Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘aoi yu’

The_Case_of_Hana_&_Alice-p2

11 tahun setelah dirilisnya film berjudul “Hana and Alice”, Suzuki Anne dan Aoi Yu kembali menghidupkan dua karakter tersebut di tahun ini dalam sebuah film berjudul “The Case of Hana & Alice”. Namun kali ini, mereka tampil sebagai “Hana” dan “Alice” dalam format animasi. Masih disutradarai oleh Iwai Shunji (yang menjadi debutnya dalam penyutradaraan animasi), film ini menceritakan kisah bagaimana Hana dan Alice bertemu (alias prekuel).

vlcsnap-2015-11-01-13h47m26s711

Arisugawa “Alice” Tetsuko (disuarakan Aoi Yu), seorang gadis berusia 14 tahun, baru saja pindah rumah bersama ibunya setelah kedua orang tuanya bercerai. Rumah barunya bersebelahan dengan sebuah rumah yang kabarnya merupakan rumah seorang gadis yang sebaya dan satu sekolah dengannya namun sudah lama tidak masuk sekolah dan mengurung diri di rumahnya. Di sekolah barunya, Alice mengalami keanehan yang berhubungan dengan bangku yang ditempatinya, yang menurut kabar burung, dulunya ditempati seorang murid bernama Yuda (atau Judas) yang kabarnya memiliki empat orang istri dan mati diracun oleh salah satu dari mereka. Isu yang belum tentu benar tersebut mulai mengganggu hari-hari Alice di sekolah barunya. Ia pun mencoba menghubungi Hana (disuarakan Suzuki Anne), gadis hikikomori tetangganya tersebut, yang kabarnya mengenal Yuda dan bertanggungjawab atas hal yang terjadi pada murid misterius tersebut. Bersama-sama, mereka berdua lalu menyelidiki mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Yuda. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Yuda memang benar-benar sudah mati seperti gosip yang beredar di sekolah? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Hana dan Yuda yang membuatnya mengurung diri di rumahnya?

vlcsnap-2015-11-01-13h46m27s509

Sebagai penggemar film originalnya, saya sangat menikmati film prekuel ini. Meskipun sudah 11 tahun berlalu dan Hana & Alice muncul melalui format baru (animasi), saya bisa merasakan bahwa mereka masih sama dengan Hana & Alice yang saya kenal melalui film pendahulunya. Saya senang karena Iwai masih mempertahankan karakteristik yang kita kenali dari film sebelumnya. Alice masihlah Alice yang ceria, pemberani, namun kurang berpikir panjang dan masih belum pintar dalam ‘berakting’. Hana masih Hana yang cool, judes, dan punya kecenderungan yang aneh ketika sedang naksir cowok :D. Dan meskipun film ini adalah kisah awal pertemuan Hana dan Alice, kedua karakter ini langsung memiliki chemistry yang sangat kuat dan membuat kita mengerti mengapa mereka bisa menjadi sahabat dekat di film pendahulunya.

Embel-embel “satsujin jiken” (murder case) pada judulnya membuat film ini juga memiliki unsur misteri. Apalagi misterinya itu misteri yang cukup absurd (wtf ada anak SMP punya istri empat). Namun, misteri bukanlah inti utama dari film ini. Seperti film pendahulunya, inti film ini adalah kebodohan dan kepolosan masa remaja. Segala hal yang terjadi pada film ini bersumber dari dua hal itu, dan membuat Hana dan Alice kemudian mengalami petualangan kecil yang kemudian berpengaruh pada proses pendewasaan mereka berdua. Setelah Love Letter, All About Lily Chou-chou, dan Hana and Alice yang semuanya menggambarkan kehidupan anak remaja (dari kehidupan yang manis sampai pahit), Iwai Shunji membuktikan bahwa dirinya memang piawai dalam meramu film-film bertemakan coming of age. Film ini sendiri merupakan comeback Iwai Shunji dalam dunia feature film setelah terakhir kali menyutradarai film debut internasionalnya, Vampire, yang sayangnya tidak terlalu berhasil. Dan sebagai debutnya dalam menyutradarai film animasi, meskipun animasinya bukan tipe yang luar biasa dan mendapat beberapa kritikan dari beberapa kritikus, saya cukup suka animasinya yang simpel. Plus, melihat beberapa adegan yang familiar dari film pendahulunya namun dengan format animasi menimbulkan kesenangan tersendiri untuk saya.

vlcsnap-2015-11-01-13h46m41s067

Overall, sebagai penggemar film pendahulunya, The Case of Hana & Alice adalah sebuah prekuel yang memuaskan dan memberi perasaan nostalgia. Lalu apakah harus menonton film pendahulunya dulu sebelum menonton film ini? Tidak usah, kok, karena ceritanya berdiri sendiri dan film ini memiliki setting waktu lebih awal dari pendahulunya (tapi gak ada salahnya juga sih nonton Hana and Alice, karena dua-duanya film yang wajib tonton :D). Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

dfposterInfernal Affairs adalah salah satu film Hong Kong yang menjadi favorit saya. Film ini adalah sebuah film yang tidak hanya bagus secara kualitas, tapi juga dari segi pendapatan (di negaranya film ini disebut-sebut sebagai box office miracle). Hollywood pun sudah pernah me-remake film ini dengan judul The Departed (sayangnya belum nonton). Kali ini, film ini kembali dilirik sineas dari negara lain, yaitu Jepang, untuk dibuat adaptasinya. Namun, adaptasi kali ini tidak berbentuk film layar lebar, melainkan drama spesial dua episode yang ditayangkan di dua stasiun tv yang berbeda.

df1Adaptasi baru Infernal Affairs ini memiliki judul Double Face. Ceritanya sendiri, sama seperti pada Infernal Affairs, yaitu tentang dua orang pria yang menjalani dua peran. Nishijima Hidetoshi memerankan tokoh Moriya Jun (karakternya Tony Leung di IA), seorang polisi yang menyusup ke dalam suatu kelompok yakuza dan menjalankan perannya sebagai yakuza selama bertahun-tahun. Sementara itu, Kagawa Teruyuki memerankan tokoh Takayama Ryosuke (karakternya Andy Lau di IA), seorang yakuza yang menyusup ke kepolisian dan menjalankan perannya sebagai polisi selama bertahun-tahun juga. Episode pertama drama spesial ini (yang punya judul Sennyuu Sousa Hen) ditayangkan di channel TBS. Bagian ini berfokus pada kehidupan Moriya Jun sebagai seorang polisi yang sudah lelah menjalani perannya sebagai yakuza. Sementara itu, episode kedua (yang punya judul Giso Keisatsu Hen) yang ditayangkan di channel WOWOW berfokus pada kehidupan Takayama, polisi mata-mata yakuza yang tampaknya punya sebuah rencana sendiri. Lalu, apa yang akan terjadi pada dua orang ini? Dan yang terpenting, apakah drama spesial ini merupakan adaptasi yang berhasil?

df2Double Face adalah salah satu contoh remake yang patuh terhadap sumber aslinya. Jalan cerita, adegan, dialog, dan karakter-karakter drama ini, hampir semuanya mirip dengan film aslinya. Well, ada beberapa perubahan dan tambahan-tambahan juga sih (dan kabarnya ada sedikit cipratan dari Infernal Affairs 2, tapi saya belum nonton film yang itu jadi gak tahu), tapi tidak sampai merusak esensi dari film aslinya dan malah membuat drama ini menjadi lebih matang dari film aslinya. Yeah, karena terbagi menjadi dua bagian (masing-masing episodenya berdurasi 90 menitan, berarti total dua kali lebih lama dari film aslinya), latar belakang kedua tokoh utamanya menjadi lebih kuat dan lebih dikembangkan. Dan meskipun saya sudah menonton film aslinya dan tahu apa saja yang akan terjadi selanjutnya, saya tetap berhasil dibuat deg-degan dan harap-harap cemas menanti adegan selanjutnya. Intinya, menurut saya drama spesial ini merupakan remake yang berhasil.

df3Dua aktor utama drama spesial ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan sangat baik. Nishijima Hidetoshi menurut saya tidak kalah bagus aktingnya dengan Tony Leung. Ia bisa menyampaikan rasa lelah dan frustrasinya sebagai undercover police cukup dengan ekspresi wajah saja. Kagawa Teruyuki pun menghidupkan peran Takayama Ryosuke dengan tidak kalah baiknya meskipun pada awalnya saya protes karena Kagawa Teruyuki tidak ganteng seperti Andy Lau. Namun, jika menurut saya karakter Moriya punya karakteristik yang kurang lebih sama dengan karakter aslinya, image Takayama menurut saya agak berbeda dengan image karakter yang diperankan Andy Lau. Karakter Takayama di sini adalah karakter yang sangat serius. Berdasarkan hal ini, ditambahkan juga beberapa perbedaan dengan film aslinya. Seperti kemunculan tokoh Mari (Aoi Yu) yang punya karakteristik sama dengan Mary di Infernal Affairs tapi punya posisi yang berbeda dengan yang di Infernal Affairs. Peran Aoi Yu di sini menurut saya sangat mendukung perbedaan karakter Takayama yang tampaknya punya usia beberapa tahun lebih tua dari karakter di film aslinya. Selain mereka, aktor aktris lain seperti Kadono Takuzo, Wakui Emi, Ito Atsushi, dan Kohinata Fumiyo juga turut berakting baik sebagai para pemeran pendukung, terutama Kohinata Fumiyo yang berperan sebagai seorang bos yakuza yang memiliki kharisma yang jauh lebih besar dari karakter di film aslinya. Secara teknis, drama spesial ini menurut saya memiliki teknis yang juara banget. Sebagai tayangan televisi, film ini memiliki gambar dan sinematografi yang sudah menyerupai film bioskop. Musik yang digunakan pun bagus, dan turut mendukung suasana-suasana yang ditampilkan di drama ini.

df4Hubungan antara Moriya dan Takayama di sini sendiri agak berbeda dengan film aslinya. Mereka memang sama-sama digambarkan saling mencari, tapi mereka tidak memiliki ‘keakraban’ seperti yang ada di film aslinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa adaptasi yang ini lebih menyorot kehidupan mereka berdua secara individual. Dan seperti judulnya, inti utama Double Face adalah ‘dua wajah’ yang dikenakan oleh dua orang tokoh utama ini. Saking lamanya memerankan dua wajah tersebut, mereka sampai tidak tahu lagi mana wajah mereka yang sebenarnya. Dan seperti pada adegan pertama, mereka bagaikan anjing kecil yang ditelantarkan. Tidak tahu apakah mereka akan kembali lagi kepada pemilik yang sebenarnya. Well, 4 bintang deh. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Catatan: Info yang tidak begitu penting, mulai postingan ini, kategori tanpatsu saya ganti namanya jadi dorama sp ya.

Read Full Post »

Salah satu hal yang saya kagumi dari sineas film/dorama Jepang adalah cara mereka dalam menonjolkan unsur kebudayaan khas Jepang pada karya-karyanya. Kadang, hal tersebut tidak ditonjolkan sebagai sekadar hiasan, tapi juga sebagai tema utamanya. Tiger & Dragon adalah salah satu dorama yang mengangkat kebudayaan/kesenian tradisional Jepang sebagai tema utamanya. Kesenian itu bernama rakugo, sebuah kesenian tradisional yang bergerak di bidang komedi. Penjelasan singkatnya, rakugo itu adalah sebuah kesenian di mana seorang rakugo performer duduk di atas panggung sambil menceritakan cerita lucu dengan dibantu beberapa properti sederhana (penjelasan lebih lanjut baca aja di wikipedia). Dan yang menarik lagi dari dorama ini adalah tema rakugo tersebut dipadukan dengan unsur yang tidak kalah Jepang banget, yaitu yakuza. Hmm… yakuza dan rakugo, apa kaitan dua kata itu? Mari kita mulai reviewnya…

Oh ya, perlu diketahui bahwa Tiger & Dragon ini bermula dari drama spesial satu episode yang tayang dengan jarak waktu yang berdekatan dengan doramanya. Makanya, ada baiknya jika kamu menonton drama spesialnya terlebih dahulu sebelum menonton doramanya untuk mengetahui latar belakang kisahnya. Dorama ini bercerita tentang seorang yakuza bernama Toraji (Nagase Tomoya). Suatu hari, ia ditugaskan untuk menagih hutang kepada seorang pria paruh baya bernama Hayashiyatei “Don-chan” Donbei (Nishida Toshiyuki) yang berprofesi sebagai rakugo performer. Secara tidak sengaja Toraji menonton penampilan rakugo Donbei. Toraji yang jarang sekali tertawa merasa terharu melihat penampilan tersebut, dan ia pun langsung jatuh cinta seketika pada rakugo. Toraji pun memohon kepada Donbei untuk mengajarkan rakugo kepadanya dengan iming-iming uang seratus ribu yen untuk setiap cerita yang diajarkan. Setelah beberapa kejadian, Donbei pun kemudian menjadi guru rakugo Toraji, dan kemudian memberi nama baru kepada Toraji, yaitu “Kotora”. Donbei sendiri memiliki seorang anak laki-laki yang sangat berbakat dalam rakugo. Namun, anaknya yang bernama Ryuji (Okada Junichi) tersebut malah memilih pergi dari rumah untuk mewujudkan cita-citanya sebagai desainer dengan mendirikan sebuah toko baju di Harajuku (yang ngomong-ngomong, baju-baju rancangannya itu norak sekali). Kotora dan Ryuji pun kemudian menjadi sahabat. Lalu, apa yang akan terjadi pada dua orang tersebut? Apakah Kotora bisa menyeimbangkan peranannya sebagai seorang rakugo performer dan yakuza? Dan apakah suatu saat Ryuji akan kembali pada dunia rakugo? Tonton aja deh.

Tiger & Dragon (btw Tiger = tora, Dragon= ryu, so Tiger and Dragon= Kotora & Ryuji :)) adalah salah satu dorama yang ditulis oleh salah satu penulis skenario dorama favorit saya, yaitu Kudo Kankuro (Manhattan Love Story, Kisarazu Cat’s Eye). Salah satu ciri khas Kudo Kankuro adalah ia selalu memasukkan unsur pop culture ke dalam karya-karyanya. Lalu bagaimana jika penulis komedi modern seperti dia mencoba bereksperimen dengan kesenian komedi tradisional seperti rakugo? Jawabannya adalah awesomeness :D. Ya, penulis tersebut berhasil mengemas tema rakugo secara modern tanpa menghilangkan unsur ketradisionalannya. Dorama ini sendiri memiliki pola yang sama di setiap episodenya. Ada satu cerita klasik rakugo yang dipelajari Kotora di setiap episodenya. Dan di setiap episodenya selalu ditampilkan dua buah penampilan berdasarkan satu cerita tersebut. Yang pertama adalah penampilan dengan cerita yang murni sama dengan aslinya. Yang kedua adalah penampilan versi Kotora dengan sumber cerita yang sama tapi dengan latar yang lebih modern dan berdasarkan kejadian yang dialaminya dan tokoh-tokoh lainnya. Salut untuk Kudo Kankuro atas kelihaiannya dalam menghubungkan kejadian yang dialami Kotora dkk ke dalam cerita klasik rakugo. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa cerita klasik dalam rakugo tidak lekang oleh zaman dan sangat mungkin terjadi di kehidupan modern ini.

Untuk komedinya, saya sendiri pada awalnya agak susah nangkep apa yang lucu dari kesenian rakugo itu (dan juga agak susah nangkep apa maksud dari cerita klasik yang ditampilkan). Namun, melalui cerita versi Kotora yang lebih mudah dimengerti, semakin lama saya jadi semakin terbiasa dan mulai tertawa ketika penampilan rakugo di episode-episode selanjutnya ditampilkan. Di luar unsur rakugo-nya, dorama ini banyak mengandung adegan-adegan yang sangat lucu khas Kudo Kankuro, dengan tokoh-tokoh yang kocak dan plot yang penuh kejutan. Yang saya suka lagi adalah dorama ini juga tidak hanya mencoba memperkenalkan rakugo saja, tapi juga kesenian tradisional lainnya seperti manzai di salah satu episodenya (episode 5). Selain itu, kehidupan Kotora sebagai yakuza juga bukan sekadar tempelan dan memiliki peran penting yang akan memengaruhi jalan ceritanya. Begitu juga dengan kehidupan Ryuji sebagai desainer eksentrik yang tidak laku. Selain itu saya juga sangat menyukai cara persahabatan Kotora dan Ryuji digambarkan. Penyuka bromance tentunya harus banget nonton dorama ini. 😀

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dorama ini memiliki banyak karakter yang kocak dan menarik. Dan semua aktor dan aktris dalam dorama ini berhasil memerankan tokoh-tokoh itu dengan baik. Nagase Tomoya memang selalu cocok berperan sebagai seorang yakuza. Begitu juga dengan Okada Junichi yang juga cocok dengan peran Ryuji yang konyol dan tidak jauh-jauh dari perannya di Kisarazu Cat’s Eye. Ito Misaki yang biasanya berakting lemah di dorama lain pun kali ini berakting cukup bagus sebagai cewek playgirl bernama Megumi yang ditaksir habis-habisan oleh Ryuji. Aktor-aktris lainnya seperti Tsukamoto Takashi, Abe Sadao, dan Aoi Yu pun memerankan perannya masing-masing dengan baik dan menambah warna dorama ini. Dari kalangan senior, jangan lupakan Nishida Toshiyuki dan Shoufukutei Tsurube (bos yakuza Kotora) yang berperan sangat baik sebagai dua orang sahabat lama.

Overall, menurut saya Tiger & Dragon adalah salah satu dorama teroriginal dan terunik yang pernah saya tonton. Dorama ini sangat cocok ditonton oleh orang-orang yang tertarik pada rakugo atau penggemar komedi pada umumnya. 4,5 bintang deh untuk dorama ini. Highly recommended!

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Jika ditanya siapa aktris Jepang yang paling saya suka saat ini, saya pasti akan menyebut nama Aoi Yu. Ya, saya udah suka sama aktris cantik satu itu sejak nonton Hana and Alice, yang merupakan filmnya yang pertama saya tonton. Setelah film itu, cukup banyak film yang dibintangi Aoi Yu lainnya yang sudah saya tonton, seperti All About Lily Chou-chou, Honey and Clover, Turtles Swim Faster than Expected, dan banyak lagi. Dan saya selalu menyukai aktingnya dan menobatkan dia sebagai salah satu aktris muda Jepang paling berbakat saat ini. Nah, kali ini saya akan mereview salah satu dorama yang dibintanginya yang berjudul Camouflage. Dorama ini sendiri menurut saya adalah salah satu dorama yang membuktikan kepiawaiannya dalam berakting, karena di dorama ini Aoi Yu memerankan empat karakter yang berbeda.

Camouflage adalah sebuah dorama eksperimental yang mengangkat “kebohongan” sebagai temanya. Dorama ini terbagi menjadi empat bagian yang disutradarai oleh empat sutradara berbeda, di mana masing-masing bagiannya memiliki tiga episode. Bagian pertama (episode 1-3, dengan judul “Life is Like a Lie”/“Jinseitte Uso Mitai“) disutradarai oleh seorang CM Planner bernama Takazaki Takuma. Pada bagian pertama ini, Aoi Yu memerankan seorang perempuan bernama Chika yang baru saja kehilangan pacarnya, Takano (Kase Ryo), yang baru saja meninggal karena kecelakaan mobil. Chika sendiri sama sekali tidak merasa bersedih atas kematian pacarnya itu, karena menurutnya kematian tersebut disebabkan oleh hal yang sangat konyol (mengecek handphone ketika menyetir). Sementara itu, bagian kedua (episode 4-6, dengan judul “Rose Colored Days“/”Barairo no Hibi“) disutradarai oleh Takasu Mitsuyoshi. Pada bagian ini, Aoi Yu memerankan Makoto, seorang perempuan yang punya hobi berlari. Setiap ia sedang berlari, ia selalu membayangkan dirinya menjadi orang lain. Suatu hari, ia bisa berlari sambil membayangkan dirinya sebagai idol yang terlambat audisi. Di hari yang lain, ia juga bisa berlari sambil membayangkan dirinya adalah seorang detektif yang sedang berlari memburu penjahat. Makoto sendiri memiliki seorang teman sejak kecil, yaitu Wataru (Arai Hirofumi), cowok yang selalu mengamatinya dan sama-sama punya sifat delusional.

Bagian ketiga (episode 7-9) disutradarai oleh Yamashita Nobuhiro (sutradara Linda Linda Linda). Bagian berjudul “Three Akabane Sisters“/”Akabane San Shimai ini bercerita tentang kehidupan tiga orang saudara perempuan. Aoi Yu memerankan Umeko yang merupakan anak ketiga alias bungsu dari tiga bersaudara itu. Pada bagian ketiga ini, semua episodenya bersetting di satu buah ruangan. Bagian ini menunjukkan interaksi antara ketiga saudara ini, yang kadang-kadang selalu berakhir dengan pertengkaran dan perdebatan. Selanjutnya,  bagian terakhir (episode 10-12, dengan judul “Tomin Suzuko -Hyakumanen to Nigamushi Onna Josho-“) disutradarai oleh Tanada Yuki, yang merupakan sutradara dari film One Million Yen and the Nigamushi Woman yang juga dibintangi oleh Aoi Yu. Bagian ini sendiri masih ada hubungannya dengan film itu, di mana Aoi Yu memerankan karakter Suzuko yang merupakan tokoh utama film tersebut (lebih tepatnya, bagian ini bercerita tentang beberapa kejadian yang terjadi sebelum kejadian yang ada di filmnya). Seperti karakter di filmnya, tokoh Suzuko di bagian ini juga digambarkan sebagai seorang perempuan yang “not so good at dealing with people”. Di luar hal seputar kepribadian tokoh Suzuko, bagian ini sendiri menurut saya agak random dan tidak terlihat benang merahnya antara episode yang satu dengan yang lainnya jika dilihat dari segi ceritanya.

Yak, di atas itu hanyalah garis besar dari dorama dengan jumlah 12 episode ini. Meskipun hanya terdiri dari empat bagian, masing-masing episode dari setiap bagiannya menurut saya punya cerita dan ciri khas tersendiri yang membedakannya dari episode yang lainnya, dan rasanya akan sangat panjang jika keduabelas episode itu diceritakan satu persatu di sini 😀 Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, dorama ini mengangkat kebohongan sebagai tema utamanya. Kebohongan, satu kata itu memang bisa dikembangkan menjadi berbagai macam cerita. Dan “bohong” di sini tidak berarti kebohongan yang ditunjukkan secara langsung alias terang-terangan saja ya. Ada juga kebohongan yang ditunjukkan secara tidak disadari. Bohong di sini bukan hanya berbohong pada orang lain saja, tapi juga berbohong pada diri sendiri. Misalnya seperti yang ditunjukkan pada episode pertama, di mana Aoi Yu berperan sebagai Chika yang tidak merasa bersedih atas kematian pacarnya. Apakah itu hanya kebohongan belaka? Bohong bisa juga ditunjukkan melalui sifat delusional, seperti yang ditunjukkan pada bagian kedua, di mana Aoi Yu berperan sebagai Makoto yang punya sifat delusional dan hobi membayangkan sesuatu yang bukan dirinya ketika sedang berlari. Selain itu, dorama ini juga menunjukkan bahwa manusia kadang-kadang merasa lebih nyaman hidup dalam kebohongan. Misalnya pada episode dua, di mana karakter Takano (Kase Ryo) mendatangi Chika dalam mimpinya. Hal itu membuat Chika menjadi rajin mengonsumsi obat tidur, hanya karena ia ingin terus bermimpi bertemu Takano. Hal itu menunjukkan bahwa manusia memang sering kali lebih merasa bahagia akan hal yang sifatnya tidak nyata. Selain hal-hal itu, masih banyak lagi hal-hal seputar kebohongan yang ditunjukkan melalui episode-episode lainnya, yang rasanya akan panjang jika harus dibahas satu-satu 😀 (gak dibahas satu-satu juga review lu selalu kepanjangan pris)

Ini adalah dorama eksperimental. Eksperimental di sini tidak hanya eksperimental dalam mengolah tema kebohongan saja, tapi juga eksperimental dari gaya penceritaannya. Di setiap episodenya, kita akan menemui sutradara dari masing-masing bagiannya yang akan menjelaskan konsep dari setiap episode yang disutradarainya. Masing-masing episode dari dorama ini memang memiliki konsep dan gaya yang berbeda-beda. Ada yang memiliki konsep theatrical (episode 3 dan 11), konsep ala komedi situasi (episode 4), konsep ala opera sabun (episode 5), dan berbagai macam konsep dan gaya lainnya. Ada juga satu episode di mana Aoi Yu tidak berlaku sebagai tokoh utama, melainkan menjadi narator yang menceritakan tokoh lainnya (episode 11). Bahkan ada juga episode yang menunjukkan interaksi Aoi Yu dengan beberapa tokoh yang sama sekali tidak ditunjukkan wajahnya (episode 12). Selain empat cerita, empat karakter, dan empat sutradara, di dorama ini juga kita akan diperkenalkan pada empat orang fotografer. Ya, di akhir cerita di setiap episodenya, seorang fotografer akan menunjukkan foto hasil karyanya (dengan model Aoi Yu tentunya) yang dipotret berdasarkan interpretasi fotografer tersebut terhadap cerita yang bergulir sebelumnya.

Sekarang, mari beralih pada bintang utama dorama ini, yaitu Aoi Yu. Ya, dorama ini menurut saya merupakan salah satu bukti yang menunjukkan bahwa Aoi Yu adalah salah satu aktris Jepang terbaik (in her generation) saat ini. Ia mampu memerankan empat macam karakter dalam dorama ini tanpa cacat, mulai dari peran yang kalem, kelam, dingin, polos, sampai kocak. Tidak hanya Aoi Yu, aktor-aktris lain yang turut berperan dalam dorama ini juga berperan dengan sangat baik di sini, seperti Kase Ryo (<3), Nishijima Hidetoshi (<3 juga), Nukumizu Youichi, Arai Hirofumi, Hamada Mari, dan masih ada beberapa aktor dan aktris lainnya. Fokus utama dorama ini memanglah Aoi Yu, tapi peran-peran lainnya pun tidak kalah penting dan turut membuat dorama ini menjadi semakin menarik.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai dorama ini. Jika dilihat dari semua bagiannya, bagian yang paling saya suka adalah bagian pertama (Life is Like a Lie) yang menurut saya merupakan bagian paling ‘dalem’ dan punya cerita paling kuat. Namun, meskipun begitu bagian-bagian lainnya pun menurut saya tidak kalah menarik untuk ditonton kok. Recommended! Terutama untuk kamu yang bosan dengan dorama bergaya konvensional atau tertarik dengan dorama eksperimental. Dan untuk penggemar Aoi Yu, jangan sampai melewatkan dorama ini. 4 bintang!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Ada yang ingat dengan film Confessions (Kokuhaku)? Film Jepang garapan Nakashima Tetsuya itu bisa dibilang merupakan salah satu film Jepang favorit saya sepanjang masa. Film yang bercerita tentang pembalasan dendam seorang ibu yang anaknya dibunuh tersebut merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Minato Kanae. Di tahun 2012 ini, satu lagi novel karya Minato Kanae, yaitu Shokuzai (The Atonement), difilmkan. Namun, tidak seperti Confessions, Shokuzai tidak diadaptasi menjadi film layar lebar, melainkan menjadi mini seri berjumlah lima episode yang ditayangkan oleh channel WOWOW. Kali ini, orang yang bertugas mengadaptasi novel ini ke layar kaca adalah Kurosawa Kiyoshi, yang sebelumnya sudah sering menyutradarai beberapa film yang sudah diakui kualitasnya, seperti Tokyo Sonata dan Cure.

Shokuzai sendiri masih memiliki kemiripan dengan Confessions, yaitu sama-sama bercerita tentang seorang ibu yang anak perempuannya dibunuh. Anak perempuan tersebut bernama Emiri yang merupakan seorang murid baru (kelas 4 SD) di suatu sekolah. Pada suatu hari, ketika ia sedang bermain dengan empat orang temannya, seorang pria menghampiri mereka. Pria (yang wajahnya tidak diperlihatkan) tersebut mengatakan ia sedang membetulkan kipas yang ada di gymnasium sekolah mereka, dan ia meminta tolong Emiri untuk membantunya karena ada bagian yang tidak bisa ia jangkau. Emiri lalu pergi bersama pria itu. Namun, setelah beberapa lama, Emiri tidak kembali juga. Empat temannya yang khawatir pun lalu menyusul ke gymnasium. Dan sesampainya di sana, Emiri sudah terbujur kaku di lantai gymnasium tersebut.

Adachi Asako (Koizumi Kyoko) yang merupakan ibu dari Emiri tidak sanggup menerima kenyataan atas kematian putrinya tersebut. Belum lagi, pelaku pembunuhan anaknya sama sekali tidak tertangkap, dan empat teman Emiri yang merupakan saksi mata pelaku pembunuhan Emiri mengatakan mereka tidak ingat dengan wajah pembunuh tersebut. Pada suatu hari, tepatnya pada hari ulang tahun Emiri, Asako mengundang empat orang teman Emiri tersebut ke rumahnya. Rupanya Asako tidak bisa memaafkan mereka berempat. Pada pertemuan tersebut Asako berkata pada mereka: “I won’t forgive you. Find the suspect for me. Otherwise, you’ll have to pay. Until the crime solve, I’ll never forgive any of you. You can’t escape from your sins.”

15 tahun berlalu setelah perjanjian tersebut. Empat orang teman Emiri telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Yang pertama adalah Kikuchi Sae (Aoi Yu), yang punya ketakutan tertentu terhadap laki-laki dan punya semacam kelainan di mana ia tidak bisa mengalami menstruasi. Yang kedua adalah Shinohara Maki (Koike Eiko), yang berprofesi sebagai guru SD yang galak dan pada suatu hari mendapat banyak perhatian setelah ia menyelamatkan murid-muridnya dari serangan pria tak dikenal. Yang ketiga adalah Takano Akiko (Ando Sakura), perempuan yang sejak kematian Emiri menjadi anti memakai pakaian yang cantik dan menganggap dirinya sendiri adalah beruang. Lalu terakhir adalah Ogawa Yuka (Ikewaki Chizuru), pemilik toko bunga yang punya kecemburuan tertentu terhadap kakaknya dan punya perhatian khusus terhadap polisi. Setiap tokoh dieksplor dalam setiap episode secara bergantian (jadi episode pertama fokusnya sama Aoi Yu, episode 2 Koike Eiko, dst). Dan di setiap episodenya, tokoh-tokoh tersebut melakukan suatu hal mengejutkan yang mereka anggap sebagai penebusan dosa atas kematian Emiri.

Shokuzai adalah salah satu dorama yang sudah saya tunggu-tunggu sejak dorama ini belum tayang. Selain karena faktor pengarang Confessions dan Kurosawa Kiyoshi, yang membuat saya tertarik pada dorama ini adalah jajaran castnya yang luar biasa. Kebanyakan pemainnya adalah aktor dan aktris yang lebih sering bermain di film ketimbang dorama. Contohnya adalah Koizumi Kyoko (Hanging Garden, Tokyo Sonata), Aoi Yu (Hana and Alice), Koike Eiko (2LDK), Ando Sakura (Love Exposure), dan Ikewaki Chizuru (Josee the Tiger and the Fish). Pemain-pemain pembantunya pun top semua, mulai dari Moriyama Mirai, Kase Ryo, Ito Ayumi, Arai Hirofumi, sampai Kagawa Teruyuki. Dan untungnya saya tidak dikecewakan oleh nama-nama hebat tersebut.

Seperti kebanyakan film-filmnya Kurosawa Kiyoshi (yang sering membuat film horror/thriller), dorama ini memiliki aura yang suram dan kelam. Warna yang dipakai cenderung gelap, dan semakin mendukung atmosfir kelamnya. Alurnya sedikit lambat, tapi tidak membosankan dan malah memperkuat intensitas ketegangannya. Sinematografinya pun sangat mengagumkan, dan membuat dorama ini tidak terlihat sebagai sekadar tayangan televisi karena kualitas gambarnya yang sudah seperti kualitas gambar pada film layar lebar.

Yang paling saya kagumi dari dorama ini adalah proses pembangunan karakternya yang meskipun terlihat perlahan-lahan tetapi pasti. Di setiap episodenya setiap karakter diperkenalkan. Dan dengan memakai sedikit flashback, kita bisa melihat bahwa kepribadian mereka semuanya terbentuk dari kejadian 15 tahun yang lalu, bahkan untuk karakter Yuka (Ikewaki Chizuru) sekalipun yang mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan hal tersebut. Semua karakternya tidak diperlihatkan bersih dan suci. Bahkan untuk karakter Asako sang ibu, yang sebenarnya punya andil dalam kematian putrinya, karena belakangan diketahui bahwa kematian putrinya masih memiliki hubungan dengan masa lalunya sendiri. Makanya, shokuzai atau “the atonement” di sini tidak hanya berlaku bagi empat orang teman Emiri saja, melainkan juga pada karakter Asako sendiri. Well, kalo suka sama tontonan yang rada nyikologis, dorama ini tentunya sangat wajib ditonton karena kita bisa melihat bahwa sebuah kejadian bisa mempengaruhi kepribadian berbagai macam orang dengan cara yang berbeda.

Setiap episode dalam dorama ini memiliki cerita yang berdiri sendiri tapi tetap bersinggungan. Dan masing-masing episodenya memiliki cerita yang sangat menarik. Tapi kalo disuruh milih, favorit saya adalah episode pertama (French Doll) dan episode ketiga (Bear Siblings). Dua episode tersebut menurut saya yang paling menarik dan paling menegangkan. Apalagi episode pertama yang menampilkan Aoi Yu, yang menurut saya serem abis. Para pemain dalam dorama ini semuanya menampilkan akting yang bagus dan memukau. Ekspresi-ekspresi yang ditampilkan, kekosongan yang mereka alami, semuanya ditampilkan secara pas dan tidak berlebihan. Dari lima pemeran utama sampai peran-peran pembantu, semuanya menampilkan akting yang cemerlang.

Secara keseluruhan, dorama ini adalah salah satu dorama paling berkesan di tahun 2012 ini. Dan meskipun tahun 2012 baru berjalan dua bulan, sudah pasti saya akan memasukkan dorama ini ke list dorama terbaik tahun 2012. Satu-satunya kelemahan dorama ini menurut saya hanya pada bagian endingnya. Endingnya tetep bagus sih, dan sepertinya memang seperti itulah dorama ini harus berakhir (dan endingnya itu…ironis sekali). Tapi, kalo dibandingin sama episode-episode sebelumnya, menurut saya kualitas episode ini jadi rada menurun dan kalah sama episode-episode sebelumnya. Padahal saya berharap episode akhir ini menjadi puncak dari semua episodenya. Jadi, 4,5 bintang deh untuk dorama ini. Highly recommended.

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi libur kuliah (tapi ikut sp satu mata kuliah sih) dan selama libur ini kerjaan saya nonton film terus. Saking banyaknya film yang ditonton, saya sampai bingung mau nge-review yang mana dulu. Karena itu kali ini saya akan nulis review singkat dari beberapa film (gak semua ya, kebanyakan soalnya :p) yang saya tonton belakangan ini. Mungkin kalau tidak malas, beberapa film dalam review ini akan saya buatkan review versi panjangnya.

1. Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Salah satu film remaja Jepang yang cukup bagus dan menarik. Idenya sederhana, tentang sebuah band yang beranggotakan siswi-siswi SMU yang akan tampil dalam festival sekolah, namun menemui masalah yang menyebabkan dua personil band itu keluar (termasuk sang vokalis). Beberapa hari sebelum tampil, mereka pun mencari vokalis baru secara ‘asal’. Adalah  Son, siswi pindahan dari Korea Selatan, yang menjadi vokalis baru mereka. Lalu timbul berbagai kejadian sebelum mereka tampil, dan meskipun baru beberapa hari, karakter Son ini akhirnya menemukan kegembiraan dan semangat baru sejak bergabung dengan band tersebut. Film ini menarik dan cukup menghibur. Yang saya suka adalah ide cerita film ini sama sekali tidak muluk-muluk, namun tidak mengurangi daya tarik film ini. Akting Bae Doona sebagai orang Korea yang sekolah di Jepang sangat memikat. Begitu juga dengan Kashii Yuu. Terakhir, habis nonton film ini saya jadi terus terngiang-ngiang sama lagu Linda Linda dari The Blue Hearts yang mereka bawakan pada festival tersebut :D. 3,5 / 5

2. Kick-Ass (2010)

Sebenarnya saya tidak pernah tertarik  pada film-film bertema superhero. Bukan karena jelek, tapi memang bukan selera saya saja. Tapi begitu mendengar bahwa superhero-superhero dalam Kick-Ass bukanlah superhero beneran (maksudnya mereka tidak mempunyai kekuatan super), saya pun jadi pengen nonton film ini, dan ternyata saya menyukai filmnya. Film ini lucu dan segar. Humornya yang tergolong ke dalam humor-humor masa kini lumayan menghibur. Dan yang membuat film ini semakin menarik adalah karakter Hit Girl yang diperankan Chloe Moretz. Meskipun memancing banyak perdebatan, tapi saya cinta karakter ini. 4/5

3. Rainbow Song (Japan, 2006)

Nama Shunji Iwai yang berperan sebagai produser dan co-writer film ini lah yang membuat saya menonton film ini. Belum lagi ada Hayato Ichihara, Ueno Juri, dan Yu Aoi. Dan saya gak nyesel nontonnya! Ceritanya termasuk klise, tentang persahabatan yang menjadi cinta *ceileh*. Cewek dan cowok bersahabat, lalu si cewek mulai jatuh cinta pada si cowok. Tapi sebelum si cowok menyadari perasaannya pada si cewek, si cewek keburu meninggal (tenang ini bukan spoiler karena dari awal kita sudah diberitahu kalo ceweknya meninggal). Cerita seklise apapun kalau dikemas dengan baik, pasti akan jadi film yang bagus. Begitu juga dengan film ini. Saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Ueno Juri berakting sangat bagus di film ini sebagai karakter cewek yang meninggal itu. Dan Hayato Ichihara, ini kali kedua saya melihat dia setelah melihatnya di Lily Chou-chou, dan penampilan fisiknya udah jauh berubah dari pas di Lily Chou-chou. Yu Aoi, meskipun kemunculannya tidak begitu banyak  tapi tetap menampilkan akting yang memikat. Sebenarnya film ini memiliki beberapa kekurangan, tapi tidak begitu mengganggu. Yang jelas, ini tipe film yang akan saya tonton berkali-kali. 3,75/5.

4. The Girl Who Leapt Through Time (Japan, 2006)

Akhir-akhir ini lagi ketagihan nonton anime yang berbentuk movie. Dan film ini adalah salah satu anime movie yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton! Tentang seorang siswi SMU yang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk meloncati waktu. Dan kemampuannya ini digunakannya untuk mengubah hal-hal yang bisa dibilang sederhana, namun nantinya akan menimbulkan masalah. Film ini lucu dan menghibur, animasinya juga bagus. Selain itu film ini menampilkan kejutan yang tidak saya duga. Review panjangnya menyusul ya. 4/5.


5. The Notebook (2004)

Karena saya ini termasuk orang yang menyukai film-film cinta yang mengharu biru, awalnya saya kira film ini akan berhasil membuat saya termehek-mehek. Tapi nyatanya, dari awal sampai akhir, ekspresi saya tetap datar. Ya ya ya, mungkin ada yang salah pada diri saya karena sebagian besar orang yang menonton film ini mengatakan film ini mengharukan dan sebagainya. Tapi entahlah, saya tidak bisa merasakan kedalaman hubungan antara Noah dan Allie. Karakter Noah yang begitu hidup di bagian awal, setelah berpacaran dengan Allie kok rasanya jadi melempem dan tidak terasa semangatnya. Tapi di luar itu saya suka aktingnya Rachel McAdams. 2,75/5

6. Perfect Blue (Japan, 1998)

Anime movie juga, disutradarai oleh Satoshi Kon. Ceritanya tergolong berat dan sama sekali bukan konsumsi anak-anak karena menampilkan sedikit nudity dan kekerasan. Tentang seorang pop idol yang memutuskan ganti haluan menjadi seorang aktris. Dan hal ini menimbulkan masalah karena ada fans yang tidak setuju dan sebagai aktris ia dituntut untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia inginkan. Belum lagi setelah itu muncul persona/kepribadian lain yang terus menghantuinya. Sebuah thriller psychology yang lumayan mencekam. Endingnya juga mengejutkan dan gak ketebak. Sebenernya saya ngerasa kalo film ini dibikin jadi live action, pasti filmnya akan semakin bagus. Tapi okelah anime juga, meskipun saya agak kurang suka desain karakternya. 4,5/5

7. Being John Malkovich (1999)

Edan film ini bagus banget! Jenius! Ceritanya termasuk orisinil dan menampilkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Skenarionya ditulis oleh orang yang menulis skenario Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang sama-sama sangat orisinil, yaitu Charlie Kaufman. Dan, menurut saya film ini lebih mudah dimengerti daripada Eternal Sunshine. Setidaknya saya tidak perlu mengulang-ngulang beberapa adegannya agar bisa mengerti sepenuhnya seperti pada saat saya nonton Eternal Sunshine. Selain ceritanya yang jenius, film ini juga menurut saya termasuk menghibur dan sudah pasti film ini masuk ke daftar my all time favorite movies. Review panjangnya tunggu saja ya 😀 5/5

8. Aoi Tori / The Blue Bird (Japan, 2008)

Nonton film ini karena faktor Kanata Hongo, dan agak nyesel nontonnya. Mengangkat tema school bullying, sebenarnya film ini berpotensi jadi bagus. Tapi saya malah kebosanan mengikutinya. Karakter guru gagap yang dimainkan Abe Hiroshi sebenarnya unik, tapi entah kenapa saya tidak bisa bersimpati padanya, dan tanggapan saya padanya sama seperti tanggapan murid-murid di sini. Latar belakang anak yang pindah sekolah karena dibully itu pun kurang kuat, mungkin kalo ditampilkan potongan adegan-adegan yang menampilkan karakter ini ketika bersekolah di sekolah itu, film ini akan jadi lebih menarik. Dan Kanata Hongo, kerjanya cemberut aja sik, tapi tetep cakep *alah*. 2,5/5

9. Despicable Me (2010)

Filmnya lucu dan mengharukan, dan tentunya sangat menghibur. Lelucon-leluconnya sebenarnya banyak yang slapstick, tapi tidak begitu mengganggu kok. Dan sejak karakter Gru ini mengadopsi tiga anak yatim piatu tersebut, ceritanya jadi mudah ketebak, tapi meskipun begitu film ini tetap menghibur. Dan yang menonton film ini pasti jatuh cinta pada karakter minion-minion yang menggemaskan itu. Ihik. Pengen cari merchandise-nya. 3,75/5

Read Full Post »

Gara-gara Hana and Alice, saya jadi tertarik untuk menonton film arahan Shunji Iwai (sutradara Hana and Alice) yang lainnya. Dengar-dengar, All About Lily Chou-Chou adalah salah satu karya terbaik sutradara tersebut. Saya pun menonton film ini. Sama seperti Hana and Alice, Iwai mengangkat tema “dunia remaja” dalam film ini. Namun, jika dunia remaja dalam Hana and Alice digambarkan dengan cerah ceria, tidak begitu dengan All About Lily Chou-Chou. Dunia remaja dalam film ini adalah dunia yang gelap dan suram. Film ini juga mengangkat sebuah realita yang sering terjadi di sekolah-sekolah di Jepang (atau mungkin di negara-negara lainnya) yaitu school bullying.

Sebelum saya bercerita mengenai cerita film ini, mari kita lihat dulu judulnya, All About Lily Chou-chou. Siapakah Lily Chou-chou? Dia adalah tokoh fiktif yang diciptakan khusus untuk film ini. Diceritakan dia adalah penyanyi Jepang yang memiliki banyak penggemar fanatik. “She was born on December 8th 1980, at 10.50 pm, the exact time Mark David Chapman killed John Lennon.” Itu adalah sekelumit kalimat yang menerangkan penyanyi tersebut, melalui percakapan-percakapan dalam sebuah forum internet (atau bbs?). Yang mengucapkan (atau mengetikkan, dalam hal ini) kalimat tersebut adalah Philia, admin forum tersebut. Percakapan dalam forum tersebut pun mengalir, yang kebanyakan memuja Lily (namun ada jg yang menghujat) sebagai penyanyi yang memiliki Ether, yang maksud dari kata itu sendiri saya tidak tahu. Namun mengenai kata itu, mari kita bahas nanti.

Percakapan-percakapan awal di forum itu terdapat pada opening film ini yang menurut saya cukup keren, dengan pemandangan seorang remaja laki-laki tengah berdiri di tengah sawah (tunjuk poster) yang sedang mendengarkan musik dari discman-nya (waktu itu belum jaman Ipod :p), dan diiringi lagu Arabesque dari Lily Chou-chou. Remaja laki-laki itu bernama Yuichi Hasumi (Hayato Ichihara). Dia adalah remaja berusia sekitar 14 tahun dan merupakan salah satu pemuja Lily Chou-chou. Lalu kita akan melihat bagaimana kesehariannya, berkeliaran dengan anak-anak nakal, mencuri CD (bukan, bukan yang segitiga) dari toko dan menjualnya kembali. Lalu, apakah itu berarti Yuichi anak nakal? Tidak. Yuichi melakukan itu karena ancaman seseorang, yaitu Hoshino (Shugo Oshinari) yang meupakan teman sekolahnya. Yuichi adalah kaki tangan sekaligus korban bullying Hoshino. Hoshino selalu menyiksa dan mempermalukan dirinya, bahkan ia juga menghancurkan CD album terbaru Lily Chou-chou kepunyaan Yuichi.

Kita kemudian akan dibawa pada beberapa waktu sebelum itu terjadi. Kita akan dikejutkan bahwa dulu, Yuichi dan Hoshino adalah sahabat dekat. Bahkan, yang memperkenalkan musik Lily Chou-chou pada Yuichi adalah Hoshino. Hoshino juga dulu terkenal sebagai anak baik-baik dan salah satu siswa terpintar di sekolah. Setelah berlibur ke Okinawa dengan Yuichi dan teman-teman lainnya, perubahan mulai tampak pada diri Hoshino. Ia jadi badung dan nakal, dan suka membully anak-anak lainnya, termasuk sahabatnya sendiri, Yuichi. Salah satu korban lainnya adalah Shiori Tsuda (Yu Aoi), teman sekelas Yuichi, yang diseret oleh Hoshino untuk memasuki dunia prostitusi dan mengambil sebagian keuntungan yang didapatnya. Lalu ada juga Yoko Kuno (Ito Ayumi), gadis yang pintar memainkan piano dan pecinta Debussy, yang kemudian turut menjadi korban bullying Hoshino. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka semua? Apakah Hoshino akan berhenti melakukan tindakan kejam pada teman-temannya? Apa hubungannya dengan Lily Chou-chou? Tonton aja deh.

All About Lily Chou-Chou adalah sebuah film yang memiliki dua kemungkinan bagi anda yang menontonnya. Yang menontonnya mungkin akan membenci atau mencintai film ini, namun  akan jarang yang menganggapnya biasa-biasa saja selain dua perasaan tersebut (ini teori seenak saya, gak usah dipercaya). Saya sendiri termasuk ke golongan nomor 2, yaitu yang mencintai film ini. Well, setelah menonton film ini, saya terus kepikiran dan terngiang-ngiang sama ceritanya. Film ini ‘sakit’ dan bikin depresi (dan sepertinya saya penyuka film-film depressing). Film ini membuat kita merasa miris melihat anak-anak remaja yang harusnya memiliki masa depan yang masih sangat panjang harus dihancurkan hidupnya hanya karena satu orang. Namun, itulah kenyataannya. Hidup memang bisa menjadi sangat kejam.

Untuk karakter Hoshino sendiri, saya tidak bisa membenci karakter ini. Bukannya saya menyetujui tindakan tak terpuji karakter ini. Tapi perasaan saya pada dia lebih kepada kasihan daripada benci. Mungkin orang-orang akan bertanya, kenapa karakter ini tiba-tiba berubah? Saya rasa itu bukan tanpa alasan. Menurut saya, dia lelah karena selalu dianggap sebagai orang yang cerdas dan sempurna, padahal dia tidak seperti itu. Ia ingin orang lain melihat dirinya sebagaimana dirinya yang sebenarnya, namun orang-orang tetap memandangnya terlalu tinggi. Nobody understands me, katanya. Karena itu, ketika di Okinawa ia hampir mati karena tenggelam, ia mulai berubah dan melepaskan image baik-baik yang dikenakannya, dan segala rasa muak yang ia tahan sebelumnya ia keluarkan habis-habisan karena pengalaman hampir matinya tersebut membuatnya merasa mungkin ia tidak akan mendapat kesempatan hidup lagi, sehingga ia mulai menampakan kepribadiannya yang sebenarnya.

Semua pemain di film ini berakting dengan baik. Well, akting mereka lebih banyak ditunjukkan melalui ekspresi-ekspresi yang mereka tampilkan (yang menurut saya inilah kelebihan film Jepang, aktor-aktrisnya lebih banyak bermain dengan ekspresi, sehingga banyak film jepang yang dialognya tidak begitu banyak). Oh ya, di film ini juga  ada Yu Aoi (yang jadi Alice di Hana and Alice) dan menurut saya aktingnya bagus banget. Dia memang aktris yang sangat berbakat 🙂 Dan, seperti di Hana and Alice, sinematografi film ini juga sangat bagus. Selain selalu menyuguhkan cerita yang bagus, kelebihan Shunji Iwai tampaknya ada pada sinematografinya yang wajib diberi 4 jempol. Salut!

Lalu, apa hubungannya Lily Chou-Chou dengan cerita film in? Well, 4 karakter utama film ini semuanya adalah penggemar Lily Chou-Chou (meskipun karakter Shiori baru suka belakangan). Menurut pendapat anggota forum pecinta Lily Chou-Chou yang ada di film ini, musik Lily Chou-Chou itu memiliki ether, yang menurut salah satu anggota dapat diartikan sebagai “a place of eternal peace”. Lily Chou-Chou adalah semacam pelarian dari kehidupan nyata mereka yang penuh kesemrawutan. Hanya dengan mendengar Lily Chou-Chou sajalah mereka dapat menemukan kedamaian. Makanya karakter Lily Chou-Chou ini dipuja habis-habisan oleh para penggemarnya karena musiknya dianggap dapat menyembuhkan luka mereka. Oh ya, percakapan di forum tersebut (yang terselip di beberapa adegannya) memberikan suatu teka-teki tersendiri untuk kita pecahkan. Kita akan dibuat bertanya-tanya apakah user-user forum tersebut adalah karakter-karakter di film ini (seperti Yuichi, Hoshino, dan lainnya)? Kita dapat melihat bahwa user yang menonjol di forum tersebut adalah Philia (admin forum tersebut) dan Blue Cat (member yg tergolong baru dan kemudian memiliki semacam ‘kedekatan’ dengan Philia di forum tersebut). Siapakah mereka sebenarnya? Hal tersebut akan terjawab di bagian akhir, meskipun hal tersebut diperlihatkan secara tersirat, tapi kalo jeli pasti akan ketebak (dan hal tersebut tidak sesuai bayangan saya di awal-awal). Terakhir, soundtrack film ini bener-bener bagus!! Saya langsung download soundtrack film ini (btw yang menyanyikan lagu-lagu di album ini sekaligus yg memerankan Lily Chou-Chou adalah penyanyi Jepang bernama Salyu) dan lagu-lagunya langsung nempel di kepala saya. Dan setelah mendengar soundtracknya, rasanya saya jadi benar-benar mengerti makna kata “the ether” yang sering dibilang penggemar Lily Chou-chou. YES! I CAN FEEL THE ETHER! Favorit saya lagu Glide yang berada di bagian credits film ini. Benar-benar lagu yang bagus dan penempatannya juga pas 🙂 Terakhir (terakhir terus nih, kapan beresnya?), meskipun karakter Lily Chou-Chou ini hanya hidup melalui lagu-lagu serta pembicaraan para anggota forum (dan cuplikan video klip di konser), menurut saya karakter ini terasa nyata sekali. Sayangnya ini cuma karakter fiktif.

Hmm, sebenernya masih banyak yang pengen saya tulis mengenai film ini karena film ini menurut saya berpotensi untuk mengundang berbagai macam diskusi, tapi tampaknya reviewnya udah kepanjangan ya. Saran terakhir saya, lebih baik tonton film ini setidaknya dua kali, karena menurut saya film ini tidak mudah dipahami dengan sekali nonton. 5 bintang dari saya 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Older Posts »