Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2010

Akhir-akhir ini saya lagi hobi baca novel-novelnya Mitch Albom nih. Novelnya yang pertama saya baca itu adalah The Five People You Meet in Heaven. Lalu yang kedua adalah For One More Day. Dua buku itu lumayan saya suka dan keduanya sama-sama memiliki tema yang cukup ‘dalem’, yaitu menceritakan tentang makna hidup, kematian, dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Namun, sedalem-dalemnya dua buku itu, menurut saya lebih ‘dalem’ lagi Tuesdays with Morrie, buku Mitch Albom yang ketiga yang saya baca. Saya sukaaaaa sekali buku ini. Ceritanya deeeeep banget *baca: dalem :p*. Gak heran kalo di sampul depan novel-novel Mitch Albom lainnya selalu tercantum kalimat “dari pengarang Tuesdays with Morrie”. Tampaknya novel ini adalah masterpiece dari pengarang satu itu.

Tuesdays with Morrie bercerita tentang kisah nyata yang dialami oleh sang pengarang sendiri, Mitch Albom dengan mantan dosennyanya di universitas, Morrie Schwartz. Sejak Mitch lulus, guru dan murid ini sudah tidak pernah berhubungan lagi, padahal Mitch sudah berjanji akan tetap menghubungi Morrie meskipun ia sudah lulus. Dan, setelah tanpa sengaja melihat sebuah acara televisi di mana Morrie tampil menjadi bintang tamu, Mitch kembali menghubungi mahagurunya tersebut. Ia akhirnya mengetahui bahwa saat ini Morrie menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), sebuah penyakit ganas dan tak kenal ampun yang menyerang sistem saraf. Penyakit tersebut terus menggerogotinya, dan Morrie sendiri tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Namun, hal tersebut sama sekali tidak menurunkan semangat Morrie. Ia sama sekali tidak menyerah. “Sebaliknya, ia bermaksud menjadikan kematian sebagai proyeknya yang penghabisan, pusat perhatiannya selama hari-hari yang masih tersisa. Karena siapa pun kelak akan mati, upayanya pasti akan berguna, betul kan? Ia dapat menjadi obyek penelitian itu sendiri. Ia akan menjadi buku bernama manusia. Belajarlah dari lambat dan perlahannya proses kematianku. Perhatikan apa pun yang terjadi padaku. Belajarlah bersamaku.” (dikutip dari halaman 11)

Akhirnya, tiap minggu-nya, tepatnya setiap hari Selasa, Mitch menemui Morrie, dan kembali melakukan  ‘kuliah’ bersamanya, yaitu kuliah tentang makna hidup, seperti tentang dunia, kematian, penyesalan, keluarga, emosi, pernikahan, uang, budaya, dan hal-hal lainnya. Banyak hal yang didapat Mitch melalui kuliah-kuliahnya tersebut, dan melalui pengalaman-pengalaman yang diceritakan oleh Morrie, Mitch mulai bisa memaknai hidupnya yang awalnya berjalan dengan datar.

Saya suka buku ini. Seperti yang saya bilang di atas, buku ini bener-bener ‘dalem’. Bukan hanya Mitch saja yang bisa belajar dari sosok bijaksana seorang Morrie, tapi juga para pembaca novel ini. Pesan-pesan yang disampaikan Morrie melalui buku ini bener-bener ‘kena’ banget, dalem, dan gak berkesan menggurui. Salah satu kutipan favorit saya dari buku ini yang diucapkan oleh Morrie, “begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana kita harus hidup.”

Buku ini mengajarkan pada kita, bahwa setiap manusia pasti akan mati. Karena itulah, kita harus menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya. Morrie sendiri sama sekali bukan karakter yang betul-betul sempurna. Walaupun ia terlihat tenang dan bijaksana dalam menghadapi penyakit yang menggerogotinya, bukan berarti ia tidak merasa takut sama sekali. Saya suka sekali dengan konsep Morrie tentang ‘mematikan perasaan’. Morrie mengajarkan pada kita untuk tidak selalu menahan emosi, karena apabila emosi-emosi tersebut ditahan, kita tidak akan pernah dapat mematikan rasa dan akan selalu sibuk menghadapi rasa takut.

Selain itu saya juga suka dengan bab yang membahas tentang maaf. Di sini Morrie mengajarkan agar kita memaafkan diri sendiri sebelum memaafkan orang lain. Kita pasti pernah merasakan berbagai macam penyesalan dalam hidup ini, dan hal itu sering membuat kita menghukum diri sendiri. Karena itu, maafkanlah dirimu sendiri, berdamailah dengan dirimu sendiri dan orang lain. Bisa dibilang bab yang ini adalah bab yang paling saya suka dari buku ini ❤

Sekian saja review dari saya. Buku ini sangat recommended. Cocok bagi orang-orang yang menyukai novel-novel dengan tema seputar makna hidup. Gaya penulisannya pun sederhana dan sangat enak diikuti (meskipun saya baca terjemahannya). 5 bintang dari saya!

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Hai! Kali ini saya akan me-review salah satu dorama yang sangat berkesan buat saya sampai sekarang, yaitu Densha Otoko. Sampai sekarang saya menobatkan dorama ini sebagai salah satu dorama terbaik yang pernah saya tonton. Dorama ini pertama kali saya tonton waktu kelas 3 SMA, dan udah sering banget saya tonton ulang *sampe dvd-nya macet*

Di Jepang, dorama ini sendiri sangat populer dan banyak mendapat penghargaan.  Cerita dalam dorama ini diangkat dari kisah nyata, yaitu dari percakapan-percakapan pada sebuah thread di 2channel, salah satu message board terkenal di Jepang sana. Kisah tersebut dengan cepat menjadi terkenal dan diangkat ke banyak media, mulai dari film bioskop, komik, novel, dan salah satunya ya dorama yang saya review sekarang ini.

Densha Otoko (Train Main) ini bercerita tentang kisah cinta antara seorang otaku dengan seorang perempuan cantik. Nah, apa sih otaku itu? Pengertian umumnya sih, otaku dapat diartikan sebagai orang yang sangat menggemari suatu hobi (dan cenderung fanatik terhadap hobi tersebut). Arti otaku sendiri kemudian menyempit dan sering diartikan sebagai orang yang sangat menggemari anime/manga/game. Di Jepang sendiri, Otaku dianggap negatif karena mereka dianggap terlalu berlebihan dan hampir bisa disamakan dengan freak atau maniak (padahal kalo di Indonesia, banyak orang yang bangga menganggap diri mereka sebagai otaku).

Yamada Tsuyoshi (Ito Atsushi) adalah orang yang bisa dibilang memenuhi kriteria sebagai seorang otaku. Ia sangat menggemari anime dan manga. Kamarnya dipenuhi banyak merchandise anime manga (yang bikin saya sirik karena saya pengen itu semua). Tiap minggunya ia sering pergi ke akihabara (distrik yang terkenal sebagai pusat perdagangan alat-alat elektronik dan hal-hal yang berhubungan dengan anime-manga di Jepang) bersama teman-temannya yang juga sesama otaku. Dari segi penampilan, pria kantoran ini bisa dibilang memiliki penampilan yang menyedihkan dan gaya berpakaian yang cenderung culun. Ia juga agak rendah diri dan gampang grogian.

Suatu hari, dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia melihat seorang wanita cantik (diperankan Ito Misaki) di kereta api dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada wanita itu. Lalu tiba-tiba saat itu juga ada seorang pria tua yang sedang mabuk muncul dan mengganggu para penumpang kereta, dan juga mengganggu wanita cantik tersebut. Dengan segenap keberanian, Yamada menolong wanita tersebut, meskipun akhirnya ia malah terluka karena mendapat pukulan dari pria mabuk tersebut. Namun, si wanita cantik tersebut (juga para penumpang lainnya) sangat berterimakasih pada Yamada dan meminta Yamada menuliskan alamatnya. Yamada yang kemudian pulang setelah kejadian itu, menuliskan pengalamannya tersebut di sebuah forum bernama Aladdin channel, pada sebuah thread khusus untuk pria single. Ceritanya tersebut mendapat banyak tanggapan dari user-user lainnya, mereka mengatakan bahwa wanita cantik tersebut pasti akan mengirimkan sesuatu padanya sebagai ungkapan terimakasih. Awalnya Yamada tidak yakin akan hal tersebut, namun keesokan harinya ia dikejutkan dengan kedatangan sebuah paket berisi seperangkat cangkir dengan merk Hermes (merk yang bisa dibilang ‘mahal’) dari wanita tersebut. Yamada amat terkejut dan ia kembali melaporkan hal tersebut di forum, dan teman-teman forumnya kemudian menganjurkannya untuk menghubungi wanita tersebut. Akhirnya, dengan bantuan teman-teman forum yang sama sekali tidak dikenalnya itu, Yamada berusaha untuk mendekati wanita tersebut (yang kemudian disebut dengan nama “hermes” di forum, yamada sendiri kemudian mendapat julukan  “densha otoko” yang bisa diartikan sebagai lelaki kereta api). Atas saran teman-teman forumnya, ia mulai mengganti penampilannya menjadi lebih baik dan menyembunyikan jati dirinya sebagai otaku (karena otaku sering dianggap negatif di Jepang sana). Lalu, apakah usaha Densha Otoko ini berhasil? Apakah ia berhasil meraih hati Hermes? Tonton aja deh.

Menurut saya, dorama ini sangat bagus dan menyentuh. Paket komplit kalo boleh saya bilang. Lucu, romantis, dan mengharukan. Selain itu, yang menjadi kelebihan dorama ini buat saya malah bukan kisah cintanya, tapi kisah persahabatan antara para user Aladdin channel tersebut (yang semuanya tidak saling mengenal sama sekali). Usaha yang dilakukan Densha dalam mendekati Hermes, mengetuk hati para anggota Aladdin channel lainnya dan membuat mereka jadi memiliki keberanian dalam menghadapi masalahnya masing-masing.

Akting pemainnya pun top! Ito Atsushi sangat pas memerankan si densha otoko yang culun dan agak rendah diri. Begitu juga dengan Ito Misaki yang cantik banget di sini. Tapi, yang paling saya suka aktingnya di sini adalah Shiraishi Miho yang berperan sebagai Jinkama-san. Mantep banget dah aktingnya di sini! Gak heran kalo dia dapet penghargaan sebagai best supporting actress pada 46th Television Drama Academy Awards melalui dorama ini. Aktor aktris lainnya pun berperan sangat baik di dorama ini, seperti Hayami Mokomichi dan Horikita Maki. Oh ya, di dorama ini juga ada Shun Oguri loh, sebagai admin Aladdin channel yang hampir gak pernah bicara di dorama ini (cuma di episode2 akhir aja dia akhirnya bicara).

Soundtrack-nya pun bagus-bagus. Dorama ini dibuka dengan pemandangan di akihabara dengan latar musik lagu Mr. Roboto-nya Styx. Opening theme-nya pun (yang berlatar musik lagu Twilight-nya Electric Light Orchestra) dibikin dengan sangat niat karena menampilkan sebuah tayangan animasi dari Getsumen Heiki Mina, anime ‘fiktif’ yang sangat digemari oleh densha otoko. Sampai-sampai, kepopuleren Densha Otoko membuat Getsumen Heiki Mina ini dibikin sebagai serial animasi beneran di Jepang sana. Ending song-nya pun gak kalah enak, lagu Sekai wa Sore wo Ai to Yobun da ze dari Sambomaster.

Well, kesimpulannya dorama ini buat saya bagus dan sangat recommended. Dorama ini mengajarkan keberanian pada kita melalui usaha yang dilakukan si Densha Otoko dalam mendekati Hermes. 5 bintang dari saya!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Saya baru nonton film ini beberapa hari yang lalu. Dan ini adalah film Prancis pertama yang saya tonton (#pengakuan)! Sebelumnya malah saya gak tau sama sekali kalo ini film Prancis, hihi. Dan film ini sendiri baguuuuuus banget. Saya bener-bener tersentuh melihat keindahan dari film ini.

Sesuai judulnya, film ini bercerita tentang Amelie  (Audrey Tautou) , seorang pelayan sebuah restoran yang memiliki kepribadian yang unik sekali. Amelie adalah orang yang agak introvert, sejak kecil ia memiliki imajinasi yang sangat tinggi dan suka menciptakan dunia sendiri. Suatu hari, ia menemukan sebuah kotak berisi banyak mainan di apartemennya. Kotak “harta karun anak kecil” itu ditenggarai dimiliki oleh penghuni apartemen sebelumnya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Amelie lalu memilki ide untuk mengembalikan kotak tersebut pada pemilik aslinya. Dengan penuh perjuangan, ia berusaha mencari pria tua yang dulunya adalah pemilik kotak tersebut. Akhirnya perjuangan tersebut membuahkan hasil, Amelie berhasil menemukan pria tua tersebut, dan mengembalikannya dengan cara yang amat berkesan, tanpa membuka identitasnya. Amelie begitu bahagia ketika melihat pria tua itu begitu terharu mendapat ‘harta karun’nya waktu kecil. Sejak itu, Amelie bertekad untuk membahagiakan orang-orang di sekelilingnya, mulai dari ibu-ibu tetangga apartemennya, seorang pelukis tua, teman kerjanya di restoran, bahkan ayahnya sendiri. Hal tersebut dilakukan Amelie dengan cara-cara yang unik dan sangat berkesan, tapi tanpa menunjukkan jati dirinya. Seperti peribahasa, “tangan kanan memberi, tangan kiri gak perlu tahu,” Amelie menolong orang-orang tersebut dengan tulus dan tanpa ada rasa pamrih. Lalu, meskipun ia selalu menolong orang-orang lain, lalu bagaimana dengan kebahagiaannya sendiri? Saya bener-bener menyarankan kalian untuk menonton film ini. Film ini wajib tonton pokoknya XD

Film ini hadir dengan kemasan yang unik dan indah. Dari adegan awalnya aja buat saya udah menarik! Saya sukaaa sekali melihat adegan-adegan awal di mana karakter-karakter di film ini diperkenalkan (misalnya: karakter ini suka ini dan benci itu). Adegan-adegan pengenalan tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa setiap manusia memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing. Suara narator dalam membawakan narasi film ini pun turut memperkuat jalinan cerita film ini.

Humor dalam film ini pun amat menggelitik, melalui karakter Amelie yang kepribadiannya benar-benar unik, serta khayalan-khayalannya yang imajinatif. Adegan-adegan dalam film ini pun sangat unik dan mengundang kita untuk tersenyum (juga terharu). Selain itu, sinematografi film ini pun sangat indah dan amat memanjakan mata.

Melalui film ini kita diajak untuk belajar dari tokoh Amelie, yang selalu bersusah payah untuk membahagiakan orang lain. Baginya, kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya turut membuatnya bahagia. Dan ia tidak pernah mengharap imbalan dari orang-orang yang ditolong (menunjukkan bahwa dia adalah ‘seorang penolong’ pun tidak sama sekali). Coba, masih ada gak orang yang seperti Amelie di jaman sekarang ini? Menolong orang tanpa mengharapkan apa-apa. Mungkin (mungkin ya) tanpa disadari kita (saya juga loh), setulus-tulusnya kita dalam menolong orang, kita pasti masih mengharapkan sesuatu dari orang yang kita tolong (walaupun sekedar ucapan terimakasih). Bahkan, kalo kata dosen saya, melakukan ibadah pun kita pamrih (karena mengharap pahala ataupun surga).

Selain hal itu, saya juga suka kisah percintaan antara Amelie dan si cowok pengkoleksi foto yang juga merupakan pegawai di sex shop. Mungkin di sinilah kita melihat sisi ‘pamrih’ dari seorang Amelie, berawal dari ingin mengembalikan buku koleksi foto milik cowok itu, ia mulai jatuh cinta dan berharap untuk dapat ‘dilihat’ oleh lelaki itu. Dan kisah cinta antara Amelie dan si pengkoleksi itu digambarkan sangat maniiiiiis sekali.

Dari segi akting, para aktris dan aktor film ini bermain sangat baik. Namun, yang paling perlu disorot tentunya karakter Amelie yang diperankan oleh Audrey Tautou. Audrey Tautou sangat pas dalam memerankan Amelie yang sifatnya sangat ‘unik’ sekali. Saya juga suka gaya rambutnya di sini, yang meskipun aneh tapi kalo diliat-liat lucu juga.

Ja, segini aja review dari saya. Film ini amatlah bagus, unik, juga menyentuh. 4,5 bintang deh!

Rating : 1 2 3 4,5 5

Read Full Post »

Dulu, masa-masanya saya demen banget sama film India adalah masa-masa SD. Film India pertama yang saya tonton (kalo gak salah) adalah Kuch Kuch Hota Hai yang dibintangi oleh Shah Rukh Khan dan Kajol. Waktu itu, film ini begitu populer dan mungkin waktu SD itu saya gak keitung udah nonton film itu berapa kali. Sampai-sampai, salam khas Rahul – Anjali (salam dengan tangan saling menyentuh hidung) sering saya lakukan dengan teman-teman saya. Waktu itu, Kuch Kuch Hota Hai ini bikin saya jadi suka nonton film India yang lain, mulai dari film-film India yang ditayangkan di tv ataupun pinjem ke rental. Namun, seiring bertambahnya umur *ceileh* saya udah gak pernah nonton film India lagi. Makin nambah umur saya jadi mikir “ih film india kok dimana-mana dikit-dikit nari sama nyanyi sih?” dan karena faktor itulah saya jadi males nonton film India.

Dan akhir-akhir ini, sepertinya demam film India melanda Indonesia lagi. Akhir-akhir ini, di situs-situs microblogging seperti twitter, saya sering mendengar film-film India yang sedang ditayangkan di Indonesia, contohnya 3 Idiots (huhu belum nonton nih) disebut-sebut dan dipuji-puji oleh para microblogger (err….microblogger kok rasanya terdengar ganjil ya?). Belum reda kepopuleran 3 Idiots, ada lagi film India yang baru ditayangkan di bioskop Indonesia, yaitu My Name is Khan yang memasang dua bintang utama Kuch Kuch Hota Hai sebagai pemainnya, yaitu Shah Rukh Khan dan Kajol (dan sutradaranya pun sama dengan sutradara Kuch Kuch Hota Hai). Belum berhasil nonton 3 Idiots, akhirnya hari Senin kemaren saya memilih untuk nonton My Name is Khan bersama kakak saya.

My Name is Khan sendiri bercerita tentang seorang penderita asperger  syndrom bernama Rizvan Khan (Shah Rukh Khan) yang merupakan seorang muslim. Rizvan adalah orang yang sangat pintar. Dan, meskipun memiliki kekurangan, ibunya membesarkan dia dengan penuh kasih sayang sehingga Rizvan tumbuh menjadi anak yang baik hati. Setelah sang ibu meninggal, Rizvan memilih untuk pergi ke Amerika (tepatnya di San Fransisco) dan tinggal bersama adik laki-lakinya yang sudah lebih dulu tinggal di sana. Di San Fransisco, Rizvan bekerja sebagai sales produk kecantikan, dan pada suatu hari ia bertemu dengan Mandira (Kajol), seorang hairstylist beragama Hindu, dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Akhirnya, setelah melalui beberapa hal, Rizvan akhirnya menikah dengan Mandira yang juga merupakan janda dengan satu anak laki-laki bernama Sameer. Pernikahan mereka sangat bahagia, sampai akhirnya ada sebuah kejadian luar biasa yang kita semua sudah ketahui, yaitu peristiwa 9/11 alias pemboman gedung World Trade Center (WTC). Kejadian tersebut menimbulkan pengaruh yang besar pada pandangan orang-orang Amerika terhadap orang Islam. Setelah kejadian itu, banyak orang-orang Islam yang diganggu karena disangka teroris, tak terkecuali Rizvan dan keluarganya. Sameer dan Mandira, yang meskipun beragama Hindu, karena menikah dengan Rizvan yang beragama Islam, jadi dianggap buruk pula oleh masyarakat. Gongnya, ketika ada sebuah peristiwa yang menimpa Sameer (berusaha untuk tidak spoiler), Mandira marah besar pada Rizvan dan menyuruh Rizvan pergi, dan mengizinkannya kembali dengan syarat ia harus bertemu dengan presiden Amerika dan mengucapkan “My name is Khan and I’m not terrorist”. Perintah tersebut diterima Rizvan dan ia pergi dari rumah mereka untuk menjalankan misinya. Apa yang selanjutnya akan terjadi pada Rizvan? Apakah ia akan berhasil bertemu dengan presiden dan mengutarakan maksudnya? Tonton aja deh.

Film ini bagus loh! Saya suka melihat kisah hidup Rizvan ini, dari kecil sampai dewasa. Film ini juga disajikan dengan sangat menghibur, banyak adegan lucunya, tapi juga banyak yang mengharukan.

Film ini menyajikan sebuah isu yang mungkin bisa dibilang agak telat (tragedi 9/11) tapi gak ada salahnya juga ditampilkan. Film ini ingin menunjukan bahwa Islam bukanlah agama teroris. Saya suka sekali ajaran dari ibu Rizvan yang sangat melekat di hati Rizvan hingga dewasa, bahwa manusia itu dibagi menjadi dua macam, manusia yang baik dan manusia yang jahat. Saya agak miris liat orang-orang muslim dicap buruk hanya karena kelakuan dari oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan perbuatannya sebagai jihad. Selain itu, film ini mengajarkan toleransi, contohnya pada karakter Rizvan yang mau membantu warga Wilhelmina yang terkena badai, tanpa memandang apa agama mereka.

Ya, yang saya suka di sini adalah karakter Rizvan yang diperankan oleh Shah Rukh Khan, si penderita asperger syndrom yang cerdas. Shah Rukh Khan berhasil menghidupkan karakter ini. Bicaranya yang agak patah-patah, ekspresinya saat sedang tersipu, dan kepolosan-kepolosannya membuat karakter ini merupakan salah satu daya tarik dari film ini. Yang saya gak suka aktingnya di sini malah aktingnya Kajol sebagai Mandira. Gimana ya, kok rada kurang sreg gitu sama aktingnya. Apalagi pas adegan dia lagi marah-marah sama Rizvan? Rasanya kurang gimanaaaaa gitu *alah*.

Ceritanya sendiri sangat mengalir dan gak bikin bosen. Meskipun banyak adegan-adegan yang bisa dibilang lebay, tapi saya memakluminya kok, toh gak terlihat ganggu juga. Dan, awalnya saya ngira film ini akan ada adegan nyanyi-nyanyi plus nari-nari, tapi ternyata nggak loh! Musik yang ditampilkan dalam film ini hanya sebagai latar saja, gak pake acara nyanyi-nyanyi + nari XD.

Kekurangan film ini sih buat saya durasinya yang terlalu lama (dan akting Kajol). Kayaknya ada beberapa adegan yang lebih baik gak ada (contoh: pas Rizvan diserang, gak ada adegan itu kayaknya juga gak bakal berpengaruh) di film ini. Selain itu, banyak adegan yang kayaknya udah mencapai klimaks, eh tapi ternyata ceritanya belum beres dan ceritanya ditambah lagi. Satu lagi protes saya, PEMERAN OBAMA-NYA GAK MIRIIIIIP!! Kenapa mereka gak mikir buat make obama gadungan yang di iklan bsi aja sih? Yang ini gak mirip sama sekali! :p

Oke, empat bintang deh dari saya. Di luar kekurangan-kekurangannya, film ini sangat recommended. Gak nyesel nontonnya. Oh iya satu lagi, film ini mengingatkan saya pada film Forrest Gump, salah satu film favorit saya. Kalo kamu suka Forrest Gump, mungkin akan suka juga sama film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »