Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2011

Apa yang ada di benakmu jika melihat seorang perempuan berusia hampir mencapai 40 tahun, dengan wajah cantik dan karir yang cemerlang, tapi belum menikah juga sampai sekarang? Kamu mungkin beranggapan bahwa perempuan tersebut memang tidak memiliki minat untuk menikah, atau tidak ada lelaki yang cukup pantas untuk bersanding dengannya (mengingat wanita seperti ini terkesan superior bagi laki-laki).  Mungkin kamu juga akan beranggapan seperti itu jika kamu melihat Ogawa Satoko (Amami Yuki). Dia adalah seorang psikiater berusia 39 tahun dengan karir yang sukses, wajah yang cantik, dan uang yang melimpah. Semua kelebihan yang dimilikinya mungkin akan membuat orang-orang beranggapan bahwa ia adalah sosok wanita mandiri yang sudah tidak butuh apa-apa lagi, termasuk pria. Padahal, sebenarnya Satoko merupakan perempuan yang memiliki impian yang sama dengan perempuan kebanyakan. Dia juga ingin menikah dan membangun keluarga. Namun, memang ia belum menemukan pria yang tepat saja.

Sebaliknya, Morimura Nao (Otsuka Nene), mantan adik kelas sekaligus sahabat dari Satoko, memiliki prinsip untuk tidak akan pernah menikah. Sama seperti Satoko, dia juga termasuk wanita cantik yang memiliki karir yang cemerlang dan tengah menanjak. Nao selalu beranggapan bahwa pernikahan akan merusak karir yang dibangunnya. Namun, tanpa diduga, tiba-tiba ia malah memutuskan untuk menikah, yang artinya hal tersebut bertentangan dengan prinsip hidup yang dianutnya. Apa yang menyebabkan Nao memutuskan hal itu?

Lalu, ada Takeuchi Mizue (Matsushita Yuki) yang merupakan sahabat dari Satoko dan Nao. Kebalikan dari mereka berdua, Mizue adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang memiliki suami dan anak laki-laki yang sudah memasuki usia remaja. Selama ini Mizue selalu merasa bahagia dengan hidupnya, sampai suatu saat ia merasa keluarganya sudah mulai tidak menghargai dirinya lagi. Hal tersebut membuat Mizue mulai memiliki keinginan untuk bekerja dan kembali terjun ke masyarakat. Apakah keinginannya tersebut akan berhasil diwujudkan?

Dorama ini berkisah seputar kehidupan tiga sahabat tersebut dengan masing-masing permasalahannya (dengan penekanan pada kehidupan Satoko), yang sesuai judulnya, adalah perempuan-perempuan dengan usia memasuki 40 tahun. Selain itu, ditampilkan kisah cinta antara Satoko dengan Okamura Keitaro (Fujiki Naohito), psikiater baru di rumah sakit tempat Satoko bekerja yang berusia 6 tahun di bawah Satoko. Bagaimanakah cara Satoko dan dua sahabatnya menjalani hidup mereka di usia yang sudah hampir mencapai setengah abad itu? Tonton aja kakak.

Menonton ini karena faktor Amami Yuki (pemeran Osawa Eriko di dorama BOSS), dan saya sama sekali tidak menyesal menontonnya. Memang, dorama ini mungkin akan kurang menarik bagi sebagian orang, terutama bagi yang berharap akan menemukan aktor-aktris cakep/cantik yang masih muda, mengingat sebagian besar pemeran di sini adalah aktor dan aktris berusia 30 tahun ke atas (tapi buat saya sih, kehadiran Fujiki Naohito udah cukup sebagai penyegar dorama ini XD). Tapi jika yang kamu harapkan adalah cerita yang berbobot dan gak murahan, maka kamu akan menyukai dorama ini.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, dorama ini bercerita tentang permasalahan yang dialami oleh orang-orang (khususnya perempuan) yang usianya sebentar lagi memasuki 40 tahun. Dan ketiga permasalahan yang diwakilkan oleh ketiga karakter sahabat ini menurut saya cukup mewakili permasalahan umum yang dimiliki perempuan-perempuan dengan umur segitu. Perempuan lajang yang ingin menikah tapi belum menemukan pasangan yang tepat, perempuan yang memiliki prinsip untuk tidak menikah tapi ujung-ujungnya malah tiba-tiba menikah, dan ibu rumah tangga yang tiba-tiba ingin bekerja. Secara psikologis, karakter-karakter tersebut juga menurut saya menarik untuk diteliti. Apalagi, karena pekerjaan Satoko adalah seorang psikiater, di sini juga kita tidak hanya akan dihadapkan pada permasalahan psikologis yang dialami oleh tiga karakter itu, tapi juga karakter-karakter lain yang merupakan pasien-pasien Satoko. Buat yang menyukai psikologi atau tertarik dengan film/dorama berbau psikologis, mungkin dorama ini akan menjadi pilihan yang tepat untuk kamu.

Namun, dorama ini sendiri sebenarnya cukup ringan dan enak diikuti. Selain itu, dorama ini menghadirkan banyak humor yang bisa bikin penontonnya nyengir-nyengir sendiri. Hal tersebut berkaitan dengan hubungan antara Satoko dan Okamura yang menurut saya sangat lucu. Aku syukaaa deh sama karakternya Fujiki Naohito di sini. Karakter Okamura ini diceritakan sebagai pria yang sangat hemat (atau pelit?) dan sangat peduli pada masalah seputar global warming. Dan hubungannya dengan Satoko itu digambarkan dengan lucu sekali. Meskipun secara fisik agak kurang cocok (well, dua-duanya sama-sama cantik dan ganteng, tapi kalo disandingkan agak kurang cocok kayaknya :D), tapi mereka berhasil membangun chemistry yang baik di sini, biarpun tanpa mengumbar adegan mesra. Ya, di sini saya paling seneng liat interaksi antara mereka berdua, dan seperti yang diungkapkan oleh dua sahabat Satoko, menurut saya memang cuma Okamura lah pria yang paling cocok dengan Satoko.

Oke, segini aja review saya. Overall, saya suka banget dorama berjumlah 11 episode ini. Cerita, akting, karakter, serta chemistry-nya menurut saya dihadirkan dengan sangat pas dan tidak berlebihan. 4 bintang deh untuk dorama ini.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Mungkin tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu genre yang paling populer dari perfilman Jepang adalah genre horror. Mungkin kamu yang bukan penggemar film Jepang pun tidak akan merasa asing dengan judul-judul seperti Ringu (The Ring), Dark Water, Ju-On, atau One Missed Call. Ya, film-film tersebut adalah beberapa contoh film horror Jepang yang populer sekaligus yang membuat horror Jepang mulai dikenal dunia sampai-sampai dibuat remake-nya oleh Hollywood. Namun, jauh sebelum kehadiran Ringu dan kawan-kawannya, ada sebuah film horror Jepang yang menurut saya tidak kalah dari judul-judul itu, dan yang pasti tidak boleh dilewatkan oleh para penggemar film horror.

Ya, film itu berjudul Hausu (judul bahasa Inggrisnya: House). Film ini termasuk ‘tua’ karena ditayangkan pertama kali pada tahun 1977. Namun, meskipun begitu, menurut saya film ini masih asik dinikmati sampai saat ini maupun tahun-tahun mendatang. Hausu sendiri sebenarnya memiliki cerita yang simpel dan bisa dijelaskan dengan beberapa kalimat saja. Film ini berkisah tentang sekelompok remaja perempuan yang pergi berlibur ke rumah seorang tante dari salah satu dari mereka, di mana si tante tersebut hanya tinggal sendirian di rumahnya yang sangat besar. Di rumah tersebut, satu persatu dari mereka menemui ajalnya.

Ya, dari sinopsis pendek di atas, mungkin kamu akan menilai bahwa film ini seperti film horror kebanyakan karena memiliki plot yang cenderung klise (tinggal diganti lokasi atau pemainnya, maka akan terciptalah banyak film horror yang lain). Lalu, apa yang menjadikan film ini spesial dan tidak akan mudah dilupakan banyak orang? Jawabannya adalah  karena semua adegan di film ini digambarkan dengan fantastis dan tidak biasa. Sebagai sebuah Horror, film ini bukanlah tipe film yang akan membuat kamu ketakutan dan tidak bisa tidur berhari-hari. Namun, ini adalah tipe film yang akan membuat kamu terpana dan tidak bisa berhenti memikirkannya sampai beberapa hari. Orang-orang mungkin akan menyebut film ini sebagai film yang aneh dan gila. Namun, keanehan serta kegilaan yang dimiliki film ini menurut saya adalah nilai lebih dari film ini, dan menjadikannya sebagai tontonan yang unik dan tidak sekadar lewat.

Keunikan yang pertama dari film ini ada pada nama karakter cewek-cewek di sini. Nama-nama tersebut adalah Oshare (arti dalam bahasa Inggris: gorgeous), tokoh utama film ini sekaligus keponakan dari si tante tersebut. Lalu ada Fanta (kependekan dari Fantasy), Prof, Kung Fu, Sweet, Melody, Mac (kependekan dari Stomach). Nama-nama tersebut mencerminkan karakter dari masing-masing tokoh dan membuat kita tidak akan kesulitan dalam membedakan tokoh-tokoh tersebut.

Lalu, keunikan kedua adalah cara kematian mereka. Mungkin hanya di film ini kamu bisa menemukan piano yang bisa memakan orang! Scene-scene kematian dalam film ini digambarkan dengan fantastis dan tidak biasa, meskipun tidak bisa dikatakan menyeramkan. Kadang, scene-scene tersebut malah terlihat konyol. Namun, kekonyolannya tersebut malah membuat film ini semakin menakjubkan.

Ya, hal di atas menurut saya berhubungan dengan style film ini. Film ini memiliki style yang sangat unik dan menggunakan berbagai macam efek seperti slow motion, stop motion, dan beberapa efek lainnya yg saya tidak tahu namanya 😀 Kadang efek-efek yang ada terkesan amatir dan menggelikan. Namun, siapa yang peduli dengan itu? Seperti yang telah saya bilang di atas, kekonyolan yang ada di film inilah yang membuat film ini sangat asik ditonton. Dan saya belum bilang ya kalo selain bergenre horror, film ini juga memiliki genre komedi? 😀

Kalau ditanya apa maksud dari film ini, saya sendiri tidak tahu. Namun, yang saya baca film ini dibuat berdasarkan mimpi yang dialami anak perempuan Obayashi Nobuhiko yang merupakan sutradara film ini. Makanya, menurut saya bayangkanlah menonton film ini seperti ketika kamu sedang bermimpi. Mimpi tidak memerlukan penjelasan atau logika. Mimpi juga kadang memiliki plot yang kacau. Namun, mimpi tetap akan membuat kamu merasa takjub dan terus membayangkannya bahkan ketika kamu sudah bangun. Seperti itulah film ini. Film ini terasa seperti sebuah mimpi yang menakjubkan, dan yang pasti film ini akan membawa kamu pada sebuah pengalaman sinematik yang tidak akan mudah dilupakan 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »


Katanya, cinta bisa membuat orang-orang mau melakukan hal-hal yang bisa disebut sebagai gila atau bodoh. Mungkin karena cinta jugalah, seorang pria bernama Cal Weaver (Steve Carell) mau melakukan hal gila seperti meniduri banyak wanita setelah istrinya, Emily (Julianne Moore), meminta cerai dan mengaku telah berselingkuh dengan lelaki lain. Hal gila yang dilakukan Cal tersebut semata-mata ia lakukan untuk membalas perbuatan istrinya. Namun, hal tersebut rupanya tidak berhasil menghapuskan perasaan cintanya pada Emily.

Salah satu bentuk kegilaan cinta yang lain juga ditunjukkan melalui tokoh Robbie (Jonah Bobo) yang tidak lain merupakan anak laki-laki Cal yang masih berusia 13 tahun. Ia jatuh cinta pada pengasuhnya sendiri, Jessica (Analeigh Tipton), yang lebih tua beberapa tahun darinya. Ia selalu percaya bahwa Jessica adalah soulmate-nya, dan berbagai cara (yang mungkin bisa dibilang bodoh dan gila) ia lakukan untuk menarik perhatian pengasuhnya tersebut.

Lalu terakhir, ada Jacob Palmer (Ryan Gosling), womanizer kelas kakap yang selalu berhasil merayu wanita untuk tidur dengannya. Dari karakter inilah, Cal belajar bagaimana cara merayu wanita. Namun, ada satu wanita yang tidak berhasil ditaklukkan oleh Jacob. Dia adalah Hannah (Emma Stone), yang nantinya akan mengubah Jacob menjadi orang yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.

 

Well, jika kamu menyukai film-film bergenre komedi romantis, akan sangat disayangkan jika kamu melewatkan film ini. Film ini lucu, ringan, dan romantis. Pokoknya Crazy, Stupid, Love ini memiliki semua elemen yang wajib dimiliki sebuah komedi romantis (yang bagus). Film ini memiliki plot yang sama sekali gak kacangan, meskipun endingnya masih tergolong predictable. Film ini juga enak diikuti dan mudah dicerna, meskipun awalnya terkesan ribet karena menghadirkan banyak tokoh.

Film ini juga didukung oleh akting yang mumpuni dari aktor dan aktrisnya (baik yang senior maupun junior). Steve Carell berhasil menghidupkan perannya sebagai pria hopeless yang masih mencintai istrinya. Begitu juga dengan Julianne Moore si pemeran istri. Ryan Gosling (yang saya baru nyadar kalo dia ini ganteng, padahal udah nonton beberapa filmnya sebelumnya) juga menampilkan akting yang baik di sini, biarpun perannya menurut saya tergolong biasa. Emma Stone, suatu saat dia pasti akan menjadi seorang aktris besar Hollywood, meskipun tampangnya menurut saya agak nyeremin (tolong jangan bunuh aku, cowok-cowok penggemar Emma Stone). Dan jangan dilupakan karakter Robbie yang diperankan Jonah Bobo. Saya sempet gak percaya kalo dia ini anak kecil yang ada di film Zathura loh. Udah gede lagi ternyata  =)) Tapi akting yang paling mencuri perhatian di sini menurut saya adalah aktingnya Marisa Tomei yang berperan sebagai perempuan pertama yang berhasil dirayu oleh Cal. Meskipun cuma peran kecil, tapi dia berhasil menampilkan akting yang asik dan sangat mencuri perhatian di sini.

Tapi nih, menurut saya film ini gak segila judulnya. Filmnya tetep lucu sih, tapi menurut saya film ini masih bisa dibikin lebih lucu dan lebih gila lagi (terutama harus diperbaiki di bagian endingnya yang menurut saya agak klise). Namun, secara keseluruhan, saya suka dan lumayan menikmati film ini. Intinya sih, film ini mengajarkan agar kita tidak menyerah dalam memperjuangkan cinta kita. Mungkin dalam prosesnya kita akan jadi melakukan hal-hal yang gila atau bodoh seperti yang dilakukan tokoh-tokoh di film ini, tapi bukankah itu yang paling asik dari jatuh cinta? #eaa. Overall, film ini recommended, terutama buat kamu-kamu yang suka film bergenre komedi romantis 🙂

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »