Feeds:
Posts
Comments

Kehilangan orang yang kita sayangi tentunya adalah hal yang sangat menyakitkan. Apalagi jika orang tersebut meninggalkan kita dengan cara yang tidak wajar, misalnya dengan cara dibunuh. Namun, luka yang timbul akibat kejadian tersebut tidak hanya akan membekas pada orang terdekat/keluarga korban saja, tapi juga keluarga dari si pembunuh itu sendiri. Setelah kejadian tersebut, segalanya tidak akan bisa berjalan normal bagi mereka, baik bagi keluarga korban maupun keluarga si pembunuh.

Yak, kira-kira itulah premis dari dorama berjudul Soredemo, Ikite Yuku (Still, Life Goes On). Dalam dorama ini, sisi keluarga korban diwakili oleh karakter Fukami Hiroki (Eita). Lima belas tahun yang lalu (ketika Hiroki masih SMP), adik perempuannya yang masih berusia 7 tahun ditemukan tewas tenggelam di sebuah danau. Setelah itu, ditemukan bukti bahwa Aki (nama adik perempuan tersebut) dibunuh oleh Fumiya yang merupakan teman sekolah Hiroki. Setelah lima belas tahun berlalu, Hiroki rupanya masih tidak bisa melupakan hal tersebut. Kematian adiknya tersebut membuat kehidupannya beserta keluarganya berubah total. Kedua orang tuanya bercerai dan ia jadi tidak pernah peduli pada sekitarnya. Sampai suatu saat ketika ayahnya meninggal karena kanker, Hiroki memutuskan untuk meneruskan usaha ayahnya untuk membalas dendam pada Fumiya si pelaku, yang kabarnya sudah bebas dan tidak terlihat menyesali perbuatannya.

Sementara itu, sisi keluarga pelaku diwakili oleh karakter Toyama Futaba (Mitsushima Hikari). Futaba adalah adik perempuan dari si pelaku. Sama seperti keluarga Hiroki, keluarga Futaba juga mengalami banyak perubahan sejak kejadian yang dilakukan salah satu anggota keluarga mereka. Mereka hidup berpindah-pindah karena sering diteror melalui telepon oleh orang tak dikenal. Sang ayah juga sulit mendapatkan pekerjaan karena reputasinya sebagai ayah dari seorang pembunuh. Di luar hal itu, keluarga ini sebenarnya sudah lama tidak berhubungan dengan Fumiya (si pelaku) sejak ia pertama ditahan.

Keduanya bertemu secara tidak sengaja di tempat pemancingan yang dikelola oleh Hiroki. Setelah beberapa kejadian, Futaba akhirnya mengetahui bahwa pria yang tidak sengaja ia temui tersebut adalah kakak dari korban pembunuhan yang dilakukan kakaknya. Selain itu, ia juga mengetahui rencana balas dendam Hiroki pada kakaknya tersebut. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Hiroki akan berhasil membalaskan dendamnya? Selain itu, bagaimanakah perasaan Futaba yang sebenarnya pada kakaknya? Di luar hal itu, hubungan Hiroki dengan Futaba selanjutnya menjadi semakin dekat, yang secara norma sosial terasa tidak lazim karena mereka berasal dari dua kubu yang berbeda.

Menurut saya, Soredemo Ikite Yuku adalah salah satu dorama terbaik tahun 2011 lalu (well pendapat ini mungkin kurang bisa dipercaya karena dorama tahun 2011 yang saya tonton itu dikit banget, tapi serius deh dorama ini emang bagus banget). Dorama ini daleeeem banget. Buat saya yang memang pecinta film/dorama bergenre drama, dorama ini memiliki segala aspek yang dimiliki oleh drama yang bagus. Meskipun dari sinopsisnya terlihat bahwa konflik yang ada di dorama ini rada-rada nyinetron, tapi percaya deh ini bukan dorama macam itu. Dramanya sama sekali gak kacangan dan diperlihatkan dengan wajar dan sangat manusiawi. Dorama ini juga sangat berhasil mengaduk-aduk emosi penontonnya tanpa harus terlihat berlebihan.

Yang paling saya suka dari dorama ini adalah bagaimana kita tidak hanya diperlihatkan pada sudut pandang keluarga korban saja, tapi juga sudut pandang keluarga si pelaku (yang biasanya tidak dipedulikan). Sebagai penyuka tontonan yang berbau psikologis *tsaah*, saya sangat menyukai bagaimana kedua hal tersebut digambarkan. Meskipun dua-duanya terlihat sebagai kubu yang berbeda, pada hakikatnya kedua keluarga tersebut adalah sama-sama korban. Ya, bukan hanya keluarga korban saja yang mengalami tekanan akan kejadian tersebut, keluarga si pelaku juga sama-sama tertekan karena dianggap tidak membesarkan anaknya dengan baik. Saya juga suka melihat bagaimana cara pandang masing-masing keluarga (yang diwakili oleh Hiroki dan Futaba) terhadap si pembunuh. Hiroki dan keluarganya membenci habis-habisan Fumiya, dan meskipun samar mereka juga menyimpan suatu perasaan benci tersendiri terhadap keluarga si pembunuh, yang menurut saya manusiawi banget. Misalnya di episode dua ketika Hiroki akhirnya mengetahui bahwa Futaba adalah adik dari Fumiya. Tanggapan yang diperlihatkan terasa sangat wajar, namun yang terpenting adalah bagaimana ia bisa berkompromi dengan perasaan benci tersebut. Sementara itu dari pihak keluarga pelaku, meskipun diperlihatkan sudah putus hubungan dengan Fumiya, kita bisa tahu bahwa mereka (terutama sang ayah dan Futaba) tidak akan bisa membenci Fumiya. Seperti pernyataan Futaba pada Hiroki yang kira-kira begini: “Meskipun seorang kakak sering berlaku jahat pada adiknya, tapi tetap saja, si adik pasti akan selalu ingin mengajaknya bermain.” Yak, sebagai seseorang yang juga berada di posisi adik, saya sangat bisa mengerti perasaan Futaba *kalo kakak saya baca ini kayaknya saya bisa ditabok*. Seburuk-buruknya anggota keluarga kita, kita pasti tidak akan bisa membenci orang tersebut. Bahkan meskipun sudah lama tidak berhubungan dengan si pelaku pun, mereka akan tetap merasa bertanggung jawab dan merasa perlu untuk meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan si pelaku, baik itu perbuatan di masa lalu maupun di masa yang akan datang.

Selain itu, yang paling saya suka di sini adalah bagaimana hubungan antara Hiroki dan Futaba digambarkan. Selain karena adanya chemistry yang kuat, hal ini juga sangat dipengaruhi oleh skenario dorama ini yang memang bagus. Saya sangat menyukai dialog-dialog yang ada di antara mereka berdua. Dialog antara mereka sering kali terasa awkward dan aneh, dan dua karakter ini emang sama-sama digambarkan socially awkward sih (hal yang bikin saya makin suka mereka berdua). Namun, karena itu mereka jadi terlihat sangat cocok dan seperti tercipta untuk satu sama lain *tsaaah*. Kesamaan nasib antara mereka berdua membuat mereka seolah-olah menjadi terikat satu sama lain. Dan meskipun berasal dari pihak yang berbeda, kita dapat melihat bahwa hanya Futaba yang bisa memahami Hiroki, dan begitu juga sebaliknya. Namun, meskipun begitu, inti dari dorama ini bukanlah hubungan cinta antara mereka berdua, melainkan tentang bagaimana mereka berdua (beserta keluarga masing-masing) sanggup memaafkan. Memaafkan di sini bukan hanya saling memaafkan antara dua keluarga saja ya, tapi lebih seperti memaafkan diri mereka masing-masing. Seperti pada judulnya, meskipun segala dendam dan luka tertanam di hati mereka, mereka tetap akan hidup dan hari yang baru akan selalu datang.

Selain hal-hal di atas, kelebihan dorama ini juga terletak pada akting dari semua pemainnya. Eita dan Mitsushima Hikari menampilkan akting yang sangat memukau. Namun, tidak hanya mereka saja, pemeran-pemeran pendukung dalam dorama ini juga menampilkan akting yang sangat maksimal, terutama Otake Shinobu yang memerankan karakter ibunya Hiroki serta Kazama Shunsuke yang memerankan karakter Fumiya, si sumber di balik segala hal yang ada di dorama ini. Wajah dingin tanpa ekspresinya itu bener-bener juara. Dan saya senang karena dalam dorama ini ditampilkan juga cerita tentang kehidupan si pelaku, sehingga kita dapat mengerti mengapa karakter ini bisa membunuh Aki. Tambahan, dorama ini juga mendapatkan 6 penghargaan dari 70th Television Drama Academy Award, yaitu pada kategori Best Drama, Best Actor (Eita), Best Supporting Actor (Kazama Shunsuke), Best Supporting Actress (Otake Shinobu), Best Screenwriter, dan Best Director. Kalau saja Mitsushima Hikari tidak kalah dari Inoue Mao (yang mendapat penghargaan Best Actress dari Ohisama), maka lengkap sudahlah kehebatan dorama ini :)

Well, segini aja review dari saya. Secara keseluruhan, doramanya ini tidak hanya bagus, tapi juga sangat berkesan dan meninggalkan suatu perasaan tersendiri setelah menontonnya. Jadi, 5 bintang deh :)

Rating : 1 2 3 4 5

Sebuah bus sekolah yang berisi satu orang supir dan empat orang siswi tengah melaju di jalanan sebuah kota kecil bernama Atami. Di tengah jalan, mereka melihat ada seorang kakek tua yang terbaring di jalanan. Sang supir pun turun dari bus untuk melihat keadaan kakek tua tersebut. Lalu, tiba-tiba bus yang berisi empat orang siswi tersebut melaju sendiri. Si supir yang tengah menolong kakek tua tersebut pun langsung berlari mengejar bus tersebut. Sayangnya, bus tersebut tidak berhasil dikejar dan menghilang bersamaan dengan munculnya kabut.

Tim polisi lokal (yang sepertinya sebelum ini kebanyakan nganggur) pun dikerahkan untuk mencari bus tersebut. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil. Meskipun begitu, salah seorang siswi yang naik bus tersebut, yaitu Shinonome Mai, berhasil ditemukan dalam keadaan tidak sadar. Tiga tahun berlalu setelah kejadian itu. Mai, satu-satunya siswi yang ditemukan tersebut, akhirnya bangun setelah mengalami koma selama tiga tahun. Namun, ia sudah tidak ingat apa-apa mengenai kejadian yang ia alami tiga tahun yang lalu. Dua orang penyelidik dari Wide Area Investigator pun datang ke Atami untuk menyelidiki kasus bus yang hilang tersebut. Dua orang penyelidik tersebut adalah Hoshizaki Kenzo (Odagiri Joe) dan Kitajima Sae (Kuriyama Chiaki). Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah bus tersebut berhasil ditemukan? Apa yang terjadi pada tiga orang siswi yang belum ditemukan? Dan, apakah ada yang menjadi dalang di balik hal tersebut?

Yak, satu lagi dorama detektif yang sudah saya tonton. Berbeda dengan dorama detektif lain yang biasanya berformat satu episode satu kasus, kasus yang diselidiki dalam Atami no Sousakan hanya berkutat pada kasus hilangnya bus tersebut. Jadi mungkin kamu akan sedikit merasa bosan karena kemajuan dalam penyelidikan kasus tersebut terasa agak lambat. Tapi untung saja dorama ini memiliki unsur komedi yang berhasil membuat saya tertawa dan bertahan menonton dorama ini. Memang, unsur komedinya bukan tipe komedi yang gampang disukai semua orang, termasuk oleh penggemar dorama Jepang sekalipun.  Namun, jika kamu menyukai unsur komedi seperti yang ada pada dorama Jikou Keisatsu (dibintangi Odagiri Joe juga) atau film-film Jepang seperti Turtles Swim Faster Than Expected, Adrift in Tokyo, dan Instant Numa, maka kamu pasti akan sangat menyukai dorama ini. Apa kesamaan judul-judul tersebut dengan Atami no Sousakan? Ya, ada pada sutradaranya yang sama, yaitu Miki Satoshi. Miki Satoshi adalah salah satu sutradara film Jepang yang memiliki gaya komedi yang sangat khas (seperti pada Turtles Swim Faster than Expected yang sudah pernah saya review di sini). Gaya komedinya cenderung aneh, garing, dan gak penting. Namun, jika kamu sudah terbiasa dengan gayanya, maka kamu pasti akan dibuat tertawa dengan komedi yang ditampilkan dalam dorama ini.

Yang patut diacungi jempol dari dorama ini adalah akting dari para pemainnya. Sebagian aktor/aktris dalam dorama ini sebelumnya sudah pernah bermain dalam film/dorama yang disutradarai Miki Satoshi, sehingga tampaknya mereka sudah nyaman dengan gaya penyutradaraan Miki Satoshi. Misalnya Odagiri Joe, sang pemeran utama, yang sudah beberapa kali bekerja sama dengan Miki Satoshi (dua season Jikou Keisatsu, Adrift in Tokyo). Di sini ia berperan dengan sangat bagus sebagai Hoshizaki, detektif cerdas yang memiliki peralatan-peralatan aneh untuk membantu penyelidikannya. Fuse Eri, Iwamatsu Ryo, dan Matsushige Yutaka yang sudah sering bekerja sama dengan Miki Satoshi pun memerankan perannya masing-masing dengan sangat baik, terutama Fuse Eri yang sangat mencuri perhatian di sini dengan perannya sebagai polisi lokal yang hobi sekali mengerjai Hoshizaki. Adegan yang melibatkan dia selalu berhasil membuat saya tertawa. Kuriyama Chiaki (Kill Bill Volume 1, Battle Royale) yang belum pernah bekerja sama dengan Miki Satoshi sebelumnya pun berhasil memerankan perannya dengan baik dan tidak canggung. Selain karakter-karakter di atas, dorama ini juga dihiasi oleh wajah-wajah muda yang tampaknya akan memiliki masa depan cerah di perfilman Jepang. Contohnya Miyoshi Ayaka, Nikaido Fumi (yang wajahnya mirip Miyazaki Aoi), Yamazaki Kento, dan Sometani Shota, yang berperan sebagai siswa dan siswi Eternal Forest School, satu-satunya sekolah di kota Atami yang sebagian besar muridnya adalah perempuan (murid cowoknya cuma dua orang).

Untuk bagian penyelidikannya, mungkin penyelidikan dalam dorama ini tidak semenarik dorama detektif lainnya. Namun, setelah beberapa episode (btw dorama ini terdiri dari 8 episode), saya mulai menyadari bahwa ini bukanlah dorama tentang detektif. Fokus utama dorama ini adalah misteri yang ada di dalamnya, yang bukan hanya tentang misteri bus yang hilang saja, tapi misteri tentang kota Atami itu sendiri.  Detektif hanyalah alat yang digunakan untuk memecahkan misteri tersebut. Jadi jika kamu menonton dorama ini dengan harapan ingin melihat detektif yang keren dengan penyelidikan yang keren juga, siap-siap kecewa deh. Tapi jika yang ingin kamu lihat adalah misteri di dalamnya, maka kamu akan menyukai dorama ini. Ending dorama ini sendiri masih menyisakan banyak pertanyaan. Tampaknya, Miki Satoshi sengaja membiarkan penonton untuk menafsirkan sendiri endingnya. Awalnya saya bingung ketika melihat ending dari dorama ini. Namun, kalau kamu jeli, petunjuk-petunjuk tentang misteri yang sesungguhnya dari dorama ini sudah ada dari episode awal kok. Selain itu, dengerin deh theme song dari dorama ini, yaitu lagu berjudul Tengoku e Youkoso yang dibawakan oleh band Tokyo Jihen. Selain pas ditempatkan dalam dorama ini, lirik dalam lagu berbahasa Inggris ini juga sangat tepat dalam menggambarkan hal yang ingin disampaikan dorama ini.

Ja, 4 bintang deh untuk dorama ini. Recommended! Terutama untuk kamu penggemar film/dorama berbau misteri atau penggemar film-filmnya Miki Satoshi.

Trivia: Lampu Yes-No yang dimiliki oleh Hoshizaki serta karakter nenek-nenek yang sedang memakan Chupa Chups dalam dorama ini juga terlihat dalam film Miki Satoshi yang berjudul The Insects Unlisted in the Encyclopedia. Twist dalam Atami no Sousakan sendiri merupakan tema dari film tersebut (dan tampaknya Miki Satoshi terobsesi dengan hal tersebut, hehe). Selain itu, ada satu lokasi dalam film itu yang mirip dengan salah satu lokasi dalam Atami no Sousakan.

Rating : 1 2 3 4 5

Yo! Sejak postingan yang ini, sudah lama saya tidak menambah postingan baru di kategori Memorable Scene. Padahal banyak banget memorable scene dari berbagai macam film yang pengen saya bagi di sini. Tapi apa daya, saya selalu terserang penyakit males akut tiap niat ngepost itu (ngereview aja udah makin males sekarang :p). Mumpung lagi gak males dan tiba-tiba keingetan, sekarang saya mau ngebagi salah satu scene favorit saya dari film Jepang berjudul Linda Linda Linda (review singkatnya bisa dibaca di sini).

Linda Linda Linda (Japan, 2005)

Starring: Kashii Yu, Maeda Aki, Bae Doona, Sekine Shiori

Credit: ireul114@youtube

Adegan ending (jadi kalo belum nonton sebaiknya video di atas tidak usah dilihat jika tidak mau kenikmatan nontonnya terganggu) tersebut adalah salah satu adegan yang paling berkesan dari film ini. Adegan ini adalah adegan ketika Paranmaum (nama band sekolah yg menjadi fokus utama film ini) akhirnya berhasil tampil di panggung acara festival sekolah setelah mengalami berbagai kejadian, seperti kehujanan. Karena telat dan kehujanan, maka penampilan mereka pun terkesan seadanya (rambut basah dan kostum yang hanya seragam sekolah). Namun, meskipun seadanya, penampilan mereka sangat menyenangkan untuk dilihat. Memang, dari segi musikalitas, musikalitas yang mereka tampilkan tergolong biasa-biasa saja dan tidak ‘canggih’. Suara Bae Doona sang vokalis pun bukan tipe suara yang bagus-bagus amat. Namun, menonton penampilan ini membuat saya  merasa bersemangat dan  ingin menjadi bagian dari penonton lalu ikut loncat-loncat bersama mereka.  Dan setelah menonton adegan ini (atau filmnya secara keseluruhan), saya langsung terngiang-ngiang terus sama lagu berjudul Linda Linda yang mereka bawakan. Oh iya, setelah lagu ini masih ada satu lagu lagi sih, tapi yang saya tampilin di sini yg Linda Linda aja ya :D

Tambahan, lagu ini juga memiliki sebuah music video yang memiliki sedikit perbedaan pada bagian musiknya dengan penampilan di atas. Ini dia music video-nya:

Credit: yuji82@youtube

Sekalian, ini lagu Linda Linda yang dibawakan oleh penyanyi aslinya, The Blue Hearts. Sebelum ada film Linda Linda Linda, lagu ini sudah termasuk populer sejak lama di Jepang.

Credit: chimalogy@youtube

Kuwata Maki (Kirishima Reika) adalah seorang perempuan yang baru saja putus dari tunangannya. Setelah kejadian itu, ia memutuskan untuk tinggal sendiri. Namun, ia tidak punya tempat tinggal dan tidak punya banyak uang. Cincin tunangannya pun hanya laku terjual sebesar 3500 yen. Miyata Takeshi (Nakamura Yasuhi) adalah seorang pria yang masih belum bisa move on meskipun sudah 6 bulan putus dari pacarnya, Ayumi (Itaya Yuka). Miyata masih mencintai mantan pacarnya itu dan saking cintanya ia sampai-sampai membeli apartemen yang bagus untuk ia tempati bersama Ayumi. Namun, baru satu minggu tinggal di apartemen itu, tiba-tiba Ayumi memutuskannya dan menghilang entah ke mana.

Kedua orang tersebut bertemu pada suatu malam di sebuah restoran. Pada saat itu, Miyata sedang makan bersama Kanda Yusuke (Yamanaka So), sahabatnya sejak SMP. Pada saat itu pula, Kanda memberitahu Miyata bahwa sebentar lagi Ayumi akan menikah. Kanda pun menasihati Miyata agar cepat-cepat move on dan mencari cewek lain. Ia pun melihat Maki yang saat itu sedang duduk sendirian di meja belakang mereka. Kanda pun meminta Maki agar ikut makan bersama mereka. Dan tidak lama kemudian, Kanda tiba-tiba pergi dan meninggalkan Miyata berdua saja dengan Maki. Lalu, apa yang akan terjadi pada Miyata dan Maki? Apakah mereka berdua akan saling jatuh cinta? Apakah mereka akan mampu melupakan mantan pacar mereka? Dan apakah film itu memang hanya bercerita tentang mereka berdua saja?

Jika membaca sinopsis di atas, mungkin kamu akan mengira bahwa film ini adalah sebuah film drama romantis. Ya, di 30 menit pertama, film ini memang terlihat hendak bercerita tentang dua orang yang sama-sama  baru patah hati yang kemudian bertemu dan saling jatuh cinta, lengkap dengan iringan suara piano yang mendayu-dayu. Ih, klise banget sih, pris. Eh eh eh tapi tunggu dulu, bersabarlah dalam menonton film ini. Karena setelah 30 menit berlalu, kamu akan dibawa pada berbagai macam kejutan yang menunjukkan bahwa ini bukan film biasa. Dan ya, ini bukanlah film romantis. Bahkan mungkin saja setelah menonton film ini kamu tiba-tiba jadi nggak percaya sama hal-hal romantis seperti yang ada di film-film.

Emang kejutan-kejutannya kayak gimana sih, pris? Kalo diceritain, nantinya gak kejutan dong, hihihi *ditendang*. Intinya sih, film ini memiliki plot non-linear. Plot non-linear itu kayak gimana, pris? Ya pokoknya kamu tonton deh film-film kayak Memento, Pulp Fiction, The Prestige, dan sejenisnya. Non linear  di film ini digambarkan melalui sudut pandang tiga orang yang berbeda akan peristiwa pada suatu malam. Ya, peristiwa utamanya adalah pertemuan Maki dan Miyata di restoran seperti pada sinopsis di atas. Tapi sebenarnya, di balik peristiwa tersebut, ada hal-hal lain yang melatarbelakanginya. Bahkan, hal tersebut melibatkan seorang yakuza! Jadi karena tiga sudut pandang tersebut, jangan heran kalo kamu akan menemukan adegan yang sama (namun dengan sudut pandang yang berbeda) lagi dan lagi.

Tapi A Stranger of Mine ini bukan film berat macam Memento. Filmnya lumayan ringan kok, meskipun pada awalnya mungkin kamu akan dibuat sedikit bingung. Tapi setelah nonton sampai selesai, mungkin kamu akan merasakan suatu kepuasan yang sangat besar, persis rasanya kayak pas abis nonton Fish Story. Ya, film ini memang nuansanya rada mirip sama Fish Story, di mana unsur kejutan adalah suatu hal yang menjadi kekuatan filmnya. Jadi kayak Fish Story juga, semakin sedikit informasi yang kamu ketahui mengenai film ini, maka semakin asik juga menontonnya.

Overall, melalui film ini kita ditunjukkan agar jangan terlalu mudah mempercayai orang lain. Setiap orang itu punya pikiran masing-masing, dan tidak ada yang tahu apakah pikirannya tersebut sejalan dengan apa yang kita harapkan. Bahkan biarpun kita sudah lama mengenal orang tersebut. Well, 4 bintang deh untuk film ini :)

Rating : 1 2 3 4 5

Saya adalah penggemar kata-kata. Saya sering kali terkagum-kagum ketika melihat bahwa satu buah kata saja bisa dikembangkan menjadi banyak hal, termasuk menjadi tema film. Sutradara asal Korea Selatan bernama Park Chan-wook mungkin adalah salah satu orang yang berhasil mengembangkan satu buah kata ke dalam media film. Dan tidak tanggung-tanggung, tidak hanya satu film saja yang ia buat, tapi tiga film! Dan tiga film dengan cerita berbeda tersebut semuanya sama-sama bersumber dari satu kata saja, yaitu kata vengeance (sengaja pake istilah Inggrisnya, karena kalo dibahasa Indonesia-kan maka artinya jadi pembalasan dendam, dan jadinya dua kata dong, hehehe). Tiga film yang kemudian terkenal dengan sebutan Vengeance Trilogy tersebut masing-masing memiliki judul “Sympathy for Mr. Vengeance”, “Oldboy”, dan terakhir “Lady Vengeance”. Namun, yang akan saya bahas kali ini adalah film pertamanya yang berjudul “Sympathy for Mr. Vengeance”, sekaligus film terakhir yang saya tonton dari trilogi ini (urutan nonton: Oldboy -> Lady Vengeance -> Sympathy for Mr. Vengeance).

Alkisah dalam film ini ada seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya. Adik tersebut bernama Ryu (Shin Ha-kyun), yang merupakan seorang penderita bisu-tuli. Kakak yang disayanginya ini terserang penyakit gagal ginjal. Karena sayang banget sama kakaknya, tentunya Ryu pun bertekad untuk menyumbangkan ginjalnya dong. Namun, sayangnya, golongan darah yang berbeda membuat Ryu tidak boleh mendonorkan ginjalnya tersebut. Dan sialnya, pada saat itu belum ditemukan pendonor baru untuk kakaknya. Padahal Ryu punya uang sebesar 10 juta Won yang bisa ia gunakan untuk membayar si pendonor. Di tengah keresahan hati Ryu akibat tidak adanya pendonor, ia melihat sebuah stiker yang memuat iklan tentang pasar gelap yang menjual organ tubuh manusia. Karena ingin kakaknya cepat-cepat sembuh, maka tanpa berpikir panjang Ryu pun menghubungi pasar gelap tersebut. 10 Juta Won yang ia miliki ternyata tidak cukup untuk membeli ginjal dari pasar gelap tersebut. Si penjual pun berkata bahwa Ryu bisa mendapatkan ginjal yang ia mau jika ia mau membayar uang tersebut beserta ginjal yang ia miliki. Demi kakaknya, ia pun mau menyumbangkan ginjal miliknya kepada pasar gelap tersebut. Setelah ginjalnya diambil, bangun-bangun ia mendapati dirinya dalam keadaan telanjang bulat dan para penjual organ tubuh tersebut menghilang beserta uang dan ginjal miliknya tersebut. Yeah, ia ditipu sodara-sodara. Dan yang paling naas adalah, setelah kejadian itu, dokter sang kakak memberitahu Ryu bahwa akhirnya ada pendonor yang mau menyumbangkan ginjalnya untuk sang kakak. Ryu hanya bisa terpaku mendengar hal itu. Ia sudah tidak punya uang lagi untuk membayar pendonor tersebut. Dan tentunya mendapatkan uang sebesar 10 juta won itu bukanlah hal yang mudah. Uang 10 juta won yang ia miliki sebelumnya pun ia dapatkan karena perusahaan tempat ia bekerja memecatnya (alias uang pesangon).

Ketika memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang yang baru, Yeong-mi (Bae Doo-na) yg merupakan kekasih Ryu memberi Ryu ide untuk menculik anak perempuan dari Park Dong-jin (Song Kang-ho), mantan bos yang telah memecatnya tersebut. Awalnya Ryu menolak hal tersebut. Namun, Yeong-mi meyakinkan bahwa hal tersebut tidak akan menimbulkan kerugian apa-apa. Tinggal culik -> minta tebusan pada sang ayah-> diberi uang tebusan -> kembalikan si anak pada ayahnya. Terdengar mudah bukan? Toh si ayah adalah orang kaya. Kehilangan uang sebesar 10 juta won tidak akan membuatnya menjadi miskin. Akhirnya Ryu menyetujui ide tersebut. Penculikan pun dimulai. Namun, sebuah rencana tidak akan menjadi semudah kelihatannya ketika dilakukan bukan? Ya, penculikan yang ia lakukan kemudian berjalan tidak sesuai rencana. Sesuatu terjadi pada si anak, dan pembalasan dendam pun dimulai…

Menurut saya, film ini sangat berhasil dalam menggambarkan dendam dan akibatnya jika dendam tersebut dibalaskan. Pada awalnya, pas pertama nonton saya sempet dibikin ngantuk sama film ini. Dan baru 15 menit nonton saya langsung matikan filmnya. Mungkin karena waktu itu saya nonton pas mood-saya lagi gak tepat buat nonton tipe film sepi kayak gini ya, hehe. Ketika akhirnya saya mencoba menonton kembali film ini (yang adalah beberapa bulan setelah yang pertama itu :D ), saya dibuat terhipnotis oleh cara penyampaian film ini. Film ini adalah sebuah film yang setelah menontonnya saya merasakan perasaan seperti…err..patah hati? Rasanya sedih banget di dada ini. Sedih di sini tidak sama seperti perasaan sedih ketika menonton film sedih yang mendayu-dayu ya. Namun sedih di sini lebih mirip kayak waktu abis nonton film All About Lily Chou-Chou. NYESEK! Nah, itu dia kayaknya kata yang lebih pas untuk menggambarkan perasaan saya setelah nonton film ini :D

Melalui film ini, saya jadi mengerti kenapa orang-orang bijak selalu memberi nasihat agar kita jangan mudah mendendam. Kenapa? Karena dendam adalah suatu hal yang tidak akan pernah berujung. Ketika kita melakukan hal yang buruk pada seseorang, akan ada orang lain yang akan membalaskan perbuatan buruk kita tersebut. Dan setelah itu, akan ada orang lain juga yang akan membalaskan perbuatan orang yang membalaskan perbuatan buruk kita tersebut. Ribet ya? Hehe. Tapi itulah dendam. Seperti lingkaran setan yang tidak berujung. Ketika sebuah dendam dibalaskan, bukan berarti semua hal jadi selesai begitu saja. Yang ada, masalah-masalah baru yang akan muncul. Ya, setidaknya itulah yang saya tangkep dari film ini :D .

Dan faktor utama yang membuat film ini jadi sungguh menyesakkan jiwa adalah, karena pelaku-pelaku pembalas dendam dalam film ini pada dasarnya adalah orang-orang yang baik. Ryu dan Dong-jin itu adalah orang baik. Dan pembalasan dendam tersebut dilakukan semata-mata karena satu hal, yaitu kasih sayang mereka pada masing-masing orang yang mereka cintai. Saking sayangnya sama kakaknya, Ryu rela menyumbangkan ginjalnya pada orang tak dikenal. Saking sayangnya pada anaknya, Dong-jin rela untuk tidak melapor polisi dan menuruti perintah penculik demi keselamatan anaknya. Ketika segala hal tersebut tidak berjalan sesuai rencana dan menimbulkan hal yang buruk pada masing-masing orang yang mereka sayangi, perasaan dendam pun tumbuh di hati mereka.  Dari situlah mungkin judul film itu tercipta. Kita tidak bisa memihak mana yang salah dan mana yang benar di sini. Namun, kita sama-sama merasakan perasaan simpati kepada kedua tokoh yang berlawanan ini.

Dari segi thriller-nya, mungkin film ini tidak se-thrilling dan se-shocking Oldboy ya. Film ini menurut saya tergolong thriller yang sepi. Adegan-adegan berdarahnya tetap ada sih, dan ada beberapa adegan yang membuat emosi saya serasa diaduk-aduk, biarpun adukannya tidak sekencang Oldboy :D . Tapi menurut saya bukan itu poin dari film ini. Film ini seperti lebih ingin menunjukkan konsekuensi dari pembalasan dendam, dan bukan proses pembalasan dendam seperti pada Oldboy. Film ini juga lebih menunjukkan bagaimana kondisi psikologis para pelaku pembalas dendam, bahwa orang-orang baik seperti mereka saja bisa berubah dan mampu melakukan apa saja, termasuk hal-hal yang melampaui batas moral, ketika dendam tumbuh di hati mereka.

Overall, saya sangat menyukai film ini. Film ini cocok untuk ditonton oleh para penyuka film thriller, terutama thriller yang gak asal menegangkan saja, tapi juga bikin mikir. Ja, 4 bintang :)

Rating : 1 2 3 4 5

Jika kamu pernah memakan bangku sekolah dan menyantap pelajaran IPA (tentunya tidak secara harfiah), setidaknya kamu pasti pernah belajar atau mendengar tentang salah satu teori penciptaan alam semesta yang disebut dengan teori Big Bang. Menurut teori ini, alam semesta tercipta dari sebuah ledakan dahsyat yang terjadi beberapa belas miliar tahun yang lalu. Sampai sekarang belum diketahui kebenaran tentang teori ini, namun tidak sedikit orang yang setuju pada teori ini. Tapi tenang, saya di sini bukan bermaksud membahas teori ini kok. Blog ini masih merupakan blog review dan belum (serta tidak akan pernah) berubah menjadi blog science. Yang saya mau bahas di sini adalah sebuah serial sitcom Amerika yang berjudul The Big Bang Theory, yang tengah menjadi sitcom kedua favorit saya saat ini setelah Modern Family.

Judul “The Big Bang Theory” sendiri menurut saya cukup mewakili inti cerita dalam sitcom yang saat ini sudah mencapai season ke-5 di Amerika sana ini. The Big Bang Theory bercerita tentang dua orang fisikawan muda bernama Leonard Hofstadter (Johnny Galecky) dan Sheldon Cooper (Jim Parsons) yang tinggal dalam satu apartemen (alias roommate gituh). Selain berprofesi sebagai fisikawan, mereka adalah geek dan nerd sejati. Mereka sangat menyukai hal-hal seperti video game, komik, film-film fiksi ilmiah, dan jauh dari yang namanya kehidupan percintaan. Mereka juga memiliki dua teman yang sama geek-nya, yaitu Raj Koothrappali (Kunal Nayyar) dan Howard Wollowitz (Simon Helberg) yang sangat sering bermain di apartemen mereka. Suatu hari, apartemen mereka kedatangan penghuni baru yang menempati ruang apartemen di sebelah ruangan mereka. Dia adalah Penny (Kaley Cuoco), seorang cewek berambut pirang yang cantik, yang juga merupakan seorang waitress di Cheesecake Factory yang punya impian menjadi seorang aktris. Bisa dibayangkan, kan, jika empat orang nerd dipertemukan dengan cewek cantik yang sangat biasa macam Penny? Dua hal yang sangat bertolak belakang jika dipertemukan mungkin akan menimbulkan semacam ledakan besar (tentunya tidak secara harfiah) seperti yang ada dalam teori big bang. Namun ledakan besar tersebut tentunya akan membentuk suatu kesatuan yang kuat kan? Dan seperti itulah The Big Bang Theory ini :)

Seperti yang telah diungkapkan di atas, setelah Modern Family, akhirnya ada lagi sitcom Amerika yang berhasil mencuri perhatian saya dan bikin saya tertarik untuk ngikutin serialnya dari awal meskipun seasonnya udah jauh. Sekarang sih saya baru nonton sampai season 3 bagian awal. Tapi yang saya review kali ini season satunya aja ya. Season satunya ini terdiri dari 17 episode. Di episode pertama menurut saya masih belum berasa lucunya. Tapi makin ke sana serialnya semakin menarik dan semakin lucu. Yang membuat serial ini menarik pertama-tama tentunya premisnya, yaitu tentang empat orang nerd yang berteman dengan cewek normal. Secuil premis itu pula lah yang membuat saya tertarik untuk menonton serial ini karena saya selalu tertarik untuk mengamati kehidupan para geek/nerd. Dan serial ini ternyata tidak mengecewakan saya. Premisnya tersebut berhasil dikembangkan dengan sangat baik, dan menjadikannya tontonan yang sangat menghibur. Kehidupan para geek-nya pun menurut saya digambarkan dengan pas.

Lalu, hal kedua yang saya suka dari serial ini adalah karakteristiknya yang sangat unik dan kuat. Ya, karakter adalah salah satu hal paling penting yang saya lihat dari sebuah film, apalagi serial yang terdiri dari banyak episode. Karena saya orangnya mudah bosan, maka adanya karakter dengan karakteristik menarik selalu menjadi faktor yang membuat saya tetap setia mengikuti sebuah serial. Dan The Big Bang Theory memiliki hal itu. Lima orang tokoh utamanya memiliki karakteristik yang lumayan menarik. Pertama-tama ada Leonard. Well, menurut saya dia adalah karakter dengan karakteristik paling standar dan paling normal di serial ini. Tapi keberadaannya sangat penting untuk menetralkan teman-temannya yang berkelakuan rada ajaib (terutama Sheldon). Lalu ada Howard, si nerd annoying yang berkelakuan amit-amit jabang bayi dan masih tinggal dengan ibunya. Lalu ada Raj, cowok asal India yang punya penyakit tidak bisa bicara dengan wanita (terutama wanita cantik) kecuali kalo mabuk. Dan karakter ceweknya adalah Penny, cewek biasa yang sangat bercita-cita jadi aktris namun tidak pernah lolos audisi manapun. Awalnya saya kira karakter ini akan menjadi karakter yang tipikal, tapi ternyata karakter ini menjadi salah satu karakter paling menarik dari serial ini (kedua favorit saya). Dan terakhir, ada Sheldon. Sengaja saya simpen terakhir karena ini adalah karakter yang paliiiiing saya suka dari serial ini. Penjelasan tentang karakter ini mungkin bisa mencapai puluhan halaman *serius*. Dia adalah karakter paling unik dari serial ini, dan juga sumber kelucuan yang ada di serial ini. Sheldon adalah fisikawan yang sangaaaat pintar. Ia sudah mulai bereksperimen dari kecil, dan sangat terobsesi untuk meraih nobel. Namun Sheldon adalah orang yang rada-rada sulit dalam hal bersosialisasi (kayak nama belakangnya, Cooper alias COOrang PERgaulan #garingmalih) dan sering tidak bisa menangkap sarkasme. Ia juga seseorang yang (dipercaya) menderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder) yang lumayan parah. Pokoknya dia ini bisa dibilang sebagai ikonnya serial ini (meskipun secara tidak langsung pemeran utamanya adalah Leonard). Segala kelucuan yang ada di serial ini pasti bermula dari masalah yang ia ciptakan. Yeah, secara singkat Sheldon ini bisa digambarkan dengan tiga kata, annoying but lovable :D .

Yang namanya sitcom tentunya harus memuat unsur komedi yang dapat membuat penontonnya tertawa. Unsur komedi dalam serial ini sebenarnya bukan tipe yang akan disukai semua orang, terutama jika kamu tidak akrab dengan dunia geek. Namun, para geek (atau punya tendensi geek) pasti akan menyukai lelucon-leluconnya yang sering kali menyangkut hal-hal seperti Star Wars, Batman, Video Game, dan sebagainya. Tapi saya yang tidak terlalu mengenal Star Wars atau komik-komik superhero pun tetap mampu menikmati kelucuan-kelucuan yang ada di serial ini. Selain itu, karena sebagian besar tokohnya adalah fisikawan, maka dalam lelucon-leluconnya sering kali terselip hal-hal berupa rumus atau teori fisika. Kadang, saya sering dibuat bengong kalo tiba-tiba dalam dialognya ada rumus fisika. Namun, anehnya ujung-ujungnya saya tetap bisa dibikin ketawa sama serial ini. Selain hal-hal tersebut, kelucuan serial ini juga bersumber dari interaksi Penny dengan empat nerd tersebut. Latar belakang yang berbeda antara mereka membuat interaksi mereka menjadi sangat menarik dan lucu.

Overall, The Big Bang Theory adalah salah satu sitcom yang sangat patut ditonton, terutama oleh kamu yang merasa geek atau setidaknya memiliki sekian persen jiwa geek (kayak saya). Jika kamu adalah geek, maka menonton ini akan membuatmu merasa seperti sedang menertawakan diri sendiri, dan bukankah menertawakan diri sendiri adalah hal yang sangat dibutuhkan untuk membuat kita tetap waras?  Ja, 4,5 bintang untuk serial ini :)

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Jika kamu adalah penggemar anime dan memperhatikan avatar yang saya gunakan di blog ini, mungkin dengan mudah kamu bisa menebak dari mana avatar itu diambil. Ya, avatar itu diambil dari karakter Osaka yang merupakan salah satu karakter dari anime Azumanga Daioh, salah satu anime favorit saya sepanjang masa (thx to Animonster karena telah mengenalkan saya pada anime ‘ancur’ satu ini). Karena sudah lama memakai avatar ini, maka tampaknya ada yang kurang kalau saya tidak pernah mereview serial ini. Namun, karena dvd anime ini sudah raib entah ke mana (pertama nonton waktu SMA), maka yang akan saya review kali ini adalah versi manga-nya yang baru saya baca baru-baru ini.

Azumanga Daioh sendiri aslinya adalah sebuah 4 Koma Manga (manga yang terdiri dari 4 panel) yang dibuat oleh mangaka bernama Azuma Kiyohiko. Manga ini pertama kali dimuat di majalah Dengeki Daioh sejak tahun 1999 (yang kemudian dibuatkan versi Tankoubon-nya dengan jumlah 4 volume). Lalu, seperti apa ceritanya? Well, Azumanga Daioh bercerita tentang kehidupan sehari-hari sekelompok siswi di sebuah SMA, dari awal mereka masuk SMA tersebut sampai mereka lulus. Eeeh, cuma itu Pris? Iya, manga ini hanya bercerita tentang kehidupan sehari-hari yang normal. Normal di sini dalam artian tidak ada hal-hal aneh seperti alien menyerang bumi, atau siswi-siswi tersebut bisa berubah menjadi seperti Sailor Moon atau apa. Tidak ada hal seperti itu. Manga ini murni bercerita tentang kehidupan sehari-hari mereka, seperti pada saat mereka belajar di sekolah, bermain bersama, dan hal-hal lainnya yang sangat normal dilakukan oleh siswi-siswi SMA kebanyakan. Ya, tidak ada plot khusus atau konflik yang luar biasa dalam manga ini. Hanya tentang kehidupan sehari-hari.

Lalu, apa yang menjadikan manga ini spesial dan akan selalu diingat banyak orang? Faktor pertama adalah karakter-karakternya. Ya, manga ini memiliki kumpulan karakter yang memiliki karakterisasi yang kuat dan juga menarik. Pertama-tama ada Chiyo yang bisa dikatakan sebagai tokoh utama manga ini. Chiyo adalah anak perempuan berumur 10 tahun yang sangat pintar dan kepintarannya itu membuat ia langsung loncat kelas ke bangku SMA. Meskipun jenius, Chiyo sendiri sebenarnya tipikal anak-anak pada umumnya. Ia manis dan imut, dan biarpun cerdas, ia sangat lemah dalam bidang olahraga. Lalu yang kedua ada Tomo, cewek penuh semangat yang tampaknya tidak pernah kehabisan energi. Tomo memiliki sahabat sejak kecil bernama Yomi, cewek pintar berkacamata yang selalu mengalami kegagalan dalam diet. Lalu ada Sakaki, cewek bertampang cool yang tidak hanya pintar dalam bidang akademik saja, tapi juga dalam bidang olahraga. Tampangnya yang dingin dan perawakannya yang besar membuat ia terlihat susah untuk didekati. Padahal sebenarnya ia hanya pemalu. Dan siapa yang menyangka bahwa dia adalah pecinta hal-hal imut (seperti kucing)? Lalu ada Osaka (yang avatarnya saya pake). Namanya sebenarnya adalah Kasuga Ayumu. Ia adalah murid pindahan dari Osaka, sehingga teman-temannya memanggilnya dengan nama itu (padahal ia bukan orang Osaka murni karena sering pindah-pindah). Mungkin ini adalah karakter paling aneh dari manga ini (sekaligus yang paling saya suka). Ia sangat hobi melamun dan sangat senang memikirkan hal-hal aneh yang tidak penting. Pokoknya jika ada satu kata yang tepat untuk menggambarkan karakter ini, kata tersebut adalah absurd. Selain mereka berlima, ada dua karakter lagi yaitu Kaorin dan Kagura. Kaorin adalah anak klub astronomi yang sangat menyukai Sasaki. Sayangnya di kelas dua ia tidak sekelas lagi dengan Chiyo dkk. Sedangkan Kagura adalah cewek tomboy yang tampaknya sangat menyukai olahraga. Ia baru berteman dengan Chiyo dkk di kelas dua (sebelumnya beda kelas). Selain karakter siswi-siswi tersebut, ada juga karakter guru-guru yang juga memiliki kepribadian yang tidak kalah menarik (dan sinting). Ada Yukari-sensei, guru bahasa Inggris yang menjadi wali kelas Chiyo dkk. Yukari-sensei adalah guru yang lain daripada yang lain. Ia selalu bertingkah seenaknya, dan selalu merepotkan Nyamo-sensei, guru olahraga yang merupakan teman Yukari-sensei sejak masa sekolah. Lalu ada juga Kimura-sensei, satu-satunya karakter cowok yang sering ditampilkan di sini. Ia adalah guru aneh dan mesum, mengaku menjadi guru karena menyukai cewek-cewek SMA. Selain karakter-karakter manusianya, ada juga karakter lain seperti kucing liar yang selalu menggigit tangan Sakaki, anjing peliharaan Chiyo yang bernama Tadakichi-san, dan kucing berbentuk aneh yang muncul di mimpi Sakaki dan menamai dirinya sebagai ayah Chiyo.

Selain karakterisasinya, yang membuat manga ini sangat menarik untuk dibaca adalah unsur komedi di dalamnya. Unsur komedi di sini masih berhubungan dengan karakterisasinya. Ya, intinya unsur komedi di sini ditimbulkan oleh karakter-karakternya, sehingga manga ini dapat dikatakan sebagai manga yang ceritanya disetir oleh karakternya. Unsur komedinya pulalah yang membuat manga ini sangat menghibur dan menarik untuk dibaca berulang kali.

Dari segi artwork, artworknya sebenarnya biasa saja. Apalagi ini kan manga 4 panel, sehingga space yang digunakan tidak banyak. Tapi saya menyukai penggambaran karakternya yang menurut saya pas dengan karakternya masing-masing. Secara keseluruhan, saya sangat menyukai manga ini. Memang, kita tidak akan menemukan makna yang mendalam dalam manga ini karena yang ada dalam manga ini hanyalah kelucuan-kelucuan semata. Namun, membaca manga ini akan membuat kamu merasakan suatu perasaan nostalgia tersendiri akan masa-masa sekolah yang indah. Teman-teman yang menyenangkan, guru-guru yang beraneka ragam, waktu belajar yang menyebalkan sekaligus menyenangkan.  Membaca manga ini akan membuat kamu teringat pada masa-masa itu. Oke, 4 bintang deh untuk manga ini. Manga ini sangat cocok dibaca oleh para pecinta manga bergenre komedi, slice of life, atau manga-manga yang bercerita tentang anak sekolahan. Recommended!

Rating : 1 2 3 4 5

[MOVIE] The Help (2011)

Coba tebak apa permasalahan sosial yang pernah (atau bahkan masih) melanda Amerika? Ya, salah satunya mungkin masalah diskriminasi ras, di mana banyak orang kulit putih yang merasa rasnya adalah ras super dan mereka beranggapan bahwa orang-orang dengan warna kulit selain itu (terutama kulit hitam) patut mendapat perlakuan buruk. Ya, di tahun 2011 ini mungkin isu diskriminasi ras sudah tidak sekencang dulu (otot kali kencang), apalagi mengingat presiden Amerika saat ini notabene adalah orang kulit hitam. Namun, permasalahan tersebut menurut saya tetap menarik untuk dibicarakan, dan bahkan tetap menarik untuk dijadikan sebagai tema dari sebuah film.

The Help adalah salah satu film yang mengangkat isu diskriminasi ras sebagai temanya. Film yang berlatarkan pada tahun 60-an ini mengangkat contoh sederhana dari sebuah isu diskriminasi ras, yaitu diskriminasi ras yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga di kota bernama Jackson (ibukota Negara bagian Mississipi) terhadap pembantu-pembantu mereka yang merupakan orang-orang kulit hitam. Cerita film ini dimulai dengan sebuah adegan wawancara terhadap seorang pembantu rumah tangga berkulit hitam bernama Aibileen (Viola Davis). Diceritakan bahwa ia sudah bertahun-tahun menghabiskan waktunya sebagai pembantu rumah tangga dari majikan kulit putih (majikannya sekarang bernama Elizabeth). Ia juga bekerja sebagai pengasuh anak dari majikannya, dan sudah banyak bayi-bayi kulit putih yang diasuhnya.

Pada awalnya, diskriminasi tersebut tidak tampak pada kehidupan Aibileen dan majikannya (atau mungkin kurang diperlihatkan). Sampai suatu hari, Elizabeth mulai terpengaruh oleh tetangganya, Hilly (Bryce Dallas Howard), seorang ibu rumah tangga yang mungkin bisa dikatakan sebagai pemimpin dari komunitas ibu rumah tangga di kota Jackson. Hilly berpendapat bahwa pembantu-pembantu mereka yang berkulit hitam harus dibuatkan toilet khusus di rumah, karena dia takut pembantu-pembantu tersebut akan menularkan suatu penyakit jika mereka menggunakan toilet yang sama dengan majikannya. Hill sendiri memiliki pembantu rumah tangga berkulit hitam bernama Minny (Octavia Spencer), yang suatu hari ia pecat karena dikira menggunakan toiletnya.

Para ibu-ibu rumah tangga tersebut rupanya berhasil dipengaruhi oleh Hilly (termasuk Elizabeth) dan mereka kemudian membangun toilet khusus untuk pembantu-pembantunya yang berkulit hitam. Eugene “Skeeter” Phelan (Emma Stone), seorang perempuan lajang yang baru kembali ke Jackson setelah beberapa tahun kuliah di luar kota melihat hal itu sebagai suatu ketidakadilan. Skeeter yang merupakan seorang jurnalis surat kabar kemudian berniat untuk membuat sebuah buku yang memuat kesaksian para pembantu rumah tangga berkulit hitam atas perlakuan tidak adil dari majikannya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Skeeter akan berhasil menulis buku itu? Apakah diskriminasi ras yang ada di kota tersebut akan berhenti suatu saat?

The Help adalah satu film favorit saya tahun ini. Menurut saya film ini sangat berhasil dalam menyampaikan isu utamanya, yaitu mengenai diskriminasi ras. Yang bagus lagi adalah, film ini menyampaikan isu tersebut secara ringan tapi tanpa membuat hal tersebut menjadi terkesan tidak penting, sehingga film ini menjadi sangat mudah untuk diikuti. Apalagi, beberapa unsur humor juga diselipkan di sini dan menjadikan film ini sebagai film yang tidak hanya berkualitas, tapi juga menghibur.

Meskipun cerita film yang diangkat dari novel yang ditulis oleh Kathryn Stockett ini fiktif belaka, namun kita tahu bahwa hal-hal yang terjadi dalam film ini adalah hal-hal yang sangat mungkin terjadi di kehidupan ini (terutama pada bangsa Amerika). Oh ya, meskipun berbicara tentang masalah diskriminasi, jangan kira film ini akan terlihat seperti sinetron Indonesia dengan menampilkan adegan penganiayaan atau hal-hal semacam itu. Diskriminasi yang dilakukan melalui ucapan di mulut saja menurut saya efeknya sudah lumayan besar. Film ini juga tidak bermaksud memojokkan orang-orang kulit putih.  Ditunjukkan dalam film ini bahwa masih ada orang-orang kulit putih yang memperlakukan orang-orang kulit hitam dengan baik, misalnya Skeeter dan Celia (Jessica Chastain) yang merupakan majikan baru Minny.

Selain hal-hal di atas, menurut saya yang menjadi kekuatan utama film ini adalah akting para pemainnya. Para pemain dalam film ini (yang kebanyakan perempuan) berhasil menampilkan perannya masing-masing dengan sangat baik. Dua jempol saya acungkan pada Viola Davis dan Octavia Spencer (terutama Octavia Spencer. Minny rocks!). Menurut saya mereka adalah bintangnya film ini. Emma Stone, Bryce Dallas Howard, dan Jessica Chastain juga berhasil menunjukkan penampilan yang memukau. Terutama saya paling suka Jessica Chastain yang memerankan karakter Celia. Selain masalah diskriminasi terhadap orang kulit hitam, saya merasa karakter ini menunjukkan suatu pesan lain. Ya, Celia ini digambarkan sebagai cewek blonde yang seksi, dan selama ini terdapat stereotipe di mana cewek blonde sering dianggap sebagai cewek bodoh dan hanya mengandalkan kecantikan saja. Karakter Celia ini juga digambarkan sebagai karakter yang sedikit bodoh (dan lugu). Namun, pintar atau bodoh bukan patokan dari sifat atau tingkah laku seseorang. Celia mungkin kurang pintar, tapi ia lebih baik daripada orang-orang yang sering menyebut dirinya pintar, karena ia selalu memperlakukan orang lain dengan baik, apapun warna kulitnya.

Ya, segini aja review dari saya. Overall, film ini menurut saya bagus dan menginspirasi. Melalui film ini kita ditunjukkan bahwa apapun warna kulitnya, manusia itu sama. Karena itu, kita harus memperlakukan orang lain dengan baik. Well, klise ya pesannya? Tapi saya tidak melihat apa yang salah dari itu :)  Oke, 4 bintang deh.

Rating : 1 2 3 4 5

[DORAMA] Around 40 (2008)

Apa yang ada di benakmu jika melihat seorang perempuan berusia hampir mencapai 40 tahun, dengan wajah cantik dan karir yang cemerlang, tapi belum menikah juga sampai sekarang? Kamu mungkin beranggapan bahwa perempuan tersebut memang tidak memiliki minat untuk menikah, atau tidak ada lelaki yang cukup pantas untuk bersanding dengannya (mengingat wanita seperti ini terkesan superior bagi laki-laki).  Mungkin kamu juga akan beranggapan seperti itu jika kamu melihat Ogawa Satoko (Amami Yuki). Dia adalah seorang psikiater berusia 39 tahun dengan karir yang sukses, wajah yang cantik, dan uang yang melimpah. Semua kelebihan yang dimilikinya mungkin akan membuat orang-orang beranggapan bahwa ia adalah sosok wanita mandiri yang sudah tidak butuh apa-apa lagi, termasuk pria. Padahal, sebenarnya Satoko merupakan perempuan yang memiliki impian yang sama dengan perempuan kebanyakan. Dia juga ingin menikah dan membangun keluarga. Namun, memang ia belum menemukan pria yang tepat saja.

Sebaliknya, Morimura Nao (Otsuka Nene), mantan adik kelas sekaligus sahabat dari Satoko, memiliki prinsip untuk tidak akan pernah menikah. Sama seperti Satoko, dia juga termasuk wanita cantik yang memiliki karir yang cemerlang dan tengah menanjak. Nao selalu beranggapan bahwa pernikahan akan merusak karir yang dibangunnya. Namun, tanpa diduga, tiba-tiba ia malah memutuskan untuk menikah, yang artinya hal tersebut bertentangan dengan prinsip hidup yang dianutnya. Apa yang menyebabkan Nao memutuskan hal itu?

Lalu, ada Takeuchi Mizue (Matsushita Yuki) yang merupakan sahabat dari Satoko dan Nao. Kebalikan dari mereka berdua, Mizue adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang memiliki suami dan anak laki-laki yang sudah memasuki usia remaja. Selama ini Mizue selalu merasa bahagia dengan hidupnya, sampai suatu saat ia merasa keluarganya sudah mulai tidak menghargai dirinya lagi. Hal tersebut membuat Mizue mulai memiliki keinginan untuk bekerja dan kembali terjun ke masyarakat. Apakah keinginannya tersebut akan berhasil diwujudkan?

Dorama ini berkisah seputar kehidupan tiga sahabat tersebut dengan masing-masing permasalahannya (dengan penekanan pada kehidupan Satoko), yang sesuai judulnya, adalah perempuan-perempuan dengan usia memasuki 40 tahun. Selain itu, ditampilkan kisah cinta antara Satoko dengan Okamura Keitaro (Fujiki Naohito), psikiater baru di rumah sakit tempat Satoko bekerja yang berusia 6 tahun di bawah Satoko. Bagaimanakah cara Satoko dan dua sahabatnya menjalani hidup mereka di usia yang sudah hampir mencapai setengah abad itu? Tonton aja kakak.

Menonton ini karena faktor Amami Yuki (pemeran Osawa Eriko di dorama BOSS), dan saya sama sekali tidak menyesal menontonnya. Memang, dorama ini mungkin akan kurang menarik bagi sebagian orang, terutama bagi yang berharap akan menemukan aktor-aktris cakep/cantik yang masih muda, mengingat sebagian besar pemeran di sini adalah aktor dan aktris berusia 30 tahun ke atas (tapi buat saya sih, kehadiran Fujiki Naohito udah cukup sebagai penyegar dorama ini XD). Tapi jika yang kamu harapkan adalah cerita yang berbobot dan gak murahan, maka kamu akan menyukai dorama ini.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, dorama ini bercerita tentang permasalahan yang dialami oleh orang-orang (khususnya perempuan) yang usianya sebentar lagi memasuki 40 tahun. Dan ketiga permasalahan yang diwakilkan oleh ketiga karakter sahabat ini menurut saya cukup mewakili permasalahan umum yang dimiliki perempuan-perempuan dengan umur segitu. Perempuan lajang yang ingin menikah tapi belum menemukan pasangan yang tepat, perempuan yang memiliki prinsip untuk tidak menikah tapi ujung-ujungnya malah tiba-tiba menikah, dan ibu rumah tangga yang tiba-tiba ingin bekerja. Secara psikologis, karakter-karakter tersebut juga menurut saya menarik untuk diteliti. Apalagi, karena pekerjaan Satoko adalah seorang psikiater, di sini juga kita tidak hanya akan dihadapkan pada permasalahan psikologis yang dialami oleh tiga karakter itu, tapi juga karakter-karakter lain yang merupakan pasien-pasien Satoko. Buat yang menyukai psikologi atau tertarik dengan film/dorama berbau psikologis, mungkin dorama ini akan menjadi pilihan yang tepat untuk kamu.

Namun, dorama ini sendiri sebenarnya cukup ringan dan enak diikuti. Selain itu, dorama ini menghadirkan banyak humor yang bisa bikin penontonnya nyengir-nyengir sendiri. Hal tersebut berkaitan dengan hubungan antara Satoko dan Okamura yang menurut saya sangat lucu. Aku syukaaa deh sama karakternya Fujiki Naohito di sini. Karakter Okamura ini diceritakan sebagai pria yang sangat hemat (atau pelit?) dan sangat peduli pada masalah seputar global warming. Dan hubungannya dengan Satoko itu digambarkan dengan lucu sekali. Meskipun secara fisik agak kurang cocok (well, dua-duanya sama-sama cantik dan ganteng, tapi kalo disandingkan agak kurang cocok kayaknya :D ), tapi mereka berhasil membangun chemistry yang baik di sini, biarpun tanpa mengumbar adegan mesra. Ya, di sini saya paling seneng liat interaksi antara mereka berdua, dan seperti yang diungkapkan oleh dua sahabat Satoko, menurut saya memang cuma Okamura lah pria yang paling cocok dengan Satoko.

Oke, segini aja review saya. Overall, saya suka banget dorama berjumlah 11 episode ini. Cerita, akting, karakter, serta chemistry-nya menurut saya dihadirkan dengan sangat pas dan tidak berlebihan. 4 bintang deh untuk dorama ini.

Rating : 1 2 3 4 5

[J-MOVIE] Hausu (1977)

Mungkin tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu genre yang paling populer dari perfilman Jepang adalah genre horror. Mungkin kamu yang bukan penggemar film Jepang pun tidak akan merasa asing dengan judul-judul seperti Ringu (The Ring), Dark Water, Ju-On, atau One Missed Call. Ya, film-film tersebut adalah beberapa contoh film horror Jepang yang populer sekaligus yang membuat horror Jepang mulai dikenal dunia sampai-sampai dibuat remake-nya oleh Hollywood. Namun, jauh sebelum kehadiran Ringu dan kawan-kawannya, ada sebuah film horror Jepang yang menurut saya tidak kalah dari judul-judul itu, dan yang pasti tidak boleh dilewatkan oleh para penggemar film horror.

Ya, film itu berjudul Hausu (judul bahasa Inggrisnya: House). Film ini termasuk ‘tua’ karena ditayangkan pertama kali pada tahun 1977. Namun, meskipun begitu, menurut saya film ini masih asik dinikmati sampai saat ini maupun tahun-tahun mendatang. Hausu sendiri sebenarnya memiliki cerita yang simpel dan bisa dijelaskan dengan beberapa kalimat saja. Film ini berkisah tentang sekelompok remaja perempuan yang pergi berlibur ke rumah seorang tante dari salah satu dari mereka, di mana si tante tersebut hanya tinggal sendirian di rumahnya yang sangat besar. Di rumah tersebut, satu persatu dari mereka menemui ajalnya.

Ya, dari sinopsis pendek di atas, mungkin kamu akan menilai bahwa film ini seperti film horror kebanyakan karena memiliki plot yang cenderung klise (tinggal diganti lokasi atau pemainnya, maka akan terciptalah banyak film horror yang lain). Lalu, apa yang menjadikan film ini spesial dan tidak akan mudah dilupakan banyak orang? Jawabannya adalah  karena semua adegan di film ini digambarkan dengan fantastis dan tidak biasa. Sebagai sebuah Horror, film ini bukanlah tipe film yang akan membuat kamu ketakutan dan tidak bisa tidur berhari-hari. Namun, ini adalah tipe film yang akan membuat kamu terpana dan tidak bisa berhenti memikirkannya sampai beberapa hari. Orang-orang mungkin akan menyebut film ini sebagai film yang aneh dan gila. Namun, keanehan serta kegilaan yang dimiliki film ini menurut saya adalah nilai lebih dari film ini, dan menjadikannya sebagai tontonan yang unik dan tidak sekadar lewat.

Keunikan yang pertama dari film ini ada pada nama karakter cewek-cewek di sini. Nama-nama tersebut adalah Oshare (arti dalam bahasa Inggris: gorgeous), tokoh utama film ini sekaligus keponakan dari si tante tersebut. Lalu ada Fanta (kependekan dari Fantasy), Prof, Kung Fu, Sweet, Melody, Mac (kependekan dari Stomach). Nama-nama tersebut mencerminkan karakter dari masing-masing tokoh dan membuat kita tidak akan kesulitan dalam membedakan tokoh-tokoh tersebut.

Lalu, keunikan kedua adalah cara kematian mereka. Mungkin hanya di film ini kamu bisa menemukan piano yang bisa memakan orang! Scene-scene kematian dalam film ini digambarkan dengan fantastis dan tidak biasa, meskipun tidak bisa dikatakan menyeramkan. Kadang, scene-scene tersebut malah terlihat konyol. Namun, kekonyolannya tersebut malah membuat film ini semakin menakjubkan.

Ya, hal di atas menurut saya berhubungan dengan style film ini. Film ini memiliki style yang sangat unik dan menggunakan berbagai macam efek seperti slow motion, stop motion, dan beberapa efek lainnya yg saya tidak tahu namanya :D Kadang efek-efek yang ada terkesan amatir dan menggelikan. Namun, siapa yang peduli dengan itu? Seperti yang telah saya bilang di atas, kekonyolan yang ada di film inilah yang membuat film ini sangat asik ditonton. Dan saya belum bilang ya kalo selain bergenre horror, film ini juga memiliki genre komedi? :D

Kalau ditanya apa maksud dari film ini, saya sendiri tidak tahu. Namun, yang saya baca film ini dibuat berdasarkan mimpi yang dialami anak perempuan Obayashi Nobuhiko yang merupakan sutradara film ini. Makanya, menurut saya bayangkanlah menonton film ini seperti ketika kamu sedang bermimpi. Mimpi tidak memerlukan penjelasan atau logika. Mimpi juga kadang memiliki plot yang kacau. Namun, mimpi tetap akan membuat kamu merasa takjub dan terus membayangkannya bahkan ketika kamu sudah bangun. Seperti itulah film ini. Film ini terasa seperti sebuah mimpi yang menakjubkan, dan yang pasti film ini akan membawa kamu pada sebuah pengalaman sinematik yang tidak akan mudah dilupakan :)

Rating : 1 2 3 4 4,5 5

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.