Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kohinata fumiyo’

dfposterInfernal Affairs adalah salah satu film Hong Kong yang menjadi favorit saya. Film ini adalah sebuah film yang tidak hanya bagus secara kualitas, tapi juga dari segi pendapatan (di negaranya film ini disebut-sebut sebagai box office miracle). Hollywood pun sudah pernah me-remake film ini dengan judul The Departed (sayangnya belum nonton). Kali ini, film ini kembali dilirik sineas dari negara lain, yaitu Jepang, untuk dibuat adaptasinya. Namun, adaptasi kali ini tidak berbentuk film layar lebar, melainkan drama spesial dua episode yang ditayangkan di dua stasiun tv yang berbeda.

df1Adaptasi baru Infernal Affairs ini memiliki judul Double Face. Ceritanya sendiri, sama seperti pada Infernal Affairs, yaitu tentang dua orang pria yang menjalani dua peran. Nishijima Hidetoshi memerankan tokoh Moriya Jun (karakternya Tony Leung di IA), seorang polisi yang menyusup ke dalam suatu kelompok yakuza dan menjalankan perannya sebagai yakuza selama bertahun-tahun. Sementara itu, Kagawa Teruyuki memerankan tokoh Takayama Ryosuke (karakternya Andy Lau di IA), seorang yakuza yang menyusup ke kepolisian dan menjalankan perannya sebagai polisi selama bertahun-tahun juga. Episode pertama drama spesial ini (yang punya judul Sennyuu Sousa Hen) ditayangkan di channel TBS. Bagian ini berfokus pada kehidupan Moriya Jun sebagai seorang polisi yang sudah lelah menjalani perannya sebagai yakuza. Sementara itu, episode kedua (yang punya judul Giso Keisatsu Hen) yang ditayangkan di channel WOWOW berfokus pada kehidupan Takayama, polisi mata-mata yakuza yang tampaknya punya sebuah rencana sendiri. Lalu, apa yang akan terjadi pada dua orang ini? Dan yang terpenting, apakah drama spesial ini merupakan adaptasi yang berhasil?

df2Double Face adalah salah satu contoh remake yang patuh terhadap sumber aslinya. Jalan cerita, adegan, dialog, dan karakter-karakter drama ini, hampir semuanya mirip dengan film aslinya. Well, ada beberapa perubahan dan tambahan-tambahan juga sih (dan kabarnya ada sedikit cipratan dari Infernal Affairs 2, tapi saya belum nonton film yang itu jadi gak tahu), tapi tidak sampai merusak esensi dari film aslinya dan malah membuat drama ini menjadi lebih matang dari film aslinya. Yeah, karena terbagi menjadi dua bagian (masing-masing episodenya berdurasi 90 menitan, berarti total dua kali lebih lama dari film aslinya), latar belakang kedua tokoh utamanya menjadi lebih kuat dan lebih dikembangkan. Dan meskipun saya sudah menonton film aslinya dan tahu apa saja yang akan terjadi selanjutnya, saya tetap berhasil dibuat deg-degan dan harap-harap cemas menanti adegan selanjutnya. Intinya, menurut saya drama spesial ini merupakan remake yang berhasil.

df3Dua aktor utama drama spesial ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan sangat baik. Nishijima Hidetoshi menurut saya tidak kalah bagus aktingnya dengan Tony Leung. Ia bisa menyampaikan rasa lelah dan frustrasinya sebagai undercover police cukup dengan ekspresi wajah saja. Kagawa Teruyuki pun menghidupkan peran Takayama Ryosuke dengan tidak kalah baiknya meskipun pada awalnya saya protes karena Kagawa Teruyuki tidak ganteng seperti Andy Lau. Namun, jika menurut saya karakter Moriya punya karakteristik yang kurang lebih sama dengan karakter aslinya, image Takayama menurut saya agak berbeda dengan image karakter yang diperankan Andy Lau. Karakter Takayama di sini adalah karakter yang sangat serius. Berdasarkan hal ini, ditambahkan juga beberapa perbedaan dengan film aslinya. Seperti kemunculan tokoh Mari (Aoi Yu) yang punya karakteristik sama dengan Mary di Infernal Affairs tapi punya posisi yang berbeda dengan yang di Infernal Affairs. Peran Aoi Yu di sini menurut saya sangat mendukung perbedaan karakter Takayama yang tampaknya punya usia beberapa tahun lebih tua dari karakter di film aslinya. Selain mereka, aktor aktris lain seperti Kadono Takuzo, Wakui Emi, Ito Atsushi, dan Kohinata Fumiyo juga turut berakting baik sebagai para pemeran pendukung, terutama Kohinata Fumiyo yang berperan sebagai seorang bos yakuza yang memiliki kharisma yang jauh lebih besar dari karakter di film aslinya. Secara teknis, drama spesial ini menurut saya memiliki teknis yang juara banget. Sebagai tayangan televisi, film ini memiliki gambar dan sinematografi yang sudah menyerupai film bioskop. Musik yang digunakan pun bagus, dan turut mendukung suasana-suasana yang ditampilkan di drama ini.

df4Hubungan antara Moriya dan Takayama di sini sendiri agak berbeda dengan film aslinya. Mereka memang sama-sama digambarkan saling mencari, tapi mereka tidak memiliki ‘keakraban’ seperti yang ada di film aslinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa adaptasi yang ini lebih menyorot kehidupan mereka berdua secara individual. Dan seperti judulnya, inti utama Double Face adalah ‘dua wajah’ yang dikenakan oleh dua orang tokoh utama ini. Saking lamanya memerankan dua wajah tersebut, mereka sampai tidak tahu lagi mana wajah mereka yang sebenarnya. Dan seperti pada adegan pertama, mereka bagaikan anjing kecil yang ditelantarkan. Tidak tahu apakah mereka akan kembali lagi kepada pemilik yang sebenarnya. Well, 4 bintang deh. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Catatan: Info yang tidak begitu penting, mulai postingan ini, kategori tanpatsu saya ganti namanya jadi dorama sp ya.

Advertisements

Read Full Post »

Tahun 2011 lalu, sutradara Jepang Mitani Koki (The Magic Hour) merilis dua buah proyek dalam waktu yang berdekatan. Dua buah proyek tersebut adalah sebuah film bioskop berjudul Suteki na Kanashibari (bisa disingkat menjadi Sutekana) dan sebuah tanpatsu (dorama yang terdiri dari kurang lebih satu sampai dua episode saja, semacam FTV gitu deh) yang berjudul Suteki na Kakushidori (bisa disingkat menjadi Sutekaku). Yang akan saya review kali ini adalah tanpatsunya yang berjudul Sutekaku, yang tampaknya dibuat dalam rangka menyambut rilisnya Sutekana. Meskipun memiliki judul yang hampir mirip, Sutekaku sendiri tidak memiliki hubungan dengan Sutekana dari segi ceritanya. Namun, kedua proyek tersebut sama-sama memiliki cast yang sama (Fukatsu Eri, Nishida Toshiyuki, Takeuchi Yuko, dll).

Sutekaku bercerita tentang seorang concierge hotel bernama Saijo Mie (Fukatsu Eri). Seperti pekerjaan concierge hotel pada umumnya, ia ditugaskan untuk memenuhi permintaan-permintaan dari para pelanggan hotelnya. Permintaan itu bisa apa saja, mulai dari yang normal sampai yang absurd sekalipun. Mulai dari permintaan macam memesankan reservasi di restoran sampai permintaan untuk menjadi model foto untuk salah satu pelanggan hotel yang seorang fotografer. Seorang concierge tidak boleh mengatakan “tidak” pada pelanggannya. Ia diwajibkan untuk memenuhi segala permintaan pelanggannya, meskipun permintaan tersebut adalah permintaan yang sifatnya tidak mungkin dikabulkan.

Saijo adalah seorang concierge yang baru bekerja selama satu bulan. Ia sendiri merasa dirinya tidak cocok dengan pekerjaan tersebut. Tanpatsu ini bercerita tentang usaha Saijo dalam memenuhi permintaan dari berbagai macam pelanggan hotelnya (yang kebanyakan orang-orang kaya yang memesan suite room) secara bergantian. Para pelanggan tersebut memiliki latar belakang dan permintaan yang berbeda-beda. Ada pelanggan yang berprofesi sebagai seniman (diperankan Asano Tadanobu) yang meminta Saijo untuk memberi inspirasi untuk karya barunya, ada sutradara (diperankan Mitani Koki yang merupakan sutradara film ini) yang baru merilis film barunya dan meminta Saijo untuk memuji-muji filmnya, ada seorang guru masak (diperankan Takeuchi Yuko) yang sebenarnya tidak bisa memasak sama sekali dan meminta Saijo untuk membantunya berlatih memasak, dan masih banyak lagi pelanggan lainnya. Lalu, apakah Saijo akan berhasil memenuhi permintaan-permintaan aneh para pelanggannya tersebut? Apakah dia memang tidak cocok dengan pekerjaannya sebagai concierge?

Menonton Sutekaku bagi saya rasanya tidak seperti menonton film cerita pada umumnya, tapi seperti menonton acara komedi di televisi. Hal itu dikuatkan dengan gaya kameranya yang dibikin ala-ala candid camera, sehingga adegan-adegan dalam tanpatsu ini memiliki kesan yang real meskipun memiliki cerita yang aneh. Ya, tanpatsu ini memang terasa seperti sebuah eksperimen komedi, di mana kelucuannya dihasilkan dari interaksi Fukatsu Eri dengan pelanggan hotel yang berbeda-beda. Meskipun scripted, tapi banyak adegan yang terkesan sebagai improvisasi dan tampaknya tidak ada di skenarionya (seperti adegan Takeuchi Yuko kepeleset, itu saya yakin banget jatuhnya gak sengaja dan gak ada di skenario). Hal itu membuat tanpatsu ini menjadi sangat fun dan asik ditonton.

Seperti yang saya saya bilang sebelumnya, kelucuan di sini dihasilkan dari interaksi antara tokoh yang diperankan Fukatsu Eri dengan para pelanggan hotelnya. Dan yang paling saya suka, pelanggannya kayaknya gak ada yang normal sama sekali 😀 Salut untuk para aktor dan aktris yang berperan sebagai pelanggan di sini, mulai dari Asano Tadanobu, Nishida Toshiyuki, Kusanagi Tsuyoshi, Takeuchi Yuko, dan masih banyak lagi (termasuk beberapa cameo seperti Nakai Kiichi dan Abe Hiroshi). Mereka semua berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik (dan membuat saya membayangkan mereka pasti mengalami proses syuting yang menyenangkan, mengingat sutradaranya sendiri keliatannya emang kocak). Tapi tentu saja yang paling membuat tanpatsu ini menjadi begitu hidup adalah Fukatsu Eri. Saya sukaaa banget sama akting dan karakternya di sini. Fukatsu Eri sangat sukses memerankan Saijo yang ekspresif dan kadang kepedean. Dan interaksinya dengan pemain-pemain lainnya sangat kocak dan menarik untuk disimak. Dan gara-gara tanpatsu ini, saya jadi pengen tahu seperti apakah pekerjaan concierge yang sebenarnya 😀

Tanpatsu satu episode yang memiliki durasi kurang lebih 107 menit ini sendiri tampaknya memang dibuat sebagai sekadar hiburan dan lucu-lucuan saja (dan untuk promosi Sutekana). Jadi, jika kamu menonton ini dengan tujuan untuk mencari makna yang mendalam atau semacamnya, siap-siap kecewa deh. Tapi sebaliknya, jika kamu memang mencari hiburan ringan yang bisa bikin ketawa, maka ini adalah tontonan untuk anda (meskipun saya tidak menjamin kamu akan menyukai tanpatsu ini. Film/drama Jepang itu punya gaya komedi yang lain daripada yang lain. Jadi sebagian mungkin gak bakal nangkep apa lucunya dan menganggap ini aneh. Tapi jika sudah terbiasa menonton film/drama komedi buatan Jepang seperti saya, maka kamu mungkin akan menyukai tanpatsu ini). Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan sih saya sangat menyukai tanpatsu ini (yang membuat saya semakin ingin menonton Sutekana, yang trailernya ditampilkan sesudah tanpatsu ini). Jadi, 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Seorang manager night club bernama Bingo Noboru (Tsumabuki Satoshi) suatu hari terkena masalah besar ketika perselingkuhannya dengan Takachiho Mari (Fukatsu Eri), yang merupakan kekasih dari seorang bos mafia (Nishida Toshiyuki) di kotanya, ketahuan.  Ketika Bingo dan Mari sedang menanti hukuman yang akan diberikan si bos mafia tersebut, tiba-tiba Bingo meracau bahwa ia mengenal seseorang bernama Della Togashi. Sebelumnya, Bingo memang sempat mendengar beberapa anak buah si bos mafia tersebut berbicara tentang Della Togashi, yang tampaknya merupakan orang yang sedang mereka cari. Si bos mafia yang mengatakan bahwa dia adalah penggemar dari Della Togashi lalu menyuruh Bingo untuk mencarikan Della Togashi untuknya. Ia memberi waktu Bingo lima hari, dan jika ia berhasil, Bingo akan terbebas dari hukumannya.

Tanpa bosnya ketahui, Bingo sebenarnya berbohong mengenai Della Togashi. Bahkan, ia sendiri tidak tahu Della Togashi itu siapa. Ia mengatakan bahwa ia mengenal orang itu cuma supaya dibebaskan dari hukuman yang akan menimpanya. Mari pun memberitahu Bingo bahwa Della Togashi adalah seorang pembunuh bayaran legendaris. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui wujud sebenarnya dari Della Togashi, karena itulah menemukannya dalam waktu lima hari adalah suatu kemustahilan. Ketika sedang mengobrol dengan Natsuko (Ayase Haruka), perempuan yang bekerja di night clubnya, tentang kota tempat mereka tinggal yang pemandangannya seperti setting film, Bingo pun mendapat sebuah ide. Ide tersebut adalah ia akan mencari seorang aktor yang akan memerankan Della Togashi, dan membuat aktor tersebut berpikir bahwa ia sedang syuting film. Aktor yang dipilih Bingo tersebut adalah Murata Taiki (Sato Koichi), seorang aktor yang terbiasa berperan sebagai peran kecil atau sekadar stuntman. Murata yang sedang frustrasi akan karirnya yang begitu-begitu saja pun tertarik pada tawaran Bingo (meskipun Bingo tidak terlihat meyakinkan sebagai sutradara, bahkan menyiapkan skenario pun  ia tidak). Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah rencana Bingo akan berjalan lancar? Apakah identitas Murata sebagai Della Togashi palsu akan ketahuan oleh si bos mafia? Dan apakah Murata akan menyadari bahwa ia tengah bermain di ‘film palsu’?

Menonton film ini karena tertarik dengan premisnya yang tampak menarik. Gimana coba caranya ada orang yang percaya kalo dia lagi syuting film, tanpa skenario (dialognya terserah si aktor, supaya terkesan natural), kamera yang ceritanya tersembunyi (lagi-lagi biar keliatan natural), dan kru yang cuma tiga orang? Terkesan bodoh banget ya? 😀 Namun, itulah yang jadi sumber kelucuan dari film ini. Tingkah laku Murata dalam berakting di sesuatu yang sebenarnya bukan film itu adalah hal terkocak dari film ini (ya, ini adalah film komedi). Dengan mudahnya, ia berhasil ditipu oleh Bingo. Dan walaupun dengan segala kejanggalan-kejanggalan yang ada pada ‘proses syuting’ film tersebut, Murata tetap percaya bahwa ia memang sedang syuting sebuah film. Adegan pertemuan pertamanya dengan si bos mafia adalah adegan paling menarik di film ini, karena berhasil bikin saya deg-degan sekaligus ketawa. Selanjutnya, masih banyak sederet adegan lucu lainnya, apa lagi selanjutnya Murata akan terseret semakin jauh dengan kelompok mafia tersebut. Dan meskipun kemudian ia mengalami beberapa hal berbahaya, ia masih percaya kalau ia sedang syuting film.

Sato Koichi sangat berhasil memerankan karakter Murata, aktor desperate yang berperan sebagai Della Togashi gadungan. Kepolosannya, dan tingkah lakunya yang banyak gaya, membuat karakter ini akan sangat mudah disukai penontonnya. Meskipun terkesan bodoh, tapi nantinya kita akan mengetahui bahwa karakter ini hanyalah orang biasa yang sangat mencintai pekerjaannya sebagai aktor. Karena itulah, tawaran dari Bingo baginya adalah sesuatu yang menumbuhkan kecintaannya kembali pada pekerjaannya, setelah sebelumnya ia sempat mengalami kebosanan karena selalu memerankan peran-peran tak penting di film-film. Tsumabuki Satoshi pun sangat cocok memerankan karakter pecundang macam Bingo. Begitu pula dengan sederet aktor aktris lainnya macam Fukatsu Eri, Nishida Toshiyuki, Ayase Haruka, Terajima Susumu, Kohinata Fumiyo, dan masih banyak yang lainnya. Dan selain unsur komedinya, salah satu hal menarik dari film yang disutradarai oleh Mitani Koki ini memang lah aktor dan aktris yang berperan di dalamnya. Selain pemain-pemain utama yang sudah saya sebutkan sebelumnya, film ini juga memiliki segudang cameo aktor aktris terkenal, seperti Kagawa Teruyuki, Karasawa Toshiaki, Amami Yuki, Tanihara Shosuke, Suzuki Kyoka, Nakai Kiichi, dan masih ada beberapa lagi. Bahkan, sutradara terkenal Ichikawa Kon pun turut meramaikan film ini sebagai cameo (dan di tahun yang sama dengan rilisnya film ini, beliau meninggal dunia sehingga di akhir film ini terdapat kata-kata “in memory of director Kon Ichikawa”).

Kelebihan lain dari film ini adalah settingnya yang tidak seperti di Jepang. Ya, setting film ini tampak seperti setting di film-film barat klasik tahun 20-30an. Selain itu film ini juga dihiasi oleh lagu-lagu berirama jazz yang menambah kesan film barat klasiknya. Kostum yang digunakan para pemainnya pun turut memperkuat kesan tersebut (seperti gaya berpakaian kelompok mafianya yang lebih mirip mafia Eropa daripada mafia asli Jepang seperti Yakuza). Tampaknya film ini memang dibuat sebagai penghormatan terhadap film barat klasik (dan juga untuk menunjukkan keajaiban proses pembuatan film). Namun, meskipun atribut film ini tampak kebaratan-baratan, film ini tetap terlihat wajar dan tidak terkesan maksa (trivia: di bagian credit film ini kita akan diperlihatkan pada klip mengenai proses pembuatan settingnya).

Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan saya sangat menyukai film ini karena film ini berhasil menghibur saya dari awal sampai akhir. Cocok ditonton para penyuka komedi, atau penyuka film pada umumnya (karena film ini adalah satu contoh film yang menunjukkan kekuatan sinema). 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Kita Yoshio (Kohinata Fumiyo) selalu merasa bahwa dirinya adalah orang paling sial sedunia. Baginya, hanya ada dua kebahagiaan yang pernah dia alami dalam hidupnya, yaitu pernikahannya dengan Mizuho (Konishi Manami) 11 tahun yang lalu yang sayangnya hanya bertahan selama enam bulan, dan pertemanannya dengan Minami Takao (Imai Masayuki), yang telah meninggal dalam kecelakaan pesawat 11 tahun silam. Selain dua hal itu, baginya tidak ada hal baik lagi yang terjadi pada dirinya. Untuk itulah, Kita Yoshio memutuskan akan mengakhiri hidupnya 11 hari lagi, tepatnya pada hari peringatan 11 tahun kematian Minami.

Di hari pertama dalam 11 hari itu, suatu kejadian mempertemukannya dengan seorang pengelola cabaret club bernama Yashiro Heita (Matsuda Ryuhei). Mengetahui bahwa orang yang baru dikenalnya itu akan mengakhiri hidupnya sebelas hari lagi, Heita lalu berusaha untuk membantu Kita Yoshio mewujudkan hal yang ingin dilakukannya sebelum mati, seperti mencarikan dan mempertemukannya dengan Mizuho (mantan istrinya) dan mempertemukannya dengan seorang artis idola bernama Yoimachi Shinobu (Yoshitaka Yuriko). Dan tanpa disangka-sangka, 11 hari tersebut menjadi 11 hari paling ‘menarik’ dalam hidup seorang Kita Yoshio. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Kita Yoshio akan benar-benar mengakhiri hidupnya sebelas hari lagi? Tonton aja deh kakak.

Tertarik menonton dorama ini karena premisnya yang menarik, plus jajaran castnya yang bagus semua. Premis dalam Ashita no Kita Yoshio (Kita Yoshio’s Tomorrow) memang cukup sederhana, tentang 11 hari terakhir seseorang yang akan bunuh diri. Namun, ternyata ceritanya tidak sesederhana itu. Ceritanya ternyata cukup kompleks dan bukan cuma tentang 11 hari terakhir orang yang akan bunuh diri saja, tapi juga tentang misteri dalam hidup Kita Yoshio sendiri yang berkaitan dengan hubungannya dengan Mizuho sebelas tahun yang lalu. Penonton akan dibuat penasaran dengan misteri mengapa Mizuho mau menikahi Kita Yoshio sebelas tahun yang lalu. Apalagi karakter Mizuho di masa kini pun memiliki beberapa permasalahan yang membuat seorang insurance investigator bernama Sugimoto (Namase Katsuhisa) menyelidikinya (dan menyelidiki Kita Yoshio pula). Nantinya, kita akan dibawa pada berbagai macam kejutan yang tak disangka-sangka yang membuat dorama ini menjadi semakin menarik. Seperti apa kejutannya? Tonton sendiri deh 😀

Selain itu, kita juga akan menemukan studi karakter yang sangat menarik di dorama ini. Kita bisa melihat bahwa dalam dorama ini Kita Yoshio dipertemukan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah ia kenal tapi memberi pengaruh yang kuat pada 11 hari terakhirnya. Dan yang paling saya suka adalah karakter-karakter ini tidak ada yang sepenuhnya putih atau sepenuhnya hitam. Misalnya karakter Heita yang diperankan dengan sangat baik oleh Matsuda Ryuhei. Awalnya kita pasti akan dibuat bingung mengapa orang ini mau susah-susah membantu Kita Yoshio yang baru saja ditemuinya. Tapi nantinya kita akan mengetahui bahwa Heita ternyata memiliki tujuan sendiri sehubungan dengan hal itu. Namun, seperti yang saya bilang, tidak ada karakter yang benar-benar jahat atau benar-benar baik di sini. Semuanya adalah manusia yang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Dan tidak hanya Heita saja, ada juga karakter Rika (Kuriyama Chiaki), pacar Heita yang tengah putus asa karena suatu hal. Melalui dua karakter ini kita bisa melihat bahwa keputusasaan bisa membuat orang memiliki niat buruk terhadap orang lain. Namun, pertanyaannya adalah, apakah mereka sanggup melaksanakan niat buruk tersebut?  Selain dua karakter itu, ada berbagai macam karakter lain yang turut memberi warna pada dorama ini. Seperti karakter Yoimachi Shinobu, seorang idol yang turut membuat 11 hari terakhir Kita Yoshio menjadi semakin menarik sekaligus menegangkan (dan akting Yoshitaka Yuriko sebagai Shinobu sangat mencuri perhatian di sini, saya heran kenapa di poster doramanya karakter ini gak ada); karakter Mizuho yang penuh misteri; karakter Moriwaki (Kaname Jun) yang jalan pikirannya tidak pernah bisa ditebak; dan karakter Sugimoto yang menjadi bumbu komedik dalam dorama ini. Dan semua aktor dan aktris dalam dorama ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan baik.

Selain karakter-karakter di atas, jangan dilupakan karakter utamanya, yaitu Kita Yoshio yang diperankan dengan sangat baik oleh Kohinata Fumiyo. Para penggemar dorama Jepang pasti tidak asing dengan wajahnya karena ia selalu ada di hampir semua dorama yang pernah saya tonton (mungkin ini lebay, tapi dia emang hampir selalu ada di dorama apapun, sama halnya dengan Nukumizu Youichi yang juga muncul di dorama ini sebagai bintang tamu). Namun, berapa kah yang mengingat namanya? Ya, meskipun penggemar dorama akan mengingat wajahnya tapi mungkin hanya ada sedikit sekali yang mengingat namanya karena ia memang lebih sering memerankan karakter-karakter pembantu (atau sekadar pelengkap) di banyak dorama.  Di Ashita no Kita Yoshio, ia mendapat kesempatan untuk menunjukkan aktingnya sebagai pemeran utama. Karakternya sendiri  di sini sebenarnya adalah karakter yang umum ia perankan di dorama lain, yaitu karakter pria setengah baya yang saking baiknya jadi gampang dimanfaatkan orang lain (dan Kohinata Fumiyo itu emang punya muka orang baik yang bisa bikin orang kasian).  Namun, bukan berarti Kohinata Fumiyo hanya mampu memerankan karakter semacam itu saja. Di dorama ini, kita juga akan dipertemukan pada karakter Negative Yoshio, yaitu kepribadian lain dari Kita Yoshio yang merupakan sisi negatifnya. Kohinata Fumiyo sangat berhasil memerankan sosok itu, dan hal itu juga membuktikan bahwa aktor satu ini tidak cuma berbakat dalam memerankan satu jenis karakter saja.

Well, secara keseluruhan saya sangat menyukai dorama ini. Beberapa orang bilang kalau dorama ini alurnya agak lambat dan membosankan, tapi saya merasa baik-baik saja dengan alurnya tersebut dan hal itu menurut saya malah memperkuat perkembangan yang ada dalam ceritanya. Dan saya juga tidak pernah merasa kebosanan ketika menontonnya karena kejutan-kejutannya selalu membuat saya merasa penasaran mengenai kelanjutan hidup Kita Yoshio selanjutnya. Tambahan, dorama ini juga memiliki soundtrack yang sangat bagus dan sangat pas ditempatkan di dorama ini (dan saya suka sekali lagu Mayonaka no Boon Boon yang jadi theme song-nya). Jadi, 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »