Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kagawa teruyuki’

dfposterInfernal Affairs adalah salah satu film Hong Kong yang menjadi favorit saya. Film ini adalah sebuah film yang tidak hanya bagus secara kualitas, tapi juga dari segi pendapatan (di negaranya film ini disebut-sebut sebagai box office miracle). Hollywood pun sudah pernah me-remake film ini dengan judul The Departed (sayangnya belum nonton). Kali ini, film ini kembali dilirik sineas dari negara lain, yaitu Jepang, untuk dibuat adaptasinya. Namun, adaptasi kali ini tidak berbentuk film layar lebar, melainkan drama spesial dua episode yang ditayangkan di dua stasiun tv yang berbeda.

df1Adaptasi baru Infernal Affairs ini memiliki judul Double Face. Ceritanya sendiri, sama seperti pada Infernal Affairs, yaitu tentang dua orang pria yang menjalani dua peran. Nishijima Hidetoshi memerankan tokoh Moriya Jun (karakternya Tony Leung di IA), seorang polisi yang menyusup ke dalam suatu kelompok yakuza dan menjalankan perannya sebagai yakuza selama bertahun-tahun. Sementara itu, Kagawa Teruyuki memerankan tokoh Takayama Ryosuke (karakternya Andy Lau di IA), seorang yakuza yang menyusup ke kepolisian dan menjalankan perannya sebagai polisi selama bertahun-tahun juga. Episode pertama drama spesial ini (yang punya judul Sennyuu Sousa Hen) ditayangkan di channel TBS. Bagian ini berfokus pada kehidupan Moriya Jun sebagai seorang polisi yang sudah lelah menjalani perannya sebagai yakuza. Sementara itu, episode kedua (yang punya judul Giso Keisatsu Hen) yang ditayangkan di channel WOWOW berfokus pada kehidupan Takayama, polisi mata-mata yakuza yang tampaknya punya sebuah rencana sendiri. Lalu, apa yang akan terjadi pada dua orang ini? Dan yang terpenting, apakah drama spesial ini merupakan adaptasi yang berhasil?

df2Double Face adalah salah satu contoh remake yang patuh terhadap sumber aslinya. Jalan cerita, adegan, dialog, dan karakter-karakter drama ini, hampir semuanya mirip dengan film aslinya. Well, ada beberapa perubahan dan tambahan-tambahan juga sih (dan kabarnya ada sedikit cipratan dari Infernal Affairs 2, tapi saya belum nonton film yang itu jadi gak tahu), tapi tidak sampai merusak esensi dari film aslinya dan malah membuat drama ini menjadi lebih matang dari film aslinya. Yeah, karena terbagi menjadi dua bagian (masing-masing episodenya berdurasi 90 menitan, berarti total dua kali lebih lama dari film aslinya), latar belakang kedua tokoh utamanya menjadi lebih kuat dan lebih dikembangkan. Dan meskipun saya sudah menonton film aslinya dan tahu apa saja yang akan terjadi selanjutnya, saya tetap berhasil dibuat deg-degan dan harap-harap cemas menanti adegan selanjutnya. Intinya, menurut saya drama spesial ini merupakan remake yang berhasil.

df3Dua aktor utama drama spesial ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan sangat baik. Nishijima Hidetoshi menurut saya tidak kalah bagus aktingnya dengan Tony Leung. Ia bisa menyampaikan rasa lelah dan frustrasinya sebagai undercover police cukup dengan ekspresi wajah saja. Kagawa Teruyuki pun menghidupkan peran Takayama Ryosuke dengan tidak kalah baiknya meskipun pada awalnya saya protes karena Kagawa Teruyuki tidak ganteng seperti Andy Lau. Namun, jika menurut saya karakter Moriya punya karakteristik yang kurang lebih sama dengan karakter aslinya, image Takayama menurut saya agak berbeda dengan image karakter yang diperankan Andy Lau. Karakter Takayama di sini adalah karakter yang sangat serius. Berdasarkan hal ini, ditambahkan juga beberapa perbedaan dengan film aslinya. Seperti kemunculan tokoh Mari (Aoi Yu) yang punya karakteristik sama dengan Mary di Infernal Affairs tapi punya posisi yang berbeda dengan yang di Infernal Affairs. Peran Aoi Yu di sini menurut saya sangat mendukung perbedaan karakter Takayama yang tampaknya punya usia beberapa tahun lebih tua dari karakter di film aslinya. Selain mereka, aktor aktris lain seperti Kadono Takuzo, Wakui Emi, Ito Atsushi, dan Kohinata Fumiyo juga turut berakting baik sebagai para pemeran pendukung, terutama Kohinata Fumiyo yang berperan sebagai seorang bos yakuza yang memiliki kharisma yang jauh lebih besar dari karakter di film aslinya. Secara teknis, drama spesial ini menurut saya memiliki teknis yang juara banget. Sebagai tayangan televisi, film ini memiliki gambar dan sinematografi yang sudah menyerupai film bioskop. Musik yang digunakan pun bagus, dan turut mendukung suasana-suasana yang ditampilkan di drama ini.

df4Hubungan antara Moriya dan Takayama di sini sendiri agak berbeda dengan film aslinya. Mereka memang sama-sama digambarkan saling mencari, tapi mereka tidak memiliki ‘keakraban’ seperti yang ada di film aslinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa adaptasi yang ini lebih menyorot kehidupan mereka berdua secara individual. Dan seperti judulnya, inti utama Double Face adalah ‘dua wajah’ yang dikenakan oleh dua orang tokoh utama ini. Saking lamanya memerankan dua wajah tersebut, mereka sampai tidak tahu lagi mana wajah mereka yang sebenarnya. Dan seperti pada adegan pertama, mereka bagaikan anjing kecil yang ditelantarkan. Tidak tahu apakah mereka akan kembali lagi kepada pemilik yang sebenarnya. Well, 4 bintang deh. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Catatan: Info yang tidak begitu penting, mulai postingan ini, kategori tanpatsu saya ganti namanya jadi dorama sp ya.

Advertisements

Read Full Post »

Ada yang ingat dengan film Confessions (Kokuhaku)? Film Jepang garapan Nakashima Tetsuya itu bisa dibilang merupakan salah satu film Jepang favorit saya sepanjang masa. Film yang bercerita tentang pembalasan dendam seorang ibu yang anaknya dibunuh tersebut merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Minato Kanae. Di tahun 2012 ini, satu lagi novel karya Minato Kanae, yaitu Shokuzai (The Atonement), difilmkan. Namun, tidak seperti Confessions, Shokuzai tidak diadaptasi menjadi film layar lebar, melainkan menjadi mini seri berjumlah lima episode yang ditayangkan oleh channel WOWOW. Kali ini, orang yang bertugas mengadaptasi novel ini ke layar kaca adalah Kurosawa Kiyoshi, yang sebelumnya sudah sering menyutradarai beberapa film yang sudah diakui kualitasnya, seperti Tokyo Sonata dan Cure.

Shokuzai sendiri masih memiliki kemiripan dengan Confessions, yaitu sama-sama bercerita tentang seorang ibu yang anak perempuannya dibunuh. Anak perempuan tersebut bernama Emiri yang merupakan seorang murid baru (kelas 4 SD) di suatu sekolah. Pada suatu hari, ketika ia sedang bermain dengan empat orang temannya, seorang pria menghampiri mereka. Pria (yang wajahnya tidak diperlihatkan) tersebut mengatakan ia sedang membetulkan kipas yang ada di gymnasium sekolah mereka, dan ia meminta tolong Emiri untuk membantunya karena ada bagian yang tidak bisa ia jangkau. Emiri lalu pergi bersama pria itu. Namun, setelah beberapa lama, Emiri tidak kembali juga. Empat temannya yang khawatir pun lalu menyusul ke gymnasium. Dan sesampainya di sana, Emiri sudah terbujur kaku di lantai gymnasium tersebut.

Adachi Asako (Koizumi Kyoko) yang merupakan ibu dari Emiri tidak sanggup menerima kenyataan atas kematian putrinya tersebut. Belum lagi, pelaku pembunuhan anaknya sama sekali tidak tertangkap, dan empat teman Emiri yang merupakan saksi mata pelaku pembunuhan Emiri mengatakan mereka tidak ingat dengan wajah pembunuh tersebut. Pada suatu hari, tepatnya pada hari ulang tahun Emiri, Asako mengundang empat orang teman Emiri tersebut ke rumahnya. Rupanya Asako tidak bisa memaafkan mereka berempat. Pada pertemuan tersebut Asako berkata pada mereka: “I won’t forgive you. Find the suspect for me. Otherwise, you’ll have to pay. Until the crime solve, I’ll never forgive any of you. You can’t escape from your sins.”

15 tahun berlalu setelah perjanjian tersebut. Empat orang teman Emiri telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Yang pertama adalah Kikuchi Sae (Aoi Yu), yang punya ketakutan tertentu terhadap laki-laki dan punya semacam kelainan di mana ia tidak bisa mengalami menstruasi. Yang kedua adalah Shinohara Maki (Koike Eiko), yang berprofesi sebagai guru SD yang galak dan pada suatu hari mendapat banyak perhatian setelah ia menyelamatkan murid-muridnya dari serangan pria tak dikenal. Yang ketiga adalah Takano Akiko (Ando Sakura), perempuan yang sejak kematian Emiri menjadi anti memakai pakaian yang cantik dan menganggap dirinya sendiri adalah beruang. Lalu terakhir adalah Ogawa Yuka (Ikewaki Chizuru), pemilik toko bunga yang punya kecemburuan tertentu terhadap kakaknya dan punya perhatian khusus terhadap polisi. Setiap tokoh dieksplor dalam setiap episode secara bergantian (jadi episode pertama fokusnya sama Aoi Yu, episode 2 Koike Eiko, dst). Dan di setiap episodenya, tokoh-tokoh tersebut melakukan suatu hal mengejutkan yang mereka anggap sebagai penebusan dosa atas kematian Emiri.

Shokuzai adalah salah satu dorama yang sudah saya tunggu-tunggu sejak dorama ini belum tayang. Selain karena faktor pengarang Confessions dan Kurosawa Kiyoshi, yang membuat saya tertarik pada dorama ini adalah jajaran castnya yang luar biasa. Kebanyakan pemainnya adalah aktor dan aktris yang lebih sering bermain di film ketimbang dorama. Contohnya adalah Koizumi Kyoko (Hanging Garden, Tokyo Sonata), Aoi Yu (Hana and Alice), Koike Eiko (2LDK), Ando Sakura (Love Exposure), dan Ikewaki Chizuru (Josee the Tiger and the Fish). Pemain-pemain pembantunya pun top semua, mulai dari Moriyama Mirai, Kase Ryo, Ito Ayumi, Arai Hirofumi, sampai Kagawa Teruyuki. Dan untungnya saya tidak dikecewakan oleh nama-nama hebat tersebut.

Seperti kebanyakan film-filmnya Kurosawa Kiyoshi (yang sering membuat film horror/thriller), dorama ini memiliki aura yang suram dan kelam. Warna yang dipakai cenderung gelap, dan semakin mendukung atmosfir kelamnya. Alurnya sedikit lambat, tapi tidak membosankan dan malah memperkuat intensitas ketegangannya. Sinematografinya pun sangat mengagumkan, dan membuat dorama ini tidak terlihat sebagai sekadar tayangan televisi karena kualitas gambarnya yang sudah seperti kualitas gambar pada film layar lebar.

Yang paling saya kagumi dari dorama ini adalah proses pembangunan karakternya yang meskipun terlihat perlahan-lahan tetapi pasti. Di setiap episodenya setiap karakter diperkenalkan. Dan dengan memakai sedikit flashback, kita bisa melihat bahwa kepribadian mereka semuanya terbentuk dari kejadian 15 tahun yang lalu, bahkan untuk karakter Yuka (Ikewaki Chizuru) sekalipun yang mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan hal tersebut. Semua karakternya tidak diperlihatkan bersih dan suci. Bahkan untuk karakter Asako sang ibu, yang sebenarnya punya andil dalam kematian putrinya, karena belakangan diketahui bahwa kematian putrinya masih memiliki hubungan dengan masa lalunya sendiri. Makanya, shokuzai atau “the atonement” di sini tidak hanya berlaku bagi empat orang teman Emiri saja, melainkan juga pada karakter Asako sendiri. Well, kalo suka sama tontonan yang rada nyikologis, dorama ini tentunya sangat wajib ditonton karena kita bisa melihat bahwa sebuah kejadian bisa mempengaruhi kepribadian berbagai macam orang dengan cara yang berbeda.

Setiap episode dalam dorama ini memiliki cerita yang berdiri sendiri tapi tetap bersinggungan. Dan masing-masing episodenya memiliki cerita yang sangat menarik. Tapi kalo disuruh milih, favorit saya adalah episode pertama (French Doll) dan episode ketiga (Bear Siblings). Dua episode tersebut menurut saya yang paling menarik dan paling menegangkan. Apalagi episode pertama yang menampilkan Aoi Yu, yang menurut saya serem abis. Para pemain dalam dorama ini semuanya menampilkan akting yang bagus dan memukau. Ekspresi-ekspresi yang ditampilkan, kekosongan yang mereka alami, semuanya ditampilkan secara pas dan tidak berlebihan. Dari lima pemeran utama sampai peran-peran pembantu, semuanya menampilkan akting yang cemerlang.

Secara keseluruhan, dorama ini adalah salah satu dorama paling berkesan di tahun 2012 ini. Dan meskipun tahun 2012 baru berjalan dua bulan, sudah pasti saya akan memasukkan dorama ini ke list dorama terbaik tahun 2012. Satu-satunya kelemahan dorama ini menurut saya hanya pada bagian endingnya. Endingnya tetep bagus sih, dan sepertinya memang seperti itulah dorama ini harus berakhir (dan endingnya itu…ironis sekali). Tapi, kalo dibandingin sama episode-episode sebelumnya, menurut saya kualitas episode ini jadi rada menurun dan kalah sama episode-episode sebelumnya. Padahal saya berharap episode akhir ini menjadi puncak dari semua episodenya. Jadi, 4,5 bintang deh untuk dorama ini. Highly recommended.

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Kita mungkin masih sering bertanya-tanya, untuk apa sih hidup ini? Apa sih arti hidup? Seperti apa sih hidup yang bermakna itu? Dan seperti apa sih hidup yang tidak bermakna itu? Jawaban yang keluar mungkin bermacam-macam. Ada yang mengatakan hidup yang bermakna itu adalah hidup yang dipenuhi kesuksesan atau hidup yang  sesuai dengan keinginan. Ada yang mengatakan hidup yang tidak bermakna itu adalah ketika kita salah jalan, atau ketika kita tidak memiliki kegunaan bagi orang lain, terus mengalami kemalangan tanpa ada titik cerah, dan segala hal yang kita lakukan terasa sia-sia dan tidak ada artinya. Namun, apakah benar seperti itu?

Menonton Memories of Matsuko membuat saya kembali mempertanyakan hal-hal di atas. Sesuai judulnya, Memories of Matsuko bercerita tentang kehidupan seorang perempuan bernama Matsuko Kawajiri (Miki Nakatani). Dimulai dari narasi seorang pemuda bernama Sho Kawajiri (Eita), seseorang yang hidupnya terlihat tidak berguna sama sekali. Kabur dari rumah dua tahun yang lalu dengan tujuan untuk menjadi musisi, namun rencananya tidak berjalan sesuai keinginan. Keluar dari band-nya, diputuskan oleh pacarnya yang terang-terangan mengatakan bahwa “hidup bersamanya benar-benar membosankan”, membuat hidupnya terlihat benar-benar menyedihkan. Tidak ada hal yang dilakukannya selain menonton adult video di kamarnya yang sangat berantakan. Lalu tiba-tiba, setelah dua tahun tidak berhubungan dengan keluarganya, ia tiba-tiba kedatangan ayahnya (diperankan Kagawa Teruyuki), yang mengabari bahwa bibinya yang bernama Matsuko telah meninggal dunia karena dibunuh di sebuah taman entah oleh siapa. Sebelumnya Sho tidak pernah tahu bahwa dia memiliki seorang bibi bernama Matsuko. Ayahnya pun menjelaskan, bahwa Matsuko sudah puluhan tahun tidak berhubungan dengan keluarga mereka. “Her life was meaningless,” kata ayahnya. Ayahnya kemudian meminta Sho untuk membersihkan apartemen yang merupakan tempat tinggal Matsuko dulu. Dan datanglah Sho ke apartemen tersebut, apartemen yang dipenuhi sampah, dan menemukan beberapa hal yang membuatnya penasaran, seperti apakah bibinya tersebut? Seperti apakah kehidupannya yang menurut ayahnya “meaningless” tersebut?

Cerita pun berganti menyorot bagaimana kisah hidup dari karakter Matsuko ini, melalui narasi dari Matsuko sendiri. Matsuko ketika kecil adalah seorang anak manis yang kurang mendapat kasih sayang dari ayahnya. Ayahnya adalah orang yang baik dan sebenarnya menyayangi Matsuko, namun perhatiannya lebih ia tunjukan pada adik perempuan Matsuko yang sakit-sakitan. Ketika dewasa, Matsuko mendapat pekerjaan menjadi seorang guru SMP. Di sini Matsuko digambarkan sebagai guru ala Gokusen, guru yang mati-matian membela muridnya yang terkena masalah. Namun hal itu malah membawanya ke masalah baru yang membuatnya dipecat. Sejak itulah kehidupan Matsuko berubah total. Kecemburuannya pada adiknya membuat dia meninggalkan rumah itu, dan mengalami berbagai macam hal, seperti berpacaran dengan seorang pria yang sering melakukan kekerasan terhadapnya, menjadi simpanan seorang pria beristri, menjadi seorang “massage parlor girl”, membunuh seseorang, masuk penjara, berpacaran dengan yakuza, dan sebagainya. Hidupnya dipenuhi kemalangan, dan pada akhirnya hal tersebut membuat ia menutup diri dari kehidupan sosial, dan puncaknya ia terbunuh oleh entah siapa.  Selain oleh narasi Matsuko sendiri, kisah hidup Matsuko juga diceritakan dari sudut pandang orang-orang yang mengenal Matsuko di masa hidupnya kepada Sho. Hal tersebut membuat Sho semakin ingin bertemu dengan Matsuko, yang kata orang-orang yang mengenal Matsuko, sangat mirip dengannya.

Sebenarnya alasan saya menonton film ini hanyalah karena Eita bermain di dalamnya, dan saya tidak menyangka kalau filmnya ternyata bagus. Bukan bagus lagi, bagus banget malah. Menonton film ini membuat saya ikut terbawa ke dalam kisah hidup Matsuko yang sangat menyedihkan dan tidak pernah mendapat kebahagiaan untuk waktu yang lama. Oh ya sinopsisnya mungkin membuat kamu mengira kalau film ini adalah film sedih. Ya, ini memang film dengan cerita yang menyedihkan, namun semua itu digambarkan dengan penuh warna dan juga beberapa  unsur komedi. Memories of Matsuko adalah film komedi yang pahit, getir, dan menyedihkan. Dan kayaknya saya belum bilang ya kalo ini film musikal? Ini pertama kalinya saya nonton film musikal yang dibuat oleh Jepang, dan tanpa ragu saya mengatakan bahwa  film ini adalah salah satu film musikal terbaik yang pernah saya tonton. Selain itu visual film ini sangat bagus dan indah. Sinematografinya sangat oke, ditambah beberapa efek CGI yang tidak membuat visualnya jadi lemah, tapi malah membuat film ini menjadi semakin kaya.

Gaya penceritaan pada film ini mungkin akan mengingatkan kamu pada film Prancis berjudul Amelie (malah ada yang bilang kalo film ini lebih bagus dari Amelie). Namun, Matsuko sangat berbeda dengan Amelie. Amelie bisa dibilang merupakan karakter yang mesti dicontoh oleh banyak orang. Tapi Matsuko, dia bukan contoh karakter panutan. Sering kali ia salah jalan dan bersikap egois. Tapi, ada satu hal yang membuat karakter Amelie mirip dengan Matsuko. Mereka hanya ingin membawa kebahagiaan untuk orang lain. Matsuko hanya ingin membuat orang lain bahagia, namun sayangnya hal tersebut malah lebih sering berbuntut pada kemalangan. Ada satu quote bagus yang diucapkan oleh mantan pacar Sho: “A life isn’t valued by what one receives. But by what one gives.” Dan seperti itulah Matsuko, hidupnya mungkin terlihat meaningless karena ia lebih sering mendapat penderitaan dibanding kebahagiaan. Tapi di luar itu ia telah memberikan kebahagiaan kepada banyak orang di sekitarnya, meskipun mungkin tanpa disadari.

Kesimpulannya, Memories of Matsuko bukanlah film biasa. Ini adalah film yang sangat bagus. Cerita, visual, musik, serta akting yang gemilang dari para pemainnya, terutama Miki Nakatani sang pemeran Matsuko, yang lewat film ini meraih penghargaan pada kategori Best Actress di Asian Film Awards 2007, membuat film ini sangat layak ditonton. Film yang disutradarai oleh Tetsuya Nakashima ini juga dihiasi oleh beberapa cameo, seperti Kou Shibasaki, Kaela Kimura (yang sekarang menjadi istri dari Eita, gara-gara film ini), Anna Tsuchiya, Bonnie Pink, dan mungkin masih ada lagi tapi saya gak kenal :p Highly recommended!

P.S: lewat film ini, saya pertama kali melihat boyband bernama “Hikaru Genji”, salah satu boyband tertua dari agensi Johnny’s Entertainment yang sangat terkenal itu (di adegan mana? Lihat aja deh sendiri :D)

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Peringatan: Review ini mengandung SPOILER, jadi jika anda tidak menyukai spoiler, silakan cepat-cepat tutup tab blog ini sebelum terlambat 🙂

Tokyo. Apa yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata itu? Nama kota? Ibu kota Jepang? Kota terpadat di Jepang? Lalu, bagaimana pandangan anda terhadap kota tersebut? Saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di kota tersebut, tapi berhubung saya punya hobi nonton film / dorama Jepang dan juga baca komik Jepang yang sering menggunakan kota Tokyo sebagai latarnya, saya jadi tidak terlalu asing dengan kota ini dan punya impian untuk suatu hari menginjakkan kaki di kota tersebut (amiiiin). Lalu, bagaimana tanggapanmu jika mendengar tiga orang sutradara dari tiga negara berbeda di luar Jepang menuangkan pemikiran mereka mengenai Tokyo ke dalam tiga buah film pendek? Kalo saya sih, penasaran, hehe :p

Tokyo! adalah sebuah film berbentuk “antologi” yang terdiri dari tiga film pendek yang masing-masing berdurasi sekitar 30-40 menit yang disutradarai oleh tiga sutradara berbeda yang semuanya menggunakan kota Tokyo sebagai latar belakang tempatnya. Film pertama berjudul “Interior Design” yang disutradarai oleh Michel Gondry, sutradara yang pernah membuat saya terpesona melalui salah satu karyanya yang berjudul Eternal Sunshine of the Spotless Mind, sebuah film yang memiliki cerita yang unik sekaligus absurd. Ke-absurd-an juga saya temukan dalam Interior Design. Karena itu, anda tidak perlu mengerutkan kening melihat hal-hal di luar akal sehat yang ada di film ini, cukup nikmati saja!  Interior Design bercerita tentang sepasang kekasih bernama Hiroko (Fujitani Ayako) dan Akira (Kase Ryo) yang pindah ke Tokyo untuk mengadu nasib. Di Tokyo mereka tidak memiliki tempat tinggal, karena itulah mereka menumpang di flat sempit milik Akemi (Ito Ayumi) yang merupakan sahabat mereka. Dalam film ini kita dibawa kepada konflik dalam diri Hiroko yang merasa tidak memiliki kegunaan sama sekali. Ia tidak punya pekerjaan, tidak punya bakat, dan tidak punya ambisi. Berbeda dengan pacarnya yang memiliki tujuan hidup yaitu membuat film. Kehadiran mereka pun mulai jadi beban bagi Akemi, dan Hiroko belum juga berhasil menemukan tempat tinggal yang pas setelah berhari-hari. Kejutan ditampilkan ketika suatu hari *spoiler alert, kalo mau tau blok aja yg diputihin* Hiroko berubah menjadi KURSI secara perlahan-lahan. Manusia lain mungkin akan merasa hal tersebut sebagai musibah, tapi tidak bagi Hiroko. Hiroko yang kemudian ditemukan dan dipungut oleh seorang pria yang tampaknya berprofesi sebagai seniman malah menjadi bahagia karena setelah ia menjadi kursi, ia merasa dirinya memiliki kegunaan bagi orang lain. Melalui segmen ini, kita diperlihatkan bahwa Tokyo adalah tempat yang ideal untuk mengadu nasib sehingga banyak orang dari kota-kota lainnya memilih untuk pindah ke sana (mungkin kalo di sini sama aja dengan Jakarta, di mana banyak orang dari berbagai daerah mengadu nasib di sana). Namun, Tokyo juga adalah kota yang keras, sehingga jika ingin bertahan di sana, kita dituntut untuk punya ‘kegunaan’. Di kota besar, manusia jadi sering dipandang sebagai sekadar ‘alat’. Gak bisa kerja? Gak ada guna? Sana minggir aja! Karena itulah, apa bedanya manusia dengan benda mati (yang memiliki kegunaan)? Tidak heran jika ada manusia yang kemudian lebih senang menjelma menjadi benda mati tapi berguna, dibanding jadi manusia tapi tidak berguna (dalam hal ini, Hiroko), jika manusia hanya dipandang dari segi ‘kegunaan’ saja.

segmen “Interior Design”

segmen “Merde”

Lalu, cerita kedua berjudul “Merde”, disutradarai oleh Leos Carax yang merupakan sutradara asal Prancis. Film ini bercerita tentang laki-laki mengerikan yang tiba-tiba muncul dari saluran bawah tanah dan tingkah lakunya menggemparkan kota Tokyo. Dia berjalan ke sana kemari dan merebut barang-barang dari orang-orang yang ia lewati. Tidak hanya itu, tingkahnya juga menewaskan banyak warga Jepang, yaitu ketika ia melemparkan banyak granat yang ia temukan dari bawah tanah. Laki-laki yang dijuluki “The Creature From the Sewers” ini pun diburu dan akhirnya ditahan. Namun, laki-laki yang dari fisiknya terlihat bahwa dia adalah orang asing ini tidak mau berkata apa-apa ketika diinterogasi dan memiliki bahasa yang tidak dimengerti orang-orang. Lalu, didatangkanlah pengacara asal Prancis yang mengaku dapat mengartikan bahasa laki-laki yang kemudian diketahui bernama Merde (bahasa Prancis dari “shit”) tersebut. Lalu Merde ini kemudian menjalani sebuah pengadilan, di mana motif ia melakukan terror-teror tersebut adalah karena ia membenci orang-orang, terutama orang Jepang yang menurutnya disgusting, dan katanya lagi tentang orang Jepang “their eyes are shaped like woman’s sex”.

segmen “Shaking Tokyo”

Segmen ketiga berjudul Shaking Tokyo” (nah, yang ini favorit saya nih) yang disutradarai oleh sutradara asal Korea bernama Joon-ho Bong. Segmen ini bercerita tentang sebuah fenomena yang memang terjadi di Jepang sana (terutama di kota besar seperti Tokyo), yaitu fenomena Hikkikomori. Hikkikomori sendiri adalah suatu kondisi di mana seseorang mengurung diri dalam rumahnya dan tidak pernah keluar rumah dalam jangka waktu yang lama. Film ini bercerita tentang seorang lelaki (diperankan Kagawa Teruyuki) yang sudah tidak pernah keluar dari rumahnya sejak 10 tahun yang lalu. Ia tinggal sendiri, dan kebutuhan hidupnya terpenuhi dari uang yang dikirim oleh ayahnya. Mau makan pun, ia tinggal pesan delivery sehingga ia tidak perlu repot-repot keluar rumah, seperti kebiasaannya setiap hari Sabtu yaitu memesan pizza. Suatu hari, untuk pertama kalinya ia melakukan kontak mata dengan orang lain setelah 10 tahun, yaitu dengan seorang pengantar pizza perempuan (sebelumnya ia tidak pernah menatap mata para pengantar pesanannya). Kontak pertama yang juga dibarengi dengan terjadinya gempa tersebut cukup berkesan bagi laki-laki tersebut, dan ia ingin bertemu lagi dengan perempuan tersebut (diperankan Aoi Yu yang juga bermain di Hana and Alice). Namun sayangnya, setelah itu perempuan tersebut tidak bekerja sebagai pengantar pizza lagi. Hal tersebut mendorong laki-laki tersebut untuk keluar dari rumahnya, hanya untuk menemui perempuan tersebut. Dan ketika ia berhasil keluar dari rumahnya, ia menemui kenyataan bahwa ternyata semua orang, termasuk perempuan tersebut, telah menjadi hikkikomori seperti dirinya. Hal ini sendiri menurut saya sangat menakutkan. Salah satu yang menyebabkan fenomena hikkikomori salah satunya adalah kecanggihan teknologi (yang di jepang memang canggih) yang membuat segala sesuatu jadi lebih praktis (meskipun tokoh Hikkikomori yang diperankan Kagawa Teruyuki di sini tidak diperlihatkan sebagai maniak elektronik dan ia menjadi hikkikomori karena tidak menyukai orang-orang). Segala hal bisa didapatkan di rumah, bahkan kita tidak perlu kemana-mana untuk mendapatkan hiburan atau kebutuhan seperti makanan. Bentuk komunikasi langsung pun lama-lama hilang dan tergantikan komunikasi tidak langsung (melalui internet). Makanya bukan tidak mungkin jika semua orang Tokyo menjadi hikkikomori, bahkan para pengantar delivery pun ikut-ikutan menjadi hikkikomori dan pekerjaan mereka kemudian diambil alih oleh robot. Sampai-sampai tidak ada alasan lagi yang dapat membuat mereka mau keluar rumah, kecuali gempa. Ya, sesuai judulnya, Shaking Tokyo, tampaknya satu-satunya hal yang bisa membuat seorang hikkikomori mau keluar dari rumahnya hanyalah gempa, seperti yang terjadi pada film ini. Oh ya, melalui Shaking Tokyo, saya juga dibuat kagum karena dalam segmen ini, pusat kota Tokyo yang biasanya padat diperlihatkan jadi sangat sepi dan lengang tanpa seorang pun.

Well, secara keseluruhan film ini bagus banget, meskipun tampaknya tidak semua orang bisa menikmati film bergaya seperti ini. 4,5 bintang deh (4 bintang buat Interior Design & Merde, 5 bintang untuk Shaking Tokyo).

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

*Review ini pertama ditulis 20 September 2009 di http://purisuka.multiply.com

Salah satu dorama yang baru banget saya tonton. Mr. Brain bercerita tentang Tsukumo Ryusuke (Kimura Takuya), seorang host club yang pada suatu malam mengalami kecelakaan yang berpengaruh pada otaknya. Kecelakaan itu membuat Tsukumo jadi memiliki kecerdasan yang bisa dibilang di atas rata-rata. Perubahan lainnya adalah dia jadi tidak tertarik pada wanita.Setelah kejadian tersebut Tsukumo memutuskan untuk mengambil studi di bidang otak dan lulus dengan gemilang setelah lima tahun. Setelah itu dia diterima untuk bekerja di IPS (Institute of Police Science).

IPS sendiri merupakan suatu organisasi atau badan yang merupakan bagian dari kepolisian yang bertugas untuk menyelidiki kasus ditinjau dari segi science-nya. IPS ini terdiri dari beberapa bagian, yang saya sendiri lupa apa nama-namanya ^^. Yang jelas ada bagian yang meniliti forensik medis, yang meneliti suara, video-video kejadian, dan lain-lain. Tsukumo sendiri ditempatkan di bagian neurology / neuroscience, didampingi seorang asisten bernama Yuri Kazune (Ayase Haruka).

Sejak awal bergabungnya Tsukumo di IPS, dia sudah berhasil membantu kepolisian dalam suatu kasus. Sejak itu dia banyak memecahkan berbagai macam kasus yang terjadi di Jepang, bekerja sama dengan (dari pihak kepolisian) Tanbara Nomomi (Kagawa Teruyuki) dan asistennya Hayashida Toranosuke (Mizushima Hiro). Dengan kecerdasan otaknya, Tsukumo mampu memecahkan berbagai macam kasus dengan memakai neurology.

My opinion:

Saya suka dorama ini! Bagus! Dorama ini menghadirkan kasus-kasus yang bisa dibilang tidak biasa. Contohnya di episode 2, ada sebuah kasus pembunuhan yang di TKP-nya terdapat sidik jari dari seorang tersangka yang sudah dihukum mati beberapa tahun yang lalu. Atau ada juga kasus yang melibatkan seseorang yang memiliki penyakit amnesia setiap jam. Dan hal-hal itu bisa diselidiki dengan neurology. Seperti kata Tsukumo, otak tidak bisa berbohong. Dan, meskipun ceritanya cerita detektif, tapi gampang dimengerti kok dan banyak unsur komedinya.

Dari segi akting, saya suka banget sama akting semua pemainnya. Kimutaku, udah gak diragukan lagi aktingnya, dia berhasil banget jadi Tsukumo yang ‘unik’, kocak, dan punya sifat seenaknya. Saya suka ekspresinya yang kadang datar tapi lucu. Ayase Haruka, saya belum pernah nonton dorama yang ada dia-nya, tapi saya suka aktingnya jadi Yuri. Kocak banget tiap liat adegan dia yang dipermainkan oleh Tsukumo ^^. Mizushima Hiro? Hiyaaaaa kawaii banget dia di sini. Di sini Hiro berperan jadi seorang polisi yang polos dan rada penakut, tapi semakin lama keberaniannya semakin besar. Beneran deh dia kawaii banget di sini, apalagi tiap liat ekspresinya yang sedikit bego. Kawaii xDD. Kagawa Teruyuki juga sukses memerankan Tanbara-san yang pemarah dan sedikit gengsian. Lucu banget liat bagaimana interaksi dia dengan Tsukumo, dari awalnya yang ogah banget buat minta bantuan dari Tsukumo, hingga belakangan akhirnya mereka bisa jadi partner yang cocok.

Yang menarik lagi dari dorama ini, kita mendapat pengetahuan-pengetahuan seputar otak manusia. Seperti bahwa makanan manis (seperti pisang. Sumpah, abis nonton dorama ini saya jadi pengen makan pisang) baik untuk otak. Atau bagaimana cara mengenali orang berbohong, bermain jankenpon, dan lain-lain.

Dan….satu lagi kelebihan dorama ini. BINTANG TAMUNYA ITU LOH!! Keren-keren! Setiap episode pasti ada aja artis terkenalnya yang jadi bintang tamu. Contohnya Ryoko Hirosue, GACKT (dan disini dia jadi kanibal), Koyuki, Nakama Yukie, Sato Takeru (hiyaaaaa…..ganteng banget dia di sini XDD), Kamenashi Kazuya, Aibu Saki, dan masih banyak lagi. Dan meskipun jadi guest yang cuma tampil se-episode (paling banyak 2 episode), mereka mampu memerankan perannya dengan sangat maksimal. Terutama Nakama Yukie, keren banget akting dia di sini. Jadi, 4 bintang deh 🙂

My Rating: 4 / 5

Read Full Post »