Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘adventure’

Apakah kamu penggemar game RPG? Jika iya, kamu mungkin akan menyukai dorama ini. Yuusha Yoshihiko to Maou no Shiro adalah sebuah dorama yang dibuat sebagai parodi dari game RPG. Plotnya? Cukup sederhana. Bercerita tentang Yoshihiko (Yamada Takayuki), laki-laki yang terpilih sebagai Yuusha (hero) di desanya. Diceritakan bahwa desa Kaboi (desanya Yoshihiko) terkena wabah penyakit misterius. Oleh karena  itu, Yoshihiko ditugaskan untuk mencari tanaman herbal yang dipercaya bisa menyembuhkan wabah penyakit tersebut. Perjalanan Yoshihiko pun dimulai. Di tengah perjalanan itu, ia bertemu dengan tiga orang yang kemudian bergabung dan membantu rencana Yoshihiko. Tiga orang tersebut adalah: (1) Danjou (Takuma Shin), seorang fighter yang mau bergabung dengan Yoshihiko sampai Yoshihiko mau mendengarkan ceritanya;  (2) Murasaki (Kinami Haruka), perempuan yang menyangka Yoshihiko adalah pembunuh ayahnya dan bergabung dengan Yoshihiko sampai ia yakin bahwa Yoshihiko adalah pembunuh ayahnya, dan (3) Merebu (Muro Tsuyoshi), seorang penyihir yang hanya menguasai satu mantra saja.

Ketika mereka berempat telah berkumpul semua dan siap memulai petualangan, mereka menemukan kenyataan bahwa…. tanamannya telah ketemu. Ya, ketika mereka baru mau memulai pencarian, tiba-tiba mereka bertemu Teruhiko, ayah Yoshihiko yang merupakan Yuusha sebelumnya, dan telah menghilang selama enam bulan dalam misi yang sama dengan Yoshihiko. Ternyata Teruhiko sudah menemukan tanamannya, tapi ia tidak kembali ke Desa Kaboi karena di tengah perjalanannya ia bertemu dengan seorang perempuan yang kemudian dinikahinya. Lalu, apakah petualangan Yoshihiko berhenti sampai di situ? Ternyata tidak saudara-saudara. Ketika mereka berempat siap berpisah, tiba-tiba muncul Hotoke-sama/Buddha (Sato Jiro) di langit. Hotoke-sama memberitahu Yoshihiko dkk bahwa wabah penyakit yang terjadi di desanya adalah ulah dari Maou/devil. Oleh karena itu, tugas Yoshihiko yang sebenarnya bukanlah mencari tanaman herbal, tapi mencari dan mengalahkan Maou. Petualangan Yoshihiko yang sebenarnya pun dimulai. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa sajakah yang akan ditemui Yoshihiko di perjalanannya? Apakah Yoshihiko akan berhasil menemukan dan mengalahkan Maou? Di luar hal itu, tanpa Yoshihiko ketahui, adik perempuannya yang bernama Hisa (Okamoto Azusa) diam-diam mengikuti Yoshihiko karena khawatir pada kakaknya tersebut.

Yuusha Yoshihiko to Maou no Shiro adalah salah satu dorama terlucu yang pernah saya tonton. Jangan tertipu oleh posternya yang memberi kesan bahwa ini adalah dorama aksi petualangan yang serius. Dorama ini murni dorama komedi. Dorama ini dibuat sebagai parodi sekaligus penghormatan terhadap game RPG Jepang, terutama game Dragon Quest (belum pernah main sayangnya). Saya sendiri bukan penggemar game RPG kelas berat, cuma dulu saya suka nontonin sepupu saya main game RPG macam Chrono Cross, dan pernah main beberapa game RPG sederhana di komputer, sehingga saya gak terlalu asing dan cukup mengenal pola umum game RPG. Oleh karena itu, dorama ini berhasil membuat saya tertawa karena parodi RPG yang disajikannya. Seperti game RPG pada umumnya, karakter-karakter pada dorama ini pun akan bertemu dan bertarung dengan monster di tengah perjalanannya (dan akan mendapatkan uang jika berhasil mengalahkannya). Dalam perjalanannya pun mereka akan mampir ke berbagai macam desa, dan kadang mereka akan menerima quest/tugas tambahan dari penduduk desa yang mereka datangi. Para karakter di dorama ini pun dalam petualangannya bisa mempelajari beberapa skill dan bahkan bisa mengubah kelas mereka. Di sini juga mereka ditugaskan untuk mencari item/barang-barang yang bisa digunakan untuk mengalahkan Maou. Selain hal-hal itu, masih banyak adegan-adegan yang merupakan parodi dari RPG yang lumayan bikin saya ngakak (ketika kamu main game RPG, pernah mencoba berbicara dengan penduduk desa biasa berkali-kali dan hasilnya mereka mengucapkan hal yang sama terus menerus? Di sini pun hal semacam itu ada :D).

Selain dimaksudkan sebagai parodi RPG, dorama ini juga melabeli dirinya sendiri sebagai “low budget action adventure story” (seperti dapat dilihat pada bagian openingnya). Dan menurut saya hal ini adalah kelebihan dari dorama ini. Ya, karena dorama ini bergenre fantasi, mungkin kamu akan berharap dorama ini akan menghadirkan efek-efek luar biasa sebagaimana yang biasanya ada pada film/serial bergenre fantasi. Tapi sayang sekali dorama ini bukan dorama penuh efek semacam itu. Namun, seperti yang sudah saya bilang, hal itu merupakan salah satu kelebihan dan salah satu faktor yang membuat dorama ini menjadi sangat lucu. Kita bisa melihat bahwa monster-monster di sini semuanya adalah “handmade” alias buatan tangan (dan beberapa di antaranya ada juga yang hanya kostum), dan bukannya efek CGI atau semacamnya. Dan ketika monsternya adalah monster yang lebih besar, tiba-tiba adegan dorama ini akan berubah menjadi tayangan animasi 2D sederhana (karena membuat monster yang lebih besar akan makan banyak biaya sepertinya). Properti dan settingnya pun kabarnya adalah properti/setting bekas film-film lain. Namun, hal itulah yang saya kagumi dari dorama ini. Budget rendah bukanlah alasan yang dapat membuat sebuah dorama menjadi jelek. Sebaliknya, budget rendah malah bisa dimanfaatkan sebagai suatu lelucon yang ternyata berhasil menghibur.

Selain itu, dorama ini juga tidak hanya memparodikan game RPG saja. Dorama ini juga banyak memparodikan hal-hal lain yang berhubungan dengan dengan pop culture di Jepang. Ada parodi dari anime Doraemon, parodi iklan, sampai parodi dari idol group yang tengah populer di Jepang saat ini (terlihat di salah satu episode di mana Yoshihiko tiba-tiba berubah haluan jadi idol di Akibara Village, di bawah naungan seseorang bernama Aki-mo. Parodi grup apa tuuh?). Selain parodi dari hal-hal itu, di sini juga terdapat parodi dari film komedi klasik Monty Python and  the Holy Grail (selain gaya humornya kadang agak mirip, adegan koala dalam dorama ini juga sedikit mengingatkan saya pada tokoh kelinci di Monty Python). Unsur komedi di sini memang banyak dihasilkan dari unsur parodinya. Tapi karakteristik tokoh-tokohnya juga berperan penting dan menambah kelucuan dorama ini. Karakter-karakter dari dorama ini hampir semuanya sinting. Mulai dari Yoshihiko, yang pada awalnya mungkin terlihat sebagai karakter pahlawan yang cukup umum. Ia adalah seorang pemberani, jujur, dan “pure-hearted”. Tapi nantinya kita akan dibawa pada kejutan-kejutan mengenai karakter ini (apalagi ternyata ia mudah terdistraksi oleh hal-hal remeh temeh). Tiga orang temannya pun sama-sama punya kepribadian yang konyol. Dan karakter Hotoke-sama-nya, benar-benar tidak meyakinkan sebagai Hotoke-sama. Selain karakter-karakter utama, kita juga akan diperkenalkan pada karakter musuh-musuh yang hampir semuanya berkepribadian konyol. Mengenai hal ini, dorama ini juga memiliki cukup banyak bintang tamu yang berperan sebagai musuh dan karakter lain yang ditemui Yoshihiko dkk di perjalanannya. Mulai dari Yasuda Ken, Koike Eiko, Sawamura Ikki, Furuta Arata, Okada Yoshinori, sampai Oguri Shun. Dan mengingat ini adalah low budget drama, kabarnya mereka tidak dibayar dan mau tampil selama beberapa menit di dorama ini sebagai bentuk persahabatan (misalnya Oguri Shun yang bersahabat dengan Yamada Takayuki).

Well, segini aja review dari saya. Overall, saya sangat menyukai dorama berjumlah 12 episode ini (oh ya karena ini adalah midnight drama, dorama ini setiap episodenya hanya memiliki durasi sekitar 28 menit, tidak seperti dorama prime time yang biasanya berdurasi sekitar 45 menit). Highly recommended buat penyuka game RPG dan penyuka dorama bergenre komedi, atau mungkin untuk yang bosan dengan dorama berformat ‘biasa’. Ja, 4 bintang untuk dorama ini.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Film Ghibli ketiga yang saya tonton setelah Spirited Away dan Ponyo *maaf, masih awam di dunia per-ghibli-an :D*. And this movie is really goooood. Masih di bawah Spirited Away tapi lebih menarik dari Ponyo. Film animasi keluaran tahun 80-an yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini bercerita tentang sebuah keluarga (seorang ayah dan dua anak perempuan *Satsuki, 10 tahun; Mei, 4 tahun*, sementara sang ibu sedang dirawat di rumah sakit) yang baru pindah ke sebuah rumah di daerah pedesaan, dan di sebelah rumah tersebut terdapat sebuah hutan lebat. Suatu hari, ketika Mei sedang bermain-main di halaman rumahnya, ada suatu makhluk kecil yang muncul dan menarik perhatian Mei. Mei pun mengikuti makhluk tersebut, dan hal tersebut membawanya ke dalam hutan sebelah rumahnya dan membawanya pada pertemuan dengan sesosok makhluk besar berbulu lembut *tunjuk poster* yang kemudian disebut Totoro*. Dan setelah melalui berbagai hal, Satsuki pun bertemu Totoro juga dan kemudian kakak beradik ini menjalin suatu persahabatan dengan Totoro. Masalah timbul ketika ibu mereka yang sedang dirawat di rumah sakit ditunda kepulangannya, dan menyebabkan Mei yang sejak kemarin tidak sabar menunggu ibunya menjadi kesal dan bertengkar dengan Satsuki, dan kemudian menghilang. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Satsuki akan berhasil menemukan Mei? Apakah Totoro akan membantu Mei menemukan Satsuki? Tonton aja deh.

Film dengan cerita sederhana namun berhasil menyentuh penontonnya. Sepintas terlihat seperti tontonan khusus anak-anak, namun saya yakin orang dewasa pun akan menyukai film ini. My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro) membuat saya merasakan kembali semangat masa kanak-kanak yang selalu penuh rasa ingin tahu dan penuh imajinasi. Saya suka karakter kakak adik ini. Karakter mereka sangat real dan dapat kita temui di mana-mana, dan hubungan di antara mereka berdua pun sangat erat selayaknya saudara kandung. Dan keluarga mereka, kita bisa melihat di balik kesederhanaannya mereka adalah keluarga yang sangat hangat dan bisa membuat iri siapa pun. Karakter orang tuanya juga bukan tipe karakter orang tua menyebalkan yang selalu mematikan imajinasi anak-anak. Makanya tidak heran kalau kedua kakak beradik ini sangat menyayangi orang tua mereka.

Karakter Totoro-nya sendiri benar-benar menggemaskan! Padahal karakter ini tidak pernah bertingkah ‘imut’, dan kalau menggeram kadang-kadang terlihat menyeramkan. Namun saya cinta banget sama karakter ini. Kemunculan Totoro adalah salah satu hal yang paling saya tunggu-tunggu di film ini. Saya ikut kegirangan seperti kedua kakak beradik ini ketika melihat dia muncul (dan Totoro ini tidak sering muncul, dan kemunculannya yang jarang ini malah membuat karakternya semakin menarik) . Tidak heran jika Totoro menjadi salah satu maskot terkenal dari film animasi, dan karakter ini pun kemudian menjadi maskot dari studio Ghibli sendiri. Ah aku cinta Totoro!! Selain Totoro, karakter ajaib yang bisa kita temukan di sini adalah Neko no Bus (cat bus), bis berbentuk kucing berkaki banyak yang melaju dengan cara berlari selayaknya kucing biasa. Aku mau naek bus itu!!

Animasinya sendiri mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan film-film Ghibli yang sekarang seperti Spirited Away dan Ponyo. Tapi untuk ukuran tahun 80-an, animasinya tergolong ke dalam kategori luar biasa. Animasinya benar-benar indah dan sangat detail. Adegan favorit saya adalah ketika Totoro dan yang lainnya menarikan tarian penumbuh tanaman, dan kemudian bibit tanaman tersebut langsung tumbuh menjadi pohon yang sangat besar dan lebat. Itu keren banget XD

Selain hal tersebut, film ini pun memberikan pesan moral yang sangat bagus dan tidak terlihat menggurui. Totoro yang digambarkan sebagai roh penjaga hutan adalah simbol dari alam. Dan karakter Totoro ini kadang-kadang terlihat menggemaskan dan kadang-kadang juga terlihat menyeramkan, sama seperti alam sendiri yang selain dapat melindungi kita tapi juga dapat menjadi menjadi bencana, tergantung dari sikap kita terhadap alam itu sendiri. Jika kita baik pada alam, maka alam pun akan melindungi kita. Sama halnya dengan kakak adik tersebut yang selalu berperilaku baik pada Totoro, sehingga Totoro pun mau menolong mereka. Selain hal tersebut, masih banyak pesan-pesan lain yang terdapat dalam film ini. 4,5 bintang 🙂

Ps: btw saya ganti header dengan gambar totoro. Bagaimanakah pendapatnya?

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Ahey, akhirnya ada lagi film Ghibli yang saya tonton. Abis rasanya susah banget nemuin film Ghibli itu dan beberapa minggu lalu saya bahagia sekali karena gak sengaja menemukan dvd film ini di lapak dvd bajakan deket kampus *hehe*. Yak, Ponyo adalah film Ghibli kedua yang saya tonton setelah Spirited Away yang memukau itu. Dan film ini pun juga sangat memukau meskipun menurut saya masih lebih bagus Spirited Away.

Oke jadi film ini bercerita tentang Ponyo (yang awalnya memiliki nama Brunhilde), semacam ikan jejadian (mirip ikan mas tapi punya wajah mirip manusia) yang merupakan peranakan manusia dengan dewi laut. Ponyo ini berusia lima tahun, dan seperti halnya anak-anak yang sedang tumbuh, ia memiliki rasa ingin tahu yang besar dan sangat ingin mengetahui bagaimana dunia di atas sana (daratan maksudnya). Ia lalu kabur dan tanpa sengaja terperangkap di sebuah toples kaca. Sousuke, seorang anak laki-laki berusia  5 tahun yang rumahnya berada di atas tebing melihatnya dan menyelamatkan Ponyo dengan cara memecahkan toples tersebut. Tangan Sousuke jadi berdarah dan Ponyo langsung menjilat darahnya sehingga luka di tangan Sousuke tersebut sembuh seketika, membuktikan bahwa ikan kecil tersebut memiliki kekuatan magis. Sousuke yang langsung menyukai ikan kecil tersebut berniat merawatnya dan kemudian memberi nama ikan tersebut dengan nama “Ponyo”. Lalu, meskipun kurang dari sehari mereka bersama, mulai timbul rasa suka dalam hati Ponyo kepada Sousuke. Sayangnya, Ponyo berhasil ditemukan ayahnya, Fujimoto, dan dibawa kembali ke dalam laut. Namun, tekad yang kuat membuat Ponyo (yang sangat ingin berubah menjadi manusia) berhasil kabur kembali. Bukan hanya itu, berkat darah Sousuke, Ponyo berhasil mewujudkan keinginannya menjadi manusia. Wujudnya berubah menjadi seorang anak perempuan kecil. Namun, perubahan dirinya menjadi manusia ini ternyata menimbulkan sebuah bencana yang sangat berbahaya bagi desa tersebut. Jadi, apa yang akan terjadi pada Ponyo selanjutnya? Tonton aja deh.

Meskipun baru dua kali nonton film studio Ghibli, tapi saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa Hayao Miyazaki adalah salah satu sutradara / animator hebat dunia. Senang rasanya melihat masih ada yang mempertahankan model animasi 2D di tengah maraknya animasi-animasi 3D dengan efek CGI yang begitu canggih saat ini. Dan, meskipun ini film animasi 2D, animasinya sendiri sangat bagus dan indah. Dunia bawah laut, beserta makhluk-makhluk di dalamnya digambarkan sangat indah dan animasinya sangat memanjakan mata. Namun, Miyazaki tidak hanya memberi kita gambar-gambar indah saja. Dia juga menunjukan sebuah realita di mana ketika Ponyo berenang ke darat, diperlihatkan banyak sampah di lautan yang sedang diangkut oleh sebuah kapal. Tidak mengherankan jika Fujimoto (ayah Ponyo) membenci manusia, karena banyak manusia yang sering mengotori lautan yang dicintainya (tapi gak semua manusia begitu loh :p)

Cerita film ini sendiri, yaitu tentang seekor ikan yang ingin menjadi manusia, mungkin akan mengingatkan kita pada kisah The Little Mermaid karya Hans Christian Andersen. Tapi meskipun keduanya memiliki kesamaan tema, kedua kisah ini jauh berbeda kok. Saya suka persahabatan antara Sousuke dan Ponyo, meskipun persahabatan mereka bisa dibilang baru sebentar, tapi bisa kelihatan kalau Sousuke sangat menyayangi Ponyo, begitu juga sebaliknya. Karakter Sousuke begitu baik dan polos, seperti anak-anak pada umumnya. Ponyo juga begitu menggemaskan, tapi saya lebih suka wujud dia pas jadi ikan dibanding jadi manusia, hehe. Karakter-karakter lainnya pun sangat mendukung cerita film ini, seperti Lisa, ibu Sousuke yang tegas tapi punya jiwa penolong yang sangat tinggi. Begitu juga dengan karakter nenek-nenek di panti Jompo (tempat kerja Lisa) yang turut menghidupkan semangat film ini. Karakter Fujimoto, ayah Ponyo, juga tidak bisa dibilang sebagai karakter antagonis atau jahat karena kebenciannya terhadap manusia sangat beralasan, sehingga tidak ada hitam atau putih dalam film ini.

Yang bagus lagi dari film ini adalah pesan moral yang disampaikan Miyazaki sama sekali tidak terlihat menggurui atau menghakimi. Keindahan lautan yang ditampilkan oleh Miyazaki membuat kita menyadari bahwa itu adalah salah satu harta terbesar dunia yang tidak boleh dikotori oleh tangan kita sendiri. Ayo, bagaimana kalo suatu saat lautan marah karena tindakan kita? Bukan gak mungkin nanti terjadi bencana seperti yang terjadi pada film ini (meskipun bencana di film ini gara-gara si Ponyo sih ^^). Namun, film ini tidak langsung menyalahkan manusia begitu saja, karena ditunjukan juga sisi baik dari manusia melalui karakter Lisa yang jiwa sosialnya sangat tinggi. Ja, sekian aja. 4 bintang saya kasih untuk film ini. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

“This place is so dead”

Jika kamu ingin menonton film yang bisa membuatmu ketakutan sekaligus tertawa, maka kamu harus menonton film satu ini. Zombieland adalah sebuah film komedi-horror yang sangat menyenangkan. Film ini bercerita tentang Amerika, yang sekarang keadaannya sudah tidak sama lagi karena adanya sebuah wabah ‘zombie’ yang menjadikan negara itu dipenuhi mayat hidup yang juga senang memakan daging manusia. Bisa dibilang hanya sedikit manusia yang tersisa di Zombieland, salah satunya adalah Columbus (bukan nama sebenarnya, diperankan oleh Jesse Eisenberg), yang berhasil bertahan dari serangan para zombie karena mengikuti aturan yang dibuatnya sendiri. Dalam perjalanannya ke rumah orang tuanya di Ohio, ia bertemu dengan Tallahassee (juga bukan nama sebenarnya, diperankan oleh Woody Harrelson), seorang pria yang dari luar kelihatan menyeramkan namun sebenarnya memiliki hati yang lembut (ini kelihatan dari saat ia menceritakan tentang ‘puppy’nya yang sudah meninggal). Mereka berdua lalu memutuskan untuk pergi bersama. Ketika mereka berdua masuk ke sebuah toko makanan, mereka bertemu dengan dua orang lagi manusia yang bertahan dari serangan zombie, yaitu kakak beradik perempuan yang juga merupakan seorang penipu, sebut saja nama mereka Wichita (Emma Stone) dan Little Rock (Abigail Breslin). Akhirnya setelah melalui beberapa hal, keempat orang ini memutuskan untuk pergi bersama, mengikuti tujuan Wichita dan Little Rock ke Pacifik Playland, sebuah amusement park yang diduga bebas zombie. Mengingat karakter mereka sangat berbeda dan mereka tidak saling mempercayai, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah mereka akan selamat dari serangan zombie-zombie kelaparan tersebut? Tonton aja deh :p

 

Fun and entertaining! Itu pendapat saya setelah menonton film ini. Film ini sudah sangat menghibur bahkan sejak detik pertama film ini dimulai dan sampai film ini berakhir. Openingnya yang menampilkan zombie-zombie yang mengejar manusia dengan cara slow motion itu benar-benar memancing tawa. Begitu juga dengan sederet adegan-adegan lainnya. Film ini hadir dengan narasi cerdas dari sang tokoh utama, Columbus, dan itu menambah nilai plus film ini karena saya selalu suka sama film yang ada narasi-nya 🙂

Humor-humor yang ada dalam film ini memang menjadi kekuatan utama dari film ini. Humornya sangat pas, gak berlebihan dan gak slapstick. Namun, film ini tidak hanya berakhir menjadi lucu saja. Ada beberapa hal yang juga menyeramkan, misalnya penampilan para zombie itu yang selalu bikin saya bergidik setiap melihatnya (apalagi kalo zombie itu lagi ‘ngegigit’ orang).

Untuk akting, saya suka akting semua pemainnya. Jesse Eisenberg (entah kenapa liat orang ini saya jadi inget sama Michael Cera) sangat cocok memerankan Columbus, seorang nerd yang juga agak penakut (dan lebih takut pada badut dibanding pada zombie). Rules dalam menghadapi zombie buatannya pun menjadi salah satu yang membuat film ini jadi hidup. Tapi yang paling saya suka karakternya (serta aktingnya) di sini adalah Tallahassee yang diperankan oleh Woody Harrelson. Karakter ini gila banget!! Dari luar keliatannya menyeramkan dan senang membunuh zombie, tapi sebenarnya hatinya baik dan lembut. Apalagi dia punya sebuah misi yang benar-benar bikin saya ngakak, yaitu mendapatkan Twinkies, sebuah merk makanan kecil yang saat itu sudah sangat langka dan sulit ditemukan. Kedua kakak beradik Wichita (Emma Stone) dan Little Rock (Abigail Breslin) pun, meski perannya kalah menonjol dibanding karakter Columbus dan Tallahassee, juga berakting baik di film ini. Cuma saya kecewa karena Abigail Breslin aktingnya gak seistimewa aktingnya di Little Miss Sunshine, tapi di sini dia tetap menampilkan akting yang bagus kok. Jangan dilupakan keberadaan Bill Muray yang menjadi cameo di film ini sebagai dirinya sendiri. Adegan yang melibatkan dirinya adalah salah satu adegan terkocak di film ini 😀

Film ini juga tidak hadir sebagai sekedar film lucu saja. Banyak yang bisa kita ambil dalam film ini, contohnya adalah tentang mempercayai orang lain. Keempat karakter ini pada awalnya tidak saling mempercayai, terbukti dengan masing-masing dari mereka yang tidak memberitahu nama aslinya dan memakai nama samaran. Namun pada akhirnya mereka dapat bersatu dan menciptakan sebuah ‘keluarga’ baru. Melalui film ini juga kita belajar untuk menghadapi dan melawan rasa takut, seperti yang terjadi pada Columbus yang berusaha untuk menghadapi rasa takutnya pada badut (yang di film ini badutnya adalah zombie juga). Well, secara keseluruhan ini adalah film yang bagus dan menghibur. Recommended dan sayang banget buat dilewatkan! Saya kasih 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Ahem. Mungkin rasanya agak telat ya saya me-review film satu ini (berhubung review film ini sudah banyak bertebaran di mana-mana). Tapi, sesuai dengan motto favorit saya, better late than never kan?

Oke, jadi film yg akan saya review kali ini adalah Sherlock Holmes. Well, hanya sedikit informasi yang saya ketahui mengenai salah satu tokoh detektif terkenal di dunia fiksi satu ini, yaitu: 1) pencipta karakter ini bernama Sir Arthur Conan Doyle, 2) dia adalah detektif yang sangat diidolakan oleh Conan Edogawa dalam komik Meitantei Conan, 3) punya partner bernama Watson, 4) tinggal di sebuah rumah di jalan bernama Baker Street, 5) punya musuh abadi bernama Prof. Moriarty. Selain itu, saya sangat buta dan tidak tahu apa-apa mengenai detektif satu ini karena memang belum pernah baca novelnya sama sekali. Tapi karena itu saya jadi tidak punya ekspektasi apa-apa sebelum menonton film ini, dan sebagai orang yang belum pernah membaca novelnya, hasilnya saya merasa sangat puas menonton film ini. Sherlock Holmes adalah sebuah tontonan yang sangat seru dan menghibur.

Film ini diawali dengan adegan penangkapan Lord Blackwood (Mark Strong), seorang pelaku pembunuhan masal 5 orang gadis yang juga penganut ilmu hitam dan pada saat ditangkap ia sedang melakukan sebuah ritual untuk ‘menumbalkan’ gadis yang ke-6. Blackwood lalu dijatuhi hukuman mati. Namun, sebelum ia menemui ajalnya ia meminta untuk bertemu dengan Sherlock Holmes (Robert Downey Jr.), seorang detektif terkenal di London yang merupakan orang yang telah menangkap dan memenjarakan Blackwood. Ia mengatakan pada Holmes bahwa ia akan bangkit lagi dan akan ada beberapa pembunuhan lagi setelah kematiannya. Keesokan harinya Blackwood melaksanakan eksekusi hukuman matinya dengan cara digantung. Watson (Jude Law), seorang dokter yang juga merupakan sahabat Holmes, pun memastikan bahwa Blackwood benar-benar sudah mati. Namun beberapa hari setelah itu ada orang yang melaporkan bahwa ia melihat Blackwood berjalan-jalan di dekat makamnya. Begitu kepolisian memeriksa makamnya, mereka mendapati bahwa orang yang dikuburkan di makam Blackwood adalah orang lain. Dan seperti yang dikatakan Blackwood pada Holmes sebelumnya, terjadi kembali beberapa pembunuhan (yang salah satu korbannya adalah ayah Blackwood sendiri) setelah kejadian itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Holmes berhasil memecahkan kasus tersebut? Apakah pembunuhan-pembunuhan tersebut benar-benar berkaitan dengan ilmu hitam (mengingat Holmes tidak memercayai hal-hal yang berada di luar akal sehat)? Silakan deh tonton saja film ini.

Saya sukaaa film ini. Selain itu, saya memang menyukai cerita detektif karena saya sangat menyukai komik-komik detektif semacam Meitantei Conan atau Kindaichi (malah waktu kecil saya sempet bercita-cita jadi detektif karena Conan :D). Dan film ini berhasil membuat saya tegang dan juga penasaran mengenai trik apa yang dilakukan oleh Blackwood. Sayangnya otak saya gak nyampe untuk menebak hal itu :p Dan saya sangat kagum sama penyelesaian akhirnya di mana Holmes mengungkapkan segala hal di balik semua kejadian itu. Keren deh!

Duo Robert Downey Jr. dan Jude Law pun sangat ciamik dan mantap dalam memerankan Holmes dan Watson. Berhubung saya belum baca novelnya, saya gak peduli kalo orang bilang bahwa image mereka di film sangat berbeda dengan di novel. Yang penting akting mereka bagus dan mereka berhasil menampilkan chemistry yang sangat pas. Meskipun kadang kedua partner ini sering bertengkar, tapi mereka ini sejatinya saling membutuhkan dan tidak sanggup meninggalkan satu sama lain. Contohnya pas Watson udah mau pergi untuk menemui calon istrinya, ia memilih untuk balik lagi dan menolong Holmes. So sweet abis gak sih? *err….ini omongan saya kok jadi terkesan saya pengen me-yaoi-kan mereka ya :p*. Robert Downey Jr. sendiri menurut saya sangat sukses memerankan Sherlock Holmes, seorang detektif nyentrik yang sangat hebat dalam menganalisis sesuatu. Saya selalu terkagum-kagum saat melihat Holmes dapat menyimpulkan suatu hal hanya dengan melihat keadaan atau kondisi saat itu, contohnya saat ia ‘menganalisa’ calon istri Watson, hanya dengan melihat keadaan fisiknya saja ia bisa menyimpulkan beberapa hal mengenai wanita itu (meskipun karena itu akhirnya ia malah mendapat sebuah ‘semprotan’ dari Mary). Selain Downey Jr., Jude Law pun sangat bagus memerankan Watson. Saya suka liat ekspresinya saat sedang kesal pada Holmes, namun meskipun begitu ia tetap mau membantu Holmes 😀 Selain kedua tokoh utama itu, jangan lupakan keberadaan Rachel McAdams yang berperan sebagai Irene Idler, mantan kekasih (atau istri?) Holmes yang datang pada Holmes untuk meminta pertolongannya untuk mencari seseorang yang kemudian diketahui adalah anak buah Blackwood (si orang hilangnya, bukan Irene). Akting McAdams di sini pun tidak kalah dengan akting duo Downey Jr. – Law. Yang menurut saya aktingnya lemah di sini malah adalah Mark Strong sebagai Blackwood, entah kenapa menurut saya rasanya karakter ini kurang psikopat dan kurang nyeremin :p

Selain menyuguhkan kecerdasan otak Holmes, film ini juga menyajikan adegan action yang seru dan menegangkan, karena perjuangan Holmes dalam memecahkan kasus ini tidak mudah dan selalu menemui bahaya. Banyak hal-hal yang membuat Holmes dan Watson nyaris mati di film ini, dan hal itu turut membuat penonton tegang saat menonton film ini. Selain hal itu, saya juga sangat menyukai sinematografi film ini. Film ini berhasil menampilkan Inggris sekitar abad 18 melalui suasana kota London dan gaya pakaian yang dikenakan oleh orang-orang pada masa itu. Keren pokoknya 😀

Well, secara keseluruhan film ini adalah film yang sangat menarik dan menghibur. Saya sangat menantikan sekuelnya, berhubung di akhir film ini disinggung sedikit sebuah teka-teki mengenai Prof. Moriarty. Semoga sekuelnya akan lebih seru dan lebih bagus dari film ini. Oh iya, gara-gara nonton film ini saya jadi tertarik pengen baca versi novelnya. Sebelumnya novel-novel detektif yang pernah saya baca cuma novel Hercule Poirot-nya Agatha Christie dan Trio Detektif-nya Alfred Hitchcock (oh iya saya jadi pengen dua novel ini juga diangkat ke film, pasti gak kalah dari Sherlock Holmes). Akhir kata, film ini sangat recommended! 4 bintang deh.

catatan: sutradara film ini adalah Guy Ritchie, yang merupakan mantan suami dari penyanyi wanita legendaris Madonna 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »