Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2010

Kadang kita sering kali tidak menyadari, bahwa hal-hal kecil yang kita buat, yang dirasa sederhana dan tidak ada artinya, bisa menimbulkan pengaruh yang kuat kepada orang lain. Bahkan, hal kecil tersebut bisa saja menyelamatkan bumi dari kehancuran. Dalam film ini, hal kecil tersebut digambarkan dengan sebuah lagu punk. Ya, lagu punk ternyata bisa menyelamatkan dunia! Lha, kok bisa? Ya bisa aja, namanya juga film *halah*.

Film ini sendiri terdiri dari beberapa cerita dengan kurun waktu yang berbeda. Yang menontonnya awalnya mungkin akan bingung melihat cerita-cerita yang ada di sini dan akan bertanya-tanya “mau dibawa ke mana sih cerita film ini?” Tapi tenang, dibutuhkan kesabaran dalam menonton film ini. Bukan karena filmnya membosankan atau alurnya lambat, tapi karena ya itu tadi, kita masih bingung film ini mau nyeritain apa sih? Tapi tunggu sampe akhir, karena setelah menonton sampe akhir, mungkin kamu akan jadi terkagum-kagum pada film ini seperti saya.

Tahun 2012. Tahun yang diramalkan sebagai tahun terakhir di bumi ini. Dan di film ini, ramalan tersebut sudah mendekati kenyataan. Sebuah komet sudah bisa dilihat oleh mata kepala manusia, dan siap menabrak bumi. Beberapa jam sebelum komet tersebut sampai ke bumi, ada 3 orang yang sedang berada di sebuah toko CD. Dua orang di antaranya memiliki keyakinan bahwa bumi akan selamat, dan akan ada “seigi no mikata” *kayak judul dorama* alias pembela keadilan yang akan menyelamatkan bumi dari kehancuran. Dalam toko tersebut, mereka mendengar sebuah lagu yang direkomendasikan oleh sang pemilik toko. Lagu dengan aliran punk tersebut berjudul “Fish Story” yang dibawakan oleh grup band punk bernama Gekirin 37 tahun lalu, satu tahun sebelum band Sex Pistols eksis dan memperkenalkan aliran musik punk pada dunia.

Cerita beralih pada tahun 1982. Ada 3 orang mahasiswa yang sedang melakukan perjalanan menaiki mobil. Salah satu mahasiswa tersebut (diperankan Gaku Hamada) tergolong lemah dan tampak dijadikan supir saja oleh dua orang temannya. Dalam mobil tersebut, mereka berdiskusi tentang lagu “Fish Story” yang katanya merupakan lagu kutukan karena di tengah-tengah lagu tersebut tiba-tiba tidak ada suara dalam waktu yang cukup lama. Mereka pun sampai di tempat tujuan mereka di mana mereka (tepatnya yang dua orang, yang satu tampak tak dianggap) kemudian berkencan dengan beberapa mahasiswi (goukon gitu deh istilahnya). Salah satu mahasiswi tersebut memiliki indra keenam, dan ia kemudian meramalkan bahwa salah satu pria di tempat itu nantinya akan jadi penyelamat dunia.

Lalu cerita beralih pada tahun 2009, bersetting di sebuah kapal Ferry. Ada seorang siswi SMA (diperankan Tabe Mikako) yang tertinggal di kapal tersebut dari rombongan teman-temannya karena tertidur. Ia pun terjebak dalam kapal yang menuju Hokkaido tersebut. Selagi ia menangisi kebodohannya, ada seorang koki muda (diperankan Mirai Moriyama) yang mengajaknya mengobrol dan berkenalan. Koki muda tersebut bercerita bahwa sejak kecil, ia dibesarkan oleh ayahnya untuk menjadi seorang pembela kebenaran. Dan setelah itu, tiba-tiba kapal ferry tersebut dibajak oleh beberapa pria berpistol.

Lalu ceritanya mundur lagi ke tahun 1975. Yang ini bercerita tentang grup band Gekirin yang membawakan lagu fish story tersebut. Grup band ini membawakan musik-musik yang agak keras (aliran punk, tapi waktu itu mereka belum tahu bahwa itu punk)  dan akhirnya mendapat keberuntungan karena ada label yang tertarik pada mereka. Namun sayangnya, lagu mereka dianggap terlalu keras dan dianggap tidak cocok dengan kuping kebanyakan penggemar musik dan tidak menjual, sehingga produsernya meminta agar lagu-lagu mereka dibuat lebih mellow. Para member tersebut tidak terima dan bersikeras untuk tidak mengubah musik mereka. Pada saat itu, salah satu membernya (diperankan Ito Atsushi) membuat sebuah lagu berjudul “Fish Story” yang liriknya diambil dari sebuah buku yang dimiliki manager mereka. Mereka pun bersikeras merekam lagu tersebut sebagaimana aslinya, meskipun mereka yakin lagu mereka tidak akan terjual. “Mungkin bertahun-tahun kemudian musik kita akan dihargai, dan mungkin saja lagu kita akan menyelamatkan dunia”, begitu kira-kira kata mereka.

Lalu, bagaimana ceritanya sampai lagu “Fish Story” tersebut bisa menyelamatkan bumi? Yang perlu kamu lakukan hanya menontonnya. Awalnya mungkin kamu akan menganggap film ini sebagai film gak jelas, tapi ketika mencapai endingnya kamu akan merasakan sebuah sensasi yang sulit dideskripsikan. Begitu sampai akhir mungkin kamu akan berseru “DAMN! IT’S A GREAT MOVIE” dalam hati, seperti yang terjadi pada saya, dan langsung pengen mempromosikan film ini ke orang-orang. Kelebihan film ini adalah bagaimana kepiawaian sang sutradara menghubungkan cerita yang seolah-olah tidak nyambung tersebut. Dan menurut saya film ini benar-benar menghibur dan gak bikin stress.

Hampir semua cast bermain dengan baik di film ini. Ito Atsushi, si Densha Otoko ini di sini menampilkan akting yang baik sebagai seorang bassist sebuah band aliran punk. Begitu juga dengan Gaku Hamada, yang sangat cocok dengan perannya sebagai pria lemah dan suka dibully. Mirai Moriyama yang menurut saya gak ganteng juga sanggup membuat saya terpesona di film ini. Pemain-pemain lainnya juga berakting sama bagusnya dengan mereka. Yang agak-agak ganggu di film ini menurut saya akting Tabe Mikako. Aktingnya lebay banget, terutama pas nangis, keliatan banget dibuat-buat. Tapi mungkin emang sengaja karakternya dibikin komikal kayak gitu.

Ja, segini aja reviewnya. Jika saya bicara lebih banyak lagi tentang film ini, mungkin akan mengurangi keasyikan dalam menontonnya karena unsur yang membuat film ini jadi bagus adalah unsur kejutannya. Yang jelas, karena film ini, saya jadi tidak mau meremehkan hal-hal kecil yang pernah saya buat, siapa tahu hal tersebut bisa menyelamatkan bumi dari kiamat, hihi. 4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Saya termasuk orang yang jarang nonton serial tv Amerika. Terakhir kayaknya serial tv yang saya tonton itu Brothers and Sisters, itu pun nontonnya gak sampai tamat karena dvd-nya macet (maklum, dvd versi petani) dan saya keburu males kalo harus beli dvdnya lagi. Setelah itu, kayaknya gak ada lagi serial tv Amerika yang saya tonton dan saya lebih sering nonton dorama. Setelah Brothers and Sisters (yang lumayan saya suka), gak ada serial tv Amerika yang bikin saya tertarik buat nonton. Pas orang-orang heboh Glee pun, saya gak tertarik padahal kakak saya udah ngedownload beberapa episode dari serial itu (tapi pas ditayangin di tv akhirnya saya nonton juga). Tapi untuk Modern Family, entah kenapa saya langsung tertarik buat nonton serial ini setelah mendengar bahwa serial ini memenangi salah satu penghargaan Emmy Awards di kategori best comedy, mengalahkan Glee yang dielu-elukan banyak orang. Saya pun coba-coba mendownload episode 1-nya dan setelah menonton episode tersebut, dengan cepat saya langsung jatuh cinta pada serial ini 😀

Modern Family adalah sebuah komedi situasi yang bercerita tentang tiga buah keluarga yang masing-masing saling berkaitan. Keluarga pertama adalah keluarga Jay Pritchett. Jay adalah seorang pria yang sudah bisa dimasukan ke kategori ‘berumur’. Ia memiliki seorang istri bernama Gloria, seorang wanita seksi asal Colombia yang usianya jauh lebih muda dari Jay dan sering kali disangka sebagai anaknya sendiri. Gloria sendiri memiliki seorang anak laki-laki bernama Manny, yang merupakan anak dari pernikahannya yang sebelumnya. Keluarga kedua adalah keluarga Phil & Claire Dunphy. Claire adalah anak pertama Jay (keluarga pertama) dari pernikahan yang sebelumnya. Mereka berdua memiliki tiga orang anak yang semuanya memiliki karakteristik yang berbeda-beda, yaitu Haley, Alex, dan Luke. Lalu keluarga ketiga adalah keluarga Mitchell dan Cameron. Mitchell juga adalah anak Jay dan adik dari Claire. Ia dan Cam (panggilan Cameron) adalah pasangan gay yang sudah bersama selama 5 tahun dan baru saja mengadopsi seorang bayi cantik asal Vietnam yang dinamai Lily.

Sekilas, hubungan dalam keluarga besar tersebut mungkin akan terlihat agak aneh dan belibet. Tapi serial ini sendiri gak belibet kok dan tergolong ringan sehingga bisa dinikmati siapa saja. Serial ini mengalir dengan sangat sederhana. Masing-masing episode menceritakan kehidupan sehari-hari tiga keluarga tersebut disertai permasalahan-permasalahan yang menghiasinya. Dan, meskipun keluarga di atas terkesan sebagai keluarga tidak biasa, permasalahan-permasalahan yang ada merupakan permasalahan-permasalahan yang umum dan sering terjadi di banyak keluarga. Hal tersebut membuat serial ini semakin menarik karena dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Serial ini juga menggunakan gaya mockumentary yang membuat serial ini terlihat seperti reality show atau dokumenter (disertai wawancara karakter-karakternya di mana mereka mengomentari adegan-adegan yang baru saja terjadi). Hal tersebut menjadi kelebihan tersendiri bagi serial ini, karena membuat serial ini terkesan semakin real meskipun ceritanya fiksi belaka. Selain itu, kelebihan lain dari serial ini ada pada humor serta karakteristik tokoh-tokohnya (serta akting yang memikat). Saya suka sekali dengan komedi yang disajikan oleh serial ini. Setiap episodenya selalu berhasil mengocok perut saya. Humornya segar, cerdas, dan tidak berlebihan. Unsur humor yang kuat tersebut juga dipengaruhi oleh karakteristik tokoh-tokohnya yang kuat. Hampir semua karakternya menonjol dan punya ciri masing-masing. Dan hampir semua karakternya lovable dan tidak ada yang terlihat menyebalkan. Karakter-karakter favorit saya di sini ada 3, yang pertama adalah Phil, suami Claire yang agak-agak bloon tapi sangat mencintai keluarganya dan selalu berusaha menjadi ayah yang baik, setiap adegan yang melibatkan dia pasti selalu membuat saya tertawa 😀 ; lalu yang kedua adalah Gloria, istri Jay yang seksi dengan logat Kolombia-nya yang kental, saya suka banget karakternya di mana dia terlihat sangat mencintai Jay dan selalu berusaha mendekatkan diri dengan anggota keluarga lainnya; lalu yang ketiga adalah Cameron, pasangan Mitchell yang drama queen dan punya banyak keahlian yang tak disangka-sangka. Karakter ini juga salah satu karakter pengundang tawa terbesar di serial ini. Selain mereka bertiga, karakter-karakternya lainnya juga memiliki keunikan masing-masing yang membuat serial ini semakin lucu.

Serial ini juga tidak sekadar lucu saja. Banyak yang bisa dipelajari dari serial ini, terutama dalam perihal menerima. Seperti yang bisa kita lihat, tiga keluarga ini semuanya memiliki karakter yang berbeda-beda. Namun, mereka semua saling menyayangi satu sama lain. Misalnya Jay, meskipun awalnya agak canggung menerima kenyataan bahwa anaknya gay, tapi kasih sayangnya pada Mitchell tetap tidak berkurang sama sekali. Begitu juga dengan yang lainnya. Dengan segala macam perbedaan yang ada, mereka semua bisa saling menyayangi dan menghargai satu sama lain. Keluarga-keluarga lain yang bisa disebut sebagai keluarga normal mungkin tidak semuanya bisa seperti itu. Setiap episode dari serial ini juga selalu diakhiri dengan ending yang manis dan pesan-pesan yang menghangatkan hati. Ja,overall, saya kasih nilai sempurna untuk serial tv satu ini. Highly recommended 🙂

P.S: Season pertamanya berjumlah 24 episode. Season 2-nya sedang tayang di Amerika sana dan belum tamat.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

[MOVIE] Mary and Max (2009)

Persahabatan bisa tumbuh melalui cara apa pun. Persahabatan juga tidak memandang umur ataupun jarak. Mary (disuarakan Toni Collette), seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang tinggal di Australia, bisa bersahabat dengan Max (disuarakan Philip Seymour Hoffman), seorang pria paruh baya berusia 44 tahun yang tinggal di Amerika. Hal itu berawal ketika Mary yang penuh rasa ingin tahu ingin mengetahui darimana bayi muncul jika di Amerika (yang ia tahu di Australia bayi muncul dari kaleng cola *tentu saja ia dibohongi* :D), dan ia lalu memilih sebuah alamat secara acak dari buku telepon, untuk dikiriminya surat yang berisikan pertanyaan tersebut. Adalah Max Jerry Horovitz, orang yang tanpa sengaja dipilih oleh Mary. Berawal dari sebuah surat itu, persahabatan mulai tumbuh di antara keduanya. Meskipun usia mereka jauh berbeda, mereka memiliki banyak kesamaan, di antaranya mereka sama-sama menyukai coklat dan suka menonton serial tv berjudul The Noblets. Namun, persamaan yang paling mendasar di antara mereka yang membuat mereka merasakan kedekatan batin serta perasaan senasib adalah: mereka sama-sama tidak punya teman. Mary yang memiliki tanda lahir di dahinya yang berwarna seperti kotoran selalu menjadi sasaran bullying serta ejekan teman-temannya. Sementara Max, dia menderita asperger syndrome yang membuatnya sulit mengartikan ekspresi orang-orang di sekelilingnya serta sulit mengekspresikan perasaannya kepada orang lain, sehingga ia menjadi terkesan antisosial. Padahal Max sangat menginginkan memiliki teman yang benar-benar nyata, yang bukan hanya khayalannya saja. Karena itu, surat dari Mary menjadikan Mary menjadi satu-satunya teman yang ia miliki, dan persahabatan pena tersebut kemudian terjalin selama kurang lebih 20 tahun. Namun, dalam sebuah persahabatan, tentunya akan selalu ada masalah yang menghiasi. Sebuah masalah muncul dan membuat Max merasa marah dan kecewa pada Mary. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah persahabatan mereka akan tetap bertahan? Apakah suatu saat Mary akan bertemu Max secara langsung?

Mary and Max adalah film animasi claymation (atau clay animation, animasi yang menggunakan clay / tanah liat) yang disutradarai oleh sutradara asal Australia bernama Adam Elliot. Menurut saya, film ini deeeeep banget (baca: dalem). Film ini adalah salah satu film animasi paling berkesan yang pernah saya tonton. Ceritanya sederhana saja, tentang persahabatan. Namun, persahabatan dalam film ini digambarkan dengan tidak biasa, yaitu dengan menggunakan tokoh anak kecil dan orang dewasa yang terpaut umur cukup jauh dan juga berbeda benua. Namun, meskipun mereka tidak pernah bertemu, kita dapat merasakan dalamnya persahabatan di antara mereka. Seperti kata taglinenya yang berbunyi “Sometimes perfect strangers make the best friends”, melalui film ini kita ditunjukan bahwa orang yang awalnya terasa asing bagi kita bisa saja menjadi orang yang paling mengerti diri kita.

Yang menjadi kekuatan film ini memang jalan ceritanya yang sangat menarik serta dialog-dialog yang ada dalam surat-surat Mary dan Max (selain itu narasinya juga sangat mendukung). Saya sukaaaa banget dialog-dialog di antara mereka, bagaimana Mary yang polos menanyakan berbagai macam pertanyaan yang terkesan kurang penting (namun khas anak-anak) kepada Max, dan bagaimana Max menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Beberapa unsur humor diselipkan di sini (namun lebih banyak humor satir), dan film ini berhasil membuat penonton merasakan berbagai macam emosi mulai dari senang, sedih, terharu, dan sebagainya. Film ini juga memiliki pesan yang sangat bagus dan tidak terkesan menggurui, bahwa jika kita ingin diterima atau disukai oleh orang lain, yang harus kita lakukan pertama-tama adalah dengan menyukai diri kita sendiri dulu.

Meskipun film animasi, film ini jelas bukan untuk anak-anak. Film ini banyak menggunakan warna-warna gelap yang membuat suasana film ini terasa suram dan tidak menyenangkan, sehingga tidak cocok untuk ditonton anak-anak. Selain itu, ada beberapa dialog yang rasanya tidak pantas untuk didengar anak-anak (misalnya dari surat yang ditulis Max). Namun, saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh para penyuka film, terutama penyuka film animasi atau penyuka film-film dengan tema yang cukup ‘dalem’. Mary and Max adalah salah satu film tentang persahabatan terbaik yang pernah saya tonton. Film ini mengajarkan kita arti persahabatan yang sesungguhnya.  4,5 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Dalam novel My Sister’s Keeper, tokoh Anna bertanya-tanya, mengapa seorang anak bisa lahir ke dunia? Dia lalu menyimpulkan bahwa kebanyakan orang memiliki anak karena kecelakaan, atau karena mereka minum terlalu banyak pada malam tertentu, atau karena alat kontrasepsi tidak seratus persen berhasil, atau karena seribu satu alasan lain yang benar-benar tidak terlalu membanggakan. Meskipun menyedihkan, menurut saya pendapat tersebut ada benarnya. Tidak semua bayi dilahirkan ke dunia ini karena faktor keinginan dari orang tuanya. Bisa saja seorang anak lahir karena adanya ‘kecelakaan’ yang membuat kehadirannya tidak diharapkan, sehingga sang orang tua memilih agar bayinya tersebut diadopsi oleh orang lain, seperti yang terjadi dalam film berjudul Mother and Child ini.

Adalah Karen (Annette Bening), perempuan yang memilih untuk menyerahkan anaknya untuk diadopsi orang lain karena adanya faktor ‘kecelakaan’ tersebut. Hal tersebut terjadi 37 tahun yang lalu, ketika dirinya masih berusia 14 tahun, sebuah usia yang terbilang sangat dini untuk memiliki anak. Sampai saat ini, penyesalan selalu menghantui diri Karen, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan agak keras. Lalu ada Elizabeth (Naomi Watts), yang dari awal sudah bisa ditebak bahwa dia adalah anak yang dilahirkan Karen ketika masih berusia 14 tahun. Elizabeth adalah seorang pengacara yang sudah terbiasa hidup mandiri sejak remaja, sehingga dirinya selalu terkesan tidak membutuhkan orang lain. Elizabeth lalu menjalin hubungan dengan Paul (Samuel L. Jackson), boss-nya, di mana hubungan tersebut kemudian membuahkan janin pada kandungannya. Karena sifat dasarnya di mana ia selalu merasa tidak membutuhkan siapa-siapa, Elizabeth pun memilih untuk pergi meninggalkan Paul dan mengurus kehamilannya seorang diri. Dan terakhir, ada Lucy (Kerry Washington), seorang wanita muda yang sangat menginginkan anak, tapi usaha yang dilakukannya dengan suaminya tidak pernah membuahkan hasil. Mereka pun memilih untuk mengadopsi anak yang masih berada dalam kandungan seorang perempuan berusia 20 tahun, di mana perempuan tersebut memang berniat untuk memberikan anaknya pada orang lain untuk diadopsi setelah anak tersebut lahir.

Film ini berfokus pada kehidupan tiga orang perempuan tersebut. Awalnya, tiga orang tersebut terkesan tidak akan saling  berhubungan karena masing-masing dari mereka memiliki kehidupan dan tinggal di lingkungan yang berbeda. Namun, makin jauh akan mulai kelihatan bahwa hidup tiga orang perempuan nantinya akan saling berkaitan. Salut kepada sutradaranya yang berhasil membuat ‘hubungan’ antara tiga tokoh tersebut terjalin dengan sangat rapi meskipun hubungan tersebut digambarkan dengan sangat samar.

Kelebihan film ini menurut saya ada pada akting dari pemain-pemainnya, mulai dari tiga aktris utamanya sampai pemeran pendukungnya. Menurut saya cerita film ini lumayan sederhana dan tidak rumit, tapi akting para pemainnya berhasil membuat penonton merasakan emosi dan larut pada kisah mereka. Annette Bening, Naomi Watts, Kerry Washington, semuanya berakting dengan sangat cemerlang. Yang paling saya suka di sini adalah akting Naomi Watts, yang digambarkan sebagai perempuan mandiri dan cerdas, namun sebenarnya memiliki jiwa yang sangat rapuh. Saya suka banget aktingnya di sini. Apalagi di sini dia juga digambarkan sebagai perempuan yang suka menggoda suami orang tapi tanpa menimbulkan kesan murahan.

Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, film ini berhasil memainkan emosi penontonnya. Bagian akhir filmnya membuat mata saya berkaca-kaca (meskipun gak sampe nangis), tepatnya ketika salah satu tokoh mengalami suatu kejadian yang menyedihkan. Film ini juga membuat saya menyadari, bahwa setiap ibu dan anak pasti memiliki suatu ikatan batin, meskipun sangat kecil. Di sini kita dapat melihat bahwa meskipun seorang ibu terlihat tidak menginginkan anaknya, tapi dari lubuk hati yang paling dalam pasti ada sebuah rasa yang akan mengikat mereka selamanya, dan hal tersebut juga berlaku sebaliknya. Hal tersebut terbukti ketika karakter Karen dan Elizabeth diceritakan mulai saling mencari. Selain itu ada satu dialog menarik yang juga membuktikan hal tersebut. Dialog tersebut diucapkan oleh karakter ibu Ray (perempuan yang akan menyerahkan anaknya untuk diadopsi Lucy) pada Ray yang tidak menginginkan bayi yang dikandungnya: “I didn’t want you either. But now, I can’t take a breath without thinking of you and wanting the best of the best for you.” Ja, 4 bintang deh untuk film ini. Highly recommended 🙂
Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »