Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2011

Sekarang ini adalah zamannya situs jejaring sosial. Kita ini adalah generasi facebook, katanya. Berkomunikasi dengan orang lain saat ini bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Tinggal buka facebook (atau situs jejaring sosial sejenis), dengan mudah kita bisa terhubung dengan orang-orang yang jaraknya mungkin beratus-ratus kilometer dari keberadaan kita, baik orang yang kita kenal maupun kita tidak kenal. Ya, untuk bagian terakhir itu, tidak jarang kita melihat bahwa saat ini facebook (atau situs jejaring sosial sejenis) tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah kita kenal saja, tapi juga untuk berkenalan dengan orang baru yang tidak kita kenal. Mungkin kamu atau orang-orang di sekitar kamu pernah juga mengalami hal ini: berkenalan dengan seseorang yang tidak kamu kenal di facebook, dan setelah itu mulai rutin berkomunikasi dan akhirnya bertemu. Tidak jarang hal tersebut berjalan mulus dan menghasilkan kebahagiaan (misalnya sering kali kita dengar ada orang yang menikah setelah berkenalan di facebook atau dunia maya) bagi orang-orang tersebut, tapi tidak jarang pula jika banyak yang menemui kegagalan atau merasa tertipu karena orang yang dikenalnya melalui facebook tersebut tidak sesuai dengan yang ada di dunia nyata. Inilah salah satu sisi jelek dari sesuatu yang dinamakan “situs jejaring sosial”. Karena keberadaannya yang terbuka dan tanpa syarat yang rumit, dengan mudah kita bisa menciptakan identitas baru di dunia maya. Seperti kata orang-orang, di dunia maya ini kita bisa menjadi siapa saja.

“Catfish” adalah sebuah film dokumenter yang mencoba mengangkat masalah yang mungkin pernah dialami oleh orang-orang yang akrab dengan internet dan situs jejaring sosial seperti facebook. Tunggu dulu, sebenarnya saya tidak yakin kalau film ini murni dokumenter. Dari ceritanya yang tersusun rapi dan beberapa faktor lainnya, saya merasa kalau ini adalah mockumentary alias dokumenter palsu. Dua orang pembuatnya, Henry Joost dan Ariel Schulman sendiri menyatakan bahwa film ini seratus persen asli dan tanpa rekayasa. Tapi apapun kenyataannya, mau ini dokumenter atau mockumentary, menurut saya Catfish tetaplah film yang bagus dan sangat menghibur. Film ini seolah menampar secara halus orang-orang yang sering kali “tidak jujur” dalam situs jejaring sosial. Memang, seperti apa sih ceritanya? Secara singkat, film ini merupakan dokumentasi dari kehidupan seorang Yaniv Schulman setelah ia berkenalan dengan seorang anak kecil bernama Abby yang mengirimkan lukisannya melalui e-mail, yang mana lukisan tersebut dilukis berdasarkan foto jepretan Nev (panggilan Yaniv) yang pernah dimuat di surat kabar. Perkenalannya dengan anak kecil tersebut berlanjut pada perkenalan Nev dengan keluarga Abby, melalui facebook. Nev tertarik dengan kakak perempuan Abby yang bernama Megan yang dilihatnya di facebook, dan mulai sering berkomunikasi dengannya, baik melalui internet maupun telepon. Namun, setelah itu Nev mulai menemukan beberapa kejanggalan pada sosok Megan. Lalu, apa yang akan dilakukan Nev selanjutnya?

Seperti yang telah saya tulis tadi, menonton Catfish rasanya seperti sedang menyaksikan film cerita (bukan documenter). Saya sendiri bukanlah orang yang sering menonton film dokumenter. Tapi menurut saya unsur yang ada di dalam Catfish ini merupakan unsur yang yang biasa dimiliki film cerita. Ceritanya berjalan runtut dan rapi dan memiliki hubungan kausalitas. Catfish juga memiliki unsur yang jarang dimiliki oleh film yang sekadar bertujuan untuk mendokumentasikan suatu kejadian, yaitu unsur misteri yang benar-benar membuat penasaran. Di sini kita ditempatkan di posisi yang sama seperti Nev dan teman-temannya, yaitu posisi “tidak tahu” mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Unsur misteri itulah menurut saya yang menjadi kelebihan dari film ini karena berhasil menjadikan film ini menjadi sangat menghibur dan tidak membosankan.

Seperti yang telah saya bilang tadi, film ini menampar secara halus orang-orang yang sering kali “tidak jujur” dalam dunia maya. Namun, film ini sama sekali tidak berniat untuk menghakimi orang-orang tersebut. Film ini mencoba menunjukan bahwa selalu ada alasan di balik tindakan seseorang, begitu juga dengan orang-orang macam ini. Namun, film ini juga menunjukan bahwa ketidakjujuran tidak akan membahagiakan kita dalam waktu yang lama. Pasti akan selalu ada perasaan bersalah karena ketidakjujuran ini. Dan bukankah menjadi diri sendiri itu lebih baik dan tidak menimbulkan beban? Tidak hanya menampar orang-orang tidak jujur tersebut, film ini juga menyindir orang-orang yang gampang terbuai dengan image orang yang sebetulnya tidak ia kenal, di situs jejaring sosial. Orang-orang “tidak jujur” tersebut memang salah, tapi bukankah itu juga kesalahan kita yang dengan mudah tertipu hanya dengan melihat pencitraan mereka di dunia maya? Film ini mencoba menunjukan bahwa tidak ada yang seratus persen benar dan seratus persen salah dalam masalah ini.

Ja, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan saya suka banget film ini. Highly recommended buat para penyuka film dokumenter maupun film yang berbau misteri, dan juga buat orang-orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membuka situs jejaring sosial macam facebook :D. 4 bintang deh.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Banyak orang yang menganggap bahwa pernikahan adalah salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan. Dengan menikah kamu akan bahagia, begitu menurut pandangan orang-orang tersebut. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit pasangan suami istri yang setelah beberapa lama menikah kemudian mengalami masalah dan memutuskan untuk berpisah. Tidak jarang pula dari pasangan-pasangan itu yang akhirnya menjadi saling membenci. Satu pertanyaan akan muncul mengenai keadaan ini: pergi ke manakah perasaan cinta yang mereka miliki seperti pada saat mereka belum menikah?

Hal itulah yang terjadi pada pasangan Dean (Ryan Gosling) dan Cindy (Michelle Williams) dalam film Blue Valentine yang disutradarai oleh Derek Cianfrance. Sudah enam tahun mereka menikah. Mereka juga memiliki seorang putri yang sangat manis dan baik. Namun, meskipun begitu, hubungan antara sepasang suami istri ini tidak bisa dibilang baik. Setelah usia pernikahan mereka yang keenam, mereka mulai merasa hubungan mereka berubah menjadi hambar dan tidak ada gairah. Perasaan cinta mereka yang menggebu-gebu selama masa pacaran seperti pergi entah ke mana. Percekcokan pun senantiasa menghiasi hubungan mereka. Lalu, pada suatu hari, Dean mengajak Cindy ke sebuah motel, dengan tujuan untuk mencari suasana baru dan untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, apakah yang terjadi akan sesuai dengan harapan mereka?

Film ini tidak hanya menampilkan bagaimana carut marut kehidupan rumah tangga Dean dan Cindy saja, tapi juga menampilkan saat-saat hubungan Dean dan Cindy bermula, seperti bagaimana pertama kali mereka bertemu, berpacaran, dan kemudian memutuskan untuk menikah. Jadi di sini penonton dihadapkan pada dua keadaan, yaitu keadaan ketika mereka belum menikah yang penuh cinta dan kemesraan, dan keadaan ketika mereka sudah menikah, di mana hubungan penuh cinta itu berubah menjadi kehambaran dan ketidakcocokan. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka berdua? Apakah mereka akan berhasil mengatasi masalah rumah tangga mereka, atau malah sebaliknya? Tonton aja deh.

Awalnya saya nonton ini karena mendengar bahwa film ini memiliki sedikit kemiripan dengan Revolutionary Road (yang lumayan saya suka). Meskipun sebenarnya dua film ini sangat berbeda, ternyata dua film ini memang menampilkan tema yang hampir sama, yaitu tentang sisi lain dari sebuah pernikahan, di mana pernikahan tidaklah seindah yang orang-orang kira. Memang, ada banyak pasangan yang berhasil langgeng sampai kakek nenek, tapi tidak jarang pula yang gagal seperti pasangan Dean dan Cindy ini. Film ini juga menunjukan pada kita bahwa rasa cinta itu bisa saja tidak bertahan lama.

Yang nonton film ini mungkin akan bertanya-tanya, kenapa rasa cinta antara Dean dan Cindy bisa menghilang begitu saja. Padahal ketika mereka berpacaran, mereka terlihat sangat jatuh cinta satu sama lain. Kalo menurut saya, hal itu wajar terjadi. Bisa dilihat kok di scene-scene saat mereka pacaran. Dean hadir tepat ketika Cindy baru putus dari pacarnya. Menurut pengamatan saya sih, Dean ini kok kayak pelarian Cindy ya. Cindy jatuh cinta pada Dean, menurut saya itu benar sekali. Tapi menurut saya lagi, hal itu terjadi karena Dean muncul di saat yang tepat, dan Dean bisa mengobati rasa sakit Cindy yang baru berpisah dengan pacarnya (dan menurut saya kelihatan kok kalo cinta Cindy gak sedalam cinta Dean padanya, terbukti karena dari pasangan itu, cuma Dean yang keliatan bener2 ingin memperbaiki hubungan mereka). Belum lagi, mereka memutuskan untuk menikah bukan karena mereka benar-benar ingin melakukannya, tapi karena Cindy hamil duluan, yang tidak jelas hamil anak siapa. Dean sendiri adalah tipikal cowok ‘kuno’ yang percaya pada cinta pada pandangan pertama. Meskipun ia tidak yakin anak yang dikandung Cindy adalah anaknya, tapi karena ia gentleman sejati, ia mau bertanggung jawab menikahinya. Dengan pekerjaannya yang cuma “tukang bantu pindahan”, Dean berani menikahi Cindy dengan hanya modal “cinta”.

Keadaan di atas menurut saya sudah cukup menjadi alasan mengapa pernikahan Dean dan Cindy tidak berjalan mulus. Pekerjaan Dean yang tadinya “tukang bantu pindahan” cuma berkembang sedikit menjadi “tukang cat”. Ketika belum menikah Cindy tidak peduli apa pekerjaan Dean (karena cinta). Tapi setelah menikah, Cindy jadi ‘gerah’ juga melihat pekerjaan Dean yang tentunya tidak cukup untuk menopang keadaan ekonomi keluarga mereka. Belum lagi, impian Cindy menjadi dokter tidak bisa ia wujudkan setelah ia menikah. Di sinilah, cinta dihadapkan pada realita kehidupan. Cinta saja tidak cukup untuk menjadikan mereka bahagia. Dalam Blue Valentine, realita berhasil mengalahkan dan menghapuskan perasaan cinta.

Makanya, menurut saya film ini tidak hanya bertujuan untuk menampilkan sisi lain dari pernikahan (yang tidak hanya ditunjukan melalui karakter Dean-Cindy saja, tapi juga kedua orang tua masing-masing dari mereka yang pernikahannya juga sama-sama tidak mulus) saja. Ada nasihat terselubung dari film ini, bahwa cinta itu tidak cukup untuk menjadikan suatu pernikahan terjamin kebahagiaannya. Menurut saya bener kalo ada orang bilang bahwa nikah itu bukan cuma modal cinta doang. Cinta itu memang penting, tapi kita juga harus memikirkan faktor-faktor lain sebelum memutuskan untuk menikah. Meskipun itu gak ngejamin pernikahan akan langgeng juga sih…. *eh gimana sih pris?*

Well, ganti ke urusan akting. Saya suka banget sama akting dua pemeran utamanya. Michelle Williams baguuuuus banget aktingnya di sini. Begitu juga dengan Ryan Gosling, yang karakternya di sini agak-agak mirip dengan perannya di film Notebook (tapi karakternya di Blue Valentine lebih menarik). Mereka berhasil menampilkan chemistry yang sangat pas. Akting mereka juga berhasil membuat film ini terasa sangat emosional. Sama seperti Revolutionary Road, buat saya film ini termasuk tipe film depressing. Film ini menyedihkan, tapi sedihnya itu bukan sedih yang bisa bikin saya nangis, tapi lebih ke perasaan sakit seperti…hmm… patah hati? Well, ketika saya sampai di bagian endingnya, hati saya rasanya jadi ikutan hancur *emaap lebay*. Overall menurut saya film ini sukses memainkan perasaan saya. Tapi kalo disuruh nonton ulang, saya bakalan mikir dua kali deh *gak tahan karena terlalu depressing*. So, film ini sangat saya rekomendasikan pada para penyuka film depressing dan film romantis yang berbeda dari film romantis kebanyakan. Dan saya juga menyarankan agar film ini ditonton oleh orang-orang yang mau menikah. Biar mereka gak jadi nikah pris? Bukan kok, tapi biar mereka berpikir, apakah mereka benar-benar siap untuk melanjutkan hidup mereka ke jenjang pernikahan? Kalo setelah nonton ini niat mereka tidak goyah, berarti mereka lulus deh (apa sih…).  So, 4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

“When you love someone, just be brave to say that you want him to be with you. When you hold your love, don’t ever let it go. Or you will loose your chance to make your dream come true.” – (Endah N Rhesa – When You Love Someone)

Kutipan lirik lagu Endah N Rhesa di atas mungkin memang benar. Jika kamu mencintai seseorang, katakanlah hal itu padanya. Kalau tidak, bukan tidak mungkin orang yang kamu cintai itu akan keburu ‘diambil’ oleh orang lain. Hal itulah yang terjadi pada Iwase Ken (Yamashita Tomohisa). Sepanjang hidupnya, hanya ada satu perempuan yang ada di hatinya. Perempuan itu adalah Yoshida Rei (Nagasawa Masami) yang merupakan temannya sejak kecil. Dari kecil hingga dewasa, Ken dan Rei selalu bersama, dan hal tersebut membuat perasaan cinta perlahan-lahan tumbuh di hati Ken. Namun, Ken tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaannya tersebut kepada Rei. Padahal, Rei juga menaruh perasaan yang sama pada Ken. Tapi ya dasar cewek, selalu gengsi buat nyatain duluan dan maunya yang pertama ‘ditembak’. Meskipun Rei memberi sinyal positif, Ken tetap saja tidak pernah berani menyatakan cintanya pada Rei. Hal tersebut akhirnya membuahkan penyesalan pada diri Ken, ketika suatu hari akhirnya Rei memutuskan untuk menikah dengan Tada-sensei yang merupakan dosennya sendiri. Dengan berat hati, Ken menghadiri upacara pernikahan tersebut. Pada pernikahan tersebut, dalam hati Ken mengutuki dirinya sendiri yang tidak pernah berani menyatakan cintanya. Kalau saja ia menyatakan cintanya, mungkin saja yang berdiri di sebelah Rei bukanlah Tada-sensei, tapi dirinya. Di tengah pergulatan hati Ken tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria setengah baya yang mengaku sebagai peri dari gereja tersebut. Peri gereja tersebut mengetahui apa masalah Ken dan ia menawari Ken untuk kembali ke masa lalu dan menyatakan cintanya pada Rei. Caranya? Melalui slide foto yang ditampilkan di acara pernikahan Rei. Ya jadi di acara pernikahan tersebut ada pemutaran slide foto Rei yang dari kecil hingga dewasa, di mana Ken juga selalu ikut serta di dalamnya (bersama teman-temannya yang lain). Melalui sihir si peri gereja, Ken kemudian kembali ke masa lalu tepatnya ke beberapa saat sebelum foto-foto tersebut diambil. Namun, dari foto ke foto, Ken tetap tidak bisa menyatakan perasaan cintanya pada Rei. Namun, meskipun begitu, bukan berarti ia tidak melakukan sesuatu. Daripada menyatakan cintanya, Ken lebih memilih untuk mengubah hal-hal kecil yang pernah terjadi di masa lalu, yang ternyata dapat membuat ekspresi cemberut Rei di kumpulan slide foto tersebut kemudian berubah menjadi senyuman. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Ken akan berhasil menyatakan perasaannya? Tonton aja kakaaaa…

Proposal Daisakusen adalah salah satu dorama Jepang favorit saya. Saya pertama kali nonton dorama ini sekitar tiga atau empat tahun yang lalu, tepatnya ketika saya sedang tergila-gila pada Yamapi, si pemeran Ken dalam dorama ini. Menurut saya, ini adalah salah satu dorama paling romantis yang pernah saya tonton. Saya suka sekali dengan jalan cerita dorama ini. Plot magical-nya juga membuat dorama ini menjadi sangat manis. Dorama ini juga berhasil membuat penontonnya merasa gregetan melihat sikap pengecut Ken yang tidak pernah berani menyatakan perasaan cintanya meskipun sudah diberi kesempatan kedua untuk mengulang masa lalunya. Saya sempat merasa berpihak sama Tada-sensei (yang diperankan dengan sangat pas oleh Naohito Fujiki yang meskipun sudah om-om tapi tidak pernah berkurang gantengnya) loh karena sikap Ken tersebut *meskipun nantinya kembali berpihak sama Ken*.

Untuk urusan akting, menurut saya aktor-aktris di sini berperan lumayan baik meskipun tidak spesial. Menurut saya akting Yamapi rada datar di sini (dan emang pada dasarnya mukanya emang datar). Tapi untung dia diberi karakter yang emang cenderung kurang ekspresif dan rada gengsian, jadinya pantes-pantes aja. Dan Masami Nagasawa, ya karakternya termasuk jenis karakter yang sering ia mainkan di dorama lain. Jadinya gak bikin saya ngerasa wow karena perannya termasuk standar. Tapi chemistry antara dua karakter utamanya lumayan dapet kok (mungkin karena Yamapi dan Masami udah pernah main bareng di dorama lain sebelumnya). Untungnya, meskipun akting dan karakteristiknya biasa, dorama ini memiliki kelebihan pada skenarionya yang menurut saya sangat bagus. Meskipun ke tengahnya jadi agak ngebosenin karena gitu-gitu aja, tapi tetap tidak membuat daya tarik dorama ini menjadi berkurang. Plus cerita persahabatan antara Ken, Rei, dan ketiga orang temannya yang lain turut membuat dorama ini tidak hanya berakhir menjadi sekadar dorama cinta-cintaan saja.

Sayangnya dorama ini memiliki ending yang sangat menggantung (yang membuat banyak orang, termasuk saya, semakin geregetan karena endingnya itu). Saran saya sih, abis nonton doramanya kalian langsung nonton SP-nya, karena SPnya yang merupakan lanjutan dari versi doramanya ini akan menjawab rasa penasaran anda mengenai hubungan Ken dan Rei selanjutnya. Overall, saya sih suka dorama ini. Melalui dorama ini, saya belajar bahwa meskipun mengubah masa lalu bisa mengubah keadaan  menjadi lebih baik, tapi hal yang kita lakukan di masa kini lah yang paling berperan penting dalam mengubah nasib kita. Tambahan, ending song dorama ini juga menurut saya enak banget dan menambah keromantisan dorama ini. So, saya kasih 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »