Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘shunji iwai’

The_Case_of_Hana_&_Alice-p2

11 tahun setelah dirilisnya film berjudul “Hana and Alice”, Suzuki Anne dan Aoi Yu kembali menghidupkan dua karakter tersebut di tahun ini dalam sebuah film berjudul “The Case of Hana & Alice”. Namun kali ini, mereka tampil sebagai “Hana” dan “Alice” dalam format animasi. Masih disutradarai oleh Iwai Shunji (yang menjadi debutnya dalam penyutradaraan animasi), film ini menceritakan kisah bagaimana Hana dan Alice bertemu (alias prekuel).

vlcsnap-2015-11-01-13h47m26s711

Arisugawa “Alice” Tetsuko (disuarakan Aoi Yu), seorang gadis berusia 14 tahun, baru saja pindah rumah bersama ibunya setelah kedua orang tuanya bercerai. Rumah barunya bersebelahan dengan sebuah rumah yang kabarnya merupakan rumah seorang gadis yang sebaya dan satu sekolah dengannya namun sudah lama tidak masuk sekolah dan mengurung diri di rumahnya. Di sekolah barunya, Alice mengalami keanehan yang berhubungan dengan bangku yang ditempatinya, yang menurut kabar burung, dulunya ditempati seorang murid bernama Yuda (atau Judas) yang kabarnya memiliki empat orang istri dan mati diracun oleh salah satu dari mereka. Isu yang belum tentu benar tersebut mulai mengganggu hari-hari Alice di sekolah barunya. Ia pun mencoba menghubungi Hana (disuarakan Suzuki Anne), gadis hikikomori tetangganya tersebut, yang kabarnya mengenal Yuda dan bertanggungjawab atas hal yang terjadi pada murid misterius tersebut. Bersama-sama, mereka berdua lalu menyelidiki mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Yuda. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Yuda memang benar-benar sudah mati seperti gosip yang beredar di sekolah? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Hana dan Yuda yang membuatnya mengurung diri di rumahnya?

vlcsnap-2015-11-01-13h46m27s509

Sebagai penggemar film originalnya, saya sangat menikmati film prekuel ini. Meskipun sudah 11 tahun berlalu dan Hana & Alice muncul melalui format baru (animasi), saya bisa merasakan bahwa mereka masih sama dengan Hana & Alice yang saya kenal melalui film pendahulunya. Saya senang karena Iwai masih mempertahankan karakteristik yang kita kenali dari film sebelumnya. Alice masihlah Alice yang ceria, pemberani, namun kurang berpikir panjang dan masih belum pintar dalam ‘berakting’. Hana masih Hana yang cool, judes, dan punya kecenderungan yang aneh ketika sedang naksir cowok :D. Dan meskipun film ini adalah kisah awal pertemuan Hana dan Alice, kedua karakter ini langsung memiliki chemistry yang sangat kuat dan membuat kita mengerti mengapa mereka bisa menjadi sahabat dekat di film pendahulunya.

Embel-embel “satsujin jiken” (murder case) pada judulnya membuat film ini juga memiliki unsur misteri. Apalagi misterinya itu misteri yang cukup absurd (wtf ada anak SMP punya istri empat). Namun, misteri bukanlah inti utama dari film ini. Seperti film pendahulunya, inti film ini adalah kebodohan dan kepolosan masa remaja. Segala hal yang terjadi pada film ini bersumber dari dua hal itu, dan membuat Hana dan Alice kemudian mengalami petualangan kecil yang kemudian berpengaruh pada proses pendewasaan mereka berdua. Setelah Love Letter, All About Lily Chou-chou, dan Hana and Alice yang semuanya menggambarkan kehidupan anak remaja (dari kehidupan yang manis sampai pahit), Iwai Shunji membuktikan bahwa dirinya memang piawai dalam meramu film-film bertemakan coming of age. Film ini sendiri merupakan comeback Iwai Shunji dalam dunia feature film setelah terakhir kali menyutradarai film debut internasionalnya, Vampire, yang sayangnya tidak terlalu berhasil. Dan sebagai debutnya dalam menyutradarai film animasi, meskipun animasinya bukan tipe yang luar biasa dan mendapat beberapa kritikan dari beberapa kritikus, saya cukup suka animasinya yang simpel. Plus, melihat beberapa adegan yang familiar dari film pendahulunya namun dengan format animasi menimbulkan kesenangan tersendiri untuk saya.

vlcsnap-2015-11-01-13h46m41s067

Overall, sebagai penggemar film pendahulunya, The Case of Hana & Alice adalah sebuah prekuel yang memuaskan dan memberi perasaan nostalgia. Lalu apakah harus menonton film pendahulunya dulu sebelum menonton film ini? Tidak usah, kok, karena ceritanya berdiri sendiri dan film ini memiliki setting waktu lebih awal dari pendahulunya (tapi gak ada salahnya juga sih nonton Hana and Alice, karena dua-duanya film yang wajib tonton :D). Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

“Do you know what tomorrow is? Tomorrow is my birthday.”

Iwai Shunji adalah sutradara Jepang pertama yang saya apresiasi. Maksudnya, sebelum menonton film-filmnya Iwai Shunji, saya termasuk tipe orang yang suka nonton film (dalam hal ini, film Jepang) tanpa peduli siapa sutradaranya. Tapi setelah menonton Hana and Alice dan All About Lily Chou-Chou (salah dua film yang disutradarai Iwai Shunji dan merupakan film-film favorit saya sepanjang masa), saya merasa perlu untuk mencari dan menonton karya-karyanya yang lain. Dan setelah itu, saya jadi mulai memperhatikan sutradara-sutradara film Jepang lainnya (tapi Iwai Shunji tetap akan mendapat tempat pertama di hati saya :)).

Saya sudah menonton hampir semua film yang disutradarai Iwai Shunji. Tapi menonton Ritual (judul asli: Shiki-Jitsu) adalah pengalaman pertama saya dalam melihatnya berakting. Ritual sendiri adalah sebuah film yang disutradarai oleh Anno Hideaki (yang terkenal sebagai sutradara anime legendaris Neon Genesis Evangelion). Di film ini, Iwai berperan sebagai seorang pria yang baru saja kembali ke kampung halamannya. Di hari pertama di kampung halamannya, ia melihat seorang perempuan aneh (diperankan Fujitani Ayako) sedang tiduran di rel kereta api sambil memegang payung berwarna merah. Beberapa saat kemudian, ia bertemu lagi dengan perempuan itu. Perempuan itu lalu berkata bahwa yang ia lakukan di rel kereta api tadi adalah sebuah ritual. Selain itu, ia juga memberitahu pria itu bahwa besok adalah hari ulang tahunnya.

Keesokkan harinya, pria itu datang lagi menemui si perempuan aneh yang masih melakukan ritualnya di rel kereta api. Pria tersebut datang dengan membawa kado ulang tahun untuk perempuan itu. Tapi perempuan itu menolaknya sambil berkata “ulang tahunku besok”. Besok dan besoknya lagi, pria itu kembali menemui perempuan itu. Dan perempuan itu tetap meracau bahwa besok adalah hari ulang tahunnya. Di hari keempat, perempuan itu mengajak si pria ke tempat tinggalnya. Tempat tinggal perempuan itu adalah sebuah bangunan beberapa lantai yang hanya diisi oleh “barang-barang yang disukai” perempuan itu. Pria tersebut juga akhirnya mengetahui bahwa perempuan itu masih punya beberapa ritual lainnya. Salah satunya adalah ritual “berdiri di tepian atap rumahnya”. Jika ia bisa berdiri tanpa berusaha melompat, maka artinya dia baik-baik saja. Di hari ketujuh, pria itu memutuskan untuk tinggal bersama dengan perempuan itu. Lalu diketahui bahwa pria tersebut ternyata berprofesi sebagai sutradara dan sejak saat itu ia berusaha memfilmkan kegiatan sehari-hari si perempuan.

Saya sudah menyukai film ini sejak adegan pertama film ini dimulai. Yeah, adegan pertama di film ini, yaitu ketika Iwai Shunji memandangi Fujitani Ayako (yang balas memandangnya sambil tersenyum) di rel kereta api itu memang sangat menarik perhatian dan membuat saya langsung berpikir “wah filmnya pasti aneh nih” dan “wah, kayaknya saya bakal suka banget film ini” (fyi, sebelum menonton film ini saya sama sekali tidak tahu informasi apapun tentang film ini kecuali Iwai Shunji bermain di dalamnya dan Anno Hideaki adalah sutradaranya). Dan setelah adegan itu, semakin lama filmnya menjadi semakin menarik. Menonton film ini mungkin akan membuat kita merasakan sesuatu yang sama dengan yang dirasakan karakter yang diperankan Iwai (yang tidak diketahui namanya dan hanya dipanggil dengan sebutan “Kantoku”/”Sutradara”). Yeah, seperti pada Kantoku, kita akan dibuat untuk terus tertarik dan penasaran ingin mengetahui lebih jauh tentang perempuan itu (yang juga sama sekal tidak diketahui namanya). Si perempuan memang punya kepribadian yang sangat unik dan menarik. Ia selalu berkata bahwa besok adalah hari ulang tahunnya. Dia juga selalu ceria dan selalu tersenyum. Tapi kita tahu bahwa sebenarnya ia hanyalah perempuan kesepian yang mencoba menciptakan dunianya sendiri untuk mengusir kesendiriannya. Ia juga hanyalah perempuan biasa yang butuh orang lain untuk selalu berada di sampingnya (dalam hal ini si Kantoku). Dapat ditebak bahwa ia punya masa lalu yang menyakitkan (yang tampaknya ada hubungannya dengan keluarganya) dan berusaha lari dari kenyataan yang menyakitkan tersebut. Sementara itu, Kantoku adalah kebalikan dari si perempuan. Seperti yang telah diketahui, ia adalah seorang sutradara yang ingin membuat film live action (sepertinya aslinya dia adalah sutradara anime, sama seperti Anno-sensei). Itu berarti dia dekat dengan dunia-dunia yang bersifat fiksi, dan menjadi lelah karena hal itu. Usahanya memfilmkan si perempuan adalah usahanya untuk lari dari dunia fiksi dan kembali ke kenyataan, meskipun hal tersebut seperti kontradiksi karena si perempuan sendiri berusaha lari dari dunia nyata.

Selain hal di atas, yang saya suka lagi dari film ini adalah sinematografinya yang sangat indah dan memberi kesan puitis. Film ini memang punya gambar-gambar yang indah, dan yang paling saya suka adalah keindahan tersebut ditempatkan pada keanehan. Yang paling saya suka adalah bangunan tempat tinggal si perempuan. Tempat tinggalnya itu terlalu aneh untuk disebut sebagai rumah. Isi dari tempat tinggal tersebut pun terlihat sangat ganjil. Namun, sutradaranya berhasil menampilkan keganjilan pada tempat tersebut menjadi sangat indah (terutama pada bagian basement yang gelap dan ‘banjir’, tapi terlihat sangat artistik dengan penempatan payung-payung warna merahnya). Film ini juga punya sentuhan dokumenter, seperti digambarkan pada usaha memfilmkan kegiatan sehari-hari si perempuan. Dan karena Anno Hideaki juga merupakan sutradara anime, di film ini juga disisipkan beberapa sentuhan animasi yang turut membuat film ini menjadi semakin unik. Di luar sinematografinya, saya juga sangat menyukai dialog-dialog dan interaksi antara Kantoku dan si perempuan. Begitu juga dengan narasinya yang dibawakan dengan sangat baik oleh Matsuo Suzuki dan Hayashibara Megumi.

Dari segi akting, Iwai Shunji tampaknya tidak mengalami kesulitan karena perannya tidak jauh-jauh dari profesinya sendiri dan juga tidak memiliki kompleksitas yang rumit. Bintang utama dari film ini tentu saja adalah Fujitani Ayako, yang aktingnya menjadi kejutan terbesar di film ini dan membuat saya terus tertarik untuk mengikuti filmnya. Saya cuma pernah melihat dia sebagai pemeran pendukung di Atami no Sousakan dan sebagai pemeran utama di salah satu segmen di film Tokyo!, sehingga aktingnya di sini membuat saya terkejut karena dia bisa berakting sebegitu bagusnya (dan kejutan yang lain: dia adalah anaknya Steven Seagal!). Tapi kejutan yang paling besar adalah film ini ternyata merupakan film yang diangkat dari novel yang ditulisnya sendiri. Buku dengan judul Touhimu tersebut bergenre fiksi, tapi di beberapa sumber buku ini juga disebut-sebut sebagai semi-autobiografi dari Fujitani Ayako berdasarkan pengalaman akan keterasingannya ketika tinggal di Los Angeles. Hal tersebut membuat saya bertanya-tanya apakah aktingnya di Ritual memang benar-benar ‘akting’ 😀

Well, secara keseluruhan saya sangat menyukai film ini. Satu-satunya yang menjadi poin minus film ini menurut saya cuma endingnya yang digambarkan terlalu jelas. Ya, di sebagian pertama filmnya kita bisa melihat bahwa permasalahan yang dialami si perempuan hanya diperlihatkan secara samar dan melalui beberapa penyimbolan. Di bagian akhir, permasalahan tersebut langsung dijelaskan secara sejelas-jelasnya, yang membuat penonton tidak perlu mereka-reka lagi mengenai apa yang terjadi sebenarnya pada si perempuan itu. Namun, mungkin ending seperti itu adalah ending yang paling cocok untuk film ini.Yosh, menurut saya film ini cocok ditonton oleh penyuka film yang “nyikologis”, penyuka film-film yang artistik, dan penyuka film yang puitis. Film ini juga cocok untuk ditonton penggemar Iwai Shunji yang mungkin penasaran ingin melihat seperti apa ketika dia berakting. 4 bintang 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Belakangan ini lagi rajin-rajinnya nyari dan nonton film-film arahan Shunji Iwai (sutradara All About Lily Chou-chou & Hana and Alice). Dan di antara beberapa filmnya yang saya tonton belakangan ini, film ini menjadi salah satu film arahan Shunji Iwai yang lumayan meninggalkan kesan yang dalam dan menjadi favorit saya (tapi masih di bawah Lily Chou-chou & Hana and Alice sih). Jika kamu menyukai film-film dengan cerita yang manis, mungkin kamu akan menyukai film ini. Film ini ceritanya MANIIIIIS banget (hihi, saya emang paling demen nonton tipe film ‘manis’ kayak gini). Film ini bercerita tentang Watanabe Hiroko (Nakayama Miho), seorang perempuan yang harus kehilangan kekasihnya dua tahun lalu akibat kecelakaan pada saat pendakian gunung. Meskipun sudah dua tahun berlalu, Hiroko masih belum bisa melupakan kekasihnya yang bernama Fujii Itsuki tersebut. Setelah upacara peringatan kematian Fujii, ia mampir ke rumah orang tua dari mendiang kekasihnya tersebut dan melihat album kenangan Fujii semasa SMP. Hiroko lalu mencari alamat rumah Fujii yang dulu di album kenangan tersebut, dan mengirim sebuah surat berisikan kalimat “dear Fujii Itsuki, apa kabar? Aku baik-baik saja” ke alamat tersebut. Untuk apa Hiroko mengirim surat pada Fujii? Bukankah Fujii sudah meninggal? Hiroko yang masih belum bisa melupakan Fujii mengatakan bahwa surat yang dikirimnya adalah surat yang dialamatkan ke surga, tempat yang ia yakini sebagai ‘rumah’ dari Fujii yang sekarang. Dan betapa kagetnya Hiroko karena surat yang dikirimnya tersebut ternyata mendapat balasan dari seseorang yang bernama Fujii Itsuki. Tapi tenaaaaang, ini bukan film horror kok ^^ Setelah diusut, akhirnya Hiroko mengetahui bahwa alamat yang ditujunya itu bukanlah alamat rumah dari mendiang kekasihnya, tapi alamat rumah dari seorang perempuan bernama Fujii Itsuki (sama dengan nama kekasihnya, diperankan oleh Nakayama Miho juga), yang merupakan teman sekelas kekasihnya waktu SMP.

Hiroko dan Itsuki kemudian menjadi sahabat pena. Tanpa memberitahu bahwa Fujii (cowok) sudah meninggal, melalui surat Hiroko menanyakan Itsuki mengenai apa saja yang ia ketahui tentang Fujii semasa SMP (seperti bagaimana sifatnya dulu, siapa cinta pertamanya, dll). Itsuki pun kembali mengingat-ingat dan menceritakan kehidupan di masa SMP-nya pada Hiroko. Masa SMP-nya tersebut bisa dibilang tidak begitu meninggalkan kesan yang baik bagi Itsuki, karena akibat namanya yang sama dengan Fujii, selama tiga tahun di SMP ia dan Fujii (Takashi Kashiwabara) selalu menjadi bahan olok-olok teman-teman sekelasnya. Itsuki sendiri tidak begitu akrab dengan Fujii, tapi secara terpaksa mereka berdua pernah ditugaskan menjadi petugas perpustakaan bersama-sama. Jika Itsuki selalu tekun mengerjakan tugasnya, Fujii bisa dibilang tidak pernah melakukan apa-apa dalam tugasnya sebagai petugas perpustakan. Namun ia memiliki hobi yang unik. Ia selalu meminjam buku-buku perpustakaan yang tergolong berat dan tidak pernah dipinjam orang, tapi bukan untuk dibaca, melainkan karena ia senang menulisi kartu-kartu perpustakaan buku-buku tersebut dengan namanya sendiri (dan senang karena tidak akan ada nama-nama lain di kartu-kartu tersebut). Surat menyurat antara Hiroko dan Itsuki pun terus berjalan. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Hiroko akan berhasil merelakan kepergian Fujii? Seperti apakah hubungan antara Fujii Itsuki (cowok) dan Fujii Itsuki (cewek) yang sebenarnya ketika mereka masih SMP?

Seperti yang saya bilang di atas, film ini adalah film yang manis dan lumayan meninggalkan kesan yang dalam. Film ini sebenernya simpel, tapi berhasil ‘kena’ banget di hati. Yang paling saya suka sih masa SMP kedua Fujii Itsuki ini. Mereka tidak akrab sama sekali namun nama yang sama membuat hubungan antara mereka terasa lucu dan manis. Apalagi yang jadi Fujii Itsuki cowok adalah salah satu aktor Jepang favorit saya, yaitu Takashi Kashiwabara alias Kassy (Itazura na Kiss, Honey & Clover). Syeneeeeng deh liat Kassy yang masih abg di sini (sekarang sih udah om-om). Perannya sih gak jauh beda sama yang di Itazura na Kiss tapi saya tetep aja melting liat aktingnya di sini. Kassy di sini gak terlalu banyak ngomong karena tokoh Fujii Itsuki cowok ini digambarkan sebagai cowok yang dingin. Tapi sekalinya natap, wuiiiih tatapannya ‘bicara’ banyak cyiiiin. Selain itu, Nakayama Miho juga berhasil memerankan perannya di sini. Apalagi di sini dia memerankan dua karakter dengan kepribadian yang berbeda (Hiroko yang melankolis dan Itsuki yang tomboy dan ceria). Awalnya saya bingung kenapa dua karakter ini harus diperankan oleh pemeran yang sama. Namun, setelah menonton film ini sampai selesai, melihat kenapa akhirnya Fujii memilih Hiroko ketika ia dewasa, akhirnya saya ngerti juga kenapa dua karakter ini diperankan oleh aktris yang sama *no spoiler ah*.  Tapi ya, harusnya sih dua karakter ini jangan terlalu dibikin sama, setidaknya secara fisik seperti dari gaya rambut, harusnya gaya rambutnya dibedain, jangan sama-sama banget biar kemiripan di antara mereka tidak terlalu ‘kebetulan’.

Seperti film-film Shunji Iwai yang lainnya, sinematografi yang cantik juga bisa kita temukan di sini. Selain itu, saya salut sama Shunji Iwai yang berhasil bikin setiap adegan dalam film ini menjadi sangat berkesan sehingga saya selalu pengen lihat adegan-adegan tersebut lagi, lagi, dan lagi. Daaaaan, adegan terbaik dan paling berkesan dari film ini menurut saya adalah endingnya. Endingnya sebenarnya sangat simpel, sekilas mungkin akan menimbulkan komentar ‘eh, gitu doang?’, tapi meskipun simpel menurut saya endingnya terasa daleeeem banget dan juga menyajikan sebuah kejutan yang sangat manis dan bikin saya jadi pengen nangis tapi juga bahagia. Pokoknya tonton aja deh kalo mau tau!

Film ini sendiri memberi kita pesan agar tidak larut dalam kesedihan akibat ditinggal orang yang dicintai. Yang sudah meninggal tidak akan kembali. Tidak ada gunanya jika kita terus tenggelam dalam kesedihan dan tidak mau merelakan kepergian dari orang yang kita cintai tersebut, sementara mungkin ada orang yang masih hidup yang mau mencintai kita dengan tulus. Seperti yang terjadi pada Hiroko, yang dengan terus-terusan mengirim surat pada Itsuki membuat ia semakin tenggelam akan cintanya pada Fujii. Namun berkat seorang  teman yang selalu ada di sisinya dan mencintainya dengan sepenuh hati, akhirnya Hiroko mau bangkit dan tidak terus-terusan terpaku akan kenangannya bersama Fujii. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi libur kuliah (tapi ikut sp satu mata kuliah sih) dan selama libur ini kerjaan saya nonton film terus. Saking banyaknya film yang ditonton, saya sampai bingung mau nge-review yang mana dulu. Karena itu kali ini saya akan nulis review singkat dari beberapa film (gak semua ya, kebanyakan soalnya :p) yang saya tonton belakangan ini. Mungkin kalau tidak malas, beberapa film dalam review ini akan saya buatkan review versi panjangnya.

1. Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Salah satu film remaja Jepang yang cukup bagus dan menarik. Idenya sederhana, tentang sebuah band yang beranggotakan siswi-siswi SMU yang akan tampil dalam festival sekolah, namun menemui masalah yang menyebabkan dua personil band itu keluar (termasuk sang vokalis). Beberapa hari sebelum tampil, mereka pun mencari vokalis baru secara ‘asal’. Adalah  Son, siswi pindahan dari Korea Selatan, yang menjadi vokalis baru mereka. Lalu timbul berbagai kejadian sebelum mereka tampil, dan meskipun baru beberapa hari, karakter Son ini akhirnya menemukan kegembiraan dan semangat baru sejak bergabung dengan band tersebut. Film ini menarik dan cukup menghibur. Yang saya suka adalah ide cerita film ini sama sekali tidak muluk-muluk, namun tidak mengurangi daya tarik film ini. Akting Bae Doona sebagai orang Korea yang sekolah di Jepang sangat memikat. Begitu juga dengan Kashii Yuu. Terakhir, habis nonton film ini saya jadi terus terngiang-ngiang sama lagu Linda Linda dari The Blue Hearts yang mereka bawakan pada festival tersebut :D. 3,5 / 5

2. Kick-Ass (2010)

Sebenarnya saya tidak pernah tertarik  pada film-film bertema superhero. Bukan karena jelek, tapi memang bukan selera saya saja. Tapi begitu mendengar bahwa superhero-superhero dalam Kick-Ass bukanlah superhero beneran (maksudnya mereka tidak mempunyai kekuatan super), saya pun jadi pengen nonton film ini, dan ternyata saya menyukai filmnya. Film ini lucu dan segar. Humornya yang tergolong ke dalam humor-humor masa kini lumayan menghibur. Dan yang membuat film ini semakin menarik adalah karakter Hit Girl yang diperankan Chloe Moretz. Meskipun memancing banyak perdebatan, tapi saya cinta karakter ini. 4/5

3. Rainbow Song (Japan, 2006)

Nama Shunji Iwai yang berperan sebagai produser dan co-writer film ini lah yang membuat saya menonton film ini. Belum lagi ada Hayato Ichihara, Ueno Juri, dan Yu Aoi. Dan saya gak nyesel nontonnya! Ceritanya termasuk klise, tentang persahabatan yang menjadi cinta *ceileh*. Cewek dan cowok bersahabat, lalu si cewek mulai jatuh cinta pada si cowok. Tapi sebelum si cowok menyadari perasaannya pada si cewek, si cewek keburu meninggal (tenang ini bukan spoiler karena dari awal kita sudah diberitahu kalo ceweknya meninggal). Cerita seklise apapun kalau dikemas dengan baik, pasti akan jadi film yang bagus. Begitu juga dengan film ini. Saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Ueno Juri berakting sangat bagus di film ini sebagai karakter cewek yang meninggal itu. Dan Hayato Ichihara, ini kali kedua saya melihat dia setelah melihatnya di Lily Chou-chou, dan penampilan fisiknya udah jauh berubah dari pas di Lily Chou-chou. Yu Aoi, meskipun kemunculannya tidak begitu banyak  tapi tetap menampilkan akting yang memikat. Sebenarnya film ini memiliki beberapa kekurangan, tapi tidak begitu mengganggu. Yang jelas, ini tipe film yang akan saya tonton berkali-kali. 3,75/5.

4. The Girl Who Leapt Through Time (Japan, 2006)

Akhir-akhir ini lagi ketagihan nonton anime yang berbentuk movie. Dan film ini adalah salah satu anime movie yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton! Tentang seorang siswi SMU yang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk meloncati waktu. Dan kemampuannya ini digunakannya untuk mengubah hal-hal yang bisa dibilang sederhana, namun nantinya akan menimbulkan masalah. Film ini lucu dan menghibur, animasinya juga bagus. Selain itu film ini menampilkan kejutan yang tidak saya duga. Review panjangnya menyusul ya. 4/5.


5. The Notebook (2004)

Karena saya ini termasuk orang yang menyukai film-film cinta yang mengharu biru, awalnya saya kira film ini akan berhasil membuat saya termehek-mehek. Tapi nyatanya, dari awal sampai akhir, ekspresi saya tetap datar. Ya ya ya, mungkin ada yang salah pada diri saya karena sebagian besar orang yang menonton film ini mengatakan film ini mengharukan dan sebagainya. Tapi entahlah, saya tidak bisa merasakan kedalaman hubungan antara Noah dan Allie. Karakter Noah yang begitu hidup di bagian awal, setelah berpacaran dengan Allie kok rasanya jadi melempem dan tidak terasa semangatnya. Tapi di luar itu saya suka aktingnya Rachel McAdams. 2,75/5

6. Perfect Blue (Japan, 1998)

Anime movie juga, disutradarai oleh Satoshi Kon. Ceritanya tergolong berat dan sama sekali bukan konsumsi anak-anak karena menampilkan sedikit nudity dan kekerasan. Tentang seorang pop idol yang memutuskan ganti haluan menjadi seorang aktris. Dan hal ini menimbulkan masalah karena ada fans yang tidak setuju dan sebagai aktris ia dituntut untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia inginkan. Belum lagi setelah itu muncul persona/kepribadian lain yang terus menghantuinya. Sebuah thriller psychology yang lumayan mencekam. Endingnya juga mengejutkan dan gak ketebak. Sebenernya saya ngerasa kalo film ini dibikin jadi live action, pasti filmnya akan semakin bagus. Tapi okelah anime juga, meskipun saya agak kurang suka desain karakternya. 4,5/5

7. Being John Malkovich (1999)

Edan film ini bagus banget! Jenius! Ceritanya termasuk orisinil dan menampilkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Skenarionya ditulis oleh orang yang menulis skenario Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang sama-sama sangat orisinil, yaitu Charlie Kaufman. Dan, menurut saya film ini lebih mudah dimengerti daripada Eternal Sunshine. Setidaknya saya tidak perlu mengulang-ngulang beberapa adegannya agar bisa mengerti sepenuhnya seperti pada saat saya nonton Eternal Sunshine. Selain ceritanya yang jenius, film ini juga menurut saya termasuk menghibur dan sudah pasti film ini masuk ke daftar my all time favorite movies. Review panjangnya tunggu saja ya 😀 5/5

8. Aoi Tori / The Blue Bird (Japan, 2008)

Nonton film ini karena faktor Kanata Hongo, dan agak nyesel nontonnya. Mengangkat tema school bullying, sebenarnya film ini berpotensi jadi bagus. Tapi saya malah kebosanan mengikutinya. Karakter guru gagap yang dimainkan Abe Hiroshi sebenarnya unik, tapi entah kenapa saya tidak bisa bersimpati padanya, dan tanggapan saya padanya sama seperti tanggapan murid-murid di sini. Latar belakang anak yang pindah sekolah karena dibully itu pun kurang kuat, mungkin kalo ditampilkan potongan adegan-adegan yang menampilkan karakter ini ketika bersekolah di sekolah itu, film ini akan jadi lebih menarik. Dan Kanata Hongo, kerjanya cemberut aja sik, tapi tetep cakep *alah*. 2,5/5

9. Despicable Me (2010)

Filmnya lucu dan mengharukan, dan tentunya sangat menghibur. Lelucon-leluconnya sebenarnya banyak yang slapstick, tapi tidak begitu mengganggu kok. Dan sejak karakter Gru ini mengadopsi tiga anak yatim piatu tersebut, ceritanya jadi mudah ketebak, tapi meskipun begitu film ini tetap menghibur. Dan yang menonton film ini pasti jatuh cinta pada karakter minion-minion yang menggemaskan itu. Ihik. Pengen cari merchandise-nya. 3,75/5

Read Full Post »

Gara-gara Hana and Alice, saya jadi tertarik untuk menonton film arahan Shunji Iwai (sutradara Hana and Alice) yang lainnya. Dengar-dengar, All About Lily Chou-Chou adalah salah satu karya terbaik sutradara tersebut. Saya pun menonton film ini. Sama seperti Hana and Alice, Iwai mengangkat tema “dunia remaja” dalam film ini. Namun, jika dunia remaja dalam Hana and Alice digambarkan dengan cerah ceria, tidak begitu dengan All About Lily Chou-Chou. Dunia remaja dalam film ini adalah dunia yang gelap dan suram. Film ini juga mengangkat sebuah realita yang sering terjadi di sekolah-sekolah di Jepang (atau mungkin di negara-negara lainnya) yaitu school bullying.

Sebelum saya bercerita mengenai cerita film ini, mari kita lihat dulu judulnya, All About Lily Chou-chou. Siapakah Lily Chou-chou? Dia adalah tokoh fiktif yang diciptakan khusus untuk film ini. Diceritakan dia adalah penyanyi Jepang yang memiliki banyak penggemar fanatik. “She was born on December 8th 1980, at 10.50 pm, the exact time Mark David Chapman killed John Lennon.” Itu adalah sekelumit kalimat yang menerangkan penyanyi tersebut, melalui percakapan-percakapan dalam sebuah forum internet (atau bbs?). Yang mengucapkan (atau mengetikkan, dalam hal ini) kalimat tersebut adalah Philia, admin forum tersebut. Percakapan dalam forum tersebut pun mengalir, yang kebanyakan memuja Lily (namun ada jg yang menghujat) sebagai penyanyi yang memiliki Ether, yang maksud dari kata itu sendiri saya tidak tahu. Namun mengenai kata itu, mari kita bahas nanti.

Percakapan-percakapan awal di forum itu terdapat pada opening film ini yang menurut saya cukup keren, dengan pemandangan seorang remaja laki-laki tengah berdiri di tengah sawah (tunjuk poster) yang sedang mendengarkan musik dari discman-nya (waktu itu belum jaman Ipod :p), dan diiringi lagu Arabesque dari Lily Chou-chou. Remaja laki-laki itu bernama Yuichi Hasumi (Hayato Ichihara). Dia adalah remaja berusia sekitar 14 tahun dan merupakan salah satu pemuja Lily Chou-chou. Lalu kita akan melihat bagaimana kesehariannya, berkeliaran dengan anak-anak nakal, mencuri CD (bukan, bukan yang segitiga) dari toko dan menjualnya kembali. Lalu, apakah itu berarti Yuichi anak nakal? Tidak. Yuichi melakukan itu karena ancaman seseorang, yaitu Hoshino (Shugo Oshinari) yang meupakan teman sekolahnya. Yuichi adalah kaki tangan sekaligus korban bullying Hoshino. Hoshino selalu menyiksa dan mempermalukan dirinya, bahkan ia juga menghancurkan CD album terbaru Lily Chou-chou kepunyaan Yuichi.

Kita kemudian akan dibawa pada beberapa waktu sebelum itu terjadi. Kita akan dikejutkan bahwa dulu, Yuichi dan Hoshino adalah sahabat dekat. Bahkan, yang memperkenalkan musik Lily Chou-chou pada Yuichi adalah Hoshino. Hoshino juga dulu terkenal sebagai anak baik-baik dan salah satu siswa terpintar di sekolah. Setelah berlibur ke Okinawa dengan Yuichi dan teman-teman lainnya, perubahan mulai tampak pada diri Hoshino. Ia jadi badung dan nakal, dan suka membully anak-anak lainnya, termasuk sahabatnya sendiri, Yuichi. Salah satu korban lainnya adalah Shiori Tsuda (Yu Aoi), teman sekelas Yuichi, yang diseret oleh Hoshino untuk memasuki dunia prostitusi dan mengambil sebagian keuntungan yang didapatnya. Lalu ada juga Yoko Kuno (Ito Ayumi), gadis yang pintar memainkan piano dan pecinta Debussy, yang kemudian turut menjadi korban bullying Hoshino. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka semua? Apakah Hoshino akan berhenti melakukan tindakan kejam pada teman-temannya? Apa hubungannya dengan Lily Chou-chou? Tonton aja deh.

All About Lily Chou-Chou adalah sebuah film yang memiliki dua kemungkinan bagi anda yang menontonnya. Yang menontonnya mungkin akan membenci atau mencintai film ini, namun  akan jarang yang menganggapnya biasa-biasa saja selain dua perasaan tersebut (ini teori seenak saya, gak usah dipercaya). Saya sendiri termasuk ke golongan nomor 2, yaitu yang mencintai film ini. Well, setelah menonton film ini, saya terus kepikiran dan terngiang-ngiang sama ceritanya. Film ini ‘sakit’ dan bikin depresi (dan sepertinya saya penyuka film-film depressing). Film ini membuat kita merasa miris melihat anak-anak remaja yang harusnya memiliki masa depan yang masih sangat panjang harus dihancurkan hidupnya hanya karena satu orang. Namun, itulah kenyataannya. Hidup memang bisa menjadi sangat kejam.

Untuk karakter Hoshino sendiri, saya tidak bisa membenci karakter ini. Bukannya saya menyetujui tindakan tak terpuji karakter ini. Tapi perasaan saya pada dia lebih kepada kasihan daripada benci. Mungkin orang-orang akan bertanya, kenapa karakter ini tiba-tiba berubah? Saya rasa itu bukan tanpa alasan. Menurut saya, dia lelah karena selalu dianggap sebagai orang yang cerdas dan sempurna, padahal dia tidak seperti itu. Ia ingin orang lain melihat dirinya sebagaimana dirinya yang sebenarnya, namun orang-orang tetap memandangnya terlalu tinggi. Nobody understands me, katanya. Karena itu, ketika di Okinawa ia hampir mati karena tenggelam, ia mulai berubah dan melepaskan image baik-baik yang dikenakannya, dan segala rasa muak yang ia tahan sebelumnya ia keluarkan habis-habisan karena pengalaman hampir matinya tersebut membuatnya merasa mungkin ia tidak akan mendapat kesempatan hidup lagi, sehingga ia mulai menampakan kepribadiannya yang sebenarnya.

Semua pemain di film ini berakting dengan baik. Well, akting mereka lebih banyak ditunjukkan melalui ekspresi-ekspresi yang mereka tampilkan (yang menurut saya inilah kelebihan film Jepang, aktor-aktrisnya lebih banyak bermain dengan ekspresi, sehingga banyak film jepang yang dialognya tidak begitu banyak). Oh ya, di film ini juga  ada Yu Aoi (yang jadi Alice di Hana and Alice) dan menurut saya aktingnya bagus banget. Dia memang aktris yang sangat berbakat 🙂 Dan, seperti di Hana and Alice, sinematografi film ini juga sangat bagus. Selain selalu menyuguhkan cerita yang bagus, kelebihan Shunji Iwai tampaknya ada pada sinematografinya yang wajib diberi 4 jempol. Salut!

Lalu, apa hubungannya Lily Chou-Chou dengan cerita film in? Well, 4 karakter utama film ini semuanya adalah penggemar Lily Chou-Chou (meskipun karakter Shiori baru suka belakangan). Menurut pendapat anggota forum pecinta Lily Chou-Chou yang ada di film ini, musik Lily Chou-Chou itu memiliki ether, yang menurut salah satu anggota dapat diartikan sebagai “a place of eternal peace”. Lily Chou-Chou adalah semacam pelarian dari kehidupan nyata mereka yang penuh kesemrawutan. Hanya dengan mendengar Lily Chou-Chou sajalah mereka dapat menemukan kedamaian. Makanya karakter Lily Chou-Chou ini dipuja habis-habisan oleh para penggemarnya karena musiknya dianggap dapat menyembuhkan luka mereka. Oh ya, percakapan di forum tersebut (yang terselip di beberapa adegannya) memberikan suatu teka-teki tersendiri untuk kita pecahkan. Kita akan dibuat bertanya-tanya apakah user-user forum tersebut adalah karakter-karakter di film ini (seperti Yuichi, Hoshino, dan lainnya)? Kita dapat melihat bahwa user yang menonjol di forum tersebut adalah Philia (admin forum tersebut) dan Blue Cat (member yg tergolong baru dan kemudian memiliki semacam ‘kedekatan’ dengan Philia di forum tersebut). Siapakah mereka sebenarnya? Hal tersebut akan terjawab di bagian akhir, meskipun hal tersebut diperlihatkan secara tersirat, tapi kalo jeli pasti akan ketebak (dan hal tersebut tidak sesuai bayangan saya di awal-awal). Terakhir, soundtrack film ini bener-bener bagus!! Saya langsung download soundtrack film ini (btw yang menyanyikan lagu-lagu di album ini sekaligus yg memerankan Lily Chou-Chou adalah penyanyi Jepang bernama Salyu) dan lagu-lagunya langsung nempel di kepala saya. Dan setelah mendengar soundtracknya, rasanya saya jadi benar-benar mengerti makna kata “the ether” yang sering dibilang penggemar Lily Chou-chou. YES! I CAN FEEL THE ETHER! Favorit saya lagu Glide yang berada di bagian credits film ini. Benar-benar lagu yang bagus dan penempatannya juga pas 🙂 Terakhir (terakhir terus nih, kapan beresnya?), meskipun karakter Lily Chou-Chou ini hanya hidup melalui lagu-lagu serta pembicaraan para anggota forum (dan cuplikan video klip di konser), menurut saya karakter ini terasa nyata sekali. Sayangnya ini cuma karakter fiktif.

Hmm, sebenernya masih banyak yang pengen saya tulis mengenai film ini karena film ini menurut saya berpotensi untuk mengundang berbagai macam diskusi, tapi tampaknya reviewnya udah kepanjangan ya. Saran terakhir saya, lebih baik tonton film ini setidaknya dua kali, karena menurut saya film ini tidak mudah dipahami dengan sekali nonton. 5 bintang dari saya 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Hana (Suzuki Anne) dan Alice (Aoi Yu) adalah dua orang anak remaja yang sudah bersahabat sejak kecil. Persahabatan mereka sangat erat, seolah-olah tidak dapat dipisahkan. Selain itu, mereka juga sama-sama mengikuti kursus balet di tempat yang sama. Suatu hari, ketika mereka sama-sama bolos sekolah dan berpetualang dengan menggunakan kereta api, dari jarak agak jauh mereka melihat dua orang cowok SMA yang tampangnya lumayan tampan di kereta tersebut. Alice langsung tertarik pada salah satu cowok yang lebih tinggi dan wajahnya mirip bule, dan ia mengatakan pada Hana kalau ia boleh mengambil cowok yang satunya lagi. Dengan tampang ogah-ogahan Hana langsung menolak hal tersebut. Namun siapa yang menyangka, Hana sebenarnya tertarik pada cowok tersebut (yang lebih pendek). Jika Alice kemudian melupakan kejadian tersebut, Hana tidak demikian. Ia kemudian jadi sering memata-matai cowok yang nantinya diketahui bernama Miyamoto Masashi (Tomohiro Kaku) tersebut. Hana dan Alice pun kemudian lulus SMP dan mereka sama-sama masuk ke SMA yang sama. Ternyata cowok yang dimata-matai Hana juga bersekolah di SMA yang sama dengan mereka berdua. Berusaha mendekati Miyamoto, Hana masuk ke ekstrakurikuler “Storytelling” yang hanya beranggotakan dua orang termasuk Miyamoto. Namun, mendekati Miyamoto bukanlah hal yang mudah, karena cowok tersebut bisa dibilang cowok yang anti sosial dan perhatiannya selalu ia habiskan kepada buku. Di kereta dan di mana pun ia berada, ia selalu membaca buku, termasuk ketika ia berjalan pulang ke rumahnya. Karena terlalu fokus membaca buku, ia jadi tidak memperhatikan sekitar dan akhirnya menabrak pintu garasi sebuah rumah. Hal tersebut membuat Miyamoto terjatuh dan hampir tak sadarkan diri. Hana yang sedari tadi mengikuti Miyamoto, langsung menghampiri Miyamoto untuk memastikan keadaannya. Miyamoto malah bertanya “siapa kamu?” pada Hana, karena Miyamoto memang baru berkenalan dengan Hana hari itu sehingga dia tidak begitu mengingat Hana. Hal tersebut kemudian dimanfaatkan Hana yang mengatakan bahwa dia adalah pacar Miyamoto. Jadi begitulah seterusnya, Miyamoto dibuat percaya bahwa dia menderita amnesia akibat kejadian tersebut, sehingga Hana mendapat kesempatan untuk selalu dekat dengan Miyamoto yang disukainya. Namun, satu buah kebohongan sering kali menghasilkan kebohongan-kebohongan yang lain. Karena suatu kejadian, Alice kemudian dengan terpaksa terlibat dalam kebohongan Hana dan disuruh Hana untuk berpura-pura menjadi mantan pacar Miyamoto. Karena Miyamoto juga tidak ingat sama sekali pada Alice *yaiyalah*, ia mencoba mendapatkan ingatannya kembali dengan cara menemui Alice beberapa kali. Hal tersebut malah menjadi bumerang bagi Hana, karena Miyamoto kemudian malah jatuh cinta pada Alice, begitu juga sebaliknya. Lalu, apa yang akan terjadi pada mereka bertiga, terutama apa yang akan terjadi pada persahabatan Hana dan Alice di saat mereka menyukai laki-laki yang sama? Mana yang akan mereka pilih, cinta atau persahabatan?

Jika kamu anti film remaja dan selalu menganggap film remaja sebagai film murahan, berarti kamu belum menonton film ini. Hana and Alice (judul aslinya Hana to Arisu) adalah satu film remaja yang menurut saya layak banget buat ditonton semua penikmat film. Saya sukaaaaaaa sekali sama film ini. Ceritanya sederhana, menarik, dan gampang untuk diikuti. Tapi meskipun tergolong ke dalam film dengan tema yang ringan, film ini bukanlah tipe film yang gampang dilupakan. Yang paling berkesan dari film ini adalah akting dua pemain utamanya, yaitu Suzuki Anne dan Aoi Yu. Akting mereka berdua (terutama Aoi Yu) turut membuat film ini jadi hidup. Mereka berdua juga menampilkan chemistry yang sangat pas sebagai dua orang sahabat karib. Begitu pula dengan Tomohiro Kaku yang berperan sebagai Miyamoto Masashi (yg dari namanya aja langsung bikin saya ngakak), cowok yang disukai oleh kedua sahabat ini. Saya suka banget sama karakter Miyamoto ini, karena bisa dibilang karakternya ini bukanlah tipe karakter yang mudah dipuja kaum perempuan. Tapi keanehan dan keabnormalan karakternya ini lah yang membuat karakter ini menjadi sangat menarik (plus tampang datar tanpa ekspresi-nya itu menurut saya lucu banget :D).

Salah satu kelebihan film ini adalah sinematografinya yang cantik. Misalnya ketika Hana dan Alice sedang berjalan bersama-sama di adegan awal. Selain itu, saya juga suka banget sama rumahnya Hana yang kelihatan indah banget dan dipenuhi banyak bunga (sesuai dengan nama Hana yang merupakan bahasa Jepang-nya bunga). Sebaliknya, rumah Alice digambarkan sangat berantakan. Hal itu turut didukung latar belakang keluarganya di mana Alice tinggal hanya dengan ibunya saja yang tampaknya tidak begitu peduli pada Alice dan malah berpura-pura bahwa Alice adalah tetangganya ketika ia dan pacarnya bertemu Alice di suatu tempat. Oh iya, adegan favorit saya (dari segi gambar): ketika festival sekolah, Hana dan Miyamoto berbicara di suatu kelas, dan ada balon besar dengan bentuk Astro Boy ‘mengintip’ mereka dari balik jendela. Itu bagus banget XD

Banyak hal yang ingin disampaikan film ini, misalnya mengenai kebohongan. Satu buah kebohongan akan membuka kesempatan bagi kita untuk berbohong lagi dan lagi demi menutupi kebohongan yang pertama tersebut, dan kebohongan macam apa pun adalah tidak baik, dan cepat atau lambat pasti kebohongan-kebohongan tersebut akan terbongkar juga, seperti yang terjadi di film ini. Film ini juga menunjukkan makna persahabatan yang sebenarnya, bahwa persahabatan memiliki nilai yang berbeda dan bahkan lebih penting daripada cinta. Persahabatan juga dapat membuat orang berubah menjadi lebih baik, seperti yang terjadi pada Hana dan Alice, di mana kejadian-kejadian yang menguji persahabatan mereka turut menjadi proses pendewasaan bagi mereka berdua. Well, kesimpulannya, jika kamu ingin menonton film remaja yang menghibur sekaligus berisi, maka tontonlah film ini 🙂

Nb: Abe Hiroshi (Aoi Tori, Dragon Zakura) dan Ryoko Hirosue (Okuribito, Beach Boys) turut bermain dalam film ini sebagai cameo.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »