Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘nishida toshiyuki’

gmhposterTerdapat dua buah kejutan kecil di tahun 2012 ini, setidaknya kejutan bagi para penggemar dorama sekaligus film Jepang. Ya, dua orang sutradara film Jepang yang namanya mungkin sudah tidak asing bagi para penggemar film di kalangan internasional tahun ini tiba-tiba melebarkan sayapnya ke dunia televisi dengan menyutradarai serial drama. Yang pertama adalah Kurosawa Kiyoshi (Pulse, Tokyo Sonata), yang pada awal tahun menyutradarai mini seri lima episode berjudul Shokuzai (Penance) yang ditayangkan di channel WOWOW. Sementara itu, di akhir tahun ini giliran sutradara Koreeda Hirokazu (Nobody Knows, After Life) yang memberi kita sebuah “hadiah manis” berupa dorama berjudul Going My Home yang akan saya review di postingan ini.

gmh1Going My Home bercerita tentang seorang pria yang bekerja sebagai CM (commercial movie) Producer bernama Tsuboi Ryota (Abe Hiroshi). Ryota sendiri adalah seorang pria yang sudah berkeluarga. Istrinya, Sae (Yamaguchi Tomoko), adalah seorang food stylist (semacam tukang masak masakan cantik untuk keperluan acara TV/majalah) terkenal. Sementara anak perempuan satu-satunya yang bernama Moe (Makita Aju), menimbulkan ‘masalah’ di sekolahnya karena mengaku bisa berkomunikasi dengan makhluk yang ‘tidak kelihatan’. Sebuah masalah terjadi ketika Ryota mendapat kabar bahwa ayahnya mendadak collapse yang berujung pada koma di sebuah kota bernama Nagano. Nagano sendiri adalah kampung halaman ayahnya ketika masih kecil, dan Ryota sendiri merasa heran mengapa ayahnya bisa berada di situ setelah sekian lama. Ryota sendiri kemudian mengunjungi ayahnya secara rutin ke rumah sakit kota tersebut bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Dan pada suatu hari ia melihat seorang perempuan muda cantik sedang mengunjungi ayahnya. Rasa penasaran akan hubungan ayahnya dengan perempuan misterius itu membawa Ryota ke sebuah daerah (masih di Nagano). Ia pun kemudian mengetahui bahwa perempuan yang ternyata bernama Shimojima Naho (Miyazaki Aoi) tersebut adalah putri dari teman lama ayahnya (diperankan Nishida Toshiyuki). Selain itu, ia juga mendapat kejutan lain mengenai alasan ayahnya mengunjungi Nagano beberapa bulan terakhir ini, yaitu berkaitan dengan pencarian sebuah makhluk kecil misterius yang diyakini bernama “Kuna”. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ryota? Apakah suatu hari ayahnya akan bangun dari komanya? Apa sebenarnya Kuna tersebut, dan apakah makhluk tersebut benar-benar ada? Dan untuk apa ayahnya mencari makhluk tersebut? Tonton aja deh.

gmh2-1Dorama bertema keluarga biasanya selalu berhasil meluluhkan hati saya, tidak terkecuali dengan dorama berjumlah 10 episode dengan judul Going My Home ini. Kata heartwarming rasanya merupakan salah satu kata yang tepat untuk mewakili kesan yang saya dapat dari menonton dorama ini. Dorama ini sendiri seperti filmnya Koreeda kebanyakan: lambat, tenang, sederhana, dan tanpa konflik yang berlebihan. Oleh karena itu, sebagian orang mungkin akan merasa dorama ini membosankan (apalagi jika kamu menyukai film/dorama bertempo cepat dengan konflik yang dramatis) dan tidak menarik. Tapi tidak dengan saya. Saya sangaaaat menikmati dorama ini dari awal sampai akhir. Yang paling saya suka dari dorama ini adalah gambaran suasana serta interaksi tokoh-tokohnya yang terlihat sangat natural dan realistis. Misalnya ketika kita melihat Ryota bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Mereka itu keluarga yang biasa-biasa saja dan bukan keluarga sempurna. Namun, ketika saya melihat mereka sedang berkumpul dan mengobrol bersama, saya seperti sedang melihat keluarga beneran. Interaksi antara Ryota dengan istri dan anak perempuannya pun terlihat sangat natural dan wajar. Mereka bukan tipe keluarga yang lengket atau apa, tapi mereka semua saling menunjukkan perhatiannya kepada satu sama lain dengan caranya masing-masing. Interaksi yang natural antara para anggota keluarga tersebut menurut saya sangat didukung oleh skenario dari dorama ini (yang ditulis Koreeda sendiri). Dialog-dialog yang ada di dorama menurut saya lucu dan gmh4menggelitik (meskipun bukan tipe lucu yang bikin tertawa terbahak-bahak, tapi lebih ke lucu yang bikin kita tersenyum kecil). Sepintas, dialog-dialog yang ada mungkin terdengar kurang penting karena banyak menyinggung hal remeh temeh. Namun, itulah yang menambah kerealistisan dorama ini, karena percakapan mereka rasanya seperti percakapan yang dilakukan oleh kebanyakan orang di kehidupan sehari-hari. Jadi para penyuka dorama bergenre slice of life, mungkin dorama ini akan menjadi pilihan yang sangat tepat untuk kamu tonton.

gmh3Dan selayaknya keluarga yang realistis, meskipun selalu bersama-sama setiap saat, bukan berarti kita sepenuhnya mengetahui segala hal tentang anggota keluarga kita yang lain. Dalam Going My Home, anggota keluarga yang menyimpan sebuah misteri adalah ayahnya Ryota. Meskipun sudah berpuluh tahun bersama, tapi ada juga hal-hal yang Ryota tidak ketahui mengenai ayahnya. Hal itu membawanya pada suatu hal bernama “Kuna”, sebuah makhluk kecil yang kabarnya dapat mempertemukan kita dengan orang yang sudah meninggal. Ryota yang tidak percaya pada segala hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat diam-diam mulai menunjukkan ketertarikannya pada “kuna”. “Kuna” ini sendiri tidak jelas apakah benar-benar ada atau tidak. Namun, ada atau tidak adanya “kuna” ini sendiri menurut saya bukanlah poin utama dorama ini. Peran “kuna” di sini adalah sebagai simbol harapan sekaligus penyesalan. Kita mungkin menyimpan banyak harapan terhadap orang-orang yang kita sayangi, misalnya anggota keluarga kita. Kadang-kadang, hal tersebut bisa saja berujung pada suatu penyesalan. Namun, adanya kedua hal itu menunjukkan bahwa rasa cinta pernah hidup di hati kita untuk orang-orang tersebut. Ya, hal-hal tersebut sama seperti “kuna”, sesuatu yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, tapi bukan berarti tidak ada. Hal itulah yang membuat dorama ini menjadi sangat ‘nancep’ ke hati ini.

gmh5Selain hal-hal yang saya sebut di atas, yang paling saya sukai dari dorama ini adalah jajaran castnya yang bagus. Abe Hiroshi sangat bagus aktingnya sebagai Ryota, pria canggung yang kadang berkelakuan awkward. Begitu juga dengan Yamaguchi Tomoko yang sangat pas berperan sebagai Sae, istri Ryota (btw dorama ini menandakan kembalinya Yamaguchi ke dunia akting setelah 16 tahun lamanya). Miyazaki Aoi pun tampil memikat sebagai seorang single parent bernama Naho. Para aktor-aktris lainnya seperti Nishida Toshiyuki, YOU, Yoshiyuki Kazuko, Arai Hirofumi, Abe Sadao, dan lain-lainnya pun memerankan perannya masing-masing dengan baik. Terakhir, jangan lupakan aktris cilik pendatang baru bernama Makita Aju yang tampil sangat memikat sebagai Moe, anak perempuan Ryota.

Secara keseluruhan, Going My Home merupakan salah satu dorama favorit saya di tahun 2012 ini (meskipun di negaranya dorama ini memiliki rating/viewership yang jeblok). Highly recommended, terutama untuk para penyuka dorama bergenre family & slice of life dan tidak keberatan dengan alur yang slow. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Salah satu hal yang saya kagumi dari sineas film/dorama Jepang adalah cara mereka dalam menonjolkan unsur kebudayaan khas Jepang pada karya-karyanya. Kadang, hal tersebut tidak ditonjolkan sebagai sekadar hiasan, tapi juga sebagai tema utamanya. Tiger & Dragon adalah salah satu dorama yang mengangkat kebudayaan/kesenian tradisional Jepang sebagai tema utamanya. Kesenian itu bernama rakugo, sebuah kesenian tradisional yang bergerak di bidang komedi. Penjelasan singkatnya, rakugo itu adalah sebuah kesenian di mana seorang rakugo performer duduk di atas panggung sambil menceritakan cerita lucu dengan dibantu beberapa properti sederhana (penjelasan lebih lanjut baca aja di wikipedia). Dan yang menarik lagi dari dorama ini adalah tema rakugo tersebut dipadukan dengan unsur yang tidak kalah Jepang banget, yaitu yakuza. Hmm… yakuza dan rakugo, apa kaitan dua kata itu? Mari kita mulai reviewnya…

Oh ya, perlu diketahui bahwa Tiger & Dragon ini bermula dari drama spesial satu episode yang tayang dengan jarak waktu yang berdekatan dengan doramanya. Makanya, ada baiknya jika kamu menonton drama spesialnya terlebih dahulu sebelum menonton doramanya untuk mengetahui latar belakang kisahnya. Dorama ini bercerita tentang seorang yakuza bernama Toraji (Nagase Tomoya). Suatu hari, ia ditugaskan untuk menagih hutang kepada seorang pria paruh baya bernama Hayashiyatei “Don-chan” Donbei (Nishida Toshiyuki) yang berprofesi sebagai rakugo performer. Secara tidak sengaja Toraji menonton penampilan rakugo Donbei. Toraji yang jarang sekali tertawa merasa terharu melihat penampilan tersebut, dan ia pun langsung jatuh cinta seketika pada rakugo. Toraji pun memohon kepada Donbei untuk mengajarkan rakugo kepadanya dengan iming-iming uang seratus ribu yen untuk setiap cerita yang diajarkan. Setelah beberapa kejadian, Donbei pun kemudian menjadi guru rakugo Toraji, dan kemudian memberi nama baru kepada Toraji, yaitu “Kotora”. Donbei sendiri memiliki seorang anak laki-laki yang sangat berbakat dalam rakugo. Namun, anaknya yang bernama Ryuji (Okada Junichi) tersebut malah memilih pergi dari rumah untuk mewujudkan cita-citanya sebagai desainer dengan mendirikan sebuah toko baju di Harajuku (yang ngomong-ngomong, baju-baju rancangannya itu norak sekali). Kotora dan Ryuji pun kemudian menjadi sahabat. Lalu, apa yang akan terjadi pada dua orang tersebut? Apakah Kotora bisa menyeimbangkan peranannya sebagai seorang rakugo performer dan yakuza? Dan apakah suatu saat Ryuji akan kembali pada dunia rakugo? Tonton aja deh.

Tiger & Dragon (btw Tiger = tora, Dragon= ryu, so Tiger and Dragon= Kotora & Ryuji :)) adalah salah satu dorama yang ditulis oleh salah satu penulis skenario dorama favorit saya, yaitu Kudo Kankuro (Manhattan Love Story, Kisarazu Cat’s Eye). Salah satu ciri khas Kudo Kankuro adalah ia selalu memasukkan unsur pop culture ke dalam karya-karyanya. Lalu bagaimana jika penulis komedi modern seperti dia mencoba bereksperimen dengan kesenian komedi tradisional seperti rakugo? Jawabannya adalah awesomeness :D. Ya, penulis tersebut berhasil mengemas tema rakugo secara modern tanpa menghilangkan unsur ketradisionalannya. Dorama ini sendiri memiliki pola yang sama di setiap episodenya. Ada satu cerita klasik rakugo yang dipelajari Kotora di setiap episodenya. Dan di setiap episodenya selalu ditampilkan dua buah penampilan berdasarkan satu cerita tersebut. Yang pertama adalah penampilan dengan cerita yang murni sama dengan aslinya. Yang kedua adalah penampilan versi Kotora dengan sumber cerita yang sama tapi dengan latar yang lebih modern dan berdasarkan kejadian yang dialaminya dan tokoh-tokoh lainnya. Salut untuk Kudo Kankuro atas kelihaiannya dalam menghubungkan kejadian yang dialami Kotora dkk ke dalam cerita klasik rakugo. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa cerita klasik dalam rakugo tidak lekang oleh zaman dan sangat mungkin terjadi di kehidupan modern ini.

Untuk komedinya, saya sendiri pada awalnya agak susah nangkep apa yang lucu dari kesenian rakugo itu (dan juga agak susah nangkep apa maksud dari cerita klasik yang ditampilkan). Namun, melalui cerita versi Kotora yang lebih mudah dimengerti, semakin lama saya jadi semakin terbiasa dan mulai tertawa ketika penampilan rakugo di episode-episode selanjutnya ditampilkan. Di luar unsur rakugo-nya, dorama ini banyak mengandung adegan-adegan yang sangat lucu khas Kudo Kankuro, dengan tokoh-tokoh yang kocak dan plot yang penuh kejutan. Yang saya suka lagi adalah dorama ini juga tidak hanya mencoba memperkenalkan rakugo saja, tapi juga kesenian tradisional lainnya seperti manzai di salah satu episodenya (episode 5). Selain itu, kehidupan Kotora sebagai yakuza juga bukan sekadar tempelan dan memiliki peran penting yang akan memengaruhi jalan ceritanya. Begitu juga dengan kehidupan Ryuji sebagai desainer eksentrik yang tidak laku. Selain itu saya juga sangat menyukai cara persahabatan Kotora dan Ryuji digambarkan. Penyuka bromance tentunya harus banget nonton dorama ini. 😀

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dorama ini memiliki banyak karakter yang kocak dan menarik. Dan semua aktor dan aktris dalam dorama ini berhasil memerankan tokoh-tokoh itu dengan baik. Nagase Tomoya memang selalu cocok berperan sebagai seorang yakuza. Begitu juga dengan Okada Junichi yang juga cocok dengan peran Ryuji yang konyol dan tidak jauh-jauh dari perannya di Kisarazu Cat’s Eye. Ito Misaki yang biasanya berakting lemah di dorama lain pun kali ini berakting cukup bagus sebagai cewek playgirl bernama Megumi yang ditaksir habis-habisan oleh Ryuji. Aktor-aktris lainnya seperti Tsukamoto Takashi, Abe Sadao, dan Aoi Yu pun memerankan perannya masing-masing dengan baik dan menambah warna dorama ini. Dari kalangan senior, jangan lupakan Nishida Toshiyuki dan Shoufukutei Tsurube (bos yakuza Kotora) yang berperan sangat baik sebagai dua orang sahabat lama.

Overall, menurut saya Tiger & Dragon adalah salah satu dorama teroriginal dan terunik yang pernah saya tonton. Dorama ini sangat cocok ditonton oleh orang-orang yang tertarik pada rakugo atau penggemar komedi pada umumnya. 4,5 bintang deh untuk dorama ini. Highly recommended!

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Tahun 2011 lalu, sutradara Jepang Mitani Koki (The Magic Hour) merilis dua buah proyek dalam waktu yang berdekatan. Dua buah proyek tersebut adalah sebuah film bioskop berjudul Suteki na Kanashibari (bisa disingkat menjadi Sutekana) dan sebuah tanpatsu (dorama yang terdiri dari kurang lebih satu sampai dua episode saja, semacam FTV gitu deh) yang berjudul Suteki na Kakushidori (bisa disingkat menjadi Sutekaku). Yang akan saya review kali ini adalah tanpatsunya yang berjudul Sutekaku, yang tampaknya dibuat dalam rangka menyambut rilisnya Sutekana. Meskipun memiliki judul yang hampir mirip, Sutekaku sendiri tidak memiliki hubungan dengan Sutekana dari segi ceritanya. Namun, kedua proyek tersebut sama-sama memiliki cast yang sama (Fukatsu Eri, Nishida Toshiyuki, Takeuchi Yuko, dll).

