Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2010

Seperti biasa saya menonton film ini karena faktor judulnya yang tampak catchy dan menarik (bukan-karena-saya-suka-rain-loh). Melihat judul (dan poster)nya pula, saya sempat berasumsi kalo film ini bercerita tentang percintaan antara cyborg dengan seorang manusia biasa. Dan seperti biasa pula dugaan sotoy saya tersebut salah besar. Setelah saya menonton filmnya sendiri, saya merasa film ini sangat highly recommended. Ini adalah salah satu film Korea terbaik yang pernah saya tonton, karena film ini menghadirkan sebuah tontonan yang unik, menarik, serta menghibur.

Cha Young-goon (Su-jeong Lim) adalah seorang perempuan yang memiliki suatu kelainan pada jiwanya, di mana ia merasa dirinya bukan manusia melainkan cyborg! Hal itu sebenarnya bukan hal yang baru di keluarganya. Neneknya sendiri memiliki kelainan yang sama, bedanya neneknya tersebut menganggap dirinya sendiri adalah seekor tikus dan hanya mau makan lobak (dan menganggap anak-anaknya sebagai tikus juga). Kegilaan Young-goon semakin memuncak ketika ia harus menerima kenyataan bahwa neneknya yang sangat disayanginya dibawa entah kemana oleh orang-orang berbaju putih (dokter maksudnya). Tidak hanya itu, suatu hari ia melukai pergelangan tangannya sendiri dengan motif ingin memasukan kabel ke dalamnya. Hal tersebut membuat ia akhirnya dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa. Di rumah sakit jiwa tersebut, ia bertemu dengan pasien-pasien lainnya yang memiliki kelainan jiwa yang berbeda-beda. Salah satu dari mereka adalah Park Il-sun (Rain), orang yang mulai memiliki kelainan jiwa semenjak ia ditinggal oleh ibunya sendiri. Il-sun memiliki sebuah keahlian dalam hal mencuri, termasuk dalam mencuri ‘kegilaan’ orang lain. Hal tersebut membuat Young-goon tertarik pada Il-sun dan memohon pada Il-sun untuk mencuri rasa simpati yang dimilikinya, karena seorang cyborg seharusnya tidak memiliki rasa simpati (dan juga beberapa syarat lainnya). Masalah timbul ketika kondisi tubuh Young-goon mulai memburuk. Hal itu disebabkan oleh Young-goon sendiri yang selama ini menolak untuk makan karena merasa makanannya sebagai seorang cyborg adalah batu baterai, dan ia takut makanan manusia normal dapat membahayakan tubuhnya. Il-sun yang mulai memiliki rasa simpati pada Young-goon kemudian mencoba berbagai usaha untuk membujuk Young-goon makan. Lalu apa yang akan terjadi pada Young-goon selanjutnya? Apakah pada akhirnya ia mau makan? Tonton sendiri aja deh.

Saya suka sekali sama film ini. Film ini memiliki jalan cerita yang sangat unik dan karakterisasi yang ajaib. Skenarionya pun bagus dan saya suka banget sama dialog-dialog di film ini. Dari awal saja film ini sudah menampilkan adegan yang menarik (dan juga kocak), seperti ketika pertama kali Young-goon berada di rumah sakit jiwa, seorang perempuan mengajaknya mengobrol dan kemudian mengajak Young-goon berkeliling dan menjelaskan pada Young-goon kelainan-kelainan jiwa yang diderita oleh pasien-pasien lainnya. Saya kira perempuan ini perawat di rumah sakit jiwa tersebut, padahal sebenarnya ia seorang pasien penderita mythomania (kecenderungan untuk berbohong terus menerus). Selain pasien mythomania tersebut, pasien-pasien lainnya pun digambarkan dengan baik sekali. Menonton film ini membuat saya jadi tertarik untuk mempelajari penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kejiwaan seperti di film ini.

Salah satu yang patut diacungi jempol dari film ini adalah akting dari Su-jeong Lim yang berperan sebagai Yong-goon serta Rain yang berperan sebagai Il-sun. Su-jeong Lim sukses memerankan Young-goon yang selalu menganggap dirinya cyborg dan suka mengkonsumsi batu baterai, serta selalu berusaha berkomunikasi dengan mesin penjual minuman. Raut wajahnya yang menurut saya agak mengerikan pun turut mendukung karakternya tersebut. Begitu pula dengan Rain yang berakting cemerlang sebagai Il-sun si pencuri (dan film ini sendiri merupakan debut pertama Rain di dunia akting). Usaha yang dilakukannya untuk membujuk Young-goon makan menurut saya sangat menyentuh. Dan untuk para penggemar Rain, jangan berharap akan menemukan sosok Rain yang ganteng dan keren di film ini, karena di sini karakternya benar-benar aneh dan gak ada keren-kerennya sama sekali (tapi saya malah suka karakternya di sini :p).

Secara keseluruhan film ini sangat oke dan recommended. Cocok buat ditonton oleh penyuka film korea, penyuka film dengan tema yang agak lain, atau penyuka film yang rada ‘nyikologis’. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Film ini diawali dengan kehebohan yang melanda sebuah desa di mana pada saat itu dokter yang biasa mengobati mereka menghilang entah ke mana. Pada saat itu juga ada dua orang polisi yang tengah mencari dokter yang diketahui bernama Ino Osamu (Tsurube Shofukutei) itu. Selanjutnya scene berganti pada beberapa bulan sebelum kejadian itu yaitu pada saat seorang anak muda bernama Soma Keisuke (Eita) sedang mengendarai mobil menuju desa tersebut. Anak muda tersebut ternyata seorang doctor trainee yang ditugaskan untuk membantu kerja Ino-sensei sebagai dokter di desa tersebut. Ino-sensei sendiri sudah tiga tahun tinggal di desa tersebut dan bisa dibilang ia sangat berjasa dalam melayani kesehatan para warga desa. Setiap harinya ia melakukan kunjungan ke rumah warga untuk memeriksa kesehatan mereka. Selain itu, sudah beberapa kali pula ia berhasil menyelamatkan pasiennya dari kematian. Hal tersebut membuat warga desa tersebut sangat menyayangi dan menyanjung Ino-sensei. Melihat hal tersebut, timbul kekaguman pada hati Keisuke dan ia pun berniat untuk terus berada di desa tersebut sebagai dokter meski waktu prakteknya sudah habis. Namun, Keisuke dan para warga desa tersebut sama sekali tidak tahu bahwa Ino-sensei sebenarnya menyimpan rahasia mengenai statusnya sebagai dokter. Hal itu berujung pada suatu hari ketika Ino-sensei menghilang begitu saja, setelah ia menemui Ritsuko Torikai (Haruka Igawa), anak dari salah satu pasiennya yang merupakan seorang dokter juga. Rahasia apa yang disimpan oleh Ino-sensei? Silakan tonton sendiri 😀

Yak, salah satu film yang saya tonton karena faktor “ada Eita-nya”, dan film ini masih tergolong baru karena ditayangkan di Jepang pada tahun 2009 kemarin. Dear Doctor adalah sebuah drama sederhana yang sangat menyentuh. Saya suka banget sama film ini (bukan cuma karena ada Eita-nya lho :p). Pertama yang bikin saya suka adalah kehidupan di pedesaan yang sangat berbeda dengan kehidupan di perkotaan, di mana di desa suasananya terasa sangat hangat dan akrab. Apalagi cara Ino-sensei datang berkunjung ke rumah pasiennya sendiri membuat dunia kedokteran tidak terasa kaku atau menakutkan (berbeda jika dirawat di rumah sakit).

Tsurube Shofukutei berperan sangat bagus sebagai Ino-sensei, seorang dokter yang memiliki sebuah rahasia mengenai status dokternya. Saya suka ekspresi ‘hampa’nya ketika ia dipuji-puji banyak orang karena telah menyelematkan seorang pasien dan dianggap sebagai pemberani karena telah mengambil tindakan yang tepat namun berisiko untuk menyelematkan pasien tersebut, padahal sebenarnya Ino-sensei sama sekali tidak memiliki keberanian sama sekali untuk melakukan hal itu dan mau melakukan tindakan itu karena desakan Akemi (Kimiko Yo), suster yang selalu mendampinginya. Eita pun di sini berakting dengan baik, meskipun menurut saya perannya di sini gak begitu spesial (etapi dia dapet banyak penghargaan loh melalui perannya di sini). Yang menurut saya paling memukau aktingnya di film ini adalah Kimiko Yo (pernah bermain di Okuribito (Departures) dan the Ramen Girl) yang berperan sebagai suster Akemi, suster veteran yang berperan penting dalam membantu tugas Ino-sensei sebagai dokter.

Melalui cerita film ini, kita akan dibuat untuk bertanya-tanya mengenai batas antara yang benar dan yang salah. Hal yang dilakukan Ino-sensei kalau dilihat dari kacamata hukum mungkin bisa dibilang sebagai hal yang salah dan tidak bisa dibenarkan. Tetapi, kita tidak bisa membenci karakter ini begitu saja karena karakter ini sudah menolong banyak orang, dan pertolongannya tersebut terlihat tulus dan tidak dibuat-buat. Endingnya sendiri dibiarkan menggantung dan seolah tidak ada penyelesaian, dan menurut saya itu adalah ending yang tepat karena batas antara kebenaran dan kesalahan terlampau tipis, sehingga kita tidak dapat memutuskan apa yang tepat untuk menyelesaikan hal ini.

Ps: Film ini memenangkan banyak penghargaan di beberapa movie awards di Jepang, seperti Best Actor untuk Tsurube Shofukutei, best supporting actor untuk Eita, best supporting actress untuk Kimiko Yo, best director dan masih banyak lagi (selanjutnya klik di sini aja buat list awards yang lebih lengkap).

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

“Buat apa susah, buat apa susah, lebih baik kita bergembira” – yak, mungkin itulah prinsip hidup yang dianut oleh Poppy (Sally Hawkins), seorang guru sekolah dasar berusia 30 tahun yang selalu riang dan gembira dalam menjalani kehidupannya. Senyum dan cengiran selalu menghiasi wajahnya. Kemana pun ia pergi, ia selalu menyebarkan aura keceriaan kepada semua orang, bahkan kepada orang-orang yang tidak dikenalnya. Meskipun kadang-kadang hal tersebut dianggap annoying (oleh orang-orang yang belum mengenal Poppy), Poppy tetap ceria tanpa ada rasa murung sedikit pun pada dirinya.

Film ini bercerita tentang bagaimana Poppy menjalani hidupnya, di mana ia harus menghadapi orang-orang yang tidak sama seperti dirinya, contohnya Scott (Eddie Marsan), guru menyetir Poppy yang sangat pemarah dan gampang meledak-ledak. Segala masalah selalu dihadapinya dengan ceria (seperti ketika sakit pinggang, ketika diobati ia malah tertawa-tawa). Lalu, apa yang akan terjadi pada Poppy selanjutnya? Apakah keceriaannya tersebut akan selalu membawa dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya? Tonton aja deh.

Film ini adalah tipe film yang ceritanya disetir oleh karakter utamanya. Keceriaan serta sikap positif Poppy lah yang dijadikan tema utama film ini. Sally Hawkins berperan baik sebagai Poppy yang selalu ceria dan optimis dalam memandang hidupnya. Tapi, menurut saya, karakter ini tidak lovable-lovable amat seperti yang banyak orang bilang, ada beberapa hal yang membuat saya agak kesel juga sama karakter ini (dan untuk jenis karakter ceria-positif seperti ini, saya masih lebih suka karakter Rika Akana dari Tokyo Love Story), tapi ya gak terlalu mengganggu juga sih. Selain Sally Hawkins, aktor Eddie Marsan yang berperan sebagai Scott juga berakting sangat baik di film ini, kadang saya sering agak takut sendiri melihat kegalakannya yang luar biasa ini.

Setiap film pasti memiliki tujuan sendiri. Film ini sendiri menurut saya bertujuan agar penonton mencontoh sifat Poppy yang selalu memandang hidupnya dengan positif dan optimis. Di dunia yang sesinis ini, mungkin karakter seperti Poppy ini akan sulit ditemukan dari sekian banyak manusia di dunia, dan mungkin karakter seperti ini akan dianggap munafik oleh sebagian orang. Tapi, apa yang salah dengan memandang dunia dengan positif? Daripada terus-terusan sinis memandang dunia yang malah bisa bikin capek sendiri, lebih baik melakukan seperti apa yang dilakukan Poppy bukan? Ceria menjalani hidupnya dan segala hal tidak dianggap sebagai beban. Namun, di bagian akhir Poppy menyadari, bahwa keceriaan dan sikap positif yang dimilikinya tidak selalu bisa menyenangkan hati orang lain, yang menurut saya sangat wajar karena sebagai manusia kita tidak bisa memenuhi kebutuhan semua orang bukan? Tapi bagi Poppy, hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk merubah sikapnya, karena pasti ada juga orang yang mendapat pengaruh positif dari sikapnya tersebut 🙂

Memorable Quotes:

Poppy: What can I give up?

Zoe: You could give up being too nice. Seriously, you can’t make everyone happy.

Poppy: There’s no harm in trying, though, is there? Bring a smile to the world.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Tertarik nonton film ini sebenarnya karena melihat judulnya yang tampak oke (oh yeah, I do judge movie by its title),   dan sebelum nonton ini, yang saya tau tentang film ini hanyalah film ini bercerita tentang kisah para TKW alias Tenaga Kerja Wanita. Yang terpikirkan oleh saya ketika mendengar tema itu adalah “kayaknya ceritanya tentang penyiksaan TKW oleh majikan yang marak terjadi dan sering jadi pemberitaan nih”. Dan ternyata dugaan sotoy tersebut salah besar! Hal seperti itu malah tidak ada sama sekali di film ini. Ini sekaligus menunjukan bahwa tidak semua majikan (terutama majikan TKW) itu jahat dan suka menyiksa pembantunya. Mungkin ada, tapi ya hanya sedikit dari sekian banyak majikan.

Minggu Pagi di Victoria Park bercerita tentang Mayang (diperankan oleh Lola Amaria yang juga berperan sebagai sutradara film ini), yang baru beberapa bulan menjadi TKW di Hong Kong dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh anak. Keberadaannya sebagai TKW di Hongkong sebenarnya bukanlah keinginannya sendiri, melainkan disuruh oleh ayahnya untuk mencari sang adik, Sekar (Titi Sjuman) yang sudah menjadi TKW terlebih dahulu sejak dua tahun yang lalu, dan saat ini menghilang dan tidak diketahui keberadaannya. Di Hong Kong, Mayang berteman dengan sesama TKW lainnya, ia juga kemudian mengenal Mas Gandi yang terkenal sebagai “bapaknya para TKW”. Pertemanannya dengan mereka kemudian mulai memberikan sedikit informasi mengenai apa yang terjadi pada adiknya. Namun, meskipun begitu, Mayang tampak terlihat ogah-ogahan dalam usaha pencarian adiknya tersebut. Lalu apa yang terjadi berikutnya? Apakah Mayang berhasil menemukan Sekar? Seperti apa sebenarnya hubungan antara kakak beradik ini? Tonton aja deh.

Setelah menonton film ini di bioskop, saya merasa bersyukur karena menyadari bahwa masih ada filmmaker Indonesia yang mau membuat film dengan niat “ingin membuat film” dan bukan untuk sekedar “jualan”. Minggu Pagi di Victoria Park mungkin bukanlah film yang sempurna, tapi saya sangat menghargai usaha mereka dalam menyajikan sebuah tontonan yang segar dan juga menarik. Di bagian awal, saya tidak merasakan apa-apa dan masih bingung mengenai inti ceritanya. Siapa itu Sekar? Apa hubungannya sama Mayang? Tapi di 2/4 awal, akhirnya saya mulai menemukan penerangan mengenai hubungan Mayang dan Sekar. Sungguh menarik rasanya melihat bagaimana perasaan Mayang pada adiknya tersebut, di mana ia masih tidak tahu apakah sebenarnya ia memang ingin menemukan Sekar atau tidak. Hal itu didasari karena ia sebenarnya tidak menyukai adiknya sendiri yang dalam segala hal selalu lebih baik dari dirinya. Selain itu, hal menarik lainnya adalah bagaimana berbagai pengalaman-pengalamannya di sana mulai mengubah perasaannya pada adiknya tersebut, yang lebih baik kalian tonton aja deh biar tahu ^^

Lola Amaria berakting baik di film ini. Menurut saya dia sukses memerankan Mayang yang agak introvert dan kaku serta selalu merasa dirinya yang paling menderita karena keberadaan Sekar. Selain itu, saya kagum karena selain berakting, dia juga lah yang menyutradari film ini. Dia berhasil menyuguhkan kisah para TKW beserta permasalahan-permasalahan yang menghiasi hidup mereka, seperti masalah di mana banyak TKW yang terlilit hutang dengan perusahaan super kredit (salah satunya Sekar), percintaan sesama jenis antar TKW (untuk hal ini, sepanjang film saya sibuk menebak apakah tokoh Agus itu cewek atau cowo, tampang dan nama kayak cowok, tapi pas ngomong kok suara cewek, dan ternyata emang cewek ya *gak penting*), atau ada TKW yang menjalin cinta dengan pria Pakistan dan atas nama cinta *halah* mau mengeluarkan uang untuk pria tersebut (contohnya yang terjadi pada tokoh Sari).  Mengenai kisah para TKW yang suka disiksa majikannya seperti yang sering ada di berita malah tidak ada, malah film ini menunjukan sisi positif dari para majikan, contohnya majikan Mayang (dan saya terharu ketika majikan Mayang ini meminta Mayang untuk makan di meja makan bersama mereka). Selain itu, Titi Sjuman yang berperan sebagai Sekar, adik Mayang, juga menampilkan akting yang sangat bagus di film ini. Penampilan terbaiknya adalah ketika ia memutuskan untuk melakukan suatu hal tak terduga demi mendapat uang, ekspresinya di adegan itu benar-benar nyata dan saya ikut merasakan ketidakrelaan seperti yang dirasakannya. Selain itu, pemain lainnya pun  turut bermain dengan baik di film ini, meskipun saya tidak begitu suka dengan akting Donny Damara yang berakting seperti sedang bermain sinetron. Oh iya, bumbu romantisme juga dihadirkan melalui kehadiran tokoh Vincent yang diperankan oleh Donny Alamsyah. Meskipun terkesan tidak penting dan tampak seperti pemanis saja, bagi saya karakter ini memang perlu ada karena karakter ini membuat Mayang yang selama ini merasa tidak ada apa-apanya dibanding Sekar, mulai merasa bahwa dirinya memiliki arti untuk orang lain.

Di luar itu, kelebihan dari film ini adalah sinematografinya yang cakep banget dan berhasil menampilkan pemandangan Hongkong dengan indah. Saya jadi pengen ke Hongkong abis nonton film ini ^^ Musiknya pun turut membuat film ini jadi lebih menarik. Jadi ayolah tonton film ini, agak sedih rasanya ketika di bioskop yang menonton film ini hanya ada beberapa belas orang *di review lain yang saya baca malah ada yang lebih sedikit jumlah penontonnya*. Sementara pas saya nonton Menculik Miyabi, penonton malah ada banyak banget. Jadi ayolah dukung film ini dengan cara membeli tiket dan menontonnya di bioskop, gak bakal nyesel kok 🙂

Catatan: Victoria Park adalah sebuah taman di Hong Kong yang sering digunakan sebagai base camp para TKW di akhir pekan. Mereka juga sering mengadakan di acara di tempat itu, salah satunya yang ada di bagian akhir film ini yang menampilkan penampilan dari bintang tamu ‘ternama’ Indonesia. Apa itu? Liat aja deh sendiri ^^

*eh saya ganti kategori indonesian movie jadi local movie aja ya, biar gak kepanjangan ^^*

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »

Masa akhir kuliah adalah sebuah masa di mana para mahasiswa sudah harus serius memikirkan apa yang akan menjadi masa depan mereka. Seperti Yuuki Kai (Tsumabuki Satoshi), yang di tahun terakhirnya di universitas, juga mulai serius memikirkan hal tersebut. Tidak seperti kedua temannya, Yashima Keita (Eita) dan Aida Shohei (Narimiya Hiroki) yang terlihat sangat santai, Kai mulai rajin mencari-cari pekerjaan, interview sana sini, dan deg-degan menanti panggilan dari perusahaan yang diincarnya. Suatu hari, sepulangnya dari sebuah interview, ia melihat seorang perempuan cantik sedang bermain biola dengan indahnya di halaman kampus. Ketika menyadari bahwa Kai sedang memperhatikannya, dengan tatapan galak perempuan tersebut langsung mengulurkan tangannya kepada Kai. Kai yang sedang tidak membawa uang, akhirnya memberikan sebuah jeruk yang didapatnya dari Keita  kepada perempuan itu sebagai “bayaran ngamen”.

Tanpa Kai ketahui, perempuan cantik yang kemudian diketahui bernama Hagio Sae (Shibasaki Kou) itu sebenarnya tidak bisa mendengar, alias tuna rungu. Ia sudah kehilangan fungsi pendengarannya sejak empat tahun yang lalu. Hal tersebut tentunya sangat disayangkan, karena Sae sebelumnya sudah banyak dikenal orang sebagai pemain biola muda berbakat, dan penyakitnya tersebut membuat karir musiknya terhenti. Kai bertemu lagi dengan Sae ketika Kai menggantikan Keita yang tidak bisa datang ke kencan buta yang direncanakan Shohei padanya. Tanpa Kai sangka, pasangan kencan buta tersebut adalah Sae yang pernah dilihatnya sedang bermain biola. Sejak kencan buta itulah, Kai mulai dekat dengan Sae. Sifat Kai yang baik terhadap Sae, mulai membuka hati Sae yang sebelumnya tertutup. Sejak Sae tidak bisa mendengar, ia memang jadi menutup diri dari banyak orang, dan selalu bersikap dingin karena perasaan tidak mau dikasihani. Tidak hanya itu, Sae dan sahabatnya, Akane (Shiraishi Miho), juga mulai bersahabat dengan Keita dan Shohei, dan berlima mereka membentuk Orange Society. Mereka juga memiliki sebuah buku yang dinamai Orange Diary, sebuah buku yang bisa mereka tulisi apa saja, seperti curhatan atau pikiran-pikiran yang ingin mereka kemukakan.

Masih dalam misi “mau nonton semua film / dorama yang ada eita-nya”, kali ini dorama yang saya review adalah Orange Days yang memasang Eita sebagai sahabat dari tokoh utama dorama ini. Dan hasilnya saya tidak menyesal sama sekali telah menonton dorama ini. Orange Days adalah drama yang sangat menyentuh, tapi meskipun begitu, Orange Days bukanlah drama yang cengeng. Yang paling saya suka dari dorama ini adalah chemistry antara tokoh Kai dan Sae. Seperti yang pernah saya bilang, pasangan Tsumabuki Satoshi dan Kou Shibasaki ini sesungguhnya memang benar-benar pacaran, dan mereka juga pernah maen bareng di film Dororo yang sudah saya review sebelumnya. Menurut saya mereka ini pasangan yang maniiiiis sekali. Kai yang baik hati selalu sabar menghadapi Sae yang sangat egois. Akting mereka berdua pun sangat oke. Yang paling saya suka sih aktingnya Kou Shibasaki sebagai Hagio Sae. Saya suka sifat judesnya. Meskipun memiliki kekurangan, tapi dia tidak pernah terlihat cengeng atau minta dikasihani. Namun kita tahu, meskipun dia terlihat kuat di luar, hati Sae sebenarnya rapuh, dan ia masih memiliki ketidakrelaan akan kekurangannya tersebut. Dan beruntunglah ada Kai yang memulai memasuki kehidupannya, dan membuatnya menghentikan segala keluhan tersebut. Kou Shibasaki sangat sempurna memerankan Sae. Adegan yang paling saya suka: ketika dia mengacungkan jari tengah ketika berada di tengah panggung. Mantep banget eksperesinya di adegan itu ^^ Tsumabuki Satoshi pun sangat pas memerankan Kai yang baik hati dan memiliki jiwa penolong yang sangat besar. Saya suka karakternya di sini. Dia baik hati, dan kebaikannya menurut saya tidak terlihat sebagai kemunafikan dan masih masuk akal. Di episode ke berapa gitu, Sae sempat mengatakan pada Kai bahwa Kai itu bersikap baik pada dirinya hanya karena ingin terlihat baik, dan hal tersebut membuat Kai merasa marah karena dia tidak merasa seperti itu. Dan di sini pun saya setuju sama Kai karena menurut saya sifat baik Kai itu memang merupakan sifat dasarnya. Karena itu tidak heran ia memilih jurusan psikologi kesejahteraan sosial di universitasnya. Selain dua pemain utama ini, tiga pemain lainnya pun bermain dengan baik dan turut menghidupkan dorama ini. Saya suka peran Narimiya Hiroki di sini sebagai Shohei yang playboy dan bekerja sambilan sebagai fotografer. Begitu juga dengan Eita, yang berperan sebagai Keita yang culun dan nasibnya selalu sial dalam percintaan. Di sini Eita masih culun sekali, tapi entah kenapa saya paling suka ketika Eita masih culun (kayak di Summer Time Machine Blues). Abisnya manis sih. hihi. Bumbu cinta segitiga juga turut dihadirkan karena adanya tokoh Akane yang diperankan oleh Shiraishi Miho. Tapi di sini hal tersebut tidak terlalu banyak dan tidak terlalu diperlihatkan. Shiraishi Miho pun di sini berakting dengan baik. Tapi saya lebih suka dia kalo jadi cewek sangar kayak pas di Densha Otoko ^^

Seperti yang saya sebut di awal review ini, Orange Days bercerita tentang mahasiswa-mahasiswa yang sudah waktunya serius untuk memikirkan masa depan. Di sini tokoh Kai diceritakan rajin mencari pekerjaan di berbagai perusahaan. Tapi pada akhirnya dia mulai ragu, apakah benar pekerjaan tersebut yang diinginkannya? Apakah dia mencari pekerjaan hanya karena takut menjadi pengangguran setelah ia lulus kuliah? Pada akhirnya saya merasa keputusan yang diambil Kai memang keputusan yang tepat, meskipun terlihat menyia-nyiakan sesuatu yang sudah susah payah ia usahakan, tapi bukankah dalam memilih pekerjaan seharusnya ada rasa cinta dan kecocokan dengan pekerjaan tersebut? 🙂 Selain itu, kita juga dibawa untuk melihat kondisi Sae. Ia tahu benar apa bakatnya dan apa yang diharapkannya menjadi masa depannya, yaitu musik. Tapi kekurangan yang ia derita membuat hal tersebut terhalang. Namun, berkat Kai, Sae akhirnya tetap tidak menyerah dan terus bermain musik, meskipun ia tidak bisa mendengar.

Satu hal terakhir, nonton dorama ini bikin saya jadi pengen banget belajar bahasa isyarat. Sebagian percakapan yang melibatkan Sae di sini memang semuanya menggunakan bahasa isyarat. Kebetulan Kai sendiri menguasai bahasa isyarat karena hal tersebut merupakan salah satu mata kuliah wajib yang dipelajari di jurusannya. Dan entah kenapa saya seneng banget ngeliat mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat, rasanya bikin hubungan yang terjalin di antara mereka jadi makin manis saja, hehe. Selain itu, ide Orange Diary juga menurut saya sangat bagus. Hal tersebut mengingatkan saya pada masa-masa SMP karena saya dan teman-teman saya juga punya buku seperti itu yang bisa kita isi sama-sama. Ja, kesimpulannya, dorama berjumlah 11 episode ini adalah dorama yang sangat bagus dan recommended. 4 bintang 🙂

catatan: di dorama ini ada Ueno Juri (yang terkenal sebagai Nodame di Nodame Cantabile) yang memerankan peran kecil sebagai adiknya Shohei. Ini sekaligus menambah daftar di mana Ueno Juri sering sekali bermain di dorama yang sama dengan Eita (tapi sayang di sini mereka gak pernah berada bersama dalam satu scene). Dan jangan dilupakan kehadiran si ganteng Kassy alias Kashiwabara Takashi (Itazura na Kiss, Honey and Clover) yang turut menyegarkan mata ini meskipun perannya tergolong tidak banyak di sini ^^

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi punya misi mulia *halah* untuk menonton semua film / dorama yang ada Eita di dalamnya nih, baik itu dia jadi pemeran utama, sidekick, ataupun cuma numpang lewat (kayak di Hanging Garden). Ah ya, sejak nonton VOICE saya emang jadi jatuh cinta sama aktor satu ini. Makanya pas saya nemuin dvd *bajakan tentunya* film Dororo ini, saya senang bukan main. Di sini Eita nggak jadi pemeran utama sih, tapi ya gak ada salahnya toh ditonton. Kebetulan sekarang juga saya lagi nonton dorama Eita yang judulnya Orange Days, dan dua pemeran utama film ini yaitu Satoshi Tsumabuki dan Kou Shibasaki juga kebetulan main di dorama itu. Makanya, nonton film ini berasa lagi liat reuni Orange Days (minus narimiya-miho) tapi dengan cerita dan setting zaman yang sangat berbeda.

Dororo bercerita tentang seorang pengembara laki-laki yang memiliki latar belakang sangat suram. Saat masih dalam keadaan bayi ia dibuang begitu saja oleh orang tuanya dengan keadaan tubuh yang tidak lengkap karena sang ayah, Kagemitsu Daigo, yang merupakan penguasa kejam saat itu (pada era sengoku kalau gak salah), mempersembahkan 48 bagian tubuh anaknya tersebut kepada iblis agar ia memperoleh kemenangan dalam perang secara terus menerus. Beruntung bayi tersebut (yang nantinya dipanggil Hyakki-maru, diperankan Satoshi Tsumabuki) ditemukan oleh seorang pria tua yang sangat ahli dalam bidang obat-obatan *mungkin semacam dukun juga*. Pria tua tersebut menciptakan tubuh baru untuk Hyakki-maru. Ia juga mengajarkan seni bertarung kepada Hyakki-maru. Lalu pada saat Hyakki-maru tumbuh dewasa, pria tua tersebut sakit keras dan sebelum ia meninggal, ia menyuruh Hyakki-maru untuk membunuh 48 iblis untuk mendapatkan anggota tubuhnya yang sebenarnya. Pengembaraan Hyakki-maru pun dimulai. Ketika ia sedang membunuh sesosok monster, aksinya itu dilihat oleh seorang pencuri wanita (yang selalu menganggap dirinya sebagai laki-laki, diperankan Kou Shibasaki) yang agak slengean dan menganggap Hyakki-maru sebagai sosok yang menarik. Pencuri tersebut lalu mengikuti Hyakki-maru karena tertarik pada pedang yang tertanam di tangan kiri Hyakki-maru. Pencuri itu lalu menanyakan siapa nama Hyakki-maru, dan Hyakki-maru berkata kalau ia tidak mempunyai nama yang pasti, kadang ia dipanggil Hyakki-maru, tapi kadang ia juga dipanggil Dororo (yang artinya anak setan). Dan selayaknya pencuri sejati, perempuan itu pun ‘mencuri’ nama Dororo dan sejak saat itu ia mengklaim bahwa namanya adalah Dororo. Mereka pun bertualang bersama mencari iblis-iblis agar Hyakki-maru mendapatkan semua anggota tubuh aslinya kembali.

Sekadar informasi, film ini diangkat dari manga berjudul sama karya Osamu Tezuka, sang ‘dewa manga’ yang terkenal sebagai pencipta manga / anime terkenal “Astro Boy”. Dan menurut saya film ini…..hmmm…. not bad. Film ini masuk kategori “standar / lumayan” (menurut saya tentunya). Yang saya suka dari film ini adalah karakter Dororo-nya itu, serta interaksinya dengan Hyakki-maru. Sungguh aneh karena judul film ini diambil dari nama karakter pendukung, bukan karakter utama. Bukankah karakter utamanya Hyakki-maru? Kenapa filmnya tidak diberi judul Hyakki-maru saja? Tapi saya tidak menyalahkan pemilihan judul ini karena sepanjang film berlangsung memang karakter DORORO inilah yang paling mencuri perhatian saya. Akting Kou Shibasaki hebat banget! Setelah membuat saya terpesona melalui perannya sebagai remaja psikopat dalam Battle Royale, kini aktingnya sebagai Dororo yang slengean dan seenaknya itu juga tidak kalah memukau. Yang bikin saya salut sih logat bicara Kou Shibasaki di film ini sangat berbeda dengan logat bicaranya yang asli, dan logatnya tersebut terdengar alami dan sama sekali tidak terdengar dibuat-buat. Ah, aku cinta perempuan ini!

Meskipun karakter Dororo ini sangat menonjol, tapi bukan berarti Tsumabuki Satoshi sebagai Hyakki-maru sang tokoh utama tidak bagus aktingnya. Dia sangat pas memerankan Hyakki-maru yang cool dan selalu tenang (dan dia tamfaaaan :p). Dan seperti yang saya bilang di atas, saya suka sekali melihat interaksinya dengan Dororo. Meskipun karakter mereka sangat jauh berbeda, tapi mereka bisa bekerja sama dan menjadi partner yang baik. Oh ya, Eita yang merupakan (salah satu) alasan saya menonton film ini juga berakting dengan baik sebagai Tahomaru, tapi di sini dia tidak berhasil membuat saya jatuh cinta karena gaya rambutnya betul-betul nggak banget (informasi gak penting).

Dari segi cerita saya suka ceritanya sih. Tapi sebagai film yang bergenre action-fantasy, buat saya ceritanya terlalu drama, dan meskipun terdapat banyak adegan-adegan aksi-nya, tapi bagi saya kurang berasa greget. Selain itu, special effect-nya menurut saya gak begitu bagus. Di beberapa scene yang menampilkan karakter iblis-iblis, tampak keliatan bohongannya (tapi setidaknya tidak separah special effect sinetron indosiar), tapi di beberapa scene juga ada yang special effect-nya terlihat bagus.

Yah, kesimpulannya film ini lumayan menghibur kok. Cocoklah ditonton untuk mengisi waktu luang. 3 bintang deh 🙂

catatan: aslinya Kou Shibasaki dan Tsumabuki Satoshi ini pacaran loh di dunia nyata *ketika film ini berlangsung*, tapi saya gak tahu apa mereka masih pacaran sampai sekarang ^^

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »