Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘matsuyama kenichi’

1. Usagi Drop (Japan, 2011)

Saya selalu tertarik dengan film yang menggambarkan hubungan ayah dan anak. Dan meskipun ayah dan anak dalam Usagi Drop ini bukanlah ayah dan anak beneran, hal tersebut tidak mengurangi ketertarikan saya pada film ini. Bercerita tentang bujangan berusia tiga puluh tahun bernama Daikichi (Matsuyama Ken’ichi) yang memutuskan untuk mengasuh Rin (Ashida Mana) yang disebut-sebut sebagai anak haram dari kakeknya yang baru saja meninggal dunia, dengan segala lika-likunya. Well, film ini enjoyable dan cocok untuk ditonton para penyuka film-film bergenre slice of life atau film yang bercerita tentang hubungan ayah dan anak. Saya belum pernah baca versi manganya atau nonton versi anime-nya, jadi saya gak bisa mengatakan apakah adaptasi ini berhasil atau tidak. Tapi saya lumayan menikmati film ini. Matsuyama Ken’ichi cukup pas memerankan seorang pria single yang tiba-tiba harus mengasuh anak kecil, dan ia berhasil membangun chemistry yang sangat baik dengan Ashida Mana. Ya, Ashida Mana! Sungguh ya anak kecil satu ini adorable sekali. Dan tidak hanya adorable, aktingnya pun sangat bagus di sini. Di luar hal itu, film ini juga memiliki kekurangan di mana ada part-part yang seharusnya mengaduk-aduk emosi penontonnya, tapi jadinya malah datar-datar aja. Tapi di luar itu saya cukup suka film ini kok. 3,5/5.

2. Chonmage Purin / A Boy and His Samurai (Japan, 2010)

Tertarik menonton film ini karena posternya yang kelihatan lezat, plus karena film ini disutradarai oleh Nakamura Yoshihiro (Fish Story, Ahiru to Kamo no Koinrokka), dan saya cukup penasaran ingin tahu seperti apakah film buatannya ketika ia tidak bekerja sama dengan Isaka Kotaro. Film ini bercerita tentang seorang samurai (pada periode Edo) bernama Yasube Kijima (Nishikido Ryo) yang terkena time leapt ke 180 tahun kemudian. Di 180 tahun kemudian itu, tepatnya di Jepang masa kini, ia bertemu dengan seorang single mother bernama Hiroko (Tomosaka Rie) beserta anak laki-lakinya, Tomoya (Suzuki Fuku). Hiroko lalu mengizinkan Yasube untuk tinggal bersamanya dan anaknya, dan sebagai balas budi, Yasube kemudian membantu Hiroko dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga di rumahnya, yang nantinya berujung ketika ia mulai belajar membuat kue. Film ini mungkin masih mirip-mirip dengan Usagi Drop, di mana bercerita tentang ‘hubungan keluarga’ tanpa ikatan darah. Tapi film ini tidak hanya bercerita tentang hubungan Yasube dengan ibu dan anak tersebut saja. Film ini juga berusaha menyinggung tentang permasalahan gender, yang ditunjukkan melalui sosok Hiroko sebagai single mother yang bekerja di luar, dan Yasube yang melakukan pekerjaan rumah tangga. Menurut saya film ini cukup menghibur dan enjoyable, dan terdapat kejutan manis yang sedikit bikin terharu meskipun gak sampe bikin nangis. Dari segi akting, Nishikido Ryo cukup baik memerankan Yasube, samurai super serius yang kemudian terdampar ke dunia patisserie. Tomosaka Rie dan Suzuki Fuku juga lumayan baik aktingnya (dan Suzuki Fuku ini lucuu, dia ini versi anak laki-lakinya Ashida Mana kayaknya, hehe). Overall, film ini cocok untuk ditonton penyuka film keluarga, dan juga penyuka film tentang makanan, karena kue-kue buatan Yasube di film ini sungguh bikin ngiler (tapi untuk pudingnya ternyata kurang menggiurkan, masih lebih menggiurkan puding yang di My Boss My Hero :D). 3,5/5

3. Toad’s Oil / Gama no Abura (Japan, 2009)

Aktor kawakan Yakusho Koji mencoba untuk menunjukkan bakatnya yang lain, yaitu dalam menyutradarai sebuah film. Dan hasilnya, untuk sebuah debut, film ini menurut saya lumayan banget. Di film ini, ia tidak hanya menyutradarai, tapi juga turut bermain sebagai pemeran utama. Film ini bercerita tentang Yazawa Takuro (Yakusho Koji) yang tinggal di mansion yang cukup besar bersama istri (Kobayashi Satomi) dan anak laki-lakinya, Takuya (Eita). Suatu hari, Takuya mengalami insiden yang membuat dirinya koma. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Menurut saya, film ini berhasil menggambarkan bagaimana rasanya kehilangan dengan sangat baik. Di sini kita dihadapkan pada tokoh Takuro, seorang ayah yang tingkah lakunya masih kekanak-kanakan dan tidak mencerminkan karakter seorang ayah. Saking kekanak-kanakannya, ketika anak laki-lakinya sedang koma di rumah sakit, ia malah sibuk telepon-teleponan dengan Hikari (Nikaido Fumi), pacar LDR Takuya, dengan berpura-pura sebagai Takuya. Setelah suatu hal (yang mungkin sudah bisa ditebak) terjadi, Takuro pun melakukan suatu perjalanan yang nantinya akan mendewasakan dirinya. Menurut saya, ini adalah tipe film yang bisa membuat penontonnya bersedih (meskipun bukan tipe sedih yang bikin nangis) dan tersenyum. Saya lumayan suka perjalanan yang dilakukan Takuro dan Akiba (teman masa kecilnya Takuya) yang dibumbui dengan bumbu komedi ‘unik’ khas Jepang. Saya juga suka melihat bagaimana hubungan Takuro dengan Hikari lewat telepon, yang menurut saya manis sekali meskipun dari luar keliatannya gak wajar. Semua pemain bermain dengan baik di sini, dan nilai plus lagi film ini memiliki sinematografi yang sangat indah. Dan saya lumayan menyukai endingnya yang memberikan kesan pahit dan manis sekaligus. Overall, menurut saya Yakusho Koji cukup berhasil menggambarkan perasaan kehilangan dan perasaan cinta seorang ayah terhadap anaknya dengan baik. Semoga ke depannya ia akan menyutradarai film lagi, karena debutnya yang ini sudah cukup menjanjikan. 3,5/5

Advertisements

Read Full Post »

Film ini bercerita tentang persahabatan dua orang perempuan dengan nama dan umur yang sama. Yang satu adalah Nana Oosaki (Mika Nakashima), cewek cool berpenampilan punk yang juga seorang vokalis suatu band kecil dan bermimpi agar band-nya suatu saat menjadi terkenal. Satu lagi adalah Nana Komatsu (Aoi Miyazaki), gadis manis, baik hati, sangat ceria dan selalu tersenyum. Keduanya pertama kali bertemu saat mereka duduk bersebelahan di kereta dalam perjalanan ke tokyo. Perjalanan yang cukup memakan waktu lama itu membuat keduanya saling mengobrol. Nana Komatsu (yang kemudian akan dipanggil Hachi, yang merupakan bahasa Jepangnya angka 8 *ngomong-ngomong Nana itu adalah bahasa Jepang-nya angka 7*) yang memang supel dan gampang bergaul menceritakan banyak hal pada Nana, termasuk tentang alasannya ke Tokyo adalah untuk menyusul pacarnya yang kuliah di Tokyo.

Setelah sampai, kedua NANA ini lalu berpisah. Mereka tidak sengaja bertemu lagi saat keduanya kebetulan mau menyewa apartemen yang sama. Karena apartemen dengan nomor 707  itu memiliki dua kamar, untuk menghemat biaya mereka lalu memutuskan untuk tinggal bersama dan membagi uang sewanya. Keduanya pun mulai bersahabat. Hachi juga diperkenalkan pada teman-teman Nana seperti Nobu (Hiroki Narimiya) dan Yasu, yang merupakan teman di band Nana yang dulu, The Black Stones. Nobu dan Yasu mengajak Nana untuk kembali melanjutkan The Black Stones, setelah cukup lama vakum sejak ditinggal oleh salah satu anggota, yaitu Honjo Ren (Ryuhei Matsuda), pacar NANA yang berpindah ke band Trapnest yang sekarang menjad band yang sangat terkenal . Nana pun setuju dan mulai merekrut anggota baru.

Selain itu, masalah timbul ketika Hachi tak sengaja mengetahui pacarnya berselingkuh sehingga ia putus dengan pacarnya. Selain itu pula, kita juga dibawa pada konflik batin Nana tentang perasaannya pada Ren, kekasihnya dulu. Jadi, apa yang akan terjadi pada kedua NANA ini? Ayo deh tonton aja.

My Opinion:

Dulu saya penasaran banget sama film yang diangkat dari manga berjudul sama karya Yazawa Ai ini, berhubung pernah baca reviewnya di Animonster yang sangat menarik pas jaman dulu. Dan akhirnya baru-baru ini saya nemu dvd-nya. Pas nonton, hasilnya? Saya cuma bisa bilang film ini gak jelek, tapi kalo dibilang bagus banget juga nggak sih. Jadi film ini buat saya biasa-biasa saja.

Tapi lumayan banyak yang saya suka dari film ini. Seperti pertemuan pertama kedua NANA di kereta api. Selain itu, saya suka banget sama narasi film ini. Saya hampir selalu suka sama film yang ada narasi-nya sih ^^ Dan yang paling saya suka dari film ini adalah persahabatan antara Nana dan Hachi, rasanya seneng banget liat persahabatan dua orang dengan kepribadian yang sangat berbeda ini. Hachi sangat menyukai Nana dan menganggap Nana sangat cool, Nana juga sangat menyayangi Hachi dan selalu melindunginya, seperti pada saat Hachi memergoki pacarnya dengan perempuan lain.

Kalo soal akting, saya suka banget sama aktingnya Aoi Miyazaki. Aktingnya pas, sesuai dengan karakternya yang manis dan imut. Dan wajahnya itu cantik banget ya, jadi seneng liatnya (hehe). Untuk Mika Nakashima yang aslinya adalah seorang penyanyi, aktingnya buat saya kurang total dan datar-datar aja. Emang sih, karakternya kan memang diceritakan ‘dingin’ atau ‘cool’. Tapi masa kalo lagi marah aja tetep gak keliatan emosi-nya, waktu melepas Ren di kereta api juga kurang kerasa aktingnya sehingga adegan itu jadi gak nendang sama sekali *alah*. Tapi di luar aktingnya yang rada kaku, saya suka banget sama gayanya yang nge-punk itu, termasuk gaya rambutnya yang pendek (dan secara fisik, fisiknya memang mendekati dengan tampilan Nana di versi manga-nya). Di film ini juga ada aktor kesayangan saya, Narimiya Hiroki, tapi saya gak suka sama gaya rambutnya di sini, dan karakteristiknya di NANA udah sering saya liat di film/dorama lainnya, jadi gak ada yang istimewa dengan aktingnya di sini. Di sini juga ada Ken’ichi Matsuyama loh, masih terlihat sangat muda dengan rambut ke atas warna putihnya (atau abu-abu ya?).

Selain itu saya suka sekali sama ending film ini. Kejutan yang lumayan menyenangkan. Di luar itu, film ini biasa aja sih. Di beberapa bagian rada membosankan tapi ada juga adegan-adegan yang lumayan menarik. 3,5 bintang deh.

Nb: film ini memiliki sekuel, dan mengalami beberapa pergantian pemeran (seperti pada karakter Hachi dan Ren). Tapi saya belum nonton sekuel-nya ^^

My Rating: 3,5 / 5

Read Full Post »

L: Change the World adalah spin off dari Death Note, film yang diangkat dari sebuah manga karangan Takeshi Obata yang sangat populer baik di Jepang mau pun di luar Jepang. Film ini memfokuskan pada karakter L (Ken’ichi Matsuyama), si detektif nyentrik yang sangat berambisi menangkap Kira.

Jadi, dalam film ini, kan ceritanya si L (yang ternyata bernama asli L. Lawliet) menuliskan namanya sendiri di death note, dengan keterangan ia akan meninggal dengan tenang 23 hari kemudian.  Dalam 23 hari menjelang kematiannya, L dihadapkan pada sebuah kasus di mana ada sebuah kelompok yang mengembangkan sebuah virus berbahaya yang bisa memusnahkan umat manusia. Kelompok ini bertujuan untuk mengurangi jumlah populasi manusia yang semakin lama semakin banyak. Namun, mereka menemui kesulitan karena mereka tidak bisa membuat vaksinnya (suatu virus tidak bisa dijalankan kalo tidak ada vaksin, karena mungkin bisa membahayakan si pembuatnya sendiri). Karena itulah, salah satu dari mereka, Kujo-sensei  (yang punya nama sandi K), seorang ilmuwan wanita, meminta Nikaido-sensei, teman sesama ilmuwannya, untuk membuat vaksin tersebut.

Awalnya Nikaido-sensei tidak tahu mengenai niat jahat Kujo-sensei dan kelompoknya tersebut. Setelah Kujo-sensei serta kelompoknya menunjukkan maksud dan tujuannya tersebut dan mendesak Nikaido-sensei untuk membuat vaksinnya (dan ternyata vaksinnya sudah berhasil dibuat Nikaido-sensei), Nikaido-sensei memilih untuk menghancurkan satu-satunya vaksin tersebut serta membunuh dirinya sendiri dengan virus tersebut. Hal itu dilihat oleh Maki, putri Nikaido-sensei, yang langsung shock melihat kejadian tersebut, dan langsung kabur ke alamat yang sebelumnya dipesankan oleh ayahnya, yaitu alamat Watari, dan bertemu dengan L. Kelompok tersebut lalu datang menemui Maki di tempat L untuk mencari data-data vaksin tersebut. Karena suatu kejadian, Maki juga terinfeksi virus tersebut, dan bersama-sama dengan L serta seorang bocah Thailand (yang merupakan satu-satunya orang yang tidak terinfeksi virus saat virus tersebut menyerang Thailand), mereka kabur dari tempat itu dan berusaha untuk menemukan vaksin dari virus tersebut? Bagaimana selanjutnya? Apakah L berhasil menemukan vaksin tersebut dengan batas waktu 23 hari saja? Tonton aja deh.

My Opinion:

Ya, film ini lumayan menarik buat saya, meskipun tidak seseru Death Note. Di film ini kita bisa mengenal karakter L jauh lebih dalam. Selain itu, kita juga bisa melihat sisi kemanusiaan L yang tidak diperlihatkan di dua film Death Note sebelumnya, melalui interaksi-interaksinya dengan dua anak kecil yang menemaninya selama beberapa hari sebelum kematiannya. Lucu liat adegan pas L dipaksa Maki untuk berjalan tegak *dan si L nurut-nurut aja*

Film ini di bagian-bagian awalnya menurut saya rada membosankan, tapi ke tengahnya lumayan menarik. Adegan Nikaido-sensei bunuh diri itu cukup menyayat hati dan menegangkan. Adegan di Thailand saat F dikejar-kejar juga agak menyedihkan.

Dari sisi akting, Ken’ichi Matsuyama sepertinya sudah melekat banget dengan karakter L. Kadang-kadang saya suka mikir kalau Ken’ichi dan L itu dua orang yang berbeda, karena di luar jadi L perannya selalu beda (seperti perannya di Detroit Metal City yang jauh berbeda dengan karakter  L). Ken’ichi sangat sukses memerankan karakter L, si detektif nyentrik penyuka makanan manis yang gerak-geriknya selalu ajaib.

Endingnya cukup manis dan touching. Saya jadi gak rela kalau si L ini bakal mati bentar lagi (untungnya gak diliatin bagaimana kematiannya). Apalagi si L ini, yang awalnya nerima-nerima aja bahwa dia akan mati sebentar lagi, mulai punya harapan untuk ingin hidup lebih lama.

Baiklah, segini aja reviewnya. Film ini bagus kok, tapi saya masih lebih suka Death Note karena lebih tegang ^^. Film ini cocok untuk ditonton penggemar Death Note serta penggemar L. 3,5 bintang deh.

My Rating: 3,5 / 5

Read Full Post »

*Review ini pertama kali ditulis 30 Oktober 2009 di http://purisuka.multiply.com

Tau film ini dulu dari majalah J-Star, ngakak liat gaya rambutnya Kenichi Matsuyama yang sangat sangat culun dan menggelikan di sini, akhirnya penasaran juga pengen tahu akting dia kayak gimana di film ini, berhubung sebelumnya saya terkesan sama aktingnya pas jadi L di Death Note. Dan keliatannya di film ini perannya jauh berbeda dengan di Death Note. Selain itu beberapa teman kampus saya yang udah nonton film ini bilang filmnya bagus dan lucu. Ya udah deh pas mampir ke toko dvd (bajakan, yeah) tanpa pikir panjang saya langsung beli dvd-nya.
Detroit Metal City bercerita tentang Souichi Negishi (Kenichi Matsuyama), seorang pemuda desa yang hijrah ke Tokyo untuk meraih mimpinya sebagai musisi pop yang fashionable. Negishi mempunyai motto “NO MUSIC NO DREAM”. Motto inilah yang mengantarkannya ke jalur musik yang justru sangat sangat berbeda dengan jalur musik yang diharapkannya, yaitu DEATH METAL. Ya, Negishi malah jadi vokalis band Death Metal bernama Detroit Metal City (DMC), dengan memakai nama John Krauser II. Sebagai Krauser, kepribadiannya berubah total dari Negishi yang biasanya. Omongannya jadi kasar dan selalu mengarah ke kematian, neraka, dan hal-hal yang berhubungan dengan death metal, padahal dalam hatinya ia tidak mau seperti itu. Ia juga mempunyai banyak penggemar (lebih tepat disebut pemuja sih) yang sangat mengagung-agungkannya. Negishi tidak bisa keluar dari kehidupannya sebagai Krauser dikarenakan manager dari band tersebut benar-benar freak dan menakutkan (eehm, menurut saya menakutkan sih cewek itu). Suatu hari Negishi bertemu dengan teman kampusnya, Aikawa Yuri (Kato Rosa) yang sangat tidak menyukai musik death metal, apalagi ada insiden memalukan yang melibatkan dia dan Krauser yang membuat ia makin membenci death metal. Hal itu tentunya membuat Negishi panik karena ia jatuh cinta pada Aikawa dan tidak ingin identitasnya sebagai Krauser ketahuan. Jadi bagaimana selanjutnya? Apa Negishi tetap bertahan di DMC? Atau ia keluar dan beralih ke musik pop yang dari dulu diinginkannya? Tonton sendiri deh :p

My Opinion:
Film ini gejeeee!! Hahaha saya lumayan berhasil dibikin ngakak oleh akting Kenichi Matsuyama di film ini. Salut sama perpindahan karakter dia dari Negishi ke Krauser dan juga sebaliknya, karakter mereka bener-bener kayak orang yang berbeda. Oh iya tiap Negishi nyanyi dan goyang-goyang selalu bikin saya pengen ketawa, ekspresinya itu looooooh. Buang jauh-jauh karakter L yang udah sangat melekat pada Kenichi dari kepala anda.
Ya, kelebihan film ini emang ada pada akting Kenichi sih. Yang lain-lainnya menurut saya biasa aja. Seperti yang saya bilang di atas, film ini geje! Hehehe kadang-kadang banyak adegan yang (menurut saya) ga jelas seperti waktu di bagian terakhir pas Negishi nyanyi bareng penyanyi death metal yang bawa-bawa kerbau itu (lupa namanya) dan tiba-tiba panggungnya meledak. Sumpah gejeeeee XDDD. Selain itu rada gak suka sama endingnya. Masa endingnya gitu doang?? Menyisakan kegantungan yang sangat menggantung deh (ini apa lagi bahasanya ga jelas?). Tapi di luar itu filmnya menghibur kok. Banyak adegan lucu (walo geje) yang lumayan bisa bikin senyum-senyum atau ketawa. Jadi, 3,5 bintang aja deh dari saya.

My Rating: 3,5 / 5

Read Full Post »