Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2011

Sejujurnya, saya termasuk orang yang tergolong pada kategori ‘pemula’ dalam hal mengenal tokoh-tokoh seperti Woody, Buzz Lightyear, Potatohead, dan teman-temannya yang lain. Siapa mereka? Ya, mereka adalah tokoh-tokoh dalam film animasi buatan Pixar yang berjudul Toy Story, salah satu karya mereka yang terkenal dan memiliki banyak penggemar. Sebelumnya saya sudah sering mendengar tentang film ini dan berbagai macam pujian yang menyertainya. Tapi anehnya hal tersebut tidak sampai mendorong saya untuk mencari dan menonton film ini. Apalagi, ide tentang boneka atau mainan yang bisa hidup ketika pemiliknya sedang tidak ada itu terdengar agak…err….horror…(teringat salah satu cerita di Goosebumps yang berjudul Boneka Hidup Beraksi) di bayangan saya. Barulah, tepatnya beberapa bulan yang lalu, salah satu stasiun televisi kita berbaik hati menayangkan dua filmnya (Toy Story 1 & 2) selama dua hari berturut-turut. Saya yang sedang tidak ada kerjaan pun akhirnya menonton juga film itu. Setelah nonton dua filmnya di TV saya langsung menyesal. Menyesal karena gak suka filmnya? Bukan, tapi menyesal karena kenapaaaa coba gak dari dulu saya nonton film ini. Ya, meskipun terlambat, ternyata saya jatuh cinta pada cerita tentang mainan bernama Woody dan kawan-kawannya tersebut. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Namun, yang akan saya review kali ini bukanlah dua film pertamanya yang saya tonton di TV tersebut, melainkan serinya yang ketiga yang baru saya tonton beberapa minggu yang lalu (maaf yee reviewnya basi). Karena jarak nonton ketiga filmnya yang tidak begitu jauh, maka masih segar di ingatan saya tentang dua film pendahulunya. Dan tanpa ragu saya menyatakan bahwa filmnya yang ketiga ini adalah yang terbaik dari semua serinya, dan juga yang paling berkesan di hati saya. Filmnya sendiri dirilis sebelas tahun setelah seri keduanya rilis. Sangat lama bukan? Dan tidak hanya usia filmnya yang bertambah, tokoh Andy, manusia pemilik Woody dan kawan-kawannya ini juga sekarang sudah bertambah dewasa dan sudah mau menjadi mahasiswa. Karena usianya yang bertambah tersebut, tentu saja Woody dkk juga sudah tidak pernah dimainkan lagi oleh Andy. Mereka kini tergeletak dalam sebuah peti, dan usaha mereka untuk menarik perhatian Andy agar mau memainkan mereka lagi pun tidak berhasil. Lalu, masalah timbul ketika sebentar lagi Andy mau menjadi mahasiswa dan pindah ke asrama. Tidak mungkinkan Andy membawa semua mainannya tersebut. Andy lalu memutuskan untuk membawa Woody saja sementara mainan-mainannya yang lain akan ia simpan di loteng. Namun, karena beberapa kejadian, Woody dan kawan-kawannya malah terbawa ke sebuah tempat bernama Sunnyside Daycare, sebuah tempat penitipan anak yang juga surga mainan untuk anak-anak. Mereka disambut ramah oleh Lotso, si boneka beruang yang bisa dibilang pemimpin mainan-mainan disana, dan juga warga Sunnyside Daycare yang lain (yang tentu saja mainan). Buzz dan kawan-kawannya yang merasa dilupakan Andy ini pun kembali bersemangat dan memutuskan untuk menetap di Sunnyside. Namun, apakah Sunnyside ini seramah yang mereka bayangkan? Apakah mereka akan betah berdiam di tempat itu? Bagaimana dengan Andy? Apakah mereka akan kembali padanya?

Seperti yang saya tulis sebelumnya, menurut saya seri ketiga Toy Story ini adalah yang terbaik dari semua serinya dan yang paling berkesan di hati saya. Film ini termasuk ke dalam paket komplit. Film ini sangat menyenangkan dan menghibur, tapi juga memberikan ‘sesuatu’ kepada saya. Unsur komedinya sangat lucu dan berhasil membuat saya tertawa. Apalagi kehadiran banyak tokoh baru, seperti Barbie dan Ken, menjadikan film ini menjadi semakin segar dan semakin menyenangkan. Salah satu yang lucu lagi adalah ketika Buzz tiba-tiba bisa berbahasa Spanyol dan menjadi sedikit ‘melambai’ (kenapa bisa begitu? Tonton aja deh). Menurut saya itu adalah adegan yang paling lucu dalam film ini 😀 Petualangan Woody dkk dalam film ini juga lumayan menegangkan dan membuat filmnya menjadi semakin seru dan asik diikuti.

Namun seperti yang saya bilang tadi, film ini tidak berakhir sebagai film yang sekadar lucu dan menghibur saja. Film ini juga memiliki beberapa bagian yang menyentuh dan sangat ‘nancep’ di hati, terutama di bagian akhir. Endingnya adalah yang terbaik dari film ini, dan juga yang terbaik dari semua ending di film-film sebelumnya. Endingnya menurut saya sangat pas untuk menutup film ini. Endingnya berhasil membuat saya tersenyum sekaligus menitikan air mata. Padahal saya tidak seperti Andy, yang waktu kecilnya senang bermain dengan banyak mainan. Jujur, saya bukan tipe orang yang waktu kecilnya senang mengkoleksi mainan. Kalaupun saya punya mainan, pasti sering saya abuse sampai rusak (teringat pada boneka Barbie saya yang kepalanya botak karena saya guntingi rambutnya terus menerus :p). Endingnya ini menyadarkan saya, bahwa mainan adalah salah satu hal yang berperan penting dalam perkembangan seorang anak. Dan pertambahan usia adalah sesuatu yang mutlak terjadi pada setiap orang. Kita tidak akan bisa menjadi anak-anak selamanya. Namun, meskipun begitu kita tidak boleh melupakan perasaan kita sewaktu menjadi anak-anak. Ya, secara keseluruhan film ini sangat berkesan dan membawa suatu perasaan hangat pada hati saya *heartwarming gitu deh istilahnya enggresnya*. Animasinya? Tampaknya tidak perlu saya bahas panjang-panjang, cukup satu kata saja: SUPERB (meskipun saya tidak menonton versi 3Dnya). Tidak heran film ini menjadi film animasi terbaik di ajang Oscar kemarin (meskipun saya juga menyukai film kompetitornya, The Illusionist, tapi The Illusionist tidak meninggalkan kesan yang sedalam Toy Story 3). So, saya kasih 5 bintang untuk film ini. Highly recommended.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Gara-gara nonton Hello Stranger, saya jadi ketagihan buat nonton film romcom yang berasal dari Thailand. Maka saya pun menonton Crazy Little Thing Called Love (yang juga punya judul lain “A Little Thing Called Love”), salah satu romcom Thailand yang kayaknya lagi nge-hip banget di sini *gak mau ketinggalan gaul*. Jika Hello Stranger bercerita tentang kisah cinta orang yang usianya sudah dewasa, Crazy Little Thing Called Love ini bercerita tentang kisah cinta remaja alias anak baru gede alias ABG. Adalah Nam, seorang cewek ABG dengan wajah yang bisa dibilang sama sekali tidak cantik, dan punya teman segeng yang sama-sama tidak cantik. Nam naksir Shone, kakak kelasnya yang bisa dibilang merupakan cowok paling cakep di sekolahnya. Tapi bagaimana caranya dia bisa mendapatkan hati Shone kalau tampangnya pas-pasan begitu, apalagi yang naksir sama Shone ini bukan hanya dia saja. Tapi Nam tidak pernah menyerah. Ia selalu berusaha menarik perhatian Shone, termasuk dengan mempraktekan kiat-kiat dalam buku berjudul “9 Recipe of Love (for Students)” dan mengubah penampilannya menjadi lebih cantik. Nam pun berhasil menjadi cantik. Namun, bukannya Shone yang kepincut oleh penampilan barunya yang cantik, tapi malah Top, seorang murid baru yang juga sahabat masa kecil Shone yang jatuh cinta padanya. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah suatu saat Nam akan berhasil mendapatkan hati Shone? Sebenarnya, bagaimana perasaan Shone pada Nam? Tonton aja kakaaa.

Sebelum nonton film ini, saya sudah baca sinopsisnya terlebih dulu dari beberapa situs film. Dan pas saya baca, komentar saya cuma satu: klise ya ceritanya. Dan pas akhirnya ditonton, ternyata emang klise abis. Tapiiiii, meskipun ceritanya sangat klise dan sudah sering diangkat sebagai ide cerita film-film bergenre serupa atau bahkan komik serial cantik, ternyata saya lumayan menikmati film ini. Filmnya mengalir begitu saja, dan film ini berhasil membuat saya larut dalam kisahnya. Mood saya pun berhasil ‘dimainkan’ oleh film ini. Saya ikut senyum pas ada momen lucu di antara Nam dan Shone, ngerasa gregetan pas Top nembak Nam di hadapan Shone, dan *spoiler* ikut patah hati pas Nam nyatain cintanya dan ditolak Shone *spoiler ends*. Ide ceritanya yang sangat klise ini ternyata tidak menjadi kelemahan film ini karena eksekusinya yang baik dan berhasil menjadikan film ini menjadi sangat nyaman untuk dinikmati dan juga ditonton ulang. Belum lagi film ini mungkin akan membawa perasaan nostalgia bagi beberapa penontonnya, terutama yang perempuan seperti saya *ehem*. Mungkin kamu pernah seperti Nam, naksir cowok paling ganteng di sekolah dan mau melakukan beberapa hal ‘bodoh’ hanya untuk menarik perhatiannya. Makanya film ini mungkin akan mendapat predikat “gue banget” bagi sebagian orang, karena kisahnya yang mungkin pernah dialami oleh banyak orang.

Akting dua pemainnya juga menurut saya lumayan baik meskipun tidak istimewa. Transformasi Nam yang asalnya jelek menjadi cantik pun sangat meyakinkan dan terasa wajar. Dan pemeran Shone-nya itu cuwakeeeep banget sehingga wajar banget Nam dan banyak cewek lainnya naksir dia (dan membuat film ini semakin nyaman dinikmati oleh cewek penyuka bishounen seperti saya, hehe). Beberapa karakter lainnya seperti karakter bu guru dalam film ini, yang meskipun menurut saya kehadirannya tidak penting tapi lumayan berhasil menambah sisi komedik film ini. Pemeran sahabat-sahabat Nam juga berhasil menampilkan penampilan yang bisa diterima.

Sayangnya, dari segala keklisean film ini yang bisa diterima dan dinikmati, endingnya benar-benar tidak bisa saya terima. Well, endingnya mungkin sesuai dengan keinginan penonton, tapi disajikan dengan sangat klise, corny, cheesy, norak, you name it lah. Ya ya ya, secara keseluruhan film ini emang udah klise, tapi cuma keklisean di endingnya itu yang sulit dimaafkan. Mungkin kalo diganti dengan ending lain yang lebih sederhana dan gak terlalu dibuat-buat kayak gini, filmnya mungkin akan menjadi semakin manis. Tapi overall, film ini tetep recommended dan layak tonton kok, terutama bagi para penyuka film-film bergenre komedi romantis yang berkisah tentang cinta monyet. 3,5 bintang deh.

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Read Full Post »

Selain Justin Bieber, apa lagi sih yang lagi digandrungi remaja Indonesia saat ini? Mungkin salah satu jawabannya adalah Korean pop-culture (terutama artis dan drama Korea). Bisa dibilang penggemar Korea di negara ini memiliki jumlah yang tidak sedikit.  Lalu, bagaimana dengan negara lainnya? Apakah demam Korea juga melanda negara-negara lainnya? Ya, ternyata demam Korea tidak hanya terjadi di Indonesia saja sodara-sodara, tapi juga di salah satu negara tetangga kita yang bernama Thailand. Hal itu dibuktikan melalui film Thailand berjudul Hello Stranger (judul asli: Kuan meun ho) besutan sutradara Banjong Pisanthanakun, sebuah film bergenre komedi romantis yang berlatarkan negeri penghasil ginseng tersebut.

Hello Stranger bercerita tentang dua orang –cewek dan cowok – yang tidak saling mengenal yang sama-sama sedang berlibur di Korea Selatan. Si cewek merupakan penggemar berat drama Korea, dan ia berlibur ke Korea dengan tujuan untuk mengunjungi tempat-tempat yang pernah digunakan di drama Korea (ya, tempat-tempat tersebut ternyata dijadikan tempat wisata, salah satunya adalah Nami Island yang merupakan setting drama Winter Sonata) sekaligus untuk menghadiri pernikahan temannya yang merupakan orang Korea. Sedangkan si cowok merupakan kebalikan dari si cewek. Ia bukanlah penggemar drama Korea, dan alasan ia berlibur ke Korea adalah semata-mata untuk menghibur dirinya  yang baru saja putus dengan pacarnya. Di bagian awal, mereka berlibur secara terpisah. Si cewek berlibur sendiri, sedangkan si cowok berlibur dengan rombongan tour. Lalu, karena suatu kejadian, mereka berdua bertemu dan kemudian memutuskan menghabiskan masa liburan mereka di Korea bersama-sama.  Meskipun tidak saling mengenal, dengan cepat si cewek dan si cowok tersebut langsung akrab dan mereka banyak melakukan hal yang gila dan menyenangkan di sana. Namun, meskipun begitu, mereka sepakat untuk tidak memberitahu nama mereka masing-masing. Dua orang tersebut kemudian mulai saling terbuka dan saling menceritakan masalah mereka masing-masing. Selanjutnya, mungkin bisa ditebak, kedua orang ini mulai merasakan ‘suatu perasaan’ satu sama lain. Lalu, apa selanjutnya yang akan terjadi pada mereka? Apakah hubungan antara kedua orang asing ini akan berlanjut setelah mereka pulang ke Thailand? Atau, apakah mereka akan kembali menjadi orang asing? Sila tonton sendiri 🙂

Dengan membaca sinopsis di atas, mungkin kita akan merasa cerita film ini tergolong klise dan sama sekali tidak menawarkan hal yang baru. Hal tersebut memang benar. Jadi, apa yang menjadikan film ini layak untuk ditonton banyak orang? Jawaban pertama adalah humor di dalamnya. Ya, film ini memang banyak menghadirkan momen lucu yang bisa membuat penontonnya tertawa melalui tingkah konyol dua tokoh utamanya. Lalu, jawaban yang kedua adalah karakteristik dan chemistry dua tokoh utamanya. Saya sukaaa banget sama karakteristik dua orang ini. Menurut saya mereka adalah pasangan yang sangat fun dan tidak membosankan. Yang paling saya suka sih karakteristik cowoknya. Di luar tampangnya yang good looking, sebenarnya karakter cowoknya ini bukan tipikal karakter yang mudah membuat perempuan jatuh cinta. Karakter cowoknya malah terlihat agak annoying, dan untuk ukuran laki-laki, karakter ini termasuk cerewet sekali. Tapi itu malah yang saya suka dari film ini. Karakteristik kedua tokohnya inilah yang membuat filmnya jadi lucu dan segar. Chemistry antara pasangan ini pun berhasil dibangun dengan baik. Meskipun diceritakan hanya mengenal beberapa hari, tapi mereka kelihatan kayak udah kenal lamaaaa banget. Penonton pun pasti akan dibuat gregetan dan berharap mereka akhirnya akan bersama.

Seperti yang telah ditulis di bagian awal, film ini juga membuktikan bahwa Thailand termasuk negara yang juga dilanda demam drama Korea. Hal itu diperlihatkan melalui rombongan tour Happy Korea (yang diikuti si cowok) yang dikhususkan untuk mengunjungi lokasi-lokasi yang pernah digunakan sebagai setting drama Korea (seperti lokasi drama Winter Sonata, Princess Hours, Coffee Prince). Namun, hal tersebut dijadikan sebagai suatu sindiran halus yang ditunjukan melalui karakter si cowok (ada scene di mana karakter si cowok berpendapat yg sedikit menyindir tentang drama korea). Namun, yang agak disayangkan, seperempat bagian akhirnya menurut saya jadi tidak ada bedanya dengan drama Korea kebanyakan karena ceritanya langsung berubah menjadi sedikit menye-menye lengkap dengan sedikit tangisan. Tapi hal tersebut tidak begitu mengganggu kok, dan ditolong oleh endingnya yang menurut saya sangat manis meskipun terkesan menggantung. Ja, overall, saya suka film ini. Recommended! Terutama buat para penyuka film-film bergenre komedi romantis. 3,75 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 3,75 4 5

Read Full Post »