Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘tanaka tetsushi’

Dalam pertandingan sepak bola, ada sesuatu yang dinamakan perpanjangan waktu (injury time/additional time/loss time/apalah namanya itu), di mana suatu pertandingan mendapat tambahan waktu beberapa menit dengan beberapa syarat tertentu. Nah, apa jadinya jika hal tersebut berlaku juga di kehidupan nyata? Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mendapat perpanjangan waktu di saat ajal akan menjemput?  Ide tersebut merupakan premis dasar dari dorama berjudul Loss:Time:Life, sebuah dorama yang bercerita tentang orang-orang yang diberi perpanjangan waktu ketika kematian mendekati mereka.

Loss:Time:Life sendiri adalah sebuah dorama berjumlah sembilan episode yang setiap episodenya memiliki cerita yang berdiri sendiri dan tidak memiliki kaitan secara langsung antara episode yang satu dengan yang lainnya (kecuali kaitan tema). Setiap episodenya memiliki satu orang tokoh utama yang diceritakan menemui ajalnya dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya di episode pertama ada Nakayama Haruhiko (Eita), seorang fotografer berita yang mati karena tertembak oleh penjahat yang sedang diselidikinya. Ketika peluru hampir mengenainya, tiba-tiba waktu di ruangan itu berhenti dan empat orang berpakaian wasit datang menghampirinya. Salah satu di antaranya membawa sebuah papan bertuliskan tambahan waktu yang dimilikinya. Ya, sama seperti sepak bola, rupanya Haruhiko mendapat perpanjangan waktu beberapa jam sebelum ajal benar-benar menghampirinya. Dengan diawasi wasit-wasit tersebut, ia harus memanfaatkan sisa waktunya tersebut untuk menyelesaikan segala urusannya. Dan seperti sepak bola juga, terdapat berbagai aturan yang harus dipatuhi selama masa tambahan waktu tersebut, misalnya tidak boleh memberitahu orang lain bahwa dia sudah meninggal, tidak boleh mengganti baju, dan berbagai macam peraturan lainnya. Jika peraturan tersebut dilanggar, maka ia akan mendapat kartu kuning. Dan ketika tambahan waktu itu akan habis, ia diwajibkan untuk kembali ke tempat kematiannya dan melanjutkan hal yang menjadi takdirnya tersebut. Selain Haruhiko, masih ada delapan tokoh lagi dengan latar belakang dan cara kematian berbeda-beda yang mengalami hal serupa. Siapa saja kah mereka? Apa yang mereka lakukan dalam sisa waktunya tersebut? Apakah mereka benar-benar akan mati? Tonton aja deh.

Ini adalah salah satu dorama yang saya tonton karena faktor ada Eita-nya *ahem*, dan rupanya dorama ini berhasil memuaskan saya. Yang paling saya suka dari dorama ini tentu saja ide atau premisnya yang menarik. Dan ide tersebut berhasil dieksekusi dengan sangat baik. Meskipun punya premis yang terkesan repetitif (orang mati, dapat tambahan waktu, menyelesaikan urusannya, selesai), tapi si pembuatnya berhasil membuat setiap episodenya memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari episode lainnya, sehingga saya selalu merasa menemukan hal yang baru di setiap episodenya. Setiap tokoh utama di masing-masing episodenya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Selain Haruhiko si fotografer, masih ada delapan tokoh lain dengan profesi yang berbeda-beda. Ada yang seorang polisi (episode 2, diperankan Koyama Keiichiro), ibu rumah tangga (episode 3, diperankan Tomochika), perawat (episode empat, diperankan Ueno Juri), mangaka (episode 5, diperankan Ito Atsushi), aktor kurang terkenal (episode 6, diperankan Tanaka Naoki), istri yakuza (episode 7, diperankan Tokiwa Takako), wanita karir (episode 8, diperankan Maki Yoko), dan hikikomori (episode 9, diperankan Oizumi Yo). Cara kematiannya pun berbeda-beda, ada yang dibunuh, kecelakaan, bunuh diri, serangan jantung, bahkan ada yang sampai mati karena tersedak makanan. Tambahan waktunya pun berbeda-beda. Ada yang tiga jam, empat jam, lima jam, bahkan ada yang jauh lebih lama dari itu. Segala macam perbedaan tersebut membuat setiap episodenya memiliki daya tarik masing-masing dan menjadikan kesan repetitif itu menjadi tidak terlihat.

Selain itu, yang menarik lagi dari dorama ini adalah cara tokoh-tokoh tersebut menghabiskan waktunya yang tersisa. Yang paling saya suka adalah episode 4 yang memasang Ueno Juri sebagai tokoh utamanya. Di situ ia diceritakan sebagai seorang perawat yang mencoba bunuh diri setelah diputuskan pacarnya. Dan setelah ia mendapat tambahan waktu, yang ia lakukan adalah… mencoba bunuh diri lagi 😀 Selain episode itu, masih ada beberapa episode lainnya yang saya suka. Secara keseluruhan, episode-episode favorit saya adalah episode satu, tiga, empat, lima, dan delapan. Namun, selain episode-episode itu, episode-episode lainnya juga tidak kalah menarik kok. Dan yang paling saya suka adalah setiap episodenya selalu berhasil bikin saya merasa tersentuh dan gak rela kalau mereka bener-bener akan mati (dan saya emang lemah sama cerita yang temanya tentang kematian). Apalagi, melalui tambahan waktu tersebut, para tokoh di sini kemudian menemukan hal-hal berharga yang tidak pernah dialaminya ketika hidup dan tambahan waktu tersebut membuat mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.

Di luar hal-hal di atas, yang paling saya suka di sini adalah… karakter wasit-wasitnya. Ya, kayaknya cuma di dorama ini malaikat maut digambarkan dengan sosok manusia berpakaian wasit. Wasit-wasit ini sendiri tidak pernah diperlihatkan berbicara, tapi gerak-gerik mereka selalu bisa bikin saya ketawa. Selain loss time, wasit, dan kartu kuning, ada satu lagi unsur dari pertandingan sepak bola yang dimasukkan di dorama ini dan membuat dorama ini menjadi lebih menarik. Ya, komentator! Pertandingan sepak bola pasti tidak akan seru jika tidak dilengkapi dengan suara komentator. Begitu juga dengan dorama ini. Seperti pada sepak bola, ada suara-suara yang mengomentari segala tindak-tanduk yang dilakukan tokoh-tokohnya (yang komentarnya banyak yang kocak). Bahkan untuk adegan tertentu ada juga yang diulang alias diberi tayangan replay-nya 😀 Hal-hal tersebut membuat dorama ini menjadi semakin menghibur dan meskipun bertema tentang kematian, dorama ini sama sekali tidak memberi kesan depresif.

Overall, saya sangat menyukai dorama berjumlah sembilan episode ini. Oh ya episode-episode di sini memang tidak memiliki kaitan secara langsung satu sama lain. Tokoh utama antara satu episode dengan episode lainnya diceritakan tidak saling mengenal. Tapi ada satu orang tokoh yang selalu ada di setiap episodenya, yaitu tokoh Omoto-san yang diperankan Nukumizu Youichi. Tidak terlalu jelas latar belakang karakter ini, dan berhubung dengan itu, dorama ini memiliki dua episode tambahan (overtime) yang berfokus pada kehidupan karakter itu (dengan ditambah pemeran lain seperti Kuriyama Chiaki dan Sakai Wakana). Sayangnya, dua episode itu menurut saya tidak semenarik sembilan episode sebelumnya dan tidak begitu menjelaskan apa maksud dari keberadaan tokoh itu. Di luar hal itu, karena setiap episodenya berdiri sendiri, menurut saya dorama ini bisa dinikmati secara acak alias tidak berurutan. Saya juga setelah episode satu langsung loncat ke episode 4 dan selanjutnya nonton berdasarkan urutan artis yang saya suka, dan hal itu sama sekali tidak mengganggu kenikmatan menonton dorama ini. Tapi saran saya, jika mau menonton secara acak, lebih baik episode pertama yang ditonton tetap episode 1 dan episode terakhir yang ditonton tetap episode 9 (tengah-tengahnya terserah mau nonton yang mana dulu). Well, 4 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Setiap orang pasti memiliki satu atau beberapa hobi. Ada yang punya hobi membaca buku, menonton film, mengoleksi perangko, dan berbagai macam hobi lainnya. Namun, ada satu orang yang sama sekali tidak memiliki hobi apa-apa. Dia adalah Kiriyama Shuichiro (Odagiri Joe), seorang polisi yang bekerja di divisi Limitation Task Force (divisi yang tugasnya mengurus arsip-arsip kasus yang sudah kadaluarsa, divisi paling membosankan di kepolisian tampaknya). Karena tidak punya hobi itu adalah sesuatu yang buruk, maka Kiriyama pun berusaha mencari sesuatu yang bisa dijadikan hobi baginya. Setelah berpikir keras, akhirnya Kiriyama menemukan suatu hobi yang cocok baginya. Hobi tersebut adalah: menyelidiki kasus yang sudah kadaluarsa.

Di Jepang, suatu kasus memiliki batas waktu selama 15 tahun. Jika 15 tahun sudah berlalu dan kasusnya tetap tidak terpecahkan, maka kasus tersebut akan kadaluarsa. Dan meskipun pelaku kasus tersebut ketahuan setelah itu, si pelaku tetap tidak akan bisa dipenjara. Pada dorama ini, Kiriyama berusaha menyelidiki kasus-kasus yang sudah kadaluarsa sebagai hobinya. Dan karena hal itu ia lakukan sebagai hobinya, maka Kiriyama tidak pernah terobsesi untuk menangkap penjahatnya (karena sudah kadaluarsa pula). Ia hanya ingin mengetahui kebenaran atas kasus tersebut. Kiriyama sendiri tidak pernah sendirian dalam melaksanakan hobinya. Ia biasa ditemani oleh Mikazuki Shizuka (Aso Kumiko), polisi wanita dari divisi lalu lintas yang keliatannya naksir Kiriyama (karena sangat sering mampir ke divisi Limitation Task Force). Berdua, mereka berusaha mencari-cari petunjuk mengenai kasus-kasus yang telah kadaluarsa. Dan yang menarik, setelah pelaku dari kasus-kasus tersebut berhasil ketahuan, Kiriyama selalu memberikan kartu bertuliskan “I won’t tell anybody” kepada si pelaku, sebagai tanda bahwa identitas mereka sebagai pelaku akan dirahasiakan oleh Kiriyama. Lalu, kasus-kasus kadaluarsa macam apakah yang akan diselidiki Kiriyama? Apakah suatu saat ia akan bosan dengan hobinya tersebut? Tonton aja deh 😀

Menonton Jikou Keisatsu (judul bahasa Inggris: Time Limit Investigator) karena tertarik dengan premisnya: menyelidiki kasus yang sudah kadaluarsa sebagai hobi? Kurang kerjaan banget ya kelihatannya? Apalagi walaupun pelakunya ketahuan, Kiriyama tetap tidak bisa melakukan apa-apa untuk menangkap penjahatnya. Terlihat tidak berguna bukan? Tapi, namanya juga hobi. Kadang-kadang hobi sering kali tidak menghasilkan apa-apa, namun hal tersebut tetap akan menimbulkan kepuasan di hati ini. Begitu juga yang terjadi dengan Kiriyama. Dorama ini sendiri punya pola yang sama seperti dorama detektif pada umumnya, di mana ada satu kasus yang diselidiki dalam satu episode. Semua kasus yang diselidiki di sini adalah kasus yang sudah kadaluarsa, tapi ada juga satu episode yang berbeda dengan yang lainnya, yaitu di episode 6 ketika Kiriyama menyelidiki sebuah kasus yang beberapa hari lagi akan kadaluarsa.

Selain premisnya yang menarik dan orisinil, kelebihan lain pada dorama ini juga terletak pada unsur komedinya. Ya, berhubung dengan hal itu, tidak aneh unsur komedinya menonjol karena dorama ini ditulis dan disutradarai oleh Miki Satoshi. Mengenai sutradara ini sudah sering saya singgung di beberapa review sebelumnya (seperti Atami no Sousakan & Adrift in Tokyo). Sama seperti di film-filmnya yang lain, Miki Satoshi masih mengandalkan humor-humor random tidak penting di dorama ini. Hal itu bisa dilihat melalui tingkah Kiriyama dan rekan-rekannya di divisi Limitation Task Force, di mana mereka sering sekali meributkan hal-hal yang tidak penting. Misalnya di episode satu, ketika Matarai-san (Fuse Eri) tidak sengaja menemukan sertifikat pernikahan yang belum diisi di suatu tempat. Dan pada saat itu, mereka malah meributkan siapa yang akan mengisi sertifikat tersebut, yang berujung dengan jan ken pon (selain gak penting, hal itu juga menandakan bahwa divisi itu kebanyakan nganggurnya daripada kerja). Namun, tidak seperti Atami no Sousakan yang memiliki penulis dan sutradara tunggal, dorama ini tidak hanya disutradarai oleh Miki Satoshi seorang (meskipun yang paling banyak berperan di sini adalah Miki Satoshi). Masih ada beberapa sutradara lain yang turut menulis dan menyutradarai dorama berjumlah sembilan episode ini. Salah satunya adalah sutradara Jepang terkenal Sono Sion (Suicide Club, Love Exposure) yang ikut menulis dan menyutradarai salah dua episodenya (episode 4 & episode 6). Namun, meskipun ditulis dan disutradarai oleh beberapa sutradara, gaya humor di semua episodenya kurang lebih serupa dan Miki Satoshi banget.

Selain hal-hal di atas, akting dan karakterisasi adalah salah satu hal yang paling menarik dari dorama ini. Sulit sekali untuk tidak jatuh cinta pada Odagiri Joe di sini. Kiriyama’s character is sooooo cute and lovable. Odagiri Joe emang cocok buat peran cowok polos macam Kiriyama (teringat Satorare). Sifatnya yang polos dan rasa ingin tahunya yang besar bener-bener bikin saya gemes. Saya juga suka banget sama perkembangan karakter Kiriyama. Meskipun dia tampak bersenang hati melakukan hobi anehnya, tapi ada juga saat-saat di mana dia merasa muak dengan hobinya tersebut. Misalnya di episode 6, ketika dia mulai muak karena selalu memecahkan sebuah kasus pada waktu yang sudah terlambat. Apalagi, seperti hobi lainnya, hobi Kiriyama pun turut memakan biaya. Selain Odagiri Joe, Aso Kumiko juga berakting baik di sini. Dan saya rada kasihan sama karakter Mikazuki yang naksir banget sama Kiriyama, tapi cowok tersebut gak pernah nyadar (salah sendiri sih naksir cowok polos & bebal macam Kiriyama :D). Pemain-pemain lainnya yang kebanyakan adalah pemain langganan Miki Satoshi seperti Fuse Eri dan Iwamatsu Ryo (yang turut menyutradari salah satu episodenya) pun turut bermain dengan baik di sini, dan semakin menambah kelucuan dorama ini. Selain pemain utamanya, dorama ini juga turut menghadirkan beberapa bintang tamu di setiap episodenya, seperti Ikewaki Chizuru, Tetsushi Tanaka, Yoshitaka Yuriko, Tomosaka Rie, Nagasaku Hiromi, Ryo, dan beberapa artis lainnya.

Untuk bagian penyelidikannya, penyelidikan yang dilakukan Kiriyama sebenarnya gak hebat-hebat amat. Ia menyelidiki kasus-kasus yang ada di dorama ini dengan cara mewawancarai detektif yang pernah mengurus kasus tersebut serta orang-orang yang terlibat pada kasusnya. Kadang-kadang, obrolan tidak penting antara Kiriyama dan rekan-rekannya sering berguna dan menjadi petunjuk untuk memecahkan kasus yang diselidikinya. Kasus-kasus (yang kebanyakan kasus pembunuhan) yang terjadi di sini pun kebanyakan kasus yang terjadi secara tidak sengaja, tidak dengan trik yang direncanakan matang, tapi malah berakhir menjadi kasus yang tidak terpecahkan. Namun, Kiriyama selalu berhasil menemukan petunjuk yang sebelumnya tidak pernah ditemukan. Petunjuk yang tampak sepele, tapi sebenarnya sangat penting dan berkaitan dengan kasusnya. Pelaku dalam kasus-kasus di dorama ini sendiri sebenarnya sudah ketahuan dari awal episodenya sehingga ini bukan tipe dorama yang bikin kita kaget ketika pelakunya ketahuan, tapi yang menarik adalah cara Kiriyama mendapatkan bukti bahwa orang itulah pelaku tersebut yang disertai dengan beberapa kelucuan.

Well, segini aja review dari saya. Dorama ini recommended buat kamu yang suka dorama detektif atau penyuka film-filmnya Miki Satoshi. Sekadar info, dorama ini juga memilki sekuel yang berjudul Kaette Kita Jikou Keisatsu yang punya format yang hampir sama dengan season pertamanya. Ja, 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Detektif, profesi satu itu sempat menjadi salah satu cita-cita saya waktu masih kecil, gara-garanya waktu kecil saya suka banget baca komik Detective Conan. Sejak baca Conan, saya jadi suka sama segala cerita yang berbau detektif, baik itu cerita dalam buku, komik, film, sampai serial. Nah, kali ini saya akan ngereview salah satu dorama bertemakan detektif yang baru-baru ini saya tonton, yaitu Keizoku 2: SPEC. Tapi, tema detektif di sini sedikit berbeda karena ditambah beberapa unsur lain seperti unsur komedi dan supernatural.

Melihat angka 2 pada judulnya, kita pasti akan langsung menebak bahwa dorama ini adalah sebuah sekuel dari dorama yang sudah ada sebelumnya. Ya, dorama ini adalah sekuel dari dorama Keizoku (1999) yang dibintangi oleh Miki Nakatani dan Atsuro Watabe (belum nonton). Tapi menurut info yang saya baca, SPEC bukanlah lanjutan dari seri pertamanya karena karakter-karakter dalam SPEC semuanya adalah karakter baru dan bukan dari dorama pendahulunya (ralat: Raita Ryu ternyata berperan di Keizoku juga). Sehingga, tanpa nonton seri pertamanya kita tetap akan mengerti jalan cerita SPEC karena ceritanya yang berdiri sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan seri pertamanya. Hubungan antara SPEC dan Keizoku hanya ada pada tema ceritanya yang sama, di mana kasus-kasus yang diselidiki dalam dua dorama itu adalah kasus-kasus yang tidak masuk akal dan tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Jadi begini ceritanya, di kepolisian Jepang (tentunya dalam dorama ini) ada sebuah divisi / unit dengan nama Unidentified Crimes Unit. Tugas divisi ini adalah untuk menyelidiki kasus-kasus yang tidak bisa dijelaskan dengan penjelasan yang ilmiah atau masuk akal. Awalnya, divisi ini hanya terdiri dari dua orang saja, yaitu chief Nonomura yang mengepalai divisi ini, serta Touma Saya (Toda Erika), seorang perempuan jenius dengan IQ 201, tapi memiliki penampilan yang serampangan dan asal-asalan. Suatu hari, divisi ini akhirnya bertambah dengan satu orang lagi, yaitu Sebumi Takeru (Kase Ryo), seorang polisi yang dipindahkan dari divisi SIT (saya lupa itu singkatan dari apa, yang jelas divisi ini semacam densus 88 yang tugasnya buat nangkep teroris atau sejenisnya). Sebumi dipindahkan karena sebuah insiden misterius yang membuat seorang anak buahnya terluka. Meskipun tidak dinyatakan bersalah, tapi kemudian Sebumi diberhentikan dari SIT dan dipindahkan ke Unidentified Crimes Unit. Sebumi dan Touma yang masing-masing memiliki kepribadian bertolak belakang (Sebumi orangnya sangat serius sementara Touma terlihat asal-asalan) kemudian menjadi partner dan bersama-sama mereka menyelidiki kasus-kasus yang melibatkan orang-orang yang memiliki SPEC. SPEC sendiri dapat diartikan sebagai semacam kekuatan supernatural yang tidak dimiliki manusia biasa. Orang-orang yang dianugerahi SPEC masing-masing memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Ada yang bisa meramal masa depan, membaca pikiran orang lain, telekinesis, dan lain-lain. Kekuatan tersebut tidak jarang disalahgunakan oleh orang-orang tersebut. Salah satu orang ‘berbahaya’ yang menyalahgunakan kekuatan tersebut adalah Ninomae Juuichi (Kamiki Ryunosuke), seorang remaja laki-laki yang memiliki kemampuan menghentikan waktu, yang juga merupakan penyebab kenapa Touma menggunakan gips di tangan kirinya. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Sebenarnya, siapa itu Ninomae? Apakah suatu saat Touma akan berhasil menangkapnya? Lalu, kejutan apa lagi yang akan muncul di dorama ini?

Alasan saya menonton dorama ini adalah karena Kase Ryo bermain di dalamnya. Ya, baru-baru ini saya dibuat terpesona oleh aktingnya di salah satu film garapan Takeshi Kitano yang berjudul Outrage. Kase  Ryo adalah salah satu aktor Jepang yang lebih sering bermain dalam film ketimbang dorama. Meskipun film-film yang dibintanginya udah seabreg banyaknya, tapi kalo soal dorama, jumlahnya masih sedikit sekali. Makanya, pas tahu dia main di dorama ini, ekspektasi saya jadi lumayan tinggi karena jarang-jarang kan Kase Ryo mau main dorama 😀 Dan setelah ditonton, ternyata doramanya emang bagus dan adiktif sekali. Episode pertamanya menurut saya masih tergolong biasa-biasa saja, dan sedikit mengingatkan saya pada dorama Trick-nya Nakama Yukie (tapi kalo dalam Trick kekuatan supernatural itu adalah bohong belaka, kekuatan supernatural dalam SPEC memang benar-benar ada dan bukan trik belaka). Namun, semakin ke sana dorama ini menjadi semakin baik dan semakin bagus.

Yang menarik dari dorama dengan jumlah 10 episode ini tentu saja hubungan antara Touma dan Sebumi, dua orang detektif yang memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Meskipun kadang-kadang tidak akur dan sering saling ledek, belakangan kita bisa lihat kalo sebenarnya mereka saling peduli satu sama lain. Hubungan mereka juga digambarkan dengan sangat lucu. Tapi buat kamu yang mengharapkan adanya hubungan romantis di antara keduanya, siap-siap kecewa deh.  Selain itu, yang menarik dari dorama ini tentu saja adalah karakter-karakternya yang juga didukung akting yang gemilang dari pemain-pemainnya. Karakter Touma yang diperankan Toda Erika menurut saya unik sekali, dan berkat aktingnya sebagai karakter itu, Toda Erika kemudian mendapatkan penghargaan Best Actress di 67th Drama Academy Award. Karakternya sebagai perempuan jenius cuek yang sangat suka makan dan punya ritual unik setiap mau memecahkan kasusnya ini sangaaaaat memikat. Dan kabarnya di dorama ini Toda Erika tidak memakai make up sama sekali, tapi menurut saya dia tetap terlihat cantik di sini. Dan yang tidak kalah memikat tentu saja karakter Sebumi Takeru yang diperankan Kase Ryo. Kase Ryo ini emang jago banget ya aktingnya. Padahal biasanya saya tidak suka sama tipe karakter serius kayak gini, tapi Kase Ryo berhasil membuat karakter Sebumi menjadi tidak membosankan. Saya jadi makin jatuh cinta sama aktor satu ini, hehe. Pemain-pemain lainnya juga  berakting dengan sangat baik di dorama ini, seperti Raita Ryu yang memerankan chief Nonomura, bahkan Shirota Yuu yang tidak terlalu saya suka juga berakting lumayan baik di sini. Satu lagi yang paling menonjol tentunya karakter Ninomae Juuichi yang diperankan Kamiki Ryunosuke. Kamiki  lumayan berhasil memerankan Ninomae, seorang penjahat abg yang punya tampang dan gaya yang sangat ceria.

Seperti serial detektif pada umumnya, setiap episodenya menampilkan satu buah kasus yang berbeda-beda dengan episode lainnya. Tapi meskipun berbeda-beda, kasus-kasus tersebut sebenarnya memiliki kaitan (karena semuanya melibatkan SPEC) dengan kasus besar yang terjadi sebenarnya. Namun sayangnya, setelah menonton sampai akhir, kita masih belum  mendapat pencerahan mengenai hal tersebut. Yak, SPOILER ALERT endingnya sengaja dibikin gantung dan masih banyak teka-teki yang belum terselesaikan. Kenapa saya bilang disengaja? Karena gantungnya tersebut tampak disadari oleh dorama ini, karena di bagian akhir setelah dorama ini selesai, karakter Touma dan Sebumi diperlihatkan berdiri berjajar dan Touma berbicara pada kamera “I’m never going to do a movie.”, seolah bisa membaca pikiran penonton mengenai endingnya. Tapi meskipun Touma bilang gak mau ngelanjutin serial ini menjadi sebuah film, saya punya firasat *halah* kalo dorama ini akan dibuat versi movie-nya, yah paling nggak episode sp mungkin. Saya sendiri sangat berharap dorama ini ada lanjutannya karena sebagai penonton saya masih belum puas dan rasanya tidak rela kalau dorama ini sudah berakhir. Ja, jadi segini aja review gak penting dan lagi-lagi kepanjangan dari saya. 4,5 bintang deh untuk dorama ini (tadinya mau 5 bintang, tapi karena endingnya gantung saya kurangin 0,5). Highly recommended 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »