Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘maki yoko’

mondaiposter“I want to do good work. I just want to do good work. I want to feel excited. To be held breathless by the thrill, I want to encounter a moment like that.”

Jepang—negara yang katanya merupakan salah satu negara termaju di Asia, penghasil berbagai macam teknologi super canggih, di sisi lain tampaknya bukanlah tempat terbaik bagi perempuan yang ingin bekerja. Ya, paham patriarki yang sudah tertanam sejak zaman samurai dulu rupanya masih menempel di sebagian besar masyarakatnya. Hal tersebut tidak hanya berlaku dalam hubungan keluarga saja, tapi juga di dunia kerja, terutama di lingkungan kerja yang didominasi pria. Perempuan tidak mudah mengutarakan pendapatnya dan kerap kali mendapat diskriminasi atau pelecehan. Sampai-sampai diciptakan istilah “sekuhara” (yang merupakan kependekan dari “sexual harassment”) yang sempat menjadi buzzword di Jepang saking seringnya kata tersebut diucapkan. Lalu bagaimana ceritanya jika para perempuan kemudian memilih bangkit dan bersama-sama melawan ketidakadilan yang dilakukan para pria kepada mereka? Hal itu dapat kamu lihat di dorama berjudul Mondai no Aru Restaurant/A Restaurant With Many Problems ini.

Singkatnya, Mondai no Aru Restaurant bercerita tentang Tanaka Tamako (Maki Yoko), seorang perempuan yang berniat untuk mendirikan sebuah restoran setelah menemukan fakta bahwa salah seorang sahabatnya yang bekerja di perusahaan yang sama (yang bergerak di bidang food & beverage) mengalami pelecehan seksual yang serius dari direktur perusahaannya. Restoran tersebut ia dirikan di atas atap sebuah bangunan yang terletak tepat di seberang restoran yang dikelola bekas perusahaannya itu. Dengan mengajak beberapa temannya yang lain (lima perempuan dan satu gay crosdresser), tidak mudah bagi Tamako untuk mengelola restoran tersebut karena teman-temannya tersebut memiliki masalah dan kepribadian yang berbeda-beda. Lalu, apa yang akan terjadi pada Tamako selanjutnya? Apakah dia akan berhasil menyatukan teman-temannya dan berhasil mendirikan restoran yang sanggup bersaing dengan restoran yang dikelola oleh para lelaki?

vlcsnap-2015-04-06-20h11m16s20Mondai no Aru Restaurant ditulis oleh penulis skenario Sakamato Yuji, yang kali ini kembali mengetengahkan perempuan sebagai fokus utamanya setelah menulis dorama Mother dan Woman, dan menyuguhkannya dengan gaya komedi hitam seperti di Saikou no Rikon. Dan secara berani, dorama ini berhasil merangkum segala diskriminasi yang kerap kali dialami perempuan di lingkungan kerja, mulai dari yang tampak sepele sampai yang serius, dan tanpa perlu terlihat pretensius. Yang saya suka dari dorama ini seperti dari kebanyakan dorama Sakamoto Yuji lainnya adalah dorama ini dikendalikan oleh karakteristik para karakternya. Meskipun dorama ini memperlihatkan perjuangan para perempuan melawan ketidakadilan yang dilakukan para laki-laki, sosok para perempuan di sini (yang btw lebih mengacu pada identitas feminin dan bukan hanya perempuan yang memang terlahir sebagai perempuan karena mereka juga memasukkan karakter gay pada grup tersebut) tidak lantas digambarkan sempurna dan lebih baik daripada laki-laki. Kamu mungkin akan membenci salah satu dari mereka, atau mungkin akan merasa melihat dirimu sendiri pada salah satu dari mereka. Dan meskipun mereka berjuang untuk tujuan yang sama, mereka tidak lantas jadi saling menyukai satu sama lain. Dalam ‘perjalanan’ tersebut, mereka kerap kali menyakiti satu sama lain, dan proses bagaimana mereka berkembang dan akhirnya benar-benar bersatu menurut saya sangat indah.

vlcsnap-2015-04-06-20h08m50s67Untuk karakter para laki-lakinya sendiri, mereka memang terlihat seperti asshole pada awalnya. Tapi mereka menjadi seperti itu semata-mata karena paham patriarki yang tertanam pada benak mereka sejak dulu, sehingga buat saya musuh utama para perempuan di sini bukanlah para lelaki, tapi pemikiran para lelaki. Dan sedihnya paham tersebut rupanya juga tertanam pada benak sebagian perempuan, yang diwakili oleh karakter Kawana Airi (Takahata Mitsuki), satu-satunya perempuan di tim laki-laki yang selalu menerima-menerima saja perlakuan para laki-laki padanya sehingga membuatnya kerap kali dibenci oleh sesama perempuan. Perkembangan karakternya adalah salah satu yang paling saya suka di dorama ini. Saya juga suka melihat bagaimana ada beberapa karakter laki-laki di sini yang kemudian berkembang menjadi lebih baik, dan ada juga yang tetap sama saja, menunjukkan bahwa realita tidak seindah yang diharapkan.

vlcsnap-2015-04-06-20h02m41s229Karena dorama ini adalah character-driven drama, tentunya akting sangat berpengaruh dan menjadi kekuatan dorama ini. Dan entah kenapa cast yang bermain di doramanya Sakamoto Yuji selalu merupakan aktor/aktris favorit saya (casting director-san, are you stalking my tumblr? xD). Beberapa yang sudah pernah berakting di dorama Sakamoto Yuji sebelumnya seperti Maki Yoko (Saikou no Rikon), Nikaido Fumi (Woman) dan Usuda Asami (Woman) kembali menampilkan akting yang bagus di dorama ini. Para pemain yang baru bergabung ke ‘Team Sakamoto’ seperti Higashide Masahiro, Takahata Mitsuki, Suda Masaki (btw tiga orang ini sebelumnya pernah jadi satu keluarga di asadora Gochisousan XD), Matsuoka Mayu, Yasuda Ken, YOU, dkk pun menampilkan akting yang baik dan membuat saya berharap mereka akan kembali berakting di dorama Sakamoto Yuji berikutnya. Overall, dari segi cast gak ada yang mengecewakan di dorama ini. Dan saya bakal kecewa kalo salah satu dari mereka gak dapat award dari dorama ini, hihi.

vlcsnap-2015-04-06-20h03m45s92Untuk kekurangannya, sebagian mungkin merasa kecewa karena permasalahan paling serius di dorama ini yang menyangkut karakter Fujimura Satsuki (Kikuchi Akiko) terlihat sedikit dikesampingkan. Namun saya tidak begitu terganggu dengan hal itu dan penyelesaian untuk permasalahan itu buat saya sudah diperlihatkan dengan tepat. Yang bikin saya kecewa malah karena karakter Haiji-san (Yasuda Ken) tidak disorot terlalu banyak jika dibandingkan dengan karakter-karakter lainnya. Padahal saya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai diskriminasi kaum gay di Jepang. Namun secara keseluruhan kekurangan yang ada pada dorama ini tidak begitu mengganggu saya dalam menikmati dorama ini. Untuk endingnya pun, meskipun terkesan antiklimaks tapi saya suka tone-nya yang menenangkan karena sebelumnya kita sudah disuguhi banyak adegan dramatis (which is in a good way), dan membuat saya merasa sediiiiih sekali karena harus berpisah dengan para karakternya.

Overall, Mondai no Aru Restaurant adalah dorama yang menerapkan semangat feminisme secara tepat. Dorama ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa perempuan harus lebih baik dari laki-laki. Dorama ini hanya ingin mengatakan bahwa perempuan adalah manusia biasa, sama seperti laki-laki, dan yang mereka inginkan hanyalah mereka ingin bekerja bersama-sama dengan para lelaki tanpa ada diskriminasi dan pelecehan. Pendekatan komedi yang terdapat pada dorama ini pun membuat dorama ini juga menjadi sangat menghibur. Salah satu yang terbaik di musim pembuka tahun ini. Highly recommended!
Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Advertisements

Read Full Post »

rikonposter“Marriage is a long long torture.” Itu adalah kalimat yang diucapkan Hamasaki Mitsuo (Eita) di kala sesi curhatnya di dokter gigi. Dia adalah seorang pria berusia 30 tahun yang sudah menikah selama dua tahun dan menyadari bahwa dia dan istrinya memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Mitsuo adalah seorang pria perfeksionis (dan hampir OCD mungkin?) yang sangat suka mengeluh, sedangkan sang istri yang bernama Yuka (Ono Machiko) adalah perempuan ceria yang pemalas dan selalu bertindak sesuka hatinya. Perbedaan kepribadian tersebut membuat kehidupan rumah tangga mereka selalu dihiasi oleh pertengkaran. Dan perceraian pun akhirnya melanda pasangan ini. Secara sepihak, Yuka mendaftarkan perceraian mereka ke lembaga hukum. Namun, perceraian adalah suatu hal yang tidak hanya melibatkan dua individu saja, tapi juga melibatkan dua keluarga. Belum siap untuk memberitahu keluarga masing-masing mengenai perceraian mereka, Mitsuo dan Yuka pun akhirnya tetap tinggal serumah untuk sementara waktu meskipun sudah tidak berstatus suami istri lagi.

rikon1Lalu ada Akari (Maki Yoko) dan Ryo (Ayano Go), pasangan yang baru saja menikah selama beberapa bulan. Akari sendiri adalah mantan pacar Mitsuo semasa kuliah dan kemudian bertemu kembali dengan Mitsuo secara tidak sengaja setelah ia pindah ke daerah tempat tinggal Mitsuo. Akari tampak bahagia dengan pernikahannya. Ia dan suaminya pun selalu akur dan tidak pernah bertengkar. Namun, ternyata diam-diam sang suami sering “bermain” dengan banyak wanita. Tidak hanya itu, Ryo pun menyimpan sebuah rahasia yang berhubungan dengan status pernikahan mereka. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada kedua pasangan itu? Mari kak, ditonton.

rikon2Yak, seperti yang dijanjikan sebelumnya, di postingan ini saya akan mereview dorama Eita yang lain yang berjudul Saikou no Rikon. Dorama ini adalah dorama yang paling saya nanti-nantikan di tahun ini. Dan itu bukan hanya karena Eita saja, tapi juga karena pemain-pemain lainnya yang menurut saya keren semua, seperti Ono Machiko dan Ayano Go yang keduanya sangat saya cintai di Carnation, serta Maki Yoko yang menampilkan akting yang memikat di Osozaki no Himawari. Tidak hanya jajaran castnya yang sempurna, dorama ini pun ditulis oleh penulis skenario dorama favorit saya, yaitu Sakamoto Yuji yang pernah menulis Soredemo Ikite Yuku (yang mana adalah salah satu dorama yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup). Hasilnya? Saya ternyata tidak dikecewakan oleh nama-nama hebat tersebut. Sesuai judulnya yang memiliki arti “The Best Divorce”, dorama ini pun benar-benar “saikou”.

rikon3Yang saya suka pertama-tama dari dorama ini adalah penggunaan komedi sebagai genre utamanya. Yak, kalo mendengar kata “perceraian”, yang terpikir mungkin cerita depressing ala film Blue Valentine. Namun dorama ini menggunakan komedi dan komedinya itu menurut saya tidak hanya lucu, tapi juga cerdas. Karakteristik, situasi, serta dialog-dialog di dorama ini bersama-sama membangun momen-momen lucu yang berhasil membuat tertawa. Namun, meskipun dorama ini bergenre komedi, dorama ini bukan tipe dorama yang berusaha keras untuk membuat penontonnya terus berhaha-hihi sepanjang episode. Sekalinya ada momen sedih dan heartbreaking, itu benar-benar sedih dan heartbreaking. Dan meskipun Yuka dan Mitsuo bercerai karena alasan yang sungguh sangat sepele, bukan berarti dorama ini pun jadi menganggap isu perceraian sebagai hal yang sepele. Dorama ini berhasil membuat saya bertanya-tanya mengenai: apa sih hakikat pernikahan itu? Seperti apa sih suami istri yang ideal itu? Dan apa perceraian itu selalu akan berakibat buruk, atau malah membuka jalan ke arah yang lebih baik? Intinya, meskipun bergenre komedi, dorama ini tidak lantas menjadi dorama yang enteng. Dengan caranya sendiri, dorama ini berhasil menyuguhkan cerita mengenai perceraian dari sudut pandang lain. Hal itu membuat dorama ini menjadi terasa sangat fresh dan original.

rikon4Kelebihan lain dari dorama ini adalah karakteristiknya yang menurut saya benar-benar kuat dan realistis. Empat karakter utama dorama ini semuanya memiliki kepribadian yang menarik dan multidimensi. Tidak ada karakter yang benar-benar baik atau benar-benar buruk. Mitsuo sang tokoh utama sendiri menurut saya adalah karakter yang sangat menyebalkan. Ia cerewet, selalu mengeluh, dan egois, pokoknya tipe karakter yang punya risiko untuk dibenci banyak orang (dan secinta-cintanya saya sama Eita, saya gak mau punya suami kayak Mitsuo). Kamu mungkin akan membencinya, tapi kamu akan tetap peduli padanya. Eita dengan kemampuan aktingnya yang memukau sangat berhasil membuat karakter menyebalkan seperti Mitsuo ini menjadi menarik (dan aktingnya di sini adalah salah satu penampilan terbaiknya). Bertolak belakang dengan Mitsuo, karakter sang istri (atau mantan istri), Yuka, adalah tipe karakter yang gampang untuk dicintai penontonnya. Yuka sendiri bukan tipe istri ideal: pemalas, berantakan, dan suka bertingkah seenaknya. Namun karakternya yang ceria akan membuat kamu gampang untuk menyukainya. Dan yang terpenting adalah dia berusaha lebih keras untuk rumah tangganya daripada Mitsuo (dan sayangnya hal itu tidak pernah disadari oleh Mitsuo). Saya jadi makin cinta sama Ono Machiko karena dia selalu berhasil membuat karakter yang dimainkannya ini menjadi lovable tanpa harus membuat karakternya kelihatan sempurna. Eita dan Ono Machiko sendiri memiliki chemistry yang sangat pas di sini. Mereka memang punya kepribadian yang bertolak belakang dan selalu bertengkar setiap saat. Tapi saya sangat suka melihat interaksi antara mereka berdua ini dan pertengkaran rikon5mereka pun kadang-kadang terasa sangat lucu karena biasanya terjadi karena hal-hal sepele. Sementara itu, Akari dan Ryo sebagai pasangan kedua di dorama ini pun memiliki karakterisasi yang menarik. Meskipun karakter Akari termasuk karakter perempuan kalem, ia bukan karakter yang membosankan dan karakternya ini kadang menampilkan kejutan-kejutan yang tidak terduga. Pada awalnya mungkin kita akan berpikir bahwa dia adalah perempuan bodoh karena diam saja meskipun tahu suaminya diam-diam berselingkuh dengan banyak wanita. Dan saya bersyukur karena sang penulis tidak menjadikan dia sebagai karakter membosankan seperti itu. Dan Maki Yoko berhasil menjadikan karakter Akari ini sebagai karakter yang memikat. Meskipun doyan selingkuh, saya sendiri menyukai karakter Ryo yang polos dan happy-go-lucky. Dan begitu mengetahui masa lalunya, saya jadi bersimpati pada karakternya meskipun tidak lantas memaklumi perbuatannya. Karakter Ryo ini juga diperankan dengan baik oleh Ayano Go (dan orang ini makin lama bikin saya makin naksir). Permasalahan yang terjadi pada pasangan Akari-Ryo ini sendiri merupakan permasalahan yang jauh lebih kompleks dan serius daripada permasalahan pasangan Yuka-Mitsuo. Dan bagaimana kemudian kedua pasangan ini saling terlibat satu sama lain ditampilkan dengan sangat lucu dan menghibur.

rikon6Selain hal-hal di atas, saya juga sangat menyukai gaya penceritaan dorama ini. Dorama ini punya konsep di mana para karakter di dorama ini punya hobi bercerita kepada orang lain mengenai masalah yang mereka alami (contohnya Eita yang punya hobi curhat di dokter gigi). Dan dialog-dialog di dorama ini pun (baik pada curhatan ataupun dialog antar tokoh)  sangat lucu, menghibur, dan juga ‘dalem’. Ya, sekali lagi Sakamoto Yuji membuktikan kemampuannya dalam menulis skenario melalui dorama ini. Apalagi dorama ini juga selalu menghadirkan kejutan-kejutan tidak terduga di setiap episodenya (dan membuat saya selalu gelisah setiap minggunya). Selain skenario dan gaya berceritanya, saya juga sangat menyukai sinematografi dan soundtrack yang digunakan pada dorama ini. Lokasi yang digunakan pada dorama ini pun sangat berkesan dan membuat saya ingin berkunjung ke sana (kalo suatu hari saya pergi ke Jepang, harus banget dateng ke Nakameguro). Dan tentu saja kita tidak akan bisa melupakan ending credits dorama ini yang benar-benar menghibur dan penuh fanservice (untuk cewek maupun cowok). Seperti apa ending credits-nya itu? Ayo lihat sendiri! 😀

Secara keseluruhan, saya sangaaaaat mencintai dorama ini. Sangat memuaskan dari awal sampai akhir (mungkin satu-satunya yang gak bikin puas cuma penyelesaian dari permasalahan pasangan Akari-Ryo ya, but I’m okay with that). Buat saya, dorama ini adalah yang terbaik di musim dingin tahun ini, dan dengan cepat menjadi salah satu dorama favorit saya sepanjang masa.  5 bintang, highly recommended 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

mahoroposterMusim dingin tahun ini adalah musim yang membahagiakan untuk para pecinta dorama. Atau setidaknya untuk saya, karena kebetulan saya suka semua dorama yang saya tonton musim ini (dua di antaranya sudah direview di postingan sebelumnya). Tidak hanya itu, musim dingin tahun ini juga musim yang super membahagiakan untuk para fans Eita. Yak, di musim ini, aktor Jepang favorit nomor satu saya itu bermain di dua dorama (renzoku) yang berbeda, yaitu di Mahoro Ekimae Bangaichi dan di Saikou no Rikon. Dan dua dorama itu adalah salah dua dorama musim ini yang paling saya suka. Di postingan ini, saya akan mereview Mahoro Ekimae Bangaichi dulu ya, dan tunggu review Saikou no Rikon di postingan yang akan datang 😀

mahoro1Mahoro Ekimae Bangaichi sendiri adalah sekuel dari film berjudul Mahoro Ekimae Tada Benriken (Tada’s Do It All House) yang ditayangkan tahun 2011 lalu. Dorama ini masih memasang dua bintang utama dari filmnya, yaitu Eita dan Matsuda Ryuhei (salah satu aktor favorit saya juga). Tada Keisuke (Eita) dan Gyoten Haruhiko (Matsuda Ryuhei) adalah dua orang duda yang bekerja sebagai benriya, suatu pekerjaan di mana mereka melakukan pekerjaan apa saja sesuai permintaan klien mereka (misalnya membersihkan rumah atau mengajak anjing jalan-jalan) di sebuah kota fiktif bernama Mahoro. Namun, pekerjaan yang datang rupanya tidak selalu sesimpel itu dan kadang cenderung aneh. Misalnya di episode pertama, mereka diminta untuk menjadi pasangan gulat dari seorang pegulat yang sebentar lagi akan pensiun dari dunia gulat. Di episode yang lain, mereka diminta untuk mencuri cincin tunangan seorang perempuan yang pacarnya adalah mantan pacar si klien. Lalu, pekerjaan aneh apa lagi yang akan mereka berdua lakukan? Yuk mari ditonton 😀

mahoro2Komentar pertama untuk dorama ini: BROMANCE! Yeah, saya suka banget sama bromance antara Tada dan Gyoten. Eita dan Matsuda Ryuhei punya chemistry yang sangat baik di dorama ini. Gak heran juga sih karena mereka berdua sudah sering bermain film bareng (ini kali kelima mereka tampil bareng) dan tampaknya di dunia nyata pun mereka bersahabat. Saya suka Tada yang kadang-kadang galak ke Gyoten tapi tetap membiarkan Gyoten tinggal bersamanya meskipun dia tidak mengakui Gyoten sebagai pegawai di tempatnya. Dan saya suka melihat tingkah Gyoten yang sering bilang ke orang lain kalau dia dan Tada punya hubungan “khusus” (yang tentu saja langsung dibantah Tada). Cerita mengenai bagaimana mereka bertemu sendiri diceritakan di versi filmnya. Tapi menurut saya tanpa menonton filmnya pun kamu tetap bisa mengerti dan menikmati dorama ini. Apalagi buat saya dorama ini jauh lebih bagus dari versi filmnya.

mahoro3Setiap episode di dorama ini memiliki sebuah cerita yang berdiri sendiri dan tidak terlalu memiliki kaitan dengan episode lainnya (setiap episodenya fokus pada satu pekerjaan dari satu klien). Setiap episodenya berdurasi pendek (30 menitan) dan memiliki daya tarik masing-masing yang mungkin akan menghasilkan kesan yang berbeda-beda pada setiap penonton. Ini adalah dorama komedi dan komedinya pun menurut saya sangat lucu (meskipun bukan tipe komedi yang bikin kamu tertawa terbahak-bahak). Namun, dorama ini juga banyak menghadirkan momen-momen melankolis yang menyentuh tanpa harus terlihat cheesy. Misalnya di episode dua, ketika ada seorang klien yang meminta Tada dan Gyoten untuk mencari seorang perempuan yang pernah menjadi model dari video karaoke berumur puluhan tahun yang membuatnya jatuh cinta. Mereka berdua berhasil menemukan perempuan itu, namun harus menerima kenyataan bahwa kondisi si perempuan saat ini jauh dari yang mereka harapkan. Dan penyelesaian akan hal itu menurut saya sangat manis dan menyentuh. Selain episode itu, masih ada beberapa episode lainnya yang tidak kalah menyentuh. Jadi, untuk pecinta kisah-kisah bittersweet, jangan sampai melewatkan dorama ini.

mahoro4Selain memiliki chemistry yang ciamik, kedua pemain utama dorama ini juga menunjukkan akting yang sangat baik di sini. Saya suka akting Eita di sini, tapi “the heart of this drama” tidak lain adalah Matsuda Ryuhei yang berperan sebagai Gyoten. Saya suka banget karakter Gyoten ini. Karakteristiknya yang pemalas dan lamban beserta kemampuannya untuk melucu dengan wajah datar menurut saya adalah salah satu daya tarik dorama ini (dan seperti yang pernah saya bilang sebelumnya, Matsuda Ryuhei mau jadi peran apapun selalu kelihatan cool. And yeah, it’s compliment). Selain Eita dan Ryuhei, para bintang tamu yang muncul di dorama ini pun semuanya menampilkan akting yang bagus di sini. Beberapa di antaranya, seperti Suzuki Matsuo, Omori Nao, dan Kora Kengo sudah pernah muncul di versi filmnya. Yang lainnya seperti Sakai Maki, Arai Hirofumi, Usuda Asami, Kuroki Haru (the best guest in this show), Kariya Yuiko, dan Maki Yoko (yang juga bermain bersama Eita di Saikou no Rikon) pun sama-sama menampilkan akting yang memikat dan memperkuat dorama ini. Selain castnya yang bagus, dorama yang disutradarai oleh One Hitoshi (Moteki, Akihabara@DEEP) ini pun memiliki theme song yang bagus, baik di bagian openingnya (yang dibawakan oleh band Flower Companyz) maupun endingnya (yang dibawakan Sakamoto Shintaro).

Secara keseluruhan, menurut saya ini adalah salah satu dorama paling berkesan di season ini. Ini adalah tipe dorama yang membuat saya sedih ketika memasuki episode akhir karena saya masih tidak rela untuk berpisah dengan Tada dan Gyoten (dear One Hitoshi, bikin sekuelnya dooong). Sangat direkomendasikan untuk ditonton para penyuka bromance, komedi, kisah-kisah pendek, atau kisah-kisah bittersweet. 4,5 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Dalam pertandingan sepak bola, ada sesuatu yang dinamakan perpanjangan waktu (injury time/additional time/loss time/apalah namanya itu), di mana suatu pertandingan mendapat tambahan waktu beberapa menit dengan beberapa syarat tertentu. Nah, apa jadinya jika hal tersebut berlaku juga di kehidupan nyata? Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mendapat perpanjangan waktu di saat ajal akan menjemput?  Ide tersebut merupakan premis dasar dari dorama berjudul Loss:Time:Life, sebuah dorama yang bercerita tentang orang-orang yang diberi perpanjangan waktu ketika kematian mendekati mereka.

Loss:Time:Life sendiri adalah sebuah dorama berjumlah sembilan episode yang setiap episodenya memiliki cerita yang berdiri sendiri dan tidak memiliki kaitan secara langsung antara episode yang satu dengan yang lainnya (kecuali kaitan tema). Setiap episodenya memiliki satu orang tokoh utama yang diceritakan menemui ajalnya dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya di episode pertama ada Nakayama Haruhiko (Eita), seorang fotografer berita yang mati karena tertembak oleh penjahat yang sedang diselidikinya. Ketika peluru hampir mengenainya, tiba-tiba waktu di ruangan itu berhenti dan empat orang berpakaian wasit datang menghampirinya. Salah satu di antaranya membawa sebuah papan bertuliskan tambahan waktu yang dimilikinya. Ya, sama seperti sepak bola, rupanya Haruhiko mendapat perpanjangan waktu beberapa jam sebelum ajal benar-benar menghampirinya. Dengan diawasi wasit-wasit tersebut, ia harus memanfaatkan sisa waktunya tersebut untuk menyelesaikan segala urusannya. Dan seperti sepak bola juga, terdapat berbagai aturan yang harus dipatuhi selama masa tambahan waktu tersebut, misalnya tidak boleh memberitahu orang lain bahwa dia sudah meninggal, tidak boleh mengganti baju, dan berbagai macam peraturan lainnya. Jika peraturan tersebut dilanggar, maka ia akan mendapat kartu kuning. Dan ketika tambahan waktu itu akan habis, ia diwajibkan untuk kembali ke tempat kematiannya dan melanjutkan hal yang menjadi takdirnya tersebut. Selain Haruhiko, masih ada delapan tokoh lagi dengan latar belakang dan cara kematian berbeda-beda yang mengalami hal serupa. Siapa saja kah mereka? Apa yang mereka lakukan dalam sisa waktunya tersebut? Apakah mereka benar-benar akan mati? Tonton aja deh.

Ini adalah salah satu dorama yang saya tonton karena faktor ada Eita-nya *ahem*, dan rupanya dorama ini berhasil memuaskan saya. Yang paling saya suka dari dorama ini tentu saja ide atau premisnya yang menarik. Dan ide tersebut berhasil dieksekusi dengan sangat baik. Meskipun punya premis yang terkesan repetitif (orang mati, dapat tambahan waktu, menyelesaikan urusannya, selesai), tapi si pembuatnya berhasil membuat setiap episodenya memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari episode lainnya, sehingga saya selalu merasa menemukan hal yang baru di setiap episodenya. Setiap tokoh utama di masing-masing episodenya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Selain Haruhiko si fotografer, masih ada delapan tokoh lain dengan profesi yang berbeda-beda. Ada yang seorang polisi (episode 2, diperankan Koyama Keiichiro), ibu rumah tangga (episode 3, diperankan Tomochika), perawat (episode empat, diperankan Ueno Juri), mangaka (episode 5, diperankan Ito Atsushi), aktor kurang terkenal (episode 6, diperankan Tanaka Naoki), istri yakuza (episode 7, diperankan Tokiwa Takako), wanita karir (episode 8, diperankan Maki Yoko), dan hikikomori (episode 9, diperankan Oizumi Yo). Cara kematiannya pun berbeda-beda, ada yang dibunuh, kecelakaan, bunuh diri, serangan jantung, bahkan ada yang sampai mati karena tersedak makanan. Tambahan waktunya pun berbeda-beda. Ada yang tiga jam, empat jam, lima jam, bahkan ada yang jauh lebih lama dari itu. Segala macam perbedaan tersebut membuat setiap episodenya memiliki daya tarik masing-masing dan menjadikan kesan repetitif itu menjadi tidak terlihat.

Selain itu, yang menarik lagi dari dorama ini adalah cara tokoh-tokoh tersebut menghabiskan waktunya yang tersisa. Yang paling saya suka adalah episode 4 yang memasang Ueno Juri sebagai tokoh utamanya. Di situ ia diceritakan sebagai seorang perawat yang mencoba bunuh diri setelah diputuskan pacarnya. Dan setelah ia mendapat tambahan waktu, yang ia lakukan adalah… mencoba bunuh diri lagi 😀 Selain episode itu, masih ada beberapa episode lainnya yang saya suka. Secara keseluruhan, episode-episode favorit saya adalah episode satu, tiga, empat, lima, dan delapan. Namun, selain episode-episode itu, episode-episode lainnya juga tidak kalah menarik kok. Dan yang paling saya suka adalah setiap episodenya selalu berhasil bikin saya merasa tersentuh dan gak rela kalau mereka bener-bener akan mati (dan saya emang lemah sama cerita yang temanya tentang kematian). Apalagi, melalui tambahan waktu tersebut, para tokoh di sini kemudian menemukan hal-hal berharga yang tidak pernah dialaminya ketika hidup dan tambahan waktu tersebut membuat mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.

Di luar hal-hal di atas, yang paling saya suka di sini adalah… karakter wasit-wasitnya. Ya, kayaknya cuma di dorama ini malaikat maut digambarkan dengan sosok manusia berpakaian wasit. Wasit-wasit ini sendiri tidak pernah diperlihatkan berbicara, tapi gerak-gerik mereka selalu bisa bikin saya ketawa. Selain loss time, wasit, dan kartu kuning, ada satu lagi unsur dari pertandingan sepak bola yang dimasukkan di dorama ini dan membuat dorama ini menjadi lebih menarik. Ya, komentator! Pertandingan sepak bola pasti tidak akan seru jika tidak dilengkapi dengan suara komentator. Begitu juga dengan dorama ini. Seperti pada sepak bola, ada suara-suara yang mengomentari segala tindak-tanduk yang dilakukan tokoh-tokohnya (yang komentarnya banyak yang kocak). Bahkan untuk adegan tertentu ada juga yang diulang alias diberi tayangan replay-nya 😀 Hal-hal tersebut membuat dorama ini menjadi semakin menghibur dan meskipun bertema tentang kematian, dorama ini sama sekali tidak memberi kesan depresif.

Overall, saya sangat menyukai dorama berjumlah sembilan episode ini. Oh ya episode-episode di sini memang tidak memiliki kaitan secara langsung satu sama lain. Tokoh utama antara satu episode dengan episode lainnya diceritakan tidak saling mengenal. Tapi ada satu orang tokoh yang selalu ada di setiap episodenya, yaitu tokoh Omoto-san yang diperankan Nukumizu Youichi. Tidak terlalu jelas latar belakang karakter ini, dan berhubung dengan itu, dorama ini memiliki dua episode tambahan (overtime) yang berfokus pada kehidupan karakter itu (dengan ditambah pemeran lain seperti Kuriyama Chiaki dan Sakai Wakana). Sayangnya, dua episode itu menurut saya tidak semenarik sembilan episode sebelumnya dan tidak begitu menjelaskan apa maksud dari keberadaan tokoh itu. Di luar hal itu, karena setiap episodenya berdiri sendiri, menurut saya dorama ini bisa dinikmati secara acak alias tidak berurutan. Saya juga setelah episode satu langsung loncat ke episode 4 dan selanjutnya nonton berdasarkan urutan artis yang saya suka, dan hal itu sama sekali tidak mengganggu kenikmatan menonton dorama ini. Tapi saran saya, jika mau menonton secara acak, lebih baik episode pertama yang ditonton tetap episode 1 dan episode terakhir yang ditonton tetap episode 9 (tengah-tengahnya terserah mau nonton yang mana dulu). Well, 4 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Udah penasaran sama film ini dari dulu, karena EITA dan Ueno Juri (aktor – aktris Jepang favorit saya) bermain bersama di film ini. Dan kebetulan akhir-akhir ini saya lagi ngikutin dorama Sunao ni Narenakute yang juga memasang mereka berdua sebagai pemain utama. Well, karena gemas melihat mereka berdua di dorama itu, saya jadi pengen liat dorama / film mereka yang lain (mereka juga pernah bermain bersama di Nodame Cantabile dan Last Friends, yg dua-duanya udah pernah saya tonton), dan pilihan saya jatuh kepada Summer Time Machine Blues, beruntung saya nyari-nyari film ini di internet akhirnya dapet juga link download-nya 😀

Jangan pedulikan posternya yang terkesan nge-dangdut karena ternyata film ini bagus sekali. Well, menurut saya, sebuah film bisa dikatakan berhasil kalau bisa membuat penonton merasa terhibur dan menikmatinya sepanjang film itu berlangsung (walau dengan tema seremeh temeh apa pun). Dan film ini berhasil melakukannya. Meskipun adegan-adegan awal dari film ini membuat saya bingung, tapi adegan-adegan selanjutnya memberikan saya kepuasan dan mulai menjelaskan kenapa segala hal tersebut bisa terjadi. Oke jadi film ini bercerita tentang apa sih? Kalo liat dari judulnya, mungkin kalian bisa menebak apa yang diceritakan oleh film ini. Yak, time machine alias mesin waktu. Jadi film ini bercerita tentang masa liburan musim panas anak-anak klub sci-fi (yang berjumlah 5 orang) dan klub fotografi, yang bergabung dalam satu ruangan karena klub fotografi anggotanya hanya sedikit (cuma dua orang, salah satunya karakter yang dimainkan Ueno Juri). Suatu hari, terjadi sebuah insiden (yang sebelumnya didahului oleh beberapa keanehan) yang menyebabkan remote AC ruangan tersebut terkena tumpahan coke sehingga remote AC tersebut rusak dan AC ruangan tersebut tidak bisa dinyalakan. Hal tersebut membuat mereka sangat menderita *duh, bahasanya mulai lebay* karena cuaca saat itu sedang panas-panasnya. Keesokan harinya, tiba-tiba mereka kedatangan orang aneh yang ternyata datang dari masa depan beserta mesin waktu yang membawanya kemari. Awalnya mereka tidak percaya dan menganggap mesin waktu tersebut sebagai mainan atau alat untuk mengerjai mereka saja. Salah satu dari mereka, yaitu Soga (Minenori Nagano), akhirnya mencoba kembali ke satu hari yang lalu dengan mesin waktu tersebut, dan mesin tersebut benar-benar berfungsi! Dan Soga tidak bohong karena hal tersebut bisa dibuktikan dengan foto yang diambil sehari yang lalu oleh anak klub fotografi. Akhirnya, setelah mengetahui bahwa mesin waktu itu memang berfungsi, mereka  memutuskan menggunakannya untuk…… mengambil remote AC yang belum ketumpahan coke kemarin *jedang!* Apakah misi mereka akan berhasil? Apalagi setelah itu Takuma (Eita) dan teman-temannya yang tidak ikut kembali ke masa lalu menyadari bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi karena akan menimbulkan suatu kontradiksi (hmm…gimana yah menjelaskannya, biar ngerti tonton aja deh film ini :P). Jadi, apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Tonton aja deh.

Film ini benar-benar menghibuuuuur. Saya suka film ini <3. Yang paling saya suka dari film ini adalah di mana segala hal yang terjadi di film ini digambarkan dengan sangat masuk akal. Semua keanehan yang terjadi di bagian awal yang mungkin membuat kening kita berkerut akan dijelaskan melalui kejadian-kejadian yang mereka alami setelah menggunakan mesin waktu (seperti mengenai siapakah pencuri Vidal Sassoon). Padahal awalnya saya sempet ragu dan berharap akan menemui sesuatu yang tidak masuk akal dari film ini, tapi ternyata tidak ada, sutradaranya benar-benar teliti dan rapi menghubungkan adegan-adegan yang ada di film ini. Salut deh. Sebelumnya juga saya sempet bertanya-tanya bukankah akan terjadi kekacauan jika manusia mengubah masa lalu, sementara di masa depan tersebut (sebelum mereka menggunakan mesin waktu) tidak ada yang berubah sama sekali. Dan hal tersebut ternyata akhirnya dibahas juga di film ini. Hehe, sepertinya sutradaranya bisa membaca pikiran penonton mengenai film ini.

Selain jalinan ceritanya yang nyambung dan masuk akal, poin kedua yang saya suka dari film ini adalah humor-nya. Yap, melalui tingkah anak-anak klub sci-fi (yang sebetulnya pada gak ngerti sama sekali mengenai sci-fi) yang lucu tapi gak berlebihan, film ini menjadi sangat segar dan menghibur. Akting mereka sangat natural dan kalopun agak lebay tapi lebay-nya wajar. Oh ya dan yang paling penting EITA terlihat sangat manis di sini *halah*. Selain para anggota klub sci-fi, akting pemeran-pemeran lainnya pun bagus-bagus, seperti Ueno Juri yang sangat pas berperan sebagai Haruka, anggota klub fotografi yang sangat cuek. Satu lagi yang harus saya acungin jempol aktingnya adalah Kuranosuke Sasaki yang berperan sebagai guru pembimbing klub sci-fi yang ketika berteori sering dicuekin oleh murid-muridnya. Kocak banget adegan-adegan yang melibatkan guru satu ini 😀

Well, secara keseluruhan film ini recommended kok. 4 bintang :))

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »