Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘john malkovich’

Ever wanted to be someone else? Now you can.

Yang namanya manusia itu pasti pernah merasa gak puas dengan dirinya sendiri. Meskipun kamu berkoar-koar kalo kamu merasa puas dan cukup dengan dirimu sendiri, di dalam lubuk hati paling dalam pasti ada, meskipun cuma sedikit, rasa ketidakpuasan tersebut. Hal itu membuat kamu berkhayal, seandainya kamu menjadi orang lain, apakah kehidupanmu akan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya? Apalagi jika orang lain tersebut adalah seorang ‘selebriti’, yang menurut pandanganmu hidupnya terlihat penuh kesempurnaan.

Being John Malkovich bercerita tentang hal itu, ketidakpuasan akan diri sendiri dan keinginan menjadi orang lain. Dan hal tersebut dapat diwujudkan dalam film ini. Craig Schwartz (John Cusack) adalah seorang puppeteer (semacam yang mainin boneka puppet) yang sangat berbakat, namun bakatnya tersebut seakan tidak berarti karena pertunjukannya tidak pernah laku. Karena itulah, atas permintaan dari istrinya, Lotte (Cameron Diaz, yang penampilannya acak-acakan di sini), ia kemudian mencari pekerjaan baru. Beruntung tidak butuh waktu lama bagi Craig untuk menemukan pekerjaan baru. Ia mendapat pekerjaan di tempat bernama LesterCorp yang merupakan milik seorang pria tua bernama Dr. Lester, di sebuah lantai yang aneh karena langit-langitnya rendah. Di tempat kerjanya yang baru ia bertemu dengan Maxine (Catherine Keener), seorang wanita cantik dan seksi yang juga bekerja di sana. Meskipun sudah punya istri, Craig tertarik pada Maxine dan kemudian mencoba merayu wanita itu, namun sayangnya selalu mendapat penolakan. Pada suatu hari, di tempat kerjanya Craig menemukan sebuah pintu kecil berbentuk kotak yang ketika dibuka ternyata berisi sebuah lorong panjang. Craig pun memasuki lorong itu, dan terkejut karena mendapati bahwa lorong tersebut merupakan sebuah portal menuju pikiran seorang aktor bernama John Malkovich (yes, John Malkovich beneran). Selama 15 menit ia bisa merasakan dirinya berada dalam sudut pandang John Malkovich, meskipun tanpa bisa mengendalikan tubuhnya. Dan setelah 15 menit tersebut, Craig kemudian terlempar ke pinggir jalan di suatu tempat. Pengalamannya tersebut kemudian ia ceritakan pada Lotte istrinya. Mendengar cerita Craig, Lotte menjadi tertarik untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi John Malkovich. Craig pun membawa Lotte ke lorong tersebut. Dan ternyata setelah itu Lotte jadi ketagihan dan ingin mencobanya lagi. Keesokan harinya Lotte datang ke kantor Craig dan ia melihat Craig sedang bersama Maxine. Lotte meminta Craig agar ia bisa masuk ke lorong tersebut lagi, dan Maxine yang kemudian mengetahui hal tersebut mencoba membuktikan kebenaran portal tersebut dengan cara menemui John Malkovich sendiri. Maxine dan John Malkovich (yang dalam pikirannya terdapat Lotte) pun bertemu. Hal tersebut membuat Lotte menyadari bahwa dirinya adalah biseksual karena ia tertarik pada Maxine, dan Maxine pun tertarik pada Lotte, namun hanya jika ia berada dalam tubuh John Malkovich. Karena itulah dengan menggunakan tubuh John Malkovich, Lotte jadi sering menemui Maxine. Hal itu membuat Craig cemburu karena ia juga menyukai Maxine, sehingga dia dan istrinya saling berlomba-lomba merebut hati Maxine. Oh ya ngomong-ngomong lorong tersebut tidak hanya digunakan oleh Lotte dan Craig saja. Atas ide Maxine, hal tersebut dijadikan ladang bisnis. Dengan 200 dolar, siapapun bisa merasakan bagaimana rasanya berada dalam pikiran John Malkovich selama 15 menit. Dan karena orang-orang putus asa yang tidak puas dengan dirinya sendiri itu jumlahnya ada BANYAK, maka bisnis tersebut laku keras. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka? Seperti apakah asal usul lorong tersebut? Dan apakah nantinya John Malkovich akan mengetahui hal itu? Apalagi nantinya hal tersebut akan bertambah gawat, karena sedikit demi sedikit Craig mulai bisa mengendalikan tubuh John Malkovich.

Habis nonton film ini rasanya saya jadi pengen ikutan masuk ke lorong tersebut. Bukan, bukan karena pengen ikutan ngerasain jadi John Malkovich. Tapi pengen ngerasain jadi Charlie Kaufman, sang penulis skenario. Saya pengen tahu dia ini makannya apa sih sampe-sampe bisa kepikiran aja cerita sinting kayak gini. Kelebihan film ini memang ada pada ceritanya yang (pernah saya bilang di short review yang ini) sangat orisinil. Charlie Kaufman memang jenius. Tapi cerita yang bagus kalo tidak digarap dengan baik tentunya hanya akan menjadi karya yang basi. Untuk itu beruntunglah Charlie Kaufman mendapatkan Spike Jonze sebagai rekan kerjanya. Sang sutradara, Spike Jonze, berhasil mengangkat skenario ciptaan Kaufman menjadi sebuah film yang sangat sempurna di mata saya. Abis ini kayaknya saya harus cari film Adaptation yang merupakan karya kolaborasi mereka berdua juga (kasian yee belum nonton).

Film ini juga didukung oleh akting yang gemilang dari para pemainnya. John Cusack, Cameron Diaz, John Malkovich, Catherine Keener, dan lain-lainnya. Semuanya KEREN! Terutama Cameron Diaz, yang karakternya di sini agak beda dari karakternya di kebanyakan film. Oh ya di film ini juga kamu akan terkagum-kagum melihat bagaimana pertunjukan boneka puppet yang dimainkan oleh Craig. Keren dan gerakannya haluuuus banget. Syukaaa deeeh.

Ah, kayaknya saya gak mau ngomong banyak-banyak tentang film ini. Pokoknya tonton aja deh. Mungkin tidak semua orang bisa menikmati film dengan cerita aneh seperti ini. Tapi bagi saya filmnya menghibur kok, karena ada sentuhan humornya juga yang menjadikan film ini jadi kocak. Pokoknya, buat kalian yang suka film-film dengan cerita unik, aneh, gak standar, dan juga cerdas, pasti suka film ini. Oh ya meskipun jalan cerita film ini unik dan gak biasa, pesannya cukup simpel kok, dan mungkin tertera pada motto hidup di diary kalian (halah diary), yaitu….. be yourself. 5 bintang saya kasih deeeeh.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi libur kuliah (tapi ikut sp satu mata kuliah sih) dan selama libur ini kerjaan saya nonton film terus. Saking banyaknya film yang ditonton, saya sampai bingung mau nge-review yang mana dulu. Karena itu kali ini saya akan nulis review singkat dari beberapa film (gak semua ya, kebanyakan soalnya :p) yang saya tonton belakangan ini. Mungkin kalau tidak malas, beberapa film dalam review ini akan saya buatkan review versi panjangnya.

1. Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Salah satu film remaja Jepang yang cukup bagus dan menarik. Idenya sederhana, tentang sebuah band yang beranggotakan siswi-siswi SMU yang akan tampil dalam festival sekolah, namun menemui masalah yang menyebabkan dua personil band itu keluar (termasuk sang vokalis). Beberapa hari sebelum tampil, mereka pun mencari vokalis baru secara ‘asal’. Adalah  Son, siswi pindahan dari Korea Selatan, yang menjadi vokalis baru mereka. Lalu timbul berbagai kejadian sebelum mereka tampil, dan meskipun baru beberapa hari, karakter Son ini akhirnya menemukan kegembiraan dan semangat baru sejak bergabung dengan band tersebut. Film ini menarik dan cukup menghibur. Yang saya suka adalah ide cerita film ini sama sekali tidak muluk-muluk, namun tidak mengurangi daya tarik film ini. Akting Bae Doona sebagai orang Korea yang sekolah di Jepang sangat memikat. Begitu juga dengan Kashii Yuu. Terakhir, habis nonton film ini saya jadi terus terngiang-ngiang sama lagu Linda Linda dari The Blue Hearts yang mereka bawakan pada festival tersebut :D. 3,5 / 5

2. Kick-Ass (2010)

Sebenarnya saya tidak pernah tertarik  pada film-film bertema superhero. Bukan karena jelek, tapi memang bukan selera saya saja. Tapi begitu mendengar bahwa superhero-superhero dalam Kick-Ass bukanlah superhero beneran (maksudnya mereka tidak mempunyai kekuatan super), saya pun jadi pengen nonton film ini, dan ternyata saya menyukai filmnya. Film ini lucu dan segar. Humornya yang tergolong ke dalam humor-humor masa kini lumayan menghibur. Dan yang membuat film ini semakin menarik adalah karakter Hit Girl yang diperankan Chloe Moretz. Meskipun memancing banyak perdebatan, tapi saya cinta karakter ini. 4/5

3. Rainbow Song (Japan, 2006)

Nama Shunji Iwai yang berperan sebagai produser dan co-writer film ini lah yang membuat saya menonton film ini. Belum lagi ada Hayato Ichihara, Ueno Juri, dan Yu Aoi. Dan saya gak nyesel nontonnya! Ceritanya termasuk klise, tentang persahabatan yang menjadi cinta *ceileh*. Cewek dan cowok bersahabat, lalu si cewek mulai jatuh cinta pada si cowok. Tapi sebelum si cowok menyadari perasaannya pada si cewek, si cewek keburu meninggal (tenang ini bukan spoiler karena dari awal kita sudah diberitahu kalo ceweknya meninggal). Cerita seklise apapun kalau dikemas dengan baik, pasti akan jadi film yang bagus. Begitu juga dengan film ini. Saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Ueno Juri berakting sangat bagus di film ini sebagai karakter cewek yang meninggal itu. Dan Hayato Ichihara, ini kali kedua saya melihat dia setelah melihatnya di Lily Chou-chou, dan penampilan fisiknya udah jauh berubah dari pas di Lily Chou-chou. Yu Aoi, meskipun kemunculannya tidak begitu banyak  tapi tetap menampilkan akting yang memikat. Sebenarnya film ini memiliki beberapa kekurangan, tapi tidak begitu mengganggu. Yang jelas, ini tipe film yang akan saya tonton berkali-kali. 3,75/5.

4. The Girl Who Leapt Through Time (Japan, 2006)

Akhir-akhir ini lagi ketagihan nonton anime yang berbentuk movie. Dan film ini adalah salah satu anime movie yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton! Tentang seorang siswi SMU yang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk meloncati waktu. Dan kemampuannya ini digunakannya untuk mengubah hal-hal yang bisa dibilang sederhana, namun nantinya akan menimbulkan masalah. Film ini lucu dan menghibur, animasinya juga bagus. Selain itu film ini menampilkan kejutan yang tidak saya duga. Review panjangnya menyusul ya. 4/5.


5. The Notebook (2004)

Karena saya ini termasuk orang yang menyukai film-film cinta yang mengharu biru, awalnya saya kira film ini akan berhasil membuat saya termehek-mehek. Tapi nyatanya, dari awal sampai akhir, ekspresi saya tetap datar. Ya ya ya, mungkin ada yang salah pada diri saya karena sebagian besar orang yang menonton film ini mengatakan film ini mengharukan dan sebagainya. Tapi entahlah, saya tidak bisa merasakan kedalaman hubungan antara Noah dan Allie. Karakter Noah yang begitu hidup di bagian awal, setelah berpacaran dengan Allie kok rasanya jadi melempem dan tidak terasa semangatnya. Tapi di luar itu saya suka aktingnya Rachel McAdams. 2,75/5

6. Perfect Blue (Japan, 1998)

Anime movie juga, disutradarai oleh Satoshi Kon. Ceritanya tergolong berat dan sama sekali bukan konsumsi anak-anak karena menampilkan sedikit nudity dan kekerasan. Tentang seorang pop idol yang memutuskan ganti haluan menjadi seorang aktris. Dan hal ini menimbulkan masalah karena ada fans yang tidak setuju dan sebagai aktris ia dituntut untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia inginkan. Belum lagi setelah itu muncul persona/kepribadian lain yang terus menghantuinya. Sebuah thriller psychology yang lumayan mencekam. Endingnya juga mengejutkan dan gak ketebak. Sebenernya saya ngerasa kalo film ini dibikin jadi live action, pasti filmnya akan semakin bagus. Tapi okelah anime juga, meskipun saya agak kurang suka desain karakternya. 4,5/5

7. Being John Malkovich (1999)

Edan film ini bagus banget! Jenius! Ceritanya termasuk orisinil dan menampilkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Skenarionya ditulis oleh orang yang menulis skenario Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang sama-sama sangat orisinil, yaitu Charlie Kaufman. Dan, menurut saya film ini lebih mudah dimengerti daripada Eternal Sunshine. Setidaknya saya tidak perlu mengulang-ngulang beberapa adegannya agar bisa mengerti sepenuhnya seperti pada saat saya nonton Eternal Sunshine. Selain ceritanya yang jenius, film ini juga menurut saya termasuk menghibur dan sudah pasti film ini masuk ke daftar my all time favorite movies. Review panjangnya tunggu saja ya 😀 5/5

8. Aoi Tori / The Blue Bird (Japan, 2008)

Nonton film ini karena faktor Kanata Hongo, dan agak nyesel nontonnya. Mengangkat tema school bullying, sebenarnya film ini berpotensi jadi bagus. Tapi saya malah kebosanan mengikutinya. Karakter guru gagap yang dimainkan Abe Hiroshi sebenarnya unik, tapi entah kenapa saya tidak bisa bersimpati padanya, dan tanggapan saya padanya sama seperti tanggapan murid-murid di sini. Latar belakang anak yang pindah sekolah karena dibully itu pun kurang kuat, mungkin kalo ditampilkan potongan adegan-adegan yang menampilkan karakter ini ketika bersekolah di sekolah itu, film ini akan jadi lebih menarik. Dan Kanata Hongo, kerjanya cemberut aja sik, tapi tetep cakep *alah*. 2,5/5

9. Despicable Me (2010)

Filmnya lucu dan mengharukan, dan tentunya sangat menghibur. Lelucon-leluconnya sebenarnya banyak yang slapstick, tapi tidak begitu mengganggu kok. Dan sejak karakter Gru ini mengadopsi tiga anak yatim piatu tersebut, ceritanya jadi mudah ketebak, tapi meskipun begitu film ini tetap menghibur. Dan yang menonton film ini pasti jatuh cinta pada karakter minion-minion yang menggemaskan itu. Ihik. Pengen cari merchandise-nya. 3,75/5

Read Full Post »

Diangkat dari kisah nyata, film yang disutradarai oleh Clint Eastwood ini bercerita tentang seorang single parent bernama Christine Collins (Angelina Jolie)  yang tinggal berdua hanya dengan anak lelakinya yang berusia 9 tahun yang bernama Walter. Suatu hari, sepulangnya dari kerja, Christine mendapati anaknya tidak ada di rumah. Christine lalu mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya ia meminta bantuan polisi untuk menemukan putra semata wayangnya tersebut. Namun sayangnya segala macam pencarian tersebut tidak membuahkan hasil. Lalu, setelah lima bulan sejak Walter menghilang, polisi mengabari Christine bahwa mereka menemukan Walter. Dengan perasaan bahagia, Christine kemudian dipertemukan dengan anak yang polisi temukan tersebut. Kebahagiaan Christine langsung padam begitu melihat anak tersebut, karena anak yang polisi temukan tersebut sama sekali bukan anaknya. Christine pun memohon pada polisi agar terus mencari anaknya yang sebenarnya. Namun, polisi tidak mau mendengar Christine. Mereka terus berusaha meyakinkan Christine bahwa anak yang mereka temukan adalah Walter. Tapi Christine tetap bersikeras bahwa anak itu bukan anaknya, sehingga hal tersebut membuat polisi kesal dan menuduh Christine tidak mau merawat anaknya. Dan yang terburuk, Christine yang kemudian berusaha mengumpulkan bukti-bukti untuk menunjukkan bahwa anak tersebut bukan anaknya malah dimasukan secara paksa ke rumah sakit jiwa. Di rumah sakit jiwa, Christine menemukan pasien-pasien lainnya yang memiliki latar belakang yang sama mengenai alasan mengapa mereka dimasukan ke rumah sakit jiwa, yaitu karena mereka membuat kesal oknum-oknum polisi yang tidak mau kejahatannya tercium. Di luar masalah Christine, di suatu tempat tercium kasus tentang seorang pria yang kabarnya telah membunuh 20 anak kecil. Lalu, apa yang akan terjadi pada Christine selanjutnya? Apakah dia akan dikeluarkan dari rumah sakit jiwa dan berhasil menemukan anaknya yang sebenarnya? Apakah ia berhasil menuntut kebusukan pihak kepolisian yang pada saat itu memang memiliki reputasi buruk? Lalu, apakah kasus pembunuhan tersebut memiliki kaitan dengan hilangnya Walter? Silakan tonton sendiri 🙂

Wow, film ini berhasil mengaduk-aduk emosi saya. Geregetan dan geram adalah dua kata yang menggambarkan perasaan saya ketika menonton film ini. Geregetan, karena saya penasaran banget sama apa yang akan terjadi pada karakter Christine, dan juga penasaran pengen tahu bagaimana nasib Walter yang sebenarnya. Geram, karena melihat tingkah picik para polisi yang tidak ragu menyingkirkan apa saja yang membuat nama mereka tercoreng. Gila, pas nonton ini rasanya saya pengen banget mentungin polisi-polisi di sini, terutama kapten Jones yang tingkah lakunya benar-benar menyebalkan. Film ini sendiri mengungkapkan sebuah realita mengenai pihak kepolisian di daerah itu saat itu (pada tahun 1928 s.d 1930-an) yang sebelum kasus Christine memang sudah memiliki citra buruk karena diduga banyak yang melakukan korupsi. Dan ketika mereka menemukan anak yang ‘mirip Walter’, hal tersebut mereka gunakan sebagai alat untuk membersihkan nama baik mereka dan untuk membuktikan bahwa mereka memiliki kinerja yang baik. Makanya, ketika Christine bersikeras bahwa anak yang mereka temukan bukanlah anaknya, mereka marah besar dan berusaha menutupi kesalahan mereka dengan mengirim Christine ke rumah sakit jiwa. Selain kesal kepada pihak kepolisian di film ini, saya juga geram banget sama pihak rumah sakit jiwa di film ini karena memperlakukan pasien-pasiennya bukan dengan kasih sayang, tapi dengan kekerasan dan paksaan.

Dari segi akting, Angelina Jolie sangat berhasil memerankan karakter seorang ibu yang kehilangan anaknya. Meskipun awalnya saya agak kesel sama karakter ini karena kelihatannya lemah banget di awal-awal, tapi ternyata karakter ini mengalami perkembangan yang sangat baik dari yang tadinya perempuan lemah menjadi sosok kuat yang tidak menyerah memperjuangkan haknya (tapi tanpa menghilangkan sifat aslinya). Tidak heran Jolie mendapat nominasi best actress academy awards 2009 melalui perannya di film ini (tapi mbak Jolie, eke kurang suka sama make upnya nih, ente jadi keliatan tua banget. tapi akyu suka model rambutnya kok, lucu :D). Pemain lainnya pun menampilkan akting yang baik, seperti John Malkovich yang berperan sebagai pendeta yang membantu Christine, juga pemeran kapten Jones yang aktingnya berhasil membuat saya kesel banget sama dia. Selain hal-hal di atas, film ini juga berhasil menggambarkan suasana dan pemandangan pada akhir tahun 1920-an dan awal 1930-an. Semuanya tergambar dengan sangat pas 🙂

Well, film ini sendiri mengajak kita agar tidak menyerah pada harapan kita, karena harapan adalah sesuatu yang dapat menolong diri kita sendiri, seperti harapan Christine untuk menemukan Walter, di mana harapannya tersebut membuatnya menjadi lebih kuat.  Film ini juga mengajak kita agar tidak menyerah untuk memperjuangkan keadilan serta hak kita. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »