Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2009

Satu lagi novel dari Paulo Coelho yang baru saya baca beberapa minggu yang lalu. Veronika Memutuskan Mati (yang aslinya berjudul Veronika Decides to Die) bercerita tentang perempuan muda bernama Veronika, yang pada suatu hari memutuskan untuk bunuh diri dengan cara meminum banyak obat tidur. Dia memutuskan untuk bunuh diri bukan karena ia menderita atau depresi (yang sering menjadi motif banyak orang untuk bunuh diri). Hidupnya tidak menderita, namun juga tidak bahagia. Intinya hidupnya flat dan biasa-biasa saja, kehidupannya berjalan sama dan biasa saja setiap harinya, karena itulah Veronika memutuskan untuk bunuh diri karena merasa hidupnya tidak menarik.

Namun, usahanya bunuh diri tidak berjalan sesuai rencananya. Ia berhasil diselamatkan dan terbangun di sebuah rumah sakit jiwa bernama Villete. Dokter memberitahunya akibat banyaknya obat tidur yang ia konsumsi, jantungnya menjadi lemah, dan ia akan meninggal dalam beberapa hari. Awalnya Veronika menerima hal itu dengan biasa saja, karena mati memang tujuannya, jadi ia tinggal menunggu hari tanpa berusaha untuk bunuh diri lagi. Namun, kehidupannya di Villete mulai memberinya harapan untuk hidup lagi. Ia bertemu dengan pasien-pasien rumah sakit jiwa lainnya, seperti Zedka, teman pertamanya yang sebetulnya sudah bisa keluar dari Villete; Mari, mantan pengacara yang masuk Vilette karena menderita Panic Attack, lalu Eduard, seorang penderita skizofrenia yang selalu setia mendengarkan Veronika bermain piano. Harapan hidup Veronika mulai timbul kembali, namun ia sadar bahwa ia akan meninggal beberapa hari lagi. Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah Veronika akan mati? baca aja deh.

My Opinion:
Saya makin cinta Paulo Coelho deh setelah baca buku ini. Saya suka banget sama cara Paulo Coelho bercerita. Seperti di bagian awal ketika Veronika merencanakan bunuh diri. Sebetulnya bagian itu agak menggelikan karena Veronika benar-benar matang rencananya. Ia memutuskan cara bunuh diri yang tidak merepotkan orang lain (seperti ia tidak mau bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari ketinggian, karena hal tersebut akan membuat shock ibunya dan membutuhkan autopsi). Selain itu sebelum ia bunuh diri ia menulis surat protes dulu karena ada orang yang tidak tahu tentang Slovenia, negara tempat tinggalnya, yang akan menjadi motif bunuh diri yang sangat aneh.

Buku ini juga memiliki pertanyaan tentang “apakah arti gila itu?”. Mengingat banyak orang yang merasa dirinya normal karena melakukan hal yang banyak dilakukan mayoritas, dan menganggap hal-hal di luar yang dilakukan mayoritas sebagai hal yang gila. Melalui novel ini juga saya jadi tahu kalau Paulo Coelho dulu ternyata pernah masuk rumah sakit jiwa juga seperti Veronika, hanya karena ia ingin jadi seniman dan keluarganya menganggap hal itu sebagai hal yang aneh.

Saya juga suka melihat bagaimana harapan hidup Veronika muncul lagi melalui kejadian-kejadian yang dialaminya di Villete. Bikin saya gemes dan ikut peduli pada Veronika dan tidak mau ia mati. Dan saya lega melihat endingnya, ternyata…. (eh gak mau spoiler ah) ^^.

Jadi, buku ini sangat recommended. Betul-betul buku yang bagus dan punya makna yang ‘dalem’ dalam pencarian makna hidup. Terjemahannya juga enak dibaca dan bukunya buat saya gak begitu berat.

My Rating: 4 / 5

Advertisements

Read Full Post »

Film ini adalah salah satu film yang sangat berkesan buat saya. Nontonnya udah lama, waktu SMA, dan sampe sekarang masih sering saya tonton ulang. Buat saya film ini:  SUPERB. Ini adalah jenis film yang ketika kita selesai nonton filmnya, kita tidak langsung melupakan film ini begitu saja. Gimana ya mendeskripsikannya? Yeah, intinya film ini adalah salah satu film yang sangat meninggalkan kesan yang dalam lah buat saya.

Film ini bercerita tentang sebuah keluarga — a dysfunctional family (yang sepertinya tema dysfunctional family ini selalu jadi tema film yang saya suka), dengan berbagai macam karakter yang berbeda-beda. Ada ayah yang super ambisius dan membenci pecundang, ibu yang (paling normal) berusaha menjadi ibu yang baik dan menyatukan keluarganya, kakek mesum yang kecanduan ganja, kakak laki-laki pemuja Nietzche yang sedang puasa bicara demi cita-citanya masuk ke sekolah penerbangan, adik perempuan yang terobsesi pada kontes kecantikan, dan satu lagi, seorang paman gay yang baru saja gagal dalam usahanya bunuh diri akibat patah hati.

Lalu, si kecil Olive yang terobsesi pada kontes kecantikan ini mendapat kabar bahwa dia terpilih mewakili daerahnya dalam kontes kecantikan untuk anak kecil yang bernama Little Miss Sunshine. Satu keluarga ini pun (setelah melalui berbagai perdebatan) bersama-sama mengantarkannya ke tempat itu menggunakan mobil kuning butut yang suka mogok. Perjalanan pun dimulai dan banyak yang terjadi selama perjalanan tersebut. Lalu apa saja yang terjadi? Apakah mereka akan sampai tepat waktu? Bagaimana dengan kontes kecantikan tersebut? Tonton aja deh :p

My Opinion:
It’s a MUST-SEE movie. Bener deh, yang belum nonton, cepetan deh nonton film ini. Saya cinta semua yang ada di film ini. Akting pemainnya, dialog-dialognya yang cerdas, lucu, dan satir, adegan-adegannya, semuanya deh! Selain itu saya emang suka road movie — film yang menceritakan suatu perjalanan yang mengubah hidup tokoh-tokohnya.
Senangnya melihat berbagai macam kejadian yang menimpa keluarga kacau ini. Mulai dari mobil mereka yang baru bisa jalan kalau didorong dulu (dan mereka satu persatu berlari mengejar mobilnya agar bisa naik), kejadian yang menimpa kakek mereka *berusaha buat ga spoiler*, kejadian yang membuat Dwayne si kakak laki-laki akhirnya bicara (dan kata pertama yg dia ucapkan adalah Fuuuuuuuuckkkkkkkkk), bagaimana sang ayahnya yang membenci pecundang menemukan kenyataan bahwa dia tidak lebih dari pecundang, serta bagaimana semangatnya si oliv dalam acara kontes-kontesan ini.

Film ini bener-bener memberi pelajaran mengenai keluarga, bahwa, sejelek-jeleknya atau sekacau-kacaunya keluarga, mereka tetaplah keluarga kita, bagaimana kita harus menerima keluarga kita apa adanya. Tapi, kalo menurut saya, this movie is not another family movie. Film ini ‘lebih’ dari film-film keluarga yang udah ada sebelumnya. Selain soal keluarga, film ini juga menyindir kontes-kontes kecantikan yang ada saat ini dan menyindir orang-orang yang sangat terobsesi pada kecantikan.

Dan semua yang udah nonton pasti setuju kalo ending film ini merupakan adegan terbaik dari film ini. SAYA CINTA BANGET ENDINGNYA!! Endingnya bikin saya ketawa sampe nangis. Top lah! Salah satu ending terbaik yang pernah saya liat, kocak dan gak terduga.  Dan saya cinta banget Abigail Breslin (yang jadi Olive) di film ini. She’ll be the next rising star! Jadi, yang belum nonton film ini, ayo buru-buru beli dvd-nya (asli atau bajakan terserah) atau pinjem ke rental. Very recommended!

My Rating: 5 / 5

Read Full Post »


Ada yang masih ingat dorama ini? Salah satu dorama tahun 90-an yang cukup legendaris dan pernah ditayangin di sini sekitar tahun 90-an juga. Tapi saya pertama kali nonton waktu SD atau SMP gitu, dorama ini pernah ditayangin ulang sama RCTI, setengah jam perharinya, jadi satu episode itu ada dua hari. Dan saya langsung jatuh cinta pada dorama ini sejak pertama kali nonton.

Dorama ini bercerita tentang Kanji Nagao (Yuuji Oda), pria lugu yang baru dipindahkan kerja ke Tokyo. Pertama ia sampai di Tokyo, ia dijemput oleh seorang perempuan ceria (dengan suara yang imut) bernama Rika Akana (Honami Suzuki) yang akan menjadi rekan kerja di kantor barunya.

Sebagai orang yang baru dipindahkan, awalnya Kanji agak kesulitan menyesuaikan diri dengan keadaan di Tokyo, namun untungnya ada Rika yang selalu menemani dan membantunya. Rika yang periang selalu ada di saat Kanji membutuhkannya. Bahkan ia pun turut membantu kehidupan percintaan Kanji. Sejak masih SMU, Kanji menaruh hati pada Satomi Sekiguchi, teman SMA-nya yang sekarang tinggal di Tokyo juga. Rika berusaha mendukung percintaan mereka. Namun, Kanji harus mengalami patah hati karena suatu malam ia melihat Sekiguchi berciuman dengan Mikami yang juga merupakan sahabatnya di masa SMA.

Rika mencoba menghibur Kanji yang tengah sedih, ia lalu mulai jatuh cinta pada Kanji. Lalu, cerita pun mengalir, bagaimana Rika akhirnya bersama Kanji, bagaimana Sekiguchi yang plin plan dalam memilih antara Mikami dan Kanji dan tanpa disengaja selalu mengacaukan acara Kanji dan Rika, dan tentang perasaan cinta Rika pada Kanji yang begitu besar sampai membuat Kanji kerepotan. Pokoknya, tonton aja deh.

My Opinion:
Ini adalah salah satu dorama yang berhasil ‘nancep’ di hati saya. Saya betul-betul suka dorama ini. Banyak scene yang bener-bener memorable dan terus terngiang-ngiang di kepala. Contohnya scene yang Rika dan Kanji pura-pura saling nelepon dan berhitung saat mau berpisah. Scene itu ada di episode awal dan akhir, dan keduanya memiliki perbedaan yang bikin saya pengen nangis *lebay*. Selain itu, masih banyak scene yang saya suka, seperti waktu Rika nunggu Kanji di restoran sampe larut malam dan sampe restorannya tutup. Aaaaaah, saya pengen banget mengutuk Kanji dan Sekiguchi waktu itu (meskipun ini karena kesalahpahaman sih). Oh iya, selain itu soundtracknya enak banget dan selalu hadir di momen-momen yang tepat dalam dorama ini. Sampe sekarang saya masih suka dengerin lagu Love Story wa Totsuzen ini dan meskipun agak jadul tetep terdengar enak di telinga.

Kekuatan dorama ini terletak pada karakter Rika Akana yang diperankan dengan sangat cemerlang oleh Honami Suzuki. She is too cute to ignore. Kanji bodoh banget karena dia selalu stuck dengan Sekiguchi. Bodoh bodoh bodoh. Saya suka banget sama keceriaan Rika, meskipun sebenarnya hatinya sangat terluka. Dan saya suka banget sama Honami Suzuki. Pertama liat dia di dorama News no Onna sebagai News Anchor yang cool dan charming, makanya kaget liat perannya di Tokyo Love Story yang jauh berbeda dengan di News no Onna (tapi aktingnya sama-sama bagus), sayang ya tante satu ini udah jarang main dorama lagi.

Bener deh, dorama ini benar-benar mengaduk perasaan. Saya kesel banget sama Kanji yang selalu bikin Rika kecewa karena gak nepatin janjinya. Saya juga benci sama Sekiguchi yang plin plan dan cengeng. Dan endingnya itu loh, bener-bener ending yang gak bisa diduga. Gak mau spoiler ah, yang jelas endingnya gak seperti film2 lain di mana tokoh utama cewek dan tokoh utama cowoknya akhirnya bersatu. Tapi meskipun begitu dorama ini diakhiri dengan ending yang manis.

Pokoknya dorama ini wajib ditonton! Jangan ngaku pecinta dorama kalo belum nonton dorama satu ini 😛

My Rating: 5 / 5

Read Full Post »

This is not a love story. This is a story about love.

Tom Hansen (Joseph Gordon-Levvit), adalah tipikal cowok yang percaya akan cinta pada pandangan pertama, cinta sejati, jodoh, dan sebagainya. Sebaliknya, Summer Finn (Zooey Deschanel) adalah perempuan yang tidak percaya pada hal itu dan merupakan cewek independen yang tidak suka terikat dengan laki-laki. Keduanya pertama bertemu saat Summer diperkenalkan sebagai karyawan baru di tempat Tom bekerja. Sejak pertama melihatnya, Tom langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Summer yang memang menarik dan misterius. Akhirnya setelah melalui berbagai hal, Summer pun mulai tertarik pada Tom dan mereka mulai menjalani sebuah ‘hubungan’.
Yeah, karena Summer adalah orang yang tidak menyukai adanya ikatan, hubungannya dengan Tom merupakan hubungan tanpa status. Jadi mereka melakukan hal-hal seperti selayaknya orang pacaran, bermesraan, ciuman, bobo bareng *halah*, dan sebagainya. Namun, menurut Summer mereka hanyalah teman. Tom yang awalnya bahagia-bahagia saja mulai menuntut kejelasan hubungan mereka pada Summer. Kata Tom: “friends do not kissing in photocopy room. And friends do not do shower sex.” Hal itu membuat Tom mulai frustrasi dan kesal. Jadi, gimana selanjutnya? tonton aja deh :p

My Opinion:

I love this movie. Film ini bukan tipe film komedi romantis yang semuanya berakhir bahagia dan si cewek dan si cowok kemudian bersatu selamanya setelah melalui berbagai pertengkaran. Bukan seperti itu. Film ini memiliki happy ending, tapi happy ending di sini adalah bagaimana Tom dan Summer menemukan kebahagiaannya masing-masing. (sebelumnya maaf spoiler nih) Summer yang tidak percaya akan adanya ikatan malah akhirnya menikah lebih dulu dengan seorang yang belum lama ditemuinya. Tom yang percaya bahwa Summer adalah cinta sejatinya kemudian menemukan gadis lain yang (mungkin) akan menjadi jodohnya. Film ini menampilkan realitas atau kenyataan yang tidak seperti film-film romantis lainnya. Seperti kata tagline filmnya, ini bukanlah cerita cinta, tapi ini adalah cerita tentang cinta (bingung? tonton aja deh).
Selain hal-hal tersebut, yang saya suka dari film ini adalah kemasan atau tampilannya. Alurnya acak, sebagaimana judulnya, (500) days of summer, film ini menampilkan 500 hari itu. Jadi di scene awal ditampilkan hari yang ke berapa gitu (lupa) lalu scene selanjutnya menampilkan hari pertama.
Banyak scene yang cukup cantik dan memorable. Saya suka adegan di toko Ikea. Scene-nya lucu dan cantik bangeet. Selain itu, soundtrack-nya juga mantep!! Cocok sama adegan-adegan yang ditampilkan oleh film ini.
Untuk akting, saya suka akting kedua pemainnya. Joseph Gordon-Levvit cocok memerankan cowok lugu yang jatuh cinta pada Summer. Cuman kok tampangnya agak-agak nyebelin minta ditabok gitu ya? *pendapat saya loh*. Zooey terlihat adorableeee sekali di film ini. Meskipun menurut saya sebetulnya wajahnya biasa aja dan ga cantik-cantik amat, tapi dia punya pesona dan karisma yang memukau sekali di film ini. Mau sebel sama dia yang terlihat mempermainkan perasaan Tom juga jadi ga bisa ^^

Jadi, 4,5 bintang dari saya. Recommended!

My Rating: 4,5 / 5

Read Full Post »

*Review ini pertama kali ditulis 21 Desember 2009 di http://purisuka.multiply.com

Saya tertarik untuk baca buku ini waktu lagi milih-milih buku di batu api (tempat penyewaan buku). Karena tertarik dengan cover dan sinopsisnya, tanpa pikir panjang saya langsung pinjem buku ini, dan ternyata saya gak nyesel minjemnya, bukunya emang bagus ^^

Buku ini merupakan novelet, ada dua cerita di dalamnya, yang satu “Kitchen” (seperti judul novelnya) dan yang satu lagi “Moonlight Shadow”. Dua-duanya memiliki tema yang sama, yaitu tentang orang-orang yang mengalami kehilangan.

Cerita “Kitchen” menceritakan sosok perempuan muda bernama Mikage Sakurai. Hidupnya sebatang kara, orang tuanya meninggal saat ia masih kecil. Ia lalu tinggal dengan neneknya. Namun, saat menginjak usia kuliah, neneknya pun menyusul kepergian orang tuanya alias meninggal dunia. Sejak itu Mikage merasa dirinya benar-benar sebatang kara. Ia hanya menemukan kenyamanan di dapur. Dapur adalah satu-satunya tempat yang dapat membuatnya tidak merasa kesepian dan setelah neneknya meninggal setiap hari ia memilih untuk tidur di dapur.
Suatu hari datang seorang pemuda bernama Tanabe Yuichi. Yuichi adalah pemuda yang bekerja di toko bunga yang sering dikunjungi nenek Mikage. Yuichi sangat akrab dengan nenek Mikage dan ia menawarkan Mikage untuk tinggal di apartemennya bersama dia dan ibunya. Mikage pun menerima tawaran itu dan begitu datang ke apartemen Yuichi ia langsung menyukai dapur keluarga Tanabe. Ia juga berkenalan dengan Eriko Tanabe, ibu Yuichi yang sebenarnya adalah ayah kandung Yuichi yang memilih jadi transeksual sejak istrinya meninggal. Kehidupan Mikage pun mulai kembali ceria sejak tinggal bersama mereka berdua. Namun, setelah Mikage tidak tinggal bersama mereka lagi, Eriko kemudian meninggal dunia karena dibunuh seorang pria yang jatuh cinta padanya dan merasa tertipu saat mengetahui bahwa Eriko sebenarnya adalah Pria. Sejak itu, hubungan Mikage dan Yuichi menjadi kaku dan saling menjauh. Tapi kemudian mereka mulai bangkit dari kesedihan dan mulai mencairkan kekakuan hubungan mereka.

Cerita “Moonlight Shadow” juga bercerita tentang orang-orang yang kehilangan orang yang dicintai. Satsuki harus menerima kenyataan bahwa kekasihnya Hitoshi meninggalkannya karena kecelakaan mobil. Shu, adik Hitoshi, juga kehilangan kakak serta kekasihnya, Yumiko, yang meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan Hitoshi. Sejak itu kekosongan menghantui mereka berdua. Satsuki mulai memiliki kebiasaan jogging setiap pagi. Sedangkan Shu, setelah kematian Yumiko jadi sering memakai seragam yang biasa dipakai oleh Yumiko (yang adalah seragam kelasi lengkap dengan rok). Setelah Satsuki bertemu dengan seorang gadis misterius bernama Urara dan mengalami suatu kejadian ajaib yang melibatkan gadis itu, Satsuki dan Shu mulai bangkit dari kesedihan dan melanjutkan hidup mereka.

My Opinion:
Saya suka cerita buku ini. Ceritanya sebetulnya sederhana, tapi punya makna yang ‘dalem’ banget buat saya. Saya mengerti betul bahwa orang yang mengalami kehilangan orang yang disayangi selalu akan mengalami kekosongan dalam jiwanya. Kehilangan seseorang kadang-kadang terasa lebih menyedihkan dibandingkan jika kita yang meninggalkan orang-orang yang kita sayangi tersebut. Kadang-kadang saya sering merasa takut jika orang-orang yang saya sayangi satu persatu pergi meninggalkan saya.

Oke, cukup untuk curhat pribadinya. Seperti yang saya bilang, ceritanya sederhana, dalem, dan menyentuh. Saya suka bagaimana Mikage menggambarkan mengapa dapur adalah tempat yang tidak akan membuatnya kesepian. Saya juga suka melihat (atau membaca) interaksinya dengan Yuichi, seperti di bagian akhir saat Mikage nekad melintasi kota untuk bertemu Yuichi di tengah malam.
Cerita Moonlight Story juga cukup dalem dan menyentuh. Di sini diperlihatkan bagaimana orang-orang yang mengalami kehilangan tersebut lalu menemukan pelarian seperti pada Satsuki yang jadi sering lari pagi dan Shu yang kemudian suka memakai baju perempuan. Namun akhirnya mereka sadar, bahwa melakukan hal tersebut tidak membuat semuanya menjadi lebih baik melainkan hanya akan semakin menambah kesedihan saja. Pada akhirnya mereka sadar dan bangkit untuk maju dan memutuskan untuk tidak dikerangkeng oleh kesedihan tersebut. Cerita Moonlight Shadow ini mengajarkan kita agar dapat bangkit dari kesedihan dan kekosongan akibat kehilangan orang yang dicintai.

4 bintang dari saya. Terjemahannya sendiri enak banget dibaca dan ceritanya cukup singkat. Recommended! 🙂

My Rating: 4 / 5

Read Full Post »

[BOOK] The Alchemist (Paulo Coelho)

*Review ini pertama kali ditulis 28 November 2009 di http://purisuka.multiply.com

Buku ini baru beres saya baca beberapa jam yang lalu. Ini adalah buku Paulo Coelho kedua yang saya baca setelah sebelumnya saya pernah membaca salah satu karyanya yang lain yang berjudul the Witch of Portobello. Dan setelah baca buku ini, saya makin jatuh cinta sama Paulo Coelho dan jadi semakin ingin baca karya-karyanya
yang lain ^^

Buku ini betul-betul bagus dan sangat wajib dibaca. Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang bocah dalam meraih mimpinya. Jadi alkisah ada seorang bocah bernama Santiago (selanjutnya dalam novel ini namanya jarang disebut dan hanya disebut bocah saja), bocah yang memiliki keinginan untuk mengembara, dan memutuskan untuk menjadi seorang gembala demi tujuannya untuk mengembara. Suatu hari ia bermimpi hal yang sama dua kali berturut-turut. Dalam mimpinya ada seorang anak yang membawanya ke piramida di Mesir dan mengatakan bahwa di sana ada harta terpendam. Karena merasa terganggu oleh mimpinya, ia pun pergi ke seorang wanita peramal gipsi, dan peramal itu hanya menyarankan si bocah itu untuk pergi ke piramida untuk mengambil hartanya. Bocah itu merasa kecewa dan merasa ditipu oleh peramal itu. Namun setelah pergi dari tempat peramal itu ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang mengaku sebagai raja Salem. Si raja itu ternyata mengetahui mimpi si bocah itu dan akan memberitahunya bagaimana cara mendapat harta tersebut dengan syarat ia meminta imbalan berupa sepersepuluh domba yang dimiliki si bocah itu. Awalnya bocah itu ragu namun akhirnya ia mengikuti keinginan si raja Salem tersebut. Raja Salem pun memberitahunya untuk pergi ke Piramida di Mesir dan mengikuti tanda-tanda. Lalu, dimulailah pengembaraan bocah tersebut ke Mesir, tempat yang sangat asing baginya dan memiliki bahasa yang berbeda pula. Di sini ia banyak mendapat pengalaman-pengalaman dan rintangan seperti bertemu pencuri, bekerja pada pedagang Kristal, menumpang karavan, tinggal di sebuah oasis dan bertemu dengan Fatima yang merupakan cinta sejatinya, hingga bertemu dengan sang Alkemis yang kemudian membantunya mencapai piramida. Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah bocah itu berhasil mencapai tujuannya? Di manakah dan apakah harta itu? Baca aja deh :p

My Opinion:
I LOVE THIS BOOK! Buku ini betul-betul buku yang sangat menginspirasi. Buku ini mengajarkan kita agar terus berusaha untuk mengejar impian yang kita miliki. Berhubung banyak orang yang membuang jauh-jauh impiannya, seperti karakter si pedagang kristal dalam novel ini yang memiliki impian untuk pergi ke Mekah untuk naik haji dan belum juga melaksanakan impiannya tersebut karena takut ia tidak akan punya alasan untuk hidup lagi jika impiannya terwujud. Melalui karakter si pedagang Kristal ini juga kita belajar untuk mengetahui bahwa dunia itu luas, tidak hanya berkutat pada itu-itu saja, dan mengajarkan kita untuk tidak takut menghadapi perubahan.

Buku ini juga memperlihatkan pada kita bahwa yang berharga dari pengalaman bocah tersebut bukanlah harta yang akhirnya ia peroleh, namun makna dari pengembaraannya tersebut di mana ia banyak menemui berbagai macam orang dan mendapat pelajaran berharga dari pengalaman-pengalamannya tersebut. Oh iya, yang saya suka dari buku ini juga adanya quote-quote menarik berupa pepatah-pepatah bijak. Salah satu kutipan yang saya suka adalah: “saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya.”
Oke, segitu aja reviewnya. Di luar ceritanya yang bagus dan sangat menginspirasi, bukunya juga enak banget dibaca dan ga butuh waktu lama untuk menghabiskannya karena cuma terdiri dari 179 halaman (cukup singkat kan?). Jadi, 5 bintang dari saya deh 🙂

My Rating: 5 / 5

Read Full Post »

*Review ini pertama kali ditulis 27 November 2009 di http://purisuka.multiply.com

Saya selalu tertarik buat nonton karya adaptasi, seperti dari buku ke film, film ke buku, film ke film, dan berbagai jenis karya adaptasi-adaptasi lainnya. Rasanya menarik aja melihat suatu cerita yang sama tapi versinya berbeda. Meskipun kadang-kadang saya (sering) dibuat kecewa karena karya adaptasinya ternyata gak sebagus atau jauh banget kualitasnya sama karya aslinya.

Film My Sassy Girl versi Hollywood ini adalah satu karya adaptasi yang mengecewakan (menurut saya loh). Film ini merupakan adaptasi dari film Korea yang berjudul sama, dan merupakan salah satu film Korea favorit saya. Makanya, pas tau film ini diadaptasi ke versi Hollywood, saya pun penasaran pengen tau seperti apakah my sassy girl versi ‘bule’ ini.

Ceritanya sendiri sama persis dengan yang versi Korea, berkisah tentang Charlie (Jesse Bradford), seorang cowok lugu yang bertemu dengan seorang cewek ‘aneh’ di stasiun kereta api. Cewek itu sebelumnya pernah dilihat Charlie di jalan, dan pada saat itu ia tertarik pada cewek itu. Di stasiun, cewek itu tampak tengah mabuk dan akhirnya pingsan. Karena tidak ada yang menolongnya, maka Charlie pun membawanya ke apartemennya. Setelah kejadian itu, mereka pun saling mengenal. Cewek itu ternyata bernama Jordan (Elisha Cuthbert). Dia berbeda dengan cewek-cewek kebanyakan. Jordan suka mabuk-mabukan, galak, suka mengarang cerita aneh, dan pemaksa. Namun, meskipun begitu Charlie jatuh cinta padanya. Mereka pun mulai menjalani hubungan asmara yang tentunya mengalami rintangan karena kepribadian Jordan yang sebetulnya merupakan mimpi buruk bagi Charlie. Lalu, gimana selanjutnya? Apakah hubungan mereka akan terus berjalan? Tonton aja deh (tapi saya lebih menyarankan buat nonton yang versi korea-nya aja ^^)

My Opinion:
KURANG GREGET! Itu komentar saya buat film ini. Ceritanya bisa dibilang 90% sama persis, tapi gak ‘greget’ sama sekali. Pertama, dari pemainnya menurut saya dua-duanya kurang cocok. Elisha Cuthbert kurang terlihat galak sebagai Jordan si ‘sassy girl’, beda dengan pemain versi Korea-nya (yg karakter di filmnya tidak memiliki nama dari awal sampai akhir) yang karakternya bener-bener ‘megang’ di film itu. Selain itu, karakter cowoknya terlihat datar-datar saja, padahal karakter aslinya digambarkan sebagai cowok yang lugu dan (tampak) bego. Di sini sih cowoknya malah terlihat baik hati sekali dan aktingnya sangat datar. Selain masalah pemeran, adegan-adegan di film ini yang harusnya romantis atau mengharukan malah terlihat biasa-biasa saja di film versi hollywoodnya ini (misalnya waktu Jordan mencari Charlie melalui pengeras suara di stasiun).
Settingnya juga kurang ‘dapet’. Contohnya pohon di mana mereka mengubur surat, entah kenapa gak kerasa pas aja karena terlihat dibuat-buat dan letaknya yang berada di tengah kota, bikin keromantisan film ini semakin berkurang saja. Untuk endingnya (awas spoiler), sebetulnya sama persis, bedanya yang di Hollywood endingnya ciuman dan yang Korea hanya berpegangan tangan. Dan buat saya endingnya lebih bagus versi Korea-nya, lebih manis aja gitu.
Oke, jadi 2,5 bintang aja dari saya. Ceritanya gak beda jauh dengan versi Korea-nya, tapi karena pemain, setting, dan adegannya kurang pas dan kurang greget, membuat adaptasi ini gagal dan gak memuaskan penggemar film aslinya.

My Rating: 2,5 /5

Read Full Post »

Older Posts »