Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘eita’

rikonposter“Marriage is a long long torture.” Itu adalah kalimat yang diucapkan Hamasaki Mitsuo (Eita) di kala sesi curhatnya di dokter gigi. Dia adalah seorang pria berusia 30 tahun yang sudah menikah selama dua tahun dan menyadari bahwa dia dan istrinya memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Mitsuo adalah seorang pria perfeksionis (dan hampir OCD mungkin?) yang sangat suka mengeluh, sedangkan sang istri yang bernama Yuka (Ono Machiko) adalah perempuan ceria yang pemalas dan selalu bertindak sesuka hatinya. Perbedaan kepribadian tersebut membuat kehidupan rumah tangga mereka selalu dihiasi oleh pertengkaran. Dan perceraian pun akhirnya melanda pasangan ini. Secara sepihak, Yuka mendaftarkan perceraian mereka ke lembaga hukum. Namun, perceraian adalah suatu hal yang tidak hanya melibatkan dua individu saja, tapi juga melibatkan dua keluarga. Belum siap untuk memberitahu keluarga masing-masing mengenai perceraian mereka, Mitsuo dan Yuka pun akhirnya tetap tinggal serumah untuk sementara waktu meskipun sudah tidak berstatus suami istri lagi.

rikon1Lalu ada Akari (Maki Yoko) dan Ryo (Ayano Go), pasangan yang baru saja menikah selama beberapa bulan. Akari sendiri adalah mantan pacar Mitsuo semasa kuliah dan kemudian bertemu kembali dengan Mitsuo secara tidak sengaja setelah ia pindah ke daerah tempat tinggal Mitsuo. Akari tampak bahagia dengan pernikahannya. Ia dan suaminya pun selalu akur dan tidak pernah bertengkar. Namun, ternyata diam-diam sang suami sering “bermain” dengan banyak wanita. Tidak hanya itu, Ryo pun menyimpan sebuah rahasia yang berhubungan dengan status pernikahan mereka. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya pada kedua pasangan itu? Mari kak, ditonton.

rikon2Yak, seperti yang dijanjikan sebelumnya, di postingan ini saya akan mereview dorama Eita yang lain yang berjudul Saikou no Rikon. Dorama ini adalah dorama yang paling saya nanti-nantikan di tahun ini. Dan itu bukan hanya karena Eita saja, tapi juga karena pemain-pemain lainnya yang menurut saya keren semua, seperti Ono Machiko dan Ayano Go yang keduanya sangat saya cintai di Carnation, serta Maki Yoko yang menampilkan akting yang memikat di Osozaki no Himawari. Tidak hanya jajaran castnya yang sempurna, dorama ini pun ditulis oleh penulis skenario dorama favorit saya, yaitu Sakamoto Yuji yang pernah menulis Soredemo Ikite Yuku (yang mana adalah salah satu dorama yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup). Hasilnya? Saya ternyata tidak dikecewakan oleh nama-nama hebat tersebut. Sesuai judulnya yang memiliki arti “The Best Divorce”, dorama ini pun benar-benar “saikou”.

rikon3Yang saya suka pertama-tama dari dorama ini adalah penggunaan komedi sebagai genre utamanya. Yak, kalo mendengar kata “perceraian”, yang terpikir mungkin cerita depressing ala film Blue Valentine. Namun dorama ini menggunakan komedi dan komedinya itu menurut saya tidak hanya lucu, tapi juga cerdas. Karakteristik, situasi, serta dialog-dialog di dorama ini bersama-sama membangun momen-momen lucu yang berhasil membuat tertawa. Namun, meskipun dorama ini bergenre komedi, dorama ini bukan tipe dorama yang berusaha keras untuk membuat penontonnya terus berhaha-hihi sepanjang episode. Sekalinya ada momen sedih dan heartbreaking, itu benar-benar sedih dan heartbreaking. Dan meskipun Yuka dan Mitsuo bercerai karena alasan yang sungguh sangat sepele, bukan berarti dorama ini pun jadi menganggap isu perceraian sebagai hal yang sepele. Dorama ini berhasil membuat saya bertanya-tanya mengenai: apa sih hakikat pernikahan itu? Seperti apa sih suami istri yang ideal itu? Dan apa perceraian itu selalu akan berakibat buruk, atau malah membuka jalan ke arah yang lebih baik? Intinya, meskipun bergenre komedi, dorama ini tidak lantas menjadi dorama yang enteng. Dengan caranya sendiri, dorama ini berhasil menyuguhkan cerita mengenai perceraian dari sudut pandang lain. Hal itu membuat dorama ini menjadi terasa sangat fresh dan original.

rikon4Kelebihan lain dari dorama ini adalah karakteristiknya yang menurut saya benar-benar kuat dan realistis. Empat karakter utama dorama ini semuanya memiliki kepribadian yang menarik dan multidimensi. Tidak ada karakter yang benar-benar baik atau benar-benar buruk. Mitsuo sang tokoh utama sendiri menurut saya adalah karakter yang sangat menyebalkan. Ia cerewet, selalu mengeluh, dan egois, pokoknya tipe karakter yang punya risiko untuk dibenci banyak orang (dan secinta-cintanya saya sama Eita, saya gak mau punya suami kayak Mitsuo). Kamu mungkin akan membencinya, tapi kamu akan tetap peduli padanya. Eita dengan kemampuan aktingnya yang memukau sangat berhasil membuat karakter menyebalkan seperti Mitsuo ini menjadi menarik (dan aktingnya di sini adalah salah satu penampilan terbaiknya). Bertolak belakang dengan Mitsuo, karakter sang istri (atau mantan istri), Yuka, adalah tipe karakter yang gampang untuk dicintai penontonnya. Yuka sendiri bukan tipe istri ideal: pemalas, berantakan, dan suka bertingkah seenaknya. Namun karakternya yang ceria akan membuat kamu gampang untuk menyukainya. Dan yang terpenting adalah dia berusaha lebih keras untuk rumah tangganya daripada Mitsuo (dan sayangnya hal itu tidak pernah disadari oleh Mitsuo). Saya jadi makin cinta sama Ono Machiko karena dia selalu berhasil membuat karakter yang dimainkannya ini menjadi lovable tanpa harus membuat karakternya kelihatan sempurna. Eita dan Ono Machiko sendiri memiliki chemistry yang sangat pas di sini. Mereka memang punya kepribadian yang bertolak belakang dan selalu bertengkar setiap saat. Tapi saya sangat suka melihat interaksi antara mereka berdua ini dan pertengkaran rikon5mereka pun kadang-kadang terasa sangat lucu karena biasanya terjadi karena hal-hal sepele. Sementara itu, Akari dan Ryo sebagai pasangan kedua di dorama ini pun memiliki karakterisasi yang menarik. Meskipun karakter Akari termasuk karakter perempuan kalem, ia bukan karakter yang membosankan dan karakternya ini kadang menampilkan kejutan-kejutan yang tidak terduga. Pada awalnya mungkin kita akan berpikir bahwa dia adalah perempuan bodoh karena diam saja meskipun tahu suaminya diam-diam berselingkuh dengan banyak wanita. Dan saya bersyukur karena sang penulis tidak menjadikan dia sebagai karakter membosankan seperti itu. Dan Maki Yoko berhasil menjadikan karakter Akari ini sebagai karakter yang memikat. Meskipun doyan selingkuh, saya sendiri menyukai karakter Ryo yang polos dan happy-go-lucky. Dan begitu mengetahui masa lalunya, saya jadi bersimpati pada karakternya meskipun tidak lantas memaklumi perbuatannya. Karakter Ryo ini juga diperankan dengan baik oleh Ayano Go (dan orang ini makin lama bikin saya makin naksir). Permasalahan yang terjadi pada pasangan Akari-Ryo ini sendiri merupakan permasalahan yang jauh lebih kompleks dan serius daripada permasalahan pasangan Yuka-Mitsuo. Dan bagaimana kemudian kedua pasangan ini saling terlibat satu sama lain ditampilkan dengan sangat lucu dan menghibur.

rikon6Selain hal-hal di atas, saya juga sangat menyukai gaya penceritaan dorama ini. Dorama ini punya konsep di mana para karakter di dorama ini punya hobi bercerita kepada orang lain mengenai masalah yang mereka alami (contohnya Eita yang punya hobi curhat di dokter gigi). Dan dialog-dialog di dorama ini pun (baik pada curhatan ataupun dialog antar tokoh)  sangat lucu, menghibur, dan juga ‘dalem’. Ya, sekali lagi Sakamoto Yuji membuktikan kemampuannya dalam menulis skenario melalui dorama ini. Apalagi dorama ini juga selalu menghadirkan kejutan-kejutan tidak terduga di setiap episodenya (dan membuat saya selalu gelisah setiap minggunya). Selain skenario dan gaya berceritanya, saya juga sangat menyukai sinematografi dan soundtrack yang digunakan pada dorama ini. Lokasi yang digunakan pada dorama ini pun sangat berkesan dan membuat saya ingin berkunjung ke sana (kalo suatu hari saya pergi ke Jepang, harus banget dateng ke Nakameguro). Dan tentu saja kita tidak akan bisa melupakan ending credits dorama ini yang benar-benar menghibur dan penuh fanservice (untuk cewek maupun cowok). Seperti apa ending credits-nya itu? Ayo lihat sendiri! 😀

Secara keseluruhan, saya sangaaaaat mencintai dorama ini. Sangat memuaskan dari awal sampai akhir (mungkin satu-satunya yang gak bikin puas cuma penyelesaian dari permasalahan pasangan Akari-Ryo ya, but I’m okay with that). Buat saya, dorama ini adalah yang terbaik di musim dingin tahun ini, dan dengan cepat menjadi salah satu dorama favorit saya sepanjang masa.  5 bintang, highly recommended 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

mahoroposterMusim dingin tahun ini adalah musim yang membahagiakan untuk para pecinta dorama. Atau setidaknya untuk saya, karena kebetulan saya suka semua dorama yang saya tonton musim ini (dua di antaranya sudah direview di postingan sebelumnya). Tidak hanya itu, musim dingin tahun ini juga musim yang super membahagiakan untuk para fans Eita. Yak, di musim ini, aktor Jepang favorit nomor satu saya itu bermain di dua dorama (renzoku) yang berbeda, yaitu di Mahoro Ekimae Bangaichi dan di Saikou no Rikon. Dan dua dorama itu adalah salah dua dorama musim ini yang paling saya suka. Di postingan ini, saya akan mereview Mahoro Ekimae Bangaichi dulu ya, dan tunggu review Saikou no Rikon di postingan yang akan datang 😀

mahoro1Mahoro Ekimae Bangaichi sendiri adalah sekuel dari film berjudul Mahoro Ekimae Tada Benriken (Tada’s Do It All House) yang ditayangkan tahun 2011 lalu. Dorama ini masih memasang dua bintang utama dari filmnya, yaitu Eita dan Matsuda Ryuhei (salah satu aktor favorit saya juga). Tada Keisuke (Eita) dan Gyoten Haruhiko (Matsuda Ryuhei) adalah dua orang duda yang bekerja sebagai benriya, suatu pekerjaan di mana mereka melakukan pekerjaan apa saja sesuai permintaan klien mereka (misalnya membersihkan rumah atau mengajak anjing jalan-jalan) di sebuah kota fiktif bernama Mahoro. Namun, pekerjaan yang datang rupanya tidak selalu sesimpel itu dan kadang cenderung aneh. Misalnya di episode pertama, mereka diminta untuk menjadi pasangan gulat dari seorang pegulat yang sebentar lagi akan pensiun dari dunia gulat. Di episode yang lain, mereka diminta untuk mencuri cincin tunangan seorang perempuan yang pacarnya adalah mantan pacar si klien. Lalu, pekerjaan aneh apa lagi yang akan mereka berdua lakukan? Yuk mari ditonton 😀

mahoro2Komentar pertama untuk dorama ini: BROMANCE! Yeah, saya suka banget sama bromance antara Tada dan Gyoten. Eita dan Matsuda Ryuhei punya chemistry yang sangat baik di dorama ini. Gak heran juga sih karena mereka berdua sudah sering bermain film bareng (ini kali kelima mereka tampil bareng) dan tampaknya di dunia nyata pun mereka bersahabat. Saya suka Tada yang kadang-kadang galak ke Gyoten tapi tetap membiarkan Gyoten tinggal bersamanya meskipun dia tidak mengakui Gyoten sebagai pegawai di tempatnya. Dan saya suka melihat tingkah Gyoten yang sering bilang ke orang lain kalau dia dan Tada punya hubungan “khusus” (yang tentu saja langsung dibantah Tada). Cerita mengenai bagaimana mereka bertemu sendiri diceritakan di versi filmnya. Tapi menurut saya tanpa menonton filmnya pun kamu tetap bisa mengerti dan menikmati dorama ini. Apalagi buat saya dorama ini jauh lebih bagus dari versi filmnya.

mahoro3Setiap episode di dorama ini memiliki sebuah cerita yang berdiri sendiri dan tidak terlalu memiliki kaitan dengan episode lainnya (setiap episodenya fokus pada satu pekerjaan dari satu klien). Setiap episodenya berdurasi pendek (30 menitan) dan memiliki daya tarik masing-masing yang mungkin akan menghasilkan kesan yang berbeda-beda pada setiap penonton. Ini adalah dorama komedi dan komedinya pun menurut saya sangat lucu (meskipun bukan tipe komedi yang bikin kamu tertawa terbahak-bahak). Namun, dorama ini juga banyak menghadirkan momen-momen melankolis yang menyentuh tanpa harus terlihat cheesy. Misalnya di episode dua, ketika ada seorang klien yang meminta Tada dan Gyoten untuk mencari seorang perempuan yang pernah menjadi model dari video karaoke berumur puluhan tahun yang membuatnya jatuh cinta. Mereka berdua berhasil menemukan perempuan itu, namun harus menerima kenyataan bahwa kondisi si perempuan saat ini jauh dari yang mereka harapkan. Dan penyelesaian akan hal itu menurut saya sangat manis dan menyentuh. Selain episode itu, masih ada beberapa episode lainnya yang tidak kalah menyentuh. Jadi, untuk pecinta kisah-kisah bittersweet, jangan sampai melewatkan dorama ini.

mahoro4Selain memiliki chemistry yang ciamik, kedua pemain utama dorama ini juga menunjukkan akting yang sangat baik di sini. Saya suka akting Eita di sini, tapi “the heart of this drama” tidak lain adalah Matsuda Ryuhei yang berperan sebagai Gyoten. Saya suka banget karakter Gyoten ini. Karakteristiknya yang pemalas dan lamban beserta kemampuannya untuk melucu dengan wajah datar menurut saya adalah salah satu daya tarik dorama ini (dan seperti yang pernah saya bilang sebelumnya, Matsuda Ryuhei mau jadi peran apapun selalu kelihatan cool. And yeah, it’s compliment). Selain Eita dan Ryuhei, para bintang tamu yang muncul di dorama ini pun semuanya menampilkan akting yang bagus di sini. Beberapa di antaranya, seperti Suzuki Matsuo, Omori Nao, dan Kora Kengo sudah pernah muncul di versi filmnya. Yang lainnya seperti Sakai Maki, Arai Hirofumi, Usuda Asami, Kuroki Haru (the best guest in this show), Kariya Yuiko, dan Maki Yoko (yang juga bermain bersama Eita di Saikou no Rikon) pun sama-sama menampilkan akting yang memikat dan memperkuat dorama ini. Selain castnya yang bagus, dorama yang disutradarai oleh One Hitoshi (Moteki, Akihabara@DEEP) ini pun memiliki theme song yang bagus, baik di bagian openingnya (yang dibawakan oleh band Flower Companyz) maupun endingnya (yang dibawakan Sakamoto Shintaro).

Secara keseluruhan, menurut saya ini adalah salah satu dorama paling berkesan di season ini. Ini adalah tipe dorama yang membuat saya sedih ketika memasuki episode akhir karena saya masih tidak rela untuk berpisah dengan Tada dan Gyoten (dear One Hitoshi, bikin sekuelnya dooong). Sangat direkomendasikan untuk ditonton para penyuka bromance, komedi, kisah-kisah pendek, atau kisah-kisah bittersweet. 4,5 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

top 7 actorsHalo, selamat tahun baru ya para pembaca blog ini! Yosh, di awal tahun 2013 ini saya akan menulis postingan yang sudah ingin saya buat dari dulu. Di postingan ini saya akan menulis list tentang tujuh orang aktor Jepang favorit saya. Ya, aktor atau aktris adalah salah satu faktor yang membuat saya memutuskan untuk menonton satu film tertentu. Begitu juga dengan film Jepang. Setelah bertahun-tahun menonton film dan dorama Jepang, banyak sekali perubahan pada list aktor Jepang favorit saya. Contohnya bertahun-tahun yang lalu saya terbiasa mengidolakan aktor-aktor dari Johnny’s macam Yamapi, Nishikido Ryo atau Matsumoto Jun. Sekarang, dengan semakin banyaknya film dan dorama Jepang yang saya tonton, semakin banyak pula aktor Jepang yang saya suka dan membuat list aktor Jepang favorit saya berubah terus. Apa kriteria dari aktor-aktor di list di bawah ini sehingga saya menyebutnya sebagai favorit? Akting tentu saja kriteria nomor satu. Tapi karena list di bawah ini sifatnya personal, ada juga hal-hal lain yang mendasari pemilihan itu, contohnya karena saya *ahem* naksir sama aktornya. Tapi biasanya saya naksir sama seorang aktor setelah terkagum-kagum sama aktingnya kok.

Oh ya, list ini sifatnya personal ya. Jadi jangan protes kalo nama-nama hebat seperti Asano Tadanobu, Watanabe Ken, Yakusho Koji, atau Abe Hiroshi gak masuk list ini. Saya sangat mengagumi mereka dan kayaknya kemampuan akting mereka udah banyak yang tahu, jadi ya gak perlu dimasukkan ke dalam list ini. Dan mengapa cuma tujuh orang? Well, pada awalnya saya berniat untuk memasukkan 10 orang ke daftar ini. Tapi ketika saya memikirkan tiga orang terakhir dari 10 orang itu, saya jadi sangat bingung.  Ada banyak aktor yang ingin saya masukkan, dan rasa suka saya sama mereka kurang lebih sejajar. Jadi daripada bingung mau milih yang mana, mending gak dimasukkan sama sekali (maaf ya, penulis blog ini emang pemalas). Jadi katakanlah daftar di bawah ini adalah daftar yang sudah pasti dan susah berubahnya.

Catatan: para aktor di bawah ini merupakan para aktor kelahiran antara tahun 70-an sampai 80-an awal. Mungkin suatu saat saya akan buat list baru tentang aktor favorit dengan usia yang lebih muda/lebih tua daripada yang ada list di bawah ini. Oke, mari dimulai saja listnya (btw bannernya menyusul ya).

(more…)

Read Full Post »

Purisuka’s Top 5 Eita Films

Jika kamu pembaca setia blog ini (kayak ada aja), kamu pasti tahu siapa aktor Jepang yang paling saya suka saat ini. Ya, dia adalah Eita! Perkenalan saya dengan aktor yang punya nama lengkap Nagayama Eita ini bermula sekitar lima tahun yang lalu tepatnya di dorama Nodame Cantabile yang sangat populer itu. Di dorama itu ia berperan sebagai Mine Ryutaro, violinist bergaya rocker yang juga bersahabat dengan Nodame sang tokoh utama. Namun, saya baru menaruh perhatian padanya ketika melihat aktingnya di dorama Last Friends (dari lima tokoh utama di dorama itu, karakter Takeru yang diperankannya lah yang paling saya suka). Meskipun begitu, saya baru menyatakan diri sebagai penggemarnya setelah melihat aktingnya sebagai mahasiswa forensik penuh rasa ingin tahu di dorama berjudul Voice. Dan sejak saat itu, saya selalu berusaha untuk mencari dan menonton dorama-dorama atau film-film yang memasang Eita sebagai pemainnya. Apa yang membuat saya jatuh cinta pada aktor satu ini? Tentu saja aktingnya. Menurut saya, Eita termasuk aktor yang bisa memerankan berbagai macam peran, mulai dari peran serius sampai peran komedik. Dan setelah menonton sebagian besar film/dorama yang pernah dimainkannya, saya terpikir untuk membuat postingan khusus tentang lima film yang dibintanginya yang menjadi favorit saya. Siapa tahu list di bawah ini bisa jadi referensi tontonan atau sukur-sukur bisa bikin kalian tertarik untuk ‘mengenal’ Eita.

(more…)

Read Full Post »

Dorama ini bercerita tentang sebuah sekolah dasar di sebuah desa yang hanya memiliki satu orang murid saja. Desa tempat sekolah itu berada memang termasuk desa yang sepi dan sebagian besar penduduknya adalah orang-orang yang sudah berumur. Selain hanya memiliki satu orang murid (yang bernama Yabuki Tappei), SD bernama Mori no Mizu itu juga hanya memiliki sedikit kru, yaitu satu orang kepala sekolah (diperankan Osugi Ren), satu orang guru kepala (diperankan Kakei Toshio), satu orang perawat sekolah (diperankan Fubuki Jun), dan satu orang guru/wali kelas yang merupakan guru transfer dari Tokyo yang bernama Terusaki Aiko (Kuninaka Ryoko).

Suatu hari, sekolah tersebut diminta untuk bekerja sama dalam rural study program, di mana pada program tersebut lima orang anak didatangkan dari Tokyo untuk belajar di Mori no Mizu. Rural study program tersebut tentu saja menjadi kesempatan besar bagi Mori no Mizu untuk menaikkan citranya. Selain itu, program tersebut juga diharapkan dapat mencegah sekolah tersebut dari ancaman penutupan karena muridnya yang hanya satu orang itu. Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Lima orang anak itu sampai juga di desa tersebut dan memulai harinya sebagai murid Mori no Mizu bersama-sama dengan Tappei. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah rural study program itu akan berjalan dengan lancar? Apakah lima anak dari Tokyo itu (beserta Tappei) akan betah belajar di Mori no Mizu? Dan apakah program tersebut akan berhasil mencegah sekolah tersebut dari ancaman penutupan? Tonton aja deh 😀

Minna Mukashi wa Kodomo Datta, secara harfiah kalimat tersebut memiliki arti “Kita semua dulunya anak kecil”. Dan seperti itulah dorama ini. Menonton dorama ini mungkin akan membuatmu kembali mengingat perasaan-perasaan yang pernah kamu rasakan ketika masih kecil. Perasaan saat pertama kali mempelajari hal baru, perasaan ketika bermain bersama teman-teman pertamamu, perasaan ketika pertama kali jatuh cinta, dan berbagai macam perasaan-perasaan lainnya yang mungkin sudah lama terlupa dari ingatan kita. Dorama ini memang menampilkan anak-anak selayaknya anak-anak. Dari mana pun asalnya, mau dari Tokyo seperti Momo, Shion, Shin, Fuuta, dan Wataru (nama anak-anak yang ikut rural study program) ataupun anak asli desa seperti Tappei, anak-anak tetaplah anak-anak. Hal itu membuat dorama ini terlihat sangat sederhana dan gak muluk-muluk seperti… katakanlah Laskar Pelangi (versi novel) yang sama-sama berkisah tentang sekolah di desa dengan murid yang hanya sedikit (well, saya suka novel itu tapi kadang-kadang saya merasa tokoh anak-anak di novel itu gak kayak anak-anak).

Ya, sederhana mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan dorama berjumlah 11 episode ini. Dorama ini emang sangat sederhana dan mungkin terlalu biasa jika dibandingkan dengan dorama sekolahan anak SD lainnya (seperti The Queen’s Classroom misalnya). Tapi kesederhanaannya itulah yang membuat dorama ini menjadi begitu enjoyable. Saya sendiri sangat menikmati menonton dorama ini. Saya menyukai ceritanya yang simpel dan gak muluk-muluk. Saya menyukai suasana pedesaannya yang begitu tenang dan bikin saya pengen tinggal di sana. Saya menyukai tokoh-tokohnya yang begitu lovable dan bikin saya pengen jadi bagian dari mereka. Pokoknya saya menyukai segala macam kesederhanaannya yang menjadikan dorama ini menjadi begitu heartwarming. Selain menampilkan anak-anak selayaknya anak-anak, dorama ini juga menampilkan hubungan anak-anak dengan sekitarnya, seperti hubungan anak-anak dengan orang tuanya, hubungan anak-anak dengan gurunya, dan hubungan anak-anak dengan lingkungan di sekitarnya. Intinya sih melalui dorama ini kita akan bisa lebih memahami dunia anak-anak.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, salah satu hal yang paling saya suka di sini adalah karakter serta akting pemainnya. Kuninaka Ryoko sebagai pemeran utama dorama ini sangat berhasil memerankan karakter Aiko-sensei, guru transfer asal Tokyo yang selalu bersemangat dan ceria. Sekilas, karakter ini terlihat seperti tipikal karakter yang too good to be true ya karena terlalu baik dan sebagainya. Tapi saya senang karena di dorama ini juga diceritakan sedikit tentang masa lalunya ketika menjadi guru di Tokyo, yang membuat karakter ini menjadi tetap ‘manusia’ yang masih bisa melakukan kesalahan. Dan saya sangat menyukai caranya mengajar, di mana pelajaran yang diberikannya tidak sekadar pelajaran textbook saja, tapi juga pelajaran tentang kehidupan. Takanori Jinnai meskipun sering terlihat overacting tapi menurut saya tetap pas berperan di sini sebagai ayahnya Tappei (dan saya suka melihat hubungan ayah dan anak ini). Eita yang menjadi alasan utama saya menonton dorama ini juga berhasil memerankan perannya dengan baik sebagai Sagami “Masa-nii” Masa, anak kepala sekolah yang ditunjuk menjadi kepala asrama di tempat anak-anak itu tinggal. Masa-nii sendiri sebenarnya memiliki kualifikasi sebagai guru, tapi dia selalu merasa dia tidak pantas dengan pekerjaan tersebut. Di luar tiga karakter itu, pemeran-pemeran dewasa lainnya (seperti Shiraishi Miho, Osugi Ren, dll) juga berhasil menampilkan akting yang baik. Begitu juga dengan pemeran anak-anaknya yang berhasil menghidupkan perannya masing-masing dengan baik, terutama Fukasawa Arashi yang menampilkan akting yang cemerlang sebagai Tappei.

Well, secara keseluruhan, dorama ini menurut saya recommended. Cocok ditonton oleh penyuka dorama bergenre slice of life atau penyuka dorama dengan cerita yang simpel. Dan jika saya menyarankan The Queen’s Classroom untuk ditonton oleh orang-orang yang ingin memahami pendidikan, maka saya akan menyarankan Minna Mukashi wa Kodomo Datta untuk ditonton oleh orang-orang yang ingin memahami dunia anak-anak. Siapa tahu udah banyak yang lupa rasanya jadi anak-anak :p Well, 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Dalam pertandingan sepak bola, ada sesuatu yang dinamakan perpanjangan waktu (injury time/additional time/loss time/apalah namanya itu), di mana suatu pertandingan mendapat tambahan waktu beberapa menit dengan beberapa syarat tertentu. Nah, apa jadinya jika hal tersebut berlaku juga di kehidupan nyata? Apa yang akan kamu lakukan jika kamu mendapat perpanjangan waktu di saat ajal akan menjemput?  Ide tersebut merupakan premis dasar dari dorama berjudul Loss:Time:Life, sebuah dorama yang bercerita tentang orang-orang yang diberi perpanjangan waktu ketika kematian mendekati mereka.

Loss:Time:Life sendiri adalah sebuah dorama berjumlah sembilan episode yang setiap episodenya memiliki cerita yang berdiri sendiri dan tidak memiliki kaitan secara langsung antara episode yang satu dengan yang lainnya (kecuali kaitan tema). Setiap episodenya memiliki satu orang tokoh utama yang diceritakan menemui ajalnya dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya di episode pertama ada Nakayama Haruhiko (Eita), seorang fotografer berita yang mati karena tertembak oleh penjahat yang sedang diselidikinya. Ketika peluru hampir mengenainya, tiba-tiba waktu di ruangan itu berhenti dan empat orang berpakaian wasit datang menghampirinya. Salah satu di antaranya membawa sebuah papan bertuliskan tambahan waktu yang dimilikinya. Ya, sama seperti sepak bola, rupanya Haruhiko mendapat perpanjangan waktu beberapa jam sebelum ajal benar-benar menghampirinya. Dengan diawasi wasit-wasit tersebut, ia harus memanfaatkan sisa waktunya tersebut untuk menyelesaikan segala urusannya. Dan seperti sepak bola juga, terdapat berbagai aturan yang harus dipatuhi selama masa tambahan waktu tersebut, misalnya tidak boleh memberitahu orang lain bahwa dia sudah meninggal, tidak boleh mengganti baju, dan berbagai macam peraturan lainnya. Jika peraturan tersebut dilanggar, maka ia akan mendapat kartu kuning. Dan ketika tambahan waktu itu akan habis, ia diwajibkan untuk kembali ke tempat kematiannya dan melanjutkan hal yang menjadi takdirnya tersebut. Selain Haruhiko, masih ada delapan tokoh lagi dengan latar belakang dan cara kematian berbeda-beda yang mengalami hal serupa. Siapa saja kah mereka? Apa yang mereka lakukan dalam sisa waktunya tersebut? Apakah mereka benar-benar akan mati? Tonton aja deh.

Ini adalah salah satu dorama yang saya tonton karena faktor ada Eita-nya *ahem*, dan rupanya dorama ini berhasil memuaskan saya. Yang paling saya suka dari dorama ini tentu saja ide atau premisnya yang menarik. Dan ide tersebut berhasil dieksekusi dengan sangat baik. Meskipun punya premis yang terkesan repetitif (orang mati, dapat tambahan waktu, menyelesaikan urusannya, selesai), tapi si pembuatnya berhasil membuat setiap episodenya memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari episode lainnya, sehingga saya selalu merasa menemukan hal yang baru di setiap episodenya. Setiap tokoh utama di masing-masing episodenya memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Selain Haruhiko si fotografer, masih ada delapan tokoh lain dengan profesi yang berbeda-beda. Ada yang seorang polisi (episode 2, diperankan Koyama Keiichiro), ibu rumah tangga (episode 3, diperankan Tomochika), perawat (episode empat, diperankan Ueno Juri), mangaka (episode 5, diperankan Ito Atsushi), aktor kurang terkenal (episode 6, diperankan Tanaka Naoki), istri yakuza (episode 7, diperankan Tokiwa Takako), wanita karir (episode 8, diperankan Maki Yoko), dan hikikomori (episode 9, diperankan Oizumi Yo). Cara kematiannya pun berbeda-beda, ada yang dibunuh, kecelakaan, bunuh diri, serangan jantung, bahkan ada yang sampai mati karena tersedak makanan. Tambahan waktunya pun berbeda-beda. Ada yang tiga jam, empat jam, lima jam, bahkan ada yang jauh lebih lama dari itu. Segala macam perbedaan tersebut membuat setiap episodenya memiliki daya tarik masing-masing dan menjadikan kesan repetitif itu menjadi tidak terlihat.

Selain itu, yang menarik lagi dari dorama ini adalah cara tokoh-tokoh tersebut menghabiskan waktunya yang tersisa. Yang paling saya suka adalah episode 4 yang memasang Ueno Juri sebagai tokoh utamanya. Di situ ia diceritakan sebagai seorang perawat yang mencoba bunuh diri setelah diputuskan pacarnya. Dan setelah ia mendapat tambahan waktu, yang ia lakukan adalah… mencoba bunuh diri lagi 😀 Selain episode itu, masih ada beberapa episode lainnya yang saya suka. Secara keseluruhan, episode-episode favorit saya adalah episode satu, tiga, empat, lima, dan delapan. Namun, selain episode-episode itu, episode-episode lainnya juga tidak kalah menarik kok. Dan yang paling saya suka adalah setiap episodenya selalu berhasil bikin saya merasa tersentuh dan gak rela kalau mereka bener-bener akan mati (dan saya emang lemah sama cerita yang temanya tentang kematian). Apalagi, melalui tambahan waktu tersebut, para tokoh di sini kemudian menemukan hal-hal berharga yang tidak pernah dialaminya ketika hidup dan tambahan waktu tersebut membuat mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.

Di luar hal-hal di atas, yang paling saya suka di sini adalah… karakter wasit-wasitnya. Ya, kayaknya cuma di dorama ini malaikat maut digambarkan dengan sosok manusia berpakaian wasit. Wasit-wasit ini sendiri tidak pernah diperlihatkan berbicara, tapi gerak-gerik mereka selalu bisa bikin saya ketawa. Selain loss time, wasit, dan kartu kuning, ada satu lagi unsur dari pertandingan sepak bola yang dimasukkan di dorama ini dan membuat dorama ini menjadi lebih menarik. Ya, komentator! Pertandingan sepak bola pasti tidak akan seru jika tidak dilengkapi dengan suara komentator. Begitu juga dengan dorama ini. Seperti pada sepak bola, ada suara-suara yang mengomentari segala tindak-tanduk yang dilakukan tokoh-tokohnya (yang komentarnya banyak yang kocak). Bahkan untuk adegan tertentu ada juga yang diulang alias diberi tayangan replay-nya 😀 Hal-hal tersebut membuat dorama ini menjadi semakin menghibur dan meskipun bertema tentang kematian, dorama ini sama sekali tidak memberi kesan depresif.

Overall, saya sangat menyukai dorama berjumlah sembilan episode ini. Oh ya episode-episode di sini memang tidak memiliki kaitan secara langsung satu sama lain. Tokoh utama antara satu episode dengan episode lainnya diceritakan tidak saling mengenal. Tapi ada satu orang tokoh yang selalu ada di setiap episodenya, yaitu tokoh Omoto-san yang diperankan Nukumizu Youichi. Tidak terlalu jelas latar belakang karakter ini, dan berhubung dengan itu, dorama ini memiliki dua episode tambahan (overtime) yang berfokus pada kehidupan karakter itu (dengan ditambah pemeran lain seperti Kuriyama Chiaki dan Sakai Wakana). Sayangnya, dua episode itu menurut saya tidak semenarik sembilan episode sebelumnya dan tidak begitu menjelaskan apa maksud dari keberadaan tokoh itu. Di luar hal itu, karena setiap episodenya berdiri sendiri, menurut saya dorama ini bisa dinikmati secara acak alias tidak berurutan. Saya juga setelah episode satu langsung loncat ke episode 4 dan selanjutnya nonton berdasarkan urutan artis yang saya suka, dan hal itu sama sekali tidak mengganggu kenikmatan menonton dorama ini. Tapi saran saya, jika mau menonton secara acak, lebih baik episode pertama yang ditonton tetap episode 1 dan episode terakhir yang ditonton tetap episode 9 (tengah-tengahnya terserah mau nonton yang mana dulu). Well, 4 bintang deh 😀

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jepang sepertinya memang tidak pernah bosan membuat dorama bertemakan detektif. Pada musim dingin tahun ini pun, terdapat beberapa dorama bertemakan detektif yang ditayangkan di tv-tv Jepang, salah satunya adalah dorama berjudul Lucky Seven yang telah selesai tayang baru-baru ini. Tidak seperti dorama detektif kebanyakan yang biasanya bercerita tentang detektif yang ada di kepolisian, Lucky Seven bercerita tentang sebuah agen detektif swasta yang bernama Lucky Detective Agency.

Lucky Detective Agency pada awalnya hanya terdiri dari enam orang saja. Seperti kebanyakan kantor detektif swasta, mereka melayani permintaan dari klien yang datang. Hal-hal yang mereka selidiki bisa bermacam-macam, bisa menyelidiki kasus perselingkuhan, kasus penipuan, dan berbagai macam kasus lainnya (tergantung permintaan klien). Pada adegan pertama, diperlihatkan bahwa beberapa detektif dari Lucky Detective Agency sedang menyelidiki perselingkuhan yang dilakukan istri dari klien mereka. Bukti bahwa si istri berselingkuh berhasil didapatkan, namun mereka melakukan kesalahan karena salah satu dari mereka, yaitu Nitta Teru (Eita) sempat terlihat oleh Tokita Shuntaro (Matsumoto Jun), selingkuhan dari si istri klien. Pada awalnya Shuntaro tidak menyadari bahwa ia sedang diselidiki. Namun, keesokan harinya, ketika ia mencoba menghubungi selingkuhannya, ia lalu mengetahui bahwa perselingkuhannya telah diselidiki oleh detektif. Dan pada saat itu juga, secara kebetulan ia melihat Nitta, dan langsung menyadari bahwa orang itu adalah detektif yang menyelidikinya. Kejar-kejaran antara Shuntaro dan Nitta pun tidak bisa dihindarkan, dan Shuntaro berhasil mengejar Nitta sampai ke kantornya. Melihat kegigihan Shuntaro dalam mengejar Nitta, Fujisaki Touko (Matsushima Nanako) yang merupakan boss sekaligus pendiri Lucky Detective Agency kemudian menawari Shuntaro untuk bergabung menjadi anggota ketujuh Lucky Detective Agency. Shuntaro yang seorang pengangguran dan tidak pernah punya pekerjaan tetap pun mencoba menerima tawaran itu. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Shuntaro akan betah bekerja di Lucky Detective Agency? Apakah menjadi detektif adalah pekerjaan yang tepat untuknya? Dan, kasus-kasus macam apakah yang akan mereka selidiki selanjutnya? Tonton aja deh.

Yang membuat saya tertarik menonton dorama ini tentu saja karena salah satu pemainnya adalah aktor Jepang favorit saya *uhuk Eita uhuk*, dan dorama bertemakan detektif memang selalu menarik perhatian saya. Dan yang saya suka lagi adalah meskipun dorama ini bertemakan detektif, tapi kasus-kasus yang diselidiki bukan seputar kasus pembunuhan seperti di kebanyakan dorama detektif lainnya (meskipun kasus yang terakhir masih ada sangkut pautnya dengan pembunuhan). Jadi buat kamu yang suka dorama detektif tapi bosen sama dorama detektif yang isinya kasus pembunuhan terus, dorama ini bisa dijadikan sebagai alternatif tontonan (dan bukankah detektif itu tidak harus selalu identik dengan kasus pembunuhan? :)).

Kasus-kasus dalam Lucky Seven sendiri bukan tipe kasus yang hebat, membuat penasaran, atau menguras pikiran. Bagian penyelidikannya pun menurut saya biasa aja. Lalu, apa yang menjadikan dorama ini menjadi menarik dan menghibur? Jawabannya adalah chemistry antara dua tokoh utamanya, yaitu Shuntaro dan Nitta. Menurut saya, interaksi antara dua tokoh ini lah yang membuat dorama ini menjadi sangat menarik. Ya, aroma “bromance” dalam dorama ini memang menjadi kekuatan utama dorama ini, sampai-sampai menutupi karakteristik tokoh-tokoh yang lain (ini jeleknya sih). Diceritakan bahwa Nitta dan Shuntaro ini dari awal tidak pernah akur, tapi meskipun begitu pada akhirnya mereka selalu menjadi tim yang solid.

Selain itu, kelebihan lain dari dorama ini adalah kita juga akan disuguhi beberapa fighting/action scene yang memukau, salah satunya adalah fighting scene antara Shuntaro dan Nitta di episode pertama yang settingnya dibuat ala setting di film Fight Club. Meskipun kesannya fanservice banget, tapi itu adalah salah satu fighting scene terbaik yang pernah saya lihat di dorama Jepang, dan membuat saya merasa harus menonton dorama ini sampai akhir. Di episode-episode selanjutnya pun kita akan disuguhi beberapa action scene yang meskipun tidak se-epik action scene yang pertama, tapi lumayan menghibur. Di luar unsur actionnya, dorama ini juga memuat unsur komedi yang meskipun gak lucu-lucu amat, tapi lumayan lah bikin nyengir-nyengir dikit.

Matsumoto Jun dan Eita berakting bagus di sini. Tapi catatan untuk Matsujun, meskipun dia berakting lumayan baik di sini, di episode-episode awal rasanya dia gak terlihat seperti lead character karena karakter Nitta terlihat lebih menonjol daripada karakter Shuntaro. Menurut saya, karakter Shuntaro ini hanya menarik ketika dia sedang berada di adegan yang sama dengan Nitta. Ketika dia lagi sendirian, karakter ini tiba-tiba jadi ngebosenin (ini saya bukan bias ke Eita loh, karena saya juga adalah penggemar Matsujun). Ya, meskipun cuma pemeran “kedua”, Eita memang sangat menarik perhatian di sini. Meskipun dari segi fisik dia mengalami tanda-tanda penuaan dan tanda-tanda anoreksia, tapi dia berhasil menjadikan karakter Nitta sebagai karakter yang sangat unik dan memiliki daya tarik yang melebihi karakter utama.

Catatan: Mulai dari paragraf ini, SPOILER ALERT ya.

Namun, sayangnya aroma “bromance” antara Shuntaro dan Nitta tidak bertahan lama karena di episode tengah tiba-tiba karakter Nitta menghilang begitu saja (dengan alasan yang awalnya kurang jelas, tapi di episode terakhir karakter ini akan muncul lagi). Beberapa rumor menghiasi hilangnya karakter tersebut, tapi apapun rumornya, hal tersebut tentunya menimbulkan kekecewaan yang sangat besar pada penontonnya (termasuk saya). Sisi positifnya sih, dengan menghilangnya karakter ini, karakter lain seperti Junpei (Oizumi Yo), Asuka (Naka Riisa), dan Touko jadi mulai ditonjolkan, tapi sayangnya pembangunan karakter tokoh yang lain tersebut tidak berhasil membuat dorama ini jadi lebih menarik dari sebelumnya. Sisi positif yang lain, ini adalah kesempatan Matsujun untuk menunjukkan bahwa dia lah lead character dorama ini. Tapi sayangnya meskipun karakter Shuntaro ini memiliki sedikit perkembangan, ia tetap tidak semenarik ketika ia sedang bersama Nitta. Well, dari episode enam sampai episode delapan menurut saya masih menghibur sih, tapi tetep aja rasanya jadi agak hambar karena anggotanya yang gak lengkap, dan di-skip juga kayaknya gak bikin kita kehilangan sesuatu untuk memahami cerita selanjutnya. Baru pas episode sembilan, dorama ini kembali menarik perhatian saya. Tapi sayangnya dorama ini cuma terdiri dari sepuluh episode, jadi dorama ini kembali menarik malah pas udah mau beres 😀

Selain memengaruhi karakter lainnya, hilangnya karakter tersebut juga turut memengaruhi plot cerita dalam dorama ini. Menurut saya dorama ini jadi hilang fokus, maunya nyelidikin satu kasus per-episode atau nyelidikin satu kasus besar yang jadi benang merah dari semua kasusnya (misalnya kayak di dorama Unfair)? Hasilnya, dorama ini juga terlihat mau dua-duanya, biarpun dua-duanya ternyata gak nyambung *err.. gimana ya bahasanya*. Kasus-kasus kecil di dalamnya ternyata gak ada hubungan sama sekali sama kasus besar di episode akhir. Kasus di episode 4-5 sepertinya masih ada kaitan dengan kasus besar itu sih, tapi menurut saya kaitannya kecil banget. Dan kasus yang harusnya jadi kasus besar itu menurut saya gak hebat banget, dan bisa selesai dalam satu episode saja dan gak perlu penyelidikan yang berkelanjutan (apa lagi sampe harus bikin Nitta menghilang beberapa episode untuk menyelidiki kasus tersebut, belum lagi clue yang didapat dari penyelidikannya ternyata cuma gitu doang). Dan saya menemukan sedikit kejanggalan pada kasus yang terakhir itu. Untuk apa menyelidiki kasus yang terjadi 16 tahun yang lalu? Bukannya batas kadaluarsa suatu kasus di Jepang itu cuma 15 tahun ya? *CMIIW* Saya rasa kalo kasusnya diubah jadi kasus 15 tahun lalu dan beberapa hari lagi akan kadaluarsa, kasusnya akan menjadi lebih menarik. Curiganya sih, kasus yang terakhir ini ada di luar rencana skenario awal, dan kemudian dibikin biar hilangnya karakter Nitta yang terasa tiba-tiba jadi terlihat masuk akal.

Catatan: SPOILER berakhir.

Well, terlepas dari segala kekurangannya, saya lumayan suka dorama ini sih. Menurut saya dorama ini tetap layak tonton dan menghibur, meskipun episode-episode tengahnya jadi menurun dan mengecewakan. Jadi, 3,25 bintang deh *iyee maap nanggung*.

Rating : 1 2 3 3,25 4 5

Read Full Post »

Older Posts »