Feeds:
Posts
Comments

Ada pepatah yang mengatakan bahwa seorang anak tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orang tuanya ketika ia dilahirkan. Lalu, apakah pepatah ini bisa berlaku untuk kebalikannya? Kalau tahu apa yang akan terjadi nantinya, mungkin saja Eva Khatchadourian (Tilda Swinton) akan memilih untuk tidak melahirkan Kevin (Ezra Miller), atau bahkan memilih untuk melahirkan anak yang lain saja, yang penting bukan Kevin. Kevin memang bukan anak laki-laki yang normal seperti anak-anak yang biasanya. Ia lahir seolah-olah dengan tujuan untuk membuat hidup ibunya hancur. Padahal, Eva rela meninggalkan hal yang ia cintai (seperti kecintaannya terhadap travelling) demi membesarkan Kevin. Namun, sebesar apapun usahanya untuk membesarkan atau mendekatkan dirinya dengan Kevin, selalu saja ada jarak di antara mereka.

We Need to Talk About Kevin berjalan dengan alur non-linear. Film ini dibuka dengan adegan Eva yang sedang bersenang-senang mengikuti pesta tomat di Spanyol. Dapat ditebak bahwa ini adalah kejadian ketika Kevin belum lahir ke dunia. Eva terlihat sebagai perempuan yang bebas dan seolah tanpa beban. Adegan selanjutnya berganti dengan kehidupan Eva di masa kini, di mana ketika ia baru keluar dari rumahnya, ia mendapati dinding rumahnya telah berlumuran cat merah. Lalu, adegan-adegan selanjutnya seperti memperlihatkan bahwa Eva adalah perempuan yang dibenci seluruh umat. Adegan-adegan berikutnya kemudian secara bergantian memperlihatkan kehidupan Eva di masa kini dan kehidupan Eva pada saat sebelum dan sesudah melahirkan Kevin (mulai dari saat ia masih bayi sampai remaja). Sedikit demi sedikit, dengan mudah kita bisa menebak bahwa perlakuan buruk orang-orang terhadap Eva pasti berhubungan dengan hal yang telah dilakukan Kevin.

Kevin sendiri sejak lahir sudah digambarkan sebagai anak yang aneh. Ketika ia bayi ia tidak pernah berhenti menangis. Ketika ia masih balita, ia tidak pernah menanggapi ketika Eva mengajaknya bermain (sehingga awalnya ia sempat dikira menderita autisme). Pokoknya, segala hal yang dilakukan Kevin seolah-olah bertujuan untuk merenggut kebahagiaan ibunya. Ia juga tampak seperti manusia bermuka dua, karena ia selalu bertingkah manis di depan sang ayah, Franklin (John C. Reilly), sementara dengan ibunya, ia terlihat seperti sangat membencinya. Apalagi ketika Celia (anak kedua Eva) lahir. Berbeda dengan Kevin yang introvert, Celia adalah anak yang manis dan ceria, sehingga kasih sayang Eva pada Celia tampak berbeda dengan kasih sayangnya pada Kevin, yang mengakibatkan kecemburuan muncul di hati Kevin. Puncaknya adalah ketika Kevin melakukan suatu hal besar yang sulit dimaafkan, yang membuat hidup Eva tidak akan pernah berjalan normal lagi seperti dulu.

Menonton We Need to Talk About Kevin membuat saya merasa ngeri sendiri dan membayangkan bagaimana nantinya jika suatu saat saya punya anak (#eaa). Ya, menonton film ini mungkin akan membuat penontonnya merasa takut untuk punya anak, takut bahwa mereka tidak cukup baik dalam membesarkan anak mereka, dan takut mengalami hal yang sama dengan Eva. Film garapan sutradara Lynne Ramsay ini memang menunjukkan bahwa membesarkan anak itu bukanlah hal yang mudah. Dan ini bukan tentang perkara cara membesarkan anak saja, karena cara Eva membesarkan Kevin saya rasa adalah cara yang wajar dilakukan para orang tua. Namun, kita dapat melihat bahwa meskipun Eva sudah berusaha keras dalam membesarkan anaknya, dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia juga menganggap Kevin sebagai sebuah beban. Apalagi, kehamilannya akan Kevin adalah suatu hal yang di luar rencana. Dan meskipun masih kecil, mungkin Kevin bisa merasakan hal itu, sehingga perlakuannya pada ibunya seakan-akan dilakukan supaya beban yang dipanggul Eva semakin bertambah.

Yang paling saya kagumi dari film ini adalah bagaimana film ini berhasil menghadirkan sebuah drama thriller yang mencekam tanpa harus memperlihatkan adegan kekerasan. Meskipun hal yang dilakukan Kevin masih berhubungan dengan kekerasan, namun kekerasan tersebut tidak ditampilkan dan seolah-olah diserahkan pada bayangan penonton saja. Namun, dengan melihat ekspresi Kevin saja, kita sudah bisa merasakan terror yang sebenarnya terjadi. Terror yang lain ditunjukkan melalui cat merah yang melumuri dinding rumah Eva, yang menunjukkan bahwa warna tersebut bisa tetap terlihat menakutkan meskipun tidak diperlihatkan melalui darah (dan bagian pesta tomat itu, meskipun kelihatannya menyenangkan bagi Eva, buat saya keliatannya rada serem karena warnanya kayak darah). Alurnya yang maju mundur tak beraturan pun membuat film ini menjadi semakin menarik. Meskipun film ini bukan tipe film yang mengandung twist mengejutkan seperti di kebanyakan film beralur non-linear (karena dari awal ceritanya sudah cukup tertebak), tapi kita tetap dibuat ingin tahu mengenai seperti apa sih karakter Kevin itu.

Para pemain dalam film ini menurut saya berhasil menjadikan film ini terasa semakin mencekam. Tilda Swinton dengan ekspresi suramnya berhasil memerankan karakter ibu yang seolah tidak pernah bisa merasa bahagia lagi sejak anaknya lahir. Ezra Miller sebagai Kevin pun sangat bagus aktingnya. Dari cara ia bergerak dan menatap saja, sudah terlihat bahwa karakter ini memiliki masalah yang berhubungan dengan kejiwaannya (oh iya, dua aktor cilik yang memerankan Kevin balita dan Kevin kecil juga tidak kalah bagus aktingnya). Yang aktingnya saya rasa agak-agak kurang di sini menurut saya John C. Reilly yang memerankan Franklin, suami Eva sekaligus ayah Kevin.  Aktingnya tidak buruk sih, tapi saya ngerasa kurang sreg aja sama perannya di sini dan rasanya agak aneh melihat dia dipasangkan dengan Tilda Swinton, tapi dimaafkanlah karena fokus utama film ini adalah Eva dan Kevin.

Overall, We Need to Talk About Kevin adalah sebuah film yang menunjukkan betapa kompleksnya kepribadian manusia. Segala hal pasti ada alasannya, namun kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa atas hal yang terjadi dalam film ini. Apakah semuanya semata-mata salah Kevin? Atau salah Eva? Kita akan dibuat untuk merasa tidak yakin akan hal itu, sama seperti yang diungkapkan Kevin pada bagian akhir film ini. Ja, 4 bintang.

Rating : 1 2 3 4 5

Nakamura Yoshihiro dan Isaka Kotaro adalah dua orang dengan profesi berbeda yang sering melakukan kerja sama dalam beberapa proyek film. Isaka Kotaro adalah seorang penulis novel misteri yang cukup populer di Jepang, sedangkan Nakamura Yoshihiro adalah seorang sutradara yang beberapa filmnya merupakan adaptasi dari novel-novel yang dikarang oleh Isaka Kotaro. Saat ini sudah ada tiga film karya sutradara tersebut yang diangkat dari novel-novel yang ditulis penulis tersebut, antara lain The Foreign Duck, the Native Duck and God in a Coin Locker; Fish Story (sudah pernah direview di sini); dan Golden Slumber. Saat ini pun, sebentar lagi Nakamura Yoshihiro akan mengeluarkan film terbarunya yang berjudul Potechi, yang lagi-lagi merupakan adaptasi dari cerita yang ditulis oleh Isaka Kotaro.

Namun, yang akan saya review kali ini adalah film pertama dari kolaborasi mereka berdua yang berjudul The Foreign Duck, The Native Duck and God in a Coin Locker (judul asli: Ahiru to Kamo no Koinrokka). Film ini bercerita tentang seorang mahasiswa baru bernama Shiina (Hamada Gaku) yang baru saja pindah ke Sendai, tempat di mana ia memulai studinya. Pada saat ia sedang beres-beres di apartemen barunya sambil menggumamkan sebuah lagu, seorang pria menyapanya dengan sapaan “Dylan?” Rupanya pria tersebut menyadari bahwa lagu yang disenandungkan oleh Shiina adalah lagu milik Bob Dylan yang berjudul “Blowin’ in the Wind”. Pria yang ternyata tetangga sebelah kamar Shiina tersebut lalu mengundang Shiina ke kamarnya. Pria tersebut lalu memperkenalkan dirinya sebagai Kawasaki (Eita). Ia berpendapat bahwa suara Dylan adalah suara Tuhan, dan ia berkata bahwa suara Shiina mirip dengan suara Dylan. Obrolan mereka lalu berlanjut dengan membicarakan salah satu tetangga mereka yang lain yang sempat ditemui Shiina sebelumnya, di mana tetangga tersebut terlihat pendiam dan antisosial. Kawasaki memberitahu Shiina bahwa orang tersebut adalah orang asing asal Bhutan yang bernama Kinley Dorji (Tamura Kei). Kawasaki lalu bercerita bahwa Dorji masih mengalami kesedihan karena dua tahun yang lalu ia kehilangan pacarnya yang bernama Kotomi (Seki Megumi), yang tidak lain adalah mantan pacar Kawasaki. Untuk menghibur Dorji, Kawasaki ingin memberinya sebuah hadiah. Kawasaki berkata bahwa Dorji tidak bisa membaca huruf Jepang, dan dari dulu Dorji ingin mengetahui perbedaan antara kata Ahiru (foreign duck) dan Kamo (native duck), dan ia merasa bahwa kamus Kanji Garden dapat membantunya untuk menemukan perbedaan tersebut. Untuk itu, Kawasaki lalu meminta Shiina untuk membantunya mencuri kamus Kanji Garden dari sebuah toko buku. Mengapa harus mencuri dan bukannya membeli saja? Kawasaki berkata bahwa mencuri akan menimbulkan perasaan yang berbeda daripada membelinya. Akhirnya Shiina terbujuk juga untuk membantu Kawasaki. Pada suatu malam, dengan membawa dua buah pistol mainan, mereka berdua pergi ke sebuah toko buku untuk mencuri kamus Kanji Garden (Kawasaki yang masuk ke dalam untuk mencuri, sementara Shiina berjaga di luar).

Sehari setelah pencurian tersebut berhasil dilakukan, Shiina bertemu dan mengobrol dengan seorang wanita pemilik sebuah petshop yang bernama Reiko (Otsuka Nene). Sebelumnya, Kawasaki sempat memperingatkan dirinya agar tidak mempercayai semua yang diucapkan oleh wanita itu. Melalui obrolan tersebut, Shiina akhirnya mengetahui bahwa Kotomi ternyata pernah bekerja di petshop milik Reiko. Selain itu, Reiko juga sempat menyinggung kasus pembunuhan binatang peliharaan yang terjadi dua tahun yang lalu, dan memberitahu Shiina bahwa Kawasaki menderita sebuah penyakit. Terakhir, ia meminta Shiina untuk tidak mempercayai semua yang diucapkan Kawasaki.

Melalui dua sumber berbeda tersebut, Shiina mulai merasa ada yang aneh pada cerita-cerita tersebut. Ia juga merasa ada yang tidak beres pada diri Kawasaki. Apalagi, pria tersebut terlihat semakin mencurigakan karena setiap malam ia sering pergi entah ke mana dengan menggunakan mobilnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapakah Kawasaki sebenarnya? Apa yang sebenarnya terjadi pada Dorji?

Sama seperti Fish Story, film ini juga memuat sebuah misteri yang membuat kita penasaran. Di film ini, kita ditempatkan pada posisi yang sama dengan posisi Shiina, yaitu orang yang diseret pada cerita-cerita yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Namun, karena adanya kejanggalan pada cerita-cerita tersebut, mau tidak mau ia jadi dibuat penasaran dan ingin mengetahui cerita yang sebenarnya terjadi (meskipun hal itu tidak akan berpengaruh pada hidupnya). Misteri yang dihadirkan film ini memang cukup membuat penasaran, meskipun rasa penasaran di sini bukanlah rasa penasaran menggebu-gebu seperti ketika menonton film misteri yang lain seperti, katakanlah film Mother yang misterinya membuat saya penasaran abis-abisan dan merasa tegang sepanjang film berjalan. Film ini tidak memberikan rasa penasaran semacam itu, tidak menimbulkan perasaan tegang, tapi kita tetap ingin tahu mengenai apa yang sesungguhnya terjadi. Mungkin karena unsur misterinya dicampur dengan unsur komedi ya (meskipun komedi di sini lebih ke dark comedy). Karena itulah, menurut saya misteri yang ada di film ini agak berbeda dengan film-film misteri kebanyakan karena tidak menghasilkan perasaan yang biasanya dirasakan ketika kita menonton film yang murni misteri. Tapi meskipun begitu, saya lumayan menyukai misteri yang ditampilkan film ini, karena misterinya terasa orisinal dan juga unik.

Karena ini film misteri, maka tentunya kita akan dibawa pada satu atau lebih kejutan kan? Begitu juga dengan film ini. Sedikit demi sedikit kita akan dibawa pada berbagai macam kejutan mengenai kisah yang terjadi sebenarnya. Namun, kejutan di sini bukan tipe kejutan yang membelalakan mata, seperti ketika menonton film Mother. Dan juga bukan tipe kejutan yang memuaskan hati, seperti ketika menonton film Fish Story. Jadi, apakah filmnya jelek pris? Nggak, malah saya suka banget sama film ini. Dengan caranya sendiri, film ini berhasil menghadirkan kejutan yang meninggalkan suatu kesan tersendiri setelah menontonnya. Kejutannya terkesan manis, tapi juga pahit. Atau pahit, tapi juga manis. Dan yang pasti, film ini berhasil membuat saya merasa tersentuh dan bersimpati kepada tokoh-tokohnya, meskipun film ini tidak terlihat memiliki tendensi untuk menyentuh hati penontonnya.

Di luar unsur misteri, film ini juga memuat beberapa kritik sosial. Kritik di sini terhadap dua hal. Pertama, kritik terhadap orang Jepang yang sering kali berlaku buruk terhadap orang asing luar Jepang, terutama orang asing yang tidak bisa berbahasa Jepang. Sebelumnya memang saya sudah sering mendengar kalau orang Jepang itu agak-agak gimanaaaa gitu terhadap orang asing, karena mereka sangat bangga akan negaranya sendiri (misalnya dapat dilihat pada adegan ketika ada orang India (?) yang kebingungan mengenai rute bus dan tidak ada yang membantunya sama sekali). Kritik kedua adalah, kritik terhadap para pelaku penyiksaan binatang. Hal ini berkaitan dengan kasus pembunuhan binatang peliharaan yang terjadi dua tahun lalu di film ini. Saya suka penempatan kritik yang ada di film ini. Kritiknya ditempatkan secara samar dan tidak keras, tapi tetap membuat kita aware akan hal itu.

Mari kita beralih pada pemainnya. Para pemeran dalam film ini berhasil menampilkan akting yang memukau. Mulai dari Hamada Gaku (yang juga bermain dalam Fish Story dan Golden Slumber yang merupakan film duet Nakamura-Isaka juga) yang berhasil memerankan karakter Shiina, sosok mahasiswa baru yang polos dan inosen. Eita dengan tatapan manis sekaligus misteriusnya berhasil memerankan Kawasaki yang bisa dibilang merupakan karakter paling aneh dalam film ini. Seki Megumi dan Otsuka Nene juga menampilkan akting yang baik (terutama Otsuka Nene, yang berhasil memerankan sosok wanita yang terlihat misterius dan berkarisma). Jangan dilupakan kehadiran Matsuda Ryuhei, yang aktingnya berhasil mencuri perhatian meskipun porsi tampilnya tidak begitu banyak (dan jadi siapakah dia di sini? Tebak sendiri deh :D ).

Overall, saya sangat menyukai film ini. Film ini berhasil meninggalkan perasaan yang berbeda dengan ketika kita menonton film bergenre misteri kebanyakan. Dan dengan caranya sendiri, film ini berhasil membuat saya merasa tersentuh dan terkesan.  4 bintang deh untuk film ini :)

Rating : 1 2 3 4 5

[DORAMA] Shokuzai (2012)

Ada yang ingat dengan film Confessions (Kokuhaku)? Film Jepang garapan Nakashima Tetsuya itu bisa dibilang merupakan salah satu film Jepang favorit saya sepanjang masa. Film yang bercerita tentang pembalasan dendam seorang ibu yang anaknya dibunuh tersebut merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Minato Kanae. Di tahun 2012 ini, satu lagi novel karya Minato Kanae, yaitu Shokuzai (The Atonement), difilmkan. Namun, tidak seperti Confessions, Shokuzai tidak diadaptasi menjadi film layar lebar, melainkan menjadi mini seri berjumlah lima episode yang ditayangkan oleh channel WOWOW. Kali ini, orang yang bertugas mengadaptasi novel ini ke layar kaca adalah Kurosawa Kiyoshi, yang sebelumnya sudah sering menyutradarai beberapa film yang sudah diakui kualitasnya, seperti Tokyo Sonata dan Cure.

Shokuzai sendiri masih memiliki kemiripan dengan Confessions, yaitu sama-sama bercerita tentang seorang ibu yang anak perempuannya dibunuh. Anak perempuan tersebut bernama Emiri yang merupakan seorang murid baru (kelas 4 SD) di suatu sekolah. Pada suatu hari, ketika ia sedang bermain dengan empat orang temannya, seorang pria menghampiri mereka. Pria (yang wajahnya tidak diperlihatkan) tersebut mengatakan ia sedang membetulkan kipas yang ada di gymnasium sekolah mereka, dan ia meminta tolong Emiri untuk membantunya karena ada bagian yang tidak bisa ia jangkau. Emiri lalu pergi bersama pria itu. Namun, setelah beberapa lama, Emiri tidak kembali juga. Empat temannya yang khawatir pun lalu menyusul ke gymnasium. Dan sesampainya di sana, Emiri sudah terbujur kaku di lantai gymnasium tersebut.

Adachi Asako (Koizumi Kyoko) yang merupakan ibu dari Emiri tidak sanggup menerima kenyataan atas kematian putrinya tersebut. Belum lagi, pelaku pembunuhan anaknya sama sekali tidak tertangkap, dan empat teman Emiri yang merupakan saksi mata pelaku pembunuhan Emiri mengatakan mereka tidak ingat dengan wajah pembunuh tersebut. Pada suatu hari, tepatnya pada hari ulang tahun Emiri, Asako mengundang empat orang teman Emiri tersebut ke rumahnya. Rupanya Asako tidak bisa memaafkan mereka berempat. Pada pertemuan tersebut Asako berkata pada mereka: “I won’t forgive you. Find the suspect for me. Otherwise, you’ll have to pay. Until the crime solve, I’ll never forgive any of you. You can’t escape from your sins.”

15 tahun berlalu setelah perjanjian tersebut. Empat orang teman Emiri telah tumbuh dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Yang pertama adalah Kikuchi Sae (Aoi Yu), yang punya ketakutan tertentu terhadap laki-laki dan punya semacam kelainan di mana ia tidak bisa mengalami menstruasi. Yang kedua adalah Shinohara Maki (Koike Eiko), yang berprofesi sebagai guru SD yang galak dan pada suatu hari mendapat banyak perhatian setelah ia menyelamatkan murid-muridnya dari serangan pria tak dikenal. Yang ketiga adalah Takano Akiko (Ando Sakura), perempuan yang sejak kematian Emiri menjadi anti memakai pakaian yang cantik dan menganggap dirinya sendiri adalah beruang. Lalu terakhir adalah Ogawa Yuka (Ikewaki Chizuru), pemilik toko bunga yang punya kecemburuan tertentu terhadap kakaknya dan punya perhatian khusus terhadap polisi. Setiap tokoh dieksplor dalam setiap episode secara bergantian (jadi episode pertama fokusnya sama Aoi Yu, episode 2 Koike Eiko, dst). Dan di setiap episodenya, tokoh-tokoh tersebut melakukan suatu hal mengejutkan yang mereka anggap sebagai penebusan dosa atas kematian Emiri.

Shokuzai adalah salah satu dorama yang sudah saya tunggu-tunggu sejak dorama ini belum tayang. Selain karena faktor pengarang Confessions dan Kurosawa Kiyoshi, yang membuat saya tertarik pada dorama ini adalah jajaran castnya yang luar biasa. Kebanyakan pemainnya adalah aktor dan aktris yang lebih sering bermain di film ketimbang dorama. Contohnya adalah Koizumi Kyoko (Hanging Garden, Tokyo Sonata), Aoi Yu (Hana and Alice), Koike Eiko (2LDK), Ando Sakura (Love Exposure), dan Ikewaki Chizuru (Josee the Tiger and the Fish). Pemain-pemain pembantunya pun top semua, mulai dari Moriyama Mirai, Kase Ryo, Ito Ayumi, Arai Hirofumi, sampai Kagawa Teruyuki. Dan untungnya saya tidak dikecewakan oleh nama-nama hebat tersebut.

Seperti kebanyakan film-filmnya Kurosawa Kiyoshi (yang sering membuat film horror/thriller), dorama ini memiliki aura yang suram dan kelam. Warna yang dipakai cenderung gelap, dan semakin mendukung atmosfir kelamnya. Alurnya sedikit lambat, tapi tidak membosankan dan malah memperkuat intensitas ketegangannya. Sinematografinya pun sangat mengagumkan, dan membuat dorama ini tidak terlihat sebagai sekadar tayangan televisi karena kualitas gambarnya yang sudah seperti kualitas gambar pada film layar lebar.

Yang paling saya kagumi dari dorama ini adalah proses pembangunan karakternya yang meskipun terlihat perlahan-lahan tetapi pasti. Di setiap episodenya setiap karakter diperkenalkan. Dan dengan memakai sedikit flashback, kita bisa melihat bahwa kepribadian mereka semuanya terbentuk dari kejadian 15 tahun yang lalu, bahkan untuk karakter Yuka (Ikewaki Chizuru) sekalipun yang mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan hal tersebut. Semua karakternya tidak diperlihatkan bersih dan suci. Bahkan untuk karakter Asako sang ibu, yang sebenarnya punya andil dalam kematian putrinya, karena belakangan diketahui bahwa kematian putrinya masih memiliki hubungan dengan masa lalunya sendiri. Makanya, shokuzai atau “the atonement” di sini tidak hanya berlaku bagi empat orang teman Emiri saja, melainkan juga pada karakter Asako sendiri. Well, kalo suka sama tontonan yang rada nyikologis, dorama ini tentunya sangat wajib ditonton karena kita bisa melihat bahwa sebuah kejadian bisa mempengaruhi kepribadian berbagai macam orang dengan cara yang berbeda.

Setiap episode dalam dorama ini memiliki cerita yang berdiri sendiri tapi tetap bersinggungan. Dan masing-masing episodenya memiliki cerita yang sangat menarik. Tapi kalo disuruh milih, favorit saya adalah episode pertama (French Doll) dan episode ketiga (Bear Siblings). Dua episode tersebut menurut saya yang paling menarik dan paling menegangkan. Apalagi episode pertama yang menampilkan Aoi Yu, yang menurut saya serem abis. Para pemain dalam dorama ini semuanya menampilkan akting yang bagus dan memukau. Ekspresi-ekspresi yang ditampilkan, kekosongan yang mereka alami, semuanya ditampilkan secara pas dan tidak berlebihan. Dari lima pemeran utama sampai peran-peran pembantu, semuanya menampilkan akting yang cemerlang.

Secara keseluruhan, dorama ini adalah salah satu dorama paling berkesan di tahun 2012 ini. Dan meskipun tahun 2012 baru berjalan dua bulan, sudah pasti saya akan memasukkan dorama ini ke list dorama terbaik tahun 2012. Satu-satunya kelemahan dorama ini menurut saya hanya pada bagian endingnya. Endingnya tetep bagus sih, dan sepertinya memang seperti itulah dorama ini harus berakhir (dan endingnya itu…ironis sekali). Tapi, kalo dibandingin sama episode-episode sebelumnya, menurut saya kualitas episode ini jadi rada menurun dan kalah sama episode-episode sebelumnya. Padahal saya berharap episode akhir ini menjadi puncak dari semua episodenya. Jadi, 4,5 bintang deh untuk dorama ini. Highly recommended.

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Takemura Fumiya (Odagiri Joe) adalah seorang mahasiswa fakultas hukum (di tahun kedelapan) yang hidupnya sedang berada di ujung tanduk. Ia adalah pria sebatang kara. Orang tuanya sudah lama menelantarkan dirinya, dan ia punya hutang sebesar 800 ribu yen yang tidak bisa ia bayar. Pada suatu hari, ketika ia sedang memandangi pasta gigi tiga warna yang baru dibelinya, seorang debt collector datang dan mengancam Fumiya agar membayar hutangnya. Setelah mengancam Fumiya (dengan menggunakan kaos kakinya), debt collector itu memberi Fumiya waktu tiga hari untuk membayar hutangnya.

Namun, mencari uang dalam waktu tiga hari adalah suatu kemustahilan bagi Fumiya. Di tengah kebingungannya karena belum mendapat uang juga, si debt collector yang kemarin mengancam Fumiya datang lagi menemui Fumiya. Kali ini ia tidak mengancam Fumiya untuk membayar hutangnya, tapi malah memberikan penawaran yaitu uang sebesar satu juta yen dengan satu syarat. Syaratnya adalah menemani si debt collector itu (yang bernama Fukuhara, diperankan Miura Tomokazu) berjalan-jalan di Tokyo tanpa tujuan yang jelas dan dengan waktu yang tidak ditentukan, bisa sampai tiga hari, satu bulan, atau lebih dari itu. Fumiya yang sudah tidak punya cara lain untuk membayar hutangnya pun menyetujui permintaan aneh tersebut. Perjalanan antara dua orang ini pun dimulai.

Pada saat berjalan-jalan tersebut, nantinya diketahui alasan mengapa Fukuhara meminta Fumiya untuk menemaninya jalan-jalan di Tokyo. Ternyata Fukuhara baru saja membunuh istrinya sendiri (meskipun secara tidak sengaja). Ia meminta Fumiya menemaninya jalan-jalan di sekitar Tokyo karena hal itu adalah hal yang sering ia lakukan dulu bersama istrinya, dan perjalanan mereka akan selesai ketika Fukuhara merasa sudah saatnya ia menyerahkan diri pada polisi. Di perjalanan itu, mereka berdua menemui berbagai macam hal aneh, mulai dari pertengkaran rumah tangga di sebuah tempat makan, musisi jalanan berisik, sampai acara cosplay. Melalui perjalanan itu juga, Fumiya merasa mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah dimilikinya dahulu pada diri Fukuhara, yaitu keluarga. Di luar hal itu, tiga orang teman kerja istrinya Fukuhara mulai menyadari bahwa sudah beberapa hari rekan kerja mereka bolos kerja tanpa pemberitahuan. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Fumiya akan mencoba menahan Fukuhara agar tidak menyerahkan dirinya pada polisi? Dan apakah mayat istri Fukuhara akan ditemukan sebelum Fukuhara menyerahkan dirinya ke polisi? Tonton aja deh kakak.

Adrift in Tokyo (judul asli: Tenten) adalah salah satu film yang disutradarai oleh Miki Satoshi (mengenai sutradara ini, pernah saya singgung sedikit di review Atami no Sousakan). Seperti kebanyakan film-film yang disutradarainya, film ini juga memiliki unsur komedi yang sangat khas. Ya, kekhasan Miki Satoshi memang terletak pada gaya humornya yang sangat random dan aneh. Namun, seperti pada filmnya yang berjudul Turtles Swim Faster Than Expected, keanehan-keanehan tersebut ditempatkan pada kehidupan yang normal. Misalnya seperti terlihat pada tiga orang teman kerja istrinya Fukuhara (yang diperankan oleh para pemain langganan Miki Satoshi yaitu Fuse Eri, Iwamatsu Ryo, Matsushige Yutaka) di mana ketika mereka bekerja mereka malah meributkan hal-hal tidak penting seperti bau rambut atau hal-hal remeh temeh lainnya. Begitu juga dengan tokoh Fumiya dan Fukuhara yang dalam perjalanannya menemukan hal-hal aneh yang terkesan tidak penting. Hal-hal random yang terjadi dalam film ini memang terkesan tidak penting dan tak punya pengaruh kuat pada ceritanya, namun bukankah dalam hidup yang sebenarnya kita juga sering menemui hal-hal random tak penting seperti ini? Dan yang pasti, hal-hal aneh yang ada dalam film ini merupakan salah satu faktor yang menjadikan filmnya menjadi sangat menghibur.

Selain drama dan komedi, film ini juga dapat dikategorikan sebagai road movie. Namun, perjalanan yang dilakukan dalam film ini bukanlah tipe perjalanan yang mengubah nasib seperti pada kebanyakan road movie. Saya sangat menikmati perjalanan kedua tokoh utama dalam film ini. Melalui perjalanan tersebut (di mana jalan-jalan di sini adalah jalan-jalan secara harfiah, pake kaki, bukan pake kendaraan), karakteristik dua tokoh utama tersebut dibangun sedikit demi sedikit dan tanpa butuh waktu yang lama kita mampu dibuat peduli kepada kedua tokoh tersebut. Apalagi ketika di seperempat akhir film, ada tambahan dua tokoh yang membuat film ini menjadi semakin menarik. Film ini juga merupakan salah satu tipe film yang mampu membuat kita menempatkan diri pada posisi karakternya. Saya merasa ikut bahagia dan terharu ketika Fumiya si sebatang kara mulai merasakan kenyamanan ketika bersama dengan Fukuhara dan dua karakter lainnya, dan ikut sedih ketika Fukuhara merasa sudah waktunya menghentikan perjalanan mereka. Perjalanan dalam film ini memang tidak punya pengaruh besar dan mampu mengubah nasib. Namun, melalui perjalanan ini, kedua tokoh ini mulai menemukan hal-hal kecil sederhana yang sebelumnya telah mereka lupakan.

Para pemain dalam film ini berhasil menampilkan penampilan yang baik dan memukau. Saya sangat menyukai akting kedua pemain utamanya, yaitu Odagiri Joe dan Miura Tomokazu, dan mereka berhasil membangun chemistry dengan baik. Di bagian awal, kita dapat melihat sosok Fukuhara sebagai penagih hutang yang kejam sekaligus dingin di mata Fumiya. Namun, semakin ke sini, kita dapat merasakan bahwa Fumiya mulai memandang adanya sosok seorang ayah pada diri Fukuhara, meskipun Fukuhara tidak pernah berlaku seperti ayah atau meninggalkan kepribadian aslinya. Koizumi Kyoko dan Yoshitaka Yuriko juga menampilkan akting yang sangat mencuri perhatian (terutama Yuriko, kehadiran karakter yang diperankannya berhasil membuat saya tertawa). Fuse Eri, Iwamatsu Ryo, dan Matsushige Yutaka (yang bisa dibilang adalah maskot dari film-filmnya Miki Satoshi) pun berhasil membuat film ini menjadi semakin segar dan menarik. Selain hal-hal di atas, saya juga menyukai penggambaran kota Tokyo dalam film ini. Biasanya dalam film-film, Tokyo selalu digambarkan sebagai tempat yang padat dan ramai. Meskipun di film ini masih ada penampakan kota Tokyo yang ramai dengan orang, tapi melalui film ini kita masih bisa menemukan sudut-sudut Tokyo yang sepi dan tenang. Dan yang pasti, setelah menonton film ini saya jadi pengen ikutan jalan-jalan di rute yang mereka lalui tersebut, hehe.

Kesimpulannya, Adrift in Tokyo adalah sebuah film sederhana  yang akan sangat sayang jika dilewatkan. Hal-hal sederhana yang dibalut dengan keanehan dalam film ini berhasil menjadikannya sebagai suatu tontonan yang tidak hanya menghibur, tapi juga berkesan. Dan ini adalah tipe film yang akan menimbulkan suatu senyuman dan perasaan hangat di hati penontonnya. Ja, 4 bintang deh untuk film ini. :)

Trivia: Dalam film ini ada cameo dari aktris cantik Aso Kumiko, atau tepatnya cameo dari karakter yang ia perankan dalam dorama Jikou Keisatsu, di mana Odagiri Joe juga bermain dalam dorama itu dan Miki Satoshi pulalah yang menyutradarainya :D

Rating : 1 2 3 4 5

[MOVIE] Restless (2011)

Kematian merupakan salah satu topik yang rasanya tidak akan pernah berhenti dibicarakan atau dijadikan sebagai tema sebuah film, seperti juga pada film terbaru karya sutradara Gus Van Sant (Good Will Hunting, Elephant) yang berjudul Restless ini. Dalam film ini, Gus Van Sant membawa kita pada topik mengenai kematian melalui sudut pandang seorang remaja.

Remaja itu bernama Enoch (Henry Hopper), seorang remaja laki-laki yang berbeda dari remaja kebanyakan, di mana ia sama sekali tidak bersekolah dan punya suatu obsesi khusus terhadap kematian. Ya, kematian. Obsesinya pada hal tersebut sudah ditunjukkan dari awal film ini, di mana ia terlihat sedang tiduran sambil ‘menggambar’ di aspal sesuai dengan lekuk tubuhnya (tunjuk poster), seperti yang biasa kita temukan pada lokasi bekas pembunuhan (untuk menandai posisi korban). Obsesinya pada kematian tidak hanya ditunjukkan melalui hal itu saja. Ia juga punya suatu hobi unik yaitu mengunjungi pemakaman orang-orang yang sama sekali tidak ia kenal. Dan satu hal yang paling ajaib adalah, ia memiliki teman yang merupakan sesosok hantu pilot Kamikaze yang bernama Hiroshi (Ryo Kase).

Pada suatu pemakaman yang didatanginya, ia bertemu dengan Annabel (Mia Wasikowska). Dan setelah beberapa kejadian, mereka mulai dekat dan saling jatuh cinta. Lalu belakangan diketahui bahwa Annabel ternyata seorang penderita kanker, dan menurut perkiraan dokter, hidupnya hanya tinggal menunggu 3 bulan lagi. Lalu, bagaimanakah sikap Enoch, si remaja yang terobsesi dengan kematian, dalam menghadapi kenyataan bahwa orang yang paling disayanginya akan menghadapi kematian tidak lama lagi?

Film yang bercerita tentang orang yang terkena penyakit ganas dan sebentar lagi akan meninggal memang sudah banyak. Tahun lalu juga ada 50/50 yang dibintangi Joseph Gordon-Levitt. Namun, film ini lebih memfokuskan pada sudut pandang orang yang akan ditinggalkan, yaitu karakter Enoch yang punya semacam obsesi khusus pada kematian. Karena obsesinya tersebut, saat pertama kali mendengar bahwa hidup Annabel tinggal tiga bulan lagi, ia mampu bersikap biasa dan bahkan melontarkan kalimat “orang bisa melakukan banyak hal dengan waktu 3 bulan. Kamu bisa belajar bahasa Prancis, pergi ke Afrika, blablabla…” dengan nada santai. Namun, meskipun begitu, pada dasarnya Enoch adalah manusia biasa yang punya rasa sedih. Ketika ajal semakin mendekati Annabel, rasa marah dan tidak rela mulai tumbuh di hati Enoch. Hal itu menunjukkan bahwa kematian memang punya pengaruh yang sangat kuat bagi orang-orang, termasuk pada diri Enoch sekalipun, yang pada awalnya masih bisa tertawa-tawa ketika mendengar gadis yang sangat disayanginya akan meninggal sebentar lagi.

Selain itu, melalui film ini juga kita ditunjukkan bahwa orang yang paling sulit menerima kematian bukanlah orang yang sebentar lagi akan meninggal, melainkan orang-orang yang ditinggalkan. Hal ini selain terlihat dari sikap Enoch juga terlihat dari sikap anggota keluarga Annabel. Sosok Annabel sendiri digambarkan tenang-tenang saja dalam menghadapi penyakitnya, yang menurut saya sebenernya kurang masuk akal sih karena kok bisa-bisanya sih ada orang setabah ini. Tapi mungkin ini supaya perbedaan antara karakternya (yang sebentar lagi akan meninggal) dan karakter Enoch (yang akan ditinggalkan) terlihat lebih kentara. Henry Hopper dan Mia Wasikowska berhasil menampilkan penampilan yang bisa diterima, meskipun bukan penampilan yang luar biasa. Jangan dilupakan karakter Hiroshi yang diperankan aktor Jepang favorit saya, Ryo Kase (alasan utama saya menonton film ini), yang menampilkan akting yang lumayan bagus di sini. Meskipun karakter ini sebenarnya rada gak jelas juga (hantu kah? Ilusi Enoch semata kah?), tapi karakter ini punya peran yang cukup penting untuk memberi sudut pandang yang lain mengenai kematian terhadap karakter Enoch.

Well, meskipun film ini mendapat berbagai macam review negatif dari berbagai kritikus, kenyataannya saya lumayan menikmati film ini. Meskipun ini bukan film yang tergolong luar biasa bagus dan berkesan, dan ada beberapa bagian yang rada datar dan membosankan, menurut saya ini bukanlah film yang buruk. 3,5 bintang deh untuk film ini :)

Rating : 1 2 3 3,5 4 5

Kehilangan orang yang kita sayangi tentunya adalah hal yang sangat menyakitkan. Apalagi jika orang tersebut meninggalkan kita dengan cara yang tidak wajar, misalnya dengan cara dibunuh. Namun, luka yang timbul akibat kejadian tersebut tidak hanya akan membekas pada orang terdekat/keluarga korban saja, tapi juga keluarga dari si pembunuh itu sendiri. Setelah kejadian tersebut, segalanya tidak akan bisa berjalan normal bagi mereka, baik bagi keluarga korban maupun keluarga si pembunuh.

Yak, kira-kira itulah premis dari dorama berjudul Soredemo, Ikite Yuku (Still, Life Goes On). Dalam dorama ini, sisi keluarga korban diwakili oleh karakter Fukami Hiroki (Eita). Lima belas tahun yang lalu (ketika Hiroki masih SMP), adik perempuannya yang masih berusia 7 tahun ditemukan tewas tenggelam di sebuah danau. Setelah itu, ditemukan bukti bahwa Aki (nama adik perempuan tersebut) dibunuh oleh Fumiya yang merupakan teman sekolah Hiroki. Setelah lima belas tahun berlalu, Hiroki rupanya masih tidak bisa melupakan hal tersebut. Kematian adiknya tersebut membuat kehidupannya beserta keluarganya berubah total. Kedua orang tuanya bercerai dan ia jadi tidak pernah peduli pada sekitarnya. Sampai suatu saat ketika ayahnya meninggal karena kanker, Hiroki memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya untuk membalas dendam pada Fumiya si pelaku, yang kabarnya sudah bebas dan tidak terlihat menyesali perbuatannya.

Sementara itu, sisi keluarga pelaku diwakili oleh karakter Toyama Futaba (Mitsushima Hikari). Futaba adalah adik perempuan dari si pelaku. Sama seperti keluarga Hiroki, keluarga Futaba juga mengalami banyak perubahan sejak kejadian yang dilakukan salah satu anggota keluarga mereka. Mereka hidup berpindah-pindah karena sering diteror melalui telepon oleh orang tak dikenal. Sang ayah juga sulit mendapatkan pekerjaan karena reputasinya sebagai ayah dari seorang pembunuh. Di luar hal itu, keluarga ini sebenarnya sudah lama tidak berhubungan dengan Fumiya (si pelaku) sejak ia pertama ditahan.

Keduanya bertemu secara tidak sengaja di tempat pemancingan yang dikelola oleh Hiroki. Setelah beberapa kejadian, Futaba akhirnya mengetahui bahwa pria yang tidak sengaja ia temui tersebut adalah kakak dari korban pembunuhan yang dilakukan kakaknya. Selain itu, ia juga mengetahui rencana balas dendam Hiroki pada kakaknya tersebut. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Hiroki akan berhasil membalaskan dendamnya? Selain itu, bagaimanakah perasaan Futaba yang sebenarnya pada kakaknya? Di luar hal itu, hubungan Hiroki dengan Futaba selanjutnya menjadi semakin dekat, yang secara norma sosial terasa tidak lazim karena mereka berasal dari dua kubu yang berbeda.

Menurut saya, Soredemo Ikite Yuku adalah salah satu dorama terbaik tahun 2011 lalu (well pendapat ini mungkin kurang bisa dipercaya karena dorama tahun 2011 yang saya tonton itu dikit banget, tapi serius deh dorama ini emang bagus banget). Dorama ini daleeeem banget. Buat saya yang memang pecinta film/dorama bergenre drama, dorama ini memiliki segala aspek yang dimiliki oleh drama yang bagus. Meskipun dari sinopsisnya terlihat bahwa konflik yang ada di dorama ini rada-rada nyinetron, tapi percaya deh ini bukan dorama macam itu. Dramanya sama sekali gak kacangan dan diperlihatkan dengan wajar dan sangat manusiawi. Dorama ini juga sangat berhasil mengaduk-aduk emosi penontonnya tanpa harus terlihat berlebihan.

Yang paling saya suka dari dorama ini adalah bagaimana kita tidak hanya diperlihatkan pada sudut pandang keluarga korban saja, tapi juga sudut pandang keluarga si pelaku (yang biasanya tidak dipedulikan). Sebagai penyuka tontonan yang berbau psikologis *tsaah*, saya sangat menyukai bagaimana kedua hal tersebut digambarkan. Meskipun dua-duanya terlihat sebagai kubu yang berbeda, pada hakikatnya kedua keluarga tersebut adalah sama-sama korban. Ya, bukan hanya keluarga korban saja yang mengalami tekanan akan kejadian tersebut, keluarga si pelaku juga sama-sama tertekan karena dianggap tidak membesarkan anaknya dengan baik. Saya juga suka melihat bagaimana cara pandang masing-masing keluarga (yang diwakili oleh Hiroki dan Futaba) terhadap si pembunuh. Hiroki dan keluarganya membenci habis-habisan Fumiya, dan meskipun samar mereka juga menyimpan suatu perasaan benci tersendiri terhadap keluarga si pembunuh, yang menurut saya manusiawi banget. Misalnya di episode dua ketika Hiroki akhirnya mengetahui bahwa Futaba adalah adik dari Fumiya. Tanggapan yang diperlihatkan terasa sangat wajar, namun yang terpenting adalah bagaimana ia bisa berkompromi dengan perasaan benci tersebut. Sementara itu dari pihak keluarga pelaku, meskipun diperlihatkan sudah putus hubungan dengan Fumiya, kita bisa tahu bahwa mereka (terutama sang ayah dan Futaba) tidak akan bisa membenci Fumiya. Seperti pernyataan Futaba pada Hiroki yang kira-kira begini: “Meskipun seorang kakak sering berlaku jahat pada adiknya, tapi tetap saja, si adik pasti akan selalu ingin mengajaknya bermain.” Yak, sebagai seseorang yang juga berada di posisi adik, saya sangat bisa mengerti perasaan Futaba *kalo kakak saya baca ini kayaknya saya bisa ditabok*. Seburuk-buruknya anggota keluarga kita, kita pasti tidak akan bisa membenci orang tersebut. Bahkan meskipun sudah lama tidak berhubungan dengan si pelaku pun, mereka akan tetap merasa bertanggung jawab dan merasa perlu untuk meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan si pelaku, baik itu perbuatan di masa lalu maupun di masa yang akan datang.

Selain itu, yang paling saya suka di sini adalah bagaimana hubungan antara Hiroki dan Futaba digambarkan. Selain karena adanya chemistry yang kuat, hal ini juga sangat dipengaruhi oleh skenario dorama ini yang memang bagus. Saya sangat menyukai dialog-dialog yang ada di antara mereka berdua. Dialog antara mereka sering kali terasa awkward dan aneh, dan dua karakter ini emang sama-sama digambarkan socially awkward sih (hal yang bikin saya makin suka mereka berdua). Namun, karena itu mereka jadi terlihat sangat cocok dan seperti tercipta untuk satu sama lain *tsaaah*. Kesamaan nasib antara mereka berdua membuat mereka seolah-olah menjadi terikat satu sama lain. Dan meskipun berasal dari pihak yang berbeda, kita dapat melihat bahwa hanya Futaba yang bisa memahami Hiroki, dan begitu juga sebaliknya. Namun, meskipun begitu, inti dari dorama ini bukanlah hubungan cinta antara mereka berdua, melainkan tentang bagaimana mereka berdua (beserta keluarga masing-masing) sanggup memaafkan. Memaafkan di sini bukan hanya saling memaafkan antara dua keluarga saja ya, tapi lebih seperti memaafkan diri mereka masing-masing. Seperti pada judulnya, meskipun segala dendam dan luka tertanam di hati mereka, mereka tetap akan hidup dan hari yang baru akan selalu datang.

Selain hal-hal di atas, kelebihan dorama ini juga terletak pada akting dari semua pemainnya. Eita dan Mitsushima Hikari menampilkan akting yang sangat memukau. Namun, tidak hanya mereka saja, pemeran-pemeran pendukung dalam dorama ini juga menampilkan akting yang sangat maksimal, terutama Otake Shinobu yang memerankan karakter ibunya Hiroki serta Kazama Shunsuke yang memerankan karakter Fumiya, si sumber di balik segala hal yang ada di dorama ini. Wajah dingin tanpa ekspresinya itu bener-bener juara. Dan saya senang karena dalam dorama ini ditampilkan juga cerita tentang kehidupan si pelaku, sehingga kita dapat mengerti mengapa karakter ini bisa membunuh Aki. Tambahan, dorama ini juga mendapatkan 6 penghargaan dari 70th Television Drama Academy Award, yaitu pada kategori Best Drama, Best Actor (Eita), Best Supporting Actor (Kazama Shunsuke), Best Supporting Actress (Otake Shinobu), Best Screenwriter, dan Best Director. Kalau saja Mitsushima Hikari tidak kalah dari Inoue Mao (yang mendapat penghargaan Best Actress dari Ohisama), maka lengkap sudahlah kehebatan dorama ini :)

Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan, dorama ini tidak hanya bagus, tapi juga sangat berkesan dan meninggalkan suatu perasaan tersendiri setelah menontonnya. Jadi, 5 bintang deh :)

Rating : 1 2 3 4 5

Sebuah bus sekolah yang berisi satu orang supir dan empat orang siswi tengah melaju di jalanan sebuah kota kecil bernama Atami. Di tengah jalan, mereka melihat ada seorang kakek tua yang terbaring di jalanan. Sang supir pun turun dari bus untuk melihat keadaan kakek tua tersebut. Lalu, tiba-tiba bus yang berisi empat orang siswi tersebut melaju sendiri. Si supir yang tengah menolong kakek tua tersebut pun langsung berlari mengejar bus tersebut. Sayangnya, bus tersebut tidak berhasil dikejar dan menghilang bersamaan dengan munculnya kabut.

Tim polisi lokal (yang sepertinya sebelum ini kebanyakan nganggur) pun dikerahkan untuk mencari bus tersebut. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil. Meskipun begitu, salah seorang siswi yang naik bus tersebut, yaitu Shinonome Mai, berhasil ditemukan dalam keadaan tidak sadar. Tiga tahun berlalu setelah kejadian itu. Mai, satu-satunya siswi yang ditemukan tersebut, akhirnya bangun setelah mengalami koma selama tiga tahun. Namun, ia sudah tidak ingat apa-apa mengenai kejadian yang ia alami tiga tahun yang lalu. Dua orang penyelidik dari Wide Area Investigator pun datang ke Atami untuk menyelidiki kasus bus yang hilang tersebut. Dua orang penyelidik tersebut adalah Hoshizaki Kenzo (Odagiri Joe) dan Kitajima Sae (Kuriyama Chiaki). Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah bus tersebut berhasil ditemukan? Apa yang terjadi pada tiga orang siswi yang belum ditemukan? Dan, apakah ada yang menjadi dalang di balik hal tersebut?

Yak, satu lagi dorama detektif yang sudah saya tonton. Berbeda dengan dorama detektif lain yang biasanya berformat satu episode satu kasus, kasus yang diselidiki dalam Atami no Sousakan hanya berkutat pada kasus hilangnya bus tersebut. Jadi mungkin kamu akan sedikit merasa bosan karena kemajuan dalam penyelidikan kasus tersebut terasa agak lambat. Tapi untung saja dorama ini memiliki unsur komedi yang berhasil membuat saya tertawa dan bertahan menonton dorama ini. Memang, unsur komedinya bukan tipe komedi yang gampang disukai semua orang, termasuk oleh penggemar dorama Jepang sekalipun.  Namun, jika kamu menyukai unsur komedi seperti yang ada pada dorama Jikou Keisatsu (dibintangi Odagiri Joe juga) atau film-film Jepang seperti Turtles Swim Faster Than Expected, Adrift in Tokyo, dan Instant Numa, maka kamu pasti akan sangat menyukai dorama ini. Apa kesamaan judul-judul tersebut dengan Atami no Sousakan? Ya, ada pada sutradaranya yang sama, yaitu Miki Satoshi. Miki Satoshi adalah salah satu sutradara film Jepang yang memiliki gaya komedi yang sangat khas (seperti pada Turtles Swim Faster than Expected yang sudah pernah saya review di sini). Gaya komedinya cenderung aneh, garing, dan gak penting. Namun, jika kamu sudah terbiasa dengan gayanya, maka kamu pasti akan dibuat tertawa dengan komedi yang ditampilkan dalam dorama ini.

Yang patut diacungi jempol dari dorama ini adalah akting dari para pemainnya. Sebagian aktor/aktris dalam dorama ini sebelumnya sudah pernah bermain dalam film/dorama yang disutradarai Miki Satoshi, sehingga tampaknya mereka sudah nyaman dengan gaya penyutradaraan Miki Satoshi. Misalnya Odagiri Joe, sang pemeran utama, yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan Miki Satoshi (dua season Jikou Keisatsu, Adrift in Tokyo). Di sini ia berperan dengan sangat bagus sebagai Hoshizaki, detektif cerdas yang memiliki peralatan-peralatan aneh untuk membantu penyelidikannya. Fuse Eri, Iwamatsu Ryo, dan Matsushige Yutaka yang sudah sering bekerja sama dengan Miki Satoshi pun memerankan perannya masing-masing dengan sangat baik, terutama Fuse Eri yang sangat mencuri perhatian di sini dengan perannya sebagai polisi lokal yang hobi sekali mengerjai Hoshizaki. Adegan yang melibatkan dia selalu berhasil membuat saya tertawa. Kuriyama Chiaki (Kill Bill Volume 1, Battle Royale) yang belum pernah bekerja sama dengan Miki Satoshi sebelumnya pun berhasil memerankan perannya dengan baik dan tidak canggung. Selain karakter-karakter di atas, dorama ini juga dihiasi oleh wajah-wajah muda yang tampaknya akan memiliki masa depan cerah di perfilman Jepang. Contohnya Miyoshi Ayaka, Nikaido Fumi (yang wajahnya mirip Miyazaki Aoi), Yamazaki Kento, dan Sometani Shota, yang berperan sebagai siswa dan siswi Eternal Forest School, satu-satunya sekolah di kota Atami yang sebagian besar muridnya adalah perempuan (murid cowoknya cuma dua orang).

Untuk bagian penyelidikannya, mungkin penyelidikan dalam dorama ini tidak semenarik dorama detektif lainnya. Namun, setelah beberapa episode (btw dorama ini terdiri dari 8 episode), saya mulai menyadari bahwa ini bukanlah dorama tentang detektif. Fokus utama dorama ini adalah misteri yang ada di dalamnya, yang bukan hanya tentang misteri bus yang hilang saja, tapi misteri tentang kota Atami itu sendiri.  Detektif hanyalah alat yang digunakan untuk memecahkan misteri tersebut. Jadi jika kamu menonton dorama ini dengan harapan ingin melihat detektif yang keren dengan penyelidikan yang keren juga, siap-siap kecewa deh. Tapi jika yang ingin kamu lihat adalah misteri di dalamnya, maka kamu akan menyukai dorama ini. Ending dorama ini sendiri masih menyisakan banyak pertanyaan. Tampaknya, Miki Satoshi sengaja membiarkan penonton untuk menafsirkan sendiri endingnya. Awalnya saya bingung ketika melihat ending dari dorama ini. Namun, kalau kamu jeli, petunjuk-petunjuk tentang misteri yang sesungguhnya dari dorama ini sudah ada dari episode awal kok. Selain itu, dengerin deh theme song dari dorama ini, yaitu lagu berjudul Tengoku e Youkoso yang dibawakan oleh band Tokyo Jihen. Selain pas ditempatkan dalam dorama ini, lirik dalam lagu berbahasa Inggris ini juga sangat tepat dalam menggambarkan hal yang ingin disampaikan dorama ini.

Ja, 4 bintang deh untuk dorama ini. Recommended! Terutama untuk kamu penggemar film/dorama berbau misteri atau penggemar film-filmnya Miki Satoshi.

Trivia: Lampu Yes-No yang dimiliki oleh Hoshizaki serta karakter nenek-nenek yang sedang memakan Chupa Chups dalam dorama ini juga terlihat dalam film Miki Satoshi yang berjudul The Insects Unlisted in the Encyclopedia. Twist dalam Atami no Sousakan sendiri merupakan tema dari film tersebut (dan tampaknya Miki Satoshi terobsesi dengan hal tersebut, hehe). Selain itu, ada satu lokasi dalam film itu yang mirip dengan salah satu lokasi dalam Atami no Sousakan.

Rating : 1 2 3 4 5

Yo! Sejak postingan yang ini, sudah lama saya tidak menambah postingan baru di kategori Memorable Scene. Padahal banyak banget memorable scene dari berbagai macam film yang pengen saya bagi di sini. Tapi apa daya, saya selalu terserang penyakit males akut tiap niat ngepost itu (ngereview aja udah makin males sekarang :p). Mumpung lagi gak males dan tiba-tiba keingetan, sekarang saya mau ngebagi salah satu scene favorit saya dari film Jepang berjudul Linda Linda Linda (review singkatnya bisa dibaca di sini).

Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Starring: Kashii Yu, Maeda Aki, Bae Doona, Sekine Shiori

Credit: ireul114@youtube

Adegan ending (jadi kalo belum nonton sebaiknya video di atas tidak usah dilihat jika tidak mau kenikmatan nontonnya terganggu) tersebut adalah salah satu adegan yang paling berkesan dari film ini. Adegan ini adalah adegan ketika Paranmaum (nama band sekolah yg menjadi fokus utama film ini) akhirnya berhasil tampil di panggung acara festival sekolah setelah mengalami berbagai kejadian, seperti kehujanan. Karena telat dan kehujanan, maka penampilan mereka pun terkesan seadanya (rambut basah dan kostum yang hanya seragam sekolah). Namun, meskipun seadanya, penampilan mereka sangat menyenangkan untuk dilihat. Memang, dari segi musikalitas, musikalitas yang mereka tampilkan tergolong biasa-biasa saja dan tidak ‘canggih’. Suara Bae Doona sang vokalis pun bukan tipe suara yang bagus-bagus amat. Namun, menonton penampilan ini membuat saya  merasa bersemangat dan  ingin menjadi bagian dari penonton lalu ikut loncat-loncat bersama mereka.  Dan setelah menonton adegan ini (atau filmnya secara keseluruhan), saya langsung terngiang-ngiang terus sama lagu berjudul Linda Linda yang mereka bawakan. Oh iya, setelah lagu ini masih ada satu lagu lagi sih, tapi yang saya tampilin di sini yg Linda Linda aja ya :D

Tambahan, lagu ini juga memiliki sebuah music video yang memiliki sedikit perbedaan pada bagian musiknya dengan penampilan di atas. Ini dia music video-nya:

Credit: yuji82@youtube

Sekalian, ini lagu Linda Linda yang dibawakan oleh penyanyi aslinya, The Blue Hearts. Sebelum ada film Linda Linda Linda, lagu ini sudah termasuk populer sejak lama di Jepang.

Credit: chimalogy@youtube

Kuwata Maki (Kirishima Reika) adalah seorang perempuan yang baru saja putus dari tunangannya. Setelah kejadian itu, ia memutuskan untuk tinggal sendiri. Namun, ia tidak punya tempat tinggal dan tidak punya banyak uang. Cincin tunangannya pun hanya laku terjual sebesar 3500 yen. Miyata Takeshi (Nakamura Yasuhi) adalah seorang pria yang masih belum bisa move on meskipun sudah 6 bulan putus dari pacarnya, Ayumi (Itaya Yuka). Miyata masih mencintai mantan pacarnya itu dan saking cintanya ia sampai-sampai membeli apartemen yang bagus untuk ia tempati bersama Ayumi. Namun, baru satu minggu tinggal di apartemen itu, tiba-tiba Ayumi memutuskannya dan menghilang entah ke mana.

Kedua orang tersebut bertemu pada suatu malam di sebuah restoran. Pada saat itu, Miyata sedang makan bersama Kanda Yusuke (Yamanaka So), sahabatnya sejak SMP. Pada saat itu pula, Kanda memberitahu Miyata bahwa sebentar lagi Ayumi akan menikah. Kanda pun menasihati Miyata agar cepat-cepat move on dan mencari cewek lain. Ia pun melihat Maki yang saat itu sedang duduk sendirian di meja belakang mereka. Kanda pun meminta Maki agar ikut makan bersama mereka. Dan tidak lama kemudian, Kanda tiba-tiba pergi dan meninggalkan Miyata berdua saja dengan Maki. Lalu, apa yang akan terjadi pada Miyata dan Maki? Apakah mereka berdua akan saling jatuh cinta? Apakah mereka akan mampu melupakan mantan pacar mereka? Dan apakah film itu memang hanya bercerita tentang mereka berdua saja?

Jika membaca sinopsis di atas, mungkin kamu akan mengira bahwa film ini adalah sebuah film drama romantis. Ya, di 30 menit pertama, film ini memang terlihat hendak bercerita tentang dua orang yang sama-sama  baru patah hati yang kemudian bertemu dan saling jatuh cinta, lengkap dengan iringan suara piano yang mendayu-dayu. Ih, klise banget sih, pris. Eh eh eh tapi tunggu dulu, bersabarlah dalam menonton film ini. Karena setelah 30 menit berlalu, kamu akan dibawa pada berbagai macam kejutan yang menunjukkan bahwa ini bukan film biasa. Dan ya, ini bukanlah film romantis. Bahkan mungkin saja setelah menonton film ini kamu tiba-tiba jadi nggak percaya sama hal-hal romantis seperti yang ada di film-film.

Emang kejutan-kejutannya kayak gimana sih, pris? Kalo diceritain, nantinya gak kejutan dong, hihihi *ditendang*. Intinya sih, film ini memiliki plot non-linear. Plot non-linear itu kayak gimana, pris? Ya pokoknya kamu tonton deh film-film kayak Memento, Pulp Fiction, The Prestige, dan sejenisnya. Non linear  di film ini digambarkan melalui sudut pandang tiga orang yang berbeda akan peristiwa pada suatu malam. Ya, peristiwa utamanya adalah pertemuan Maki dan Miyata di restoran seperti pada sinopsis di atas. Tapi sebenarnya, di balik peristiwa tersebut, ada hal-hal lain yang melatarbelakanginya. Bahkan, hal tersebut melibatkan seorang yakuza! Jadi karena tiga sudut pandang tersebut, jangan heran kalo kamu akan menemukan adegan yang sama (namun dengan sudut pandang yang berbeda) lagi dan lagi.

Tapi A Stranger of Mine ini bukan film berat macam Memento. Filmnya lumayan ringan kok, meskipun pada awalnya mungkin kamu akan dibuat sedikit bingung. Tapi setelah nonton sampai selesai, mungkin kamu akan merasakan suatu kepuasan yang sangat besar, persis rasanya kayak pas abis nonton Fish Story. Ya, film ini memang nuansanya rada mirip sama Fish Story, di mana unsur kejutan adalah suatu hal yang menjadi kekuatan filmnya. Jadi kayak Fish Story juga, semakin sedikit informasi yang kamu ketahui mengenai film ini, maka semakin asik juga menontonnya.

Overall, melalui film ini kita ditunjukkan agar jangan terlalu mudah mempercayai orang lain. Setiap orang itu punya pikiran masing-masing, dan tidak ada yang tahu apakah pikirannya tersebut sejalan dengan apa yang kita harapkan. Bahkan biarpun kita sudah lama mengenal orang tersebut. Well, 4 bintang deh untuk film ini :)

Rating : 1 2 3 4 5

Saya adalah penggemar kata-kata. Saya sering kali terkagum-kagum ketika melihat bahwa satu buah kata saja bisa dikembangkan menjadi banyak hal, termasuk menjadi tema film. Sutradara asal Korea Selatan bernama Park Chan-wook mungkin adalah salah satu orang yang berhasil mengembangkan satu buah kata ke dalam media film. Dan tidak tanggung-tanggung, tidak hanya satu film saja yang ia buat, tapi tiga film! Dan tiga film dengan cerita berbeda tersebut semuanya sama-sama bersumber dari satu kata saja, yaitu kata vengeance (sengaja pake istilah Inggrisnya, karena kalo dibahasa Indonesia-kan maka artinya jadi pembalasan dendam, dan jadinya dua kata dong, hehehe). Tiga film yang kemudian terkenal dengan sebutan Vengeance Trilogy tersebut masing-masing memiliki judul “Sympathy for Mr. Vengeance”, “Oldboy”, dan terakhir “Lady Vengeance”. Namun, yang akan saya bahas kali ini adalah film pertamanya yang berjudul “Sympathy for Mr. Vengeance”, sekaligus film terakhir yang saya tonton dari trilogi ini (urutan nonton: Oldboy -> Lady Vengeance -> Sympathy for Mr. Vengeance).

Alkisah dalam film ini ada seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya. Adik tersebut bernama Ryu (Shin Ha-kyun), yang merupakan seorang penderita bisu-tuli. Kakak yang disayanginya ini terserang penyakit gagal ginjal. Karena sayang banget sama kakaknya, tentunya Ryu pun bertekad untuk menyumbangkan ginjalnya dong. Namun, sayangnya, golongan darah yang berbeda membuat Ryu tidak boleh mendonorkan ginjalnya tersebut. Dan sialnya, pada saat itu belum ditemukan pendonor baru untuk kakaknya. Padahal Ryu punya uang sebesar 10 juta Won yang bisa ia gunakan untuk membayar si pendonor. Di tengah keresahan hati Ryu akibat tidak adanya pendonor, ia melihat sebuah stiker yang memuat iklan tentang pasar gelap yang menjual organ tubuh manusia. Karena ingin kakaknya cepat-cepat sembuh, maka tanpa berpikir panjang Ryu pun menghubungi pasar gelap tersebut. 10 Juta Won yang ia miliki ternyata tidak cukup untuk membeli ginjal dari pasar gelap tersebut. Si penjual pun berkata bahwa Ryu bisa mendapatkan ginjal yang ia mau jika ia mau membayar uang tersebut beserta ginjal yang ia miliki. Demi kakaknya, ia pun mau menyumbangkan ginjal miliknya kepada pasar gelap tersebut. Setelah ginjalnya diambil, bangun-bangun ia mendapati dirinya dalam keadaan telanjang bulat dan para penjual organ tubuh tersebut menghilang beserta uang dan ginjal miliknya tersebut. Yeah, ia ditipu sodara-sodara. Dan yang paling naas adalah, setelah kejadian itu, dokter sang kakak memberitahu Ryu bahwa akhirnya ada pendonor yang mau menyumbangkan ginjalnya untuk sang kakak. Ryu hanya bisa terpaku mendengar hal itu. Ia sudah tidak punya uang lagi untuk membayar pendonor tersebut. Dan tentunya mendapatkan uang sebesar 10 juta won itu bukanlah hal yang mudah. Uang 10 juta won yang ia miliki sebelumnya pun ia dapatkan karena perusahaan tempat ia bekerja memecatnya (alias uang pesangon).

Ketika memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang yang baru, Yeong-mi (Bae Doo-na) yg merupakan kekasih Ryu memberi Ryu ide untuk menculik anak perempuan dari Park Dong-jin (Song Kang-ho), mantan bos yang telah memecatnya tersebut. Awalnya Ryu menolak hal tersebut. Namun, Yeong-mi meyakinkan bahwa hal tersebut tidak akan menimbulkan kerugian apa-apa. Tinggal culik -> minta tebusan pada sang ayah-> diberi uang tebusan -> kembalikan si anak pada ayahnya. Terdengar mudah bukan? Toh si ayah adalah orang kaya. Kehilangan uang sebesar 10 juta won tidak akan membuatnya menjadi miskin. Akhirnya Ryu menyetujui ide tersebut. Penculikan pun dimulai. Namun, sebuah rencana tidak akan menjadi semudah kelihatannya ketika dilakukan bukan? Ya, penculikan yang ia lakukan kemudian berjalan tidak sesuai rencana. Sesuatu terjadi pada si anak, dan pembalasan dendam pun dimulai…

Menurut saya, film ini sangat berhasil dalam menggambarkan dendam dan akibatnya jika dendam tersebut dibalaskan. Pada awalnya, pas pertama nonton saya sempet dibikin ngantuk sama film ini. Dan baru 15 menit nonton saya langsung matikan filmnya. Mungkin karena waktu itu saya nonton pas mood-saya lagi gak tepat buat nonton tipe film sepi kayak gini ya, hehe. Ketika akhirnya saya mencoba menonton kembali film ini (yang adalah beberapa bulan setelah yang pertama itu :D ), saya dibuat terhipnotis oleh cara penyampaian film ini. Film ini adalah sebuah film yang setelah menontonnya saya merasakan perasaan seperti…err..patah hati? Rasanya sedih banget di dada ini. Sedih di sini tidak sama seperti perasaan sedih ketika menonton film sedih yang mendayu-dayu ya. Namun sedih di sini lebih mirip kayak waktu abis nonton film All About Lily Chou-Chou. NYESEK! Nah, itu dia kayaknya kata yang lebih pas untuk menggambarkan perasaan saya setelah nonton film ini :D

Melalui film ini, saya jadi mengerti kenapa orang-orang bijak selalu memberi nasihat agar kita jangan mudah mendendam. Kenapa? Karena dendam adalah suatu hal yang tidak akan pernah berujung. Ketika kita melakukan hal yang buruk pada seseorang, akan ada orang lain yang akan membalaskan perbuatan buruk kita tersebut. Dan setelah itu, akan ada orang lain juga yang akan membalaskan perbuatan orang yang membalaskan perbuatan buruk kita tersebut. Ribet ya? Hehe. Tapi itulah dendam. Seperti lingkaran setan yang tidak berujung. Ketika sebuah dendam dibalaskan, bukan berarti semua hal jadi selesai begitu saja. Yang ada, masalah-masalah baru yang akan muncul. Ya, setidaknya itulah yang saya tangkep dari film ini :D .

Dan faktor utama yang membuat film ini jadi sungguh menyesakkan jiwa adalah, karena pelaku-pelaku pembalas dendam dalam film ini pada dasarnya adalah orang-orang yang baik. Ryu dan Dong-jin itu adalah orang baik. Dan pembalasan dendam tersebut dilakukan semata-mata karena satu hal, yaitu kasih sayang mereka pada masing-masing orang yang mereka cintai. Saking sayangnya sama kakaknya, Ryu rela menyumbangkan ginjalnya pada orang tak dikenal. Saking sayangnya pada anaknya, Dong-jin rela untuk tidak melapor polisi dan menuruti perintah penculik demi keselamatan anaknya. Ketika segala hal tersebut tidak berjalan sesuai rencana dan menimbulkan hal yang buruk pada masing-masing orang yang mereka sayangi, perasaan dendam pun tumbuh di hati mereka.  Dari situlah mungkin judul film itu tercipta. Kita tidak bisa memihak mana yang salah dan mana yang benar di sini. Namun, kita sama-sama merasakan perasaan simpati kepada kedua tokoh yang berlawanan ini.

Dari segi thriller-nya, mungkin film ini tidak se-thrilling dan se-shocking Oldboy ya. Film ini menurut saya tergolong thriller yang sepi. Adegan-adegan berdarahnya tetap ada sih, dan ada beberapa adegan yang membuat emosi saya serasa diaduk-aduk, biarpun adukannya tidak sekencang Oldboy :D . Tapi menurut saya bukan itu poin dari film ini. Film ini seperti lebih ingin menunjukkan konsekuensi dari pembalasan dendam, dan bukan proses pembalasan dendam seperti pada Oldboy. Film ini juga lebih menunjukkan bagaimana kondisi psikologis para pelaku pembalas dendam, bahwa orang-orang baik seperti mereka saja bisa berubah dan mampu melakukan apa saja, termasuk hal-hal yang melampaui batas moral, ketika dendam tumbuh di hati mereka.

Overall, saya sangat menyukai film ini. Film ini cocok untuk ditonton oleh para penyuka film thriller, terutama thriller yang gak asal menegangkan saja, tapi juga bikin mikir. Ja, 4 bintang :)

Rating : 1 2 3 4 5

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.