Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2014

tamakoposter“Japan isn’t hopeless. It’s YOU.”

Tamako (Maeda Atsuko), seorang gadis muda berusia dua puluh tiga tahun, baru saja lulus dari universitas di Tokyo dan kemudian kembali ke kampung halamannya di Kofu. Apa yang ia lakukan di kampung halamannya? TIDAK ADA. Ya, yang ia lakukan setiap hari hanyalah makan, tidur, membaca komik, atau bermain game. Tamako tampak tidak tertarik pada kehidupan normal seperti gadis-gadis sebayanya. Ia juga tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mencari pekerjaan ataupun melakukan suatu hal yang berguna. Satu-satunya teman yang dia miliki hanyalah seorang anak SMP cowok yang tampaknya memiliki mental yang jauh lebih dewasa dari Tamako. Di Kofu, Tamako tinggal berdua saja dengan ayahnya (Suon Kan), seorang duda yang mengelola sebuah toko peralatan olahraga. Tidak hanya mengelola toko, sang ayah melakukan semua pekerjaan rumah, seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Pada awalnya sang ayah merasa kesal melihat Tamako yang kerjaannya hanya makan-tidur-makan-tidur, tapi lama-lama ia membiarkan anak perempuannya itu melakukan apapun ia mau. Sampai suatu hari, Tamako mendengar bahwa bibinya berusaha menjodohkan ayahnya dengan seorang wanita. Apa yang akan Tamako lakukan selanjutnya? Apakah Tamako akan selamanya membiarkan dirinya berada dalam sebuah “moratorium”?

tamako1

Sesuai judul film ini, kita dibawa kepada kehidupan Tamako yang seakan-akan mengalami sebuah “penundaan” (moratorium). Apa yang dialami Tamako sendiri buat saya adalah sesuatu yang sangat mungkin dialami oleh banyak orang (termasuk saya sendiri. Been there done that, hehe), terutama para fresh graduate yang masih bingung untuk menentukan masa depan. Karena itu, film ini termasuk film yang sangat personal untuk saya. Seperti khasnya film Jepang bergenre slice of life, tidak ada hal luar biasa yang terjadi di di film ini. Tapi bukan berarti tidak ada hal yang terjadi. Seiring berjalannya waktu (btw film ini menceritakan kehidupan Tamako dalam kurun waktu empat musim), kita dapat melihat adanya perubahan-perubahan kecil pada sosok Tamako. Perubahan-perubahan tersebut diperlihatkan dengan begitu halus dan tanpa perlu mengubah karakter Tamako secara ekstrim.

Selain bercerita tentang kehidupan Tamako, film ini juga adalah salah satu film yang menceritakan hubungan ayah dan anak (yang juga merupakan tema favorit saya). Saya suka sekali dengan interaksi antara Tamako dan ayahnya. Saya suka dengan karakter sang ayah yang meskipun kadang merasa kesal melihat Tamako yang tidak pernah melakukan apa-apa, tapi di sisi lain juga senang karena putrinya tersebut membuatnya tidak hidup sendirian lagi. Saya juga suka reaksi Tamako yang merasa panik keberadaannya akan terancam dengan kehadiran perempuan baru di kehidupan ayahnya. Mereka bukanlah sosok ayah dan anak yang sempurna, tapi keberadaan mereka melengkapi satu sama lain.

tamako2

Berperan sebagai Tamako, Maeda Atsuko (ex-AKB48) berhasil menanggalkan image idolnya dan bertransformasi menjadi Tamako si pemalas yang tidak pernah menunjukkan gairah hidup. Banyak yang bilang dia aktris buruk, tapi setelah melihatnya di film ini (dan juga Seventh Code-nya Kiyoshi Kurosawa) saya merasa anggapan orang-orang tersebut perlu diralat lagi. Well, saya tidak banyak melihat film/dorama yang ada dianya, tapi karakter Tamako menurut saya cocok sekali diperankan olehnya. Tamako bukanlah karakter sempurna dan memiliki banyak sifat buruk, tapi Maeda berhasil membuat karakter ini menjadi karakter yang tidak mudah dibenci. Film ini sendiri adalah kolaborasi kedua antara Maeda Atsuko dan sutradara Yamashita Nobuhiro (Linda Linda Linda, My Back Page) setelah The Drudgery Train. Dan karakter yang diperankan Maeda di Tamako sangat berbeda jauh dengan karakternya di The Drudgery Train. Sebagai sang ayah, Suon Kan pun berperan bagus di film ini. Ia memang terlihat seperti ayah yang kurang tegas, tapi pada saat tertentu ia bisa membuat keputusan yang tepat. Ia juga memiliki chemistry yang baik dengan Maeda. Meskipun karakternya tidak digambarkan sebagai karakter yang super akrab dengan putrinya, kita dapat melihat ayah dan anak ini memiliki suatu ikatan yang kuat.

Secara keseluruhan, Tamako in Moratorium adalah film slice of life yang menurut saya akan menimbulkan efek yang berbeda-beda bagi setiap penontonnya. Sebagian penonton mungkin akan menganggap film ini membosankan karena tidak ada hal yang benar-benar spesial yang terjadi di film ini, tapi sebagian lagi mungkin akan menikmati film ini karena temanya yang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari (apalagi kalo kamu punya kesamaan dengan karakter Tamako). So, 4 bintang untuk film ini.

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »