Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘book’ Category

Jika kamu adalah penggemar anime dan memperhatikan avatar yang saya gunakan di blog ini, mungkin dengan mudah kamu bisa menebak dari mana avatar itu diambil. Ya, avatar itu diambil dari karakter Osaka yang merupakan salah satu karakter dari anime Azumanga Daioh, salah satu anime favorit saya sepanjang masa (thx to Animonster karena telah mengenalkan saya pada anime ‘ancur’ satu ini). Karena sudah lama memakai avatar ini, maka tampaknya ada yang kurang kalau saya tidak pernah mereview serial ini. Namun, karena dvd anime ini sudah raib entah ke mana (pertama nonton waktu SMA), maka yang akan saya review kali ini adalah versi manga-nya yang baru saya baca baru-baru ini.

Azumanga Daioh sendiri aslinya adalah sebuah 4 Koma Manga (manga yang terdiri dari 4 panel) yang dibuat oleh mangaka bernama Azuma Kiyohiko. Manga ini pertama kali dimuat di majalah Dengeki Daioh sejak tahun 1999 (yang kemudian dibuatkan versi Tankoubon-nya dengan jumlah 4 volume). Lalu, seperti apa ceritanya? Well, Azumanga Daioh bercerita tentang kehidupan sehari-hari sekelompok siswi di sebuah SMA, dari awal mereka masuk SMA tersebut sampai mereka lulus. Eeeh, cuma itu Pris? Iya, manga ini hanya bercerita tentang kehidupan sehari-hari yang normal. Normal di sini dalam artian tidak ada hal-hal aneh seperti alien menyerang bumi, atau siswi-siswi tersebut bisa berubah menjadi seperti Sailor Moon atau apa. Tidak ada hal seperti itu. Manga ini murni bercerita tentang kehidupan sehari-hari mereka, seperti pada saat mereka belajar di sekolah, bermain bersama, dan hal-hal lainnya yang sangat normal dilakukan oleh siswi-siswi SMA kebanyakan. Ya, tidak ada plot khusus atau konflik yang luar biasa dalam manga ini. Hanya tentang kehidupan sehari-hari.

Lalu, apa yang menjadikan manga ini spesial dan akan selalu diingat banyak orang? Faktor pertama adalah karakter-karakternya. Ya, manga ini memiliki kumpulan karakter yang memiliki karakterisasi yang kuat dan juga menarik. Pertama-tama ada Chiyo yang bisa dikatakan sebagai tokoh utama manga ini. Chiyo adalah anak perempuan berumur 10 tahun yang sangat pintar dan kepintarannya itu membuat ia langsung loncat kelas ke bangku SMA. Meskipun jenius, Chiyo sendiri sebenarnya tipikal anak-anak pada umumnya. Ia manis dan imut, dan biarpun cerdas, ia sangat lemah dalam bidang olahraga. Lalu yang kedua ada Tomo, cewek penuh semangat yang tampaknya tidak pernah kehabisan energi. Tomo memiliki sahabat sejak kecil bernama Yomi, cewek pintar berkacamata yang selalu mengalami kegagalan dalam diet. Lalu ada Sakaki, cewek bertampang cool yang tidak hanya pintar dalam bidang akademik saja, tapi juga dalam bidang olahraga. Tampangnya yang dingin dan perawakannya yang besar membuat ia terlihat susah untuk didekati. Padahal sebenarnya ia hanya pemalu. Dan siapa yang menyangka bahwa dia adalah pecinta hal-hal imut (seperti kucing)? Lalu ada Osaka (yang avatarnya saya pake). Namanya sebenarnya adalah Kasuga Ayumu. Ia adalah murid pindahan dari Osaka, sehingga teman-temannya memanggilnya dengan nama itu (padahal ia bukan orang Osaka murni karena sering pindah-pindah). Mungkin ini adalah karakter paling aneh dari manga ini (sekaligus yang paling saya suka). Ia sangat hobi melamun dan sangat senang memikirkan hal-hal aneh yang tidak penting. Pokoknya jika ada satu kata yang tepat untuk menggambarkan karakter ini, kata tersebut adalah absurd. Selain mereka berlima, ada dua karakter lagi yaitu Kaorin dan Kagura. Kaorin adalah anak klub astronomi yang sangat menyukai Sasaki. Sayangnya di kelas dua ia tidak sekelas lagi dengan Chiyo dkk. Sedangkan Kagura adalah cewek tomboy yang tampaknya sangat menyukai olahraga. Ia baru berteman dengan Chiyo dkk di kelas dua (sebelumnya beda kelas). Selain karakter siswi-siswi tersebut, ada juga karakter guru-guru yang juga memiliki kepribadian yang tidak kalah menarik (dan sinting). Ada Yukari-sensei, guru bahasa Inggris yang menjadi wali kelas Chiyo dkk. Yukari-sensei adalah guru yang lain daripada yang lain. Ia selalu bertingkah seenaknya, dan selalu merepotkan Nyamo-sensei, guru olahraga yang merupakan teman Yukari-sensei sejak masa sekolah. Lalu ada juga Kimura-sensei, satu-satunya karakter cowok yang sering ditampilkan di sini. Ia adalah guru aneh dan mesum, mengaku menjadi guru karena menyukai cewek-cewek SMA. Selain karakter-karakter manusianya, ada juga karakter lain seperti kucing liar yang selalu menggigit tangan Sakaki, anjing peliharaan Chiyo yang bernama Tadakichi-san, dan kucing berbentuk aneh yang muncul di mimpi Sakaki dan menamai dirinya sebagai ayah Chiyo.

Selain karakterisasinya, yang membuat manga ini sangat menarik untuk dibaca adalah unsur komedi di dalamnya. Unsur komedi di sini masih berhubungan dengan karakterisasinya. Ya, intinya unsur komedi di sini ditimbulkan oleh karakter-karakternya, sehingga manga ini dapat dikatakan sebagai manga yang ceritanya disetir oleh karakternya. Unsur komedinya pulalah yang membuat manga ini sangat menghibur dan menarik untuk dibaca berulang kali.

Dari segi artwork, artworknya sebenarnya biasa saja. Apalagi ini kan manga 4 panel, sehingga space yang digunakan tidak banyak. Tapi saya menyukai penggambaran karakternya yang menurut saya pas dengan karakternya masing-masing. Secara keseluruhan, saya sangat menyukai manga ini. Memang, kita tidak akan menemukan makna yang mendalam dalam manga ini karena yang ada dalam manga ini hanyalah kelucuan-kelucuan semata. Namun, membaca manga ini akan membuat kamu merasakan suatu perasaan nostalgia tersendiri akan masa-masa sekolah yang indah. Teman-teman yang menyenangkan, guru-guru yang beraneka ragam, waktu belajar yang menyebalkan sekaligus menyenangkan.  Membaca manga ini akan membuat kamu teringat pada masa-masa itu. Oke, 4 bintang deh untuk manga ini. Manga ini sangat cocok dibaca oleh para pecinta manga bergenre komedi, slice of life, atau manga-manga yang bercerita tentang anak sekolahan. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Anak-anak dan imajinasi, dua hal tersebut adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Coba saya tanya, waktu kamu kecil kamu pasti senang sekali mengkhayalkan banyak hal kan? (kalaupun nggak, pura-pura bilang iya aja ya). Begitu juga dengan Kenji dan kawan-kawannya. Waktu kecil, Kenji selalu bermimpi ingin menjadi seorang penyelamat dunia. Dia pun merancang sebuah ‘skenario penyelamatan dunia’ pada sebuah buku yang dinamakan “the book of prophecy”, bersama dengan teman-temannya di suatu tempat yang mereka namakan “markas rahasia”. Namun, dunia bisa diselamatkan jika terlebih dahulu ada hal yang mengancamnya bukan? Karena itulah, dalam skenario penyelamatan dunia itu mereka menuliskan bahwa di masa depan, dunia akan diserang oleh berbagai macam hal, mulai dari wabah virus misterius sampai serangan robot seperti yang ada di komik-komik yang mereka baca. Dan tugas mereka adalah menyelamatkan dunia dari hal-hal tersebut.

Namun, imajinasi anak-anak kadang-kadang selalu berakhir menjadi sekadar imajinasi saja. Kenji ketika dewasa sudah melupakan cita-citanya menjadi penyelamat dunia dan malah berakhir sebagai seorang pemilik konbini (semacam mini market). Salah satu cita-citanya yang lain, yaitu sebagai musisi rock pun sudah ia buang jauh-jauh dari dulu. Lalu, beberapa kejadian misterius muncul. Kejadian-kejadian yang pernah Kenji dan kawan-kawannya tuliskan dalam skenario penyelamatan dunia di waktu kecil tersebut satu persatu menjadi kenyataan. Kejadian-kejadian tersebut diduga berkaitan dengan sebuah perkumpulan kultus  yang dipimpin oleh seorang pria misterius bernama “Friend” (atau dalam bahasa Jepangnya “Tomodachi”). Perkumpulan tersebut tampaknya bukanlah perkumpulan biasa karena kabarnya pihak kepolisian Jepang pun sudah dimasuki oleh orang-orang mereka. Yang aneh adalah, perkumpulan tersebut menggunakan simbol yang sama dengan simbol yang digunakan Kenji dan kawan-kawannya waktu kecil sebagai lambang persahabatan mereka. Jadi, siapakah “friend” sebenarnya? Apakah dia yang menyebabkan timbulnya kejadian-kejadian misterius tersebut? Apakah dia merupakan salah satu teman Kenji di masa kecil? Lalu, apakah Kenji dan kawan-kawannya memang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia? Baca aja deh kakak

Setelah membaca manga ini, saya langsung menobatkan 20th Century Boys sebagai salah satu manga terbaik yang pernah saya baca. Saya sendiri merasa sedikit menyesal karena baru membaca manga hebat tersebut baru-baru ini, padahal manga ini sudah diterbitkan sejak tahun 1999. Tapi better late than never kan? *ting ting*

Mengagumkan. Itu adalah salah satu kata yang tepat untuk menggambarkan manga ini. Membaca manga ini membuat saya bertanya-tanya, Urasawa Naoki (pengarang 20th Century Boys) ini makannya apa ya kok bisa-bisanya bikin manga super jenius kayak gini? Saya benar-benar kagum dengan cara beliau merangkaikan kisah dalam manga ini. Salah satu keunikan manga ini terdapat pada alurnya yang acak-acakan tapi biar begitu tetap membentuk satu kesatuan yang kuat dan tidak membuat bingung. Ceritanya mengalir dengan banyak flash back, dan kadang-kadang alurnya suka loncat-loncat. Misalnya ada suatu kejadian di tahun 2000 lalu kisahnya tiba-tiba loncat ke kejadian di tahun 2014. Kadang-kadang hal tersebut membuat saya merasa gregetan karena alurnya sering tiba-tiba loncat ketika situasi dalam manga itu sedang berada di puncaknya, sehingga hal tersebut membuat pembaca akan selalu merasa penasaran karena banyaknya misteri yang belum terpecahkan. Yang membuat saya kagum lagi, Urasawa Naoki sendiri tampaknya tahu benar cerita dalam manganya tersebut akan dibawa ke mana. Misalnya setelah saya perhatikan, adegan yang terjadi dalam volume 22 (volume akhirnya) ternyata pernah disinggung (biar secuil) dalam volume pertama.

Selain alurnya, yang membuat saya kagum pada manga ini tentu saja ceritanya yang bagus dan kuat. Kisah seputar konspirasi memang selalu menarik perhatian saya. Dan apakah Urasawa Naoki hendak menyampaikan sesuatu melalui manga ini? 😀 Selain itu, di sini juga kita ditunjukan bahwa imajinasi masa kecil tentang penaklukan dan penyelamatan dunia memang sering kali terlihat keren, tapi ketika hal tersebut menjadi kenyataan, apakah kita masih bisa menyebut itu sebagai hal yang keren?

Keunggulan manga ini juga terdapat pada karakteristik tokoh-tokohnya. Yang paling saya suka dari manga ini adalah tokoh utamanya Kenji yang digambarkan sebagai orang yang biasa-biasa saja. Karakternya terasa manusiawi sekali dan kadang-kadang masih punya rasa takut. Karakter-karakter lainnya pun memiliki karakterisasi yang sangat bagus. Selain itu, karena manga ini berlatarkan pada waktu yang berbeda-beda (tahun 70-an, 1997, 2000, 2014), kita jadi bisa melihat bagaimana perkembangan karakter mereka secara psikologis dari kecil sampai dewasa (dan tua). Dan perkembangan karakter tersebut terasa wajar dan masuk akal. Di sini juga kita bisa melihat bahwa apa yang terjadi pada seseorang di masa kecilnya akan sangat berpengaruh bagi perkembangannya ketika menjadi orang dewasa. Jadi buat penyuka manga atau cerita yang rada “nyikologis”, 20th Century Boys adalah salah satu manga yang wajib sekali untuk dibaca.

Dari segi ilustrasi, saya juga suka dengan ilustrasi yang juga digambar oleh Urasawa Naoki ini. Ilustrasinya digambarkan dengan gaya gambar yang agak realis. Plus yang saya suka adalah peletakan panelnya yang sangat rapi, sehingga pembaca yang tidak terbiasa dengan manga dapat dengan mudah mengikuti ceritanya.

Namun, sayangnya endingnya menurut saya rada gantung dan kentang (alias nanggung). Seperti yang sudah saya bilang, manga ini berakhir di volume 22. Tapi sayangnya sampai manga ini berakhir, manga ini masih meninggalkan beberapa misteri yang belum terpecahkan. Namun untungnya setelah itu Urasawa Naoki mengeluarkan manga 21st Century Boys (terdiri dari dua volume) yang akan menjawab rasa penasaran pembaca akan ending yang menggantung tersebut. Saya sendiri lumayan puas dengan 21st Century Boys dan menurut saya manga tersebut adalah ending dari 20th Century Boys yang sebenarnya.

Ja, segini aja review dari saya. Saya sangat merekomendasikan manga ini untuk dibaca semua penggemar manga atau penggemar cerita suspense/supernatural/action/psychological/mystery. Oh ya, biarpun ceritanya keliatan agak berat, tapi manga ini enak diikutin kok, karena pengarangnya sering kali menyelipkan unsur humor di dalamnya. Yang jelas, kalo udah sekali baca manga ini, pasti gak bakalan berhenti baca sampai akhir (kayak saya :D). Jadi, selamat membacaaaaa :)))

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

[MANGA] Wish (Clamp)

Bosen nge-review film, maka kali ini saya akan mereview manga alias komik Jepang. Manga yang akan saya review kali ini adalah Wish, yang merupakan salah satu manga yang dibuat oleh CLAMP, kelompok mangaka yang terkenal dengan karya-karyanya yang populer seperti Cardcaptor Sakura, X, Tsubasa Reservoir Chronicle, dan masih banyak lagi. Wish adalah salah satu manga CLAMP yang menjadi favorit saya. Meskipun manga ini tidak sepopuler manga-manga CLAMP lainnya, tapi manga ini tetap menarik untuk dibaca. Wish pertama kali diterbitkan pada tahun 1996 melalui majalah komik Monthly Asuka. Tidak seperti manga CLAMP pada umumnya yang ilustrasi utamanya biasa dikerjakan oleh Mokona Apapa, ilustrasi utama Wish dikerjakan oleh Mick Nekoi. Namun seperti biasa, otak di balik cerita manga ini (dan juga manga2 CLAMP lainnya) adalah Nanase Okawa. Oh ya, sekadar informasi, manga ini juga sudah diterbitkan secara legal di Indonesia beberapa tahun yang lalu oleh penerbit Elex Media Komputindo. Oke, here’s the review…

Setiap manusia pasti memiliki keinginan. Adakah manusia yang tidak memiliki keinginan sama sekali? Dalam komik ini, manusia semacam itu ternyata ada. Dia adalah Shuichiro Kudo, seorang dokter berusia 28 tahun yang hidupnya sudah mapan dan tidak memiliki kekurangan. Pada suatu malam, ia melihat sesosok makhluk mungil bersayap sedang diganggu oleh seekor burung gagak. Shuichiro pun menolong makhluk mungil itu dari serangan burung gagak tersebut. Makhluk mungil (yang di siang hari bisa membesar menjadi ukuran normal seperti manusia) itu pun mengucapkan terima kasih pada Shuichiro, dan memperkenalkan dirinya sebagai malaikat yang bernama Kohaku. Kohaku lalu meminta Shuichiro mengucapkan satu permintaan untuk ia kabulkan sebagai balas budi. Namun, Shuichiro mengatakan bahwa ia tidak memiliki keinginan sama sekali. Hidupnya sudah lengkap. Ia memiliki pekerjaan, rumah, dan tidak sedang dalam kesusahan, dan ia bisa memenuhi keinginannya sendiri. Namun, Kohaku tidak menerima hal itu. “Pasti ada keinginan yang tidak bisa dipenuhi seorang diri!” ujar Kohaku. Kohaku lalu meminta Shuichiro mengizinkan ia untuk tinggal di rumahnya dan tidak akan pulang sebelum ia mengabulkan keinginan Shuichiro.

Keberadaan  Kohaku di dunia manusia sendiri bukan tanpa alasan. Ia datang ke bumi karena diutus dewa untuk mencari Hisui, salah satu dari empat malaikat utama yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Shuichiro kemudian membantu Kohaku mencari Hisui, yang ternyata sekarang telah bersama dengan Kokuyo, putra dari raja iblis. Di luar hal itu, seiring berjalannya waktu, Kohaku mulai merasakan suatu perasaan yang berbeda pada Shuichiro. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah suatu saat Shuichiro akan memiliki keinginan yang tidak bisa ia penuhi seorang diri? Apalagi, Kohaku tidak bisa terus-terusan berada di bumi karena dewa dan juga dunia langit sangat membutuhkan keberadaannya.

Wish adalah salah satu manga CLAMP yang paling manis dan romantis yang pernah saya baca(selain Cardcaptor Sakura). Ceritanya simpel, ringan, dan enak  dibaca, ditambah humor-humor khas CLAMP yang berhasil bikin saya senyam-senyum sendiri. Yang paling manis dari manga ini tentu saja hubungan antara Kohaku dan Shuichiro. Saya suka sekali dengan karakteristik Kohaku yang sangat polos dan juga ceroboh (meskipun dia adalah malaikat), dan Shuichiro yang kalem dan cenderung serius (bahkan ketika Kohaku memperkenalkan dirinya sebagai malaikat, ia tetap terlihat kalem). They are really fit each other! Hubungan mereka digambarkan dengan sangat manis. Dan ketika Shuichiro akhirnya berbicara soal keinginannya yang tidak bisa ia penuhi seorang diri pada Kohaku, rasa-rasanya saya ingin pingsan saking bahagianya (iya maap lebay). That’s just too sweet XD. Manga ini juga diakhiri dengan ending yang sangat manis, meskipun sedikit di luar perkiraan saya.

Selain itu, yang saya suka dari manga berjumlah 4 volume ini adalah karakteristik karakter-karakter lainnya yang turut membuat komik ini jadi menarik. Salah satu karakter yang saya suka adalah Koryu, iblis yang hobi sekali mengganggu Kohaku. Meskipun awalnya karakter ini terasa menyebalkan, tapi lama kelamaan saya jadi suka karakter ini (dan hobi mengganggu Kohaku tersebut tidak lain karena ia sangat ‘perhatian’ pada Kohaku). Saya juga suka Hisui dan Kokuyo, yang merupakan pasangan kedua favorit saya di manga ini (yang unik sekali karena yang satu adalah malaikat dan yang satunya lagi adalah iblis).

Untuk ilustrasi, menurut saya ilustrasinya mungkin tidak semenarik manga-manga CLAMP yang lain yang didominasi oleh ilustrasi Mokona Apapa. Tapi ilustrasinya lumayan bagus kok. Saya suka sekali penggambaran malaikatnya yang sangat cantik, dan suasana rumah Shuichiro yang terasa adem karena banyak pohonnya. Karakter laki-lakinya juga digambarkan dengan sangat normal, bukan tipe bishounen seperti di kebanyakan manga CLAMP, tapi malah membuat karakternya terlihat semakin nyata dan manusiawi. Oke, segini aja review dari saya. Manga ini sangat saya rekomendasikan untuk penggemar shoujo-manga, terutama yang suka manga dengan cerita yang manis dan romantis ditambah dengan bumbu fantasi. 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Akhir-akhir ini saya lagi hobi baca novel-novelnya Mitch Albom nih. Novelnya yang pertama saya baca itu adalah The Five People You Meet in Heaven. Lalu yang kedua adalah For One More Day. Dua buku itu lumayan saya suka dan keduanya sama-sama memiliki tema yang cukup ‘dalem’, yaitu menceritakan tentang makna hidup, kematian, dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Namun, sedalem-dalemnya dua buku itu, menurut saya lebih ‘dalem’ lagi Tuesdays with Morrie, buku Mitch Albom yang ketiga yang saya baca. Saya sukaaaaa sekali buku ini. Ceritanya deeeeep banget *baca: dalem :p*. Gak heran kalo di sampul depan novel-novel Mitch Albom lainnya selalu tercantum kalimat “dari pengarang Tuesdays with Morrie”. Tampaknya novel ini adalah masterpiece dari pengarang satu itu.

Tuesdays with Morrie bercerita tentang kisah nyata yang dialami oleh sang pengarang sendiri, Mitch Albom dengan mantan dosennyanya di universitas, Morrie Schwartz. Sejak Mitch lulus, guru dan murid ini sudah tidak pernah berhubungan lagi, padahal Mitch sudah berjanji akan tetap menghubungi Morrie meskipun ia sudah lulus. Dan, setelah tanpa sengaja melihat sebuah acara televisi di mana Morrie tampil menjadi bintang tamu, Mitch kembali menghubungi mahagurunya tersebut. Ia akhirnya mengetahui bahwa saat ini Morrie menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), sebuah penyakit ganas dan tak kenal ampun yang menyerang sistem saraf. Penyakit tersebut terus menggerogotinya, dan Morrie sendiri tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Namun, hal tersebut sama sekali tidak menurunkan semangat Morrie. Ia sama sekali tidak menyerah. “Sebaliknya, ia bermaksud menjadikan kematian sebagai proyeknya yang penghabisan, pusat perhatiannya selama hari-hari yang masih tersisa. Karena siapa pun kelak akan mati, upayanya pasti akan berguna, betul kan? Ia dapat menjadi obyek penelitian itu sendiri. Ia akan menjadi buku bernama manusia. Belajarlah dari lambat dan perlahannya proses kematianku. Perhatikan apa pun yang terjadi padaku. Belajarlah bersamaku.” (dikutip dari halaman 11)

Akhirnya, tiap minggu-nya, tepatnya setiap hari Selasa, Mitch menemui Morrie, dan kembali melakukan  ‘kuliah’ bersamanya, yaitu kuliah tentang makna hidup, seperti tentang dunia, kematian, penyesalan, keluarga, emosi, pernikahan, uang, budaya, dan hal-hal lainnya. Banyak hal yang didapat Mitch melalui kuliah-kuliahnya tersebut, dan melalui pengalaman-pengalaman yang diceritakan oleh Morrie, Mitch mulai bisa memaknai hidupnya yang awalnya berjalan dengan datar.

Saya suka buku ini. Seperti yang saya bilang di atas, buku ini bener-bener ‘dalem’. Bukan hanya Mitch saja yang bisa belajar dari sosok bijaksana seorang Morrie, tapi juga para pembaca novel ini. Pesan-pesan yang disampaikan Morrie melalui buku ini bener-bener ‘kena’ banget, dalem, dan gak berkesan menggurui. Salah satu kutipan favorit saya dari buku ini yang diucapkan oleh Morrie, “begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana kita harus hidup.”

Buku ini mengajarkan pada kita, bahwa setiap manusia pasti akan mati. Karena itulah, kita harus menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya. Morrie sendiri sama sekali bukan karakter yang betul-betul sempurna. Walaupun ia terlihat tenang dan bijaksana dalam menghadapi penyakit yang menggerogotinya, bukan berarti ia tidak merasa takut sama sekali. Saya suka sekali dengan konsep Morrie tentang ‘mematikan perasaan’. Morrie mengajarkan pada kita untuk tidak selalu menahan emosi, karena apabila emosi-emosi tersebut ditahan, kita tidak akan pernah dapat mematikan rasa dan akan selalu sibuk menghadapi rasa takut.

Selain itu saya juga suka dengan bab yang membahas tentang maaf. Di sini Morrie mengajarkan agar kita memaafkan diri sendiri sebelum memaafkan orang lain. Kita pasti pernah merasakan berbagai macam penyesalan dalam hidup ini, dan hal itu sering membuat kita menghukum diri sendiri. Karena itu, maafkanlah dirimu sendiri, berdamailah dengan dirimu sendiri dan orang lain. Bisa dibilang bab yang ini adalah bab yang paling saya suka dari buku ini ❤

Sekian saja review dari saya. Buku ini sangat recommended. Cocok bagi orang-orang yang menyukai novel-novel dengan tema seputar makna hidup. Gaya penulisannya pun sederhana dan sangat enak diikuti (meskipun saya baca terjemahannya). 5 bintang dari saya!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Penulis: Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, Iman Hidayat

Novel yang ditulis secara keroyokan ini (penulisnya ada empat orang!) bercerita tentang 4 orang sahabat yang bersahabat sejak kecil. Mereka adalah Francis, Farah, Retno, dan Jusuf. Nah, dalam persahabatan antara cewek-cowok ini, pasti ada benih-benih cinta yang menghiasi persahabatan mereka. Farah sejak dulu memendam cinta pada Francis. Francis sendiri mencintai Retno, dan sudah dua kali ditolak oleh Retno. Jusuf sendiri diam-diam mencintai Farah dan ingin sekali mengungkapkan perasaannya itu pada Farah.

Saat dewasa, mereka bekerja di negara yang berbeda-beda. Cerita pun dimulai saat Francis memberitahu ketiga sahabatnya melalui e-mail bahwa dia akan menikah dengan seorang wanita dan mengundang mereka untuk datang ke pernikahannya di Barcelona. Masing-masing dari mereka akhirnya berusaha untuk pergi ke Barcelona dari negara mereka masing-masing, untuk datang ke pernikahan Francis serta untuk menyelesaikan segala urusan ‘hati’ yang membayangi persahabatan mereka.

My Opinion:

Novel ini sebenernya biasa aja, khas chicklit-chicklit gagasmedia, ceritanya ringan dan ada unsur komedinya. Yang menjadikan novel ini menarik adalah traveling-nya itu. Masing-masing tokoh, dengan budget terbatas (seperti Jusuf)  berusaha untuk mencapai tujuannya dengan caranya masing-masing. Di sini juga diselipkan bermacam-macam tips seputar traveling, lumayan memberi pengetahuan juga. Dan perjalanan mereka juga bikin saya ngiri berat, melalui negara-negara yang mereka lewati, aih mau dooooong jalan-jalan keliling dunia.

Novel ini ditulis dengan sudut pandang masing-masing karakter (mungkin tiap penulis mengerjakan satu karakter). Sudut pandangnya mengingatkan saya pada novel Kamar Cewek-nya Ninit Yunita dan Okke Sepatumerah (dan ngomong-ngomong Ninit Yunita juga salah satu penulis novel ini), karena untuk membedakan masing-masing karakter para penulis memakai kata ganti: aku, saya, gua, gue (sama seperti pada Kamar Cewek). Karakternya juga menurut saya karakter-karakter khas chicklit. Ada yang serius, ada yang tenang, ada yang ngocol, dll. Karakter Farah itu tipikal cewek chicklit banget (kalo boleh nebak yang nulisnya pasti Ninit Yunita). Dan karakter Jusuf yang suka dipanggil Ucup ini, pasti Adhitya Mulya yang nulisnya! Cuman sayangnya humor yang ditampilkan melalui karakter Jusuf ini menurut saya gak selucu humor yang ditampilkan dalam novel Adhitya Mulya sebelumnya seperti Jomblo dan Gege Mengejar Cinta. Di sini humornya cenderung berlebihan dan garing *seperti joke sapi terbang itu*.

Secara keseluruhan, novel ini adalah novel yang menarik untuk dibaca. Ceritanya ringan dan mudah dicerna, cocok untuk dibaca untuk mengisi waktu luang. Awalnya saya mau ngasih 3 bintang aja buat novel ini, tapi karena cerita travelingnya yang menarik, saya tambah 0,5 deh jadi 3, 5 bintang 🙂

My Rating: 3,5 / 5

Read Full Post »

Honda Tohru, seorang siswi SMA yang manis dan baik hati, harus menerima kenyataan bahwa hidupnya jadi sebatang kara karena ibunya meninggal karena kecelakaan suatu hari. Kejadian itu membuat Tohru jadi tidak punya tempat tinggal dan ia harus hidup dengan biaya sendiri. Ia mencoba untuk tinggal di rumah kakeknya, namun rumah kakeknya ternyata sedang mengalami renovasi sehingga Tohru diminta untuk mengungsi dulu di tempat lain sampai rumah kakeknya selesai direnovasi. Tidak mau merepotkan  kedua sahabatnya, Tohru memilih untuk mendirikan tenda di dekat hutan. Tohru tinggal di dalam tenda dan suatu hari ia menemukan di dekat tenda yang ia dirikan ada rumah yang ditempati oleh Souma Yuki, teman sekelasnya (yang sangat tampan seperti pangeran, dan punya banyak penggemar di sekolahnya), beserta sepupunya Souma Shigure. Setelah melalui suatu kejadian, Yuki mengetahui bahwa Tohru tinggal di sebuah tenda yang berdiri di atas tanahnya, dan pada malam itu pula terjadi badai yang menyebabkan tenda Tohru terkena longsor. Karena itulah, Yuki menawarkan Tohru untuk tinggal di rumahnya dan Shigure, sampai rumah kakeknya selesai direnovasi.

Semuanya berjalan normal saja, tapi sejak sepupu Yuki yang bernama Souma Kyo datang ke rumah tersebut (untuk menantang duel Yuki), terkuaklah rahasia besar dari keluarga Souma. Ternyata keluarga Souma tertimpa kutukan 12 shio (jyuunishi) yang menyebabkan orang-orang (anggota keluarga Souma yang terkena kutukan) bisa berubah menjadi binatang sesuai dalam legenda 12 shio jika berpelukan dengan lawan jenis. Contohnya Yuki yang bisa berubah jadi tikus, dan Shigure yang bisa berubah jadi anjing. Sepupu mereka yang lain, Souma Kyo, bisa berubah menjadi kucing. Loh kok kucing? Bukankah dalam 12 shio itu tidak ada shio kucing? Ternyata, dalam legenda 12 shio, saat sang dewa akan mengadakan pesta dan mengundang binatang-binatang, tikus menipu kucing dengan mengatakan bahwa pestanya akan diadakan lusa, padahal sebenarnya diadakan besok. Kucing yang malang akhirnya tidak datang ke pesta tersebut sehingga ia tidak diangkat menjadi salah satu shio oleh dewa.  Karena itulah kucing selalu mengejar tikus, begitu juga dengan Kyo yang gampang sekali meledak-ledak, yang memiliki ambisi untuk mengalahkan Yuki si tikus. Atas perintah dari Akito, kepala keluarga Souma, Tohru yang mengetahui rahasia tersebut dibiarkan saja dan dibiarkan tinggal di rumah Shigure. Lalu cerita pun mengalir, bagaimana Tohru akhirnya bertemu dengan anggota Jyuunishi yang lainnya satu per satu, dan keberadaan Tohru sangat berpengaruh besar pada para jyuunishi tersebut, mengingat kebaikan hatinya ternyata mampu menyentuh banyak orang, termasuk Kyo yang temperamental sekalipun.

My Opinion:

Review manga pertama saya ^^. Manga ini terdiri dari 23 volume dan saya sangat sangat sangat suka sekali sama manga ini. Menurut saya, ini adalah salah satu shoujo manga terbaik yang pernah ada. Saya sampe donlot manga scan-nya loh gara-gara penasaran banget sama kelanjutan ceritanya (padahal saya paling anti donlot manga scan / ebook karena gak betah baca di komputer).

Ceritanya sangat bagus dan menarik, humornya juga lucu dan gak rendahan, dan yang paling saya suka adalah karakteristiknya. Gak ada satu pun karakter yang gak diekspos di sini, setiap karakter punya masalah dan kepribadian masing-masing, bahkan karakter di luar Jyuunishi, seperti dua sahabat Tohru, mereka pun karakternya sangat kuat dan gak kalah dari karakter Tohru serta para jyuunishi.

Ceritanya juga menyentuh. Saya suka banget sama karakter Tohru yang sangat lugu dan baik hati. Gimana ya, dia ini baik hati tapi gak munafik, gak kayak karakter-karakter di sinetron yang baik hatinya terkesan gak masuk akal. Tohru ini begitu baik hati tanpa membuat orang sebal, dan karena itulah pembaca pasti akan mengerti mengapa karakter ini begitu disayang oleh karakter-karakter lainnya dan sanggup menyentuh hati orang lain.

Manga ini juga banjir bishounen seperti Yuki, Kyo, Momiji, Haru, Hatori, Shigure, dll. Makanya cewek pasti betah baca manga ini. Saya jadi ngebayangin kalo manga ini dijadiin dorama, kebayang gak siapa aja yang meranin tohru dan para jyuunishi? Tapi kayaknya susah ya kalo dijadiin dorama, mengingat perubahan jadi binatangnya (serta binatang2 berbicara) mungkin akan terlihat absurd.

Tapi bukan hanya banjir bishounennya yang bikin manga ini jadi bagus. Buat saya cerita, karakter, serta humornya yang kuat lah yang bikin manga ini akan sangat berkesan dan ‘nancep’ di hati pembacanya.  Banyak yang bisa kita ambil dan pelajari dari manga ini, kebanyakan sih dari karakter Tohru yang sering mengutip perkataan-perkataan yang dikatakan almarhum ibunya.

Jadi, manga ini sangat recommended. Meskipun ini termasuk shoujo manga (komik cewek), cowok juga gak dilarang baca kok :p

Catatan  1: manga ini juga ada animenya, dulu pernah ditayangin di trans tv. Tapi saya belum pernah nonton (Cuma pernah nonton beberapa episode aja)

Catatan 2: Natsuki Takaya, mangaka manga ini, kidal loh! Jadi gambar dalam manga Furuba ini digambar dengan tangan kiri.

My Rating : 5 / 5

Read Full Post »

Satu lagi novel dari Paulo Coelho yang baru saya baca beberapa minggu yang lalu. Veronika Memutuskan Mati (yang aslinya berjudul Veronika Decides to Die) bercerita tentang perempuan muda bernama Veronika, yang pada suatu hari memutuskan untuk bunuh diri dengan cara meminum banyak obat tidur. Dia memutuskan untuk bunuh diri bukan karena ia menderita atau depresi (yang sering menjadi motif banyak orang untuk bunuh diri). Hidupnya tidak menderita, namun juga tidak bahagia. Intinya hidupnya flat dan biasa-biasa saja, kehidupannya berjalan sama dan biasa saja setiap harinya, karena itulah Veronika memutuskan untuk bunuh diri karena merasa hidupnya tidak menarik.

Namun, usahanya bunuh diri tidak berjalan sesuai rencananya. Ia berhasil diselamatkan dan terbangun di sebuah rumah sakit jiwa bernama Villete. Dokter memberitahunya akibat banyaknya obat tidur yang ia konsumsi, jantungnya menjadi lemah, dan ia akan meninggal dalam beberapa hari. Awalnya Veronika menerima hal itu dengan biasa saja, karena mati memang tujuannya, jadi ia tinggal menunggu hari tanpa berusaha untuk bunuh diri lagi. Namun, kehidupannya di Villete mulai memberinya harapan untuk hidup lagi. Ia bertemu dengan pasien-pasien rumah sakit jiwa lainnya, seperti Zedka, teman pertamanya yang sebetulnya sudah bisa keluar dari Villete; Mari, mantan pengacara yang masuk Vilette karena menderita Panic Attack, lalu Eduard, seorang penderita skizofrenia yang selalu setia mendengarkan Veronika bermain piano. Harapan hidup Veronika mulai timbul kembali, namun ia sadar bahwa ia akan meninggal beberapa hari lagi. Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah Veronika akan mati? baca aja deh.

My Opinion:
Saya makin cinta Paulo Coelho deh setelah baca buku ini. Saya suka banget sama cara Paulo Coelho bercerita. Seperti di bagian awal ketika Veronika merencanakan bunuh diri. Sebetulnya bagian itu agak menggelikan karena Veronika benar-benar matang rencananya. Ia memutuskan cara bunuh diri yang tidak merepotkan orang lain (seperti ia tidak mau bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri dari ketinggian, karena hal tersebut akan membuat shock ibunya dan membutuhkan autopsi). Selain itu sebelum ia bunuh diri ia menulis surat protes dulu karena ada orang yang tidak tahu tentang Slovenia, negara tempat tinggalnya, yang akan menjadi motif bunuh diri yang sangat aneh.

Buku ini juga memiliki pertanyaan tentang “apakah arti gila itu?”. Mengingat banyak orang yang merasa dirinya normal karena melakukan hal yang banyak dilakukan mayoritas, dan menganggap hal-hal di luar yang dilakukan mayoritas sebagai hal yang gila. Melalui novel ini juga saya jadi tahu kalau Paulo Coelho dulu ternyata pernah masuk rumah sakit jiwa juga seperti Veronika, hanya karena ia ingin jadi seniman dan keluarganya menganggap hal itu sebagai hal yang aneh.

Saya juga suka melihat bagaimana harapan hidup Veronika muncul lagi melalui kejadian-kejadian yang dialaminya di Villete. Bikin saya gemes dan ikut peduli pada Veronika dan tidak mau ia mati. Dan saya lega melihat endingnya, ternyata…. (eh gak mau spoiler ah) ^^.

Jadi, buku ini sangat recommended. Betul-betul buku yang bagus dan punya makna yang ‘dalem’ dalam pencarian makna hidup. Terjemahannya juga enak dibaca dan bukunya buat saya gak begitu berat.

My Rating: 4 / 5

Read Full Post »

Older Posts »