Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘animation’ Category

The_Case_of_Hana_&_Alice-p2

11 tahun setelah dirilisnya film berjudul “Hana and Alice”, Suzuki Anne dan Aoi Yu kembali menghidupkan dua karakter tersebut di tahun ini dalam sebuah film berjudul “The Case of Hana & Alice”. Namun kali ini, mereka tampil sebagai “Hana” dan “Alice” dalam format animasi. Masih disutradarai oleh Iwai Shunji (yang menjadi debutnya dalam penyutradaraan animasi), film ini menceritakan kisah bagaimana Hana dan Alice bertemu (alias prekuel).

vlcsnap-2015-11-01-13h47m26s711

Arisugawa “Alice” Tetsuko (disuarakan Aoi Yu), seorang gadis berusia 14 tahun, baru saja pindah rumah bersama ibunya setelah kedua orang tuanya bercerai. Rumah barunya bersebelahan dengan sebuah rumah yang kabarnya merupakan rumah seorang gadis yang sebaya dan satu sekolah dengannya namun sudah lama tidak masuk sekolah dan mengurung diri di rumahnya. Di sekolah barunya, Alice mengalami keanehan yang berhubungan dengan bangku yang ditempatinya, yang menurut kabar burung, dulunya ditempati seorang murid bernama Yuda (atau Judas) yang kabarnya memiliki empat orang istri dan mati diracun oleh salah satu dari mereka. Isu yang belum tentu benar tersebut mulai mengganggu hari-hari Alice di sekolah barunya. Ia pun mencoba menghubungi Hana (disuarakan Suzuki Anne), gadis hikikomori tetangganya tersebut, yang kabarnya mengenal Yuda dan bertanggungjawab atas hal yang terjadi pada murid misterius tersebut. Bersama-sama, mereka berdua lalu menyelidiki mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Yuda. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Yuda memang benar-benar sudah mati seperti gosip yang beredar di sekolah? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Hana dan Yuda yang membuatnya mengurung diri di rumahnya?

vlcsnap-2015-11-01-13h46m27s509

Sebagai penggemar film originalnya, saya sangat menikmati film prekuel ini. Meskipun sudah 11 tahun berlalu dan Hana & Alice muncul melalui format baru (animasi), saya bisa merasakan bahwa mereka masih sama dengan Hana & Alice yang saya kenal melalui film pendahulunya. Saya senang karena Iwai masih mempertahankan karakteristik yang kita kenali dari film sebelumnya. Alice masihlah Alice yang ceria, pemberani, namun kurang berpikir panjang dan masih belum pintar dalam ‘berakting’. Hana masih Hana yang cool, judes, dan punya kecenderungan yang aneh ketika sedang naksir cowok :D. Dan meskipun film ini adalah kisah awal pertemuan Hana dan Alice, kedua karakter ini langsung memiliki chemistry yang sangat kuat dan membuat kita mengerti mengapa mereka bisa menjadi sahabat dekat di film pendahulunya.

Embel-embel “satsujin jiken” (murder case) pada judulnya membuat film ini juga memiliki unsur misteri. Apalagi misterinya itu misteri yang cukup absurd (wtf ada anak SMP punya istri empat). Namun, misteri bukanlah inti utama dari film ini. Seperti film pendahulunya, inti film ini adalah kebodohan dan kepolosan masa remaja. Segala hal yang terjadi pada film ini bersumber dari dua hal itu, dan membuat Hana dan Alice kemudian mengalami petualangan kecil yang kemudian berpengaruh pada proses pendewasaan mereka berdua. Setelah Love Letter, All About Lily Chou-chou, dan Hana and Alice yang semuanya menggambarkan kehidupan anak remaja (dari kehidupan yang manis sampai pahit), Iwai Shunji membuktikan bahwa dirinya memang piawai dalam meramu film-film bertemakan coming of age. Film ini sendiri merupakan comeback Iwai Shunji dalam dunia feature film setelah terakhir kali menyutradarai film debut internasionalnya, Vampire, yang sayangnya tidak terlalu berhasil. Dan sebagai debutnya dalam menyutradarai film animasi, meskipun animasinya bukan tipe yang luar biasa dan mendapat beberapa kritikan dari beberapa kritikus, saya cukup suka animasinya yang simpel. Plus, melihat beberapa adegan yang familiar dari film pendahulunya namun dengan format animasi menimbulkan kesenangan tersendiri untuk saya.

vlcsnap-2015-11-01-13h46m41s067

Overall, sebagai penggemar film pendahulunya, The Case of Hana & Alice adalah sebuah prekuel yang memuaskan dan memberi perasaan nostalgia. Lalu apakah harus menonton film pendahulunya dulu sebelum menonton film ini? Tidak usah, kok, karena ceritanya berdiri sendiri dan film ini memiliki setting waktu lebih awal dari pendahulunya (tapi gak ada salahnya juga sih nonton Hana and Alice, karena dua-duanya film yang wajib tonton :D). Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

Advertisements

Read Full Post »

Sejujurnya, saya termasuk orang yang tergolong pada kategori ‘pemula’ dalam hal mengenal tokoh-tokoh seperti Woody, Buzz Lightyear, Potatohead, dan teman-temannya yang lain. Siapa mereka? Ya, mereka adalah tokoh-tokoh dalam film animasi buatan Pixar yang berjudul Toy Story, salah satu karya mereka yang terkenal dan memiliki banyak penggemar. Sebelumnya saya sudah sering mendengar tentang film ini dan berbagai macam pujian yang menyertainya. Tapi anehnya hal tersebut tidak sampai mendorong saya untuk mencari dan menonton film ini. Apalagi, ide tentang boneka atau mainan yang bisa hidup ketika pemiliknya sedang tidak ada itu terdengar agak…err….horror…(teringat salah satu cerita di Goosebumps yang berjudul Boneka Hidup Beraksi) di bayangan saya. Barulah, tepatnya beberapa bulan yang lalu, salah satu stasiun televisi kita berbaik hati menayangkan dua filmnya (Toy Story 1 & 2) selama dua hari berturut-turut. Saya yang sedang tidak ada kerjaan pun akhirnya menonton juga film itu. Setelah nonton dua filmnya di TV saya langsung menyesal. Menyesal karena gak suka filmnya? Bukan, tapi menyesal karena kenapaaaa coba gak dari dulu saya nonton film ini. Ya, meskipun terlambat, ternyata saya jatuh cinta pada cerita tentang mainan bernama Woody dan kawan-kawannya tersebut. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Namun, yang akan saya review kali ini bukanlah dua film pertamanya yang saya tonton di TV tersebut, melainkan serinya yang ketiga yang baru saya tonton beberapa minggu yang lalu (maaf yee reviewnya basi). Karena jarak nonton ketiga filmnya yang tidak begitu jauh, maka masih segar di ingatan saya tentang dua film pendahulunya. Dan tanpa ragu saya menyatakan bahwa filmnya yang ketiga ini adalah yang terbaik dari semua serinya, dan juga yang paling berkesan di hati saya. Filmnya sendiri dirilis sebelas tahun setelah seri keduanya rilis. Sangat lama bukan? Dan tidak hanya usia filmnya yang bertambah, tokoh Andy, manusia pemilik Woody dan kawan-kawannya ini juga sekarang sudah bertambah dewasa dan sudah mau menjadi mahasiswa. Karena usianya yang bertambah tersebut, tentu saja Woody dkk juga sudah tidak pernah dimainkan lagi oleh Andy. Mereka kini tergeletak dalam sebuah peti, dan usaha mereka untuk menarik perhatian Andy agar mau memainkan mereka lagi pun tidak berhasil. Lalu, masalah timbul ketika sebentar lagi Andy mau menjadi mahasiswa dan pindah ke asrama. Tidak mungkinkan Andy membawa semua mainannya tersebut. Andy lalu memutuskan untuk membawa Woody saja sementara mainan-mainannya yang lain akan ia simpan di loteng. Namun, karena beberapa kejadian, Woody dan kawan-kawannya malah terbawa ke sebuah tempat bernama Sunnyside Daycare, sebuah tempat penitipan anak yang juga surga mainan untuk anak-anak. Mereka disambut ramah oleh Lotso, si boneka beruang yang bisa dibilang pemimpin mainan-mainan disana, dan juga warga Sunnyside Daycare yang lain (yang tentu saja mainan). Buzz dan kawan-kawannya yang merasa dilupakan Andy ini pun kembali bersemangat dan memutuskan untuk menetap di Sunnyside. Namun, apakah Sunnyside ini seramah yang mereka bayangkan? Apakah mereka akan betah berdiam di tempat itu? Bagaimana dengan Andy? Apakah mereka akan kembali padanya?

Seperti yang saya tulis sebelumnya, menurut saya seri ketiga Toy Story ini adalah yang terbaik dari semua serinya dan yang paling berkesan di hati saya. Film ini termasuk ke dalam paket komplit. Film ini sangat menyenangkan dan menghibur, tapi juga memberikan ‘sesuatu’ kepada saya. Unsur komedinya sangat lucu dan berhasil membuat saya tertawa. Apalagi kehadiran banyak tokoh baru, seperti Barbie dan Ken, menjadikan film ini menjadi semakin segar dan semakin menyenangkan. Salah satu yang lucu lagi adalah ketika Buzz tiba-tiba bisa berbahasa Spanyol dan menjadi sedikit ‘melambai’ (kenapa bisa begitu? Tonton aja deh). Menurut saya itu adalah adegan yang paling lucu dalam film ini 😀 Petualangan Woody dkk dalam film ini juga lumayan menegangkan dan membuat filmnya menjadi semakin seru dan asik diikuti.

Namun seperti yang saya bilang tadi, film ini tidak berakhir sebagai film yang sekadar lucu dan menghibur saja. Film ini juga memiliki beberapa bagian yang menyentuh dan sangat ‘nancep’ di hati, terutama di bagian akhir. Endingnya adalah yang terbaik dari film ini, dan juga yang terbaik dari semua ending di film-film sebelumnya. Endingnya menurut saya sangat pas untuk menutup film ini. Endingnya berhasil membuat saya tersenyum sekaligus menitikan air mata. Padahal saya tidak seperti Andy, yang waktu kecilnya senang bermain dengan banyak mainan. Jujur, saya bukan tipe orang yang waktu kecilnya senang mengkoleksi mainan. Kalaupun saya punya mainan, pasti sering saya abuse sampai rusak (teringat pada boneka Barbie saya yang kepalanya botak karena saya guntingi rambutnya terus menerus :p). Endingnya ini menyadarkan saya, bahwa mainan adalah salah satu hal yang berperan penting dalam perkembangan seorang anak. Dan pertambahan usia adalah sesuatu yang mutlak terjadi pada setiap orang. Kita tidak akan bisa menjadi anak-anak selamanya. Namun, meskipun begitu kita tidak boleh melupakan perasaan kita sewaktu menjadi anak-anak. Ya, secara keseluruhan film ini sangat berkesan dan membawa suatu perasaan hangat pada hati saya *heartwarming gitu deh istilahnya enggresnya*. Animasinya? Tampaknya tidak perlu saya bahas panjang-panjang, cukup satu kata saja: SUPERB (meskipun saya tidak menonton versi 3Dnya). Tidak heran film ini menjadi film animasi terbaik di ajang Oscar kemarin (meskipun saya juga menyukai film kompetitornya, The Illusionist, tapi The Illusionist tidak meninggalkan kesan yang sedalam Toy Story 3). So, saya kasih 5 bintang untuk film ini. Highly recommended.

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

1. Morning Glory (2010)

Buat yang lagi lesu dan gak bersemangat, mungkin ada baiknya menonton film ini. Film ini menurut saya merupakan salah satu feel good movie yang menyenangkan dan menghibur. Bercerita tentang Becky Fuller (Rachel McAdams), seorang perempuan workaholic yang baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai executive producer sebuah acara pagi di salah satu stasiun televisi. Setelah sibuk mencari pekerjaan baru, Becky kemudian ditawari bekerja menjadi executive producer sebuah acara pagi bernama Daybreak, sebuah acara TV yang akhir-akhir ini tidak memperoleh rating yang menyenangkan.  Morning Glory adalah salah satu film yang dapat membuat mood penontonnya berubah menjadi baik setelah menontonnya. Begitu juga dengan yang terjadi pada saya. Setelah menonton film ini, rasanya saya jadi ketularan semangatnya Becky. Rachel McAdams tampil sangat memikat di sini. Saya seneng sama karakter Becky Fuller yang ceria dan tidak mudah menyerah ini. Harrison Ford dan Diane Keaton juga bermain baik di sini, dan scene ‘pertengkaran’ mereka di acara Daybreak ini berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri. Tapi film ini juga memiliki beberapa kekurangan, seperti plotnya yang biasa dan pasaran. Endingnya juga gampang ditebak.  Oh ya, meskipun ini film Hollywood tapi entah kenapa saya ngerasa film ini dorama banget (mengingatkan saya pada dorama-dorama bertema profesi semacam News no Onna, bahkan ada beberapa adegan dalam film ini yang mengingatkan saya pada dorama itu). But overall, film ini recommended dan layak tonton kok. Dan jika kamu tertarik dengan dunia televisi atau dunia broadcasting, sangat dianjurkan untuk menonton film ini. 3,5/5

2. Tangled (2010)

Buat yang kangen animasi Disney bertema putri-putrian semacam Sleeping Beauty, Snow White, dan teman-temannya, mungkin Tangled akan mengobati kerinduan anda pada film-film berjenis seperti itu. Hadir dengan animasi yang lebih canggih dari film-film yang saya sebutkan di atas, Tangled mengangkat cerita yang mungkin sudah tidak asing di telinga kita, yaitu Rapunzel.  Rapunzel yang rambutnya puanjaaaaaaaaaang itu merupakan salah satu tokoh dalam dongeng klasik yang diciptakan Grimm bersaudara (Cinderella, Sleeping Beauty). Tangled sendiri tidak berbeda dengan film-film Disney sebelumnya di mana slogan happily ever after masih berlaku di film ini. Namun, yang menyenangkan dari film ini adalah tidak ada karakter pangeran tampan yang biasanya seolah-olah diwajibkan untuk selalu ada dalam kisah-kisah seperti ini. Karakter pria dalam film ini bukanlah pangeran, melainkan seorang pencuri yang tentu saja tidak sempurna dan memiliki banyak kekurangan. Tapi itu malah yang saya suka dari versi Rapunzel yang satu ini. Kisahnya jadi lebih manusiawi, meskipun slogan happily ever after-nya tetap tidak hilang. Secara keseluruhan film ini menghibur banget, dan membuktikan bahwa dongeng klasik tetap bisa dinikmati sampai sekarang. Banyak adegan yang menurut saya lucu dan bikin saya ketawa. Lagu-lagunya juga enak dan Disney banget. So, buat yang kangen cerita putri-putrian ala Disney, boleh tuh ditonton. 4/5

3. Evangelion: 1.0 You Are (Not) Alone (Japan, 2007)

Udah lama penasaran banget sama film ini. Well, sejujurnya saya bukan penggemar anime mecha. Saya sulit sekali menikmati anime-anime semacam Gundam. Saya juga belum pernah nonton Neon Genesis Evangelion sebelumnya. Tapi saya penasaran sama serial tersebut karena banyak yang memberi pujian dan tampaknya anime itu tidak sekadar bercerita tentang mecha saja. Tapi karena belum kesampaian nonton versi serialnya, maka saya nonton versi movie-nya karena kebetulan saya nemu dvd-nya di lapak yang biasa saya kunjungi. Dan hasilnya….hmmm, tampaknya saya memang tidak cocok dengan mecha. Katanya, walaupun belum nonton serialnya pasti bakalan ngerti filmnya. Tapi saya masih bingung pas nonton. Permasalahan langsung ada di bagian awal. Dan saya merasa tidak diberi kesempatan untuk ‘berkenalan’ dengan Evangelion ini. Siapa sih Shinji Ikari itu? Kenapa dia yang dipilih jadi pilot Eva? Trus-trus, Rei Ayanami itu siapa? Kok kayaknya kudu nonton serialnya dulu ya biar ngerti? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak saya sepanjang nonton film ini, dan sampai akhir belum terjawab. Pertempuran mecha-nya juga buat saya kurang seru (tapi ini sih emang saya kurang suka yang seperti itu). Tadi saya bilang bahwa tampaknya film ini bukan sekadar tentang mecha saja. Iya sih, di sini juga kita diseret pada kondisi psikologis tokoh Shinji Ikari (yang nantinya akan berkaitan dengan judulnya). Tapi saya yang biasanya tertarik sama masalah seperti itu rasanya sulit bersimpati pada tokoh itu. Jadi, maaf, tampaknya saya tidak cocok dengan film ini. 3/5

Read Full Post »

[MOVIE] Mary and Max (2009)

Persahabatan bisa tumbuh melalui cara apa pun. Persahabatan juga tidak memandang umur ataupun jarak. Mary (disuarakan Toni Collette), seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang tinggal di Australia, bisa bersahabat dengan Max (disuarakan Philip Seymour Hoffman), seorang pria paruh baya berusia 44 tahun yang tinggal di Amerika. Hal itu berawal ketika Mary yang penuh rasa ingin tahu ingin mengetahui darimana bayi muncul jika di Amerika (yang ia tahu di Australia bayi muncul dari kaleng cola *tentu saja ia dibohongi* :D), dan ia lalu memilih sebuah alamat secara acak dari buku telepon, untuk dikiriminya surat yang berisikan pertanyaan tersebut. Adalah Max Jerry Horovitz, orang yang tanpa sengaja dipilih oleh Mary. Berawal dari sebuah surat itu, persahabatan mulai tumbuh di antara keduanya. Meskipun usia mereka jauh berbeda, mereka memiliki banyak kesamaan, di antaranya mereka sama-sama menyukai coklat dan suka menonton serial tv berjudul The Noblets. Namun, persamaan yang paling mendasar di antara mereka yang membuat mereka merasakan kedekatan batin serta perasaan senasib adalah: mereka sama-sama tidak punya teman. Mary yang memiliki tanda lahir di dahinya yang berwarna seperti kotoran selalu menjadi sasaran bullying serta ejekan teman-temannya. Sementara Max, dia menderita asperger syndrome yang membuatnya sulit mengartikan ekspresi orang-orang di sekelilingnya serta sulit mengekspresikan perasaannya kepada orang lain, sehingga ia menjadi terkesan antisosial. Padahal Max sangat menginginkan memiliki teman yang benar-benar nyata, yang bukan hanya khayalannya saja. Karena itu, surat dari Mary menjadikan Mary menjadi satu-satunya teman yang ia miliki, dan persahabatan pena tersebut kemudian terjalin selama kurang lebih 20 tahun. Namun, dalam sebuah persahabatan, tentunya akan selalu ada masalah yang menghiasi. Sebuah masalah muncul dan membuat Max merasa marah dan kecewa pada Mary. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah persahabatan mereka akan tetap bertahan? Apakah suatu saat Mary akan bertemu Max secara langsung?

Mary and Max adalah film animasi claymation (atau clay animation, animasi yang menggunakan clay / tanah liat) yang disutradarai oleh sutradara asal Australia bernama Adam Elliot. Menurut saya, film ini deeeeep banget (baca: dalem). Film ini adalah salah satu film animasi paling berkesan yang pernah saya tonton. Ceritanya sederhana saja, tentang persahabatan. Namun, persahabatan dalam film ini digambarkan dengan tidak biasa, yaitu dengan menggunakan tokoh anak kecil dan orang dewasa yang terpaut umur cukup jauh dan juga berbeda benua. Namun, meskipun mereka tidak pernah bertemu, kita dapat merasakan dalamnya persahabatan di antara mereka. Seperti kata taglinenya yang berbunyi “Sometimes perfect strangers make the best friends”, melalui film ini kita ditunjukan bahwa orang yang awalnya terasa asing bagi kita bisa saja menjadi orang yang paling mengerti diri kita.

Yang menjadi kekuatan film ini memang jalan ceritanya yang sangat menarik serta dialog-dialog yang ada dalam surat-surat Mary dan Max (selain itu narasinya juga sangat mendukung). Saya sukaaaa banget dialog-dialog di antara mereka, bagaimana Mary yang polos menanyakan berbagai macam pertanyaan yang terkesan kurang penting (namun khas anak-anak) kepada Max, dan bagaimana Max menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Beberapa unsur humor diselipkan di sini (namun lebih banyak humor satir), dan film ini berhasil membuat penonton merasakan berbagai macam emosi mulai dari senang, sedih, terharu, dan sebagainya. Film ini juga memiliki pesan yang sangat bagus dan tidak terkesan menggurui, bahwa jika kita ingin diterima atau disukai oleh orang lain, yang harus kita lakukan pertama-tama adalah dengan menyukai diri kita sendiri dulu.

Meskipun film animasi, film ini jelas bukan untuk anak-anak. Film ini banyak menggunakan warna-warna gelap yang membuat suasana film ini terasa suram dan tidak menyenangkan, sehingga tidak cocok untuk ditonton anak-anak. Selain itu, ada beberapa dialog yang rasanya tidak pantas untuk didengar anak-anak (misalnya dari surat yang ditulis Max). Namun, saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh para penyuka film, terutama penyuka film animasi atau penyuka film-film dengan tema yang cukup ‘dalem’. Mary and Max adalah salah satu film tentang persahabatan terbaik yang pernah saya tonton. Film ini mengajarkan kita arti persahabatan yang sesungguhnya.  4,5 bintang 🙂

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Sesuai janji saya di postingan ini, kali ini saya akan me-review salah satu anime movie yang baru-baru ini saya tonton, yaitu The Girl Who Leapt Through Time. Film dengan judul asli “Toki o Kakeru Shojo” ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karangan Yasutaka Tsutsui yang diterbitkan pada tahun 1967. Namun, film ini tidak mengadaptasi mentah-mentah dari novel tersebut, namun lebih seperti sekuel dari novel tersebut, karena tokoh utama dalam film ini merupakan keponakan dari karakter utama novel tersebut (yang juga bisa time-leapt). Selain diangkat ke dalam versi anime movie, novel ini juga pernah diadaptasi ke dalam beberapa versi (beberapa film, dorama, dan juga manga), dan yang terakhir, di tahun 2010 ini baru saja keluar adaptasi terbarunya yang berbentuk film live action, dengan memasang Riisa Naka yang merupakan pengisi suara tokoh utama versi anime-nya, sebagai pemeran utama.

The Girl Who Leapt Through Time bercerita tentang seorang siswi SMU bernama Makoto Konno (disuarakan oleh Riisa Naka). Makoto digambarkan sebagai cewek tomboy yang cenderung seenaknya dan pemalas. Ia selalu terlambat datang ke sekolah, tidak begitu pintar dalam hal akademis, dan juga agak ceroboh. Makoto memiliki dua orang sahabat dekat yang dua-duanya cowok, yaitu Chiaki Mamiya (disuarakan Takuya Ishida) dan Kousuke Tsuda (disuarakan Mitsutaka Itakura) yang sering menemaninya bermain baseball. Suatu hari, setelah mengalami suatu kejadian aneh, tiba-tiba Makoto memiliki kemampuan untuk meloncati waktu. Hal itu disadarinya ketika ia secara aneh selamat dari kecelakaan yang nyaris membunuhnya. Setelah berdiskusi dengan tantenya yang dipanggil ‘auntie witch’ (yang merupakan tokoh utama versi novel), Makoto pun sadar kalau ia bisa meloncati waktu sesuka hatinya. Kemampuannya itu kemudian ia manfaatkan untuk hal-hal yang bisa dibilang sederhana, seperti  mengulang-ulang waktu agar bisa tidur sepuasnya tanpa takut kesiangan, mengulang mengerjakan ujian di hari sebelumnya, karaoke sepuluh jam tanpa perlu membayar ekstra, dan hal-hal lainnya. Kemampuannya itu ia gunakan kembali ketika suatu hari salah satu sahabatnya yang bernama Chiaki, menyatakan perasaan suka padanya dan mengajaknya kencan. Makoto yang merasa nyaman dengan persahabatan mereka tidak mau persahabatannya rusak karena ada perasaan khusus dari Chiaki, karena itulah ia mengulang-ulang waktu agar Chiaki tidak jadi menyatakan perasaannya. Namun, setelah itu Makoto malah jadi merasa canggung jika berhadapan dengan Chiaki. Selain hal tersebut, Makoto juga menggunakan kemampuan time-leapt-nya untuk menjodohkan Kousuke dengan seorang gadis yang menyukainya.

Namun, kemampuan yang dimilikinya tersebut dapat membawa bahaya juga yang nyaris membawa salah satu temannya kepada kecelakaan yang hampir membunuh Makoto di hari sebelumnya. Makoto juga kemudian menyadari bahwa kemampuannya tersebut memiliki batas, setelah ia menemukan sebuah tulisan berbentuk angka di lengannya, yang jumlahnya dapat berkurang setelah ia menggunakan kemampuannya. Lalu, apa yang akan terjadi dengan Makoto selanjutnya? Apakah dia berhasil menyelamatkan temannya? Bagaimana sebenarnya perasaannya pada Chiaki? Dan, apakah ada orang lain selain tante-nya yang mengetahui rahasianya tersebut?

Film ini bagus dan sangat menghibur! Salah satu anime movie yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton (dan animasinya menurut saya sangat bagus dan menarik). Di bagian awalnya menurut saya agak membosankan, tapi setelah Makoto bisa melakukan time-leapt, filmnya jadi sangat menarik. Yang jadi daya tarik film ini sih, menurut saya adalah kelakuan makoto yang suka asal-asalan dan seenaknya. Selain itu, jika orang lain mungkin akan menggunakan kemampuan time-leapt untuk mengubah hal-hal besar, Makoto menggunakannya untuk hal-hal yang kurang penting. Namun, inilah faktor kelucuan dari film ini 😀

Kisah cintanya juga manis. Yeah, another ‘persahabatan-jadi-cinta’ story-nya sangat saya suka. Saya suka Chiaki dan Makoto ini. Dan saya ngakak-ngakak pas Makoto berulang kali mengulang waktu agar Chiaki tidak jadi menyatakan perasaannya. Berulang kali loh! Oh ya, cara Makoto meloncati waktu juga sangat lucu, ia harus melakukan hal-hal ekstrim dulu saat mau meloncati waktu (yeah, contohnya dengan cara loncat beneran). Selain itu, film yang disutradarai oleh Mamoru Hosoda ini juga menyajikan kejutan yang tak terduga di bagian-bagian akhir, yaitu ketika ada seseorang yang mengetahui rahasia Makoto (siapa? tonton aja deh sendiri :p).

Oke, segini aja review dari saya, yang jelas film ini sangat recommended dan merupakan tipe yang akan saya tonton berulang-ulang. Film ini cocok untuk ditonton oleh penyuka film animasi, penyuka anime, atau penyuka film-film bertema time-leapt dan juga film komedi. Tambahan, film ini memenangkan salah satu penghargaan pada acara tahunan Awards of the Japanese Academy 2007, yaitu pada kategori Best Animation Film. 4 bintang deh 🙂

Rating : 1 2 3 4 5

Read Full Post »

Jadi ceritanya saya lagi libur kuliah (tapi ikut sp satu mata kuliah sih) dan selama libur ini kerjaan saya nonton film terus. Saking banyaknya film yang ditonton, saya sampai bingung mau nge-review yang mana dulu. Karena itu kali ini saya akan nulis review singkat dari beberapa film (gak semua ya, kebanyakan soalnya :p) yang saya tonton belakangan ini. Mungkin kalau tidak malas, beberapa film dalam review ini akan saya buatkan review versi panjangnya.

1. Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Salah satu film remaja Jepang yang cukup bagus dan menarik. Idenya sederhana, tentang sebuah band yang beranggotakan siswi-siswi SMU yang akan tampil dalam festival sekolah, namun menemui masalah yang menyebabkan dua personil band itu keluar (termasuk sang vokalis). Beberapa hari sebelum tampil, mereka pun mencari vokalis baru secara ‘asal’. Adalah  Son, siswi pindahan dari Korea Selatan, yang menjadi vokalis baru mereka. Lalu timbul berbagai kejadian sebelum mereka tampil, dan meskipun baru beberapa hari, karakter Son ini akhirnya menemukan kegembiraan dan semangat baru sejak bergabung dengan band tersebut. Film ini menarik dan cukup menghibur. Yang saya suka adalah ide cerita film ini sama sekali tidak muluk-muluk, namun tidak mengurangi daya tarik film ini. Akting Bae Doona sebagai orang Korea yang sekolah di Jepang sangat memikat. Begitu juga dengan Kashii Yuu. Terakhir, habis nonton film ini saya jadi terus terngiang-ngiang sama lagu Linda Linda dari The Blue Hearts yang mereka bawakan pada festival tersebut :D. 3,5 / 5

2. Kick-Ass (2010)

Sebenarnya saya tidak pernah tertarik  pada film-film bertema superhero. Bukan karena jelek, tapi memang bukan selera saya saja. Tapi begitu mendengar bahwa superhero-superhero dalam Kick-Ass bukanlah superhero beneran (maksudnya mereka tidak mempunyai kekuatan super), saya pun jadi pengen nonton film ini, dan ternyata saya menyukai filmnya. Film ini lucu dan segar. Humornya yang tergolong ke dalam humor-humor masa kini lumayan menghibur. Dan yang membuat film ini semakin menarik adalah karakter Hit Girl yang diperankan Chloe Moretz. Meskipun memancing banyak perdebatan, tapi saya cinta karakter ini. 4/5

3. Rainbow Song (Japan, 2006)

Nama Shunji Iwai yang berperan sebagai produser dan co-writer film ini lah yang membuat saya menonton film ini. Belum lagi ada Hayato Ichihara, Ueno Juri, dan Yu Aoi. Dan saya gak nyesel nontonnya! Ceritanya termasuk klise, tentang persahabatan yang menjadi cinta *ceileh*. Cewek dan cowok bersahabat, lalu si cewek mulai jatuh cinta pada si cowok. Tapi sebelum si cowok menyadari perasaannya pada si cewek, si cewek keburu meninggal (tenang ini bukan spoiler karena dari awal kita sudah diberitahu kalo ceweknya meninggal). Cerita seklise apapun kalau dikemas dengan baik, pasti akan jadi film yang bagus. Begitu juga dengan film ini. Saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Ueno Juri berakting sangat bagus di film ini sebagai karakter cewek yang meninggal itu. Dan Hayato Ichihara, ini kali kedua saya melihat dia setelah melihatnya di Lily Chou-chou, dan penampilan fisiknya udah jauh berubah dari pas di Lily Chou-chou. Yu Aoi, meskipun kemunculannya tidak begitu banyak  tapi tetap menampilkan akting yang memikat. Sebenarnya film ini memiliki beberapa kekurangan, tapi tidak begitu mengganggu. Yang jelas, ini tipe film yang akan saya tonton berkali-kali. 3,75/5.

4. The Girl Who Leapt Through Time (Japan, 2006)

Akhir-akhir ini lagi ketagihan nonton anime yang berbentuk movie. Dan film ini adalah salah satu anime movie yang sangat saya rekomendasikan untuk ditonton! Tentang seorang siswi SMU yang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk meloncati waktu. Dan kemampuannya ini digunakannya untuk mengubah hal-hal yang bisa dibilang sederhana, namun nantinya akan menimbulkan masalah. Film ini lucu dan menghibur, animasinya juga bagus. Selain itu film ini menampilkan kejutan yang tidak saya duga. Review panjangnya menyusul ya. 4/5.


5. The Notebook (2004)

Karena saya ini termasuk orang yang menyukai film-film cinta yang mengharu biru, awalnya saya kira film ini akan berhasil membuat saya termehek-mehek. Tapi nyatanya, dari awal sampai akhir, ekspresi saya tetap datar. Ya ya ya, mungkin ada yang salah pada diri saya karena sebagian besar orang yang menonton film ini mengatakan film ini mengharukan dan sebagainya. Tapi entahlah, saya tidak bisa merasakan kedalaman hubungan antara Noah dan Allie. Karakter Noah yang begitu hidup di bagian awal, setelah berpacaran dengan Allie kok rasanya jadi melempem dan tidak terasa semangatnya. Tapi di luar itu saya suka aktingnya Rachel McAdams. 2,75/5

6. Perfect Blue (Japan, 1998)

Anime movie juga, disutradarai oleh Satoshi Kon. Ceritanya tergolong berat dan sama sekali bukan konsumsi anak-anak karena menampilkan sedikit nudity dan kekerasan. Tentang seorang pop idol yang memutuskan ganti haluan menjadi seorang aktris. Dan hal ini menimbulkan masalah karena ada fans yang tidak setuju dan sebagai aktris ia dituntut untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dia inginkan. Belum lagi setelah itu muncul persona/kepribadian lain yang terus menghantuinya. Sebuah thriller psychology yang lumayan mencekam. Endingnya juga mengejutkan dan gak ketebak. Sebenernya saya ngerasa kalo film ini dibikin jadi live action, pasti filmnya akan semakin bagus. Tapi okelah anime juga, meskipun saya agak kurang suka desain karakternya. 4,5/5

7. Being John Malkovich (1999)

Edan film ini bagus banget! Jenius! Ceritanya termasuk orisinil dan menampilkan kejutan-kejutan yang tak terduga. Skenarionya ditulis oleh orang yang menulis skenario Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang sama-sama sangat orisinil, yaitu Charlie Kaufman. Dan, menurut saya film ini lebih mudah dimengerti daripada Eternal Sunshine. Setidaknya saya tidak perlu mengulang-ngulang beberapa adegannya agar bisa mengerti sepenuhnya seperti pada saat saya nonton Eternal Sunshine. Selain ceritanya yang jenius, film ini juga menurut saya termasuk menghibur dan sudah pasti film ini masuk ke daftar my all time favorite movies. Review panjangnya tunggu saja ya 😀 5/5

8. Aoi Tori / The Blue Bird (Japan, 2008)

Nonton film ini karena faktor Kanata Hongo, dan agak nyesel nontonnya. Mengangkat tema school bullying, sebenarnya film ini berpotensi jadi bagus. Tapi saya malah kebosanan mengikutinya. Karakter guru gagap yang dimainkan Abe Hiroshi sebenarnya unik, tapi entah kenapa saya tidak bisa bersimpati padanya, dan tanggapan saya padanya sama seperti tanggapan murid-murid di sini. Latar belakang anak yang pindah sekolah karena dibully itu pun kurang kuat, mungkin kalo ditampilkan potongan adegan-adegan yang menampilkan karakter ini ketika bersekolah di sekolah itu, film ini akan jadi lebih menarik. Dan Kanata Hongo, kerjanya cemberut aja sik, tapi tetep cakep *alah*. 2,5/5

9. Despicable Me (2010)

Filmnya lucu dan mengharukan, dan tentunya sangat menghibur. Lelucon-leluconnya sebenarnya banyak yang slapstick, tapi tidak begitu mengganggu kok. Dan sejak karakter Gru ini mengadopsi tiga anak yatim piatu tersebut, ceritanya jadi mudah ketebak, tapi meskipun begitu film ini tetap menghibur. Dan yang menonton film ini pasti jatuh cinta pada karakter minion-minion yang menggemaskan itu. Ihik. Pengen cari merchandise-nya. 3,75/5

Read Full Post »

Film Ghibli ketiga yang saya tonton setelah Spirited Away dan Ponyo *maaf, masih awam di dunia per-ghibli-an :D*. And this movie is really goooood. Masih di bawah Spirited Away tapi lebih menarik dari Ponyo. Film animasi keluaran tahun 80-an yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini bercerita tentang sebuah keluarga (seorang ayah dan dua anak perempuan *Satsuki, 10 tahun; Mei, 4 tahun*, sementara sang ibu sedang dirawat di rumah sakit) yang baru pindah ke sebuah rumah di daerah pedesaan, dan di sebelah rumah tersebut terdapat sebuah hutan lebat. Suatu hari, ketika Mei sedang bermain-main di halaman rumahnya, ada suatu makhluk kecil yang muncul dan menarik perhatian Mei. Mei pun mengikuti makhluk tersebut, dan hal tersebut membawanya ke dalam hutan sebelah rumahnya dan membawanya pada pertemuan dengan sesosok makhluk besar berbulu lembut *tunjuk poster* yang kemudian disebut Totoro*. Dan setelah melalui berbagai hal, Satsuki pun bertemu Totoro juga dan kemudian kakak beradik ini menjalin suatu persahabatan dengan Totoro. Masalah timbul ketika ibu mereka yang sedang dirawat di rumah sakit ditunda kepulangannya, dan menyebabkan Mei yang sejak kemarin tidak sabar menunggu ibunya menjadi kesal dan bertengkar dengan Satsuki, dan kemudian menghilang. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Satsuki akan berhasil menemukan Mei? Apakah Totoro akan membantu Mei menemukan Satsuki? Tonton aja deh.

Film dengan cerita sederhana namun berhasil menyentuh penontonnya. Sepintas terlihat seperti tontonan khusus anak-anak, namun saya yakin orang dewasa pun akan menyukai film ini. My Neighbor Totoro (Tonari no Totoro) membuat saya merasakan kembali semangat masa kanak-kanak yang selalu penuh rasa ingin tahu dan penuh imajinasi. Saya suka karakter kakak adik ini. Karakter mereka sangat real dan dapat kita temui di mana-mana, dan hubungan di antara mereka berdua pun sangat erat selayaknya saudara kandung. Dan keluarga mereka, kita bisa melihat di balik kesederhanaannya mereka adalah keluarga yang sangat hangat dan bisa membuat iri siapa pun. Karakter orang tuanya juga bukan tipe karakter orang tua menyebalkan yang selalu mematikan imajinasi anak-anak. Makanya tidak heran kalau kedua kakak beradik ini sangat menyayangi orang tua mereka.

Karakter Totoro-nya sendiri benar-benar menggemaskan! Padahal karakter ini tidak pernah bertingkah ‘imut’, dan kalau menggeram kadang-kadang terlihat menyeramkan. Namun saya cinta banget sama karakter ini. Kemunculan Totoro adalah salah satu hal yang paling saya tunggu-tunggu di film ini. Saya ikut kegirangan seperti kedua kakak beradik ini ketika melihat dia muncul (dan Totoro ini tidak sering muncul, dan kemunculannya yang jarang ini malah membuat karakternya semakin menarik) . Tidak heran jika Totoro menjadi salah satu maskot terkenal dari film animasi, dan karakter ini pun kemudian menjadi maskot dari studio Ghibli sendiri. Ah aku cinta Totoro!! Selain Totoro, karakter ajaib yang bisa kita temukan di sini adalah Neko no Bus (cat bus), bis berbentuk kucing berkaki banyak yang melaju dengan cara berlari selayaknya kucing biasa. Aku mau naek bus itu!!

Animasinya sendiri mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan film-film Ghibli yang sekarang seperti Spirited Away dan Ponyo. Tapi untuk ukuran tahun 80-an, animasinya tergolong ke dalam kategori luar biasa. Animasinya benar-benar indah dan sangat detail. Adegan favorit saya adalah ketika Totoro dan yang lainnya menarikan tarian penumbuh tanaman, dan kemudian bibit tanaman tersebut langsung tumbuh menjadi pohon yang sangat besar dan lebat. Itu keren banget XD

Selain hal tersebut, film ini pun memberikan pesan moral yang sangat bagus dan tidak terlihat menggurui. Totoro yang digambarkan sebagai roh penjaga hutan adalah simbol dari alam. Dan karakter Totoro ini kadang-kadang terlihat menggemaskan dan kadang-kadang juga terlihat menyeramkan, sama seperti alam sendiri yang selain dapat melindungi kita tapi juga dapat menjadi menjadi bencana, tergantung dari sikap kita terhadap alam itu sendiri. Jika kita baik pada alam, maka alam pun akan melindungi kita. Sama halnya dengan kakak adik tersebut yang selalu berperilaku baik pada Totoro, sehingga Totoro pun mau menolong mereka. Selain hal tersebut, masih banyak pesan-pesan lain yang terdapat dalam film ini. 4,5 bintang 🙂

Ps: btw saya ganti header dengan gambar totoro. Bagaimanakah pendapatnya?

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Read Full Post »

Older Posts »