Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘ito atsushi’

dfposterInfernal Affairs adalah salah satu film Hong Kong yang menjadi favorit saya. Film ini adalah sebuah film yang tidak hanya bagus secara kualitas, tapi juga dari segi pendapatan (di negaranya film ini disebut-sebut sebagai box office miracle). Hollywood pun sudah pernah me-remake film ini dengan judul The Departed (sayangnya belum nonton). Kali ini, film ini kembali dilirik sineas dari negara lain, yaitu Jepang, untuk dibuat adaptasinya. Namun, adaptasi kali ini tidak berbentuk film layar lebar, melainkan drama spesial dua episode yang ditayangkan di dua stasiun tv yang berbeda.

df1Adaptasi baru Infernal Affairs ini memiliki judul Double Face. Ceritanya sendiri, sama seperti pada Infernal Affairs, yaitu tentang dua orang pria yang menjalani dua peran. Nishijima Hidetoshi memerankan tokoh Moriya Jun (karakternya Tony Leung di IA), seorang polisi yang menyusup ke dalam suatu kelompok yakuza dan menjalankan perannya sebagai yakuza selama bertahun-tahun. Sementara itu, Kagawa Teruyuki memerankan tokoh Takayama Ryosuke (karakternya Andy Lau di IA), seorang yakuza yang menyusup ke kepolisian dan menjalankan perannya sebagai polisi selama bertahun-tahun juga. Episode pertama drama spesial ini (yang punya judul Sennyuu Sousa Hen) ditayangkan di channel TBS. Bagian ini berfokus pada kehidupan Moriya Jun sebagai seorang polisi yang sudah lelah menjalani perannya sebagai yakuza. Sementara itu, episode kedua (yang punya judul Giso Keisatsu Hen) yang ditayangkan di channel WOWOW berfokus pada kehidupan Takayama, polisi mata-mata yakuza yang tampaknya punya sebuah rencana sendiri. Lalu, apa yang akan terjadi pada dua orang ini? Dan yang terpenting, apakah drama spesial ini merupakan adaptasi yang berhasil?

df2Double Face adalah salah satu contoh remake yang patuh terhadap sumber aslinya. Jalan cerita, adegan, dialog, dan karakter-karakter drama ini, hampir semuanya mirip dengan film aslinya. Well, ada beberapa perubahan dan tambahan-tambahan juga sih (dan kabarnya ada sedikit cipratan dari Infernal Affairs 2, tapi saya belum nonton film yang itu jadi gak tahu), tapi tidak sampai merusak esensi dari film aslinya dan malah membuat drama ini menjadi lebih matang dari film aslinya. Yeah, karena terbagi menjadi dua bagian (masing-masing episodenya berdurasi 90 menitan, berarti total dua kali lebih lama dari film aslinya), latar belakang kedua tokoh utamanya menjadi lebih kuat dan lebih dikembangkan. Dan meskipun saya sudah menonton film aslinya dan tahu apa saja yang akan terjadi selanjutnya, saya tetap berhasil dibuat deg-degan dan harap-harap cemas menanti adegan selanjutnya. Intinya, menurut saya drama spesial ini merupakan remake yang berhasil.

df3Dua aktor utama drama spesial ini berhasil memerankan perannya masing-masing dengan sangat baik. Nishijima Hidetoshi menurut saya tidak kalah bagus aktingnya dengan Tony Leung. Ia bisa menyampaikan rasa lelah dan frustrasinya sebagai undercover police cukup dengan ekspresi wajah saja. Kagawa Teruyuki pun menghidupkan peran Takayama Ryosuke dengan tidak kalah baiknya meskipun pada awalnya saya protes karena Kagawa Teruyuki tidak ganteng seperti Andy Lau. Namun, jika menurut saya karakter Moriya punya karakteristik yang kurang lebih sama dengan karakter aslinya, image Takayama menurut saya agak berbeda dengan image karakter yang diperankan Andy Lau. Karakter Takayama di sini adalah karakter yang sangat serius. Berdasarkan hal ini, ditambahkan juga beberapa perbedaan dengan film aslinya. Seperti kemunculan tokoh Mari (Aoi Yu) yang punya karakteristik sama dengan Mary di Infernal Affairs tapi punya posisi yang berbeda dengan yang di Infernal Affairs. Peran Aoi Yu di sini menurut saya sangat mendukung perbedaan karakter Takayama yang tampaknya punya usia beberapa tahun lebih tua dari karakter di film aslinya. Selain mereka, aktor aktris lain seperti Kadono Takuzo, Wakui Emi, Ito Atsushi, dan Kohinata Fumiyo juga turut berakting baik sebagai para pemeran pendukung, terutama Kohinata Fumiyo yang berperan sebagai seorang bos yakuza yang memiliki kharisma yang jauh lebih besar dari karakter di film aslinya. Secara teknis, drama spesial ini menurut saya memiliki teknis yang juara banget. Sebagai tayangan televisi, film ini memiliki gambar dan sinematografi yang sudah menyerupai film bioskop. Musik yang digunakan pun bagus, dan turut mendukung suasana-suasana yang ditampilkan di drama ini.

df4Hubungan antara Moriya dan Takayama di sini sendiri agak berbeda dengan film aslinya. Mereka memang sama-sama digambarkan saling mencari, tapi mereka tidak memiliki ‘keakraban’ seperti yang ada di film aslinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa adaptasi yang ini lebih menyorot kehidupan mereka berdua secara individual. Dan seperti judulnya, inti utama Double Face adalah ‘dua wajah’ yang dikenakan oleh dua orang tokoh utama ini. Saking lamanya memerankan dua wajah tersebut, mereka sampai tidak tahu lagi mana wajah mereka yang sebenarnya. Dan seperti pada adegan pertama, mereka bagaikan anjing kecil yang ditelantarkan. Tidak tahu apakah mereka akan kembali lagi kepada pemilik yang sebenarnya. Well, 4 bintang deh. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Catatan: Info yang tidak begitu penting, mulai postingan ini, kategori tanpatsu saya ganti namanya jadi dorama sp ya.

Advertisements

Read Full Post »

Dalam pertandingan sepak bola, ada sesuatu yang dinamakan perpanjangan waktu (injury time/additional time/loss time/apalah namanya itu), di mana suatu pertandingan mendapat tambahan waktu beberapa menit dengan beberapa syarat tertentu. Nah, apa jadinya jika hal tersebut berlaku juga di kehidupan nyata? Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mendapat perpanjangan waktu di saat ajal akan menjemput?  Ide tersebut merupakan premis dasar dari dorama berjudul Loss:Time:Life, sebuah dorama yang bercerita tentang orang-orang yang diberi perpanjangan waktu ketika kematian mendekati mereka.

Loss:Time:Life sendiri adalah sebuah dorama berjumlah sembilan episode yang setiap episodenya memiliki cerita yang berdiri sendiri dan tidak memiliki kaitan secara langsung antara episode yang satu dengan yang lainnya (kecuali kaitan tema). Setiap episodenya memiliki satu orang tokoh utama yang diceritakan menemui ajalnya dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya di episode pertama ada Nakayama Haruhiko (Eita), seorang fotografer berita yang mati karena tertembak oleh penjahat yang sedang diselidikinya. Ketika peluru hampir mengenainya, tiba-tiba waktu di ruangan itu berhenti dan empat orang berpakaian wasit datang menghampirinya. Salah satu di antaranya membawa sebuah papan bertuliskan tambahan waktu yang dimilikinya. Ya, sama seperti sepak bola, rupanya Haruhiko mendapat perpanjangan waktu beberapa jam sebelum ajal benar-benar menghampirinya. Dengan diawasi wasit-wasit tersebut, ia harus memanfaatkan sisa waktunya tersebut untuk menyelesaikan segala urusannya. Dan seperti sepak bola juga, terdapat berbagai aturan yang harus dipatuhi selama masa tambahan waktu tersebut, misalnya tidak boleh memberitahu orang lain bahwa dia sudah meninggal, tidak boleh mengganti baju, dan berbagai macam peraturan lainnya. Jika peraturan tersebut dilanggar, maka ia akan mendapat kartu kuning. Dan ketika tambahan waktu itu akan habis, ia diwajibkan untuk kembali ke tempat kematiannya dan melanjutkan hal yang menjadi takdirnya tersebut. Selain Haruhiko, masih ada delapan tokoh lagi dengan latar belakang dan cara kematian berbeda-beda yang mengalami hal serupa. Siapa saja kah mereka? Apa yang mereka lakukan dalam sisa waktunya tersebut? Apakah mereka benar-benar akan mati? Tonton aja deh.

Ini adalah salah satu dorama yang saya tonton karena faktor ada Eita-nya *ahem*, dan rupanya dorama ini berhasil memuaskan saya. Yang paling saya suka dari dorama ini tentu saja ide atau premisnya yang menarik. Dan ide tersebut berhasil dieksekusi dengan sangat baik. Meskipun punya premis yang terkesan repetitif (orang mati, dapat tambahan waktu, menyelesaikan urusannya, selesai), tapi si pembuatnya berhasil membuat setiap episodenya memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari episode lainnya, sehingga saya selalu merasa menemukan hal yang baru di setiap episodenya. Setiap tokoh utama di masing-masing episodenya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Selain Haruhiko si fotografer, masih ada delapan tokoh lain dengan profesi yang berbeda-beda. Ada yang seorang polisi (episode 2, diperankan Koyama Keiichiro), ibu rumah tangga (episode 3, diperankan Tomochika), perawat (episode empat, diperankan Ueno Juri), mangaka (episode 5, diperankan Ito Atsushi), aktor kurang terkenal (episode 6, diperankan Tanaka Naoki), istri yakuza (episode 7, diperankan Tokiwa Takako), wanita karir (episode 8, diperankan Maki Yoko), dan hikikomori (episode 9, diperankan Oizumi Yo). Cara kematiannya pun berbeda-beda, ada yang dibunuh, kecelakaan, bunuh diri, serangan jantung, bahkan ada yang sampai mati karena tersedak makanan. Tambahan waktunya pun berbeda-beda. Ada yang tiga jam, empat jam, lima jam, bahkan ada yang jauh lebih lama dari itu. Segala macam perbedaan tersebut membuat setiap episodenya memiliki daya tarik masing-masing dan menjadikan kesan repetitif itu menjadi tidak terlihat.

Selain itu, yang menarik lagi dari dorama ini adalah cara tokoh-tokoh tersebut menghabiskan waktunya yang tersisa. Yang paling saya suka adalah episode 4 yang memasang Ueno Juri sebagai tokoh utamanya. Di situ ia diceritakan sebagai seorang perawat yang mencoba bunuh diri setelah diputuskan pacarnya. Dan setelah ia mendapat tambahan waktu, yang ia lakukan adalah… mencoba bunuh diri lagi 😀 Selain episode itu, masih ada beberapa episode lainnya yang saya suka. Secara keseluruhan, episode-episode favorit saya adalah episode satu, tiga, empat, lima, dan delapan. Namun, selain episode-episode itu, episode-episode lainnya juga tidak kalah menarik kok. Dan yang paling saya suka adalah setiap episodenya selalu berhasil bikin saya merasa tersentuh dan gak rela kalau mereka bener-bener akan mati (dan saya emang lemah sama cerita yang temanya tentang kematian). Apalagi, melalui tambahan waktu tersebut, para tokoh di sini kemudian menemukan hal-hal berharga yang tidak pernah dialaminya ketika hidup dan tambahan waktu tersebut membuat mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.

Di luar hal-hal di atas, yang paling saya suka di sini adalah… karakter wasit-wasitnya. Ya, kayaknya cuma di dorama ini malaikat maut digambarkan dengan sosok manusia berpakaian wasit. Wasit-wasit ini sendiri tidak pernah diperlihatkan berbicara, tapi gerak-gerik mereka selalu bisa bikin saya ketawa. Selain loss time, wasit, dan kartu kuning, ada satu lagi unsur dari pertandingan sepak bola yang dimasukkan di dorama ini dan membuat dorama ini menjadi lebih menarik. Ya, komentator! Pertandingan sepak bola pasti tidak akan seru jika tidak dilengkapi dengan suara komentator. Begitu juga dengan dorama ini. Seperti pada sepak bola, ada suara-suara yang mengomentari segala tindak-tanduk yang dilakukan tokoh-tokohnya (yang komentarnya banyak yang kocak). Bahkan untuk adegan tertentu ada juga yang diulang alias diberi tayangan replay-nya 😀 Hal-hal tersebut membuat dorama ini menjadi semakin menghibur dan meskipun bertema tentang kematian, dorama ini sama sekali tidak memberi kesan depresif.

Overall, saya sangat menyukai dorama berjumlah sembilan episode ini. Oh ya episode-episode di sini memang tidak memiliki kaitan secara langsung satu sama lain. Tokoh utama antara satu episode dengan episode lainnya diceritakan tidak saling mengenal. Tapi ada satu orang tokoh yang selalu ada di setiap episodenya, yaitu tokoh Omoto-san yang diperankan Nukumizu Youichi. Tidak terlalu jelas latar belakang karakter ini, dan berhubung dengan itu, dorama ini memiliki dua episode tambahan (overtime) yang berfokus pada kehidupan karakter itu (dengan ditambah pemeran lain seperti Kuriyama Chiaki dan Sakai Wakana). Sayangnya, dua episode itu menurut saya tidak semenarik sembilan episode sebelumnya dan tidak begitu menjelaskan apa maksud dari keberadaan tokoh itu. Di luar hal itu, karena setiap episodenya berdiri sendiri, menurut saya dorama ini bisa dinikmati secara acak alias tidak berurutan. Saya juga setelah episode satu langsung loncat ke episode 4 dan selanjutnya nonton berdasarkan urutan artis yang saya suka, dan hal itu sama sekali tidak mengganggu kenikmatan menonton dorama ini. Tapi saran saya, jika mau menonton secara acak, lebih baik episode pertama yang ditonton tetap episode 1 dan episode terakhir yang ditonton tetap episode 9 (tengah-tengahnya terserah mau nonton yang mana dulu). Well, 4 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Kadang kita sering kali tidak menyadari, bahwa hal-hal kecil yang kita buat, yang dirasa sederhana dan tidak ada artinya, bisa menimbulkan pengaruh yang kuat kepada orang lain. Bahkan, hal kecil tersebut bisa saja menyelamatkan bumi dari kehancuran. Dalam film ini, hal kecil tersebut digambarkan dengan sebuah lagu punk. Ya, lagu punk ternyata bisa menyelamatkan dunia! Lha, kok bisa? Ya bisa aja, namanya juga film *halah*.

Film ini sendiri terdiri dari beberapa cerita dengan kurun waktu yang berbeda. Yang menontonnya awalnya mungkin akan bingung melihat cerita-cerita yang ada di sini dan akan bertanya-tanya “mau dibawa ke mana sih cerita film ini?” Tapi tenang, dibutuhkan kesabaran dalam menonton film ini. Bukan karena filmnya membosankan atau alurnya lambat, tapi karena ya itu tadi, kita masih bingung film ini mau nyeritain apa sih? Tapi tunggu sampe akhir, karena setelah menonton sampe akhir, mungkin kamu akan jadi terkagum-kagum pada film ini seperti saya.

Tahun 2012. Tahun yang diramalkan sebagai tahun terakhir di bumi ini. Dan di film ini, ramalan tersebut sudah mendekati kenyataan. Sebuah komet sudah bisa dilihat oleh mata kepala manusia, dan siap menabrak bumi. Beberapa jam sebelum komet tersebut sampai ke bumi, ada 3 orang yang sedang berada di sebuah toko CD. Dua orang di antaranya memiliki keyakinan bahwa bumi akan selamat, dan akan ada “seigi no mikata” *kayak judul dorama* alias pembela keadilan yang akan menyelamatkan bumi dari kehancuran. Dalam toko tersebut, mereka mendengar sebuah lagu yang direkomendasikan oleh sang pemilik toko. Lagu dengan aliran punk tersebut berjudul “Fish Story” yang dibawakan oleh grup band punk bernama Gekirin 37 tahun lalu, satu tahun sebelum band Sex Pistols eksis dan memperkenalkan aliran musik punk pada dunia.

Cerita beralih pada tahun 1982. Ada 3 orang mahasiswa yang sedang melakukan perjalanan menaiki mobil. Salah satu mahasiswa tersebut (diperankan Gaku Hamada) tergolong lemah dan tampak dijadikan supir saja oleh dua orang temannya. Dalam mobil tersebut, mereka berdiskusi tentang lagu “Fish Story” yang katanya merupakan lagu kutukan karena di tengah-tengah lagu tersebut tiba-tiba tidak ada suara dalam waktu yang cukup lama. Mereka pun sampai di tempat tujuan mereka di mana mereka (tepatnya yang dua orang, yang satu tampak tak dianggap) kemudian berkencan dengan beberapa mahasiswi (goukon gitu deh istilahnya). Salah satu mahasiswi tersebut memiliki indra keenam, dan ia kemudian meramalkan bahwa salah satu pria di tempat itu nantinya akan jadi penyelamat dunia.

Lalu cerita beralih pada tahun 2009, bersetting di sebuah kapal Ferry. Ada seorang siswi SMA (diperankan Tabe Mikako) yang tertinggal di kapal tersebut dari rombongan teman-temannya karena tertidur. Ia pun terjebak dalam kapal yang menuju Hokkaido tersebut. Selagi ia menangisi kebodohannya, ada seorang koki muda (diperankan Mirai Moriyama) yang mengajaknya mengobrol dan berkenalan. Koki muda tersebut bercerita bahwa sejak kecil, ia dibesarkan oleh ayahnya untuk menjadi seorang pembela kebenaran. Dan setelah itu, tiba-tiba kapal ferry tersebut dibajak oleh beberapa pria berpistol.

Lalu ceritanya mundur lagi ke tahun 1975. Yang ini bercerita tentang grup band Gekirin yang membawakan lagu fish story tersebut. Grup band ini membawakan musik-musik yang agak keras (aliran punk, tapi waktu itu mereka belum tahu bahwa itu punk)  dan akhirnya mendapat keberuntungan karena ada label yang tertarik pada mereka. Namun sayangnya, lagu mereka dianggap terlalu keras dan dianggap tidak cocok dengan kuping kebanyakan penggemar musik dan tidak menjual, sehingga produsernya meminta agar lagu-lagu mereka dibuat lebih mellow. Para member tersebut tidak terima dan bersikeras untuk tidak mengubah musik mereka. Pada saat itu, salah satu membernya (diperankan Ito Atsushi) membuat sebuah lagu berjudul “Fish Story” yang liriknya diambil dari sebuah buku yang dimiliki manager mereka. Mereka pun bersikeras merekam lagu tersebut sebagaimana aslinya, meskipun mereka yakin lagu mereka tidak akan terjual. “Mungkin bertahun-tahun kemudian musik kita akan dihargai, dan mungkin saja lagu kita akan menyelamatkan dunia”, begitu kira-kira kata mereka.

Lalu, bagaimana ceritanya sampai lagu “Fish Story” tersebut bisa menyelamatkan bumi? Yang perlu kamu lakukan hanya menontonnya. Awalnya mungkin kamu akan menganggap film ini sebagai film gak jelas, tapi ketika mencapai endingnya kamu akan merasakan sebuah sensasi yang sulit dideskripsikan. Begitu sampai akhir mungkin kamu akan berseru “DAMN! IT’S A GREAT MOVIE” dalam hati, seperti yang terjadi pada saya, dan langsung pengen mempromosikan film ini ke orang-orang. Kelebihan film ini adalah bagaimana kepiawaian sang sutradara menghubungkan cerita yang seolah-olah tidak nyambung tersebut. Dan menurut saya film ini benar-benar menghibur dan gak bikin stress.

Hampir semua cast bermain dengan baik di film ini. Ito Atsushi, si Densha Otoko ini di sini menampilkan akting yang baik sebagai seorang bassist sebuah band aliran punk. Begitu juga dengan Gaku Hamada, yang sangat cocok dengan perannya sebagai pria lemah dan suka dibully. Mirai Moriyama yang menurut saya gak ganteng juga sanggup membuat saya terpesona di film ini. Pemain-pemain lainnya juga berakting sama bagusnya dengan mereka. Yang agak-agak ganggu di film ini menurut saya akting Tabe Mikako. Aktingnya lebay banget, terutama pas nangis, keliatan banget dibuat-buat. Tapi mungkin emang sengaja karakternya dibikin komikal kayak gitu.

Ja, segini aja reviewnya. Jika saya bicara lebih banyak lagi tentang film ini, mungkin akan mengurangi keasyikan dalam menontonnya karena unsur yang membuat film ini jadi bagus adalah unsur kejutannya. Yang jelas, karena film ini, saya jadi tidak mau meremehkan hal-hal kecil yang pernah saya buat, siapa tahu hal tersebut bisa menyelamatkan bumi dari kiamat, hihi. 4 bintang deh untuk film ini 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Hai! Kali ini saya akan me-review salah satu dorama yang sangat berkesan buat saya sampai sekarang, yaitu Densha Otoko. Sampai sekarang saya menobatkan dorama ini sebagai salah satu dorama terbaik yang pernah saya tonton. Dorama ini pertama kali saya tonton waktu kelas 3 SMA, dan udah sering banget saya tonton ulang *sampe dvd-nya macet*

Di Jepang, dorama ini sendiri sangat populer dan banyak mendapat penghargaan.  Cerita dalam dorama ini diangkat dari kisah nyata, yaitu dari percakapan-percakapan pada sebuah thread di 2channel, salah satu message board terkenal di Jepang sana. Kisah tersebut dengan cepat menjadi terkenal dan diangkat ke banyak media, mulai dari film bioskop, komik, novel, dan salah satunya ya dorama yang saya review sekarang ini.

Densha Otoko (Train Main) ini bercerita tentang kisah cinta antara seorang otaku dengan seorang perempuan cantik. Nah, apa sih otaku itu? Pengertian umumnya sih, otaku dapat diartikan sebagai orang yang sangat menggemari suatu hobi (dan cenderung fanatik terhadap hobi tersebut). Arti otaku sendiri kemudian menyempit dan sering diartikan sebagai orang yang sangat menggemari anime/manga/game. Di Jepang sendiri, Otaku dianggap negatif karena mereka dianggap terlalu berlebihan dan hampir bisa disamakan dengan freak atau maniak (padahal kalo di Indonesia, banyak orang yang bangga menganggap diri mereka sebagai otaku).

Yamada Tsuyoshi (Ito Atsushi) adalah orang yang bisa dibilang memenuhi kriteria sebagai seorang otaku. Ia sangat menggemari anime dan manga. Kamarnya dipenuhi banyak merchandise anime manga (yang bikin saya sirik karena saya pengen itu semua). Tiap minggunya ia sering pergi ke akihabara (distrik yang terkenal sebagai pusat perdagangan alat-alat elektronik dan hal-hal yang berhubungan dengan anime-manga di Jepang) bersama teman-temannya yang juga sesama otaku. Dari segi penampilan, pria kantoran ini bisa dibilang memiliki penampilan yang menyedihkan dan gaya berpakaian yang cenderung culun. Ia juga agak rendah diri dan gampang grogian.

Suatu hari, dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia melihat seorang wanita cantik (diperankan Ito Misaki) di kereta api dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada wanita itu. Lalu tiba-tiba saat itu juga ada seorang pria tua yang sedang mabuk muncul dan mengganggu para penumpang kereta, dan juga mengganggu wanita cantik tersebut. Dengan segenap keberanian, Yamada menolong wanita tersebut, meskipun akhirnya ia malah terluka karena mendapat pukulan dari pria mabuk tersebut. Namun, si wanita cantik tersebut (juga para penumpang lainnya) sangat berterimakasih pada Yamada dan meminta Yamada menuliskan alamatnya. Yamada yang kemudian pulang setelah kejadian itu, menuliskan pengalamannya tersebut di sebuah forum bernama Aladdin channel, pada sebuah thread khusus untuk pria single. Ceritanya tersebut mendapat banyak tanggapan dari user-user lainnya, mereka mengatakan bahwa wanita cantik tersebut pasti akan mengirimkan sesuatu padanya sebagai ungkapan terimakasih. Awalnya Yamada tidak yakin akan hal tersebut, namun keesokan harinya ia dikejutkan dengan kedatangan sebuah paket berisi seperangkat cangkir dengan merk Hermes (merk yang bisa dibilang ‘mahal’) dari wanita tersebut. Yamada amat terkejut dan ia kembali melaporkan hal tersebut di forum, dan teman-teman forumnya kemudian menganjurkannya untuk menghubungi wanita tersebut. Akhirnya, dengan bantuan teman-teman forum yang sama sekali tidak dikenalnya itu, Yamada berusaha untuk mendekati wanita tersebut (yang kemudian disebut dengan nama “hermes” di forum, yamada sendiri kemudian mendapat julukan  “densha otoko” yang bisa diartikan sebagai lelaki kereta api). Atas saran teman-teman forumnya, ia mulai mengganti penampilannya menjadi lebih baik dan menyembunyikan jati dirinya sebagai otaku (karena otaku sering dianggap negatif di Jepang sana). Lalu, apakah usaha Densha Otoko ini berhasil? Apakah ia berhasil meraih hati Hermes? Tonton aja deh.

Menurut saya, dorama ini sangat bagus dan menyentuh. Paket komplit kalo boleh saya bilang. Lucu, romantis, dan mengharukan. Selain itu, yang menjadi kelebihan dorama ini buat saya malah bukan kisah cintanya, tapi kisah persahabatan antara para user Aladdin channel tersebut (yang semuanya tidak saling mengenal sama sekali). Usaha yang dilakukan Densha dalam mendekati Hermes, mengetuk hati para anggota Aladdin channel lainnya dan membuat mereka jadi memiliki keberanian dalam menghadapi masalahnya masing-masing.

Akting pemainnya pun top! Ito Atsushi sangat pas memerankan si densha otoko yang culun dan agak rendah diri. Begitu juga dengan Ito Misaki yang cantik banget di sini. Tapi, yang paling saya suka aktingnya di sini adalah Shiraishi Miho yang berperan sebagai Jinkama-san. Mantep banget dah aktingnya di sini! Gak heran kalo dia dapet penghargaan sebagai best supporting actress pada 46th Television Drama Academy Awards melalui dorama ini. Aktor aktris lainnya pun berperan sangat baik di dorama ini, seperti Hayami Mokomichi dan Horikita Maki. Oh ya, di dorama ini juga ada Shun Oguri loh, sebagai admin Aladdin channel yang hampir gak pernah bicara di dorama ini (cuma di episode2 akhir aja dia akhirnya bicara).

Soundtrack-nya pun bagus-bagus. Dorama ini dibuka dengan pemandangan di akihabara dengan latar musik lagu Mr. Roboto-nya Styx. Opening theme-nya pun (yang berlatar musik lagu Twilight-nya Electric Light Orchestra) dibikin dengan sangat niat karena menampilkan sebuah tayangan animasi dari Getsumen Heiki Mina, anime ‘fiktif’ yang sangat digemari oleh densha otoko. Sampai-sampai, kepopuleren Densha Otoko membuat Getsumen Heiki Mina ini dibikin sebagai serial animasi beneran di Jepang sana. Ending song-nya pun gak kalah enak, lagu Sekai wa Sore wo Ai to Yobun da ze dari Sambomaster.

Well, kesimpulannya dorama ini buat saya bagus dan sangat recommended. Dorama ini mengajarkan keberanian pada kita melalui usaha yang dilakukan si Densha Otoko dalam mendekati Hermes. 5 bintang dari saya!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »