Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘j-movie’ Category

The_Case_of_Hana_&_Alice-p2

11 tahun setelah dirilisnya film berjudul “Hana and Alice”, Suzuki Anne dan Aoi Yu kembali menghidupkan dua karakter tersebut di tahun ini dalam sebuah film berjudul “The Case of Hana & Alice”. Namun kali ini, mereka tampil sebagai “Hana” dan “Alice” dalam format animasi. Masih disutradarai oleh Iwai Shunji (yang menjadi debutnya dalam penyutradaraan animasi), film ini menceritakan kisah bagaimana Hana dan Alice bertemu (alias prekuel).

vlcsnap-2015-11-01-13h47m26s711

Arisugawa “Alice” Tetsuko (disuarakan Aoi Yu), seorang gadis berusia 14 tahun, baru saja pindah rumah bersama ibunya setelah kedua orang tuanya bercerai. Rumah barunya bersebelahan dengan sebuah rumah yang kabarnya merupakan rumah seorang gadis yang sebaya dan satu sekolah dengannya namun sudah lama tidak masuk sekolah dan mengurung diri di rumahnya. Di sekolah barunya, Alice mengalami keanehan yang berhubungan dengan bangku yang ditempatinya, yang menurut kabar burung, dulunya ditempati seorang murid bernama Yuda (atau Judas) yang kabarnya memiliki empat orang istri dan mati diracun oleh salah satu dari mereka. Isu yang belum tentu benar tersebut mulai mengganggu hari-hari Alice di sekolah barunya. Ia pun mencoba menghubungi Hana (disuarakan Suzuki Anne), gadis hikikomori tetangganya tersebut, yang kabarnya mengenal Yuda dan bertanggungjawab atas hal yang terjadi pada murid misterius tersebut. Bersama-sama, mereka berdua lalu menyelidiki mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Yuda. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Yuda memang benar-benar sudah mati seperti gosip yang beredar di sekolah? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Hana dan Yuda yang membuatnya mengurung diri di rumahnya?

vlcsnap-2015-11-01-13h46m27s509

Sebagai penggemar film originalnya, saya sangat menikmati film prekuel ini. Meskipun sudah 11 tahun berlalu dan Hana & Alice muncul melalui format baru (animasi), saya bisa merasakan bahwa mereka masih sama dengan Hana & Alice yang saya kenal melalui film pendahulunya. Saya senang karena Iwai masih mempertahankan karakteristik yang kita kenali dari film sebelumnya. Alice masihlah Alice yang ceria, pemberani, namun kurang berpikir panjang dan masih belum pintar dalam ‘berakting’. Hana masih Hana yang cool, judes, dan punya kecenderungan yang aneh ketika sedang naksir cowok :D. Dan meskipun film ini adalah kisah awal pertemuan Hana dan Alice, kedua karakter ini langsung memiliki chemistry yang sangat kuat dan membuat kita mengerti mengapa mereka bisa menjadi sahabat dekat di film pendahulunya.

Embel-embel “satsujin jiken” (murder case) pada judulnya membuat film ini juga memiliki unsur misteri. Apalagi misterinya itu misteri yang cukup absurd (wtf ada anak SMP punya istri empat). Namun, misteri bukanlah inti utama dari film ini. Seperti film pendahulunya, inti film ini adalah kebodohan dan kepolosan masa remaja. Segala hal yang terjadi pada film ini bersumber dari dua hal itu, dan membuat Hana dan Alice kemudian mengalami petualangan kecil yang kemudian berpengaruh pada proses pendewasaan mereka berdua. Setelah Love Letter, All About Lily Chou-chou, dan Hana and Alice yang semuanya menggambarkan kehidupan anak remaja (dari kehidupan yang manis sampai pahit), Iwai Shunji membuktikan bahwa dirinya memang piawai dalam meramu film-film bertemakan coming of age. Film ini sendiri merupakan comeback Iwai Shunji dalam dunia feature film setelah terakhir kali menyutradarai film debut internasionalnya, Vampire, yang sayangnya tidak terlalu berhasil. Dan sebagai debutnya dalam menyutradarai film animasi, meskipun animasinya bukan tipe yang luar biasa dan mendapat beberapa kritikan dari beberapa kritikus, saya cukup suka animasinya yang simpel. Plus, melihat beberapa adegan yang familiar dari film pendahulunya namun dengan format animasi menimbulkan kesenangan tersendiri untuk saya.

vlcsnap-2015-11-01-13h46m41s067

Overall, sebagai penggemar film pendahulunya, The Case of Hana & Alice adalah sebuah prekuel yang memuaskan dan memberi perasaan nostalgia. Lalu apakah harus menonton film pendahulunya dulu sebelum menonton film ini? Tidak usah, kok, karena ceritanya berdiri sendiri dan film ini memiliki setting waktu lebih awal dari pendahulunya (tapi gak ada salahnya juga sih nonton Hana and Alice, karena dua-duanya film yang wajib tonton :D). Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Parasyte_Pt1-p1Alien berbentuk parasit bermaksud menguasai bumi dengan cara menginvasi otak manusia dan mengubah mereka menjadi kanibal. Satu di antara mereka gagal menginvasi otak dan alih-alih ‘menginvasi’ tangan kanan saja. Adalah Izumi Shinichi (Sometani Shota), manusia beruntung (?) yang otaknya terselamatkan berkat earphone yang dipakainya ketika tidur. Hasilnya, ia harus hidup berdampingan dengan Migi (yang berarti “kanan”), alien parasit yang menguasai tangan kanannya. Meskipun selamat, Shinichi tentunya tidak bisa merasa tenang karena berbagai macam pembunuhan sadis terjadi di sekelilingnya dan ia tahu “apa” yang ada di balik semua itu. Apalagi, beberapa alien parasit tersebut kemudian muncul di hadapannya dalam berbagai bentuk, mulai dari guru, polisi, murid pindahan, sampai politikus yang sedang mengikuti pemilu. Apa yang akan terjadi pada Shinichi selanjutnya? Apakah para alien parasit tersebut akan berhasil menguasai bumi? Sila ditonton kak, di blitzmegaplex terdekat.

kiseijuu1

Belakangan ini beberapa film Jepang mulai banyak yang ditayangkan di bioskop Indonesia ya. Dan dari beberapa film Jepang tersebut, Parasyte (judul Jepangnya: Kiseijuu) adalah film yang paling saya tunggu-tunggu waktu tayangnya. Salah satu alasannya adalah Sometani Shota (Himizu, Lesson of the Evil), sang pemeran Shinichi, yang menurut saya merupakan salah satu aktor muda paling berbakat yang dimiliki Jepang. Dan saya juga sangat menyukai komik buatan Iwaaki Hitoshi yang menjadi sumber asli film ini (meskipun bacanya belum tamat, hihi). Komiknya sih aslinya diterbitin lebih dari dua dekade yang lalu. Dan saya bersyukur karena film live actionnya baru dibikin sekarang karena teknik CGI buatan Jepang sekarang sudah jadi semakin bagus dan tidak kalah dari film Hollywood. Jadi buat saya lamanya rentang waktu antara awal diterbitkannya manganya dan pembuatan film live actionnya ini worth the wait lah.

Filmnya sendiri buat saya sangat memuaskan. Buat yang gak baca komiknya, gak perlu khawatir gak paham sama filmnya karena plot yang ada pada manganya tergambar dengan baik di filmnya. Buat yang baca komiknya, ada beberapa perubahan pada filmnya tapi buat saya gak mengganggu dan tetap bisa dinikmati. Tidak seperti kebanyakan film blockbuster yang sering kali berhasil menghibur tapi di dalamnya ‘kosong’, Parasyte memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar seseorang yang berusaha menyelamatkan umat manusia dari serangan makhluk jahat. Hal itu disebabkan oleh si sosok alien parasit itu sendiri. Meskipun hal yang dilakukan mereka itu dinilai jahat dari sudut pandang manusia, itu tidak berlaku bagi mereka karena yang mereka lakukan adalah sesuatu yang sudah sewajarnya dilakukan. Seperti manusia yang memakan binatang dan tumbuhan untuk bertahan hidup, mereka juga memangsa manusia dengan alasan yang sama. Beberapa pertanyaan filosofis dimunculkan di sini, seperti “apakah hutan-hutan di dunia ini akan terselamatkan jika 99% populasi manusia musnah?” dan berbagai macam pertanyaan sejenis lainnya.

kiseijuu2

Meskipun punya tone serius, film ini tetap memiliki unsur hiburan yang dimiliki kebanyakan film blockbuster. Hiburannya itu terletak pada komedinya yang lebih condong ke black comedy. Kebanyakan sih yang lucunya bersumber dari karakter Migi (disuarakan Abe Sadao), alien parasit yang menempati tangan Shinichi, yang meskipun selalu melindungi Shinichi dari serangan parasit lainnya, tapi di sisi lain juga berharap kaumnya tersebut akan berhasil menguasai bumi. Salut pada animator di balik film ini karena meskipun wujudnya hanya berupa animasi CGI, karakter Migi ini terlihat begitu hidup dan sangat mencuri perhatian, ditambah lagi karena suaranya yang dibawakan dengan sangat baik oleh aktor Abe Sadao. Efek CGI yang bagus ini juga tidak hanya berlaku pada karakter Migi. Karakter alien parasit lainnya, dan bagaimana perubahan manusia menjadi ‘monster’ di film ini digambarkan dengan sangat bagus dan halus. Oh ya, karena film ini juga menceritakan kanibalisme, ada beberapa hal gore di film ini, tapi masih digambarkan dengan kadar wajar sehingga film ini masih aman untuk penonton yang tidak menyukai hal tersebut.

kiseijuu3

Hal lain yang saya suka di sini adalah chemistry antara Migi dan Shinichi yang digambarkan dengan sangat kuat. Salut untuk Sometani Shota karena aslinya kan dia harus berakting sendirian. Di luar itu, aktingnya sebagai Shinichi pun sangat baik meskipun image-nya sedikit berbeda dengan yang di komik. Aktor dan aktris lainnya, mulai dari yang senior seperti Fukatsu Eri, Kimiko Yo, dan Kitamura Kazuki, sampai yang muda seperti Hashimoto Ai dan Higashide Masahiro (salah satu yang bikin saya makin betah nonton film ini, meskipun senyumnya creepy amat :D) pun berakting dengan baik dan memperkuat film ini.

Overall, Parasyte part 1 ini buat saya merupakan salah satu film live action terbaik yang pernah dibuat Jepang. Dan saya harap film ini akan menjadi standar bagi film-film live action yang akan datang. Bagi yang ingin menonton, filmnya masih tayang di bioskop Blitz Megaplex. Dan saat ini saya sangat tidak sabar menunggu part 2-nya yang baru akan tayang di Jepang sekitar bulan April tahun ini. 4 bintang. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

tamakoposter“Japan isn’t hopeless. It’s YOU.”

Tamako (Maeda Atsuko), seorang gadis muda berusia dua puluh tiga tahun, baru saja lulus dari universitas di Tokyo dan kemudian kembali ke kampung halamannya di Kofu. Apa yang ia lakukan di kampung halamannya? TIDAK ADA. Ya, yang ia lakukan setiap hari hanyalah makan, tidur, membaca komik, atau bermain game. Tamako tampak tidak tertarik pada kehidupan normal seperti gadis-gadis sebayanya. Ia juga tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mencari pekerjaan ataupun melakukan suatu hal yang berguna. Satu-satunya teman yang dia miliki hanyalah seorang anak SMP cowok yang tampaknya memiliki mental yang jauh lebih dewasa dari Tamako. Di Kofu, Tamako tinggal berdua saja dengan ayahnya (Suon Kan), seorang duda yang mengelola sebuah toko peralatan olahraga. Tidak hanya mengelola toko, sang ayah melakukan semua pekerjaan rumah, seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Pada awalnya sang ayah merasa kesal melihat Tamako yang kerjaannya hanya makan-tidur-makan-tidur, tapi lama-lama ia membiarkan anak perempuannya itu melakukan apapun ia mau. Sampai suatu hari, Tamako mendengar bahwa bibinya berusaha menjodohkan ayahnya dengan seorang wanita. Apa yang akan Tamako lakukan selanjutnya? Apakah Tamako akan selamanya membiarkan dirinya berada dalam sebuah “moratorium”?

tamako1

Sesuai judul film ini, kita dibawa kepada kehidupan Tamako yang seakan-akan mengalami sebuah “penundaan” (moratorium). Apa yang dialami Tamako sendiri buat saya adalah sesuatu yang sangat mungkin dialami oleh banyak orang (termasuk saya sendiri. Been there done that, hehe), terutama para fresh graduate yang masih bingung untuk menentukan masa depan. Karena itu, film ini termasuk film yang sangat personal untuk saya. Seperti khasnya film Jepang bergenre slice of life, tidak ada hal luar biasa yang terjadi di di film ini. Tapi bukan berarti tidak ada hal yang terjadi. Seiring berjalannya waktu (btw film ini menceritakan kehidupan Tamako dalam kurun waktu empat musim), kita dapat melihat adanya perubahan-perubahan kecil pada sosok Tamako. Perubahan-perubahan tersebut diperlihatkan dengan begitu halus dan tanpa perlu mengubah karakter Tamako secara ekstrim.

Selain bercerita tentang kehidupan Tamako, film ini juga adalah salah satu film yang menceritakan hubungan ayah dan anak (yang juga merupakan tema favorit saya). Saya suka sekali dengan interaksi antara Tamako dan ayahnya. Saya suka dengan karakter sang ayah yang meskipun kadang merasa kesal melihat Tamako yang tidak pernah melakukan apa-apa, tapi di sisi lain juga senang karena putrinya tersebut membuatnya tidak hidup sendirian lagi. Saya juga suka reaksi Tamako yang merasa panik keberadaannya akan terancam dengan kehadiran perempuan baru di kehidupan ayahnya. Mereka bukanlah sosok ayah dan anak yang sempurna, tapi keberadaan mereka melengkapi satu sama lain.

tamako2

Berperan sebagai Tamako, Maeda Atsuko (ex-AKB48) berhasil menanggalkan image idolnya dan bertransformasi menjadi Tamako si pemalas yang tidak pernah menunjukkan gairah hidup. Banyak yang bilang dia aktris buruk, tapi setelah melihatnya di film ini (dan juga Seventh Code-nya Kiyoshi Kurosawa) saya merasa anggapan orang-orang tersebut perlu diralat lagi. Well, saya tidak banyak melihat film/dorama yang ada dianya, tapi karakter Tamako menurut saya cocok sekali diperankan olehnya. Tamako bukanlah karakter sempurna dan memiliki banyak sifat buruk, tapi Maeda berhasil membuat karakter ini menjadi karakter yang tidak mudah dibenci. Film ini sendiri adalah kolaborasi kedua antara Maeda Atsuko dan sutradara Yamashita Nobuhiro (Linda Linda Linda, My Back Page) setelah The Drudgery Train. Dan karakter yang diperankan Maeda di Tamako sangat berbeda jauh dengan karakternya di The Drudgery Train. Sebagai sang ayah, Suon Kan pun berperan bagus di film ini. Ia memang terlihat seperti ayah yang kurang tegas, tapi pada saat tertentu ia bisa membuat keputusan yang tepat. Ia juga memiliki chemistry yang baik dengan Maeda. Meskipun karakternya tidak digambarkan sebagai karakter yang super akrab dengan putrinya, kita dapat melihat ayah dan anak ini memiliki suatu ikatan yang kuat.

Secara keseluruhan, Tamako in Moratorium adalah film slice of life yang menurut saya akan menimbulkan efek yang berbeda-beda bagi setiap penontonnya. Sebagian penonton mungkin akan menganggap film ini membosankan karena tidak ada hal yang benar-benar spesial yang terjadi di film ini, tapi sebagian lagi mungkin akan menikmati film ini karena temanya yang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari (apalagi kalo kamu punya kesamaan dengan karakter Tamako). So, 4 bintang untuk film ini.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

top 7 actorsHalo, selamat tahun baru ya para pembaca blog ini! Yosh, di awal tahun 2013 ini saya akan menulis postingan yang sudah ingin saya buat dari dulu. Di postingan ini saya akan menulis list tentang tujuh orang aktor Jepang favorit saya. Ya, aktor atau aktris adalah salah satu faktor yang membuat saya memutuskan untuk menonton satu film tertentu. Begitu juga dengan film Jepang. Setelah bertahun-tahun menonton film dan dorama Jepang, banyak sekali perubahan pada list aktor Jepang favorit saya. Contohnya bertahun-tahun yang lalu saya terbiasa mengidolakan aktor-aktor dari Johnny’s macam Yamapi, Nishikido Ryo atau Matsumoto Jun. Sekarang, dengan semakin banyaknya film dan dorama Jepang yang saya tonton, semakin banyak pula aktor Jepang yang saya suka dan membuat list aktor Jepang favorit saya berubah terus. Apa kriteria dari aktor-aktor di list di bawah ini sehingga saya menyebutnya sebagai favorit? Akting tentu saja kriteria nomor satu. Tapi karena list di bawah ini sifatnya personal, ada juga hal-hal lain yang mendasari pemilihan itu, contohnya karena saya *ahem* naksir sama aktornya. Tapi biasanya saya naksir sama seorang aktor setelah terkagum-kagum sama aktingnya kok.

Oh ya, list ini sifatnya personal ya. Jadi jangan protes kalo nama-nama hebat seperti Asano Tadanobu, Watanabe Ken, Yakusho Koji, atau Abe Hiroshi gak masuk list ini. Saya sangat mengagumi mereka dan kayaknya kemampuan akting mereka udah banyak yang tahu, jadi ya gak perlu dimasukkan ke dalam list ini. Dan mengapa cuma tujuh orang? Well, pada awalnya saya berniat untuk memasukkan 10 orang ke daftar ini. Tapi ketika saya memikirkan tiga orang terakhir dari 10 orang itu, saya jadi sangat bingung.  Ada banyak aktor yang ingin saya masukkan, dan rasa suka saya sama mereka kurang lebih sejajar. Jadi daripada bingung mau milih yang mana, mending gak dimasukkan sama sekali (maaf ya, penulis blog ini emang pemalas). Jadi katakanlah daftar di bawah ini adalah daftar yang sudah pasti dan susah berubahnya.

Catatan: para aktor di bawah ini merupakan para aktor kelahiran antara tahun 70-an sampai 80-an awal. Mungkin suatu saat saya akan buat list baru tentang aktor favorit dengan usia yang lebih muda/lebih tua daripada yang ada list di bawah ini. Oke, mari dimulai saja listnya (btw bannernya menyusul ya).

(more…)

Read Full Post »

Purisuka’s Top 5 Eita Films

Jika kamu pembaca setia blog ini (kayak ada aja), kamu pasti tahu siapa aktor Jepang yang paling saya suka saat ini. Ya, dia adalah Eita! Perkenalan saya dengan aktor yang punya nama lengkap Nagayama Eita ini bermula sekitar lima tahun yang lalu tepatnya di dorama Nodame Cantabile yang sangat populer itu. Di dorama itu ia berperan sebagai Mine Ryutaro, violinist bergaya rocker yang juga bersahabat dengan Nodame sang tokoh utama. Namun, saya baru menaruh perhatian padanya ketika melihat aktingnya di dorama Last Friends (dari lima tokoh utama di dorama itu, karakter Takeru yang diperankannya lah yang paling saya suka). Meskipun begitu, saya baru menyatakan diri sebagai penggemarnya setelah melihat aktingnya sebagai mahasiswa forensik penuh rasa ingin tahu di dorama berjudul Voice. Dan sejak saat itu, saya selalu berusaha untuk mencari dan menonton dorama-dorama atau film-film yang memasang Eita sebagai pemainnya. Apa yang membuat saya jatuh cinta pada aktor satu ini? Tentu saja aktingnya. Menurut saya, Eita termasuk aktor yang bisa memerankan berbagai macam peran, mulai dari peran serius sampai peran komedik. Dan setelah menonton sebagian besar film/dorama yang pernah dimainkannya, saya terpikir untuk membuat postingan khusus tentang lima film yang dibintanginya yang menjadi favorit saya. Siapa tahu list di bawah ini bisa jadi referensi tontonan atau sukur-sukur bisa bikin kalian tertarik untuk ‘mengenal’ Eita.

(more…)

Read Full Post »

I love Japanese comedy, terutama komedi yang terdapat dalam film atau dorama asal negara tersebut. Dan jika kita berbicara tentang film komedi Jepang, nama Mitani Koki tentunya tidak boleh luput dari pembicaraan. Siapakah dia? Yeah, dia adalah seorang penulis sekaligus sutradara di balik beberapa film komedi terkenal di Jepang. Tidak hanya film, ia juga menulis/menyutradarai beberapa serial tv dan juga pertunjukkan teater. Meskipun cukup terkenal di Jepang, saya sendiri sebenarnya masih asing dengan karya sutradara ini. Saya cuma pernah menontonnya tiga karyanya, yaitu The Magic Hour, Suteki na Kakushidori, dan karyanya yang paling baru Suteki na Kanashibari/A Ghost of a Chance (sayangnya yang ini agak mengecewakan). Dan baru-baru ini akhirnya saya menemukan salah satu filmnya yang lain yang berjudul Welcome Back, Mr. McDonald (judul asli: Rajio no Jikan). Film ini sendiri adalah debut penyutradaraan dari Mitani Koki setelah sebelumnya lebih sering menyutradarai pertunjukkan teater. Dan setelah menonton film ini, saya rasa sebutan Japan’s Master of Comedy yang sering disematkan pada namanya di banyak artikel bukanlah sesuatu yang berlebihan.

Lalu, bercerita tentang apakah film Welcome Back, Mr. McDonald ini? Cukup sederhana, yaitu tentang proses pembuatan sebuah drama radio. Drama radio tersebut berasal dari naskah yang ditulis Suzuki Miyako (Suzuki Kyoka). Miyako sendiri adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Naskah drama berjudul “Woman of Destiny” itu adalah naskah pertama yang ditulisnya. Dan ia beruntung karena naskah pertamanya tersebut berhasil memenangkan lomba penulisan naskah drama radio yang diadakan sebuah stasiun radio. Dan sebentar lagi, naskah tersebut akan diwujudkan menjadi drama radio yang disiarkan secara langsung pada tengah malam. Tidak ada kesulitan yang berarti ketika rehearsal dilakukan. Namun, setelah itu muncul masalah kecil ketika aktris yang mengisi suara pemeran utama drama radio tersebut meminta nama dari peran yang dimainkannya diganti hanya beberapa saat sebelum on air. Sang produser, Ushijima, sama sekali tidak berani menolak permintaan Senbon Nokko (nama aktris tersebut, diperankan Toda Keiko). Maka bergantilah nama karakter utama drama radio tersebut, dari Ritsuko menjadi Mary Jane. Perubahan satu nama saja harusnya sih tidak menjadi masalah besar ya. Harusnya. Tapi hal tersebut rupanya memancing rasa iri dari pemain lain, dan kemudian berujung pada banyak perubahan lain. Lalu, perubahan apa saja kah yang terjadi pada naskah tersebut? Bagaimana perasaan Miyako melihat naskah yang ditulisnya diacak-acak dan menjadi sangat berbeda? Dan apakah proses pembuatan drama radio tersebut akan berakhir dengan lancar? Tonton aja deh.

Yak, satu lagi film komedi Jepang favorit saya. Welcome Back, Mr. McDonald adalah salah satu film yang berhasil bikin saya ketawa terus hampir sepanjang film berlangsung. Jika harus membandingkan dengan film lain, kesan yang dihasilkan film ini hampir mirip dengan kesan saya terhadap film Kisaragi. Keduanya sama-sama bercerita tentang satu buah peristiwa saja dengan lokasi yang terbatas. Keduanya juga menyimpan kejutan-kejutan kecil yang bisa membuat penonton merasa deg-degan terhadap hal-hal yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu, kelucuan dari kedua film tersebut juga sama-sama disetir oleh karakter-karakternya yang beraneka ragam. Makanya, jika kamu menyukai Kisaragi, rasanya akan sulit untuk tidak menyukai film ini.

Karakterisasi tokoh-tokoh dalam film ini memang merupakan faktor utama yang membuat film ini menjadi sangat lucu. Meskipun hanya berkisar pada satu buah peristiwa selama kurang lebih satu sampai dua jam saja, dengan mudah kita bisa langsung mengetahui seperti apa kepribadian tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah Miyako, si penulis amatir yang pemalu dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika naskah ciptaannya diubah dengan seenaknya; Kudo (Karasawa Toshiaki), si sutradara yang cool dan kadang berkata pedas; Ushijima (Nishimura Masahiko), si produser (?) berwajah ramah tapi kurang tegas dalam bertindak; Senbon Nokko, aktris yang bertingkah bak putri raja  sekaligus sumber dari segala permasalahan film ini. Selain mereka, masih ada beberapa tokoh lainnya yang juga berperan penting terhadap perkembangan ceritanya. Segala tindakan dan pilihan tak terduga dari para karakternya lah yang membuat film ini menjadi sangat fun dan penuh kejutan. Hal itu juga membuat film ini jadi sedikit menegangkan dan bikin saya deg-degan dan penasaran ingin tahu perubahan apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Selain unsur tersebut, satu lagi yang membuat film ini menjadi sangat menarik adalah kita bisa melihat proses pembuatan sound effect secara alami di film ini. Hal tersebut terjadi karena CD effect yang mereka miliki terkunci di ruangan lain. Oleh karena itu secara terpaksa mereka harus membuat sound effect sendiri (dengan bantuan seorang kakek). Dan hal tersebut menurut saya sangat mengagumkan 😀

Well, segini aja deh review dari saya. Overall, saya sangat menyukai film ini. Dan meskipun baru sedikit film-film Mitani Koki yang sudah saya tonton, menurut saya ini adalah karyanya yang terbaik. Film ini juga termasuk film yang bisa saya tonton berulang kali. 4 bintang untuk film ini 😀

Trivia: Dalam film ini Mitani Koki tampaknya melakukan tribute untuk sutradara terkenal Itami Juzo (1933-1997). Hal tersebut terlihat dari kemunculan Watanabe Ken yang berperan sebagai seorang supir truk yang sedang mendengarkan siaran drama radio di truknya. Watanabe Ken sendiri juga pernah berperan sebagai seorang supir truk dalam film Itami Juzo yang berjudul Tampopo. Selain itu, di film ini juga ada penampilan cameo dari Miyamoto Nobuko, istri dari Itami Juzo yang juga membintangi sebagian besar film karya suaminya.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Setiap orang pasti memiliki impian untuk menjadi orang yang istimewa, tidak biasa, dan berbeda dari orang lainnya. Tapi tidak dengan cowok berusia 14 tahun bernama Sumida Yuichi (Sometani Shota). Satu-satunya impian Sumida adalah menjadi orang biasa dan menjalani hidup yang biasa. Bukan hidup yang bahagia, tapi juga bukan hidup yang tidak bahagia. I want to live quietly like a mole, itulah mimpi Sumida. Tapi takdir berkata lain. Hidupnya tidak akan pernah bisa menjadi biasa. Ia tinggal berdua dengan ibunya. Mereka hidup dari uang hasil usaha penyewaan boat. Sang ayah (Mitsuishi Ken) yang sudah lama berpisah dengan mereka sering datang untuk mengancam dan mengambil uang Sumida. Dan suatu hari, ibunya pun diam-diam pergi meninggalkannya. Bagaimana bisa ia menjalani hidup yang biasa dengan latar belakang seperti itu?

Lalu ada Chazawa Keiko (Nikaido Fumi). Anak orang kaya ini sangat tergila-gila pada Sumida. Ia juga bisa dikatakan sebagai stalkernya Sumida, selalu memperhatikan Sumida dan bahkan mengkoleksi kata-kata yang pernah diucapkan cowok itu. Ia juga punya impian sederhana, yaitu hidup dengan laki-laki yang ia cintai, saling melindungi satu sama lain, dan kemudian meninggal dengan senyuman. Tapi Keiko juga punya latar belakang keluarga yang suram. Apakah suatu saat impiannya akan terkabul?

Suatu hari, keinginan Sumida untuk hidup dengan biasa tampaknya tidak akan pernah terwujud lagi. Ia melakukan suatu tindakan kriminal yang berhubungan dengan ayahnya. Sejak saat itu, Sumida bertekad untuk melakukan suatu kebaikan terhadap masyarakat, yaitu dengan ‘membasmi’ orang-orang yang selalu menimbulkan kesulitan bagi orang lain. Apa yang akan terjadi selanjutnya pada Sumida? Mampukah ia melakukan hal tersebut?

Film berjudul Himizu yang disutradarai Sono Sion (Love Exposure, Suicide Club) ini merupakan film yang diangkat dari manga berjudul sama karya Furuya Minoru. Film ini sendiri cukup banyak memiliki perbedaan dengan manganya, salah satunya adalah latar waktu di filmnya yang disesuaikan dengan keadaan saat ini, tepatnya pada peristiwa setelah bencana tsunami di Jepang tahun 2011 lalu. Oleh karena itu, film ini juga bisa dilihat dari sudut pandang bencana tersebut, yaitu bagaimana dampak tsunami terhadap kondisi sosial dan psikologis masyarakat Jepang saat itu (selain tokoh Sumida, kita juga akan diperkenalkan pada karakter orang-orang yang menumpang tinggal di tanah milik Sumida, orang-orang yang kehilangan rumahnya akibat tsunami).

Mengenai film ini sendiri, saya sendiri rada susah untuk menggambarkan apa kelebihan atau kekurangan dari film ini, apakah ini film yang bagus atau bukan, atau semacamnya. Film ini memang tidak sebagus film-film Sono Sion yang sebelumnya, dan juga mungkin akan mengecewakan bagi sebagian orang. Tapi yang jelas, film ini berhasil membuat saya merasa terbawa ke dalam ceritanya. Film ini sendiri dapat dimasukkan ke kategori “film depressing”. Tapi depressing di sini adalah depressing yang enak diikuti, bukan tipe depressing yang bikin kamu merasa gak kuat dan gak mau lanjut nonton lagi. Ini adalah jenis film depressing yang bisa saya tonton berulang kali. Film ini juga berhasil membuat saya tertarik dan peduli terhadap tokoh-tokoh di dalamnya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh akting yang cemerlang dari kedua pemeran utamanya, yaitu Sometani Shota dan Nikaido Fumi (yang sama-sama mendapat penghargaan “Marcello Mastroianni Award” di Venice Film Festival berkat akting mereka di film ini). Sulit rasanya membayangkan ada aktor/aktris muda yang bisa memerankan tokoh Sumida & Keiko sebaik mereka. Pemeran-pemeran lainnya yang kebanyakan sudah pernah bermain di film-film garapan Sono Sion pun turut menampilkan akting yang bagus dan memperkuat film ini.

Meskipun diangkat dari manga, film ini sendiri tetap tidak kehilangan ciri khas Sono Sion. Penggunaan narasi (meskipun sedikit), penggunaan puisi, penggunaan musik klasik, dan kekerasan (tapi kadarnya masih rendah kok), semuanya ada di sini. Film ini juga memiliki kemiripan dengan beberapa film Sono Sion sebelumnya yang selalu bercerita tentang ‘perjalanan’ psikologis manusia yang dipengaruhi oleh suatu hal (bisa tragedi, ataupun hal-hal lainnya). Jadi, untuk penggemar Sono Sion, film ini tentunya adalah film yang tidak boleh dilewatkan.

Well, secara keseluruhan saya sangat menyukai film ini. Ini adalah film yang depressing. Tapi film ini juga menunjukkan bahwa meskipun dunia seolah bertindak tidak adil terhadap kita dan kejahatan akan selalu ada, kita tetap boleh memiliki harapan. Yeah, film ini memiliki pesan yang sangat simpel dan digambarkan dengan sangat jelas (tapi tidak sampai merusak esensi filmnya), yaitu “jangan menyerah, dan bermimpilah”. Oke, 4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Older Posts »