Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘swedish movie’ Category

Vampir, makhluk mitos penghisap darah satu ini bisa dibilang sangat populer dan tidak ada habisnya dijadikan sebagai bahan cerita, baik itu dalam novel, komik, serial tv, sampai film. Salah satu film yang memakai vampir sebagai karakter utamanya adalah Let The Right One In (judul asli: Låt den rätte komma in), film asal Swedia yang menggabungkan horror dan drama romantis sebagai genre utamanya. Film yang diangkat dari  sebuah novel Swedia berjudul sama karangan John Ajvide Lindqvist ini juga dibuat versi remake-nya oleh Hollywood dengan judul Let Me In, dan sedang ditayangkan di bioskop Indonesia baru-baru ini (belum nonton :()

Adalah Eli, karakter vampir dalam film ini. Tidak seperti film vampir lainnya yang kebanyakan memakai karakter pria dewasa sebagai karakter vampirnya, Eli digambarkan dengan tampilan anak kecil berusia 12 tahun (tapi aslinya sih udah tua, sekitar 200 tahun). Tidak jelas jenis kelaminya, tapi jika dilihat dari tampilan fisiknya, ia terlihat seperti anak perempuan. Secara garis besar, karakteristik vampir dalam film ini tidak berbeda dengan karakteristik vampir pada umumnya. Vampir di film ini tidak bisa hidup tanpa darah, bisa terbakar jika terkena sinar matahari, punya kekuatan yang tidak dimiliki manusia biasa (contohnya memanjat dengan kecepatan super), bermuka pucat dan dingin, bisa mengubah orang lain menjadi vampir juga (tapi sayangnya tidak bisa mengubah gaya rambut seperti dalam film Interview with the Vampire), dan menghabiskan waktu di siang hari dengan tidur (yang di film ini sedikit lebih gaul vampirnya karena tempat tidurnya bukanlah peti mati, melainkan bathtub :D).

Karena ini adalah film vampir yang dibalut dengan bumbu romantisme, tentunya harus ada karakter yang digambarkan sebagai love interest karakter si vampir. Dia adalah Oskar yang merupakan tokoh utama film ini. Oskar adalah anak laki-laki berusia 12 tahun yang tinggal berdua saja dengan ibunya di sebuah apartemen. Nah, Eli ini merupakan tetangga baru Oskar yang tinggal di apartemen sebelahnya. Eli tidak tinggal sendiri di apartemennya. Ia tinggal bersama seorang pria tua bernama Håkan. Tidak jelas apa hubungannya dengan Eli tapi Håkan ini adalah orang yang bertanggung jawab dalam menyediakan makanan untuk Eli (ya, dengan cara membunuh orang-orang). Ketika Håkan gagal melaksanakan tugasnya, barulah Eli turun langsung dan memangsa korbannya.

Oskar pertama kali bertemu Eli di suatu malam di luar apartemen mereka. Mereka lalu mengobrol dan Oskar yang tidak punya teman sama sekali dan selalu menjadi sasaran bully di sekolahnya merasakan kenyamanan saat ia bersama dengan Eli (meski ia merasakan adanya keanehan pada diri Eli). Keesokan harinya pun mereka bertemu lagi dan seiring berjalannya waktu hubungan mereka menjadi semakin dekat. Oskar mulai terbuka pada Eli dan mau menceritakan hal yang tidak pernah ia berani ceritakan pada ibunya, yaitu tentang dirinya yang sering dibully teman-teman sekolahnya. Eli pun memberi saran pada Oskar agar membalas kelakuan teman-temannya lebih keras. Sejak itu, Oskar pun bertekad agar lebih berani dan tidak akan membiarkan teman-temannya dengan seenaknya mengganggunya.

Di saat hubungan Oskar dan Eli semakin dekat, kota tempat tinggal mereka digegerkan oleh ditemukannya beberapa mayat hasil pembunuhan yang tentunya kita ketahui siapa pelakunya. Lalu, apa yang akan terjadi pada Eli selanjutnya? Bagaimana reaksi Oskar ketika mengetahui bahwa Eli adalah vampire?

Let the Right One In adalah salah satu film vampir yang sangat saya rekomendasikan buat  ditonton orang-orang, terutama bagi para pecinta film vampir. Maksud dari judul “Let the Right One In” ini sendiri adalah, dalam mitosnya, vampir tidak bisa seenaknya masuk ke dalam rumah / ruangan orang lain. Ia harus diundang terlebih dahulu oleh si pemilik rumah, seperti yang ditunjukan pada salah satu scene-nya. Let The Right One In sendiri bukanlah film horror yang bertujuan menakut-nakuti penontonnya. Namun meskipun begitu, kita tetap bisa merasakan kengerian karena atmosfernya yang gelap dan kelam. Saya juga berkali-kali dibuat merinding oleh film ini, terutama saat Eli melakukan aksi ‘menggigit’ korbannya.

Seperti yang telah ditulis di atas, drama romantis juga bisa kita temukan di sini, melalui hubungan antara Oskar dan Eli. Sebenarnya, romantis atau tidaknya sebuah film tergantung dari sudut pandang orang yang menontonnya. Sebagian orang mungkin menganggap hubungan mereka sebagai hubungan yang romantis, tapi sebagian lagi mungkin menganggap hubungan mereka sebagai hal yang aneh. Saya sih ada di antara dua itu, hehe. Hubungan mereka menurut saya romantis sekaligus aneh. Sulit menjelaskan alasannya, tonton filmnya aja deh biar lebih ngerti 😀

Film ini didukung oleh cast yang gemilang, terutama pemeran Oskar dan Eli. Untuk karakter Eli yang diperankan Lina Leandersson, aura vampirnya kerasa banget! Dan saya sering kali dibuat merinding ketika karakter ini memangsa korbannya. Kadang saya kasihan sama korban-korbannya, tapi saya juga ngerasa simpati banget sama karakter ini. Melalui karakter ini kita dibawa pada pertentangan moral di mana kita tahu bahwa membunuh itu salah, apalagi korbannya Eli ini adalah orang-orang tidak bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, Eli tidak punya pilihan lain karena ia melakukan itu sebagai keharusan untuk kelangsungan hidupnya. Tapi kita bisa melihat kalau pada dasarnya Eli tidak mau melakukan hal itu. Kåre Hedebrant juga berhasil memerankan karakter Oskar, anak laki-laki lemah yang suka dibully. Perasaan cintanya pada Eli juga digambarkan dengan pas, seperti perasaan anak kecil yang baru mengenal cinta pada umumnya gitu (najis ah bahasanya :p). Ja, segini aja deh reviewnya. Setelah nonton film ini saya jadi penasaran pengen liat versi remake-nya yang dibintangi oleh bintang Kick Ass Chloe Moretz. Apalagi katanya versi remake-nya lumayan baik dan tidak mengecewakan. Oke deh 4 bintang untuk film ini. Highly recommended! 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »