Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘arai hirofumi’

mahoroposterMusim dingin tahun ini adalah musim yang membahagiakan untuk para pecinta dorama. Atau setidaknya untuk saya, karena kebetulan saya suka semua dorama yang saya tonton musim ini (dua di antaranya sudah direview di postingan sebelumnya). Tidak hanya itu, musim dingin tahun ini juga musim yang super membahagiakan untuk para fans Eita. Yak, di musim ini, aktor Jepang favorit nomor satu saya itu bermain di dua dorama (renzoku) yang berbeda, yaitu di Mahoro Ekimae Bangaichi dan di Saikou no Rikon. Dan dua dorama itu adalah salah dua dorama musim ini yang paling saya suka. Di postingan ini, saya akan mereview Mahoro Ekimae Bangaichi dulu ya, dan tunggu review Saikou no Rikon di postingan yang akan datang 😀

mahoro1Mahoro Ekimae Bangaichi sendiri adalah sekuel dari film berjudul Mahoro Ekimae Tada Benriken (Tada’s Do It All House) yang ditayangkan tahun 2011 lalu. Dorama ini masih memasang dua bintang utama dari filmnya, yaitu Eita dan Matsuda Ryuhei (salah satu aktor favorit saya juga). Tada Keisuke (Eita) dan Gyoten Haruhiko (Matsuda Ryuhei) adalah dua orang duda yang bekerja sebagai benriya, suatu pekerjaan di mana mereka melakukan pekerjaan apa saja sesuai permintaan klien mereka (misalnya membersihkan rumah atau mengajak anjing jalan-jalan) di sebuah kota fiktif bernama Mahoro. Namun, pekerjaan yang datang rupanya tidak selalu sesimpel itu dan kadang cenderung aneh. Misalnya di episode pertama, mereka diminta untuk menjadi pasangan gulat dari seorang pegulat yang sebentar lagi akan pensiun dari dunia gulat. Di episode yang lain, mereka diminta untuk mencuri cincin tunangan seorang perempuan yang pacarnya adalah mantan pacar si klien. Lalu, pekerjaan aneh apa lagi yang akan mereka berdua lakukan? Yuk mari ditonton 😀

mahoro2Komentar pertama untuk dorama ini: BROMANCE! Yeah, saya suka banget sama bromance antara Tada dan Gyoten. Eita dan Matsuda Ryuhei punya chemistry yang sangat baik di dorama ini. Gak heran juga sih karena mereka berdua sudah sering bermain film bareng (ini kali kelima mereka tampil bareng) dan tampaknya di dunia nyata pun mereka bersahabat. Saya suka Tada yang kadang-kadang galak ke Gyoten tapi tetap membiarkan Gyoten tinggal bersamanya meskipun dia tidak mengakui Gyoten sebagai pegawai di tempatnya. Dan saya suka melihat tingkah Gyoten yang sering bilang ke orang lain kalau dia dan Tada punya hubungan “khusus” (yang tentu saja langsung dibantah Tada). Cerita mengenai bagaimana mereka bertemu sendiri diceritakan di versi filmnya. Tapi menurut saya tanpa menonton filmnya pun kamu tetap bisa mengerti dan menikmati dorama ini. Apalagi buat saya dorama ini jauh lebih bagus dari versi filmnya.

mahoro3Setiap episode di dorama ini memiliki sebuah cerita yang berdiri sendiri dan tidak terlalu memiliki kaitan dengan episode lainnya (setiap episodenya fokus pada satu pekerjaan dari satu klien). Setiap episodenya berdurasi pendek (30 menitan) dan memiliki daya tarik masing-masing yang mungkin akan menghasilkan kesan yang berbeda-beda pada setiap penonton. Ini adalah dorama komedi dan komedinya pun menurut saya sangat lucu (meskipun bukan tipe komedi yang bikin kamu tertawa terbahak-bahak). Namun, dorama ini juga banyak menghadirkan momen-momen melankolis yang menyentuh tanpa harus terlihat cheesy. Misalnya di episode dua, ketika ada seorang klien yang meminta Tada dan Gyoten untuk mencari seorang perempuan yang pernah menjadi model dari video karaoke berumur puluhan tahun yang membuatnya jatuh cinta. Mereka berdua berhasil menemukan perempuan itu, namun harus menerima kenyataan bahwa kondisi si perempuan saat ini jauh dari yang mereka harapkan. Dan penyelesaian akan hal itu menurut saya sangat manis dan menyentuh. Selain episode itu, masih ada beberapa episode lainnya yang tidak kalah menyentuh. Jadi, untuk pecinta kisah-kisah bittersweet, jangan sampai melewatkan dorama ini.

mahoro4Selain memiliki chemistry yang ciamik, kedua pemain utama dorama ini juga menunjukkan akting yang sangat baik di sini. Saya suka akting Eita di sini, tapi “the heart of this drama” tidak lain adalah Matsuda Ryuhei yang berperan sebagai Gyoten. Saya suka banget karakter Gyoten ini. Karakteristiknya yang pemalas dan lamban beserta kemampuannya untuk melucu dengan wajah datar menurut saya adalah salah satu daya tarik dorama ini (dan seperti yang pernah saya bilang sebelumnya, Matsuda Ryuhei mau jadi peran apapun selalu kelihatan cool. And yeah, it’s compliment). Selain Eita dan Ryuhei, para bintang tamu yang muncul di dorama ini pun semuanya menampilkan akting yang bagus di sini. Beberapa di antaranya, seperti Suzuki Matsuo, Omori Nao, dan Kora Kengo sudah pernah muncul di versi filmnya. Yang lainnya seperti Sakai Maki, Arai Hirofumi, Usuda Asami, Kuroki Haru (the best guest in this show), Kariya Yuiko, dan Maki Yoko (yang juga bermain bersama Eita di Saikou no Rikon) pun sama-sama menampilkan akting yang memikat dan memperkuat dorama ini. Selain castnya yang bagus, dorama yang disutradarai oleh One Hitoshi (Moteki, Akihabara@DEEP) ini pun memiliki theme song yang bagus, baik di bagian openingnya (yang dibawakan oleh band Flower Companyz) maupun endingnya (yang dibawakan Sakamoto Shintaro).

Secara keseluruhan, menurut saya ini adalah salah satu dorama paling berkesan di season ini. Ini adalah tipe dorama yang membuat saya sedih ketika memasuki episode akhir karena saya masih tidak rela untuk berpisah dengan Tada dan Gyoten (dear One Hitoshi, bikin sekuelnya dooong). Sangat direkomendasikan untuk ditonton para penyuka bromance, komedi, kisah-kisah pendek, atau kisah-kisah bittersweet. 4,5 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Advertisements

Read Full Post »

michiruposterPernahkan kamu membayangkan hidupmu tiba-tiba berjalan ke arah yang tidak terduga hanya karena langkah-langkah kecil yang kamu ambil? Furukawa Michiru (Toda Erika) mungkin tidak pernah membayangkan hal seperti itu sebelumnya. Ia adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai karyawan sebuah toko buku di Nagasaki. Ia memiliki pacar bernama Kanbayashi Kyutaro (Emoto Tasuku) yang tampaknya akan melamarnya tidak lama lagi. Namun, Michiru sendiri tampaknya tidak terlalu menyukai Kyutaro. Ia berselingkuh dengan Toyomasu (Arai Hirofumi), seorang salesman dari sebuah penerbitan yang tinggal di Tokyo dan sudah punya istri. Suatu hari, ketika Toyomasu akan kembali ke Tokyo setelah menyelesaikan pekerjaannya di Nagasaki, Michiru mengejarnya dan memutuskan untuk ikut ke Tokyo dan menghabiskan semalam bersamanya. Namun, janji semalam tersebut malah berlanjut sampai berhari-hari. Michiru tidak pulang-pulang ke Nagasaki dan berbohong kepada banyak orang di sekelilingnya, mulai dari Kyutaro, keluarganya, sampai orang-orang di toko buku. Karena tidak ingin merepotkan Toyomasu, Michiru kemudian memutuskan menumpang tinggal di apartemen Takei (Kora Kengo), teman sejak kecilnya dari Nagasaki yang saat ini tinggal dan berkuliah di Tokyo. Michiru merasa semuanya akan baik-baik saja, sampai suatu hari ia pergi ke tempat pengecekan lotere untuk mengecek puluhan lotere yang dibelinya di Nagasaki. Lotere tersebut sendiri adalah lotere titipan dua orang rekannya di toko buku yang dibelinya sebelum ia memutuskan untuk pergi ke Tokyo. Dan salah satu dari puluhan lotere tersebut ternyata memenangkan hadiah utama 200 juta yen. Apa yang akan terjadi pada Michiru selanjutnya? Apakah hal tersebut akan membawanya pada kebahagiaan? Atau malah kesengsaraan?

michiru1Langkah kecil yang kita ambil bisa jadi akan membawa perubahan besar pada hidup kita. Untuk kasus Michiru, hal itu tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga hidup orang-orang di sekitarnya. Dengan memutuskan pergi ke Tokyo (yang sebenarnya merupakan hasil dari kesembronoan dan bukannya sesuatu yang diputuskan matang-matang), ia harus membohongi banyak orang. Awalnya saya mengira fokus utama dorama ini adalah uang 200 juta yen yang didapat Michiru dari lotere. Namun, ternyata 200 juta yen tersebut hanyalah salah satu dari sekian hal yang mengubah hidup Michiru (meskipun tetap punya peranan penting). Di episode pertama, saya masih tidak tahu mau dibawa ke mana cerita dorama ini. Dan itu adalah salah satu yang saya suka dari dorama ini karena hal tersebut membuat saya terus merasa penasaran. Apalagi, dorama ini berkembang ke arah yang tidak terduga (yang bikin saya makin suka). Dorama ini juga berjalan secara pelan-pelan dalam membangun situasi dan karakterisasi tokoh-tokohnya. Barulah di episode 5, dorama ini akhirnya menemukan gong-nya. Ya, di episode tersebut dorama ini berkembang menjadi gelap dan menegangkan, dan perkembangannya tersebut terasa sangat natural dan tanpa dipaksakan. Beberapa karakter menunjukkan karakter aslinya. Michiru yang awalnya merasa semuanya akan baik-baik saja lalu hidup dalam ketakutan. Dan serentetan kejadian tidak menyenangkan satu persatu terjadi di depan matanya.

michiru2Para pemain di dorama ini menunjukkan akting yang baik dan memperkuat dorama ini. Toda Erika sangat pas memerankan Michiru. Mungkin awalnya kita akan merasa sebal karena kebohongan dan kesembronoannya. Namun, sedikit demi sedikit, saya mulai bersimpati pada karakter ini, karena Michiru hanyalah perempuan biasa yang masih labil dan tidak memahami tindakannya sendiri. Kora Kengo sebagai Takei juga berakting sangat baik di sini, dan karakternya ini adalah karakter yang paling gak bisa ditebak di dorama ini (*SPOILER*: sampai akhir saya masih gak tau maksud dari tindakannya, sakit jiwakah? Apa benar-benar untuk Michiru? Atau untuk uang yang dipegang Michiru? *SPOILER END*). Para pemain seperti Ando Sakura (tapi saya berharapnya karakter yang dimainkannya ini diberi peranan lebih, bukan hanya sebagai teman atau penenang Michiru), Arai Hirofumi, Emoto Tasuku, Takakura Erika, dan lain-lainnya pun menunjukkan akting yang bagus dan memperkuat dorama ini. Dan seperti dorama NHK pada umumnya, dorama ini pun memiliki sinematografi yang sangat bagus dan cantik.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai dorama berjumlah 10 episode ini (durasi 30 menitan per episode). Satu-satunya yang saya tidak suka dari dorama ini menurut saya cuma endingnya (*SPOILER* setelah serangkaian episode sebelumnya yang bikin deg-degan, endingnya terasa antiklimaks banget. Komentar akhir cuma: gitu doang? *SPOILER END*). Terlepas dari endingnya itu, menurut saya dorama ini tetap recommended dan tidak boleh dilewatkan. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

gmhposterTerdapat dua buah kejutan kecil di tahun 2012 ini, setidaknya kejutan bagi para penggemar dorama sekaligus film Jepang. Ya, dua orang sutradara film Jepang yang namanya mungkin sudah tidak asing bagi para penggemar film di kalangan internasional tahun ini tiba-tiba melebarkan sayapnya ke dunia televisi dengan menyutradarai serial drama. Yang pertama adalah Kurosawa Kiyoshi (Pulse, Tokyo Sonata), yang pada awal tahun menyutradarai mini seri lima episode berjudul Shokuzai (Penance) yang ditayangkan di channel WOWOW. Sementara itu, di akhir tahun ini giliran sutradara Koreeda Hirokazu (Nobody Knows, After Life) yang memberi kita sebuah “hadiah manis” berupa dorama berjudul Going My Home yang akan saya review di postingan ini.

gmh1Going My Home bercerita tentang seorang pria yang bekerja sebagai CM (commercial movie) Producer bernama Tsuboi Ryota (Abe Hiroshi). Ryota sendiri adalah seorang pria yang sudah berkeluarga. Istrinya, Sae (Yamaguchi Tomoko), adalah seorang food stylist (semacam tukang masak masakan cantik untuk keperluan acara TV/majalah) terkenal. Sementara anak perempuan satu-satunya yang bernama Moe (Makita Aju), menimbulkan ‘masalah’ di sekolahnya karena mengaku bisa berkomunikasi dengan makhluk yang ‘tidak kelihatan’. Sebuah masalah terjadi ketika Ryota mendapat kabar bahwa ayahnya mendadak collapse yang berujung pada koma di sebuah kota bernama Nagano. Nagano sendiri adalah kampung halaman ayahnya ketika masih kecil, dan Ryota sendiri merasa heran mengapa ayahnya bisa berada di situ setelah sekian lama. Ryota sendiri kemudian mengunjungi ayahnya secara rutin ke rumah sakit kota tersebut bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Dan pada suatu hari ia melihat seorang perempuan muda cantik sedang mengunjungi ayahnya. Rasa penasaran akan hubungan ayahnya dengan perempuan misterius itu membawa Ryota ke sebuah daerah (masih di Nagano). Ia pun kemudian mengetahui bahwa perempuan yang ternyata bernama Shimojima Naho (Miyazaki Aoi) tersebut adalah putri dari teman lama ayahnya (diperankan Nishida Toshiyuki). Selain itu, ia juga mendapat kejutan lain mengenai alasan ayahnya mengunjungi Nagano beberapa bulan terakhir ini, yaitu berkaitan dengan pencarian sebuah makhluk kecil misterius yang diyakini bernama “Kuna”. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ryota? Apakah suatu hari ayahnya akan bangun dari komanya? Apa sebenarnya Kuna tersebut, dan apakah makhluk tersebut benar-benar ada? Dan untuk apa ayahnya mencari makhluk tersebut? Tonton aja deh.

gmh2-1Dorama bertema keluarga biasanya selalu berhasil meluluhkan hati saya, tidak terkecuali dengan dorama berjumlah 10 episode dengan judul Going My Home ini. Kata heartwarming rasanya merupakan salah satu kata yang tepat untuk mewakili kesan yang saya dapat dari menonton dorama ini. Dorama ini sendiri seperti filmnya Koreeda kebanyakan: lambat, tenang, sederhana, dan tanpa konflik yang berlebihan. Oleh karena itu, sebagian orang mungkin akan merasa dorama ini membosankan (apalagi jika kamu menyukai film/dorama bertempo cepat dengan konflik yang dramatis) dan tidak menarik. Tapi tidak dengan saya. Saya sangaaaat menikmati dorama ini dari awal sampai akhir. Yang paling saya suka dari dorama ini adalah gambaran suasana serta interaksi tokoh-tokohnya yang terlihat sangat natural dan realistis. Misalnya ketika kita melihat Ryota bersama dengan ibu dan kakak perempuannya. Mereka itu keluarga yang biasa-biasa saja dan bukan keluarga sempurna. Namun, ketika saya melihat mereka sedang berkumpul dan mengobrol bersama, saya seperti sedang melihat keluarga beneran. Interaksi antara Ryota dengan istri dan anak perempuannya pun terlihat sangat natural dan wajar. Mereka bukan tipe keluarga yang lengket atau apa, tapi mereka semua saling menunjukkan perhatiannya kepada satu sama lain dengan caranya masing-masing. Interaksi yang natural antara para anggota keluarga tersebut menurut saya sangat didukung oleh skenario dari dorama ini (yang ditulis Koreeda sendiri). Dialog-dialog yang ada di dorama menurut saya lucu dan gmh4menggelitik (meskipun bukan tipe lucu yang bikin tertawa terbahak-bahak, tapi lebih ke lucu yang bikin kita tersenyum kecil). Sepintas, dialog-dialog yang ada mungkin terdengar kurang penting karena banyak menyinggung hal remeh temeh. Namun, itulah yang menambah kerealistisan dorama ini, karena percakapan mereka rasanya seperti percakapan yang dilakukan oleh kebanyakan orang di kehidupan sehari-hari. Jadi para penyuka dorama bergenre slice of life, mungkin dorama ini akan menjadi pilihan yang sangat tepat untuk kamu tonton.

gmh3Dan selayaknya keluarga yang realistis, meskipun selalu bersama-sama setiap saat, bukan berarti kita sepenuhnya mengetahui segala hal tentang anggota keluarga kita yang lain. Dalam Going My Home, anggota keluarga yang menyimpan sebuah misteri adalah ayahnya Ryota. Meskipun sudah berpuluh tahun bersama, tapi ada juga hal-hal yang Ryota tidak ketahui mengenai ayahnya. Hal itu membawanya pada suatu hal bernama “Kuna”, sebuah makhluk kecil yang kabarnya dapat mempertemukan kita dengan orang yang sudah meninggal. Ryota yang tidak percaya pada segala hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat diam-diam mulai menunjukkan ketertarikannya pada “kuna”. “Kuna” ini sendiri tidak jelas apakah benar-benar ada atau tidak. Namun, ada atau tidak adanya “kuna” ini sendiri menurut saya bukanlah poin utama dorama ini. Peran “kuna” di sini adalah sebagai simbol harapan sekaligus penyesalan. Kita mungkin menyimpan banyak harapan terhadap orang-orang yang kita sayangi, misalnya anggota keluarga kita. Kadang-kadang, hal tersebut bisa saja berujung pada suatu penyesalan. Namun, adanya kedua hal itu menunjukkan bahwa rasa cinta pernah hidup di hati kita untuk orang-orang tersebut. Ya, hal-hal tersebut sama seperti “kuna”, sesuatu yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, tapi bukan berarti tidak ada. Hal itulah yang membuat dorama ini menjadi sangat ‘nancep’ ke hati ini.

gmh5Selain hal-hal yang saya sebut di atas, yang paling saya sukai dari dorama ini adalah jajaran castnya yang bagus. Abe Hiroshi sangat bagus aktingnya sebagai Ryota, pria canggung yang kadang berkelakuan awkward. Begitu juga dengan Yamaguchi Tomoko yang sangat pas berperan sebagai Sae, istri Ryota (btw dorama ini menandakan kembalinya Yamaguchi ke dunia akting setelah 16 tahun lamanya). Miyazaki Aoi pun tampil memikat sebagai seorang single parent bernama Naho. Para aktor-aktris lainnya seperti Nishida Toshiyuki, YOU, Yoshiyuki Kazuko, Arai Hirofumi, Abe Sadao, dan lain-lainnya pun memerankan perannya masing-masing dengan baik. Terakhir, jangan lupakan aktris cilik pendatang baru bernama Makita Aju yang tampil sangat memikat sebagai Moe, anak perempuan Ryota.

Secara keseluruhan, Going My Home merupakan salah satu dorama favorit saya di tahun 2012 ini (meskipun di negaranya dorama ini memiliki rating/viewership yang jeblok). Highly recommended, terutama untuk para penyuka dorama bergenre family & slice of life dan tidak keberatan dengan alur yang slow. 4 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Memorable scene kali ini merupakan salah satu adegan dari dorama Moteki (2010). Moteki bercerita tentang Fujimoto Yukiyo (Moriyama Mirai), seorang laki-laki  berusia 30 tahun yang tiba-tiba mengalami moteki alias masa di mana ia tiba-tiba menjadi populer di kalangan lawan jenisnya. Tiga orang perempuan cantik yang pernah dikenalnya tiba-tiba memasuki kehidupannya. Salah satunya adalah Itsuka, perempuan tomboy yang punya hobi yang sama dengan Yukio (membaca manga dan mendengarkan musik). Itsuka (yang diperankan oleh salah satu aktris Jepang favorit saya, Mitsushima Hikari) adalah karakter cewek yang paling saya suka di dorama ini. Dan dia selalu berhasil mencuri perhatian di setiap adegan yang ada dia-nya. Video di bawah ini menurut saya adalah adegan terbaik Mitsushima Hikari di dorama ini. Adegan ini diambil dari episode 6. Ceritanya Itsuka baru saja selesai  menangis dan curhat selama kurang lebih dua jam kepada Yukiyo. Ia menceritakan hal-hal yang terjadi pada dirinya selama dua tahun belakangan ini, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan Shimada (Arai Hirofumi) dan Sumida-san (Lily Franky). Setelah selesai curhat, Yukiyo menyeret Itsuka ke tempat karaoke, tempat di mana Shimada dan Sumida-san sedang berada saat itu. Yukio menyuruh Itsuka untuk bernyanyi satu lagu yang disukainya dan melampiaskan segala perasaan kesal dan marahnya dengan berkaraoke. Itsuka sendiri sebenarnya sangat membenci karaoke, karena ia tidak menyukai lagu-lagu yang biasa dibawakan teman-temannya ketika berkaraoke. Namun, atas paksaan Yukiyo, akhirnya ia mau juga berkaraoke (meskipun cuma satu lagu). Yosh, mari kita lihat adegannya 😀

Apa yang menarik dari adegan ini? Pertama-tama tentu saja akting Mitsushima Hikari yang benar-benar keren. Coba lihat perubahan ekspresinya dari awal sampai akhir. Pada awalnya ia terlihat malu-malu dan bernyanyi dengan suara yang sangat kecil dan bergetar, tapi lama-kelamaan akhirnya ia berani juga untuk melampiaskan segala perasaan yang berkecamuk di hatinya dengan sangat keren. Yang menarik kedua adalah lagu yang dinyanyikan Itsuka. Lagu tersebut berjudul “Rock ‘n’ Roll wa Nariyamanai“/”Rock ‘n’ Roll Won’t Stop Ringing” yang dibawakan oleh band bernama Shinsei Kamattechan (fyi, band ini sempat menjadi cameo di Moteki versi movie). Lagu tersebut menurut saya adalah lagu yang sangat keren dengan lirik yang tidak kalah menarik (terjemahan lirik bahasa Inggrisnya bisa dibaca di sini). Dan yang jelas, lagu tersebut sangat berhasil menjelaskan selera musik Itsuka yang memang sangat berbeda dengan orang-orang (terutama perempuan) kebanyakan.

Ja, sebagai bonus saya tampilkan video salah satu penampilan live Shinsei Kamattechan ketika membawakan lagu ini (credit: iketaneet@youtube). Enjoy 🙂

Read Full Post »

Jika ditanya siapa aktris Jepang yang paling saya suka saat ini, saya pasti akan menyebut nama Aoi Yu. Ya, saya udah suka sama aktris cantik satu itu sejak nonton Hana and Alice, yang merupakan filmnya yang pertama saya tonton. Setelah film itu, cukup banyak film yang dibintangi Aoi Yu lainnya yang sudah saya tonton, seperti All About Lily Chou-chou, Honey and Clover, Turtles Swim Faster than Expected, dan banyak lagi. Dan saya selalu menyukai aktingnya dan menobatkan dia sebagai salah satu aktris muda Jepang paling berbakat saat ini. Nah, kali ini saya akan mereview salah satu dorama yang dibintanginya yang berjudul Camouflage. Dorama ini sendiri menurut saya adalah salah satu dorama yang membuktikan kepiawaiannya dalam berakting, karena di dorama ini Aoi Yu memerankan empat karakter yang berbeda.

Camouflage adalah sebuah dorama eksperimental yang mengangkat “kebohongan” sebagai temanya. Dorama ini terbagi menjadi empat bagian yang disutradarai oleh empat sutradara berbeda, di mana masing-masing bagiannya memiliki tiga episode. Bagian pertama (episode 1-3, dengan judul “Life is Like a Lie”/“Jinseitte Uso Mitai“) disutradarai oleh seorang CM Planner bernama Takazaki Takuma. Pada bagian pertama ini, Aoi Yu memerankan seorang perempuan bernama Chika yang baru saja kehilangan pacarnya, Takano (Kase Ryo), yang baru saja meninggal karena kecelakaan mobil. Chika sendiri sama sekali tidak merasa bersedih atas kematian pacarnya itu, karena menurutnya kematian tersebut disebabkan oleh hal yang sangat konyol (mengecek handphone ketika menyetir). Sementara itu, bagian kedua (episode 4-6, dengan judul “Rose Colored Days“/”Barairo no Hibi“) disutradarai oleh Takasu Mitsuyoshi. Pada bagian ini, Aoi Yu memerankan Makoto, seorang perempuan yang punya hobi berlari. Setiap ia sedang berlari, ia selalu membayangkan dirinya menjadi orang lain. Suatu hari, ia bisa berlari sambil membayangkan dirinya sebagai idol yang terlambat audisi. Di hari yang lain, ia juga bisa berlari sambil membayangkan dirinya adalah seorang detektif yang sedang berlari memburu penjahat. Makoto sendiri memiliki seorang teman sejak kecil, yaitu Wataru (Arai Hirofumi), cowok yang selalu mengamatinya dan sama-sama punya sifat delusional.

Bagian ketiga (episode 7-9) disutradarai oleh Yamashita Nobuhiro (sutradara Linda Linda Linda). Bagian berjudul “Three Akabane Sisters“/”Akabane San Shimai ini bercerita tentang kehidupan tiga orang saudara perempuan. Aoi Yu memerankan Umeko yang merupakan anak ketiga alias bungsu dari tiga bersaudara itu. Pada bagian ketiga ini, semua episodenya bersetting di satu buah ruangan. Bagian ini menunjukkan interaksi antara ketiga saudara ini, yang kadang-kadang selalu berakhir dengan pertengkaran dan perdebatan. Selanjutnya,  bagian terakhir (episode 10-12, dengan judul “Tomin Suzuko -Hyakumanen to Nigamushi Onna Josho-“) disutradarai oleh Tanada Yuki, yang merupakan sutradara dari film One Million Yen and the Nigamushi Woman yang juga dibintangi oleh Aoi Yu. Bagian ini sendiri masih ada hubungannya dengan film itu, di mana Aoi Yu memerankan karakter Suzuko yang merupakan tokoh utama film tersebut (lebih tepatnya, bagian ini bercerita tentang beberapa kejadian yang terjadi sebelum kejadian yang ada di filmnya). Seperti karakter di filmnya, tokoh Suzuko di bagian ini juga digambarkan sebagai seorang perempuan yang “not so good at dealing with people”. Di luar hal seputar kepribadian tokoh Suzuko, bagian ini sendiri menurut saya agak random dan tidak terlihat benang merahnya antara episode yang satu dengan yang lainnya jika dilihat dari segi ceritanya.

Yak, di atas itu hanyalah garis besar dari dorama dengan jumlah 12 episode ini. Meskipun hanya terdiri dari empat bagian, masing-masing episode dari setiap bagiannya menurut saya punya cerita dan ciri khas tersendiri yang membedakannya dari episode yang lainnya, dan rasanya akan sangat panjang jika keduabelas episode itu diceritakan satu persatu di sini 😀 Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, dorama ini mengangkat kebohongan sebagai tema utamanya. Kebohongan, satu kata itu memang bisa dikembangkan menjadi berbagai macam cerita. Dan “bohong” di sini tidak berarti kebohongan yang ditunjukkan secara langsung alias terang-terangan saja ya. Ada juga kebohongan yang ditunjukkan secara tidak disadari. Bohong di sini bukan hanya berbohong pada orang lain saja, tapi juga berbohong pada diri sendiri. Misalnya seperti yang ditunjukkan pada episode pertama, di mana Aoi Yu berperan sebagai Chika yang tidak merasa bersedih atas kematian pacarnya. Apakah itu hanya kebohongan belaka? Bohong bisa juga ditunjukkan melalui sifat delusional, seperti yang ditunjukkan pada bagian kedua, di mana Aoi Yu berperan sebagai Makoto yang punya sifat delusional dan hobi membayangkan sesuatu yang bukan dirinya ketika sedang berlari. Selain itu, dorama ini juga menunjukkan bahwa manusia kadang-kadang merasa lebih nyaman hidup dalam kebohongan. Misalnya pada episode dua, di mana karakter Takano (Kase Ryo) mendatangi Chika dalam mimpinya. Hal itu membuat Chika menjadi rajin mengonsumsi obat tidur, hanya karena ia ingin terus bermimpi bertemu Takano. Hal itu menunjukkan bahwa manusia memang sering kali lebih merasa bahagia akan hal yang sifatnya tidak nyata. Selain hal-hal itu, masih banyak lagi hal-hal seputar kebohongan yang ditunjukkan melalui episode-episode lainnya, yang rasanya akan panjang jika harus dibahas satu-satu 😀 (gak dibahas satu-satu juga review lu selalu kepanjangan pris)

Ini adalah dorama eksperimental. Eksperimental di sini tidak hanya eksperimental dalam mengolah tema kebohongan saja, tapi juga eksperimental dari gaya penceritaannya. Di setiap episodenya, kita akan menemui sutradara dari masing-masing bagiannya yang akan menjelaskan konsep dari setiap episode yang disutradarainya. Masing-masing episode dari dorama ini memang memiliki konsep dan gaya yang berbeda-beda. Ada yang memiliki konsep theatrical (episode 3 dan 11), konsep ala komedi situasi (episode 4), konsep ala opera sabun (episode 5), dan berbagai macam konsep dan gaya lainnya. Ada juga satu episode di mana Aoi Yu tidak berlaku sebagai tokoh utama, melainkan menjadi narator yang menceritakan tokoh lainnya (episode 11). Bahkan ada juga episode yang menunjukkan interaksi Aoi Yu dengan beberapa tokoh yang sama sekali tidak ditunjukkan wajahnya (episode 12). Selain empat cerita, empat karakter, dan empat sutradara, di dorama ini juga kita akan diperkenalkan pada empat orang fotografer. Ya, di akhir cerita di setiap episodenya, seorang fotografer akan menunjukkan foto hasil karyanya (dengan model Aoi Yu tentunya) yang dipotret berdasarkan interpretasi fotografer tersebut terhadap cerita yang bergulir sebelumnya.

Sekarang, mari beralih pada bintang utama dorama ini, yaitu Aoi Yu. Ya, dorama ini menurut saya merupakan salah satu bukti yang menunjukkan bahwa Aoi Yu adalah salah satu aktris Jepang terbaik (in her generation) saat ini. Ia mampu memerankan empat macam karakter dalam dorama ini tanpa cacat, mulai dari peran yang kalem, kelam, dingin, polos, sampai kocak. Tidak hanya Aoi Yu, aktor-aktris lain yang turut berperan dalam dorama ini juga berperan dengan sangat baik di sini, seperti Kase Ryo (<3), Nishijima Hidetoshi (<3 juga), Nukumizu Youichi, Arai Hirofumi, Hamada Mari, dan masih ada beberapa aktor dan aktris lainnya. Fokus utama dorama ini memanglah Aoi Yu, tapi peran-peran lainnya pun tidak kalah penting dan turut membuat dorama ini menjadi semakin menarik.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai dorama ini. Jika dilihat dari semua bagiannya, bagian yang paling saya suka adalah bagian pertama (Life is Like a Lie) yang menurut saya merupakan bagian paling ‘dalem’ dan punya cerita paling kuat. Namun, meskipun begitu bagian-bagian lainnya pun menurut saya tidak kalah menarik untuk ditonton kok. Recommended! Terutama untuk kamu yang bosan dengan dorama bergaya konvensional atau tertarik dengan dorama eksperimental. Dan untuk penggemar Aoi Yu, jangan sampai melewatkan dorama ini. 4 bintang!

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Ada yang ingat dengan film Confessions (Kokuhaku)? Film Jepang garapan Nakashima Tetsuya itu bisa dibilang merupakan salah satu film Jepang favorit saya sepanjang masa. Film yang bercerita tentang pembalasan dendam seorang ibu yang anaknya dibunuh tersebut merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Minato Kanae. Di tahun 2012 ini, satu lagi novel karya Minato Kanae, yaitu Shokuzai (The Atonement), difilmkan. Namun, tidak seperti Confessions, Shokuzai tidak diadaptasi menjadi film layar lebar, melainkan menjadi mini seri berjumlah lima episode yang ditayangkan oleh channel WOWOW. Kali ini, orang yang bertugas mengadaptasi novel ini ke layar kaca adalah Kurosawa Kiyoshi, yang sebelumnya sudah sering menyutradarai beberapa film yang sudah diakui kualitasnya, seperti Tokyo Sonata dan Cure.

Shokuzai sendiri masih memiliki kemiripan dengan Confessions, yaitu sama-sama bercerita tentang seorang ibu yang anak perempuannya dibunuh. Anak perempuan tersebut bernama Emiri yang merupakan seorang murid baru (kelas 4 SD) di suatu sekolah. Pada suatu hari, ketika ia sedang bermain dengan empat orang temannya, seorang pria menghampiri mereka. Pria (yang wajahnya tidak diperlihatkan) tersebut mengatakan ia sedang membetulkan kipas yang ada di gymnasium sekolah mereka, dan ia meminta tolong Emiri untuk membantunya karena ada bagian yang tidak bisa ia jangkau. Emiri lalu pergi bersama pria itu. Namun, setelah beberapa lama, Emiri tidak kembali juga. Empat temannya yang khawatir pun lalu menyusul ke gymnasium. Dan sesampainya di sana, Emiri sudah terbujur kaku di lantai gymnasium tersebut.

Adachi Asako (Koizumi Kyoko) yang merupakan ibu dari Emiri tidak sanggup menerima kenyataan atas kematian putrinya tersebut. Belum lagi, pelaku pembunuhan anaknya sama sekali tidak tertangkap, dan empat teman Emiri yang merupakan saksi mata pelaku pembunuhan Emiri mengatakan mereka tidak ingat dengan wajah pembunuh tersebut. Pada suatu hari, tepatnya pada hari ulang tahun Emiri, Asako mengundang empat orang teman Emiri tersebut ke rumahnya. Rupanya Asako tidak bisa memaafkan mereka berempat. Pada pertemuan tersebut Asako berkata pada mereka: “I won’t forgive you. Find the suspect for me. Otherwise, you’ll have to pay. Until the crime solve, I’ll never forgive any of you. You can’t escape from your sins.”

15 tahun berlalu setelah perjanjian tersebut. Empat orang teman Emiri telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Yang pertama adalah Kikuchi Sae (Aoi Yu), yang punya ketakutan tertentu terhadap laki-laki dan punya semacam kelainan di mana ia tidak bisa mengalami menstruasi. Yang kedua adalah Shinohara Maki (Koike Eiko), yang berprofesi sebagai guru SD yang galak dan pada suatu hari mendapat banyak perhatian setelah ia menyelamatkan murid-muridnya dari serangan pria tak dikenal. Yang ketiga adalah Takano Akiko (Ando Sakura), perempuan yang sejak kematian Emiri menjadi anti memakai pakaian yang cantik dan menganggap dirinya sendiri adalah beruang. Lalu terakhir adalah Ogawa Yuka (Ikewaki Chizuru), pemilik toko bunga yang punya kecemburuan tertentu terhadap kakaknya dan punya perhatian khusus terhadap polisi. Setiap tokoh dieksplor dalam setiap episode secara bergantian (jadi episode pertama fokusnya sama Aoi Yu, episode 2 Koike Eiko, dst). Dan di setiap episodenya, tokoh-tokoh tersebut melakukan suatu hal mengejutkan yang mereka anggap sebagai penebusan dosa atas kematian Emiri.

Shokuzai adalah salah satu dorama yang sudah saya tunggu-tunggu sejak dorama ini belum tayang. Selain karena faktor pengarang Confessions dan Kurosawa Kiyoshi, yang membuat saya tertarik pada dorama ini adalah jajaran castnya yang luar biasa. Kebanyakan pemainnya adalah aktor dan aktris yang lebih sering bermain di film ketimbang dorama. Contohnya adalah Koizumi Kyoko (Hanging Garden, Tokyo Sonata), Aoi Yu (Hana and Alice), Koike Eiko (2LDK), Ando Sakura (Love Exposure), dan Ikewaki Chizuru (Josee the Tiger and the Fish). Pemain-pemain pembantunya pun top semua, mulai dari Moriyama Mirai, Kase Ryo, Ito Ayumi, Arai Hirofumi, sampai Kagawa Teruyuki. Dan untungnya saya tidak dikecewakan oleh nama-nama hebat tersebut.

Seperti kebanyakan film-filmnya Kurosawa Kiyoshi (yang sering membuat film horror/thriller), dorama ini memiliki aura yang suram dan kelam. Warna yang dipakai cenderung gelap, dan semakin mendukung atmosfir kelamnya. Alurnya sedikit lambat, tapi tidak membosankan dan malah memperkuat intensitas ketegangannya. Sinematografinya pun sangat mengagumkan, dan membuat dorama ini tidak terlihat sebagai sekadar tayangan televisi karena kualitas gambarnya yang sudah seperti kualitas gambar pada film layar lebar.

Yang paling saya kagumi dari dorama ini adalah proses pembangunan karakternya yang meskipun terlihat perlahan-lahan tetapi pasti. Di setiap episodenya setiap karakter diperkenalkan. Dan dengan memakai sedikit flashback, kita bisa melihat bahwa kepribadian mereka semuanya terbentuk dari kejadian 15 tahun yang lalu, bahkan untuk karakter Yuka (Ikewaki Chizuru) sekalipun yang mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan hal tersebut. Semua karakternya tidak diperlihatkan bersih dan suci. Bahkan untuk karakter Asako sang ibu, yang sebenarnya punya andil dalam kematian putrinya, karena belakangan diketahui bahwa kematian putrinya masih memiliki hubungan dengan masa lalunya sendiri. Makanya, shokuzai atau “the atonement” di sini tidak hanya berlaku bagi empat orang teman Emiri saja, melainkan juga pada karakter Asako sendiri. Well, kalo suka sama tontonan yang rada nyikologis, dorama ini tentunya sangat wajib ditonton karena kita bisa melihat bahwa sebuah kejadian bisa mempengaruhi kepribadian berbagai macam orang dengan cara yang berbeda.

Setiap episode dalam dorama ini memiliki cerita yang berdiri sendiri tapi tetap bersinggungan. Dan masing-masing episodenya memiliki cerita yang sangat menarik. Tapi kalo disuruh milih, favorit saya adalah episode pertama (French Doll) dan episode ketiga (Bear Siblings). Dua episode tersebut menurut saya yang paling menarik dan paling menegangkan. Apalagi episode pertama yang menampilkan Aoi Yu, yang menurut saya serem abis. Para pemain dalam dorama ini semuanya menampilkan akting yang bagus dan memukau. Ekspresi-ekspresi yang ditampilkan, kekosongan yang mereka alami, semuanya ditampilkan secara pas dan tidak berlebihan. Dari lima pemeran utama sampai peran-peran pembantu, semuanya menampilkan akting yang cemerlang.

Secara keseluruhan, dorama ini adalah salah satu dorama paling berkesan di tahun 2012 ini. Dan meskipun tahun 2012 baru berjalan dua bulan, sudah pasti saya akan memasukkan dorama ini ke list dorama terbaik tahun 2012. Satu-satunya kelemahan dorama ini menurut saya hanya pada bagian endingnya. Endingnya tetep bagus sih, dan sepertinya memang seperti itulah dorama ini harus berakhir (dan endingnya itu…ironis sekali). Tapi, kalo dibandingin sama episode-episode sebelumnya, menurut saya kualitas episode ini jadi rada menurun dan kalah sama episode-episode sebelumnya. Padahal saya berharap episode akhir ini menjadi puncak dari semua episodenya. Jadi, 4,5 bintang deh untuk dorama ini. Highly recommended.

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »