau dengan tema seremeh temeh apa pun). Dan film ini berhasil melakukannya. Meskipun adegan-adegan awal dari film ini membuat saya bingung, tapi adegan-adegan selanjutnya memberikan saya kepuasan dan mulai menjelaskan kenapa segala hal tersebut bisa terjadi. Oke jadi film ini bercerita tentang apa sih? Kalo liat dari judulnya, mungkin kalian bisa menebak apa yang diceritakan oleh film ini. Yak, time machine alias mesin waktu. Jadi film ini bercerita tentang masa liburan musim panas anak-anak klub sci-fi (yang berjumlah 5 orang) dan klub fotografi, yang bergabung dalam satu ruangan karena klub fotografi anggotanya hanya sedikit (cuma dua orang, salah satunya karakter yang dimainkan Ueno Juri). Suatu hari, terjadi sebuah insiden (yang sebelumnya didahului oleh beberapa keanehan) yang menyebabkan remote AC ruangan tersebut terkena tumpahan coke sehingga remote AC tersebut rusak dan AC ruangan tersebut tidak bisa dinyalakan. Hal tersebut membuat mereka sangat menderita *duh, bahasanya mulai lebay* karena cuaca saat itu sedang panas-panasnya. Keesokan harinya, tiba-tiba mereka kedatangan orang aneh yang ternyata datang dari masa depan beserta mesin waktu yang membawanya kemari. Awalnya mereka tidak percaya dan menganggap mesin waktu tersebut sebagai mainan atau alat untuk mengerjai mereka saja. Salah satu dari mereka, yaitu Soga (Minenori Nagano), akhirnya mencoba kembali ke satu hari yang lalu dengan mesin waktu tersebut, dan mesin tersebut benar-benar berfungsi! Dan Soga tidak bohong karena hal tersebut bisa dibuktikan dengan foto yang diambil sehari yang lalu oleh anak klub fotografi. Akhirnya, setelah mengetahui bahwa mesin waktu itu memang berfungsi, mereka  memutuskan menggunakannya untuk…… mengambil remote AC yang belum ketumpahan coke kemarin *jedang!* Apakah misi mereka akan berhasil? Apalagi setelah itu Takuma (Eita) dan teman-temannya yang tidak ikut kembali ke masa lalu menyadari bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi karena akan menimbulkan suatu kontradiksi (hmm…gimana yah menjelaskannya, biar ngerti tonton aja deh film ini :P). Jadi, apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Tonton aja deh.

Film ini benar-benar menghibuuuuur. Saya suka film ini <3. Yang paling saya suka dari film ini adalah di mana segala hal yang terjadi di film ini digambarkan dengan sangat masuk akal. Semua keanehan yang terjadi di bagian awal yang mungkin membuat kening kita berkerut akan dijelaskan melalui kejadian-kejadian yang mereka alami setelah menggunakan mesin waktu (seperti mengenai siapakah pencuri Vidal Sassoon). Padahal awalnya saya sempet ragu dan berharap akan menemui sesuatu yang tidak masuk akal dari film ini, tapi ternyata tidak ada, sutradaranya benar-benar teliti dan rapi menghubungkan adegan-adegan yang ada di film ini. Salut deh. Sebelumnya juga saya sempet bertanya-tanya bukankah akan terjadi kekacauan jika manusia mengubah masa lalu, sementara di masa depan tersebut (sebelum mereka menggunakan mesin waktu) tidak ada yang berubah sama sekali. Dan hal tersebut ternyata akhirnya dibahas juga di film ini. Hehe, sepertinya sutradaranya bisa membaca pikiran penonton mengenai film ini.

Selain jalinan ceritanya yang nyambung dan masuk akal, poin kedua yang saya suka dari film ini adalah humor-nya. Yap, melalui tingkah anak-anak klub sci-fi (yang sebetulnya pada gak ngerti sama sekali mengenai sci-fi) yang lucu tapi gak berlebihan, film ini menjadi sangat segar dan menghibur. Akting mereka sangat natural dan kalopun agak lebay tapi lebay-nya wajar. Oh ya dan yang paling penting EITA terlihat sangat manis di sini *halah*. Selain para anggota klub sci-fi, akting pemeran-pemeran lainnya pun bagus-bagus, seperti Ueno Juri yang sangat pas berperan sebagai Haruka, anggota klub fotografi yang sangat cuek. Satu lagi yang harus saya acungin jempol aktingnya adalah Kuranosuke Sasaki yang berperan sebagai guru pembimbing klub sci-fi yang ketika berteori sering dicuekin oleh murid-muridnya. Kocak banget adegan-adegan yang melibatkan guru satu ini 😀

Well, secara keseluruhan film ini recommended kok. 4 bintang :))

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Yak, akhirnya saya memberanikan diri untuk membuat review dari album ini. Ini review musik pertama saya, dan terus terang saya gak pede banget buat bikin review tentang musik, berhubung saya ini cuma penikmat musik amatir dan sampai sekarang masih sering mengalami kesulitan dalam membedakan berbagai genre musik. But, saya berusaha keras membuat review ini. Berhubung ini review dari album band kesayangan saya, Tokyo Jihen, yang udah saya kagumi sejak tahun 2008 lalu.

Album SPORTS ini adalah album Tokyo Jihen (atau bisa juga disebut Tokyo Incidents) yang ke-4. Judulnya sendiri memiliki hubungan dengan judul-judul album sebelumnya, yaitu Kyouiku (Education), Adult, dan Variety, yang semuanya merupakan genre-genre acara televisi. Album ini dirilis pada tanggal 24 Februari 2010 kemarin. Tapi fans mereka sangat beruntung karena album ini sudah beredar di internet kira-kira seminggu sebelum tanggal perilisannya. Siapapun itu yang menguploadnya, sembah sujud deh saya *halah*.

Sebelum membahas album SPORTS ini, mungkin lebih baik saya membahas Tokyo Jihen-nya dulu. Band macam apa sih Tokyo Jihen itu? Kenapa saya bisa segitu tergila-gilanya sama band Jepang satu ini? *halah yg ini kagak perlu ditanya keknya :p* Well, Tokyo Jihen ini adalah sebuah band yang dibentuk oleh Shiina Ringo, seorang penyanyi solo wanita terkenal di Jepang yang meninggalkan karir solo-nya dengan membentuk band ini. Unik bukan? Biasanya para musisi yang saya tahu awalnya berkarir di band dulu sebelum akhirnya memilih untuk solo karir. Kalau Shiina Ringo, ia solo dulu baru bikin band. Well, Shiina Ringo sendiri tampaknya gak main-main dalam membentuk band ini. Member-member yang dipilihnya adalah musisi-musisi handal Jepang (contohnya: bassist band ini, Kameda, adalah produser musik yang cukup terkemuka di Jepang). Sehingga band ini pun memiliki musikalitas yang sangat hebat. Kalo ditanya genre Tokyo Jihen itu apa? Saya rasa susah untuk menggambarkan jenis musik mereka karena mereka sering mencampurkan berbagai genre musik, yang membuat band ini semakin unik. Tapi secara keseluruhan Tokyo Jihen memiliki genre fusion jazz, karena Tokyo Jihen memiliki genre utama jazz yang juga dicampur dengan genre-genre lain seperti rock.

SPORTS sendiri memiliki lagu berjumlah 13 lagu. Dua di antaranya, Senko Shoujo dan Noudouteki Sanpunkan sudah rilis terlebih dahulu sebagai single. Pembuka lagu ini adalah Ikiru (Living), sebuah lagu yang dibawakan secara a capella. Well, ini adalah lagu Tokyo Jihen yang pertama yang dibawakan secara a capella (tapi tidak penuh a capella karena menjelang akhir mulai terdengar suara alat musik satu persatu). Dan lagu ini bener-bener bikin saya merinding! Sebuah pembuka yang bagus untuk album ini. Dilanjutkan dengan lagu Denpa Tsuushin (Radio Communication), yang nge-rock dengan dipadu music elektronik. Ini adalah salah satu track favorit saya, karena komposisinya begitu dahsyat dan unik. Track ke-3 adalah Season Sayonara (Season Goodbye), dan dilanjut dengan track ke-4 yang berjudul Kachi Ikusa (Victory). Well, Kachi Ikusa ini adalah salah satu track favorit saya juga. Lagunya sangat asik didengar serta didukung oleh lirik (yang semuanya bahasa Inggris) yang bagus (well, pelafalan bahasa Inggris Shiina Ringo juga lumayan lancar). Track ke-5 F.O.U.L, amat nge-rock dan kalau pertama didengar terkesan gak easy listening karena berisik, tapi lama-lama lagu ini jadi amat sangat bikin kecanduan. Lagu ini sedikit mengingatkan saya pada lagu Service yang ada di album Kyouiku, sama-sama asik dan ngerock abis. Track ke-6 adalah Utten Kekkou (Rainy Action), cukup easy listening dan suara Shiina Ringo terdengar sangat imut di sini ^^ Track 7, Noudouteki Sanpunkan (An Active Three Minutes), sesuai judulnya memiliki durasi tepat tiga menit! Lagu ini sudah keluar sebelumnya sebagai single, dan pv-nya sendiri sangat menarik karena di pv ini kita bisa menyaksikan Shiina Ringo dan member Tokyo Jihen lainnya melakukan gerakan moonwalk yang terkenal sebagai gerakan khas sang king of pop Michael Jackson. Track ke-8, Zettai Zetsumei (Desperate Situation), adalah lagu yang paling saya sukai di album ini. Suara Shiina Ringo di bagian awal terdengar imut, dan entah kenapa lagu ini, semakin sering didengar rasanya semakin enak ^^ Track ke-9, F.A.I.R, berirama jazz yang sangat nyaman di telinga. Noriki (Anxiety), sebagai track ke-10, juga enak didengar, dan lagu ini memiliki sound yang membuat suasananya seperti suasana film horror *err….gimana ya menggambarkannya?*. Track 11, Sweet Spot, memiliki kesamaan dengan Kachi Ikusa karena liriknya ditulis dalam bahasa Inggris. Lagu ini memiliki irama R & B, dan suara Shiina Ringo di lagu ini sangat memanjakan telinga. Entah kenapa denger lagu ini bikin saya jadi merasa seksi *halah*.  Senko Shoujo (Flash Girl), yang merupakan track ke-12, sangat asik didengar, pv-nya juga lumayan unik. Terakhir, track ke-13 adalah Kimaru (Dying), lagunya lumayan lambat dan sangat cocok sebagai lagu pengantar tidur. Di antara ke-13 lagu di album ini, ini adalah lagu yang paling jarang saya dengar (mungkin karena saya gak begitu suka lagu yang lambat). Tapi meskipun lambat, lagu ini memiliki musik yang bagus 🙂

Secara keseluruhan, ini adalah album yang sangat bagus dan memuaskan. Favorit saya di album ini adalah Zettai Zetsumei, Denpa Tsuushin, Noudouteki Sanpunkan, Sweet Spot, Kachi Ikusa. Lagu-lagu lainnya pun sama-sama keren dan enak buat didenger. Saya kasih 4,5 bintang deh.

Rating : 1 2 3 4,5 5

Read Full Post »

Saran sangat bijak dari saya: janganlah membuang waktu dan uang anda dengan menonton film ini. Film ini benar-benar buruk, serius. Saya sama sekali tidak ada niat untuk menonton film ini. Ini karena temen lama saya datang dan ngajakin saya nonton film. Dan karena film-film yang ada di Jatos waktu itu hampir gak ada yang menarik, pilihan tertuju pada Menculik Miyabi. Waktu itu saya ngotot gak mau nonton film ini karena saya rasa ini adalah another film gak mutu yang cuma bisa jual sensasi. Maaf saja kalau saya sudah pesimis duluan sebelum menonton filmnya. Tapi melihat segala pemberitaan di berbagai media, kayaknya film ini cuma heboh dengan sensasi-nya, karena film ini dibintangi oleh bintang film porno asal Jepang yang bernama Maria Ozawa alias Miyabi. Padahal waktu itu saya lihat ada film Alangkah Lucunya Negeri Ini diputer di 21 Jatos, tapi salah satu temen saya itu udah nonton dan gak mau nonton film itu dua kali. Dan akhirnya saya menyerah karena dua teman saya mau membayari saya tiketnya supaya saya mau nonton film itu. Yeah jadi setidaknya, saya cuma rugi waktu doang, tapi gak rugi duit *licik mode on*.

Menonton film ini benar-benar seperti mimpi buruk bagi saya. Mengenai ceritanya, ah terlalu malas saya menuliskan sinopsisnya di sini. Silakan google saja untuk mencari tahu bagaimana ceritanya *dan dengan melihat trailernya di tv saja kita sudah bisa mengetahui bagaimana ceritanya*. Yang konyol adalah, meskipun judulnya Menculik Miyabi, Miyabi-nya sendiri tetep adem ayem di Jepang, gagal datang ke Jakarta, dan yang jadi korban malah kw 2 nya yang bernama Mie Yao Bie. Lalu bagaimana petualangannya bersama tiga laki-laki loser yang benar-benar tolol ini sama sekali tidak menggugah penonton *padahal bisa aja loh ceritanya jadi bagus dengan cerita tersebut, namun film makernya lebih mengedepankan humor-humor tolol yang tidak lucu*. Akting tiga pemeran utamanya benar-benar buruk. Annoying to the maaaax. Saya tidak merasakan simpati sama sekali pada ketiga karakter ini. Yang ada malah saya ingin membunuh mereka satu-satu karena aktingnya sedemikian ganggu dan lebay. Begitu juga dengan pemeran-pemeran lainnya, semuanya sangat annoying. Yang paling mending aktingnya malah si Miyabi sendiri, yang kemunculannya di film ini tidak begitu banyak (paling mending bukan berarti bagus ya). Humor-humor yang ditampilkan dalam film ini kebanyakan humor-humor slapstick, garing, dan lebay. Kagak lucu sama sekali. Padahal yang saya tonton adalah film komedi, tapi saya tidak bisa tertawa sama sekali dan malah ingin menangis karena saking buruknya film ini. Well, sudah saja lah review ini. Dari skala 1 sampai 5 bintang. Saya kasih NOOOOL besar. Bahkan itu terlalu bagus untuk rating film ini, karena jika saya meniru sistem penilaian di blog Sinema Indonesia yang sampai saat ini tengah mati suri, saya akan memberi 5 kancut untuk film ini. Terlalu buruk. Film ini terlalu buruk. Jangan buang-buang waktu dengan menonton film ini.

Rating : 0 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Berapa banyak dari kita yang hidup sesuai dengan yang kita inginkan? Berapa banyak dari kita yang siap mengambil risiko untuk meninggalkan segala kemapanan demi hidup sesuai dengan yang kita inginkan? Berapa banyak dari kita yang mau keluar dari sesuatu yang bernama “comfort zone”? Tidak banyak, mungkin. Film ini bercerita mengenai hal satu itu, melalui pasangan Frank (Leonardo DiCaprio) & April Wheeler (Kate Winslet), yang setelah beberapa tahun menikah mengalami kehampaan dan kekosongan akibat hidup yang tidak sesuai dengan keinginan tersebut. Padahal dilihat dari mana pun, mereka adalah pasangan yang sempurna. Sang suami punya pekerjaan tetap dan mapan, mereka juga memiliki dua anak yang manis, tinggal di rumah yang bagus di Revolutionary Road, dan sebagainya. Namun, kekosongan terus menyelimuti mereka dan menyebabkan hubungan keduanya senantiasa dihiasi dengan pertengkaran. Sampai akhirnya April memiliki sebuah ide, yaitu meminta Frank agar mereka pindah ke Paris, sesuai janji Frank beberapa tahun lalu. Awalnya Frank agak ragu untuk menerima ide istrinya tersebut. Namun, akhirnya dia menerima hal tersebut, apalagi sudah sejak lama dia ingin meninggalkan pekerjaan yang sangat-sangat dibencinya dan ingin melakukan hal yang sebenarnya dia inginkan di Paris. Mereka sepakat untuk pindah ke Paris beberapa bulan kemudian, dan dengan itu hubungan antara kedua suami istri ini mulai membaik dan hangat kembali. Berita tersebut sudah mereka sebar ke tetangga-tetangga serta teman kantor Frank, yang kebanyakan menganggap rencana suami istri tersebut sebagai rencana gila. Coba, untuk apa mereka pindah ke tempat baru, sementara hidup mereka di situ sudah mapan dan tak kekurangan? pikir mereka. Apalagi rencana kedua suami istri tersebut setelah pindah ke Paris adalah April yang bekerja sementara Frank menganggur, yang membuat rencana tersebut semakin dianggap sebagai rencana gila karena hal tersebut (istri-bekerja-suami-menganggur) dianggap tidak masuk akal. Awalnya mereka tidak goyah dengan rencana tersebut, tapi beberapa hal mulai mengganggu rencana mereka, misalnya atasan Frank mulai mempromosikan dirinya dan ia akan naik pangkat yang artinya dia akan mengalami kenaikan gaji. Begitu juga dengan kehamilan tak terencana April, yang akan mengganggu rencana kepindahan mereka. Jadi, apa yang akan terjadi pada suami-istri ini selanjutnya? Apakah rencana kepindahan mereka ke Paris akan terlaksana? Silakan tonton saja deh.

Film ini SAKIT! Punya kadar depressing yang agak tinggi, dan bikin saya jadi banyak berpikir (oh yeah biasanya saya sedikit sekali berpikir :p). Masalah yang diangkat dalam film ini cukup menyentil dan memang sering terjadi pada orang-orang kebanyakan. Coba, pasti banyak kan dari kita yang hidup tidak sesuai dengan keinginan, namun akhirnya menganggap hal itu biasa karena sudah menjadi bagian dari rutinitas, sementara sebenarnya ada hal-hal lain yang ingin kita lakukan, tapi kita terlalu takut untuk melakukannya karena takut kehilangan hal-hal yang sudah kita dapatkan tersebut. Contohnya pada suami istri Wheeler tersebut. Dilihat dari mana pun mereka adalah pasangan bahagia, punya segalanya yang mungkin tidak dimiliki oleh pasangan lain. Namun, meskipun begitu, di dalam diri mereka ada kekosongan yang membuat mereka tidak bahagia. Frank dulu bersumpah tidak akan bekerja di Knox seperti ayahnya, namun hasilnya ia malah ‘terjebak’ bekerja di tempat itu selama bertahun-tahun, padahal ada hal lain yang ingin ia lakukan, namun ia terlalu takut meninggalkan pekerjaannya karena takut kehilangan segalanya. Begitu juga dengan April, yang selalu bercita-cita jadi aktris, tapi akhirnya dia hanya jadi ibu rumah tangga biasa setelah menikah dengan Frank. Hal itu juga membuat cinta antara keduanya mulai berkurang. Sifat-sifat yang ada pada diri Frank sebelum menikah, yang membuat April jatuh cinta padanya, mulai menghilang setelah menikah karena pekerjaannya yang membuatnya tampak seperti robot. Hal ini membuat saya jadi mikir juga, banyak hal yang akan berubah setelah pernikahan, dan tidak heran sekarang banyak sekali pasangan-pasangan yang bercerai (dan film ini mungkin akan membuat orang berpikir dua kali jika ingin menikah, hehe :p).

Selain ceritanya yang menyentil dan ‘dalem’, film ini juga didukung oleh duet akting yang amat memukau dari Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet, yang sebelumnya pernah dipertemukan dalam salah satu film legendaris Hollywood, Titanic. Keren banget deh akting mereka berdua di sini! Mereka benar-benar sukses memerankan suami istri yang ‘sakit’. Tapi di antara mereka berdua, yang paling saya suka aktingnya di sini adalah Kate Winslet. Wanita satu ini emang piawai sekali ya dalam berakting, dan akting depresinya bikin saya ikutan depresi juga melihatnya. Bener deh, selama nonton film ini saya sangat penasaran dan juga takut untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya karena dalam menonton film ini saya bisa menempatkan diri pada karakter-karakternya. Misalnya, ketika Frank dipromosikan atasannya, saya jadi agak was-was dan cemas, bagaimana ya reaksi April mengenai hal itu? Hehe. Selain duet akting mereka, ada satu lagi karakter yang sangat menarik dan bagus aktingnya di sini, yaitu karakter John yang diperankan Michael Shannon. Karakter ini juga sama ‘sakit’nya dengan pasangan Wheeler, meskipun karakter ini bener-bener nyebelin dan minta digampar banget, tapi ucapan-ucapannya di sini bener banget dan lumayan nyentil pasangan tersebut. Dan dari sekian banyak teman-teman mereka, tampaknya hanya karakter ini yang mengerti tentang apa yang terjadi pada pasangan ini. Hebat deh!

Well, secara keseluruhan film ini adalah film yang bagus banget. Awalnya saya kira film ini bakal membosankan, tapi ternyata nggak loh. Film ini akan terus membuka mata anda karena penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya pada pasangan Wheeler tersebut. Selain itu, suasana kelam yang ada dalam film ini turut menambah kadar depressing dari film ini. Recommended!

Memorable Quote:

“If being crazy means living life as if it no matters and I don’t care if we’re completely insane.” (April Wheeler)

Catatan: oh ya, film ini disutradarai oleh Sam Mendes yang tidak lain adalah suami dari Kate Winslet sendiri. Sutradara ini juga terkenal dengan film arahannya yang berjudul “American Beauty” (hiks, saya belum nonton dan sampai saat ini masih nyari dvd-nya :()

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »