Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘french movie’ Category

1. Fine, Totally Fine (Japan, 2008)

Seperti yang pernah saya bilang di review Flipped, hal paling menyenangkan ketika menonton film adalah ketika kita tidak menyimpan ekspektasi apa-apa terhadap film tersebut dan ternyata film tersebut berhasil memuaskan kita. Perasaan itu kembali saya rasakan ketika menonton film Fine, Totally Fine yang merupakan debut penyutradaraan dari Fujita Yosuke. Menonton film ini tanpa mengetahui informasi apapun (kecuali pemainnya) dan film ini sukses mengejutkan saya dengan keunikan dan kesederhanaan yang dimilikinya. Film ini sendiri bercerita tentang kisah cinta segitiga yang sangat unik (dan sebenarnya tidak sekadar tentang cinta segitiga). Teruo (Arakawa YosiYosi), si penggemar segala hal tentang horror yang terobsesi ingin membuat rumah hantu yang hebat dan teman sejak kecilnya Hisanobu (Okada Yoshinori), seorang manager rumah sakit yang baik hati dan tidak pernah tega menolak permintaan orang lain sama-sama jatuh cinta pada Akari (Kimura Yoshino), seorang perempuan yang cantik tapi pemalu dan sangat ceroboh. Premis yang super simpel, tapi dieksekusi menjadi sangat unik dan manis. Letak keunikannya tentu saja ada pada unsur komedinya yang benar-benar lucu, meskipun lucu di sini bukanlah tipe lucu untuk semua orang terutama yang tidak terbiasa dengan film komedi khas Jepang. Dan yang saya kagumi dari film ini (dan kebanyakan film Jepang yang lain) adalah segala keunikan dan keanehan tersebut ditempatkan pada latar kehidupan sehari-hari, sehingga meskipun terlihat aneh film ini tetap bisa terlihat sederhana dan membumi. Dan humor-humor yang ada di film ini dihadirkan pada suasana yang tenang dan tidak lebay. Secara keseluruhan, jika kamu menyukai film-film komedi ala Miki Satoshi (Adrift in Tokyo) atau Ishii Katsuhito (The Taste of Tea), mungkin kamu akan menyukai film ini juga karena gaya komedinya cenderung mirip. Yang jelas saya sangat menantikan film-film yang akan disutradarai Fujita Yosuke selanjutnya. Recommended. 4/5

2. Love Me If You Dare (France, 2003)

Film komedi romantis dari Prancis, dibintangi Marion Cotillard dan Guillaume Canet. Bercerita tentang seorang perempuan dan laki-laki yang bersahabat sejak kecil dan sebenarnya saling menyimpan perasaan cinta yang belum mereka disadari. Julien dan Sophie (kedua sahabat tersebut) memiliki sebuah permainan yang mereka mainkan sejak kecil, di mana pada permainan tersebut mereka saling memberikan tantangan yang berbeda-beda kepada satu sama lain. Dan ketika dewasa, permainan tersebut terus berlanjut. Sampai di suatu hari Sophie menantang Julien untuk menciumnya, semuanya berubah. Apakah hal tersebut semata-mata hanya permainan bagi Julien? Bagaimana sebenarnya perasaannya yang sebenarnya terhadap Sophie? Somehow, ini adalah film yang ketika selesai menontonnya saya sulit menentukan apakah saya suka atau tidak terhadap filmnya. Kisah romance antara Julien dan Sophie itu saya akui manis dan unik. Tapi di sisi lain saya merasa permainan yang mereka lakukan itu sudah sampai taraf keterlaluan. Saya juga merasa kasihan terhadap orang-orang di sekeliling mereka, yang terkena imbas dari permainan yang mereka lakukan (mungkin film ini menganut peribahasa “ketika dua orang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, yang lain cuma ngontrak” kali ya). Dan jika saya menemukan dua orang yang seperti Julien dan Sophie di dunia nyata, saya pasti bakalan benci banget mereka berdua, hehe. Tapi di luar semua itu, film ini lumayan menarik dan menghibur meskipun kisahnya kurang believable untuk terjadi di dunia nyata. Cocok ditonton penyuka film romance yang unik dan tidak biasa. 3/5

3. The Woodsman and the Rain (Japan, 2011)

Percayakah kamu pada keajaiban dari proses pembuatan film? Bahkan untuk pembuatan b-movie yang sering dianggap remeh oleh sebagian orang? Meskipun belum pernah melihat proses pembuatan film secara langsung, setelah menonton film ini saya yakin bahwa proses pembuatan film adalah suatu hal yang ajaib dan bisa memengaruhi banyak orang, termasuk bukan penyuka film sekalipun. Koichi (Oguri Shun), seorang sutradara muda yang sangat pemalu, sedang membuat film zombie di sebuah desa. Koichi dan kru-nya tidak sengaja bertemu dengan Katsuhiko (Yakusho Koji), seorang penebang kayu yang sangat jauh dari dunia film dan bahkan tidak pernah mendengar kata “zombie”. Karena tidak begitu mengenali lokasi yang mereka gunakan, Koichi dan kru-nya pun meminta Katsuhiko untuk membantu mereka mencari beberapa lokasi yang bagus di desa tersebut. Tidak hanya itu, mereka pun meminta Katsuhiko untuk berperan sebagai figuran (sebagai salah satu zombie). Katsuhiko yang awalnya tidak begitu tertarik lama-lama jadi antusias dan menjadi sangat bersemangat membantu mereka, bahkan ia pun mengajak warga desa yang lain untuk ikut membantu para kru film tersebut. Hal tersebut juga rupanya memengaruhi diri Koichi dan kepercayaan dirinya sebagai sutradara. Secara keseluruhan, saya sangat menyukai film ini. Film ini begitu heartwarming, dan kecintaan saya pada film menjadi semakin bertambah setelah menonton film ini.  Tidak hanya itu, akting dan chemistry antara Yakusho Koji dan Oguri Shun pun sangat baik dan menambah bagusnya film ini. Film ini juga banyak mengandung momen-momen lucu, terutama di adegan-adegan ketika Katsuhiko membantu para kru film. Well, film ini cocok ditonton bagi pecinta film pada umumnya, terutama yang percaya pada keajaiban dari proses pembuatan film. 4/5

Advertisements

Read Full Post »

Blog ini tampaknya semakin lama semakin penuh dengan review Jejepangan ya. Maka dari itu, untuk menjaga agar blog ini tetap kembali ke akarnya (akar random maksudnya), kali ini saya akan mereview sebuah film yang bukan berasal dari negeri sakura itu. Film yang akan saya review kali ini adalah sebuah film asal Prancis dengan judul “Tomboy”,  yang disutradarai oleh Céline Sciamma.

Tomboy bercerita tentang seorang anak kecil berusia 10 tahun yang bernama Laure (Zoé Héran). Jika kita menonton film ini tanpa melihat judulnya terlebih dahulu, kita mungkin akan mengira Laure adalah seorang anak laki-laki. Rambutnya pendek, dan pakaian yang biasa dikenakannya adalah pakaian-pakaian yang biasa dipakai anak laki-laki. Tapi tentu saja, melalui judulnya sudah pasti kita akan bisa menebak bahwa dia hanyalah anak perempuan yang punya sifat tomboi. Laure sendiri diceritakan sebagai anak yang baru saja pindah rumah. Ia memiliki keluarga yang normal: ibu (yang sedang hamil), ayah, dan adik perempuan yang bernama Jeanne (yang tampaknya merupakan kebalikan dari Laure karena punya penampilan yang “cewek banget”). Sebagai anak kecil, Laure menjalani hidup yang normal dan tanpa kesulitan yang berarti.

Sebagai seorang “anak baru” di lingkungan barunya, Laure mulai keluar dari rumahnya untuk mencari teman bermain. Orang yang pertama ia temui adalah seorang anak perempuan bernama Lisa (Jeanne Disson). Lisa mengajaknya berkenalan, dan Laure memperkenalkannya dirinya sendiri dengan nama “Mickael”. Setelah itu, Lisa mulai memperkenalkan Laure/Mickael kepada anak-anak yang lain (yang kebanyakan anak laki-laki). Dari nama serta penampilannya, tentu saja anak-anak yang lain memperlakukan Laure sebagai laki-laki. Setelah hari itu, Laure mulai sering bermain dengan anak-anak itu. Dan Laure sendiri tampaknya merasa dirinya tidak cukup meyakinkan sebagai anak laki-laki. Ia mulai melakukan berbagai cara agar dirinya semakin mirip anak laki-laki, mulai dari membuka baju ketika sedang bermain bola sampai membuat penis buatan dari clay ketika mau berenang bersama teman-temannya. “Kelaki-lakian” Laure tampaknya memang sangat meyakinkan, sampai-sampai Lisa pun jatuh cinta padanya. Lalu, apa yang akan terjadi pada Laure selanjutnya? Apakah suatu saat identitas aslinya sebagai anak perempuan akan ketahuan oleh teman-temannya yang lain? Apakah suatu saat orang tua Laure akan mengetahui bahwa selama ini anak perempuan mereka berpura-pura jadi laki-laki di hadapan teman-temannya?

Anak kecil dan krisis identitas, kedua hal tersebut merupakan dua hal utama yang menjadi inti cerita film ini. Setiap orang pasti pernah merasakan sesuatu yang dinamakan krisis identitas, dan hal tersebut bisa saja terjadi ketika mereka masih kecil. Krisis identitas yang dialami Laure adalah krisis identitas yang berkaitan dengan gendernya. Ia adalah perempuan, tapi ia terlihat lebih nyaman berpakaian dan berlaku seperti anak laki-laki. Seperti cara pemikiran anak kecil yang sederhana, film ini juga mengalir dengan sederhana. Dan yang saya suka adalah, sutradaranya tidak berusaha membuat filmnya menjadi kelihatan muluk-muluk. Permasalahan yang dialami Laure tidak dibuat sebagai permasalahan yang sangat berat, tapi permasalah tersebut juga tidak lantas dibuat sebagai permasalahan enteng. Hal itu membuat film ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, karena permasalahan yang dialami Laure adalah permasalahan yang sangat mungkin dialami oleh anak kecil manapun.

Anak kecil dan krisis identitas. Jika ada satu kata yang bisa menggambarkan salah satu sifat anak kecil, kata itu pastilah “labil”. Tidak seperti orang dewasa, isi pikiran anak kecil masih sangatlah sederhana. Hal itu membuat seorang anak menjadi senang mencoba hal baru yang ia sendiri tidak mengerti. Hal itu menumbuhkan sifat labil tersebut, di mana seorang anak masih memiliki kesulitan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk bagi mereka. Oleh karena itu, krisis identitas yang dialami anak kecil sering kali bersifat sementara dan tergantung dari cepat atau tidaknya penanganan pihak lain (orang tua) terhadap krisis tersebut. Jika melihat Laure, kita mungkin akan dibuat bertanya-tanya, apakah dia memang sungguh-sungguh ingin jadi laki-laki? Apakah ia memang memiliki perasaan (seksual) terhadap Lisa? Atau apakah segala hal yang ia lakukan dilakukan cuma supaya ia tidak ditolak dari pergaulan barunya? Seperti yang saya bilang sebelumnya, sutradara film ini tampaknya tidak berusaha membawa permasalahan dalam film ini ke tingkat yang seserius itu (dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, lebih baik kembali lagi pada judulnya, Tomboy :D). Film ini hanya menunjukkan krisis identitas gender dari kacamata Laure, anak kecil biasa yang kepribadiannya belum terbentuk sepenuhnya. Ketomboian yang dimiliki Laure masih bisa dijelaskan dengan akal sehat. Dapat dilihat bahwa Laure memiliki insecurity sebagai perempuan. Apalagi di film ini juga diceritakan bahwa ia memiliki adik perempuan yang pernah dibully, dan sifat dasar seorang kakak adalah melindungi adiknya. Namun, Laure tampaknya menjadi lebih percaya diri jika ia bisa melindungi adiknya dalam wujud laki-laki. Dan karena kepribadian Laure belum terbentuk sepenuhnya, tidak butuh penyelesaian luar biasa dalam mengatasi krisis yang dialaminya. Namun, hal tersebut tentunya akan menjadi suatu pembelajaran bagi pendewasaan diri Laure.

Selain hal-hal di atas, yang paling saya suka di sini adalah akting dari para pemainnya. Salut untuk Zoé Héran yang sangat meyakinkan sebagai anak perempuan yang tomboi di sini (sampai-sampai ia menjadi terlihat sangat aneh ketika memakai pakaian perempuan :D).  Jangan dilupakan Malonn Lévana yang begitu adorable sebagai Jeanne, adik perempuan Laure yang begitu lucu dan menggemaskan. Pemeran anak-anak kecil lainnya pun (seperti yang jadi Lisa) turut bermain dengan baik di sini. Dan pemeran orang tua Laure pun sangat pas aktingnya di sini. Mereka (terutama sang ibu) sukses memerankan karakter orang tua yang membebaskan anaknya untuk melakukan apapun, tapi tetap punya sikap dan ketegasan ketika anaknya mengalami masalah. Overall, saya sangat menyukai film ini. Film ini menurut saya berhasil menggambarkan krisis identitas yang dialami anak kecil dengan manis dan sederhana, sesederhana pikiran anak kecil. 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Film animasi produksi Prancis ini (tapi saya nonton versi yang didubbing pake bahasa Inggris :D) menceritakan kehidupan seorang perempuan Iran bernama Marjane Satrapi. Ya, Marjane Satrapi ini adalah sutradara dari film ini sendiri (didampingi Vincent Paronnaud). Persepolis sendiri diangkat dari komik (atau bahasa kerennya graphic-novel) autobiografi karyanya yang memiliki judul sama.

Marjane Satrapi (yang biasa dipanggil Marji) adalah seorang anak perempuan yang berasal dari sebuah keluarga liberal nan demokratis. Pada masa itu, sedang ramai masyarakat yang mengajukan tuntutan untuk menurunkan pemimpin Iran saat itu yang memiliki sifat diktator dan kebarat-baratan. Banyak pejuang revolusi yang ditangkap dan keluar masuk penjara pada saat itu, termasuk kakek dan paman Marjane.

Perjuangan mencapai revolusi itu akhirnya berhasil dan pemimpin pada saat itu berhasil diturunkan. Namun, bukannya membawa Iran pada sebuah kebebasan, revolusi malah membawa Iran ke suatu sistem baru yang lebih parah dari sebelumnya, di mana Iran menjadi suatu negara Islam fundamental, di mana kebebasan banyak dikekang dan hal-hal yang dinilai bertentangan dengan agama tidak diperbolehkan ada di negara itu (selain itu, semua perempuan di Iran diharuskan memakai jilbab). Hal itu tentunya tidak cocok dengan Marjane dan keluarganya yang sangat demokratis itu. Apalagi, Marjane kecil adalah penggemar musik punk, menyukai Michael Jackson, dan senang memakai sepatu sneaker. Dan hal itu tentu saja dilarang! Ada satu scene yang amat lucu dan menggelikan di mana transaksi album musik saja dilakukan secara sembunyi-sembunyi seolah-olah seperti sedang transaksi narkoba (pada saat itu ceritanya si Marjane ini sedang membeli album Iron Maiden). Berlebihan banget ya rasanya. Apalagi di mana-mana ada polisi yang ditugaskan untuk mengawasi tingkah laku orang-orang.

Selain hal tersebut, hal itu juga diperparah dengan serangan Irak ke Iran (err….saya lupa tahunnya). Hal itu membuat Marjane dikirim ke Vienna (Austria) untuk sekolah di sana karena Iran sudah tidak aman lagi. Hal itu turut mengubah diri Marjane karena tidak seperti di Iran, kebebasan sangat terbuka lebar di Austria. Marjane kemudian bergaul dengan orang-orang yang berjiwa bebas, senang berpesta, merokok, dan menemukan orang yang dicintainya. Namun, suatu hari ia dikhianati oleh pacarnya dan hal itu membuatnya sangat terpuruk sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Iran karena sudah tidak tahan berada di Vienna. Kembalinya ke Iran, keadaan ternyata tidak berubah sama sekali. Revolusi Islam yang bersifat radikal tersebut masih berjalan. Lalu, apa yang akan terjadi pada Marjane? Tonton aja deh.

Film ini baguuuuuus sekali. Kelebihan dari film ini (dan hal yang paling saya suka dari film ini) adalah animasinya yang menurut saya gak kalah dari animasi-animasi disney atau pixar. Malah, menurut saya animasi-nya memiliki perbedaan dan ciri khas sendiri dibanding film-film animasi yang pernah saya tonton sebelumnya. Terus terus, animasi 2D ini 98 % nya dihiasi warna hitam putih saja, dan hal itu sama sekali tidak menurunkan daya tarik film ini, malah itu merupakan salah satu nilai lebih film ini dan tidak kalah menarik dengan film-film animasi berwarna.

Film animasi ini bukanlah film yang pantas ditonton oleh anak kecil (bahkan orang-orang dewasa yang berpikiran sempit). Perlu kedewasaan dan pikiran yang terbuka dalam menonton film ini, karena tema film ini agak menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan SARA. Tapi menurut saya, film ini sama sekali gak menyinggung agama kok (dalam hal ini, Islam). Yang dikritik oleh film ini adalah sistem yang dijalankan oleh Iran yang bersifat radikal dan memaksa (bukan agamanya loh, wahai orang-orang skeptis). Banyak adegan yang bikin saya miris, misalnya saat suatu tempat ‘digrebek’ karena disinyalir telah diadakan sebuah pesta di tempat itu (padahal cuma pesta biasa looooh). Hal itu kok jadi mengingatkan saya pada tingkah FPI yang suka main grebek-menggrebek secara anarkis ya. Bukan hanya itu saja, saat Marjane sedang berlari karena takut terlambat sampai ke tempat kuliahnya, ia dihentikan begitu saja oleh para ‘polisi tingkah laku’ karena gerakan larinya dinilai tidak pantas dilakukan (karena membuat pantatnya ikut bergoyang) dan bisa berakibat yang tidak-tidak (duh, ini kan tergantung orang yang ngeliatnya aja pak polisi, atau emang para ‘polisi tingkah laku’ itu pikirannya pada ngeres?).

Lalu, bagaimana akhirnya? (btw, spoiler alert) Pada akhirnya keadaan tetap berjalan sama dan perjuangan Marjane untuk menuntut kebebasan sama sekali tidak berhasil. Ia lalu memilih untuk pindah ke Prancis. Mungkin, Iran memang bukanlah negara yang cocok untuk dirinya yang berjiwa bebas (spoiler end). Film ini sendiri membuat saya bersyukur karena saya tinggal di Indonesia yang  menganut sistem demokrasi meskipun sebagian besar penduduknya beragama Islam. Gak kebayang kalo saya tiba-tiba ditahan hanya karena pake celana jeans atau sepatu sneaker. Dan bagi saya, keimanan itu bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan atau hanya dilihat dari segi luarnya saja. Selain itu, keimanan itu sifatnya pribadi antara individu dengan Tuhannya. Sesuatu yang dipaksakan itu buat saya malah bisa berakibat buruk bagi orang tersebut. Untuk apa dari luar kelihatan seperti orang beriman tapi dalam hatinya sama sekali tidak ada perasaan ikhlas sama sekali? Well, itu hanya pendapat saya aja kok. Secara keseluruhan ini adalah film yang bagus dan menarik. Oh ya, film yang konon dilarang ditayangkan di Iran ini juga mendapat banyak  penghargaan dan nominasi di festival-festival film Internasional, salah satunya nominasi Best Animated Feature pada ajang Academy Award tahun 2007. 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Saya baru nonton film ini beberapa hari yang lalu. Dan ini adalah film Prancis pertama yang saya tonton (#pengakuan)! Sebelumnya malah saya gak tau sama sekali kalo ini film Prancis, hihi. Dan film ini sendiri baguuuuuus banget. Saya bener-bener tersentuh melihat keindahan dari film ini.

Sesuai judulnya, film ini bercerita tentang Amelie  (Audrey Tautou) , seorang pelayan sebuah restoran yang memiliki kepribadian yang unik sekali. Amelie adalah orang yang agak introvert, sejak kecil ia memiliki imajinasi yang sangat tinggi dan suka menciptakan dunia sendiri. Suatu hari, ia menemukan sebuah kotak berisi banyak mainan di apartemennya. Kotak “harta karun anak kecil” itu ditenggarai dimiliki oleh penghuni apartemen sebelumnya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Amelie lalu memilki ide untuk mengembalikan kotak tersebut pada pemilik aslinya. Dengan penuh perjuangan, ia berusaha mencari pria tua yang dulunya adalah pemilik kotak tersebut. Akhirnya perjuangan tersebut membuahkan hasil, Amelie berhasil menemukan pria tua tersebut, dan mengembalikannya dengan cara yang amat berkesan, tanpa membuka identitasnya. Amelie begitu bahagia ketika melihat pria tua itu begitu terharu mendapat ‘harta karun’nya waktu kecil. Sejak itu, Amelie bertekad untuk membahagiakan orang-orang di sekelilingnya, mulai dari ibu-ibu tetangga apartemennya, seorang pelukis tua, teman kerjanya di restoran, bahkan ayahnya sendiri. Hal tersebut dilakukan Amelie dengan cara-cara yang unik dan sangat berkesan, tapi tanpa menunjukkan jati dirinya. Seperti peribahasa, “tangan kanan memberi, tangan kiri gak perlu tahu,” Amelie menolong orang-orang tersebut dengan tulus dan tanpa ada rasa pamrih. Lalu, meskipun ia selalu menolong orang-orang lain, lalu bagaimana dengan kebahagiaannya sendiri? Saya bener-bener menyarankan kalian untuk menonton film ini. Film ini wajib tonton pokoknya XD

Film ini hadir dengan kemasan yang unik dan indah. Dari adegan awalnya aja buat saya udah menarik! Saya sukaaa sekali melihat adegan-adegan awal di mana karakter-karakter di film ini diperkenalkan (misalnya: karakter ini suka ini dan benci itu). Adegan-adegan pengenalan tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa setiap manusia memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing. Suara narator dalam membawakan narasi film ini pun turut memperkuat jalinan cerita film ini.

Humor dalam film ini pun amat menggelitik, melalui karakter Amelie yang kepribadiannya benar-benar unik, serta khayalan-khayalannya yang imajinatif. Adegan-adegan dalam film ini pun sangat unik dan mengundang kita untuk tersenyum (juga terharu). Selain itu, sinematografi film ini pun sangat indah dan amat memanjakan mata.

Melalui film ini kita diajak untuk belajar dari tokoh Amelie, yang selalu bersusah payah untuk membahagiakan orang lain. Baginya, kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya turut membuatnya bahagia. Dan ia tidak pernah mengharap imbalan dari orang-orang yang ditolong (menunjukkan bahwa dia adalah ‘seorang penolong’ pun tidak sama sekali). Coba, masih ada gak orang yang seperti Amelie di jaman sekarang ini? Menolong orang tanpa mengharapkan apa-apa. Mungkin (mungkin ya) tanpa disadari kita (saya juga loh), setulus-tulusnya kita dalam menolong orang, kita pasti masih mengharapkan sesuatu dari orang yang kita tolong (walaupun sekedar ucapan terimakasih). Bahkan, kalo kata dosen saya, melakukan ibadah pun kita pamrih (karena mengharap pahala ataupun surga).

Selain hal itu, saya juga suka kisah percintaan antara Amelie dan si cowok pengkoleksi foto yang juga merupakan pegawai di sex shop. Mungkin di sinilah kita melihat sisi ‘pamrih’ dari seorang Amelie, berawal dari ingin mengembalikan buku koleksi foto milik cowok itu, ia mulai jatuh cinta dan berharap untuk dapat ‘dilihat’ oleh lelaki itu. Dan kisah cinta antara Amelie dan si pengkoleksi itu digambarkan sangat maniiiiiis sekali.

Dari segi akting, para aktris dan aktor film ini bermain sangat baik. Namun, yang paling perlu disorot tentunya karakter Amelie yang diperankan oleh Audrey Tautou. Audrey Tautou sangat pas dalam memerankan Amelie yang sifatnya sangat ‘unik’ sekali. Saya juga suka gaya rambutnya di sini, yang meskipun aneh tapi kalo diliat-liat lucu juga.

Ja, segini aja review dari saya. Film ini amatlah bagus, unik, juga menyentuh. 4,5 bintang deh!

Rating : 1 2 3 4,5 5

Read Full Post »