Sutekaku bercerita tentang seorang concierge hotel bernama Saijo Mie (Fukatsu Eri). Seperti pekerjaan concierge hotel pada umumnya, ia ditugaskan untuk memenuhi permintaan-permintaan dari para pelanggan hotelnya. Permintaan itu bisa apa saja, mulai dari yang normal sampai yang absurd sekalipun. Mulai dari permintaan macam memesankan reservasi di restoran sampai permintaan untuk menjadi model foto untuk salah satu pelanggan hotel yang seorang fotografer. Seorang concierge tidak boleh mengatakan “tidak” pada pelanggannya. Ia diwajibkan untuk memenuhi segala permintaan pelanggannya, meskipun permintaan tersebut adalah permintaan yang sifatnya tidak mungkin dikabulkan.

Saijo adalah seorang concierge yang baru bekerja selama satu bulan. Ia sendiri merasa dirinya tidak cocok dengan pekerjaan tersebut. Tanpatsu ini bercerita tentang usaha Saijo dalam memenuhi permintaan dari berbagai macam pelanggan hotelnya (yang kebanyakan orang-orang kaya yang memesan suite room) secara bergantian. Para pelanggan tersebut memiliki latar belakang dan permintaan yang berbeda-beda. Ada pelanggan yang berprofesi sebagai seniman (diperankan Asano Tadanobu) yang meminta Saijo untuk memberi inspirasi untuk karya barunya, ada sutradara (diperankan Mitani Koki yang merupakan sutradara film ini) yang baru merilis film barunya dan meminta Saijo untuk memuji-muji filmnya, ada seorang guru masak (diperankan Takeuchi Yuko) yang sebenarnya tidak bisa memasak sama sekali dan meminta Saijo untuk membantunya berlatih memasak, dan masih banyak lagi pelanggan lainnya. Lalu, apakah Saijo akan berhasil memenuhi permintaan-permintaan aneh para pelanggannya tersebut? Apakah dia memang tidak cocok dengan pekerjaannya sebagai concierge?

Menonton Sutekaku bagi saya rasanya tidak seperti menonton film cerita pada umumnya, tapi seperti menonton acara komedi di televisi. Hal itu dikuatkan dengan gaya kameranya yang dibikin ala-ala candid camera, sehingga adegan-adegan dalam tanpatsu ini memiliki kesan yang real meskipun memiliki cerita yang aneh. Ya, tanpatsu ini memang terasa seperti sebuah eksperimen komedi, di mana kelucuannya dihasilkan dari interaksi Fukatsu Eri dengan pelanggan hotel yang berbeda-beda. Meskipun scripted, tapi banyak adegan yang terkesan sebagai improvisasi dan tampaknya tidak ada di skenarionya (seperti adegan Takeuchi Yuko kepeleset, itu saya yakin banget jatuhnya gak sengaja dan gak ada di skenario). Hal itu membuat tanpatsu ini menjadi sangat fun dan asik ditonton.

Seperti yang saya saya bilang sebelumnya, kelucuan di sini dihasilkan dari interaksi antara tokoh yang diperankan Fukatsu Eri dengan para pelanggan hotelnya. Dan yang paling saya suka, pelanggannya kayaknya gak ada yang normal sama sekali 😀 Salut untuk para aktor dan aktris yang berperan sebagai pelanggan di sini, mulai dari Asano Tadanobu, Nishida Toshiyuki, Kusanagi Tsuyoshi, Takeuchi Yuko, dan masih banyak lagi (termasuk beberapa cameo seperti Nakai Kiichi dan Abe Hiroshi). Mereka semua berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik (dan membuat saya membayangkan mereka pasti mengalami proses syuting yang menyenangkan, mengingat sutradaranya sendiri keliatannya emang kocak). Tapi tentu saja yang paling membuat tanpatsu ini menjadi begitu hidup adalah Fukatsu Eri. Saya sukaaa banget sama akting dan karakternya di sini. Fukatsu Eri sangat sukses memerankan Saijo yang ekspresif dan kadang kepedean. Dan interaksinya dengan pemain-pemain lainnya sangat kocak dan menarik untuk disimak. Dan gara-gara tanpatsu ini, saya jadi pengen tahu seperti apakah pekerjaan concierge yang sebenarnya 😀

Tanpatsu satu episode yang memiliki durasi kurang lebih 107 menit ini sendiri tampaknya memang dibuat sebagai sekadar hiburan dan lucu-lucuan saja (dan untuk promosi Sutekana). Jadi, jika kamu menonton ini dengan tujuan untuk mencari makna yang mendalam atau semacamnya, siap-siap kecewa deh. Tapi sebaliknya, jika kamu memang mencari hiburan ringan yang bisa bikin ketawa, maka ini adalah tontonan untuk anda (meskipun saya tidak menjamin kamu akan menyukai tanpatsu ini. Film/drama Jepang itu punya gaya komedi yang lain daripada yang lain. Jadi sebagian mungkin gak bakal nangkep apa lucunya dan menganggap ini aneh. Tapi jika sudah terbiasa menonton film/drama komedi buatan Jepang seperti saya, maka kamu mungkin akan menyukai tanpatsu ini). Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan sih saya sangat menyukai tanpatsu ini (yang membuat saya semakin ingin menonton Sutekana, yang trailernya ditampilkan sesudah tanpatsu ini). Jadi, 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Seorang manager night club bernama Bingo Noboru (Tsumabuki Satoshi) suatu hari terkena masalah besar ketika perselingkuhannya dengan Takachiho Mari (Fukatsu Eri), yang merupakan kekasih dari seorang bos mafia (Nishida Toshiyuki) di kotanya, ketahuan.  Ketika Bingo dan Mari sedang menanti hukuman yang akan diberikan si bos mafia tersebut, tiba-tiba Bingo meracau bahwa ia mengenal seseorang bernama Della Togashi. Sebelumnya, Bingo memang sempat mendengar beberapa anak buah si bos mafia tersebut berbicara tentang Della Togashi, yang tampaknya merupakan orang yang sedang mereka cari. Si bos mafia yang mengatakan bahwa dia adalah penggemar dari Della Togashi lalu menyuruh Bingo untuk mencarikan Della Togashi untuknya. Ia memberi waktu Bingo lima hari, dan jika ia berhasil, Bingo akan terbebas dari hukumannya.

Tanpa bosnya ketahui, Bingo sebenarnya berbohong mengenai Della Togashi. Bahkan, ia sendiri tidak tahu Della Togashi itu siapa. Ia mengatakan bahwa ia mengenal orang itu cuma supaya dibebaskan dari hukuman yang akan menimpanya. Mari pun memberitahu Bingo bahwa Della Togashi adalah seorang pembunuh bayaran legendaris. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui wujud sebenarnya dari Della Togashi, karena itulah menemukannya dalam waktu lima hari adalah suatu kemustahilan. Ketika sedang mengobrol dengan Natsuko (Ayase Haruka), perempuan yang bekerja di night clubnya, tentang kota tempat mereka tinggal yang pemandangannya seperti setting film, Bingo pun mendapat sebuah ide. Ide tersebut adalah ia akan mencari seorang aktor yang akan memerankan Della Togashi, dan membuat aktor tersebut berpikir bahwa ia sedang syuting film. Aktor yang dipilih Bingo tersebut adalah Murata Taiki (Sato Koichi), seorang aktor yang terbiasa berperan sebagai peran kecil atau sekadar stuntman. Murata yang sedang frustrasi akan karirnya yang begitu-begitu saja pun tertarik pada tawaran Bingo (meskipun Bingo tidak terlihat meyakinkan sebagai sutradara, bahkan menyiapkan skenario pun  ia tidak). Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah rencana Bingo akan berjalan lancar? Apakah identitas Murata sebagai Della Togashi palsu akan ketahuan oleh si bos mafia? Dan apakah Murata akan menyadari bahwa ia tengah bermain di ‘film palsu’?

Menonton film ini karena tertarik dengan premisnya yang tampak menarik. Gimana coba caranya ada orang yang percaya kalo dia lagi syuting film, tanpa skenario (dialognya terserah si aktor, supaya terkesan natural), kamera yang ceritanya tersembunyi (lagi-lagi biar keliatan natural), dan kru yang cuma tiga orang? Terkesan bodoh banget ya? 😀 Namun, itulah yang jadi sumber kelucuan dari film ini. Tingkah laku Murata dalam berakting di sesuatu yang sebenarnya bukan film itu adalah hal terkocak dari film ini (ya, ini adalah film komedi). Dengan mudahnya, ia berhasil ditipu oleh Bingo. Dan walaupun dengan segala kejanggalan-kejanggalan yang ada pada ‘proses syuting’ film tersebut, Murata tetap percaya bahwa ia memang sedang syuting sebuah film. Adegan pertemuan pertamanya dengan si bos mafia adalah adegan paling menarik di film ini, karena berhasil bikin saya deg-degan sekaligus ketawa. Selanjutnya, masih banyak sederet adegan lucu lainnya, apa lagi selanjutnya Murata akan terseret semakin jauh dengan kelompok mafia tersebut. Dan meskipun kemudian ia mengalami beberapa hal berbahaya, ia masih percaya kalau ia sedang syuting film.

Sato Koichi sangat berhasil memerankan karakter Murata, aktor desperate yang berperan sebagai Della Togashi gadungan. Kepolosannya, dan tingkah lakunya yang banyak gaya, membuat karakter ini akan sangat mudah disukai penontonnya. Meskipun terkesan bodoh, tapi nantinya kita akan mengetahui bahwa karakter ini hanyalah orang biasa yang sangat mencintai pekerjaannya sebagai aktor. Karena itulah, tawaran dari Bingo baginya adalah sesuatu yang menumbuhkan kecintaannya kembali pada pekerjaannya, setelah sebelumnya ia sempat mengalami kebosanan karena selalu memerankan peran-peran tak penting di film-film. Tsumabuki Satoshi pun sangat cocok memerankan karakter pecundang macam Bingo. Begitu pula dengan sederet aktor aktris lainnya macam Fukatsu Eri, Nishida Toshiyuki, Ayase Haruka, Terajima Susumu, Kohinata Fumiyo, dan masih banyak yang lainnya. Dan selain unsur komedinya, salah satu hal menarik dari film yang disutradarai oleh Mitani Koki ini memang lah aktor dan aktris yang berperan di dalamnya. Selain pemain-pemain utama yang sudah saya sebutkan sebelumnya, film ini juga memiliki segudang cameo aktor aktris terkenal, seperti Kagawa Teruyuki, Karasawa Toshiaki, Amami Yuki, Tanihara Shosuke, Suzuki Kyoka, Nakai Kiichi, dan masih ada beberapa lagi. Bahkan, sutradara terkenal Ichikawa Kon pun turut meramaikan film ini sebagai cameo (dan di tahun yang sama dengan rilisnya film ini, beliau meninggal dunia sehingga di akhir film ini terdapat kata-kata “in memory of director Kon Ichikawa”).

Kelebihan lain dari film ini adalah settingnya yang tidak seperti di Jepang. Ya, setting film ini tampak seperti setting di film-film barat klasik tahun 20-30an. Selain itu film ini juga dihiasi oleh lagu-lagu berirama jazz yang menambah kesan film barat klasiknya. Kostum yang digunakan para pemainnya pun turut memperkuat kesan tersebut (seperti gaya berpakaian kelompok mafianya yang lebih mirip mafia Eropa daripada mafia asli Jepang seperti Yakuza). Tampaknya film ini memang dibuat sebagai penghormatan terhadap film barat klasik (dan juga untuk menunjukkan keajaiban proses pembuatan film). Namun, meskipun atribut film ini tampak kebaratan-baratan, film ini tetap terlihat wajar dan tidak terkesan maksa (trivia: di bagian credit film ini kita akan diperlihatkan pada klip mengenai proses pembuatan settingnya).

Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan saya sangat menyukai film ini karena film ini berhasil menghibur saya dari awal sampai akhir. Cocok ditonton para penyuka komedi, atau penyuka film pada umumnya (karena film ini adalah satu contoh film yang menunjukkan kekuatan sinema). 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »