Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘yoshitaka yuriko’

Setiap orang pasti memiliki satu atau beberapa hobi. Ada yang punya hobi membaca buku, menonton film, mengoleksi perangko, dan berbagai macam hobi lainnya. Namun, ada satu orang yang sama sekali tidak memiliki hobi apa-apa. Dia adalah Kiriyama Shuichiro (Odagiri Joe), seorang polisi yang bekerja di divisi Limitation Task Force (divisi yang tugasnya mengurus arsip-arsip kasus yang sudah kadaluarsa, divisi paling membosankan di kepolisian tampaknya). Karena tidak punya hobi itu adalah sesuatu yang buruk, maka Kiriyama pun berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan hobi baginya. Setelah berpikir keras, akhirnya Kiriyama menemukan suatu hobi yang cocok baginya. Hobi tersebut adalah: menyelidiki kasus yang sudah kadaluarsa.

Di Jepang, suatu kasus memiliki batas waktu selama 15 tahun. Jika 15 tahun sudah berlalu dan kasusnya tetap tidak terpecahkan, maka kasus tersebut akan kadaluarsa. Dan meskipun pelaku kasus tersebut ketahuan setelah itu, si pelaku tetap tidak akan bisa dipenjara. Pada dorama ini, Kiriyama berusaha menyelidiki kasus-kasus yang sudah kadaluarsa sebagai hobinya. Dan karena hal itu ia lakukan sebagai hobinya, maka Kiriyama tidak pernah terobsesi untuk menangkap penjahatnya (karena sudah kadaluarsa pula). Ia hanya ingin mengetahui kebenaran atas kasus tersebut. Kiriyama sendiri tidak pernah sendirian dalam melaksanakan hobinya. Ia biasa ditemani oleh Mikazuki Shizuka (Aso Kumiko), polisi wanita dari divisi lalu lintas yang keliatannya naksir Kiriyama (karena sangat sering mampir ke divisi Limitation Task Force). Berdua, mereka berusaha mencari-cari petunjuk mengenai kasus-kasus yang telah kadaluarsa. Dan yang menarik, setelah pelaku dari kasus-kasus tersebut berhasil ketahuan, Kiriyama selalu memberikan kartu bertuliskan “I won’t tell anybody” kepada si pelaku, sebagai tanda bahwa identitas mereka sebagai pelaku akan dirahasiakan oleh Kiriyama. Lalu, kasus-kasus kadaluarsa macam apakah yang akan diselidiki Kiriyama? Apakah suatu saat ia akan bosan dengan hobinya tersebut? Tonton aja deh 😀

Menonton Jikou Keisatsu (judul bahasa Inggris: Time Limit Investigator) karena tertarik dengan premisnya: menyelidiki kasus yang sudah kadaluarsa sebagai hobi? Kurang kerjaan banget ya kelihatannya? Apalagi walaupun pelakunya ketahuan, Kiriyama tetap tidak bisa melakukan apa-apa untuk menangkap penjahatnya. Terlihat tidak berguna bukan? Tapi, namanya juga hobi. Kadang-kadang hobi sering kali tidak menghasilkan apa-apa, namun hal tersebut tetap akan menimbulkan kepuasan di hati ini. Begitu juga yang terjadi dengan Kiriyama. Dorama ini sendiri punya pola yang sama seperti dorama detektif pada umumnya, di mana ada satu kasus yang diselidiki dalam satu episode. Semua kasus yang diselidiki di sini adalah kasus yang sudah kadaluarsa, tapi ada juga satu episode yang berbeda dengan yang lainnya, yaitu di episode 6 ketika Kiriyama menyelidiki sebuah kasus yang beberapa hari lagi akan kadaluarsa.

Selain premisnya yang menarik dan orisinil, kelebihan lain pada dorama ini juga terletak pada unsur komedinya. Ya, berhubung dengan hal itu, tidak aneh unsur komedinya menonjol karena dorama ini ditulis dan disutradarai oleh Miki Satoshi. Mengenai sutradara ini sudah sering saya singgung di beberapa review sebelumnya (seperti Atami no Sousakan & Adrift in Tokyo). Sama seperti di film-filmnya yang lain, Miki Satoshi masih mengandalkan humor-humor random tidak penting di dorama ini. Hal itu bisa dilihat melalui tingkah Kiriyama dan rekan-rekannya di divisi Limitation Task Force, di mana mereka sering sekali meributkan hal-hal yang tidak penting. Misalnya di episode satu, ketika Matarai-san (Fuse Eri) tidak sengaja menemukan sertifikat pernikahan yang belum diisi di suatu tempat. Dan pada saat itu, mereka malah meributkan siapa yang akan mengisi sertifikat tersebut, yang berujung dengan jan ken pon (selain gak penting, hal itu juga menandakan bahwa divisi itu kebanyakan nganggurnya daripada kerja). Namun, tidak seperti Atami no Sousakan yang memiliki penulis dan sutradara tunggal, dorama ini tidak hanya disutradarai oleh Miki Satoshi seorang (meskipun yang paling banyak berperan di sini adalah Miki Satoshi). Masih ada beberapa sutradara lain yang turut menulis dan menyutradarai dorama berjumlah sembilan episode ini. Salah satunya adalah sutradara Jepang terkenal Sono Sion (Suicide Club, Love Exposure) yang ikut menulis dan menyutradarai salah dua episodenya (episode 4 & episode 6). Namun, meskipun ditulis dan disutradarai oleh beberapa sutradara, gaya humor di semua episodenya kurang lebih serupa dan Miki Satoshi banget.

Selain hal-hal di atas, akting dan karakterisasi adalah salah satu hal yang paling menarik dari dorama ini. Sulit sekali untuk tidak jatuh cinta pada Odagiri Joe di sini. Kiriyama’s character is sooooo cute and lovable. Odagiri Joe emang cocok buat peran cowok polos macam Kiriyama (teringat Satorare). Sifatnya yang polos dan rasa ingin tahunya yang besar bener-bener bikin saya gemes. Saya juga suka banget sama perkembangan karakter Kiriyama. Meskipun dia tampak bersenang hati melakukan hobi anehnya, tapi ada juga saat-saat di mana dia merasa muak dengan hobinya tersebut. Misalnya di episode 6, ketika dia mulai muak karena selalu memecahkan sebuah kasus pada waktu yang sudah terlambat. Apalagi, seperti hobi lainnya, hobi Kiriyama pun turut memakan biaya. Selain Odagiri Joe, Aso Kumiko juga berakting baik di sini. Dan saya rada kasihan sama karakter Mikazuki yang naksir banget sama Kiriyama, tapi cowok tersebut gak pernah nyadar (salah sendiri sih naksir cowok polos & bebal macam Kiriyama :D). Pemain-pemain lainnya yang kebanyakan adalah pemain langganan Miki Satoshi seperti Fuse Eri dan Iwamatsu Ryo (yang turut menyutradari salah satu episodenya) pun turut bermain dengan baik di sini, dan semakin menambah kelucuan dorama ini. Selain pemain utamanya, dorama ini juga turut menghadirkan beberapa bintang tamu di setiap episodenya, seperti Ikewaki Chizuru, Tetsushi Tanaka, Yoshitaka Yuriko, Tomosaka Rie, Nagasaku Hiromi, Ryo, dan beberapa artis lainnya.

Untuk bagian penyelidikannya, penyelidikan yang dilakukan Kiriyama sebenarnya gak hebat-hebat amat. Ia menyelidiki kasus-kasus yang ada di dorama ini dengan cara mewawancarai detektif yang pernah mengurus kasus tersebut serta orang-orang yang terlibat pada kasusnya. Kadang-kadang, obrolan tidak penting antara Kiriyama dan rekan-rekannya sering berguna dan menjadi petunjuk untuk memecahkan kasus yang diselidikinya. Kasus-kasus (yang kebanyakan kasus pembunuhan) yang terjadi di sini pun kebanyakan kasus yang terjadi secara tidak sengaja, tidak dengan trik yang direncanakan matang, tapi malah berakhir menjadi kasus yang tidak terpecahkan. Namun, Kiriyama selalu berhasil menemukan petunjuk yang sebelumnya tidak pernah ditemukan. Petunjuk yang tampak sepele, tapi sebenarnya sangat penting dan berkaitan dengan kasusnya. Pelaku dalam kasus-kasus di dorama ini sendiri sebenarnya sudah ketahuan dari awal episodenya sehingga ini bukan tipe dorama yang bikin kita kaget ketika pelakunya ketahuan, tapi yang menarik adalah cara Kiriyama mendapatkan bukti bahwa orang itulah pelaku tersebut yang disertai dengan beberapa kelucuan.

Well, segini aja review dari saya. Dorama ini recommended buat kamu yang suka dorama detektif atau penyuka film-filmnya Miki Satoshi. Sekadar info, dorama ini juga memilki sekuel yang berjudul Kaette Kita Jikou Keisatsu yang punya format yang hampir sama dengan season pertamanya. Ja, 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Kita Yoshio (Kohinata Fumiyo) selalu merasa bahwa dirinya adalah orang paling sial sedunia. Baginya, hanya ada dua kebahagiaan yang pernah dia alami dalam hidupnya, yaitu pernikahannya dengan Mizuho (Konishi Manami) 11 tahun yang lalu yang sayangnya hanya bertahan selama enam bulan, dan pertemanannya dengan Minami Takao (Imai Masayuki), yang telah meninggal dalam kecelakaan pesawat 11 tahun silam. Selain dua hal itu, baginya tidak ada hal baik lagi yang terjadi pada dirinya. Untuk itulah, Kita Yoshio memutuskan akan mengakhiri hidupnya 11 hari lagi, tepatnya pada hari peringatan 11 tahun kematian Minami.

Di hari pertama dalam 11 hari itu, suatu kejadian mempertemukannya dengan seorang pengelola cabaret club bernama Yashiro Heita (Matsuda Ryuhei). Mengetahui bahwa orang yang baru dikenalnya itu akan mengakhiri hidupnya sebelas hari lagi, Heita lalu berusaha untuk membantu Kita Yoshio mewujudkan hal yang ingin dilakukannya sebelum mati, seperti mencarikan dan mempertemukannya dengan Mizuho (mantan istrinya) dan mempertemukannya dengan seorang artis idola bernama Yoimachi Shinobu (Yoshitaka Yuriko). Dan tanpa disangka-sangka, 11 hari tersebut menjadi 11 hari paling ‘menarik’ dalam hidup seorang Kita Yoshio. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Kita Yoshio akan benar-benar mengakhiri hidupnya sebelas hari lagi? Tonton aja deh kakak.

Tertarik menonton dorama ini karena premisnya yang menarik, plus jajaran castnya yang bagus semua. Premis dalam Ashita no Kita Yoshio (Kita Yoshio’s Tomorrow) memang cukup sederhana, tentang 11 hari terakhir seseorang yang akan bunuh diri. Namun, ternyata ceritanya tidak sesederhana itu. Ceritanya ternyata cukup kompleks dan bukan cuma tentang 11 hari terakhir orang yang akan bunuh diri saja, tapi juga tentang misteri dalam hidup Kita Yoshio sendiri yang berkaitan dengan hubungannya dengan Mizuho sebelas tahun yang lalu. Penonton akan dibuat penasaran dengan misteri mengapa Mizuho mau menikahi Kita Yoshio sebelas tahun yang lalu. Apalagi karakter Mizuho di masa kini pun memiliki beberapa permasalahan yang membuat seorang insurance investigator bernama Sugimoto (Namase Katsuhisa) menyelidikinya (dan menyelidiki Kita Yoshio pula). Nantinya, kita akan dibawa pada berbagai macam kejutan yang tak disangka-sangka yang membuat dorama ini menjadi semakin menarik. Seperti apa kejutannya? Tonton sendiri deh 😀

Selain itu, kita juga akan menemukan studi karakter yang sangat menarik di dorama ini. Kita bisa melihat bahwa dalam dorama ini Kita Yoshio dipertemukan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah ia kenal tapi memberi pengaruh yang kuat pada 11 hari terakhirnya. Dan yang paling saya suka adalah karakter-karakter ini tidak ada yang sepenuhnya putih atau sepenuhnya hitam. Misalnya karakter Heita yang diperankan dengan sangat baik oleh Matsuda Ryuhei. Awalnya kita pasti akan dibuat bingung mengapa orang ini mau susah-susah membantu Kita Yoshio yang baru saja ditemuinya. Tapi nantinya kita akan mengetahui bahwa Heita ternyata memiliki tujuan sendiri sehubungan dengan hal itu. Namun, seperti yang saya bilang, tidak ada karakter yang benar-benar jahat atau benar-benar baik di sini. Semuanya adalah manusia yang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Dan tidak hanya Heita saja, ada juga karakter Rika (Kuriyama Chiaki), pacar Heita yang tengah putus asa karena suatu hal. Melalui dua karakter ini kita bisa melihat bahwa keputusasaan bisa membuat orang memiliki niat buruk terhadap orang lain. Namun, pertanyaannya adalah, apakah mereka sanggup melaksanakan niat buruk tersebut?  Selain dua karakter itu, ada berbagai macam karakter lain yang turut memberi warna pada dorama ini. Seperti karakter Yoimachi Shinobu, seorang idol yang turut membuat 11 hari terakhir Kita Yoshio menjadi semakin menarik sekaligus menegangkan (dan akting Yoshitaka Yuriko sebagai Shinobu sangat mencuri perhatian di sini, saya heran kenapa di poster doramanya karakter ini gak ada); karakter Mizuho yang penuh misteri; karakter Moriwaki (Kaname Jun) yang jalan pikirannya tidak pernah bisa ditebak; dan karakter Sugimoto yang menjadi bumbu komedik dalam dorama ini. Dan semua aktor dan aktris dalam dorama ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik.

Selain karakter-karakter di atas, jangan dilupakan karakter utamanya, yaitu Kita Yoshio yang diperankan dengan sangat baik oleh Kohinata Fumiyo. Para penggemar dorama Jepang pasti tidak asing dengan wajahnya karena ia selalu ada di hampir semua dorama yang pernah saya tonton (mungkin ini lebay, tapi dia emang hampir selalu ada di dorama apapun, sama halnya dengan Nukumizu Youichi yang juga muncul di dorama ini sebagai bintang tamu). Namun, berapa kah yang mengingat namanya? Ya, meskipun penggemar dorama akan mengingat wajahnya tapi mungkin hanya ada sedikit sekali yang mengingat namanya karena ia memang lebih sering memerankan karakter-karakter pembantu (atau sekadar pelengkap) di banyak dorama.  Di Ashita no Kita Yoshio, ia mendapat kesempatan untuk menunjukkan aktingnya sebagai pemeran utama. Karakternya sendiri  di sini sebenarnya adalah karakter yang umum ia perankan di dorama lain, yaitu karakter pria setengah baya yang saking baiknya jadi gampang dimanfaatkan orang lain (dan Kohinata Fumiyo itu emang punya muka orang baik yang bisa bikin orang kasian).  Namun, bukan berarti Kohinata Fumiyo hanya mampu memerankan karakter semacam itu saja. Di dorama ini, kita juga akan dipertemukan pada karakter Negative Yoshio, yaitu kepribadian lain dari Kita Yoshio yang merupakan sisi negatifnya. Kohinata Fumiyo sangat berhasil memerankan sosok itu, dan hal itu juga membuktikan bahwa aktor satu ini tidak cuma berbakat dalam memerankan satu jenis karakter saja.

Well, secara keseluruhan saya sangat menyukai dorama ini. Beberapa orang bilang kalau dorama ini alurnya agak lambat dan membosankan, tapi saya merasa baik-baik saja dengan alurnya tersebut dan hal itu menurut saya malah memperkuat perkembangan yang ada dalam ceritanya. Dan saya juga tidak pernah merasa kebosanan ketika menontonnya karena kejutan-kejutannya selalu membuat saya merasa penasaran mengenai kelanjutan hidup Kita Yoshio selanjutnya. Tambahan, dorama ini juga memiliki soundtrack yang sangat bagus dan sangat pas ditempatkan di dorama ini (dan saya suka sekali lagu Mayonaka no Boon Boon yang jadi theme song-nya). Jadi, 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Takemura Fumiya (Odagiri Joe) adalah seorang mahasiswa fakultas hukum (di tahun kedelapan) yang hidupnya sedang berada di ujung tanduk. Ia adalah pria sebatang kara. Orang tuanya sudah lama menelantarkan dirinya, dan ia punya hutang sebesar 800 ribu yen yang tidak bisa ia bayar. Pada suatu hari, ketika ia sedang memandangi pasta gigi tiga warna yang baru dibelinya, seorang debt collector datang dan mengancam Fumiya agar membayar hutangnya. Setelah mengancam Fumiya (dengan menggunakan kaos kakinya), debt collector itu memberi Fumiya waktu tiga hari untuk membayar hutangnya.

Namun, mencari uang dalam waktu tiga hari adalah suatu kemustahilan bagi Fumiya. Di tengah kebingungannya karena belum mendapat uang juga, si debt collector yang kemarin mengancam Fumiya datang lagi menemui Fumiya. Kali ini ia tidak mengancam Fumiya untuk membayar hutangnya, tapi malah memberikan penawaran yaitu uang sebesar satu juta yen dengan satu syarat. Syaratnya adalah menemani si debt collector itu (yang bernama Fukuhara, diperankan Miura Tomokazu) berjalan-jalan di Tokyo tanpa tujuan yang jelas dan dengan waktu yang tidak ditentukan, bisa sampai tiga hari, satu bulan, atau lebih dari itu. Fumiya yang sudah tidak punya cara lain untuk membayar hutangnya pun menyetujui permintaan aneh tersebut. Perjalanan antara dua orang ini pun dimulai.

Pada saat berjalan-jalan tersebut, nantinya diketahui alasan mengapa Fukuhara meminta Fumiya untuk menemaninya jalan-jalan di Tokyo. Ternyata Fukuhara baru saja membunuh istrinya sendiri (meskipun secara tidak sengaja). Ia meminta Fumiya menemaninya jalan-jalan di sekitar Tokyo karena hal itu adalah hal yang sering ia lakukan dulu bersama istrinya, dan perjalanan mereka akan selesai ketika Fukuhara merasa sudah saatnya ia menyerahkan diri pada polisi. Di perjalanan itu, mereka berdua menemui berbagai macam hal aneh, mulai dari pertengkaran rumah tangga di sebuah tempat makan, musisi jalanan berisik, sampai acara cosplay. Melalui perjalanan itu juga, Fumiya merasa mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah dimilikinya dahulu pada diri Fukuhara, yaitu keluarga. Di luar hal itu, tiga orang teman kerja istrinya Fukuhara mulai menyadari bahwa sudah beberapa hari rekan kerja mereka bolos kerja tanpa pemberitahuan. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Fumiya akan mencoba menahan Fukuhara agar tidak menyerahkan dirinya pada polisi? Dan apakah mayat istri Fukuhara akan ditemukan sebelum Fukuhara menyerahkan dirinya ke polisi? Tonton aja deh kakak.

Adrift in Tokyo (judul asli: Tenten) adalah salah satu film yang disutradarai oleh Miki Satoshi (mengenai sutradara ini, pernah saya singgung sedikit di review Atami no Sousakan). Seperti kebanyakan film-film yang disutradarainya, film ini juga memiliki unsur komedi yang sangat khas. Ya, kekhasan Miki Satoshi memang terletak pada gaya humornya yang sangat random dan aneh. Namun, seperti pada filmnya yang berjudul Turtles Swim Faster Than Expected, keanehan-keanehan tersebut ditempatkan pada kehidupan yang normal. Misalnya seperti terlihat pada tiga orang teman kerja istrinya Fukuhara (yang diperankan oleh para pemain langganan Miki Satoshi yaitu Fuse Eri, Iwamatsu Ryo, Matsushige Yutaka) di mana ketika mereka bekerja mereka malah meributkan hal-hal tidak penting seperti bau rambut atau hal-hal remeh temeh lainnya. Begitu juga dengan tokoh Fumiya dan Fukuhara yang dalam perjalanannya menemukan hal-hal aneh yang terkesan tidak penting. Hal-hal random yang terjadi dalam film ini memang terkesan tidak penting dan tak punya pengaruh kuat pada ceritanya, namun bukankah dalam hidup yang sebenarnya kita juga sering menemui hal-hal random tak penting seperti ini? Dan yang pasti, hal-hal aneh yang ada dalam film ini merupakan salah satu faktor yang menjadikan filmnya menjadi sangat menghibur.

Selain drama dan komedi, film ini juga dapat dikategorikan sebagai road movie. Namun, perjalanan yang dilakukan dalam film ini bukanlah tipe perjalanan yang mengubah nasib seperti pada kebanyakan road movie. Saya sangat menikmati perjalanan kedua tokoh utama dalam film ini. Melalui perjalanan tersebut (di mana jalan-jalan di sini adalah jalan-jalan secara harfiah, pake kaki, bukan pake kendaraan), karakteristik dua tokoh utama tersebut dibangun sedikit demi sedikit dan tanpa butuh waktu yang lama kita mampu dibuat peduli kepada kedua tokoh tersebut. Apalagi ketika di seperempat akhir film, ada tambahan dua tokoh yang membuat film ini menjadi semakin menarik. Film ini juga merupakan salah satu tipe film yang mampu membuat kita menempatkan diri pada posisi karakternya. Saya merasa ikut bahagia dan terharu ketika Fumiya si sebatang kara mulai merasakan kenyamanan ketika bersama dengan Fukuhara dan dua karakter lainnya, dan ikut sedih ketika Fukuhara merasa sudah waktunya menghentikan perjalanan mereka. Perjalanan dalam film ini memang tidak punya pengaruh besar dan mampu mengubah nasib. Namun, melalui perjalanan ini, kedua tokoh ini mulai menemukan hal-hal kecil sederhana yang sebelumnya telah mereka lupakan.

Para pemain dalam film ini berhasil menampilkan penampilan yang baik dan memukau. Saya sangat menyukai akting kedua pemain utamanya, yaitu Odagiri Joe dan Miura Tomokazu, dan mereka berhasil membangun chemistry dengan baik. Di bagian awal, kita dapat melihat sosok Fukuhara sebagai penagih hutang yang kejam sekaligus dingin di mata Fumiya. Namun, semakin ke sini, kita dapat merasakan bahwa Fumiya mulai memandang adanya sosok seorang ayah pada diri Fukuhara, meskipun Fukuhara tidak pernah berlaku seperti ayah atau meninggalkan kepribadian aslinya. Koizumi Kyoko dan Yoshitaka Yuriko juga menampilkan akting yang sangat mencuri perhatian (terutama Yuriko, kehadiran karakter yang diperankannya berhasil membuat saya tertawa). Fuse Eri, Iwamatsu Ryo, dan Matsushige Yutaka (yang bisa dibilang adalah maskot dari film-filmnya Miki Satoshi) pun berhasil membuat film ini menjadi semakin segar dan menarik. Selain hal-hal di atas, saya juga menyukai penggambaran kota Tokyo dalam film ini. Biasanya dalam film-film, Tokyo selalu digambarkan sebagai tempat yang padat dan ramai. Meskipun di film ini masih ada penampakan kota Tokyo yang ramai dengan orang, tapi melalui film ini kita masih bisa menemukan sudut-sudut Tokyo yang sepi dan tenang. Dan yang pasti, setelah menonton film ini saya jadi pengen ikutan jalan-jalan di rute yang mereka lalui tersebut, hehe.

Kesimpulannya, Adrift in Tokyo adalah sebuah film sederhana  yang akan sangat sayang jika dilewatkan. Hal-hal sederhana yang dibalut dengan keanehan dalam film ini berhasil menjadikannya sebagai suatu tontonan yang tidak hanya menghibur, tapi juga berkesan. Dan ini adalah tipe film yang akan menimbulkan suatu senyuman dan perasaan hangat di hati penontonnya. Ja, 4 bintang deh untuk film ini. 🙂

Trivia: Dalam film ini ada cameo dari aktris cantik Aso Kumiko, atau tepatnya cameo dari karakter yang ia perankan dalam dorama Jikou Keisatsu, di mana Odagiri Joe juga bermain dalam dorama itu dan Miki Satoshi pulalah yang menyutradarainya 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

*Review ini pertama kali ditulis 2 Juni 2009 di http://puritego.blogspot.com

Akhirnya saya nulis review dorama satu ini juga. Padahal nontonnya sekitar dua minggu yang lalu, tapi entah kenapa saya lagi terkena sindrom malas nulis review, padahal saya lagi pengen latihan nulis review (gak cuma review dorama aja sih).

Love Shuffle adalah dorama yang tengah saya gila-gilai sekarang. Saya emang paling suka dorama jenis gini, semuanya lengkap: akting pemainnya keren, ada pemandangan (pemandangan bishounen maksudnya :P), komedi-nya dapet, dan yang paling mantep adalah dorama ini sangat nancep di hati saya *alah*. Menonton dorama ini bikin saya terbawa dan larut ke dalam ceritanya, rasanya gak mau berhenti nonton, dan lagi dorama ini menghadirkan kejutan-kejutan yang gak pernah saya duga, khas-nya dorama sih (kalo kata si teteh).

Baiklah, jadi dorama ini diawali dengan pertemuan tak sengaja empat orang dalam sebuah lift apartemen yang dimana pada saat itu terjadi mati listrik (se-TOKYO, waw) sehingga membuat lift itu berhenti mendadak. Ternyata keempat orang itu tinggal di lantai yang sama dalam apartemen itu. Dikarenakan berhenti-nya lift itu, mereka pun saling mengenalkan diri mereka masing-masing. Yang pertama adalah Usami Kei (Tamaki Hiroshi), seseorang yang bekerja di perusahaan besar atas bantuan pacarnya yang merupakan anak pemilik perusahaan tersebut, lalu Aizawa Airu (Karina) yang merupakan seorang penerjemah, Sera Oujiro (Shota Matsuda)  seorang photographer, dan Kikuta Masato (Tanihara Shosuke)  seorang dokter di bidang kejiwaan.

Dengan cepat ke-empat orang tersebut segera akrab dan bersahabat. Dan ternyata mereka meskipun memiliki karir dan kehidupan yang lancar, namun memiliki masalah dalam percintaan. Akhirnya dibuatlah program Love Shuffle alias kocokan cinta. Dimana setiap minggu-nya mereka saling bertukar pasangan. Jangan aneh-aneh dulu ngeliatnya, tujuan mereka mengadakan Love Shuffle ini adalah untuk menemukan cinta yang sebenarnya, dimana apakah mereka akan lebih nyaman saat bersama orang lain atau dengan pasangannya sendiri. Pasangan-pasangan tersebut (yang sesungguhnya) adalah Kei dan Kagawa Mei (Kanjiya Shiori) yang bermasalah karena Mei membatalkan pertunangan mereka tanpa alasan yang jelas, lalu Aizawa Airu dan Oishi Yukichi (DAIGO) dimana Airu sebenarnya menyukai Yukichi, namun mungkin perasaannya lebih pada kasihan dikarenakan Yukichi adalah orang super kaya yang tidak pernah memiliki teman yang ‘benar-benar teman’, namun hanya Airu yang bisa mengerti dirinya, selain itu sikap Yukichi padanya lebih mirip stalker daripada pacar; lalu Sera Oujiro dan Kamijyo Reiko, dimana Reiko ini sebenarnya adalah wanita bersuami dan hubungannya dengan Oujiro sebenarnya bukanlah pacaran atas nama cinta, namun hanya hubungan fisik saja, dan yang terakhir adalah Kikuta Masato dan Hayakawa Kairi, yang terakhir ini sebenarnya bukanlah pasangan ‘beneran’, namun Kikuta-sensei ingin membantu Kairi yang merupakan pasiennya dan memiliki kecenderungan bunuh diri, untuk merasakan cinta sebagaimana orang lain. Nah, jadilah empat pasang manusia ini setiap minggu-nya saling bertukar pasangan berdasarkan kocokan cinta tersebut. Bagaimana selanjutnya? Apakah mereka akan jatuh cinta pada orang lain atau tetap bertahan dengan pasangan sesungguhnya? Tonton aja deh karena banyak banget kejutan-kejutan yang bener-bener tak terduga xD.

My Opinion:
Sekali lagi (udah bilang belum saya?), saya cintaaaaaa banget dorama ini. Seperti yang saya bilang di atas dorama ini menyuguhkan banyak hal. Paket lengkap kalo saya boleh bilang mah. Cerita dan akting para pemainnya bener-bener TOP. Dan saya juga suka sama chemistry mereka, pas! Selain itu masing-masing karakternya memiliki kepribadian yang unik. Yang paling saya suka sih Usami Kei (Tamaki Hiroshi). Bisa dibilang saya lebih suka Tamaki di sini daripada di Nodame Cantabile. Aktingnya bagus banget, dan di sini dia juga agak-agak bego (dan saya mudah jatuh cinta pada karakter rada bego seperti ini). Tak kalah bego dari Usatan (panggilan Kei), ada juga Yukichi yang diperankan Daigo. Sumpah perannya juga gak kalah bloon dari Usatan, makanya mereka mendirikan Tara-chain beserta moto-motonya yang sumpah bikin ngakak xDD.

Aduh maaf ya saya mau fangirling sebentar setelah cuti beberapa lama, tapi saya bener-bener suka sama Tamaki Hiroshi dan Daigo di sini. Hihi Priska ini sebetulnya lebih sering jatuh cinta sama aktor daripada penyanyi, meskipun sebenarnya Daigo itu seorang vokalis band. Tapi saya lebih suka liat dia di Love Shuffle ini, kemarin juga saya mulai donlot-donlot pv-pv Breakerz (band-nya Daigo) tapi entah kenapa saya biasa aja tuh liat Daigo di sana (abisnya di pv-nya dia nge-rock, tapi mungkin saya emang belum keracunan aja) tapi kalo liat dia di Love Shuffle saya pengen ngejerit saking kawaii-nya dia XD. Tamaki juga kakkoi banget di sini, meskipun dia sangat kurus dan kalo di close-up mukanya keliatan keriput sekali xDDD. Tapi aktingnya betul-betul keren.

Ehem, sudah cukup fangirlingnya, sekarang komentar yang lainnya. Shota Matsuda juga aktingnya keren banget di sini, dan dia cowok banget, beda kalo liat dia di Hana Yori Dango (dan di Love Shuffle dia juga konyol). Tanihara Shosuke juga cocok banget sebagai Kikurin yang baik hati namun agak misterius.
Lah kok ngomentarin cowoknya aja sih pris?? Hihi pemain cewek-nya juga bagus-bagus aktingnya dan semuanya cocok dengan perannya masing-masing. Tapi saya paling suka sama Aiai (Airu) dan Kairi.

Cukup sampai di sini aja review-nya. Yang jelas, saya sangat sangat sangat merekomendasikan dorama ini pada kalian (yang baca). Bisa dibilang ini salah satu dorama yang masuk kategori “wajib tonton” buat pecinta dorama. Recommended banget!

My Rating : 5 / 5

images source: love shuffle at Drama Wiki

Read Full Post »